
Jam setengah satu dini hari Eva keluar dari paviliun berusaha berjalan senormal mungkin, ketika sampai dikamar Eva membanting tubuhnya diatas ranjang telentang.
"Badanku remuk." Lirih Eva mengangkat kaki kirinya keatas menatapnya iba.
"Dia suka sekali mengincar pergelangan kaki." Eva menatap pergelangan kakinya yang bengkak terkena tendangan keras Takehara.
"Lebih baik aku berendam." Lirih Eva beranjak ke kamar mandi.
Eva berendam dengan sabun favoritnya wangi sabun membuat badannya rileks matanya terpejam menikmati.
Bola mata Eva terbuka pelan.
"Hampir saja tertidur, aku masih ada pr besok." Eva keluar dari kamar mandi langsung duduk di meja belajarnya mengambil buku matematika dan biologinya menatap sekilas jam kecil dimeja menunjukan pukul 01:15 am, lima belas menit Eva selesai mengerjakan pr nya lalu mempersiapkan keperluan sekolah untuk besok dan beranjak naik keatas ranjang memakai selimut hangatnya perlahan mata birunya tertutup.
Pagi pukul 04:30 Eva terbangun karena dering ponselnya, tangan putih itu meraih ponsel diatas nakas melirik layarnya sekilas.
"Hm?."Eva kembali memejamkan matanya.
"Apa kau baik-baik saja?." Tanya Jun Ho dengan suara berat khas bangun tidur tidak berbeda dengan si penerima telepon.
"Wae-o? (Kenapa?)." Lirih Eva.
"Aku habis bermimpi tentangmu." Suara Jun Ho khawatir.
"Kamu menjadi buronan dan dikejar-kejar banyak laki-laki berotot besar." Eva setengah membuka matanya.
"Jun Ho si."
"Ye? (Ya?)."
"Jugeullae? (Apa kau mau mati?)." Hening.
" Jangan ganggu tidurku hanya karena mimpi anehmu itu." Tuutt tuutt Eva mematikan ponselnya sepihak melanjutkan tidur tertundanya.
Pagi yang membosankan seperti biasa bagi gadis bermata biru dengan muka bantalnya memandangi jalanan yang ramai.
"Nyonya sudah tenang lukanya juga sudah diobati, tidak ada luka yang serius hanya goresan-goresan kecil." Ujar Ronggo.
"Hm." Eva bergumam tidak tertarik.
Mobil berhenti didepan gerbang besar, terlihat banyak siswa siswi bergerombol masuk ke halaman sekolah. Eva menutup mulutnya dengan telapak tangan menguap seraya keluar dari dalam mobil Ronggo membungkuk hormat kepada Eva.
"Pagi." Ucap riang seseorang berhasil merubah raut wajah Eva menjadi kesal.
"Pagi-pagi mukanya masih kusut aja, nggak tidur semalam?." Tanya Dimas disebelah Eva entah Dimas muncul dari mana tiba-tiba cowok itu sudah berjalan disamping Eva.
Drrtt drrtt.
Eva tidak ingin mengangkat panggilan dari ayahnya dia juga tidak ingin diganggu oleh mahluk menyebalkan disebelahnya.
"Nggak diangkat?." Tanya Dimas yang tidak dihiraukan Eva.
"Pak Daren tidak marah?." Sontak Eva menghentikan langkahnya, tidak bisakah memberikanku ketenangan, batin Eva mengangkat panggilan.
"Hm?." Nada dingin terdengar ditelinga Daren di seberang sana.
"Lain kali jika ibumu seperti itu lagi jangan dekati dia." Ucap Daren datar.
Deg!. Eva terdiam kaget.
"Jangan membuatnya tambah terpukul." Imbuh Daren lalu menutup teleponnya. Eva msih terdiam beberapa detik pandangannya lurus kedepan.
"Kamu nggak apa-apa?." Suara Dimas menyadarkan Eva ia kembali menyimpan ponselnya.
"Wajahmu pucat, mau ke uks?." Dimas menatap Eva khawatrir. Yang dikhawatirkan kembali berjalan tanpa merespon. Dimas menarik nafas panjang lalu mensejajari langkah Eva sedikit dibelakangnya melindungi takut gadis itu tiba-tiba tidak sadarkan diri.
Wajahnya tiba-tiba sangat pucat, tatapannya tadi juga kosong, apa yang telah terjadi?, batin Dimas. Banyak siswa siswi melirik mereka penasaran dan tidak suka.
Aneh, dia juga tidak marah aku sedekat ini dengannya, batin Dimas menunduk menatap gadis yang lebih pendek darinya itu. Tidak terasa mereka sudah sampai didepan kelas Eva, Dimas menunduk sedikit berbisik ditelinga Eva.
