Yuki

Yuki
Bab 25



Dua remaja mengendap-endap keluar dari sebuah ruangan langkah ringan kaki mereka menyusuri lorong lalu bersembunyi ketika terdengar suara yang bukan berasal dari mereka. Komplotan penjahat itu terlihat berlalu lalang disetiap lorong, gerakan mereka tergesa-gesa mencari mangsa. Mata biru itu bergerak cepat memberi kode untuk keluar dari persembunyian berlari menuju lantai bawah, keberuntungan tidak memihak kepada kedua remaja itu baru beberapa langkah tujuh orang sudah menghadang mereka.


"Satu jarum satu orang." Eva memperingatkan.


"Ok." Sebelum tujuh orang sempat melepaskan tembakannya Hotaru sudah merobohkan mereka dengan jarum ditangannya.


"Lumayan." Komentar Eva. Hotaru yang tidak menyangka ketujuh orang itu dapat dengan mudah dilumpuhkan hanya dengan terkena jarum yang ia lempar bergeming ditempat.


"Apa yang kamu lakukan?. Ayo." Eva menegur Hotaru.


"Maaf." Hotaru segera berlari menyusul Eva.


"Berhenti!." Seru penjaga dibelakang mereka. Kaki Eva tidak menurunkan kecepatan berlarinya ia memiringkan tubuhnya seraya melepaskan jarum.


"Wah! keren, sebenarnya jarum apa ini?." Hotaru kembali mendaratkan jarum kepada lawan mereka yang terlihat di depan sana.


"Aku hanya mengoleskan obat tidur yang sudah dicampur dengan beberapa ramuan membuat orang yang terkena jarum tertidur pulas." Jelas Eva.


"Berapa lama?." Hotaru memandangi jarum ditangannya.


"Paling cepat mungkin sampai satu minggu kedepan." Eva melumpuhkan kembali lawan yang mendekati mereka.


"Maksimalnya?." Tanya Hotaru tidak percaya. Mereka berhenti dilorong yang bercabang.


"Dua atau tiga minggu. Ke kanan arah pintu belakang?." Eva menunjuk arah yang dia maksud. Hotaru mengangguk lalu mereka kembali berlari.


"Kamu akan membunuh mereka kalau begitu." Sergah Hotaru dalam kondisi berlari.


"Tidak, tenang saja aku sudah mengujinya." Eva dan Hotaru tiba-tiba berhenti padahal pintu keluar sudah terlihat. Komplotan penjahat itu sudah berkumpul bersama bosnya menyambut kedatangan Eva dan Hotaru. Eva dan Hotaru membalikan badan ingin mencari jalan keluar yang lain tapi segerombol pria berbadan besar bersama bos perempuan mereka muncul dari arah berlawanan.


"Kita dikepung." Hotaru menatap tajam gadis didepannya.


"Hotaru kenapa kamu mencoba kabur lagi, dan siapa cewek itu?." Sarah menatap Eva penuh kebencian.


"Bukan urusanmu." Jawab Hotaru dingin.


"Sekarang kembalilah padaku jangan buat aku melukaimu, aku akan melupakan kejadian ini." Sarah memberikan senyum manisnya.


"Tidak akan." Jawaban Hotaru menohok telak hati Sarah.


"Hahaha kalian cari mati. Serang!." Burhan memberi isyarat kepada anak buahnya untuk menyerang.


"Maafkan aku Hotaru, serang!." Teriak Sarah.


Serempak anak buah Burhan dan Sarah menyerbu Eva dan Hotaru. Kedua remaja itu bersiaga siap menghadapi pertempuran yang tidak bisa dihindari lagi.


"Usahakan jangan mati!." Seru Eva, Hotaru yang mendengarnya tertawa renyah.


Eva sudah pernah dikroyok sebelumnya oleh para pengawal lusi jadi ini tidak terlalu berat untuknya tapi cukup menguras tenaga. Eva juga harus ekstra hati-hati jika tidak ingin terluka.


