
"Tante dengar dihari itu kamu akan memberikan putra tante jawaban perasaanmu. Dia selalu bercerita kepada tante tentang dirimu dan setiap momen penting atau menarik bersamamu." Ucap Adel panjang. Eva berusaha mengontrol emosi didalam hatinya.
"Hm."
"Boleh tante usap rambutmu Eva?." Izin Adel.
"Hm." Jari Adel terangkat mulai mengusap-usap surai panjang Eva.
"Kamu sangat cantik." Lirih Adel menggeleng pelan.
"Terlalu cantik." Adel tersenyum tipis.
"Jadi kenapa kamu memakai baju berwarna putih Eva? apakah kamu belum bisa mengikhlaskannya?." Tanya Adel kembali.
"Aku." Jawab Eva menggantung.
"Saat kami mendengar kabar bahwa kamu terus mengurung diri setelah kejadian itu, aku dan suamiku sangat merasa bersalah kepada pak Daren." Kata Adel.
Jangan, jangan. Kalian tidak boleh merasa bersalah kepada ayahku karena.., karena akulah yang seharusnya merasa bersalah kepada kalian, batin Eva berusaha mengatur emosinya agar tetap stabil.
"Jika saja aku tahu lebih awal jika putraku menaruh hati kepada putri presdir aku akan melarangnya untuk mendekatimu, agar suamiku tidak merasa canggung atau pun merasa bersalah kepada pak Daren."
Apa ini maksudnya?, batin Eva.
"Apakah tante menyesalinya?." Tanya Eva.
"Tentu saja tidak." Jawab tegas Adel.
"Melihat betapa tulusnya Dimas menyayangimu, betapa bersemangatnya dia saat berusaha membuatmu berbicara, dan saat mendengar betapa seriusnya perasaan Dimas padamu. Aku sebagai ibunya sangat bangga." Lanjut Adel.
"Dan ketika kalian semakin dekat hatiku pun ikut merasa bahagia." Imbuh Adel.
"Apakah ayah mengatakan sesuatu kepada kalian?." Eva merasa curiga.
"Maaf, seharusnya aku lebih mengajari Dimas lagi." Adel meneteskan air matanya yang jatuh diatas kepala Eva.
"Tolong maafkan kesalahanku dan ucapan ayahku." Eva menunduk.
"Kamu tidak bersalah Eva, kami yang tidak tahu diri melupakan hal yang sangat penting." Ucap Adel buru-buru.
Tidak! akulah yang salah, aku yang membuatnya pergi, akulah pembunuhnya, batin Eva.
"Gadis yang putra kami sukai adalah pewaris tunggal dari pengusaha besar membuatnya sedih dan mengacaukan pekerjaannya membuat kami sangat merasa bersalah." Adel ikut menundukkan kepalanya.
Ayah..., batin Eva geram.
"Maaf." Suara Adel bergetar, Eva meraih tangan Adel diatas kepalanya meremasnya pelan.
"Aku adalah gadis bodoh yang terlambat mengetahui perasaanku sendiri membuatnya menunggu terlalu lama. Dia laki-laki yang tetap lembut saat menghadapi sifat dinginku, laki-laki yang," Eva kembali menggantung kalimatnya menoleh menatap Adel.
"Aku menyukainya." Eva menahan air mata agar tidak jatuh. Adel tersenyum senang melihat ketulusan terpancar dari manik biru indah itu.
"Aku tidak akan memakai baju berwarna hitam untuk menemui kak Dimas, aku tidak mau dia melihatku sedang berduka bersedih karena tidak bisa mengikhlaskannya pergi. Aku ingin dia melihat betapa tulusnya perasaan kita betapa aku sangat bersyukur bertemu dan memiliki perasaannya." Jelas Eva.
"Terima kasih." Adel memeluk Eva.
"Aku akan memberikanmu waktu sebentar, bukalah laci meja." Adel melepas pelukkannya berjalan keluar kamar tidak lupa menutup kamar itu memberikan waktu Eva untuk sendiri dikamar mendiang putranya.