"Istirahat nanti, aku jemput." Eva tersentak kaget merasakan sebuah suara sangat dekat disampingnya dengan cepat ia menoleh untuk melakukan protes tapi si pemilik suara sudah berlari pergi Eva termenung melihat punggung itu semakin menjauh.
Disetiap pelajaran Eva tidak mendengarkan gurunya ia sibuk dengan pikiran-pikiran yang menghantuinya, ucapan Daren tadi pagi juga tidak mau pergi dari dalam kepala membuat Eva bekerja keras mengontrol pikirannya sendiri. Bel istrirahat berbunyi Eva dengan segera mengambil bekal dan minumannya yang ia bawa dari rumah meninggalkan kelas secepat mungkin sebelum si pengganggu itu datang.
Disinilah Eva duduk dibalik pohon besar dibelakang sekolahnya yang selalu Eva pandangi dari jendela kelas. Memakan bekalnya sambil menikmati semilir angin membelai pipi.
Ini bukan yang pertama ayah menyalahkanku atas kesalahan yang tidak ku perbuat, jika ayah tidak ingin istrinya histeris seperti itu kenapa dia tidak pulang lebih cepat kenapa malah membela ibu, batin Eva geram. Tangan Eva meremas seragam atas sebelah kirinya, butiran air mata mulai turun ke pipi.
Memori-memori kelamnya berputar kembali menayangkan setiap kejadian-kejadian buruk, ia ingin menghentikannya tapi nihil, nafas Eva mulai tidak teratur Eva berusaha sangat keras untuk menenangkan dirinya.
Disaat Eva sedang fokus dengan masalah-masalah dirinya sebuah suara mengalun dari balik pohon yang ia duduki. Petikan-petikan senar gitar tertangkap gendang telinga Eva, melodi pelan mengalun membuyarkan memori kelam yang terus berputar mengembalikan nafas yang tidak teratur. Eva merasa lega ia menghapus sisa-sisa air matanya menyenderkan punggung ke pohon besar itu. Selama ini tidak ada melodi yang bisa membuatnya tenang tidak ada melodi yang bisa membuatnya tersentuh tapi melodi misterius yang tiba-tiba menelusup ke telinganya telah menolong Eva, beban-beban yang selama ini ia simpan, masalah dan rasa sakitnya terangkat dari dalam tubuh bersamaan dengan setiap melodi yang keluar dari senar gitar itu.
Bel masuk berbunyi membuat melodi itu berhenti mengembalikan semua masalah dan rasa sakit kedalam tubuh, Eva mendengus kasar setidaknya kini ia lebih tenang. Eva berdiri berjalan menuju kelasnya. Sebelum sampai kelas bola mata Eva menangkap seseorang sedang berlari kearahnya. Orang itu memegang kedua lutut mengatur nafas Eva menaikan satu alisnya.
"Aku mengelilingi setiap sudut sekolah mencarimu." Ucap Dimas mengatur nafas. Nggak sekalian keliling seantero jakarta, batin Eva.
"Ak," Baru Eva mau menjawab Dimas tapi cowok itu lebih dulu memotong kalimatnya.
"Kamu nggak apa-apa?." Tanya Dimas menatap lekat manik Eva, tersirat kekhawatiran disana. Eva baru melihat dengan benar wajah Dimas dengan jarak sedekat ini, selama ini Eva selalu mengabaikan cowok itu, Eva berdiri diam manik Dimas seperti menyihirnya.
"Sudah bel dari tadi, masuk dulu sana." Dimas menyunggingkan senyum lembutnya, mata Eva mengerjap beberapa kali dan melangkah meninggalkan Dimas yang masih berdiri menatapnya.
Apa-apa an dia, batin Eva.
Dua jam terakhir adalah geografi pak Dani guru muda itu melangkah duduk dimeja guru. Pak Dani guru yang sangat baik terbukti jika Eva tidur di dalam pelajarannya atau tertangkap sering tidak memperhatikannya dia tidak pernah menegur Eva. Saat ulangan dulu pun pak Dani pernah berkata kepada Eva jika ia mempercayai Eva dan tidak pernah ragu akan kemampuannya hanya kalimat singkat itu membuat hati dingin Eva merasa hangat karena sejujurnya belum pernah ada orang yang mengatakan percaya kepadanya.
Hari ini pak Dani membagi kelompok, para siswa disuruh untuk berkumpul dengan kelompok masing-masing. Eva kebingungan mencari kelompoknya karena dikelas Eva hanya mengetahui nama teman sebangkunya saja Dinda.
"Eva! disini." Seru pak Dani menyadari kebingungan Eva.
Guru muda itu melambaikan tangannya menyuruh Eva untuk menghampirinya. Eva berjalan ke pojok kanan kelas.
