Yuki

Yuki
Bab 10



"Ada apa Eva si?." Tanya Jong Gu.


"Kau yang kemarin?." Aku menatapnya tidak percaya, aku yakin itu dia aku hafal betul mata cowok arogan itu. Semua orang mengikuti arah pandangku.


"Om apa yang kau lakukan kemarin?." Tanyaku kesal.


"Saya berbicara dengan manajernya dan memutuskan untuk tidak memperpanjang masalah nona." Aku berusaha menenangkandiri. Apa ini, kenapa emosiku labil begini? aku harus mendinginkan pikirankku, batinku.


"Jangan-jangan yang kemarin manajer Oh ceritakan," Kalimat Jong Gu menggantung menatap salah satu artisnya.


Cowok arogan itu menunduk gelisah, membuat member lain ikut merasakan kegelisahaannya. Salah satu dari mereka melangkah maju sedikit menatapku.


"Tolong maafkan anggota kami, dia masih sangat muda, masih belum bisa mengontrol kelakukannya." Ucapnya seraya membungkuk sembilan puluh derajat. Aku meresponnya dengan cara membungkuk lebih dalam.


"Maafkan saya telah membuat anda membungkuk seperti ini tidak seharusnya anda membungkuk kepada anak lima belas tahun." Sontak mereka terperanjat kaget. Jong Gu menepuk pundak laki-laki itu.


"In Ho berdirilah." In Ho melirik Jong Gu dengan ragu lalu perlahan menegakkan badannya, setelah kurasa dia sudah berdiri lagi aku juga menegakkan badan.


"Maaf, bolehkah aku berbicara berdua saja denganmu?." Suara serak dan berat yang muskulin itu keluar dari bibir cowok arogan. Pandangan kami beralih menatapnya, aku mengangguk pelan.


Lagi, tidak di indonesia tidak di korea, dunia begitu luas tapi kenapa terasa sempit?, batinku seraya mengikuti cowok arogan dari belakang. Langkah kami berhenti di salah satu ruangan dia memintaku untuk masuk lebih dulu, agensi kecil dengan semua ruangan kecil lainnya. Ruangan ini kosong dan polos, jariku menyusuri pinggir tembok karena penasaran, ruang kedap suara rupanya.


Ceklek.


Cowok arogan itu menutup pintu dan tiba-tiba duduk berlutut. Sungguh aku sangat terkejut, aku tidak mengira dia akan melakukan itu dengan cepat aku menjatuhkan diri ikut berlutut.


"Kemarin aku keluar mencari hadiah untuk ibuku hanya ditemani oleh manajer Oh, tidak aku sangka ada beberapa fans yang mengenaliku aku kira mereka tidak berbahaya hanya ingin berfoto atau meminta tanda tangan tapi ternyata mereka hampir melukaiku aku berusaha menghindari mereka berlari secepat mungkin, saat itu aku tidak melihatmu disana aku terlalu terkejut badanku membeku tidak mau menuruti perintahku. Aku kira aku sudah membunuh seseorang, aku sangat takut sampai kamu terbang dan berdiri lagi didepanku aku masih saja ketakutan, hingga manajer Oh memelukku membawaku pergi dari sana." Jelasnya dengan suara bergetar, terlihat sebutir air mata menetes dari sudut matanya.


"Tolong maafkan kesalahanku, tolong maafkan kecerobohanku, maaf karena terlambat mengucapkannya." Ucapnya seraya membungkuk dengan kaki yang bersimpuh. Aku segera melakukan hal yang sama.


"Seharusnya aku bisa menjaga keseimbanganku saat itu karena pikiranku juga sedang melayang entah kemana membuatku tidak bisa melakukannya. Aku sudah memaafkanmu." Kataku datar, dia dengan sopan meminta maaf aku tidak bisa mengabaikannya.


"Tapi aku hampir membunuhmu." Lirihnya.


"Masa lalu adalah pembelajaran, waktu akan tetap berjalan, keputusan dan tindakan yang kita ambil mempengaruhi hasil untuk waktu yang akan datang, kamu sudah mengambil tindakan yang benar sekarang, aku sudah memaafkanmu dan aku juga baik-baik saja jadi tidak ada alasan untuk kamu tetap berada di masa lalu." Ucapku masih membungkuk. suara isakkan berat tertangkap gendang telingaku.