Setelah pintu tertutup jari Eva menarik laci meja melihat buku besar berwarna biru tua disana mengambilnya perlahan lalu menutup laci kembali. Eva terdiam menatap sampul buku yang polos. Haruskah aku membukanya?, batin Eva.
Karena rasa penasaran yang tinggi Eva mulai membuka sampul buku ia mendapati kertas polos bersih, rupanya itu sebuah buku sketsa. Eva kembali membuka lembar kedua masih polos sampai ke lembar kelima ia mendapati sebuah lukisan gadis berdiri ditengah-tengah gerbang dengan beberapa rambut yang menutupi wajahnya karena sanggul yang longgar.
Eva mengamati setiap goresan pensil Dimas, menelusurinya dengan jari.
"Apa ini, kamu bisa melukis sebaik ini." Lirih Eva tersenyum. Setelah puas dengan lukisan pertama Eva membuka lembar berikutnya.
Sebuah lukisan didalam cafe yang sepi, seorang gadis dengan wajah malas mengangkat teleponnya dengan dagu ditaruh ditangan. Lembar berikutnya berisi wajah gadis yang sama hingga entah dilembar keberapa Eva tersenyum, lukisan dengan beberapa anak laki-laki didepan kelas salah satu diantara mereka menunjuk seorang gadis yang menatap keluar jendela mengingatkan Eva saat pertama kalinya Dimas mengungkapkan perasaannya dengan lantang. Mulai dari lembar itu lukisannya berubah yang awalnya si perempuan sendiri kini ada seorang laki-laki yang bersamanya.
Lembar berikutnya, dibawah langit malam dengan sinar bulan purnama yang terang ditambah ribuan bintang, dua orang berlainan jenis itu berdiri berjauhan si perempuan menatap langit sedangkan si pria menatap wajah si perempuan dengan senyum kecil menghiasi wajahnya. Eva terus fokus dengan buku sketsa Dimas hingga berhenti di akhir-akhir halaman.
Sebuah paragraf tertulis ditengah-tengah buku.
Aku seperti orang bodoh yang tidak bisa melukiskan perasaanku tidak bisa mengungkapkannya dengan kata-kata, jika aku mengatakan padanya aku mencintainya bukankah itu terlihat lebih bodoh:_( dengan usiaku aku masih tidak pantas mengatakan kata-kata sedalam itu, dia pasti meragukanku. Aku akan mengikrarkan janji suci untuk membuktikannya tapi aku tidak bisa menahan perasaanku terlalu lama, lima tahun. Lima tahun lagi aku akan membuat diriku pantas dihadapan ayahnya.
Paragraf itu berakhir, Eva menengadah keatas menahan agar air matanya tidak jatuh lalu membuka lembar berikutnya. Sebuah paragraf kembali tertulis dikertas itu.
Aku takut kehilangannya, melihat betapa menakutkannya mata para pria menatap dia, sifat egois manusia mulai tumbuh didiriku. Aku sudah sering melihat para pria menatapnya seperti itu tapi entah kenapa saat melihat pria yang lebih dewasa dan mapan dibanding diriku menatapnya seperti itu membuatku sangat marah aku takut, aku ingin memilikinya meskipun hanya status diantara kita berdua dan belum diakui oleh negara. Mungkin perasaan egoisku yang ini masuk kedalam pengecualian.
Eva tersipu malu membaca ungkapan rasa cemburu Dimas didalam tulisan itu, Eva melanjutkan membaca.
Dia mulai dingin lagi kepadaku, saat itu aku merasa nyawaku diujung tanduk. Berusaha tetap tenang mencegahnya pergi, aku bersyukur keberuntungan memihakku kalimatku menghentikannya untuk pergi tentu saja aku senang tapi yang lebih membuatku merasa senang adalah dia cemburu. Wajahnya saat cemburu sangat lucu, menggemaskan. Dia memang wanita yang berbahaya, wanita yang aku cintai. My future wife.