Eva melakukan tendangan memutar lalu bersalto kebelakang tangannya melempar beberapa jarum sekaligus membuat musuhnya tumbang. Hotaru tercengang melihat gadis yang mengajaknya kabur sangat lihai berkelahi, gadis itu menguasai berbagai jenis bela diri membuat dirinya seakan-akan sedang menari bukan bertarung, batin Hotaru.


Hotaru melangkah mundur nyaris saja wajahnya terkena bogeman musuh Hotaru berusaha melumpuhkan musuh sebanyak-banyaknya. Tangan kiri Hotaru menahan pukulan musuh kaki kanannya menendang musuh yang menyerang dari belakang hingga tersungkur sedangkan tangan kanannya melemparkan jarum kepada musuh terdekat.


"Kurang aj*r!." Seru musuh yang tangannya ditahan oleh Hotaru.


BUK!.


Pukulan keras mendarat mulus di wajah musuh.


"Lebih baik lo diam." Setelah mengatakan itu Hotaru menancapkan jarum dileher sebelah kiri musuh dihadapannya.


Lumayan juga dia, batin Eva. Setelah beberapa menit bertahan, menyerang, melumpuhkan satu persatu musuh yang ada sekarang hanya tersisa empat orang di area pertempuran. Eva, Hotaru, Burhan, dan Sarah.


"Aku akan melawan kekasihmu kamu lawan bocah itu, bukankah kamu punya dendam kepada bocah itu." Ucap Eva kepada Hotaru, mereka berdiri saling membelakangi.


"Hum, sudah lama aku menunggu saat-saat ini dan aku jelaskan sekali lagi dia bukan kekasihku." Sergah Hotaru, Burhan menyeringai kearah Eva.


"Sudah berdiskusinya non? sekarang mau mencoba melawanku? haha." Burhan tertawa lepas.


"Lo lebih baik berhati-hati Sarah penembak jitu dan bela dirinya cukup membuat sepuluh orang masuk icu." Eva tersenyum kecil mendengar penuturan Burhan yang berdiri angkuh didepannya.


"Lo mau melawanku atau tidak hah!." Bentak Burhan tidak sabar.


"Aku yang akan melawanmu!." Terdengar nada kemarahan yang lama terpendam dari suara Hotaru. Seusai mengatakan itu Hotaru dan Eva berbalik arah berlari menghampiri musuhnya masing-masing.


Dor!.


Eva berguling kesamping menghindari tembakan dari Sarah ia berlindung dibalik lemari.


"Mau bersembunyi hah!." Eva keluar dari persembunyiannya menjawab pertanyaan Sarah, dia berlari cepat menghampiri gadis itu.


Dor!. Dor!.


Eva melakukan sleding lalu melemparkan pecahan kaca yang dia dapatkan saat bersembunyi. Pecahan kaca menggores lengan Sarah yang memegang pistol.


"Argh." Erang Sarah sontak melepas pistol dari genggamannya, Eva dengan cepat menendang pistol yang dijatuhkan Sarah.


"Kurang aj*r!." Darah mengucur dari pergelangan tangan Sarah. Pertarungan jarak dekat diantara dua gadis cantik pun terjadi.


Eva mendaratkan pukulannya diwajah cantik Sarah, pukulan keduanya mengenai perut, tendangan keras mengenai dada lawannya Sarah terlempar kebelakang ternyata Eva belum selesai dia menangkap tangan Sarah lalu menarik dan membanting tubuh Sarah ke lantai. Sarah meraih pistol dari anak buahnya yang tergeletak tidak jauh darinya.


Dor!.


Darah segar mengalir dari pangkal lengan kiri Eva. Konsentrasi Hotaru pecah mendengar suara tembakan dibelakangnya, Hotaru melihat rekannya terluka.


"Lawan lo disini hah!." Burhan menyerang kembali, Hotaru melakukan pertahanan dan mulai menyerang. Pukulan tendangan dilakukan oleh dua laki-laki itu, salah satu diantara mereka tidak ada yang mengendorkan serangan. Hotaru melirik Eva khawatir.


Jangan mati, batin Hotaru.


Eva melakukan salto kebelakang kakinya menendang pistol dari tangan Sarah, baru saja Eva berdiri sebuah cutter meluncur tepat kearah jantungnya refleks Eva menangkis cutter dengan pisau kecil berbentuk pulpen miliknya. Jika Eva telat dua detik saja pasti cutter tajam itu sudah menembus jantungnya.


