Yuki

Yuki
Bab 28



Daren menarik nafas panjang.


"Kau benar tapi bagaimana dengan istriku?." Daren menatap lurus putra putrinya.


"Tuan selalu memperhatikan nyonya, menguatkan nyonya disetiap nyonya terpuruk."


"Entahlah apa memang begitu, yang terpenting sekarang aku harus melakukan yang terbaik untuk kedua anak dan istriku bukan begitu Ronggo." Ronggo mengangguk pelan.


"Benar tuan." Daren menghampiri anak-anaknya.


"Ehem maaf telat, apa masih ada ruang untuk satu orang lagi?." Anak-anaknya melepas pelukan mereka beralih menatap Daren.


"Tidak bisa, kursi ini hanya muat untuk dua orang." Jawab Eva datar membuat raut wajah Daren berubah murung, Eva dan Ega berdiri menghampiri Daren.


"Tapi masih banyak ruang ditempat lain." Ucap Ega santai, Eva dan Ega lalu memeluk Daren. Daren terdiam beberapa detik lalu dia tersadar dan mulai memeluk kedua anaknya erat.


"Kalian anak-anak ayah." Lirih Daren mengecup kening Ega dan Eva bergantian.


"Sungguh ayah masih mengira ini mimpi, sudah lama sekali ayah tidak bisa memeluk anak-anak ayah tapi sekarang ayah bisa melakukannya. Ega, maafkan ayah tidak bisa menemukanmu padahal ayah sudah mengerahkan semua orang-orang ayah." Ega menarik dirinya.


"Tidak apa-apa yah, mungkin sejak awal memang Yuki yang bisa menemukanku." Ega memberikan senyum lembutnya kepada Daren.


"Eva?." Daren menoleh kepada putrinya bingung. Eva merinding mendengar Daren memanggil namanya dengan lembut. Apa ayah salah makan?, batin Eva.


"Sejak awal memang kakek sudah tahu dimana Ega berada tapi kakek tidak memberitahukannya kepada ayah jika ayah tahu semua rencana kakek bakal berantakan jadi kakek mempercayakan Eva untuk mencari Ega dengan bantuan-bantuan dari kakek yang sengaja ditinggalkan." Jelas Eva.


"Benarkah, ayah akan membuat semuanya jadi berantakan?." Ada nada kecewa dari suara Daren.


Diluar Daren memperlakukan Eva selama ini entah kenapa Eva merasa tidak tega melihat Daren kecewa dan menyalahkan diri sendiri.


"Ayah, bukannya kakek tidak percaya dengan ayah, buktinya kakek mempercayakan Eva kepada ayah untuk mendidik Eva sampai seperti ini agar Eva siap menerima dan menghadapi kenyataan keluarga kita. Semua sudah ada bagiannya masing-masing." Daren dan Ega menatap Eva tidak percaya yang ditatap jadi salah tingkah.


"Apa..?." Ega tiba-tiba tertawa lepas Daren hanya tersenyum melihat putrinya.


"Ayah kenapa sih?." Protes Eva.


"Kakakmu sama ayah baru sadar kalau kamu bisa berpikir dewasa juga dibalik sifat diammu itu." Eva menginjak kaki Ega sekuat tenaga.


"Argh!." Ega melotot sambil memegang kakinya yang diinjak Eva. Eva menjulurkan lidahnya mengejek, Ega mengejar Eva berusaha membalas perbuatan adiknya. Suara tawa kedua anak kembar itu menggema di dalam rumah besar itu.


Daren meneteskan air matanya. Kamu sudah kembali menjadi dirimu yang dulu, ayah harap kamu tetap seperti ini Eva, batin Daren.


Pasti sangat berat buatmu nak, memikul semuanya sendirian. Ega, ayah ingin membawa kalian pergi ke tempat yang jauh, tempat dimana hanya ada kita ber empat, ujar Daren dalam hati.


"Yuki! awas kamu kalau tertangkap." Seru Ega berusaha meraih Eva yang berlindung dibalik tubuh tinggi Daren.


"Coba saja, wlee..." Ega dibuat gemas oleh adiknya itu.


Ada yang luput dari mereka semua, seorang wanita berdiri dipojok ruangan tubuhnya terhalang guci besar yang sedari tadi melihat dan mendengarkan semua pembicaraan mereka. Tidak sadar Ayumi tersenyum manis melihat kelakuan kedua anak dan suaminya.


***


Semenjak Ega kembali ke rumah Daren memberikan kelas privat untuk mengejar ketertinggalannya. Seperti siang ini setelah pulang sekolah Ega sudah ditunggu oleh guru privat matematikanya.


"Yuki." Panggil Ega.


"Hm?."


"Kepalaku berasa ingin meledak." Ucap Ega menatap setumpuk soal dihadapannya.