"Kelompokmu ada disini, ayo duduk." Ucap pak Dani yang diangguki Eva.
"Terima kasih pak." Pak Dani tersenyum.
Bola mata Eva menangkap mahluk yang selalu mengusik tidurnya dengan suara melengking miliknya itu sedang duduk manis dimeja kelompoknya.
Apakah ini caramu balas dendam kepadaku Dinda, caramu terlalu kuno, batin Eva.
Hanya ada satu kursi tersisa disebelah kiri cowok yang memakai gelang berwarna coklat, Eva menarik kursi lalu mendudukinya didepannya ada cowok dengan jam hitam disebelah kanan cowok itu ada Dinda dan terakhir disebelah kiri duduk menghadap tembok cewek memakai kalung berwarna putih.
Eva
"Ok ini kertas gambarnya, masing-masing menggambar peta negara yang berada di benua eropa terserah kalian mau pilih negara mana." Jelas cewek berkalung putih membagikan kertas gambar ukuran A3 kepada kami.
"Kenapa kita kebagian benua eropa sih." Protes cowok disebelahku.
"Tau nih kan susah mending benua australia." Sahut Dinda.
"Sudahlah, ayo cepat kita kerjakan biar tugasnya cepat selesai." Ucap cowok jam hitam.
"Benar kata Fathur, kalau tugas kita tidak selesai sepulang sekolah kita lanjutkan dirumahku gimana?." Saran cewek berkalung putih.
Cewek berkalung putih dan cowok jam hitam sibuk membolak-balik atlas mereka sedangkan Dinda sibuk mencari perhatian cowok jam hitam.
Cowok disampingku sedang berusaha menggoreskan pensilnya diatas kertas gambar meniru bentuk peta di atlas.
"Ih susah." Sambil meletakkan pensilnya dengan kasar.
"Sabar, pakai perasaan dong." Seru Dinda.
"Pakai tangan kalee." Jawab cowok disampingku memajukan tangannya kedepan muka Dinda membuat Dinda memukul tangan cowok itu.
Mendengar keluhan temannya cewek berkalung putih melirik kertas gambar cowok gelang coklat.
"Apa yang kamu gambar?." Cowok jam hitam masih sibuk dengan kertas gambarnya.
"Brazil." Jawab enteng cowok gelang coklat, Dinda melotot.
"Dody itu kan di benua amerika." Yang dipanggil Dody hanya tersenyum, Dinda beralih menatapku.
"Oh iya tadi aku lihat kamu sedang ngobrol sama kak Dimas dilorong, kalian kayaknya jadi tambah dekat." Dinda menatapku penuh selidik. Lebih tepatnya hanya dia yang bicara, batinku. Cowok jam hitam tiba-tiba menghentikan kesibukannya.
"Siapa?." Tanya Dody polos.
"Siapa lagi ya Eva lah masa gue." Dinda menunjuk wajahnya.
Dasar biang gosip, rutukku dalam hati.
"Bener kan va, kamu sekarang jadi dekat sama kak Dimas? jangan-jangan kalian sudah jadian?."
Dasar petasan banting, ingin sekali aku menendang kakinya tapi aku mengurungkan niatku. Mereka menunggu jawaban dariku. Aku hanya mengangkat bahu tidak peduli, ku ambil pensil yang dilempar Dody tadi.
"Kok gitu sih va jawab dong." Aku memberikan Dinda tatapan tajam membuatnya terdiam seketika. Hening, mereka kembali sibuk dengan atlas masing-masing. Beberapa menit kemudian.
"Aku sudah selesai berarti aku tidak perlu ikut kerumahmu Tiara." Aku meletakkan pensil Dody.
"Kamu tahu namaku?." Tanya Tiara terkejut, aku menunjuk kalung putih, bandul kalung tertulis inisial namanya. Mereka juga ikut melirik kalung itu.
"Lo gila tanpa atlas lo gambar ini?." Dody menatap peta yang baru selesai kugambar, Dinda yang penasaran ikut meliriknya.
"Ini negara?." Dinda berpikir keras.
"Jerman." Cowok jam hitam menjawab kebingungan Dinda.
"Waah kamu memang pinter Fathur." Dinda mengeluarkan senyum mautnya, entah sejak kapan Tiara bengong seperti itu.
"Ehm, tapi harus ada warnanya." Lirih Tiara setelah tersadar.
"Kamu punya pensil warna? boleh aku pinjam?." Tiara mengangguk pelan dan memberikan pensil warna dari dalam tasnya kepadaku. Tanganku mulai sibuk diatas kertas gambar.
"Kembali ke tempat duduk kalian, tugasnya jangan lupa dikumpulkan dua hari lagi." Seru pak Dani.
