
Eva menarik kedua laki-laki itu keatap gedung mall menyuruh Arga dan Ronggo untuk menunggu mereka didepan pintu atap agar tetap bisa mengawasi mereka. Eva menjauhkan mereka dari jangkauan pendengaran Ronggo dan Arga.
"Yuki, ada apa?." Tanya Ega, Eva menghentikan langkahnya membuat kedua laki-laki dibelakangnya pun ikut berhenti, Eva membalikan badan menatap dalam manik Fathur.
"Aku tidak punya banyak waktu, bisakah kali ini kamu bekerja sama denganku?." Tanya Eva yang ditujukan kepada Fathur, Fathur yang melihat perubahan serius dari raut wajah Eva mengangguk sekilas.
"Siapa yang mengajarimu bela diri?." Tanya Eva.
"Ayah." Jawab Fathur singkat Eva beralih menatap Ega.
"Siapa yang mengajarimu?." Ega menautkan Kedua alisnya.
"Kakek." Mendengar dua jawaban itu Eva diam, kembali berpikir.
"Apa maksudnya?." Tanya Ega menatap Fathur.
"Ayahku dan kakekmu dulu pernah berteman." Jawab Fathur.
"Dimana ayahmu sekarang?, aku tidak pernah menanyakannya." Tanya Ega.
"Sudah lama meninggal." Ega sedikit merasa tidak enak.
"Sorry thur."
"Tidak apa-apa."
Eva menyodorkan tangannya kepada Fathur membuat laki-laki itu merasa heran.
"Ulurkan tanganmu." Fathur mengikuti perintah Eva, ia mengulurkan tangan kanannya. Eva segera mengecek denyut nadi Fathur lalu mejulurkan jari telunjuknya tepat dibawah hidung laki-laki itu lalu perlahan menutup matanya, berkonsentrasi.
Ega yang tahu apa yang sedang dilakukan adiknya hanya berdiri menunggu, tidak membutuhkan waktu lama Eva sudah membuka matanya.
"Kamu menemukan sesuatu?." Tanya Ega.
"Hm, masih belum pasti." Jawab Eva. Eva menekuk semua jarinya menyisahkan jari telunjuk dan jari tengahnya.
Arga dan Ronggo tidak bisa mendengar apa yang dibicarakan ketiga remaja itu. Tubuh Ega dan Fathur yang membelakangi mereka membuat Eva tidak terlihat, itulah yang di rencanakan oleh Eva, ia sengaja melakukannya agar apa yang dia lakukan tidak bisa dilihat oleh kedua pria itu.
Tangan kiri Eva masih berada dipergelangan tangan kanan Fathur, dua jari Eva menekan sedikit leher bawah bagian depan sebelah kiri lalu berpindah ke sebelah kanan dan turun kebawah. Bola mata Fathur bergetar, Ega yang paham dengan situasinya berusaha menghentikan Eva.
"Yuki sepertinya kamu sudah bertindak terlalu jauh." Lirih Ega yang tidak diindahkan oleh saudari kembarnya. Jari Eva kini sudah berada diulu hati Fathur.
"Katakan padaku jika ini terasa sakit." Ucap Eva lalu jarinya bergerak dengan cepat menotok beberapa titik diulu hati dan perut Fathur.
"Sakit?." Tanya Eva mendongak menatap Fathur.
"Sedikit." Jawab Fathur. Eva menarik kedua tangannya dari tubuh Fathur.
"Ini tidak cukup, kamu harus ikut denganku ke paviliun." Ega terkejut bukan main dengan kalimat yang terlontar dari mulut adiknya.
"Yuki kamu bercanda?." Tanya Ega cepat.
"Tidak, aku sangat serius." Fathur yang tidak tahu menahu tentang paviliun yang diucapkan Eva membayangkan paviliun dipegunungan atau dipinggir pantai. Apakah mereka akan berekreasi?, batin Fathur dengan polosnya.