"Jangan meledak disini kasihan gurunya." Jawab Eva melirik laki-laki paruh baya diseberang meja.


"Apa masih ada yang belum paham?." Tanya guru privat.


"Tidak pak, saya akan segera mengerjakannya." Jawab Ega melirik tangan Eva yang sibuk bergerak mengisi jawaban.


Duk.


"Apa yang kamu lakukan?." Tanya Eva karena Ega tiba-tiba membenturkan dahinya ke kepala Eva.


"Sedang mengunduh isi kepalamu." Eva menaikan satu alisnya.


"Hah?."


"Ssstt jangan berisik sedang proses pengunduhan." Eva menarik sudut bibirnya.


"Apa kamu perlu jam tambahan?." Ega menarik kepalanya menjauh.


"Tidak perlu, proses pengunduhan sukses." Eva melebarkan matanya tidak paham dengan tingkah kembarannya itu.


Bola mata Ega fokus menatap soal-soal itu tangannya mulai bergerak mengisi setiap jawaban Eva menggelengkan kepalanya seraya menyerahkan soal yang sudah selesai ia jawab kepada guru privat.


Ega hanya memiliki jam privat tidak dengan jam kursus. Eva tidak tahu kenapa Ega tidak diikutkan belajar dengan masternya Daren juga tidak mengatakan apa-apa membuat Eva tidak mempermasalahkannya.


Siang tadi adalah kelas privat terakhir diminggu ini sekarang adalah waktu bebas Ega dan Eva. Sudah lama Eva kembali kerumah dan sudah satu minggu ini dia masuk sekolah tapi Eva masih belum sempat bertemu lagi dengan Dimas. Lewat pesan singkat yang Eva kirimkan ia berjanji bertemu Dimas malam ini.


Eva sudah siap dengan penampilannya ia sudah tidak sabar ingin bertemu Dimas. Dengan langkah setengah berlari menuruni tangga Eva melirik jam yang melingkar dipergelangan tangannya.


"Ega..! besok jangan lupa aku mau ngajak kamu ke..." Kalimat Eva menggantung setelah melihat orang yang berdiri dianak tangga ternyata bukan saudara kembarnya. Kaki Eva menginjak tangga terakhir, laki-laki didepan Eva bergeming ditempatnya berdiri, suara Eva memecah lamunan laki-laki itu.


"Kamu ngapain disini?." Tanya Eva datar, Fathur mengangkat pundaknya acuh membuat mood Eva berubah kesal.


"Ternyata kalian berdua saudara kembar." Eva menatap Fathur.


"Kamu sudah tahu." Jawab Eva.


Eva sangat cantik malam ini dengan dress biru yang simpel ditambah rambutnya tergerai tertata rapih.


"Sesuatu yang dirampas darimu sesuatu yang kamu cari-cari selama ini adalah Ega." Eva mengedikkan bahunya.


"Aku tidak mendengar kabarmu lagi setelah kamu pergi malam itu." Eva memiringkan kepalanya tidak percaya Fathur akan mengatakan hal seperti itu, perlahan Eva meluruskan kembali kepalanya.


"Apa pedulimu." Bukan hanya peduli va tapi aku sangat peduli sama kamu, jawab Fathur dalam hati.


"Kamu masih kesal sama aku?." Eva lagi-lagi hanya mengedikkan bahu. Sikap dingin Eva membuat hati laki-laki itu terluka.


"Kalian berdua sudah saling kenal?." Ega keluar dari dapur membawa beberapa cemilan dan minuman membuat Eva memincingkan mata.


"Kenapa kamu yang bawa? emang nggak ada orang lain?." Tanya Eva.


"Hehe kasihan mbok Is kecapaian jadi aku maksa bawa ini sendiri, kamu belum jawab aku. Kalian sudah saling kenal?." Fathur diam menunggu jawaban dari Eva.


"Sudah." Jawab Eva datar, Ega mengangguk-anggukkan kepalanya paham.


"Kamu mau kemana kok rapih banget?." Ega menatap Eva dari atas sampai bawah.


"Mau keluar, besok jangan lupa aku mau ngajak kamu ke suatu tempat." Eva beranjak hendak pergi tapi Ega menghadangnya cepat.


"Keluar kemana?." Nih anak sama ayah sama saja, sama-sama over protective, batin Eva.


"Cuman ke cafe sebentar." Jawab Eva.


"Sama siapa?." Eva tersenyum manis menghadapi tingkah Ega.


"Sama orang lah masa sama lelembut." Fathur menahan tawanya mendengar jawaban Eva.


"Sama cowok ya, siapa dia?." Pertanyaan Ega membuat Fathur terperanjat menatap Eva.