Beberapa menit berlalu suara isakkannya mulai menghilang.


"Maaf mau sampai kapan kita seperti ini?." Tanyaku.


"Agh! maaf maaf." Dia segera menegakkan punggungnya, perlahan aku mengikuti gerakkannya.


"A anu, Kim Dae Ho imnida." Ucapnya dengan senyum kaku, aku menggeser tubuh kesisi dinding menyenderkan punggungku disana.


"Dae Ho si apakah kakimu tidak sakit duduk seperti itu terus?." Aku meliriknya yang perlahan mengikuti gerakkanku. Tanganku merogoh saku hoodie mengeluarkan sapu tangan berwarna biru muda.


"Untukmu." Dae Ho melirik tanganku sebentar lalu menerima sapu tangan biru itu.


"Terima kasih aku akan mengembalikannya." Dae Ho mulai mengelap air matanya.


"Aku memberikannya untukmu, agar kamu tidak hanya mengingat kejadian buruk kemarin." Dia pasti tertekan karena kejadian kemarin itu tidak baik untuk psikologinya, batinku.


Gerakkan Dae Ho terhenti dia menundukkan kepala, aku tidak bisa melihat raut wajahnya yang duduk disampingku apakah dia menangis lagi?. Perlahan aku mencondongkan tubuh ke arahnya.


"Dae Ho si apakah kau tahu ukiran apa ditengah sapu tangan itu?." Aku mencoba mengalihkan pikirannya. Perlahan Dae Ho mengangkat kepalanya menatap ukiran ditengah sapu tangan itu.


"Seperti bunga daffodil?." Ucapnya agak ragu.


"Apa kamu tahu artinya?." Tanyaku lagi sambil menunjuk ukiran bunga itu.


"Aku tidak tahu." Dae Ho menoleh kearahku, bola matanya sedikit bergetar.


"Bunga daffodil memiliki arti semangat baru, penghargaan, kehormatan, atau terlahir kembali." Aku meluruskan kembali cara dudukku.


"Jadi Dae Ho si yang sekarang, bukan Dae Ho si yang kemarin ketakutan, karena setiap harinya selalu mempunyai semangat baru dan terlahir kembali." Ucapku memberikan support.


"Terima kasih."


"Hm."


"Lalu arti huruf ini apa?." Tanya Dae Ho seraya menunjuk tiga huruf kecil di pojok sapu tangan.


"E.A.A?." Eja Dae Ho.


"Eva Augustin Ayhner, namaku." Bola mata Dae Ho melebar.


"Uhm, aku juga yang mengukir gambar bunganya." Dae Ho tersentak kaget, wajahnya dia tundukkan lagi.


"Dae Ho si?." Apakah dia menangis lagi?, batinku.


"Terima kasih." Lirihnya.


"Sama-sama, apa kamu sudah tidak apa-apa?." Aku menoleh kesamping melihat dia yang mulai mengangkat sedikit wajahnya.


"Ini memalukan, aku yang lebih tua lima tahun darimu tapi kamu yang menghiburku." Wajah Dae Ho bersemu merah segera dia mengalihkan pandangannya kearah lain.


Lucu, benarkah dia berumur dua puluh tahun?, batinku mempertanyakannya.


"Umur bukan sebagai tolak ukur, bukan?." Dae Ho tersenyum canggung.


"Boleh aku bertanya?." Kata Dae Ho.


"Silahkan."


"Kemarin sepertinya matamu berwarna biru bukan hitam?." Dia teliti juga, hari ini aku menyamar hanya menggunakan lensa berpikir ini akan berakhir dengan cepat.


"Kemarin aku memakai lensa." Jawabku bohong dan dengan mudahnya Dae Ho percaya itu dengan menganggukkan kepalanya.


"Ayo kita kembali, mungkin mereka sudah menunggu kita." Ajaknya yang aku angguki pelan.


***


Benar saja saat Eva dan Dae Ho kembali mereka semua sedang duduk berpencar dilantai setelah melihat sosok yang ditunggu kembali mereka menghambur mengerubungi Dae Ho, melemparkan beberapa pertanyaan kepada Dae Ho tentang masalah dirinya dan Eva.