"Aku tahu kelas kursusmu memiliki sesuatu yang sangat penting tapi membawa Fathur masuk kedalam sana adalah ide yang buruk."
Ega khawatir dengan sahabatnya, Ega hampir tidak bisa keluar dari dalam paviliun itu dan mendapatkan lebam-lebam ditubuhnya, meskipun Ega sudah melawan dengan semua ilmu yang ia dapatkan dari mendiang kakeknya tapi itu tidak cukup.
Eva mengetahui kekhawatiran Ega ia tersenyum lembut kepada saudaranya, mengulurkan tangannya keatas merapihkan surai Ega yang berantakan tertiup angin.
"Jangan khawatir, aku tahu apa yang aku lakuakan." Ega sedikit merasa tenang setelah melihat senyum lembut Eva.
"Hanya ada kami berdua. Aku dan Fathur." Ucap Eva pelan ia menekankan kalimat terakhir membuat wajah Fathur merah padam.
Apa yang dia katakan?, apa Eva lupa dengan yang dia ucapkan, melarangku untuk menyukainya dan sekarang .., apa-apaan semua ini, batin Fathur frustasi bayangan akan rekreasi dipaviliun dekat pantai atau pegunungan runtuh seketika.
"Kamu janji hanya ada kalian berdua?." Fathur menatap tajam Ega, apa yang dilakukan oleh sahabatnya? apa dia segampang itu setuju dengan ide gila itu, pikiran Fathur berperang didalam sana.
"Hm, janji." Jawab Eva dengan yakin, Fathur menutup wajahnya dengan satu tangan, dia sudah lelah dengan apa yang dilakukan dua anak kembar itu.
Fathur tidak bisa membaca pikiran mereka atau melakukan kontak batin seperti dua anak kembar itu lakukan membuatnya tidak tahu apa-apa seperti orang bodoh yang tersesat.
"Kita pulang sekarang." Ajak Eva.
"Ya. Sepertinya ada yang sedang frustasi tingkat tinggi." Celetuk Ega menepuk bahu Fathur.
"Aku terlihat sangat menyedihkan." Ujar Fathur membuat Ega tertawa.
"Kita sama-sama menyedihkan." Ega merangkul Fathur berjalan pergi, Eva mengekor dibelakang mereka.
***
Langit berubah warna menjadi jinga Fathur yang tidak ingin bertanya terlalu banyak hanya mengikuti Eva, mereka berjalan melewati ruang makan lalu melewati dapur, Fathur baru melihat halaman belakang rumah itu. Sangat luas, tidak kalah dengan lapangan sepak bola. Ada lapangan basket disebelah kiri, dibelakang lapangan basket ada bangunan yang terpisah, ukurannya lebih kecil, mungkin itu gudang, batin Fathur.
Ada banyak bunga dan beberapa pohon besar berdiri disisi halaman menjadikannya terlihat asri, terdapat kursi-kursi antik untuk bersantai, udaranya juga sejuk. Disela-sela mengagumi halaman rumah si kembar Fathur melihat ada bangunan didepan sana, apa itu paviliun yang si kembar maksud, batin Fathur. Pikiran Fathur mulai berkecambuk didalam kepalanya sampai dia tidak menyadari kalau Eva sudah berhenti, untung Fathur mengerem kakinya tepat waktu kalau tidak dia pasti sudah menubruk Eva.
"Nona anda tidak boleh membawa orang asing masuk." Tegur pengawal 1.
"Siapa yang memberitahumu bahwa aku tidak boleh membawa orang lain masuk." Nada suara Eva terdengar sangat berkharisma.
Pengawal 2 menunduk sembilan puluh derajat sebelum berbicara.
"Maaf nona, bahkan nyonya Ayumi dan tuan muda tidak diperbolehkan masuk kedalam sana." Ucap pengawal 2, Eva sedikit kesal karena mendengar nama yang tidak ia sukai.