Eva dengan cepat menghampiri Sarah, perkelahian mereka dimulai kembali, Eva menyerang sarah secara bertubi-tubi dia meluapkan segala rasa sakit hatinya yang sudah lama dia pendam. Jika saja Ega tidak mereka culik pasti sekarang Eva sedang menghabiskan waktunya dengan saudara kembarnya itu.


Eva menendang perut Sarah hingga terlempar menabrak tembok dibelakangnya. Emosi Eva mulai membuncah.


"Dimana dia?!." Seru Eva.


"Siapa yang lo maksud?." Darah keluar dari mulut dan pergelangan tangan Sarah.


"Anak kecil laki-laki yang kalian rampas dari kakek dan neneknya dulu." Sarah tersenyum sinis ditengah-tengah tak keberdayaannya.


"Banyak anak kecil yang kami culik cari saja sendiri." Buk. Eva meninju perut Sarah.


"Anak ini berbeda dengan anak yang lain. Cucu dari mantan seorang mafia jepang. Yakuza." Eva memberikan penekanan pada kalimat yakuza. Sarah bergeming seketika.


"Lo... lo tahu dari mana soal itu?." Eva mencengkeram kerah baju Sarah.


"Lo sembunyiin dimana dia!." Teriak Eva, Sarah tersenyum mengejek.


"Percuma lo cari dia, dia sudah mati!." Seru sarah didepan wajah Eva, Eva tidak bisa menahan amarahnya lagi.


"Kurang aj*r!. Berani-beraninya lo menyentuh dia. Lo harus membayar semuanya!." Seusai mengatakan itu Eva menusukkan jarumnya tepat dileher kanan gadis itu membuat Sarah kehilangan kesadarannya.


Lalu Eva mengecek luka dipergelangan tangan Sarah, lukanya tidak terlalu dalam tidak membahayakan nyawa gadis itu meskipun Eva sangat marah karena mereka telah membunuh kembarannya tapi Eva tidak setega itu membunuh sarah untuk balas dendam. Eva mengikatkan sebuah kain di pergelangan tangan Sarah agar darahnya berhenti. Eva tertunduk lemas kesedihan merayapi dirinya.


Dia pasti bohong, aku sudah sejauh ini tidak mungkin dia sudah meninggal, nggak mungkin dia sudah meninggal, batin Eva. Mata birunya tertutup air mata yang perlahan jatuh ke pipi.


"Hei! lo apain kakak gue?!." Seru Burhan menatap Sarah yang tergeletak tidak sadarkan diri.


"Lawanmu disini Burhan." Hotaru menyerang Burhan yang lengah, tidak membutuhkan waktu lama bagi Hotaru untuk mengalahkan Burhan.


"Ini untuk keluargaku!." Hotaru melemparkan jarumnya tepat dikening Burhan membuatnya roboh.


Eva menghampiri tubuh Burhan yang tidak sadarkan diri mengambil ponsel dari saku anak laki-laki itu.


"Halo kantor polisi, disini ada penyelundupan barang-barang terlarang juga tindak kriminal lainnya harap bapak secepatnya kesini dipulau terpencil ditengah hutan sumatra utara dan sebaiknya bapak menggunakan helikopter agar memudahkan pencarian, sekian laporan saya." Eva melangkah keluar gedung.


"Bagaimana dengan anak-anak yang ada didalam?." Hotaru mengekor dibelakang Eva.


"Mereka akan ditemukan oleh polisi, nanti mereka juga yang akan memberikan penjelasan." Eva sedang mengingat-ingat jalan ketempat ranselnya yang dia sembunyikan. Mengikuti tanda dipohon yang Eva tinggalkan sebelumnya membuat ia dengan mudah menemukan ranselnya.


Benarkah Ega sudah tidak ada? jadi yang aku lakukan ini sia-sia, batin Eva masih tidak bisa menerima kenyataan. Mereka berdua berjalan didalam hutan tanpa ada satu pun yang membuka suara hingga sampai di kapal jet boat yang Eva sembunyikan, Eva melempar ranselnya kedalam jet.


