
"Kepala pelayan nona, dia terluka karena berusaha menenangkan nyonya."
"Kenapa kamu bisa ada diluar?." Manik mata Eva mencari seseorang.
"Saya juga ikut membantu kepala pelayan tapi setelah kepala pelayan terluka kami disuruh menjauh dari tempat kejadian karena itu saya memilih menunggu nona diluar." Jelas Fitri.
"Bereskan semuanya, berikan jalan untuk nona Eva." Perintah Ronggo kepada para pelayan yang berdiri menunggu perintah.
Mereka langsung mengerjakan tugas yang diberikan, Eva tidak pergi ke kamar kakinya melangkah kedapur mencari seseorang. Eva menemukannya, didapur wanita tua sedang duduk dikursi kecil, Eva menghampirinya.
"Perlihatkan lukamu." Mbok Is yang mendengar suara majikan mudanya mendongak kaget.
"Nona sudah pulang." Lirihnya.
"Lukamu." Eva menatap datar mbok Is, wanita tua itu mengulurkan tangan kirinya yang dibungkus perban dengan darah yang merembes keluar.
"Panggil dokter sekarang." Kata Eva dingin.
"Baik non." Ronggo dengan segera menghubungi dokter keluarga Ayhner.
"Tidak usah non ini sudah diobati." Tolak mbok Is.
"Ikut aku." Eva membalikan badan berlalu meninggalkan dapur di ikuti Fitri dan mbok Is dibelakangnya.
Saat melewati pintu kamar Ayumi terdengar pecahan kaca dari dalam kamar, disusul benda-benda yang berjatuhan.
Prangg!!
Dakk!!
Bug!!
Untung saja kamar utama berada dilantai satu bayangkan jika kamar utama ada dilantai dua bakalan ada pertunjukan benda-benda terbang. Eva membuka pintu kamarnya.
"Fitri kau tunggu dibawah." Fitri agak terkejut tapi dengan segera menunduk hormat.
"Baik nona." Fitri berlalu menuruni tangga.
Eva masuk kedalam kamar disusul mbok Is dari belakang. Eva mengambil sebuah kotak hitam dari dalam lemari dan satu handuk tebal lalu duduk disofa kamarnya.
"Duduk disebelahku." Eva meletakan kotak hitamnya dimeja membuka kotak perlahan setelah itu merentangkan handuk tebal dan meletakkannya diatas paha, mbok Is dengan ragu duduk di sebelah Eva.
"Maaf nona, seharusnya saya tidak duduk disini." Mbok Is bergerak-gerak gelisah.
"Ulurkan tanganmu." Eva menatap wanita tua itu yang tetap diam tidak bergerak, dengan gerakan lembut Eva menarik tangan mbok Is yang terluka.
"Non." Lirih mbok Is terkejut.
Eva mulai membuka perban ditangan mbok Is, sesuai dugaan Eva masih ada beberapa pecahan kaca ditangan keriput itu. Eva meletakkan tangan keriput itu dipangkuannya, mengambil sebuah pinset dari kotak p3k pribadinya.
"Aku tidak menggunakan bius kau bisa menahannya?." Eva menatap mbok Is.
"Saya akan menahannya non."
"Aku akan pelan-pelan."
Setelah mengatakan itu tangan kiri Eva menahan tangan mbok Is agar tetap diatas lalu tangan kanannya mulai mencapit pecahan kaca menarik keluar secara perlahan. Darah segar mengalir saat pecahan kaca itu tercabut dari daging.
"Sssssttt." Mbok Is menahan rasa sakitnya.
"Apa terlalu sakit?." Tanya Eva.
"Tidak non." Mbok Is menunduk seraya menggeleng pelan.
"Aku akan lebih hati-hati." Mbok Is meneteskan air matanya tanpa disadari Eva.
Eva kembali konsentrasi, Eva tidak menggunakan obat bius jadi dia harus sangat berhati-hati untuk mengurangi rasa sakitnya. Bukannya Eva tidak mau menggunakan obat bius tapi dia tidak bisa karena jika Eva menggunakannya nanti dokter akan mengetahui bahwa mbok Is sebelumnya telah disuntik obat bius itu berbahaya tidak ada satu orang pun yang tahu kecuali Jun Ho kalau Eva bisa melakukan seperti yang dokter bedah lakukan. Eva tidak bisa hanya diam melihat wanita tua itu menahan rasa sakitnya dan membiarkan darahnya terus keluar mbok Is bisa kekurangan darah kalau menunggu terlalu lama.
Beberapa pecahan kaca sudah tercabut darah menetes dari luka yang menganga tinggal pecahan terakhir pecahan terkecil dikulit itu. Eva sangat pelan menancapkan pinset menjepit ujung kaca setelah dirasa jepitannya kuat Eva menarik pinset dengan sangat perlahan tiba-tiba Eva berhenti ditengah jalan dengan posisi pecahan kaca masih menancap.