"Karena mereka tidak mendapat izinku dan izin dari ayah." Eva menatap tenang penuh wibawa kepada mereka.
"Sekarang kalian minggirlah, berikan aku jalan." Titah Eva.
"Baik nona, silahkan." Mereka bertiga menunduk dalam dan bergeser memberikan jalan.
Fathur mengikuti Eva dari belakang, matanya masih melirik ke tiga pengawal yang berbeda dengan pengawal yang biasa Fathur lihat. Eva membuka pintu sedikit, menyuruh Fathur untuk masuk kedalam. Fathur masuk dengan ragu-ragu diikuti oleh Eva dibelakangnya. Fathur lebih kagum dengan interior didalam paviliun itu, Eva menutup pintu dan membuka sepatunya.
"Tunggu disini sampai aku menjemputmu." Ucap Eva, Fathur mengangguk paham.
Eva masuk kedalam aula berlatih bukan diaula tengah seperti biasanya. Takehara sudah duduk menunggu Eva, Eva berjalan mendekat duduk bersimpuh dihadapan masternya.
"Maaf telah merepotkan shishou." Eva menunduk sopan.
"Siapa laki-laki itu sampai anda membawanya masuk kesini ojou chan?." Tanya Takehara.
"Dia memiliki jenis bela diri yang aneh, saya belum pernah melihat jenis bela diri seperti itu sebelumnya. Aliran darahnya juga unik, ada sesuatu yang ingin saya pastikan." Jelas Eva.
"Ojou chan, anda tidak akan mudah tertarik jika alasannya hanya seperti itu." Masternya memang memiliki mata yang tajam, karena itu Eva sangat menyukai kelas kursusnya meskipun lebih sering tersiksa tapi Takehara tidak pernah membuatnya merasa bosan.
"Laki-laki ini memiliki jenis bela diri yang sama dengan saudara kembar saya." Hening, untuk beberapa saat Takehara tidak merespon.
"Apa yang anda ingin ketahui tentang bela diri itu ojou chan?." Tanya Takehara.
"Bukan bela dirinya yang ingin saya ketahui melainkan peredaran darahnya, cara dia mengalirkan energi-energi didalam tubuhnya." Takehara terkejut dengan muridnya.
"Anda sudah berkembang sangat jauh ojou chan." Eva membungkuk.
"Untuk membuatku setuju membiarkan laki-laki itu masuk kedalam paviliunku, anda harus menjawab saya dengan jujur." Kata Takehara.
"Baik shishou." Jawab Eva.
"Apa alasan anda yang sebenarnya ojou chan?."
Deg!.
Eva bergeming dalam duduknya, ia tidak menyangka bahwa masternya menyadari hal kecil yang tersimpan didalam kepala Eva.
"Semua alasan yang saya sebutkan adalah benar. Saya mencurigai bahwa aliran darah dan energi dari pengguna jenis bela diri itu bisa memperlambat penyebaran racun didalam tubuh atau bahkan bisa menahan racun atau membelokan racun agar tidak menyebar ke organ vital tubuh. Saya masih tidak tahu pasti apa ada jenis bela diri seperti itu diluar sana?. Mungkin juga si pengguna memiliki teknik tertentu untuk bisa melakukannya?. Saya ingin memastikannya shishou." Jelas Eva, ia menunggu respon masternya.
"Apakah penyakit yang saudara kembar anda derita adalah racun ditubuhnya? ojou chan." Sontak Eva menatap Takehara.
"Apa anda baru mengetahuinya?." Ucap Takehara, Eva masih diam ia mencoba menebak bagaimana masternya bisa mengetahui itu.
"Saya adalah tipe petarung lapangan juga petarung pikiran ojou chan." Eva menatap Takehara dengan tenang.
"Tapi saya tidak bisa menyembuhkan atau mendeteksi penyakit seseorang dengan sangat rinci. Anda memiliki apa yang tidak saya miliki ojou chan." Lanjut Takehara.
