Yuki

Yuki
Bab 53



Bel pulang berbunyi Eva dengan gaya khasnya meninggalkan kelas diikuti oleh Arga dibelakangnya. Ditengah jalan Eva berhenti menatap tajam ke arah pintu gerbang sekolah.


"Sejak kapan dia menjemput Ega sendiri?." Arga mengikuti arah pandang Eva ia melihat Ayumi berdiri disebelah mobil berwarna putih.


"Mungkin ibu Ayumi ingin menjemput kalian." Ujar Arga. Eva menggeleng kuat.


"Bukan kami tapi Ega." Jawab Eva datar.


"Jangan-jangan pak Daren juga ada didalam mobil." Kata Arga. Eva merasakan ada sesuatu yang buruk akan terjadi kepadanya.


"Tidak, ayah sedang ada diluar negeri dia tidak mungkin pulang dalam waktu dekat ini." Hatinya mulai merasa tidak enak Eva memutuskan untuk menghampiri mobil putih itu.


"Yuki?." Panggil Ega dari belakang. Eva membalikan tubuhnya menatap dalam manik saudaranya.


"Kenapa kamu tidak pulang barsamaku?." Ronggo membuka pintu samping kemudi mobil membungkuk mempersilahkan Ayumi untuk masuk.


"Ayo masuk Ega." Ayumi menatap Ega sekilas lalu masuk kedalam mobil.


"Maaf aku tidak bisa pulang bareng sama kamu hari ini, tidak apa-apa ya." Ucap Ega lalu menarik belakang kepala Eva menunduk mengecup kening saudari kembarnya cukup lama.


Eva memejamkan matanya, kecupan lembut yang terasa sedikit aneh membuat Eva membuka matanya mendapati sebutir cairan bening di sudut mata cokelat terang itu. Ega menarik diri menatap lembut manik Eva.


"Hati-hati adikku." Ega mengacak-acak rambut Eva sekilas lalu berjalan menghampiri mobil, Ronggo sudah membuka pintu penumpang menunggu tuan mudanya. Ega masuk kedalam mobil.


"Arga! buka bagasinya!." Teriak Eva, Arga langsung berlari menjalankan perintah Eva membuat Ronggo terkejut. Mata Eva terbelalak terbuka lebar melihat setumpuk koper tertata rapih didalam bagasi.


"Sudah aku duga." Geram Eva dengan suara lirih.


"Kamu tidak boleh pergi Ega!." Teriak Eva, Ega menundukkan kepalanya didalam mobil dia tidak berani menatap Eva.


"Ronggo cepat jalan." Perintah Ayumi dari dalam mobil.


Ronggo berlari terburu-buru membuka pintu kemudi, Eva melepas antingnya lalu melempar anting itu ke tangan Ronggo menghentikan gerakan pria itu.


"Tidak akan aku biarkan." Eva melemparkan tasnya ke wajah Ronggo dari jarak jauh lalu berlari dan melakukan tendangan memutar membuat Ronggo tersungkur. Lumayan juga, batin Arga.


"Kalian ngapain hah. Cegah dia!." Teriak Ayumi, tiga pengawal langsung menyerang Eva, mereka keluar dari tempat persembunyian.


"Kurang aj*r!." Eva dengan gerakan tangannya yang cepat melumpuhkan tiga pengawal yang menyerangnya, tiga orang dilumpuhkan tujuh orang yang lain mulai menyerang Eva, Arga segera membantu gadis itu. Ronggo yang melihat ada kesempatan cepat-cepat masuk kedalam mobil dan membawa mobil pergi.


"Sial." Eva menjatuhkan tiga pengawal sekaligus lalu berlari mengejar mobil putih itu.


"Egaa!!!." Teriak Eva, jalanan siang itu sangat ramai matahari juga sangat terik tapi semua itu tidak berarti apa-apa bagi Eva ia terus berlari cepat mengejar mobil.


