
Diparkiran masih terlihat sepi Eva melirik jam diponselnya lalu melihat lurus kedepan menunggu seseorang. Anak-anak kelas XI bergerombol memasuki parkiran, mereka menatap Eva dengan tatapan aneh.
Apa mereka mengenalku?, batin Eva.
Anak-anak kelas XII terlihat berjalan menghampiri parkiran di belakang mereka terlihat segerombolan anak-anak kelas X. Bola mata Eva menangkap sosok orang yang ditunggu-tunggunya, orang itu juga melihat keberadaan Eva sedang berdiri disamping sepeda motornya, ia berlari kecil menghampiri Eva.
"Maaf lama ya." Ucap Dimas.
"Telat dua menit." Jawab Eva datar.
"Sorry." Dimas tersenyum canggung.
"Udah cepat lepas jaketmu, kita tidak punya banyak waktu ." Dimas masih bingung tapi dengan cepat ia melepas jaket birunya, Eva menyambar jaket dari tangan Dimas dan buru-buru ia pakai.
Dimas menaiki motor besarnya memakai helm lalu menstarter sepeda motornya.
"Kita mau kemana sih kok kayaknya buru-buru banget." Tanya Dimas.
"Pulang, kita mau pulang." Eva menaiki jok belakang dan menutupi kepala dengan tudung jaket.
"Ayo jalan." Dimas tersenyum.
"Tidak pegangan?." Eva menghembuskan nafas kesal, ia meletakkan kedua tangannya dipundak Dimas.
"Udah, ayo jalan."
Motor Dimas berjalan pelan keluar parkiran saat itu Eva seperti melihat cowok jam hitam sedang berdiri diam tidak jauh darinya. Eva menunduk menyembunyikan wajahnya takut Ronggo mengenalinya. Jantung Eva berdegup kencang, Ronggo berdiri tepat didepan pintu gerbang, Eva mencengkeram pundak Dimas.
"Cepat kak." Lirih Eva. Dimas menambah kecepatannya, jarak diantara mereka semakin dekat Eva menunduk semakin dalam.
Wuuussh dengan mulus motor hijau melewati Ronggo dan satu pengawalnya yang lain. Huufft Eva baru bisa bernafas lega setelah mereka sudah jauh meninggalkan sekolah.
"Belok kiri kak." Dengan gesit Dimas membanting setir ke kiri. Didepan pasar yang masih ramai Eva menyuruh Dimas untuk berhenti.
Eva turun dari motor.
"Terima kasih kak untuk tumpangannya." Dimas membuka helmnya.
"Kamu kabur?." Tanya Dimas.
"Cuman sebentar." Eva sudah menduga Dimas akan menanyakan itu, Eva melepas jaket Dimas.
"Tidak sampai larut malam kan? sekarang kamu mau kemana? aku ikut." Eva mengulurkan jaket biru mengembalikannya. Dimas menatap Eva khawatir.
"Aku mau jalan-jalan menikmati kebebasanku, kakak nggak mungkin ikut denganku mereka pasti akan melacak motor ini lalu menangkapku, rencanaku gagal dong." Jelas Eva.
"Mereka tidak bisa melakukan itu." Eva menarik kembali jaket Dimas yang tidak kunjung diambilnya.
"Kakak tidak ingat ada cctv diatas gerbang sekolah? dari situ mereka akan tahu. Terima kasih kak, kak Dimas sudah mau membantuku."
Eva mengulurkan kembali jaket Dimas.
"Tidak, jaketnya kamu bawa saja dan ini nomorku kalau ada apa-apa hubungi aku." Eva menggeleng pelan.
"Aku tidak akan menggunakan ponselku, mereka juga akan melacak ponselku. Kak Dimas tenang saja aku cuman jalan-jalan sebentar kok, kakak mau kan merahasiakan ini?."
Dimas menghembuskan nafas berat.
"Iya, aku akan merahasiakannya." Eva tersenyum tipis.
"Apapun yang terjadi." Eva memastikan Dimas mengangguk.
"Apapun yang terjadi. Ini nomorku kalau ada apa-apa hubungi aku."
Dimas memberikan secarik kertas kepada Eva. Sejak kapan dia menulis ini, batin Eva.
"Terima kasih kak, Eva pergi dulu." Sebelum pergi Eva memberikan senyum tulusnya kepada Dimas, Dimas bergeming ditempatnya.
