
Hampir empat jam Eva menempuh perjalanan. Sekarang jam 1 dini hari, Eva menapakkan kakinya turun dari gerbong kereta. Menghirup udara bandung yang sudah lama tidak Eva rasakan. Bandung kota kenangan. Eva menghampiri petugas yang sedang berjaga disana.
"Maaf permisi pak." Ucap Eva sopan.
"Iya neng, ada yang bisa bapak bantu?." Tanya petugas.
"Boleh pinjam ponselnya pak? saya mau menelphon keluarga saya untuk menjemput saya, saya tidak bawa ponsel pak." Jelasku.
"Oh boleh neng, ini silahkan." Eva menerima ponsel tersebut dan segera menulis nomor yang sudah ia hafal diluar kepala.
"Terima kasih banyak pak, ini ponselnya."
"Sudah neng?."
"Sudah pak, sekali lagi terima kasih."
Eva duduk bersandar mencoba memejamkan mata, Eva tahu untuk menjemputnya butuh waktu 3 jam dari sana jadi Eva memutuskan untuk tidur dan menjadikan jaket kulit Fathur sebagai selimut.
"Non, non, nona Eva." Lirih seorang laki-laki dengan suara berat membangunkan gadis yang tertidur di kursi tunggu. Eva membuka mata perlahan. Laki-laki itu memakai jas hitam dengan simbol keluarga Hachibara.
"Jam berapa sekarang?." Tanya Eva dengan suara parau.
"Jam empat pagi non."
"Kita pergi sekarang." Eva berdiri meninggalkan stasiun.
"Baik nona."
Dalam perjalanan Eva disuguhi pemandangan kota bandung dengan bangunan-bangunan khas kota hujan.
"Jam berapa kita akan sampai disana?."
"Mungkin sekitar jam enam atau tujuh non."
Eva menikmati pemandangan yang sudah lama tidak ia lihat. Ini kedua kalinya Eva berkunjung kebandung yang pertama saat usianya sepuluh tahun ketika itu Daren dan Ayumi tidak dirumah, ia pergi berdua dengan Ronggo. Lima tahun sudah berlalu tapi pemandangan dikota hujan tetap lah menawan. Matahari mulai menampakkan dirinya, mobil yang ditumpangi Eva melewati kebun teh hijau dan sawah-sawah, para petani sibuk mencangkul ladang mereka.
Ibu-ibu berbaris mendaki kebun teh. Anak-anak bersepeda berurutan dan juga beberapa terlihat berjalan kaki dengan seragam sekolahnya. Eva takjub dengan pemandangan itu. Di jakarta setiap pagi ia disuguhi kemacetan dan bunyi bising klakson saling bersautan.
Pipa-pipa besar tertata rapi untuk mengairi ladang. Mobil terus melaju melewati setiap pemandangan indah itu. Rumah besar berdiri kokoh terlihat dari kejauhan. Mobil berhenti menunggu gerbang yang menjulang tinggi terbuka. Perlahan mobil memasuki pekarangan luas penuh dengan bermacam jenis bunga.
"Sudah sampai non, silahkan." Sopir membuka pintu penumpang sembari membungkuk sopan. Eva melangkah keluar. Pintu utama itu terbuka, pelayan berbaris menyambut Eva.
"Selamat pagi nona Eva, nyonya sudah menunggu anda." Ucap salah satu pelayan.
Eva melangkah memasuki rumah itu, tangannya masih menggenggam jaket Fathur ia berhenti di ruang tengah yang besar, wanita tua terlihat sedang duduk membaca buku.
"Nenek..." Seru Eva berlari memeluknya erat.
"Aku sangat merindukan nenek." Wanita tua melepas pelukan Eva menyuruhnya untuk duduk disamping dirinya.
"Dasar gadis nakal, kamu membuat semua orang sibuk mencarimu." Ucap nenek Eva seraya menatap mata biru cucunya yang ditatap menyunggingkan senyum tipis.
Eva meneliti wajah neneknya, keriput dibawah mata sang nenek bertambah, rambut hitamnya hampir memutih semua menunjukkan usianya yang bertambah tua.
"Sekali-kali nek ngerjain mereka." Jawab Eva datar.
"Dasar anak ini." Nenek mencubit pipi Eva gemas.
"Nek Eva ingin menanyakan sesuatu kepada nenek." Kata Eva tidak ingin berbasa-basi lebih lama.
"Hm? jadi kamu kesini bukan untuk bertemu nenekmu ini, nenek merasakan ada niat terselubung?." Ucap nenek menatap Eva penuh selidik dengan wajah yang menahan senyum.
"Nenek benar, ada sesuatu yang ingin Eva ketahui." Raut wajah Eva berubah datar.