"Egaaa!!." Eva tidak bisa berpikir jernih, didepan matanya hanya ada Ega yang terus menjauh. Aku tidak bisa jauh darimu, aku tidak akan membiarkan kamu pergi, jerit Eva dalam hati. Air mata mulai menggenangi mata birunya.


"Ega bawa aku juga!." Teriak Eva disepanjang pengejarannya.


"Aku ikut ga...!." Orang-orang menatap Eva heran, terkejut, aneh, dan masih banyak lagi.


Ega mendengar setiap teriakan Eva membuat hatinya terasa sangat sakit.


"Ega...!!." Eva mempercepat larinya. Aku sayang sama kamu, jangan pergi.., lirih Eva dalam hati. Mata Eva yang melihat mobil semakin menjauh segera menghapus air matanya dengan kasar.


BRAAKK!!.


Eva tersungkur kepalanya membentur aspal panas dan kakinya tertindih sepeda motor yang menabraknya, suara jeritan samar-samar terdengar oleh Eva gadis itu terus menatap mobil putih didepannya yang terus menjauh.


"Berhenti om!!." Seru Ega yang melihat kecelakaan dibelakangnya dari kaca spion mobil, Ronggo menghentikan mobil. Ega langsung membalikan tubuhnya melihat kebelakang, manik coklat terangnya menatap Eva yang sedang berjalan terpincang-pincang, darah mengalir dari kepalanya, baju kotor dan sobek disana-sini tapi Eva tetap berjalan mengejar mobil. Air mata Ega mengalir deras.


"Ega!!!." Ega mendengar Eva masih menyebut namanya, isak tangis Ega lolos dari mulutnya ia memegang jantung dan paru-parunya yang terasa sangat sakit.


"Ega!!." Hati Ega hancur.


"Jalan om." Lirih Ega lalu kembali duduk seperti semula, Ronggo menjalankan mobilnya kembali. Maafkan aku Yuki, maafkan aku, batin Ega. Eva yang melihat mobil putih itu bergerak menjauh langsung merampas sepeda motor dari laki-laki yang lewat didepannya.


"Hey! apa-apa ini?!." Eva memberikan kartu namanya dari dalam saku baju.


"Pinjam pak keadaan darurat." Ucap Eva lalu menancap gas motor.


Kamu jahat ga, kamu membohongiku, batin Eva sedih. Angin kencang menerpa wajah Eva membuat rambut panjangnya berkibar berantakan, rasa sakit dikaki dan kepalanya tidak dihiraukan olehnya yang terpenting sekarang ia harus mengejar mobil itu sampai dapat. Eva menambah kecepatan sepeda motor menjadi maksimal.


Didalam mobil putih itu tidak ada yang sadar jika ada yang mengikuti mereka. Eva membanting setir kekiri menghadang mobil, sontak Ronggo menginjak rem mendadak membuat para penumpang terlempar ke depan.


"Ronggo!!." Protes Ayumi.


"Maaf nyonya didepan ada non Eva sedang berdiri dan..." Mata Ronggo melebar sempurna melihat keadaan Eva.


"Jangan pergi..." Lirih Eva lemah tenaganya banyak terkuras.


"Jangan pergi..." Semua orang didalam mobil bisa membaca mimik bibir Eva dengan jelas. Ega menatap manik Eva seraya menggeleng pelan, Eva hanya menatap Ega ia tidak menghiraukan yang lainnya hanya Ega.


"Jangan pergi... Hotaru." Eva berjalan menyeret kakinya menghampiri mobil, darah segar terus mengalir dari kepala Eva.


"Tabrak dia." Perintah Ayumi.


"Ibu!." Protes Ega.


"Tapi nyonya, non Eva sedang terluka. Kepalanya terus mengeluarkan darah, tangan dan kakinya terluka, kita bawa dulu kerumah sakit nyonya." Bujuk Ronggo.


"Kalau kamu tidak bisa biar aku yang melakukannya. Minggir!." Ayumi memaksa Ronggo duduk disebelah kemudi menukar tempat mereka, Ayumi berhasil duduk dibelakang kemudi bersiap-siap.