"Jaga dirimu dan cepat pulang." Seru Dimas.
"Siap. Ya!." Eva menirukan gaya tni Dimas seraya melambaikan tangannya kepada cowok itu yang dijawab lambaian tangan Dimas.
Eva membalik jaket biru itu menjadi abu-abu, dengan cepat memakainya kembali.
"Cewek jenius." Gumam Dimas.
Eva menerobos kerumunan pasar mencari tempat penitipan barang 24 jam, Eva menemukan apa yang ia cari menghampiri penjaga penitipan. Eva menyodorkan tas sekolahnya.
"Saya titip ini." Ucap Eva.
"Baik mba ini nomor lokernya." Eva mengangguk mengambil nomor loker berwarna merah.
"Terima kasih."
"Sama-sama."
Eva berjalan digang-gang kecil melihat perbedaan kompleks rumahnya dengan kompleks disini yang sangat berbeda jauh. Ini pertama kalinya Eva keluar rumah selain untuk urusan perusahaan dan pergi ke sekolah, pemandangan baru yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Sejak kecil setelah Eva pulang sekolah jadwal privat dan kursusnya telah menunggu Eva dirumah, tidak ada waktu untuk jalan-jalan bahkan bermain dengan temannya pun tidak.
Ternyata hidup mereka jauh lebih berat dari pada hidupku, batin Eva melihat para pedagang berusaha menjajagan dagangannya dengan berteriak-teriak, banyak anak kecil juga yang seharusnya mereka sekolah tapi malah ikut berdagang, mengangkat karung-karung berat, membawa kotak bertuliskan sol sepatu, dan meminta-minta.
Tidak terasa sudah jam setengah enam sore Eva mengikuti langkah kakinya tanpa tujuan.
"Eva, apa yang kamu lakukan disini?." Eva berbalik dan mendapati Tiara berdiri dengan dua kantong kresek besar dikedua tangannya.
"Jalan-jalan, kamu?." Tiara menghampiri Eva.
"Nih disuruh mama beli bahan-bahan kue, kamu belum pulang? dimana tasmu?."
Tiara menatap Eva dari ujung kaki sampai ujung kepala, Eva mengikuti arah pandang Tiara mendapati seragamnya yang sudah kusut.
"Belum, tasnya aku titipkan tadi, ngomong-ngomong kamu tinggal disini?." Pandangan Eva menyapu kompleks kumuh itu.
"Nggak, aku tinggal di kompleks sebelah ayo aku tunjukan rumahku." Eva berpikir sebentar.
"Uhm." Eva mengangguk pelan.
Eva mengambil salah satu kantong kresek dari tangan Tiara.
"Eh nggak usah itu berat." Eva mengedikkan bahunya.
"Nggak apa-apa dua orang lebih baik." Kalimat Eva menghentikan gerakan Tiara yang hendak mengambil kembali kantong kresek belanjaannya.
Mereka berjalan melewati gang-gang kecil lagi lalu Tiara mengambil gang yang lumayan besar.
"Jauh yah, kok kamu jalan kaki ke sana?." Tanya Eva.
"Mama nyuruh aku pakai motor tapi aku nggak mau, enak jalan kaki hitung-hitung ngirit bbm." Kami masuk ke gang yang lebih besar lagi.
"Kenapa nggak beli ditempat lain?." Dikompleks ini rumah-rumah tertata rapih dan bersih.
"Yang punya warung itu teman sma mama, mama jadi langganan disana, meskipun kompleks disana tergolong kumuh tapi rumah dan warung teman mama dijamin bersih." Eva mengangguk paham.
"Sebenarnya kamu siapa sih?." Eva berhenti, menatap Tiara kaget dengan pertanyaan yang diberikannya.
"Apa maksudmu?." Tanya Eva, gadis yang baru dikenalnya kemarin balik menatap Eva.
"Kamu terlalu banyak bicara, terus kamu baik lagi mau membantuku. Kalau Eva Augustin Ayhner pasti tidak akan mau melakukan ini." Eva langsung terdiam.
"Eh aku cuman bercanda va jangan dimasukin hati gitu dong, actingku pasti berlebihan." Tiara mengusap-usap pundakku.
"Maafin aku va, pliiss." Eva hanya tersenyum tipis.
"Nggak apa-apa kok." Eva menurunkan tangan Tiara.
"Beneran?." Eva mengangguk.
"Yang kamu katakan tadi memang benar kok." Tiara menatap Eva bingung.