"Namanya Dimas, sudah sesi tanya jawabnya? aku mau berangkat dulu." Eva berjalan melewati Ega, tangannya menarik daun pintu hingga terbuka.


"Kamu tega ninggalin aku malam minggu sendirian dirumah?." Seru Ega menghentikan langkah Eva. Eva memutar tubuhnya menatap Ega yang menaruh nampan cemilan diatas meja dengan wajah ditekuk, Ega menghempaskan tubuhnya ke sofa.


"Thur ayo duduk." Lirih Ega.


"Kamu nggak jadi pergi?." Tanya Ega senang.


"Bagaimana aku tega lihat muka kamu kayak gitu." Jawab Eva, Ega tersenyum lebar.


"Thanks, kamu memang adik yang baik." Ega mengacak-acak rambut Eva membuat gadis itu memanyunkan bibirnya kesal. Ada satu orang lagi yang merasa senang Eva tidak jadi pergi dengan Dimas, mereka kini tidak satu kelas lagi itu pertama kalinya selama empat tahun mereka pisah kelas.


"Kamu lagi ngapain?." Eva menyandarkan punggungnya ke sofa.


"Mau ngerjain tugas kelompok biologi." Jelas Ega.


"Kerjain bagian kamu saja terus kumpulin jadi nggak usah repot-repot kelompokkan." Eva melipat kedua tangannya.


"Nggak bisa kayak gitu nanti kalau ada kesalahan waktu presentasi bagaimana?." Jawab Ega.


"Tinggal kamu ikutin saja." Ega meletakkan buku cetak biologinya dipangkuan Eva.


"Iya nona jenius, ayo bantuin aku." Eva menatap Fathur yang duduk diseberang meja.


"Tidak mau, yang satu kelompok sama kamu kan Fathur." Fathur membuka buku miliknya.


"Lagian kamu ngundang orang kerumah nggak bilang-bilang." Ega menatap saudara kembarnya yang sedang kesal itu. Fathur merasa tidak enak sendiri.


"Kenapa kalau aku ngundang orang?." Tanya Ega. Eva memutar bola matanya.


"Itu hal baru dirumah ini, kalau kamu bilang dulu aku kan jadi tidak kaget."


"Maaf." Fathur melirik Eva tidak enak.


"Tunggu, emang tidak pernah ada yang main kerumah?." Ega masih penasaran.


"Dia yang pertama kali." Fathur kaget dengan jawaban Eva begitu juga dengan Ega.


"Rumah sebesar ini tidak pernah ada orang yang mengunjunginya, rekan kerja ayah sekali pun?." Ega masih tidak paham dengan kebiasaan penghuni rumah ini.


"Ayah saja jarang pulang apa lagi kunjungan rekan kerja."


"Teman-temanmu?." Tanya Ega, Eva hanya tersenyum manis mendengar pertanyaan Ega.


"Karena untuk pertama kalinya rumah ini mendapat tamu ayo kita rayakan." Tanpa mendengar jawaban dari Ega Eva sudah memanggil mbok Is dan pelayan lainnya untuk menyiapakan berbagai macam makanan yang disebutkan olehnya.


Sejak Ega masuk sekolah dia sudah memiliki banyak teman karena kepribadiannya yang hangat dan mudah berbaur dengan orang lain, dari teman-temannya Ega mengorek informasi tentang kembarannya itu. Eva mahluk super dingin yang tidak pernah membuka suaranya, tidak peduli dengan orang disekitarnya, sorot mata malas yang terkadang tajam lalu sikap dingin dan acuhnya membuat orang segan untuk mendekatinya namun kecantikan alami yang dia miliki kecerdasan otaknya serta status orang tua membuat dia menjadi sorotan disekolah. Ega juga mendengar kalau akhir-akhir ini Eva mulai berubah semenjak dirinya kembali.


Ketiga remaja diruang tengah itu terkapar lemah buku-buku yang seharusnya mereka pelajari teronggok di lantai tak tersentuh.


"Kamu badan kecil makannya banyak juga." Ucap Ega.


"Biasanya yang kecil-kecil tuh ngabis-ngabisin." Srobot Fathur.


"Aku setuju." Ega mengacungkan jari telunjuknya, Eva melotot kepada Fathur membuat dua laki-laki itu tertawa keras.


Keesokan harinya Eva sudah berdiri didepan rumah yang sangat ingin ia kunjungi.


"Ini rumah siapa?." Tanya Ega pandangannya menyapu halaman rumah sederhana itu.


"Kamu akan tahu nanti." Eva sudah tidak sabat ingin segera masuk.


"Ega..?." Fathur menghampiri mereka nafasnya naik turun, Fathur memakai kaos biru dan celana training.


"Wah pola hidup sehat ya." Ledek Ega melihat tubuh temannya dipenuhi keringat.