"Ibu! jangan!." Teriak Ega.


"Dia tidak akan berhenti mengejarmu, ini adalah cara untuk menghentikannya." Ayumi menggertakan giginya.


"Hotaru... Jangan pergi." Eva hanya akan memanggil nama kecilnya jika hati saudari kembarnya sedang rapuh atau jika sedang sangat tulus membutuhkan dirinya Ega tahu, dia tahu betul itu. Eva melihat Ega didalam mobil sedang menatapnya. Ega menangis? batin Eva.


Ayumi menghidupkan mobil, satu kakinya menginjak rem dan yang satunya menginjak gas dalam-dalam. Eva terkejut sampai pandangannya teralihkan dari manik Ega menatap Ayumi, Eva melihat ada sebutir air mata jatuh dari mata Ayumi. Hati Eva semakin nyeri dan sakit ketika mengetahui apa yang akan dilakukan oleh wanita itu.


Baik, jika ini yang kamu inginkan, batin Eva menghentikan langkahnya lalu merentangkan kedua tangannya menunggu. Ibu.., sebenci itukah kamu kepada putrimu ini?, batin Eva. Ayumi semakin memperdalam injakan kakinya pada pedal gas lalu mengangkat kaki satunya dari rem.


"Aku menyayangimu." Ucap Eva menatap Ega lalu tersenyum membuat Ega menangis sejadi-jadinya.


BRAAKKK!!.


Ayumi mengerem mobilnya. Tubuh Eva terpental ke belakang mobil. Ega membeku pikirannya kosong sesaat.


"YUKKIII!!!." Teriak Ega, tubuh Eva terkapar tidak bergerak darah mengalir deras dari kepalanya.


"Seperti inikah rasanya?." Lirih Eva, bola matanya terus menatap Ega yang meronta-ronta didalam mobil hendak keluar namun dihalangi oleh Ronggo.


"YUKI! aku akan kesana, aku akan kesana. Tunggu aku." Ega berusaha keras meronta secara membabi buta dari kungkungan Ronggo.


"Om Ronggo! lepaskan!." Ega menyikut, menendang lalu kembali menatap adiknya.


"Tunggu aku. Yuki! bertahanlah, kumohon bertahanlah." Eva sangat ingin berlari menghampiri Ega tapi tubuhnya sama sekali tidak bisa digerakan.


"YUKII!!." Ega melihat Eva tidak bergerak tatapan matanya kosong, darah terus mengalir dari tubuhnya namun mata biru itu terus menatapnya. Tatapan kosong penuh luka, penghianatan, dan kegelapan membuat bulu kuduk Ega merinding, cairan merah mengalir dari sudut mata Eva.


"YUKI! YUKI!! YUKII!!!." Teriak Ega histeris.


Setelah memastikan Eva tertolong Ayumi menjalankan mobilnya kembali. Pandangan Eva mulai kabur melihat mobil putih itu pergi menjauh.


Arga yang menyusul Eva dengan taksi datang tepat waktu, dengan cepat Arga membawa Eva kerumah sakit terdekat. Ega pergi... Ibu membenciku, batin Eva. Hatinya hancur untuk yang kedua kalinya dan perlahan membeku lalu semuanya gelap.


***


"Sudah bangun?." Arga mendekat ke tempat tidur pasien. Eva mengerjap-ngerjapkan matanya lalu mata biru itu menatap Arga, sedetik kemudian air mata menetes dari setiap sudutnya, hati Arga bergetar, tenggorokannya tercekat. Arga merasa iba kepada gadis remaja yang berbaring lemah dikamar pasien itu, perjalanan hidup yang sangat berat membuat sifatnya berubah-ubah.


Eva termasuk gadis yang kuat bisa melalui semua masalah hidupnya. Arga mengelus lembut kepala Eva.


"Tidak apa-apa, semuanya akan baik-baik saja." Arga memanggil dokter untuk memeriksa keadaan Eva.