"Aku tidak memungkirinya."
Tiara mulai berjalan lagi Eva mengekor dibelakangnya.
"Tapi aku punya pendapat sendiri tentang kamu." Eva mensejajarkan langkah dengan Tiara.
"Nah tadi pendapat siapa?." Tanya Eva.
"Anak-anak disekolah, kita sudah sampai."
Mereka berhenti didepan rumah lantai dua, didepan rumah ada taman bunga dan kolam kecil dengan garasi yang cukup besar. Tiara membuka pagar.
"Ayo masuk." Eva mengikuti Tiara memasuki halaman rumah itu.
"Tiara pulang..." Eva berdiri didepan pintu utama.
"Ayo va masuk." Ajak Tiara.
"Permisi." Tiara tersenyum melihat tingkah kikuk Eva.
"Tiara kamu kok lama sih." Wanita berusia 30 an keluar dari dalam rumah.
"Eh ada teman Tiara sini masuk, ayo duduk." Ibu Tiara masih muda dan ramah.
"Iya tante." Tiara mengambil kantong kresek yang Eva pegang.
"Ayo duduk." Eva mengangguk pelan.
"Sebentar ya, mau minum apa?." Eva menggeleng pelan, Tiara berjalan kedalam rumah.
"Kamu pasti suka lemon tea ini aku buatin." Tiara kembali dengan nampan berisi lemon tea dan setumpuk kue brownies.
"Ngga usah repot-repot ra." Tiara duduk disebelah Eva.
"Anak-anak disekolah." Eva mengingatkan.
"He em, banyak juga senior yang mengidolakanmu setelah kejadian di tengah lapangan pagi-pagi itu, banyak cowok yang berebut mencari perhatianmu pasti kamu tidak tahu." Ucap Tiara.
"Di lapangan?." Eva tidak mengingat apa pun tentang kejadian di lapangan.
"Kamu tidak ingat?." Eva menggelengkan kepalanya.
"Ada senior dan siswi angkatan kita sedang bertengkar memperebutkan Fathur ditengah lapangan dan kamu dengan cueknya berjalan menerobos kerumunan berhenti tepat diantara mereka mengangkat telepon tidak menghiraukan tatapan maut dua orang yang telah kamu ganggu." Jelas Tiara.
"Ah, yang itu." Eva kembali mengingat kejadian itu.
"Bukankah mereka yang mengganggu, membuat kemacetan manusia seperti itu." Imbuh Eva.
"Kamu benar, sikap cuekmu itu terlihat sangat keren Eva." Tiara menatap Eva bibir mungilnya tersenyum yang ditatap menggeleng pelan.
"Dan kejadian tadi siang membuat banyak cowok patah hati. Akhir-akhir ini kamu terlihat sering bersama kak Dimas yang jelas-jelas suka sama kamu, apa lagi dilapangan basket tadi, bayangkan kak Dimas cowok populer banyak yang naksir disekolah, va berapa banyak cewek yang kamu buat patah hati." Eva tertawa mendengar penjelasan Tiara tanpa titik koma dengan pipi chubbynya yang bergerak-gerak lucu.
"Aku senang bisa melihat kamu tertawa lagi owl."
Tenggorokan Eva serasa tercekat, Eva tidak percaya dengan apa yang dia dengar.
"Ka-mu,bagaimana kamu tahu?." Tiara tersenyum.
"Kamu pasti sudah tidak mengenalku." Lirih Tiara, Eva menggeleng pelan.
"Sorry tapi aku benar-benar tidak ingat." Jawab Eva, sejak pertama kali Eva melihat Tiara wajahnya memang terasa tidak asing.
"Aku chipmunk teman TK kamu di jepang dulu."
Eva mengingat-ingat kembali, hanya ada satu orang yang tahu julukkannya saat kecil. Eva menepuk dahinya keras.
"Ya ampun. Kamu Tiara Apriliana si chipmunk?." Tiara tersenyum senang karena Eva bisa mengingatnya.
"Pantas saja aku tidak asing lagi saat melihat wajahmu tapi aku lupa siapa. Kenapa kamu tidak mau memberitahuku dari awal?." Sambung Eva. Eva sangat bahagia bisa bertemu lagi dengan teman kecilnya teman yang mengenal sifat aslinya sebelum semuanya berubah.