Eva menggigit bibir bawahnya berusaha untuk tidak meloloskan air mata yang memberontak ingin keluar. Dengan perlahan ia membuka lembar terakhir.
Sebuah lukisan ditengah taman, gadis ditengah anak-anak kecil sedang tertawa lepas dengan mata yang membentuk bulan sabit garis wajah yang manis namun tetap anggun terlukiskan dengan sangat apik.
Apakah wajahku seperti ini saat tertawa?, batin Eva matanya menangkap beberapa larik kecil dibawah pojok kanan kertas.
Bunga tidak mampu melukiskan indahmu, matahari tidak sanggup menahan sinar terangmu, rembulan tidak sanggup mewakilkan keanggunanmu. Kau seperti aurora dimalam yang gelap, menampakkan keindahan, kecantikan, gelombang terang, keanggunan, dan misterius didalam satu waktu.
Aku akan berusaha untuk bisa bersanding denganmu Va.*
Eva menunduk ia tidak sanggup menahan air matanya. Eva merasa sekan Dimas memanggilnya saat ia membaca tulisan terakhir. Suara dalam dan rendah itu terngiang-ngiang ditelinga Eva.
Cukup lama Eva menangis ia teringat janji dengan saudara kembarnya perlahan Eva menghapus air matanya lalu membuka lembar depan buku meraih pensil didalam kotak pensil yang ada diatas meja menggoreskan garis demi garis dengan lembut diatas kertas putih itu, lembar berikutnya pun sama sampai dihalaman ke tiga. Pada lembar ke empat ia menuliskan sebuah paragraf panjang ia menutup buku menatapnya lamat-lamat, memeluknya erat dan memasukkannya kembali kedalam laci meja.
Eva berdiri menyapu setiap inci kamar itu sebelum pergi meninggalkannya. Diluar kamar sepi mungkin Adel sudah turun ke lantai satu Eva perlahan menuruni tangga. Suara teriakan Eri dan tawa Ello menggema masuk kedalam telinga Eva ia melihat betapa akrabnya Ega dengan kedua anak itu. Mereka bermain bersama, Ega mengejar Ello dengan tubuh Eri dipunggungnya.
"Kuda... Serraaanggg." Seru Eri mengacungkan jarinya menunjuk Ello, Ega bergegas merangkak mengejar Ello.
"Hahaa kalian tidak akan bisa menangkapku." Seru Ello mengejek sambil berlari kecil.
"Tuan putri Eri sepertinya kita harus menggunakan kekuatan rahasia kita." Kata Ega menghayati perannya.
"Baik kuda." Eva menahan senyumnya mendengar Ega dipanggil kuda oleh anak kecil itu.
Tidak jauh dari sana terlihat kedua orang tua Dimas duduk bersebelahan saling menggenggam menatap anak-anak mereka yang asik bermain namun raut wajah mereka bukannya senang tapi lebih seperti sedih dan terharu.
"Siap?." Seru Ega memberi aba-aba.
"Seraaangg." Ucap Ega dan Eri bersama. Ega tiba-tiba berdiri mengejar Ello dengan tangan kiri memegang tubuh Eri agar tidak terjatuh dan tangan kanan berusaha meraih Ello, Ello pun kaget ia berlari kalang-kabut.
"Sudah selesai?, maaf tante turun lebih dulu." Ucap Adel melihat Eva sudah berdiri di anak tangga.
"Tidak apa-apa, aku tidak tahu mereka bisa seakrab itu." Ujar Eva masih menatap tiga orang yang sibuk kejar-kejaran.
"Mungkin mereka mengingat mendiang kakaknya saat melihat saudara sepupumu." Eva sedikit mengangkat alisnya yang tidak diketahui Adel dan Rio.
Rupanya kak Dimas tidak bercerita tentang Ega kepada ibunya dan Ega pasti menyadari itu sampai dia memperkenalkan diri sebagai saudara sepupuku bukan saudara kembarku, batin Eva. Ega melihat Eva ia berlari kearahnya.
"Sudah selesai?." Tanya Ega, Eva hanya mengangguk pelan.