"Apa yang anda pikirkan benar, saat saudara kembar anda menyusup kemari dan ketika saya melawannya, saya sudah tahu bahwa keadaan saudara anda tidak baik-baik saja, meskipun dari luar dia terlihat sangat sehat tapi tidak didalamnya, karena itu saya meloloskannya pergi." Jelas Takehara yang berhasil menebak isi pikiran Eva.
"Anda ingin memastikan jenis bela diri itu karena saudara kembar anda, bukan begitu ojou chan?." Takehara tersenyum simpul.
"Benar shishou, karena racun didalam tubuhnya bukan racun sembarangan dan sangat mematikan. Racun yang sangat tipis, bergerak perlahan namun pasti membuat korban meninggal secara perlahan tanpa merasakan sakit dari racun tersebut karena tipisnya racun itu. Saya baru tahu ada orang yang bisa membuat racun jenis seperti ini. Saya sudah mencoba membuat salinan racun dari darah kembaran saya." Jelas Eva.
"Apa menurut anda ada yang bisa membuat penawarnya?." Tanya Takehara.
"Ada. Saya yang akan membuatnya." Jawab Eva tegas. Besok adalah hari ketujuh aku harus bisa menyelesaikannya malam ini juga, batin Eva.
"Baik, anda boleh membawanya masuk ojou chan." Takehara berdiri meninggalkan aula.
Tiga puluh menit Fathur duduk menunggu Eva, perutnya mulai keroncongan.
Sreeekk.
Suara pintu dibuka, Fathur menoleh kebelakang melihat Eva sudah mengganti bajunya dengan baju serba hitam yang melekat ditubuhnya, membuat lekuk tubuh Eva terlihat jelas. Fathur cepat-cepat membuang wajahnya.
"Ayo masuk."
Fathur mengikuti Eva, alangkah terkejutnya laki-laki itu melihat isi didalam paviliun seperti didalam rumah eropa bercampur jepang, sangat menarik. Eva membuka pintu samping menunggu Fathur untuk mengikutnya.
Fathur masuk kedalam ruangan kedua, ia mengedarkan pandangannya melihat ruangan khas jepang itu, sangat luas tanpa ada banyak perabotan hanya ada satu lemari kecil disana.
"Buka bajumu." Titah Eva.
"Hah?!." Seru Fathur kaget.
"Dan pakai celana yang ada disana." Eva menunjuk lemari kecil.
"Aku tunggu diluar." Eva berbalik pergi.
"Kenapa aku harus mengganti celanaku." Fathur terlihat kesal ia merasa seperti sedang dipermainkan.
"Kamu tidak ingin besok libur karena bajumu yang kotor atau robek bukan." Ucap Eva, Fathur berusaha mencerna situasinya saat ini.
"Dalam waktu satu menit aku akan kembali." Ucap Eva pergi keluar aula berlatih.
Fathur mengikuti semua perintah Eva, bukannya dia mudah diperlakukan seperti itu tapi hati kecilnya mengatakan bahwa ini sangat penting dan dia harus membantu.
Sejak pertama Fathur mengetahui kebenaran bahwa Eva adalah cucu seorang mantan mafia dan ayahnya juga sahabat dari mantan mafia, Fathur tahu bahwa hidup Eva dan Ega tidak seperti orang-orang diluar sana. Hidup mereka banyak misteri dan hal-hal yang diluar kepala.
Eva masuk tepat setelah satu menit, Fathur sudah mengganti celana sekolahnya dengan celana berwarna hitam yang ringan dan mudah untuk bergerak.
"Kenapa bajumu masih dipakai?." Tanya Eva datar.
"Kamu mau menelanjangiku?." Fathur menatap sinis Eva.
"Buang pikiran anehmu itu, cepat lepas." Fathur tidak bergerak membuat Eva jengah memutar bola matanya malas.