"Aku kira kamu sudah lupa denganku, pas kita ketemu dan kita satu kelas kamu nggak ngenalin aku. Kamu juga banyak berubah sekarang, Eva yang aku kenal dulu nggak kayak Eva sekarang. Sebenarnya ada apa denganmu?." Tanya Tiara, Eva mengedikkan bahu.
"Entahlah aku juga tidak tahu tapi aku senang bisa bertemu denganmu lagi chipmunk." Eva mencicipi kue brownies dimeja.
"Oh iya para guru memanggilmu si anak dingin jenius."
"Benarkah?." Tiara mengangguk pasti.
"Kamu pindah ke Indonesia kapan?" Tanya Eva, karena mereka dulu sama-sama tinggal dijepang.
"Baru kemarin, awal masuk sma, papa ditugaskan di Indonesia jadi kami semua pindah kesini, kamu?."
"Sama, ayah juga sibuk mengelola usahanya disini makanya kami pindah."
Kami saling bertukar cerita mengingat masa kanak-kanak dulu. Hidupku serasa kembali lagi, ada perasaan yang sangat aku rindukan saat bertemu chipmunk alias Tiara gadis dihadapanku ini, batin Eva.
"Benar kamu mau pulang sekarang? nggak ganti pakai bajuku dulu?." Tawar Tiara sebelum Eva pergi dari rumahnya.
"Sebentar lagi sopir aku juga jemput kok." Jawab Eva berbohong.
Sekarang jarum jam menunjuk angka 20:00. Eva berjalan digang-gang kecil lagi, menemukan sebuah lapangan kecil. Diarea kumuh itu Eva berdiri dipinggir lapangan dengan jaket Dimas sebagai pelindung tubuhnya, Eva menatap sepatu putih yang sudah kotor.
Angin berhembus kencang membuat bulu kuduk merinding. Petir mulai menyambar, hujan deras turun dari langit gelap. Eva menengadah menatap langit yang sedang menangis, air mata Eva juga ikut turun.
"Apakah ibu mau tinggal dirumah sekarang? apakah ayah mengkhawatirkan aku? jawabannya pasti tidak! ayah hanya mengkhawatirkan pewarisnya saja. Tiara aku berbohong padamu, banyak kejadian buruk setelah kita lulus dari taman kanak-kanak. Aku ingin mempunyai ibu seperti mamamu dan ayah seperti papamu. Aku bosan sendirian ra, maafin aku telah berbohong padamu. Eva harus kuat!." Gumam Eva. Eva terus menangis ditengah hujan lebat. Tiba-tiba ada suara sepeda motor berhenti dibelakangnya.
"Eva kamu kok disini?." Eva melihat pak Dani guru geografinya, Eva mengulum senyum tipis. Bibir Eva bergetar karena dingin yang menusuk tulang.
"Ayo ikut bapak." Eva menggeleng pelan.
"Badanmu menggigil kamu mau mati disini?." Ucap pak Dani tegas. Tidak tentu saja tidak, aku belum mau mati sebelum menemukan Ega, batin Eva akhirnya ikut dengan pak Dani.
Fathur.
Di tengah hujan deras ibu menyuruhku menelephon kakak.
"Fathur telephon kakakmu dari tadi dia belum pulang, sekarang sedang hujan lebat lagi."
Ibu dari tadi berjalan bolak-balik dari dapur ke ruang tamu.
"Ponselnya nggak aktif bu." Ibu menghentikan aktivitasnya dan duduk di sofa.
"Ya sudah kamu tunggu kakakmu pulang di teras sana." Suruh ibu.
"Diluar kan lagi hujan deras bu, ibu kok tega nyuruh Fathur nunggu kakak diluar." Protesku.
"Kan terasnya lebar jadi kamu tidak kena cipratan air hujan."
Huuft aku mengambil gitar dan berjalan keluar. Diteras aku duduk dikursi panjang mulai memainkan gitar, hujan masih turun tapi sudah tidak sederas tadi. Motor hitam besar berhenti didepan pagar, perlahan masuk ke halaman rumah.
Siapa dibelakang kakak? apakah pacarnya? sejak kapan kakak punya pacar? batin Fathur.
Motor itu berhenti didepan garasi.
"Sudah sampai ayo turun." Cewek itu masih memakai seragam sekolah dengan jaket kebesaran melekat ditubuhnya.
"Dani, kenapa kamu baru pulang?." Kak Dani hanya tersenyum melihat ibu yang menghampirinya.