"Lukanya lumayan parah, untung mobil yang menabraknya mengerem tepat waktu jadi tubuh pasien terbentur tidak terlalu keras tapi," dokter berhenti sebentar.


"Pasien kehilangan darah cukup banyak. Pihak rumah sakit akan mencoba menangani ini, pasokan darah dirumah sakit sedang menipis jadi dimohon untuk bersabar." Jelas dokter.


"Baik, kira-kira kapan pasien bisa dibawa pulang dok?." Dokter menatap Eva yang diam mematung.


"Empat atau lima hari lagi. Maaf, tapi saya khawatir dengan pasien." Arga mengikuti arah pandangan dokter.


"Kenapa dok?." Eva mengerjapkan matanya sekali.


"Pasien mendapatkan tekanan yang cukup berat, itu bisa berdampak kepada kejiwaannya, saya juga takut jika itu akan mempengaruhi kesembuhan pasien." Dokter beralih menatap Arga.


"Pasien sangat membutuhkan dukungan dari keluarganya." Jelas dokter.


"Apa itu bisa mempercepat kesembuhannya dok?." Dokter mengangguk pelan.


"Kenapa saya tidak melihat keluarganya selain anda?." Arga tersenyum.


"Mereka sedang sibuk dok mungkin sebentar lagi mereka datang." Jawab Arga berbohong.


Selama lima hari Arga merawat Eva dengan hati-hati, Arga meninggalkan Eva hanya untuk mencari makan selebihnya ia habiskan disamping Eva. Gadis itu tidak pernah bicara sedikit pun, dia hanya mengikuti apa yang diperintahkan Arga. Mata biru yang indah terlihat hampa.


"Va, sekarang kita akan pulang." Ucap Arga yang sudah membereskan semua perlengkapan Eva.


"Kata dokter kamu sudah sehat dan bisa melakukan aktivitas seperti biasa." Arga membantu Eva turun dari ranjang lalu menggandeng gadis itu meninggalkan rumah sakit.


***


Dirumah besar nan mewah itu terlihat sepi, Arga membuka pintu mobil perlahan.


"Ayo." Ucap Arga. Eva bergeming menatap rumah besar didepannya. Perlahan air matanya jatuh. Ini rumah dimana ia pernah bahagia dulu. Arga mengulurkan tangannya kepada Eva namun gadis itu tetap menatap kosong rumah besar itu. Arga meraih tangan Eva meremasnya pelan memberikan semangat.


Eva melangkah pelan dibantu oleh Arga untuk berdiri, menatap pintu utama yang tinggi dan besar itu. Di dalam rumah ini Ayumi pernah murka kepadanya lalu menampar dan mengurungnya seperti binatang mengubah seluruh hidupnya, dirumah ini juga Eva berubah menjadi gadis dingin, dirumah ini kebahagiaannya bersama Ega, dirumah ini juga Ega meninggalkan dirinya, dan rumah ini kembali hampa seperti pemiliknya.


"Kamu masih harus istirahat, ayo masuk." Arga menuntun Eva memasuki rumah itu.


"Nona sudah pulang, saya sangat khawatir sekali non." Mbok Is sesenggukkan seraya membungkuk hormat diikuti pelayan dan pengawal yang lain. Mbok Is melirik majikan mudanya yang tetap diam dengan tatapan kosong, kepala pelayan itu langsung memeluk majikannya tanpa pikir panjang hatinya ikut hancur melihat keadaan majikannya yang sangat berantakan, air matanya mengalir deras.


"Kenapa ini terjadi lagi." Gumam mbok Is, majikannya itu kembali menjadi mahluk dingin tatapannya hampa, dulu memang sifat majikannya sangat dingin tapi sorot matanya tajam dan hidup bukan hampa, kosong seperti saat ini, mbok Is tidak kuasa melihat keadaan Eva.


"Terima kasih mas Arga sudah merawat dan menjaga non Eva." Mbok Is membungkuk sekilas.