"Mbok Is, ini akan sakit tolong tahan sebentar." Ucap Eva.
"Baik non." Mbok Is menutup mulutnya dengan tangan yang sehat.
Pecahannya tersangkut aku harus menggerakannya, batin Eva.
Eva menggerakan pecahan kaca itu kekanan kiri dengan perlahan takut pecahan kaca akan patah dan tertinggal didalam. Eva kembali menarik pecahan berhenti lalu menggerakannya lagi dan perlahan pecahan kaca tertarik keluar.
"Agh." Lirih mbok Is.
Dengan segera Eva membalut lengan mbok Is dengan handuk tebal dipahanya beranjak berdiri melangkah cepat ke kamar mandi hanya beberapa detik Eva sudah kembali dengan sebuah kotak berisi air dan handuk kecil ditangannya. Meletakan kotak dan handuk diatas meja menarik lembut tangan mbok Is meletakannya dipangkuan. Jari Eva menekan area kulit yang terluka membuat darah menetes, membersihkan dengan air didalam kotak menggunakan handuk kecil dengan telaten Eva mengulangi kegiatannya, jari Eva meraih salep antibiotik dari dalam kotak p3k mengoleskan salep itu ke luka-luka mbok Is, setelah dirasa cukup Eva mengambil perban yang tadi mbok Is gunakan membalut lukanya dengan perban yang sama.
"Mbok Is, bukannya aku tidak mau memberikan perban baru tapi karena aku tidak ingin yang lain tahu aku yang melakukan semua ini jadi, bisakah kau simpan rahasia ini rapat-rapat?." Tanya Eva, mengangkat tangan mbok Is setelah selesai, mbok Is menarik tangannya pelan.
"Saya akan tutup rapat-rapaat mulut saya non, dan terima kasih banyak." Mbok Is menunduk sopan kepada Eva.
"Tegakkan punggungmu, jangan terlalu banyak menggerak -gerakkan tanganmu, dokter akan memberikanmu perban baru nanti." Eva membereskan peralatannya.
"Biarkan saya saja non." Eva menahan mbok Is dengan cepat.
"Bisakah kau duduk dengan tenang?." Mbok Is terdiam mendengar nada dingin dari mulut Eva.
Eva selesai membereskan semua peralatan dan handuk bekas darah mbok Is tepat saat dokter tiba dirumah.
"Non dokter sudah datang." Lapor Ronggo dari balik pintu.
"Om dan dokter masuklah." Ronggo dan dokter masuk kedalam kamar Eva, Ronggo menutup pintu kamar.
"Selamat siang dok, tolong periksa dia." Kata Eva kepada dokter paruh baya itu.
"Selamat siang nona muda, baik." Dokter mulai memeriksa luka mbok Is.
"Om aku akan bersiap-siap untuk kelas berikutnya, awasi dia."
Eva masuk kedalam kamar mandi mencuci muka dan mengganti pakaian seragamnya dengan pakaian santai. Saat Eva keluar mbok Is dan dokter sudah tidak ada.
"Baik non saya mengerti." Ronggo mengambil alih tumpukan buku itu dari Eva. Eva meninggalkan kamar turun menuju taman belakang rumah.
Prang!!
Brakk!!
Terdengar sangat jelas entah apa lagi yang ayumi banting dan pecahkan. Mau sampai kapan ibu seperti itu, batin Eva.
"Aaarrgghh!." Jerit suara wanita dari dalam kamar utama.
Brakk!!
Tiba-tiba pintu kamar utama terbuka Eva menatap nanar dari tengah anak tangga wanita yang tidak lain adalah ibunya melangkah keluar dan berhenti sebentar didepan pintu, dari kedua lengan dan jari-jarinya mengeluarkan darah segar, rambut kusut, kerah baju sedikit robek, mata coklat mudanya terlihat gelap dan bengkak dari sudut bibir kanannya terdapat darah kering. Bola mata Eva terasa panas merasakkan sesak didadanya.
"Urus dia." Lirih Eva meraih buku-bukunnya dari tangan Ronggo.
Ayumi berjalan tertatih menuju pintu depan Ronggo berlari menghalangi jalan Ayumi membujuknya untuk tidak pergi, Eva menarik nafas dalam menenangkan hatinya.
Don't cry, she is not my mom, batin Eva menguatkan.
Eva melanjutkan perjalanannya, ia memilih melewati pintu belakang agar Ayumi tidak melihat dirinya tapi saat Eva melewati belakang tubuh Ayumi sebuah suara sukses membuatnya bergeming beberapa detik.
"Pergi!." Lirih Ayumi tegas dan dingin, Eva tahu kalimat itu tidak ditujukan kepada Ronggo tapi kepada dirinya.