"Ini siapa? duh kamu bawa-bawa anak gadis kerumah malam-malam begini, masih abg lagi." Ibu memukuli lengan kak Dani.
"Bu entar dulu Dani jelasin." Akhirnya tangan ibu berhenti juga.
"Maaf tante Eva merepotkan sebenarnya Eva tadi tidak mau ikut pak Dani." Kak Dani menyentuh pundak Eva menyuruhnya diam.
"Bu nanti Dani jelasin sekarang biarkan Eva masuk kasihan badannya sudah menggigil."
Aku menatapnya dari atas sampai bawah.
"Ya ampun kamu pasti kedinginan, ayo nak masuk." Ibu membawa Eva masuk kedalam rumah.
"Kakak ngga bawa mantel?." Kak Dani membuka pintu garasi.
"Nggak, tadi kakak lupa. Kamu bantuin ibu sana." Hatiku masih bergetar melihat keadaan Eva yang sangat acak-acakkan, wajahnya pucat, bibirnya biru, dan badannya menggigil. Khawatir, aku harus melihatnya sekarang. Aku mendapatinya sedang didalam kamar mandi.
"Kamu mau ngapain? dia sedang mandi." Ibu sudah berdiri dibelakangku waspada.
"Hehe, nggak ngapa-ngapain kok bu Fathur kebelet pipis." Ibu menatapku mengintimidasi.
"Jangan macam-macam." Aku mengangguk dan melangkah pergi.
"Kok kamu balik lagi?." Tanya kak Dani yang menggenggam handuk hitamnya
"Takut ibu ngamuk." Kak Dani mengangguk paham.
"Kamu malam ini tidur dikamar kakak, ambil perlengkapan sekolahmu buat besok."
Aku langsung kembali ke kamar mengambil perlengkapan sekolahku. Memastikan kamar sudah rapih baru aku pergi ke kamar kak Dani.
Dikamar kak Dani aku membuka buku fisika mmempersiapkan materi yang akan dipelajari besok tapi otakku tidak bisa diajak konsentrasi isi kepalaku dipenuhi Eva, Eva, dan Eva, aaarrgh bisa gila aku.
Aku memutuskan untuk keluar kamar menuju dapur hanya memastikan dia baik-baik saja.
Didapur Eva dan kak Dani sedang menikmati coklat hangat.
"Kamu mau?." Tanya ibu.
"Nggak ada jatah buat kamu." Srobot kak Dani.
"Siapa juga yang minta, aku capek mau tidur." Jawabku bohong, sebelum pergi aku melirik Eva sebentar, wajahnya tidak sepucat tadi syukurlah, batinku segera kembali kekamar. Ku hempaskan tubuh di atas ranjang.
"Huuft apa ini mimpi?." Lirihku. Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu.
"Masuk saja bukannya ini kamarmu." Aku berbaring memunggungi pintu.
"Maaf." Suara itu bukan milik kak Dani, aku terlonjak duduk.
"Apa aku mengagetkanmu?." Eva berdiri diambang pintu.
"Tidak tentu saja tidak." Eva tersenyum tipis. Eva cantik malam ini rambutnya tergerai masih agak basah meskipun wajahnya masih sedikit pucat tapi senyumnya itu... aku memegang dadaku memastikan jantungku masih ada ditempatnya.
"Boleh aku masuk?." Aku mengangguk pelan.
"Ini coklat hangat." Eva meletakkan secangkir coklat hangat diatas meja kerja kak Dani.
"Kamu tidak pandai berbohong, kamu harus belajar lagi. Maaf aku merebut kamarmu malam ini dan juga maaf aku merepotkanmu."
Cepat-cepat aku menggelengkan kepala.
"Tidak kamu tidak merebut kamarku kok jangankan malam ini malam-malam yang akan datang juga nggak apa-apa."
Eva tersenyum tipis membuat jantungku bekerja lebih cepat.
"Terima kasih." Aku mengangguk sedikit.
"Good night." Eva berjalan keluar kamar.
"Good night." lirihku.
Apa yang terjadi malam ini adalah mimpi terindah untukku. Aku berjalan cepat dan meraih cangkir berisi coklat hangat lalu segera meminumnya sampai habis. Ini pertama kalinya selama empat tahun Eva berbicara kepadaku.
Yes, yes, yes... aku melonjak-lonjak bahagia. Kuletakkan cangkir kosong itu dan pergi tidur.