"Sepertinya kalian baik-baik saja." Ucap Jong Gu, Eva mengangguk.


"Baiklah sekarang saatnya menunjukkan musik dan grup kami." Jong Gu berjalan mendekati grup kesayangannya memberikan instruksi.


Salah satu pelatih mereka menata tiga kursi didepan cermin dengan posisi membelakangi cermin besar itu, Jong Gu menatapku tersenyum.


"Mari Eva si, Ronggo si." Jong Gu membiarkanku duduk dikursi tengah dia memilih duduk disebelah kananku dan Ronggo disebelah kiri. Mereka bertujuh berbaris memanjang, dan tiba-tiba melakukan yel-yel? perkenalan? Eva tidak tahu bagaimana menggambarkan apa yang sedang mereka lakukan.


"Dra. Gon. Star, hallo kami dragon star." Ucap mereka serempak seraya menunduk, Eva mengangguk sedikit.


"Mereka akan mulai." Kata Jong Gu lirih.


Mereka memposisikan diri masing-masing bersiap dengan mic ditangan lalu terdengar alunan musik mengisi ruangan sempit itu. Mereka dengan power full menggerakan tubuh kesana kemari dan juga bernyanyi setelah satu lagu selesai mereka membawaka lagu berikutnya, tetesan-tetesan keringat membasahi tubuh mereka tapi sepertinya mereka tidak terganggu mengikuti setiap irama, mengalunkan suara merdu mereka. Dae Ho dengan suara serak beratnya membuat musik lebih menarik,mata Eva menangkap sesuatu yang aneh.


Ruangannya terlalu sempit membuat gerakkan mereka terbatas, batin Eva.


Musik berhenti dengan terengah mereka kembali berbaris dan menunduk mengucapkan terima kasih, Eva bertepuk tangan seraya melempar senyum yang dia buat-buat.


"Eva si bagaimana menurutmu?." Tanya Jong Gu.


"Menarik." Jawab Eva singkat yang tidak sepenuhnya berbohong, mereka punya ciri khas dimata Eva tapi untuk kesuluruhan hati Eva tidak merasakan apa-apa didalam musik mereka.


"Anda mau mencoba memainkan sebuah lagu?." Jong Gu menatapku antusias.


Apa? dia gila, batin Eva.


"Waah, biasanya bermain musik sendiri? aku merasa sangat terhormat jika Eva si mau bernyanyi disini." Seru Jong Gu riang. Para member entah sejak kapan sudah duduk berselonjor dilantai dengan tatapan mata penasaran mengarah kepada Eva.


"Tidak, non Eva jarang bermain musik hanya diwaktu kelas privat saja, jadi non Eva akan tidak nyaman jika bermain diluar kelas." Jawab Ronggo berusaha menghentikan Jong Gu, Ronggo melirik Eva yang wajahnya sudah masam.


"Permainan Eva si pasti sangat bagus, aku tambah ingin mendengarnya."


Apakah dia tidak sadar sudah ditolak?, batin Eva geram.


"Disini juga ada dua guru musik disebelah sana dan yang satunya guru koreografi." Jong Gu memperkenalkan tiga orang yang berdiri disebelah sound system.


Aku tidak menanyakan itu, batin Eva.


"Maaf tapi suaraku benar-benar tidak bagus." Tolakku sopan.


"Tidak apa-apa, tidak akan ada yang menertawakanmu." Jawab Jong Gu seraya menggeleng pelan kekeh dengan keinginannya, Eva hanya bisa pasrah menarik nafas pelan.


"Baiklah." Lirih Eva, Ronggo menatap Eva merasa bersalah karena tidak berhasil menghentikan Jong Gu. Benar kata ayahnya, Eva tidak bisa menghindar bukan hanya acara makan malam atau pun yang lainnya jika sudah masuk kedalam hubungan mitra kerja dan itu bisa di toleransi maka kita harus melakukannya.


Eva meminta sebuah gitar akustik, Eva sedang menahan dirinya untuk tidak marah karena sejak masuk kedalam gedung ini hanya kejadian-kejadian buruk yang terjadi. Ronggo mengikuti Jong Gu duduk dilantai menghadap Eva.