"Sama-sama mbok, ini termasuk tugas saya." Arga melirik Eva sebentar.


"Saya bawa Eva ke kamar dulu mbok." Mbok Is mengangguk pelan.


Ini pertama kalinya Arga masuk kedalam kamar perempuan membuatnya sedikit tidak nyaman. Kamar Eva sangat rapih warna temboknya sama dengan warna mata gadis itu tidak ada perabotan berlebihan selayaknya anak-anak perempuan pada umumnya, Arga mendudukan Eva ditepi ranjang.


"Kita sudah sampai dikamarmu." Arga berusaha selembut mungkin kepada Eva agar gadis itu mau meresponnya namun usahanya gagal, Eva menatap lurus kedepan tanpa ekspresi.


"Kamu tidak mau mengatakan sesuatu?." Bujuk Arga yang tidak mendapatkan respon.


"Istirahatlah." Arga membaringkan tubuh Eva memastikan Eva tidur dengan nyaman. Arga menarik selimut menyelimuti tubuh Eva, ia menatap dalam manik Eva, dulu gadis dihadapannya sangat cantik dengan senyum manis yang menghiasi wajah cantiknya tapi kini wajah itu layu tidak seindah dulu.


"Good night, miss ngambek." Arga meninggalkan kamar Eva.


Mata biru Eva tetap terrbuka menatap langit-langit kamar, bibirnya bergetar, air mata mulai mengalir jatuh. Kakek Eva harus bagaimana sekarang?, batin gadis itu.


***


Pagi harinya Daren sudah kembali dari kegiatan bisnis diluar negeri ia mendengar laporan dari anak buahnya tentang semua kejadian yang dia lewatkan membuatnya shock hebat, Daren langsung menyelesaikan pekerjaannya secepat mungkin dan segera kembali ke indonesia. Dengan masih memakai baju kerja Daren berlari menaiki anak tangga menuju kamar Eva.


"Bagaimana keadaannya?." Tanya Daren kepada Arga yang berdiri didepan pintu kamar Eva.


"Lukanya sudah sembuh tapi, lebih baik anda melihatnya sendiri." Arga membuka pintu kamar mempersilahkan Daren masuk. Daren terdiam setelah memasuki kamar putrinya.


Eva duduk diam ditepi ranjang tatapannya kosong menatap lurus kedepan. Hati Daren hancur, hati ayah mana yang tidak hancur melihat keadaan putrinya seperti itu. Daren meneteskan air matanya dalam diam, perlahan ia mendekati Eva seraya menghapus butiran cairan bening yang terjatuh. Daren menekuk kedua lututnya berjongkok didepan Eva tangannya meraih kedua tangan Eva mendongak menatap putrinya.


"Eva, ayah sudah pulang. Maafkan ayah pulang terlambat, bagaimana keadaanmu? masih ada yang sakit?." Daren melihat putrinya dari atas sampai bawah mencari luka yang mungkin masih tertinggal setelah beberapa detik Daren beralih menatap kedua mata Eva.


"Kamu sudah makan?." Suara Daren terdengar lembut namun itu tidak mempengaruhi Eva. Daren tidak mendapatkan respon.


"Obatnya sudah diminum?." Tidak ada jawaban meskipun hanya satu gerakan kecil.


Hening.


"Ayah mau mandi sebentar nanti ayah kembali lagi." Daren mengecup kening Eva lalu pergi.


Cairan bening itu kembali terjatuh, memori dimana Ega mengecup dahinya didepan pintu gerbang sekolah, saat Ega masuk kedalam mobil meninggalkannya selalu berputar-putar didalam kepala Eva dan didepan matanya. Memburu atau diburu, meninggalkan atau ditinggalkan, mati atau hidup semuanya sudah tidak penting bagiku, ucap Eva dalam hati.


Angin masuk dari pintu balkon menggoyang-goyangkan gorden. Menyapu lembut tubuh tak bergerak itu.


❄️_TAMAT_❄️


The next bonus chapter.