Fathur akhirnya melepas kancing seragamnya lalu melepas baju dalamnya. Fathur melirik Eva yang memunggunginya, ia berjalan ke tengah aula dimana Eva sudah menunggu sejak tadi. Aura didalam aula itu terasa aneh, terasa sangat canggung.
"Maaf jika nanti aku menatap tubuhmu." Ucap Eva.
"Hm." Fathur adalah laki-laki yang peka terhadap kelemahan seorang wanita, ia merasa Eva sedang memerlukan bantuannya.
"Maaf juga jika aku menyentuhmu." Lirih Eva, menahan rasa malu.
"Hm."
Eva menarik nafas panjang membulatkan tekadnya lalu membalikan badan menatap langsung mata Fathur. Sungguh ini terasa sangat canggung, batin mereka berdua.
"Lawan aku." Eva membungkuk hormat.
"Tunggu Eva, apa kamu yakin?." Fathur tidak tega melawan perempuan. Dia tidak bisa melakukannya.
"Kalau begitu aku yang akan menyerangmu lebih dulu."
"Hah?."
Tanpa aba-aba Eva mengangkat kaki kanannya tinggi-tinggi memberikan tendangan cepat dan kuat ke rahang sebelah kanan Fathur membuat laki-laki itu berguling dilantai.
"Jangan segan-segan melawanku." Ucap Eva.
Sebelum Fathur berhasil berdiri dengan benar Eva sudah berdiri didepannya memberikan tendangan depan, Fathur berguling melakukan rol belakang. Baru saja tubuh Fathur berhenti dari putarannya Eva sudah berdiri disampingnya memberikan tendangan samping hingga Fathur menabrak dinding aula.
Bruk!.
Eva membiarkan Fathur berdiri memberinya waktu untuk bernafas. Eva terkejut matanya terbuka lebar. Apakah dia benar-benar alien dari planet lain? seranganku tadi seharusnya membuat Fathur terluka tapi, batin Eva.
"Kamu benar-benar menyerangku va, apa yang tadi tidak terlalu kelewatan?." Fathur menatap gadis tinggi ramping didepannya.
Bagaimana aku bisa jatuh hati kepada gadis tidak kenal ampun sepertinya, batin Fathur. Dengan gerakan kecil dan ringan Eva menerjang cepat, hanya dalam hitungan detik Eva sudah berdiri dihadapan Fathur menyerangnya.
Fathur belum pernah melihat kecepatan seperti itu, matanya sulit mengikuti gerakan Eva membuat gadis itu beberapa kali mendaratkan pukulan ditubuhnya. Fathur terus fokus menghindar, bertahan, sesekali menyerang Eva namun gadis itu dengan cepat menghindarinya.
Brak.
Eva menendang kaki Fathur dari samping membuat laki-laki itu jatuh dengan satu lutut dilantai. Eva menekuk lututnya jongkok didepan Fathur mensejajarkan wajah mereka.
"Aku ingin kamu melawanku sungguh-sungguh tidak dengan sebelah hati seperti ini." Fathur mendongak menatap Eva.
"Aku tahu apa yang ada didalam pikiranmu saat ini, aku tidak butuh belas kasihanmu. Aku tahu kekuatanmu lebih besar, aku tahu daya tahanmu sangat kuat. Seharusnya kamu sudah tumbang sejak tadi karena pukulan dan tendangan mematikanku dititik lemah tubuhmu, tapi kamu masih baik-baik saja, wajahmu hanya sedikit memar. Itu yang aku cari." Fathur meneliti setiap inci wajah Eva.
"Aku butuh kamu tidak menahan diri saat menyerangku, aku ingin tahu sekuat apa daya tahan tubuhmu." Eva menunjuk badan Fathur yang telanjang.
"Tidak ada orang yang bisa menghempaskan dua manusia dengan sekali gerakan, bisakah kamu bekerja sama denganku Fathur?."