"Bisa saja kamu, ngomong-ngomong mau pada kemana?." Ega menunjuk rumah didepannya.


"Aku diajak kesini sama Eva, katanya dia mau ngenalin aku sama seseorang." Fathur sontak menatap Eva tidak percaya.


"Lihat apa kamu?." Ucap Eva datar, Fathur tersadar lalu dia tersenyum kikuk.


"Ini rumahku, ayo masuk." Gantian Ega yang menatap Eva tidak percaya.


"Ayo." Ajak Eva kepada Ega.


Mereka masuk kedalam rumah sederhana itu tatanan rumah masih sama seperti terakhir Eva lihat, seorang wanita paruh baya keluar dari arah dapur.


"Fathur kamu sudah pulang?." Eva tidak bisa menahan dirinya lagi dia berlari menghambur ke pelukkan wanita paruh baya itu.


"Ibu!." Seru Eva riang, tante Dila kaget tiba-tiba ada yang menerjang lalu memeluknya erat.


" Eva ini kamu nak?." Eva mendongakkan kepalanya lalu tersenyum manis.


"Iya bu, ini Eva. Eva kangen ibu." Eva kembali mempererat pelukkannya, tante Dila membalas pelukkan Eva tidak kalah eratnya.


"Kamu selamat nak?." Eva mengangguk dalam pelukkan tante Dila.


Eva merindukan pelukkan hangat wanita yang sudah dianggapnya sebagai ibu itu, pelukkan yang tidak ia dapatkan dari Ayumi ibu kandungnya.


"Bagaimana keadaanmu?." Tante Dila mengecup pangkal kepala Eva lalu melepas pelukkannya.


"Baik bu, bagaimana dengan ibu?." Eva enggan melepaskan pelukkannya alhasil tante Dila mendapatkan pelukkan hangat Eva kembali.


"Tentu saja ibu sangat khawatir sampai susah tidur." Setelah Eva puas memeluk tante Dila dia menarik dirinya.


Kedua laki-laki itu berdiri diam.


"Ibu? aku kira kita saudara kembar?." Tanya Ega kepada Fathur, Fathur melirik Ega yang tidak berkedip melihat pemandangan didepan matanya.


"Eva memang sudah lama menganggap ibuku seperti ibunya, ibu juga menganggap Eva sebagai putrinya." Jelas Fathur.


"Kamu tahu thur, selama aku dirumah aku tidak pernah melihat Eva berbicara dengan ibu, jangankan bicara menatap matanya saja tidak pernah nah ini... sama ibumu malah pelukkan tidak mau lepas, dan yang aku tahu Eva bertingkah manja cuman sama aku tapi kok ini, aku tidak habis pikir." Selusin pertanyaan berputar-putar di dalam kepala Ega.


"Kamu serius?." Fathur tidak kalah kaget.


"Eva tidak pernah cerita sama kamu?." Tanya Ega tidak percaya.


"Dia tidak pernah cerita sama siapa pun kalau pun dia bicara itu juga hal yang dianggapnya perlu." Jelas Fathur.


"Separah itu ya." Gumam Ega lirih.


Eva menarik tangan tante Dila menghampiri saudara kembarnya.


"Ibu kenalin ini Ega saudara kembar Eva." Tante Dila terperanjat mendengar pengakuan Eva.


"Kamu hutang penjelasan sama ibu nanti." Eva tersenyum manis, tangan Fathur memegang dadanya takut jantungnya copot kalau terus-terusan melihat senyum manis Eva. Tante Dila menghampiri Ega.


"Kalian lumayan mirip siapa namamu nak?."


Ega melihat wanita paruh baya didepannya memakai kaos panjang berwarna coklat dengan rok abu-abu selutut, wajahnya masih kelihatan muda senyumnya menghangatkan tatapan matanya juga teduh mirip Fathur pantas saja Eva sangat lengket dengannya aura yang terpancar dari wanita itu sangat menenangkan, Ega tersenyum ramah.


"Ega tante." Tante Dila menarik Ega kedalam pelukkannya.


"Ega, selamat datang kembali." Ucap tante Dila Ega tersenyum lembut.


"Kalian sudah sarapan?." Tante Dila melepas pelukkannya.


"Belum tante." Ega yang sedari tadi menahan rasa laparnya pun angkat bicara.


"Ayo kita sarapan dulu." Tante Dila berjalan kearah dapur diikuti Eva.


"Eh, emang nggak apa-apa?." Tanya Ega kepada Fathur.


"Nggak apa-apa kok Eva juga sudah biasa." Fathur berjalan meninggalkan Ega yang bengong.


Eva sudah biasa? sebenarnya sudah sedekat apa kembarannya dengan keluarga ini? tapi tingkahnya ke Fathur acuh tak acuh, batin Ega.