"Kenapa dengan wajahmu? apa ada sesuatu yang terjadi?." Nenek merasakan perubahan aura dari cucunya yang tiba-tiba berubah serius.
"Nek, siapa Ega?." Tanya Eva to the point. Bola mata nenek membulat penuh terkejut cepat-cepat nenek mengontrol dirinya.
"Kamu sudah makan?." Nenek mengalihkan pembicaraan. Eva menarik kaos birunya sampai terlihat tato hitam disana. Eva tidak mengira reaksi neneknya biasa saja saat melihat tato itu.
"Jangan membohongiku lagi nek, nenek lihat kan angka dan simbol ini." Jari Eva menekan tato hitam di pundaknya.
"Delapan, sembilan, tiga, yakuza dan simbol huruf O W L." Eva menatap dalam manik neneknya.
"Huruf terakhir menunjukkan tempat dimana rahasia itu tersembunyi yang tidak lain adalah Lusi alias nenek." Eva menggenggam tangan keriput wanita itu.
"Rahasia apa yang sebenarnya disembunyikan dariku nek? apakah Eva bukan anak ayah dan ibu?." Tanya Eva penuh selidik, nenek menghembuskan nafas pelan.
"Nenek belum sarapan, ayo kita makan dulu." Eva menggeleng keras.
"Kamu memang keras kepala sama persis dengan ibumu." Eva melotot tidak setuju.
"Ahaha, jangan melotot seperti itu bola matamu nanti bisa loncat keluar lo." Ledek nenek setelahnya nenek mengambil nafas panjang.
"Apa sudah waktunya?." Nenek bertanya kepada diri sendiri lalu menatap Eva dalam.
"Eva, dengarkan nenek baik-baik. Apa pun yang akan kamu dengar itu semua karena kakek sangat menyayangimu." Ucap nenek raut wajahnya pun ikut berubah.
Eva melepas tarikan tangan pada kaosnya seraya mengangguk pelan, mata nenek menerawang jauh seakan mengingat sesuatu yang sudah lama terpendam.
"Sebelum kakekmu bertemu dengan nenek beliau adalah seorang ilmuwan sekaligus seorang mafia di jepang saat itu kakekmu sedang melakukan penelitian di indonesia, kami tidak sengaja bertemu dan langsung jatuh cinta pada pandangan pertama hahaha." Nenek tertawa mengingat kejadian dimasa lalu.
"Setelah pertemuan itu kami sering menghabiskan waktu bersama. Suatu hari kakekmu mengakui bahwa dia bukan hanya ilmuwan biasa tetapi juga seorang mafia," nenek berhenti sejenak melirik Eva yang diam fokus mendengarkan.
"Mendengar itu nenek langsung menjaga jarak dengan kakek meskipun berat bagi nenek karena nenek sangat menyayangi kakekmu." Eva meremas pelan tangan neneknya. Nenek tersenyum dan mengelus pelan pucuk kepala cucunya.
"Ternyata apa yang nenek rasakan kakekmu juga merasakan hal yang sama, kakek rela berhenti menjadi mafia untuk menikahi nenek." Eva tersenyum senang, cerita cinta nenek tidak kalah romantisnya dengan cerita di novel bahkan drama korea sekali pun, batin Eva.
"Akhirnya kami berdua menikah dan tinggal di jepang, kami dikaruniai seorang putri yang sangat cantik dan cerdas ayumi, ibumu." Mendengar nama ibunya disebut perlahan Eva menunduk, tangan keriput nenek memegang pipi Eva menariknya agar menatap bola mata wanita tua itu.
"Ketika putri kami sudah dewasa dan bertemu dengan seorang pemuda sebatang kara mereka pun saling jatuh cinta lalu kami menikahkan mereka, meskipun pemuda itu sebatang kara namun dia mempunyai pendidikan tinggi dan bisa diandalkan." Eva mengangguk setuju. Ayahnya memang bisa diandalkan kalau soal bisnis.
"Kakekmu tidak pernah mempermasalahkan status sosial. Kakek memberikan salah satu perusahaannya yang mempunyai banyak cabang untuk dikelola ayahmu." Nenek menarik nafas perlahan.
"Satu tahun kemudian putri kami melahirkan bayi laki-laki yang sangat tampan," deg! ketakutan Eva menjadi kenyataan.
"Dua menit kemudian menyusul bayi perempuan yang tidak kalah cantiknya, kebahagiaan kami sudah lengkap dengan adanya cucu-cucu kami. Kami tidak menginginkan apa-apa lagi karena kami sudah sangat bahagia." Eva bergeming mendengar cerita neneknya.