"Waw ini laut, benarkah ini laut?." Terdengar suara riang dari Hotaru, Eva hanya tersenyum lalu mengangguk.


"Tunggu aku sudah keluar dari hutan, benarkah? apakah aku bermimpi, mungkin sekarang aku sedang tertidur dipenjara pengap itu." Hotaru menyilangkan lengannya berpikir.


Plak!.


Eva menampar keras pipi Hotaru. Ada perasaan aneh ketika Eva menampar pipi laki-laki disampingnya itu.


"Kamu, apa yang kamu lakukan?." Hotaru memegang pipinya.


"Sakit?." Tanya Eva dengan wajah datarnya.


"Ya sakit lah." Jawab Hotaru sewot.


"Berarti kamu nggak mimpi." Eva melirik Hotaru.


"Ya nggak pake nampar juga kali." Hotaru masih sewot.


"Terus aku harus pake bogeman tanganku gitu." Eva memperagakan tangannya yang hendak meninju wajah Hotaru.


"Eits, yang itu kayaknya lebih sakit." Hotaru memundurkan kepalanya menjauh dari kepalan tangan Eva.


"Apa itu diatas sepatumu?." Hotaru mengambil sesuatu dari atas sepatu Eva memperlihatkannya tepat didepan wajah gadis itu. Benda panjang berwarna merah muda.


"Aargh! cacing... jauhkan dariku!." Eva terjatuh dipasir yang basah saat dia berusaha menghindari hewan itu.


"Mungkin ini terbawa dari dalam hutan." Hotaru menatap cacing ditangannya.


"Kamu takut cacing?." Tanya Hotaru.


"Buang!. Aku bilang buang!." Eva menutup matanya dengan kedua tangan.


"Kamu beneran takut sama cacing?."


"Buang sekarang! kamu bud*g ya, buang nggak!." Hotaru mendekati Eva dia berlutut didepan gadis itu.


"Sudah sekarang sudah dibuang." Eva bergeming ditempatnya.


"Buang." Lirih Eva.


"Tenang cacingnya sudah dibuang, sekarang buka matamu." Kata Hotaru lembut.


"Kamu bohong kan?." Ucap Eva, Hotaru memegang kedua tangan Eva membukanya perlahan.


"Cacingnya sudah nggak ada." Eva pelan-pelan membuka kelopak matanya, dia menatap cowok didepannya sekarang. Dia sangat tampan tidak ada yang cacat sedikitpun pantas saja Sarah tergila-gila padanya.


"Kamu benar takut cacing?." Eva mengangguk pelan, bibir Hotaru bergetar matanya mulai berair, seketika itu juga seperti ada ribuan jarum menusuk hatinya.


Perasaan aneh saat aku pertama kali melihatnya, dugaan-dugaan yang aku tepis jauh-jauh, aku harap aku tidak salah, batin Hotaru.


"Yu-ki..?." Lirih Hotaru dengan suara bergetar. Eva bingung dengan perilaku Hotaru yang tiba-tiba berubah aneh, melihat air mata jatuh dari mata cowok didepannya membuat dada Eva sesak, ada apa denganku?, batin Eva.


"Owl... kaukah itu?." Deg!. Seluruh badan Eva mulai gemetar lidahnya terasa kelu air mata mulai turun dari mata birunya.


"E... Ega?." Suara Eva tercekat di tenggorokan, air matanya turun susul menyusul tanpa henti.


Hotaru menarik Eva kedalam pelukkannya dia meluapkan rasa rindunya yang teramat sangat kepada saudari kembarnya itu.


"Ega?." Eva mengulangi pertanyaannya, dia tidak percaya dengan apa yang sedang terjadi. Hotaru alias Ega mempererat pelukannya.


"Iya, ini aku. Eva..." Eva mulai terisak memeluk erat tubuh Ega seakan-akan takut kehilangan saudara kembarnya lagi.


"Tapi namamu Hotaru bukan Ega?." Ega melihat darah mengucur dari pangkal lengan saudarinya.