"Jangan dekati aku!!." Teriak Ayumi histeris, Eva membuang wajahnya berlalu pergi dengan cepat.
Kaki Eva tiba-tiba tidak bertenaga, jalannya melambat tangannya berpegangan pada dinding disebelahnya. Keringat dingin menetes dari dahinya.
"Huh, hah, huh, hah." Deru nafas Eva tidak beraturan.
Dia hanya mengatakan itu dia bukan ibuku tapi kenapa rasanya sakit sekali, jangan menangis.. dia tidak pantas mendapatkan air mataku, batin Eva menyenderkan punggungnya ke dinding tangannya menepuk-nepuk pelan dadanya.
"Non kenapa?." Tanya Fitri keluar terburu-buru dari arah dapur.
"Bawakan ice lemon." Eva berdiri mengelap keringat lalu berjalan menuju kursi di pinggir taman gurunya sudah duduk menunggu dirinya.
Siang itu berjalan dengan lancar meski Eva tidak bisa konsentrasi dengan kelas-kelasnya. Tok tok! terdengar suara ketukan di pintu kamar.
"Non mau makan malam dimana?." Suara Fitri dari balik pintu. Eva membuka pintu kamar disambut senyum hangat Fitri.
"Non baik-baik saja?." Tanya Fitri hati-hati.
"Hm." Eva menuruni tangga menuju dapur. Menatap makanannya sebentar baru ia memakannya, setelah selesai dengan makan malamnya Eva berjalan menghampiri mbok Is yang berdiri tidak jauh darinya.
"Maaf non saya tidak memasak makan malam untuk non Eva." Ucap mbok Is membungkukkan badan.
"Hm, katakan pada juru masak besok siapkan bekal sandwich." Mbok Is mendongak kaget.
"Baik non." Sudah lama majikannya tidak mau membawa bekal pikir mbok Is seraya tersenyum.
Eva mengalihkan pandangannya menatap Fitri.
"Pergilah." Ucapya dingin.
"Baik, permisi non." Fitri membungkuk sebelum meninggalkan dapur.
"Jangan percaya siapa pun." Lirih Eva kepada mbok Is seraya berjalan melewatinya menuju taman belakang.
Eva menyeberang taman menuju sebuah paviliun sederhana, satu meter dari paviliun ada tiga pengawal berdiri berjaga agar tidak ada orang tanpa izin mendekati wilayah itu. Mereka melihat Eva berjalan menghampiri dan segera menunduk hormat . Eva melewati mereka menatap paviliun, hanya ada satu pintu dan dua jendela gelap terlihat misterius Eva menarik kenop pintu membukanya sedikit hanya seukuran badannya agar hanya badannya yang bisa masuk kedalam membuat orang diluar sana sulit untuk melihat isi di balik pintu.
Menutupnya kembali, didalam terlihat sangat berbeda dengan apa yang telihat dari luar, saat membuka pintu akan dihadapkan dengan pintu kuno juga dua rak sepatu, sepatu luar dan sandal dalam rumah, lantainya lebih tinggi tujuh senti Eva melepas sepatu sandalnya meletakan dirak khusus dengan rapih lalu mengambil sandal dalam rumah memakainya, lantai kayu itu terlihat selalu bersih aroma bunga lavender menyeruak masuk kedalam hidung menenangkan. Eva menggeser pintu melihat wanita cantik dengan setelan kimono dan rambut yang disanggul rapih tersenyum manis. Ruangan itu sangat luas terdapat sebuah meja dengan bantal khusus untuk duduk, nuansa jepang sangat kental di dalam paviliun itu, beberapa rak buku berjejer dipinggir tembok.
Eva menghampiri wanita itu membungkuk sopan selama tiga detik wanita itu juga melakukan hal yang sama.
"Hisashiburi shishou ( Lama tidak bertemu master)." Ucap Eva dengan nada lembut.
"Hisashiburi ojou chan ( Lama tidak bertemu nona muda)." Jawab merdu Takehara.
Takehara berjalan anggun menuju meja disebelah kiri ruangan ia duduk bersimpuh dengan sikap sempurna, diikuti oleh Eva duduk diseberang meja dengan sikap sempurna pula.
"Jam pelajaran ditambah dua jam, anda sudah tahu ojou chan?." Eva dengan wajah tenang bak putri bangsawan menjawab pertanyaan masternya.
"Sudah shishou." Takehara tersenyum lalu mengambil dua buku yang ada diujung meja.
"Kita mulai dengan bahasa jepang kuno."
"Hai, onegaishimasu ( Ya, mohon bantuannya)."