Anak-anak kembali ke bangku masing-masing aku ikut berdiri berjalan kebangku meninggalkan kertas gambarku dimeja saat aku berdiri mereka masih sibuk membahas sesuatu.
"Dia beneran menyelesaikan gambarnya!, lengkap lagi." Seru Dody sampai terdengar ditelingaku.
"Ayo cepat anak-anak kalian mau pulang atau tidak?." Tegur pak Dani, tidak lama setelah teguran dari pak Dani bel pulang pun berbunyi. Pak Dani meninggalkan kelas disusul beberapa anak. Aku menyenderkan punggungku seperti biasa menunggu sekolah sedikit sepi.
Dari pintu kelas aku melihat sosok yang tidak asing menarik banyak perhatian menerobos masuk, dia membalik kursi dibangku depanku mendudukinya dengan santai. Aku mengalihkan pandangan ke luar jendela, Dimas diam menatapku cukup lama. Kelas pun sudah sepi menyisakan kami berdua, Dimas yang biasanya berisik tiba-tiba diam seperti ini terasa aneh bagiku. Aku menoleh menatapnya malas. Dimas tersenyum.
"Sudah baikan?." Aku menaikan satu alis tidak paham dengan pertanyaannya.
"Dari wajahmu yang melihatku seperti itu sepertinya kamu sudah baikan, syukurlah."
Orang aneh, batinku. Dimas mencondongkan badannya kedepan.
"Jika kamu sedang tidak ingin melihatku katakan saja, aku tidak akan muncul dihadapanmu." Ucap Dimas.
"Jangan menghindariku." Sambungnya.
"Kenapa kau selalu menggangguku, apa aku pernah berbuat salah padamu?." Tanyaku datar. Dimas tersenyum kaku.
"Maaf jika kamu merasa terganggu karena aku, aku tidak berniat mengganggumu sama sekali tapi sepertinya apa yang aku lakukan malah benar-benar membuatmu terganggu." Dimas menunduk, meskipun dia melakukan itu karena badannya yang tinggi membuatku bisa melihat wajahnya dengan jelas.
"Aku ingin dekat denganmu, jika aku tidak bisa menjadi kekasihmu." Dimas mengangkat kepalanya menatapku lekat.
"Bisakah kita berteman?." Aku bergeming membalas tatapannya.
"Meskipun aku sangat berharap jadi pacarmu tapi itu tidak mungkin, kamu sudah menolakku haha." Dimas tertawa sambil menggaruk pipinya yang tidak gatal dengan ekspresi wajah yang kaku, aku tersenyum melihat tingkahnya yang membuat Dimas terdiam seketika.
"Kenapa?."
"Apa kamu tadi tersenyum? aku adalah pria yang paling beruntung bisa melihat senyum manismu, apa kamu mau melakukannya lagi?." Dimas memasang muka memelas.
"Tidak." Jawabku tegas, Dimas menarik nafas panjang.
"Apa kakak beneran mau jadi temanku?." Dimas menegakkan posisinya.
"Siap. Ya!." Dimas menjawab dengan posisi hormat seperti tni sedang melakukan hormat bendera.
"Mau pulang bareng?."
"Haa... apa?!."Dimas melotot kaget.
"Hanya sampai depan sekolah." Jelasku.
"Haa...?."
"Ok, tidak mau." Aku melangkah meninggalkannya.
"Eeh... siap. Ya!." Serunya berlari mengejarku.
"Dasar tni gadungan." Ucapku saat Dimas sudah mensejajarkan langkahnya.
"Itu tadi ada kesalahan jaringan." Elaknya.
"Tni tidak boleh melakukan kesalahan."
"Tni juga manusia kali." Aku berhenti ditengah jalan membuat Dimas juga ikut menghentikan langkahnya.
"Ada apa?." Tanya Dimas.
"Sampai sini saja." Ucapku.
"Kan belum sampai depan." Aku menatapnya dingin, Dimas mengangkat kedua tangannya.
"Ok ok, sampai sini." Aku menoleh kedepan tepatnya kearah Ronggo yang sedang berdiri.
"Sampai jumpa besok, hati-hati."
"Hm." Aku melangkah meninggalkannya.
Aku menghampiri mobil, Ronggo dengan cekatan membuka pintu penumpang.
"Apakah siswa itu masih mengganggu non Eva?." Tanya Ronggo dengan wajah seriusnya.
"Tidak." Aku masuk kedalam mobil.
Disepanjang jalan aku mengingat kembali setiap kalimat yang Dimas katakan.
Temankah, aku tidak pernah berpikir sampai kesana, dimatanya tidak ada kebohongan dia mengucapkannya dengan tulus, batin Eva.
Bisakah kita berteman?.
Aku tersenyum mengingat ucapan Dimas. Terima kasih sudah mau menjadi temanku, ucapku dalam hati.