"Kita mempunyai banyak nama Eva, Yuki, Owl, Eva itu namamu sedangkan aku Hotaru, Eagle dan Ega." Ega melepas pelukkannya tangannya bergerak hendak melepas bajunya untuk menutup pendarahan dilengan Eva tapi tangannya langsung ditahan oleh Eva sebagai gantinya Eva merobek kain di lengan kiri bekas tertembak tadi.


"Kata Sarah kamu sudah mati?." Ega tersenyum kecil.


"Dia membohongimu." Terlihat jelas tato hitam dikulit putih Eva, Eva tahu arah pandangan Ega.


"Ini tato yang kakek buat." Jelas Eva, Ega meraih kain yang sudah disobek dari tangan Eva lalu mulai mengikat kain ditempat pendarahan.


"Aku tahu, aku juga punya yang seperti itu." Mata Eva melebar kaget. Ega menarik lengan sebelah kanan kaosnya.


"Tapi kok beda sama punyaku?." Tanya Eva saat melihat perbedaan yang sangat jelas dengan tato miliknya.


"Kalo sama nanti rahasianya cepat terbongkar dong." Mereka saling tersenyum.


"Ega, aku sangat merindukanmu." Lirih Eva, tangan Ega mengelus pangkal kepala adiknya.


"Aku juga, jauh sangat merindukanmu adikku."


***


Tepat ketika subuh tiba Eva dan Ega sudah menyebrang meninggalkan pulau terpencil itu. Dermaga ramai dengan orang-orang yang memulai aktivitasnya, Ega menyapu pemandangan yang sudah lama dia rindukan terlihat jelas raut kebahagiaan dan kekaguman terpancar dari wajahnya, Eva tersenyum manis menatap wajah saudaranya itu seakan-akan seluruh beban hidupnya hilang begitu saja. Ega berpaling menatap balik Eva dia ikut tersenyum melihat Eva disampingnya.


"Kamu bahagia?." Tanya Eva.


"Jauh dari kata bahagia." Raut wajah Ega berubah serius.


"Kenapa?." Eva mulai kikuk.


"Kita saudara kembar kok muka kita nggak ada mirip-miripnya ya?." Ega memperhatikan wajah Eva dengan seksama.


"Ya ampun, aku lupa." Eva mulai melepas benda tipis seperti karet bening yang menutupi wajahnya.


"Sekarang bagaimana?." Terlihat beberapa kemiripan diantara mereka namun jika tidak dilihat dengan teliti maka tidak akan terlihat kemiripan diantara keduanya.


"Kok warna mata kita berbeda?." Tanya Ega.


"Mataku mirip dengan mata ayah lalu kamu..?." Kalimat Eva menggantung, Ega menatap pantulan wajah mereka dari kaca mobil yang terparkir tidak jauh dari mereka.


"Matamu mirip dengan mata seseorang yang akan kamu panggil ibu." Terdengar ada nada getir dari suara Eva, Ega merasa ada keganjilan dari suara adiknya.


"Ayo kita pulang." Eva menarik tangan Ega, mereka saling melempar senyum bahagia.


Tidak akan ada lagi yang bisa memisahkan kita va, batin Ega.


Ega, tidak akan aku biarkan satu orang pun memisahkan kita lagi. Aku janji, batin Eva.


Sebelum dua saudara kembar itu pergi meninggalkan pulau sumatra utara Eva pergi ke rumah sakit terdekat untuk mengambil peluru yang ada di pangkal lengannya tentu saja dengan menutupi identitas dan kronologi kejadian dengan sangat rapih hingga dokter yang menanganinya pun dibuat percaya oleh Eva.


"Lengan kamu bagaimana?." Tanya Hotaru didalam bus menuju pelabuhan besar.


"Hm?, agak sedikit nyeri." Jawab Eva menyandarkan kepalanya di bahu kiri Ega. Ega mengecup pangkal kepala saudari kembarnya menggenggam erat tangan Eva.


"Dasar ceroboh." Lirih Hotaru, Eva melingkarkan lengan kirinya ke lengan kiri Hotaru.


"Diamlah aku ngantuk." Hotaru tersenyum lembut.


"Hm."