Kenapa juga mereka berdua harus duduk dibawah, kalau seperti ini membuatku malu, batin Eva membuang muka kesamping.


Ronggo baru pertama kali ini melihat ekspresi lain dari wajah majikannya selain datar, dingin, dan marah membuatnya tersenyum bahagia.


Meskipun Eva mengalihkan pandangannya kesamping wajahnya dengan jelas terlihat dari kaca besar dibelakangnya.


Waaah imutnya, mukanya merah, batin semua orang menahan senyum.


Eva berusaha menenangkan diri, wajahnya sedikit menunduk menatap senar gitar, perlahan jari-jari panjangnya memetik senar itu. Melodi pelan mengisi ruangan bibir menawan Eva mulai bergerak kecil.


Eva bernyanyi dengan iringan gitarnya, entah apa yang dipikirkan orang yang mendengarnya sampai mereka menampakkan ekspresi seperti itu yang dilakukan Eva hanya memetik gitar dan menggerakkan bibirnya tidak lebih. Dua menit empat puluh delapan detik Eva sudah memberhentikan lagunya.


Hening, Eva mengabaikan keheningan itu dan mengembalikan gitar ke pojok ruangan hingga terdengar tepuk tangan menggema.


Jong Gu berjalan menghampiri Eva memberikannya pujian-pujian.


"Eva si, tadi sangat indah sekali sampai sekujur tubuhku merinding tidak berhenti-berhenti." Ucap Jong Gu antusias dengan lengannya yang saling memeluk.


"Anda terlalu berlebihan sajangnim."


"Tidak Eva si, aku pertama kali menyadarinya sejak mendengarmu bicara. Mau menjadi artis kami?." Eva menaikan satu alisnya. Waahh orang ini benar-benar menyusahkan, batin Eva.


"Tidak, terima kasih tawarannya." Eva menyesal alat perubah suaranya telah rusak, mata Eva melirik sekilas ke para member grup.


Mereka masuk kategori yang aku inginkan, batin Eva semakin tajam menatap member satu per satu.


"Maaf sajangnim,dengan sangat menyesal saya tidak bisa melanjutkan acara keliling gedung ini dengan anda." Ucap Eva menunduk, Ronggo yang paham langsung bergerak. Ronggo berbicara beberapa menit dengan Jong Gu setelah selesai kami berpamitan kepada semua penghuni ruangan itu. Eva dan Ronggo berjalan menuju mobil.


"Om, jangan langsung kembali ke apartemen kita langsung ke cafe cabang besok sepertinya aku tidak punya waktu untuk mengunjungi cafe dan seperti biasa kirm semua file dokumen cafe." Ucap Eva seraya membuka ponselnya mencari sesuatu.


Didalam mobil Eva sedang membuka laptop tangannya bergerak dengan cepat lalu mengambil ponsel menempelkannya ditelinga.


"Ekhem, uhm, a a, ok." Eva mengecek perubahan suaranya yang dia buat-buat karena alatnya yang rusak membuat Eva menciptakan suara palsunya sendiri.


"Hallo, Bon Hwa si untuk model laki-laki saya sudah menemukan yang cocok untuk produk kita."


"Tapi non, kami juga baru saja mengirim foto dan data model yang kami pilih ulang." Jawab Bon Hwa dari seberang sana.


"Batalkan." Perintah Eva.


"Tapi non, coba anda lihat lebih dulu." Pandangan Eva lurus kedepan.


"Bon Hwa si." Bon Hwa yang mendengar suara dingin Eva merinding ditempat.


"Baik saya paham nona, siapa modelnya nona?." Tanya Bon Hwa hati-hati.


"Grup idol bernama Dragon Star, semua member harus menjadi modelnya." Jelas Eva.


"Baik non, kenapa tidak terpikirkan olehku." Lirih Bon Hwa.


"Kalau seperti ini kita bisa meraih semua kalangan dan juga grup idol ini masih golongan menengah membuat perusahaan tidak mengeluarkan dana banyak karena harga mereka belum tinggi." Suara Bon Hwa terdengar bersemangat.