Nenek meminta pelayan mengambilkan minuman. Setelah pelayan kembali bersama dua minuman tersebut nenek segera meminum tehnya untuk menenangkan diri.
"Apa pun itu pasti sangat penting dan berharga karena mereka tidak menyerah sampai saat ini." Nenek kembali melanjutkan ceritanya.
"Setelah penyerangan itu kakek membawa nenek dan cucu pertama kami meninggalkan jepang dan bersembunyi disini. Kakek meninggalkan tato dilenganmu sebelum meninggalkan jepang." Nenek kembali meminum tehnya.
"Untuk sementara waktu keluarga kita aman, kamu dengan ayah dan ibumu tetap tinggal di jepang, kami sangat bersalah telah memisahkan seorang anak dari saudara kembarnya tanpa sempat mereka mengingat wajah masing-masing karena umur mereka yang masih sangat kecil." Nenek menatap Eva sendu.
"Kami juga sepakat untuk tidak memberitahukan kepada cucu kami kalau mereka mempunyai saudara kembar itu keputusan yang terbaik." Kini nenek menatapku nanar.
"Kenapa?." Suara Eva gemetar, ia syok dengan semua kenyataan yang menghantamnya. Aku punya saudara kembar, batin Eva.
"Jika kalian mengetahui keberadaan satu sama lain pasti kalian akan berusaha berkomunikasi dan yang paling berbahaya adalah kalian berusaha untuk bertemu." Bukankah itu wajar, batin Eva lagi.
"Hal itu akan membuat musuh dengan mudah menemukan kita, ingat va kami tidak hanya memisahkan seorang anak dengan saudaranya tetapi juga memisahkan seorang anak dengan kedua orang tuanya." Nenek menatap dalam Eva.
Sebelumnya Eva sudah siap dengan kenyataan terburuk sekalipun tapi setelah mendengar semua ini rasa kecewa, sedih, tidak bisa ia pungkiri berkecambuk dihatinya.
"Karena itu kakek memilih cucu laki-laki yang dia bawa bersama kami karena kakek percaya laki-laki lebih kuat. Selang beberapa tahun mereka menemukan kami, anak buah kakekmu bertarung mati-matian untuk melindungi kami tapi naas mereka berhasil membawa cucu kami yang akan merayakan pesta ulang tahunnya yang ke enam." Sepertinya itu dua minggu setelah aku datang ke indonesia, batin Eva.
"Kejadian itu membuat ibumu syok berat dia tidak bisa menerima kenyataan, saat itu alasan kalian pindah ke indonesia adalah ayumi ingin bertemu dengan putranya tapi belum sempat mereka bertemu kejadian itu terjadi dan ayumi menjadi ibu yang sangat dingin kepadamu." Eva membuang muka saat nenek menatapnya.
"Kakek berusaha mencari informasi dan melacak keberadaan mereka. Kakek juga yang menyuruh ayahmu mendidik kamu menjadi gadis yang cerdas dan pandai bela diri agar kamu bisa melindungi dirimu sendiri." Eva menarik nafas berat.
"Beberapa bulan kemudian kakekmu jatuh sakit. Hanya selang dua bulan kakek meninggal." Inikah tragedi yang selama ini kalian sembunyikan dariku, batin eva.
"Sebelum meninggal kakek menitipkan sesuatu untukmu."
Nenek pergi meninggalkan Eva diruang tamu sendirian hanya ditemani dengan kenyataan-kenyataan yang memusingkan. Inilah penyebab ayah selalu memberiku pengawalan ketat, memberiku seabreg jadwal privat dan kursus, menelphonku setiap empat jam sekali. Sepertinya Eva melamun terlalu lama karena nenek sudah duduk kembali disampingnya dengan kotak kuno berwarna merah ditangan.
"Kamu pasti bingung dengan semua ini?." Eva menggeleng pelan. Lebih tepatnya membuat kepala Eva sakit karena pusing mencerna semua informasi mendadak itu.
"Apa kamu juga berfikir kalau nenek mengada-ngada?." Nenek menatap mata Eva lembut Eva membalas tatapan neneknya seraya menggelengkan kepala pelan.
"Nek apakah dia masih hidup?." Pertanyaan yang terlontar dari mulut Eva.
"Nenek juga tidak tahu, nenek harap dia masih hidup."
Jauh didasar hati Eva ia percaya bahwa kembarannya masih hidup dimanapun ia berada sekarang.
"Mungkinkah namanya Ega nek?." Nenek meraih tubuh Eva menyandarkan kepala cucunya dibahu tua itu.
"Kamu sudah tahu, siapa yang memberitahumu? orang tuamu?." Tanya nenek.
Eva menggeleng pelan lalu ia menceritakan kejadian saat ia duduk dikamar ayumi dan mendengarnya mengigau memanggil nama Ega.