Ini adalah kelas kursus Eva, tidak ada yang tahu apa saja yang dipelajari dikelas kursus itu kecuali Eva dan Daren yang mendatangkan guru itu bahkan Ronggo pun tidak tahu bahwa guru kursus Eva seorang wanita jepang. Hanya Daren dan Eva yang memiliki akses masuk, sejak kejadian mengerikan sembilan tahun lalu Daren tiba-tiba membangun sebuah paviliun dibelakang rumahnya dengan taman cukup luas untuk memberi jarak dengan rumah utama. Paviliun tertutup dengan penjagaan ketat. Disinilah Eva diajarkan tata krama bangsawan entah manfaatnya untuk apa Eva tidak pernah bertanya begitu juga pembelajaran yang lain. Takehara juga mengajari Eva bagaimana caranya mengendalikan diri mengendalikan pikiran dan emosi mungkin karena itu Eva kecil tidak menjadi gila tapi jangan salah Takehara dengan wajah cantiknya adalah seorang master yang kejam, dia tidak pernah memberi ampun dalam semua pelajaran, Eva selalu mendapat hukuman keras jika melakukan kesalahan kecil. Masih banyak pelajaran lain pelajaran yang tidak ada di sekolah/pelajaran umum. Ayah benar-benar ingin membuat boneka yang sempurna pikir Eva dulu saat berumur sepuluh tahun.
Dua jam Eva berkutat dengan bahasa jepang kuno, buku yang dibawa Eva dari kamar tidak ia gunakan hanya untuk mengelabui semua orang kalau itu adalah kursus biasa. Daren sangat berhati-hati dalam tindakannya sejak kecil pun Eva ditekankan untuk tidak mempercayai siapa pun.
"Ojou chan silahkan ganti baju." Takehara membawa buku mengembalikannya kedalam rak sedangkan Eva, dia masuk kedalam ruangan disamping ruang tengah mengganti bajunya dengan baju khusus didalam ruangan itu setelah selesai Eva bersimpuh ditengah ruangan menunggu masternya. Pintu terbuka Takehara berjalan ke pojok ruangan membuka kimononya satu persatu melipatnya dengan rapih meletakan kimono itu dilantai.
"Haruskah kita pemanasan lebih dulu ojou chan?." Tanya Takehara diruangan kosong itu hanya ada satu gantungan di dinding untuk menggantung baju Eva.
"Tidak shishou." Takehara berdiri didepan Eva dengan balutan baju hitam tanpa lengan dan celana hitam panjang, lengannya yang polos terbalut kain putih sampai pergelangan tangan. Baju sama seperti yang Takehara kenakan hanya saja milik Eva lengannya panjang.
"Kita mulai dengan Wing Chun." Kata Takehara.
Dulu Eva kecil mengira Takehara adalah wanita anggun bermartabat tinggi yang memiliki wawasan sangat luas bak ratu dalam sejarah tapi Eva kecil tertipu oleh penampilan Takehara masternya itu memiliki topeng lain, ia pendekar yang hebat segala jenis bela diri ia kuasai tak heran bagaimana dia bisa mengajari Eva melindungi diri secara fisik maupun pikiran.
Wing Chun mengutamakan kecepatan pukulan dan tendangan, serta reflek yang cepat, digunakan dalam jarak dekat.
" Hai shishou ( Baik master)." Mereka saling membungkuk.
Takehara mengambil posisi begitu juga Eva, dalam sepersekian detik Takehara sudah melayangkan tendangan kakinya membuat Eva reflek mundur kebelakang, memang jika berhadapan dengan master kejamnya ini Eva tidak boleh lengah, belum sempat keterkejutannya hilang Eva mendapat serangan dari samping beruntung Eva bisa menahannya tapi satu serangan lupu dari pengawasan Eva sebuah pukulan tepat mengenai perutnya.
"Oujo chan, libur satu minggu membuat pedangmu tumpul?." Yang dimaksud Takehara pedang adalah kemampuan Eva, Eva yang dikatai seperti itu tersenyum tipis.
"Sumimasen shishou aku mengecewakanmu (Maaf master)." Takehara tersenyum manis tanpa aba-aba lagi dia sudah menyerang dada Eva kali ini Eva sudah siap dengan segala serangan yang datang padanya. Malam itu Takehara menyerang Eva secara membabi buta Eva hanya bisa melindungi dirinya namun satu dua pukulan dan tendangan mendarat mulus dibadannya. Tepat pukul dua belas malam Takehara baru menghentikan serangannya membiarkan Eva bernafas dengan tenang, Eva mencuci mukanya dan mengganti bajunya kembali meletakan baju latihannya dikeranjang kotor milik Takehara Eva tidak pernah membawa keluar barang-barang yang ada di dalam paviliun itu akan menimbulkan kecurigaan karena itu Takehara lah yang mencucikan baju latihan Eva. Paviliun itu lengkap memiliki beberapa ruangan termasuk dapur, kamar, dan lain-lain. Kebutuhan Takehara juga selalu dipenuhi hanya saja dia tidak pernah sekalipun keluar dari paviliun.