"Untuk model perempuannya saya minta yang berusia dua puluh tiga tahunan, segera kirimkan foto dan datanya."


"Baik non." Eva mengetik sesuatu di laptopnya.


"Aku sudah mengirimkan kontak manajer mereka, hari ini juga kontrak harus selesai dan besok mulai untuk pengambilan foto." Beberapa detik tidak ada jawaban dari seberang.


"Ba baik non, saya akan selesaikan semuanya hari ini." Jawab Bon Hwa terbata-bata.


"Lemburkan semua karyawan yang bersangkutan." Ucap Eva tegas.


"Baik."


"Kalau begitu selamat bekerja." Tanpa menunggu jawaban dari Bon Hwa Eva langsung memutus teleponnya.


Dari agensi untuk sampai ke cafe memerlukan waktu tiga puluh menit, cafe cabang Italy itu terlihat ramai pengunjung. Ronggo keluar dari dalam mobil bersama pengawal yang menyetir meninggalkan Eva sendiri didalam mobil sebelum pengawal itu keluar dia memberikan kunci mobil kepada Eva di jok belakang.


Eva menunggu lima belas menit baru keluar dari mobil, dengan topi pink sebagai tambahan penyamaran Eva bersama laptop dan ipadnya menuju kedalam cafe, mencari tempat duduk kosong dipinggir jendela. Ditemani dengan donat berwarna biru dengan isian raspberry beku, tart coklat, cupcake dengan bentuk topping wajah tupai, tidak lupa black macarons terakhir lemon milk tea kesukaan Eva menemani pekerjaannya.


Tangan kiri Eva sibuk diatas keyboard sesekali menulis sesuatu dengan apple pencil di ipadnya sedangkan tangan kanan Eva sibuk memasukkan makanan kedalam mulutnya.


Eva berkutat dengan dokumen-dokumen cafe, sesekali memperhatikan karyawan-karyawan disana. Satu jam berlalu Eva mengirimkan pesan singkat kepada Ronggo bahwa semua dokumen ok tidak ada masalah dia juga memberitahukan Ronggo kalau dia akan tinggal lebih lama di cafe.


Selesai dengan dokumen cafe Eva beralih mengurus pemotretan besok dengan menghubungi orang-orang bersangkutan, melihat makanan dimejanya menghilang karena sudah berpindah kedalam perutnya Eva kembali memesan beberapa kue sus,tart dan black macarons. Selesai dengan persiapan untuk besok Eva mulai mengerjakan proyek di amerika dan perusahaan di china.


Dua jam setengah Eva habiskan di cafe, hingga laporan Bon Hwa untuk kontrak dan foto seorang model muda yang sesuai keinginan Eva telah Eva setujui.


Baiklah kita lihat Style Mode Group bagaimana nanti, batin Eva smirk.


Hampir empat jam Eva berada di cafe ditemani dengan makanan-makanan manis membereskan laptop dan ipadnya Eva mulai duduk santai menikmati suasana sore hari. Mata Eva menangkap sosok Ronggo dan satu pengawalnya duduk tidak jauh darinya. Tiba-tiba ponselnya berdering.


"Hm."


"Apa semuanya baik-baik saja?." Tanya Daren dari seberang telepon.


"Hm."


"Sudah selesai semua?." Eva memasukkan black macaron kedalam mulut.


"Hampir, proyek amerika dan proposal untuk perusahaan di china akan aku kirimkan besok." Lapor Eva.


"Bagus, aku akan memeriksanya juga besok." Bahkan dia tidak menanyakan keadaanku yang hampir terjatuh dari lantai dua mall pasti om Ronggo sudah melaporkannya kan, batin Eva.


"Ayah." Panggil Eva datar.


"Hm?."


"Kenapa saham di DG entertainment tertulis nama ibu? apa ibu yang melakukannya?." Tanya Eva.


"Entahlah, kenapa kamu ingin tahu?." Tanya Daren balik.


"Tidak, hanya aneh saja ."


"Baiklah ayah harus menyelesaikan dokumen ini, bekerja lah dengan baik." Ucap daren, waahh bekerja yang baik katanya? cocok untuk boneka perusahaan sepertiku, batin Eva.


"Hm." Dan sambungan telepon pun terputus.