"Benarkah ibumu sekejam itu? dia memperlakukanmu..."
"Ega, seperti apa dia?." Eva memotong kalimat nenek, Eva tidak ingin membahas orang yang ia panggil ibu itu.
"Ternyata kamu sangat membencinya, maafkan nenek dan kakek va, karena nenek dan kakeklah yang sudah membuat ibumu menjadi seperti itu." Dari sudut mata keriputnya terlihat cairan bening berjatuhan.
"Sudahlah nek nggak apa-apa, Eva sudah biasa kok." Nenek mengulurkan kotak kuno berwarna merah kepada Eva.
"Namanya Ega Augustav Ayhner. Bukalah selama hampir sembilan tahun ini nenek hanya menyimpannya untukmu." Nenek menghapus air matanya. Eva menerima kotak itu, ia menegakkan posisi duduknya dan membuka kotak kuno itu perlahan.
Didalamnya hanya ada selembar kertas yang terlipat rapih belum pernah tersentuh. Eva mengambilnya penasaran.
"Cuman ini nek? nggak ada foto atau apa pun?." Tanya Eva heran.
"Sepertinya begitu, kami semua sudah membakar foto yang berhubungan dengan Ega dan kamu agar kalian tidak saling mengetahui." Kejam sekali, pikir Eva.
"Seburuk itukah?." Nenek mengangguk pelan.
Eva membuka kertas itu lalu dengan cepat membaca isinya.
Cucuku...
Jika surat ini sudah berada ditanganmu berarti kamu sudah mengetahui semuanya, maafkan kakekmu ini karena sudah menghancurkan hidupmu, jujur kakek tidak ada sedikitpun niat untuk melakukan itu semua tetapi keadaanlah yang memaksa kakek melakukannya dan kakek ingin kamu sekarang meraih kebahagiaanmu yang hilang. Raihlah mentari itu. Petualanganmu akan dimulai setelah kamu membaca surat ini, kakek sangat bergantung kepadamu. Banyak yang sudah mempertaruhkan nyawa dan kehidupan mereka. Mereka menunggu saat ini datang dan kakek juga sudah mempertaruhkan keluarga kakek untuk mentari ini...
Untuk kalian.
Ketika mentari timur menembus menara.
Senyum manis mengalahkan segalanya.
Terlihat jelas ukiran permata.
Eva menutup surat itu. Apa maksud teka-teki ini? mentari? meraih kebahagiaan? nyawa? ,batin Eva sibuk dengan pikirannya.
"Sudah ayo sarapan dulu, hari sudah hampir siang." Ajak nenek, yang Eva jawab dengan anggukkan pelan.
***
Sudah dua bulan Eva bersembunyi dirumah neneknya. Selama itu juga ia berusaha memecahkan teka-teki dari kakek tapi hasilnya nihil. Eva tidak akan menyerah sebelum memecahkan teka-teki itu. Eva juga sudah mencerna dan mengerti atas tragedi keluarganya.
Hari-hari Eva habiskan belajar dengan guru-guru yang nenek undang. Menu wajib pelajaran bertempur, menyusup, bertahan dari kepala pasukan yang melindungi nenek.
"Baik, hari ini selesai sampai disini kita lanjutkan minggu depan, selamat siang."
Guru privat matematika sudah pergi Eva bergegas menuju halaman belakang rumah neneknya. Sekarang waktunya belajar dengan ketua pasukan. Dihalaman belakang yang sangat luas sudah berdiri sekitar 20 penjaga dan satu komandan mereka. Mereka adalah orang-orang asuhan kakek serta orang-orang kepercayaannya, mereka sangat berbeda dengan penjaga dirumah Eva.
"Kamu sudah siap?!." Tanya kepala pasukan tegas.
"Siap!." Jawab Eva tidak kalah tegas.
"Bagus, sekarang kamu lawan kami semua lumpuhkan sebanyak yang kamu bisa. Kami juga akan menyerangmu bersama-sama, kamu mengerti?." Jelas kepala pasukan.
"Ya! mengerti!."
Eva tidak menduga setelah ia selesai menjawab kepala pasukan, mereka serentak menyerangnya, dengan perasaan yang masih terkejut Eva berusaha mempertahankan diri dari serangan bertubi-tubi yang mereka luncurkan. Nggak shishou nggak disini mereka suka sekali menyerang tiba-tiba, batin Eva.
"Baik cukup." Seru ketua pasukan.
Kami semua berhenti, mengatur nafas masing-masing. Satu menit saja berasa satu jam dalam latihan tadi membuat Eva kepayahan tapi bagi Eva lebih sulit jika melawan Takehara masternya.