"Mau pulang?." Eva kembali mengangguk.
"Tuan putri sepertinya kuda harus kembali ke pemilik aslinya." Ujar Ega lembut menoleh kebelakang, Ello berlari menghampiri mereka.
"Dek lepaskan, kak Ega harus pulang, naik ke punggung kak El saja ayo." Ello berusaha melepas tangan Eri dari baju Ega.
"Eri masih mau bermain, kak Dimas kapan pulang sih?." Rutuk Eri dengan pipi chubbynya.
Deg. Hening.
"Kak Dimas masih sibuk sekolah nanti juga pulang, makannya dek kamu jangan nakal biar pas kak Dimas pulang langsung main sama kita." Ello yang selalu menjahili adiknya itu kini berubah drastis ia tiba-tiba menjadi lebih dewasa karena ditinggal sang kakak bahkan kedua orang tuanya tidak bisa menjawab pertanyaan anak bungsunya tapi Ello dengan tenang memberi pengertian kepada adiknya.
"Eri nggak mau nakal." Kata gadis kecil itu melepas genggamannya lalu mengulurkan kedua tangannya kepada Ello. Ega perlahan menurunkan Eri.
"Terima kasih kak." Ucap Eri tersenyum lucu.
"Sama-sama." Ega mengacak lembut surai Eri.
"Kamu kakak yang keren, jaga adikmu baik-baik, tapi kamu tidak boleh menganggap semuanya adalah tanggung jawabmu. Berbagilah dengan kedua orang tuamu, kamu masih harus tumbuh dan jadilah laki-laki yang lebih keren melebihi kakakmu." Kata Ega tenang dengan kharismanya, kata-kata Ega menyentuh hati Ello anak laki-laki itu menangis memeluk Ega, Ega berlutut mensejajarkan tingginya.
"Setiap manusia pasti kehilangan, setiap manusia juga pasti akan pergi, bersedihlah saat hatimu sakit dan berhenti ketika sudah cukup. Kenangan indah bersama orang terkasih akan menghibur hati kita yang terluka, saat kamu merasa rindu padanya putar kembali kenangan itu untuk melepas rasa rindumu dan mengisi kekosongan hati. Jangan kamu hindari, menghadapi tidak terlalu menyakitkan itu akan membuatmu lebih tenang." Kalimat panjang dari Ega menyentil hati Adel, Rio, Eva dan terutama Ello.
"Terima kasih, aku tidak akan berusaha menggantikan posisi kak Dimas lagi." Ucap Ello menghapus air matanya.
"Aku akan menjadi diriku sendiri, menjadi seorang kakak yang bisa diandalkan." Lanjut Ello.
"Kamu akan menjadi laki-laki hebat saat besar nanti Ello." Ega mengelus pelan kepala Ello.
***
Didalam mobil Eva terus diam sesekali ia menjawab pertanyaan Ega sampai mobil tiba-tiba berhenti membuat Eva menaikan satu alisnya karena mereka berhenti di kompleks yang Eva tidak kenali.
"Apa yang mengganggu pikiranmu?." Tanya Ega menatap lurus kedepan.
"Tidak ada." Jawab Eva sekenanya.
"Apa yang kamu lihat dikamar Dimas?." Eva melirik Ega.
"Lukisan, dia melukis kenangan kita berdua."
"Hanya itu?." Tanya Ega penuh selidik.
"Hm."
"Jadi, apa yang mengganggumu?." Tanya Ega kembali.
Eva memalingkan wajahnya ke jendela mobil menghindari tatapan Ega.
"Aku ingin mencari otak dari kejadian ini." Hening.
"Apa kamu pikir kasus ini ada hubungannya dengan kita." Ucap Ega.
"Tentu, Dimas adalah laki-laki yang dekat denganku. Untuk gadis bau kencur sepertiku Dimas adalah umpan yang tepat." Ega tertawa membuat Eva menoleh kepadanya.
"Hahaha kamu sadar ternyata." Ega masih terus tertawa.
"Apa?."
"Sadar masih bau kencur kalau berhubungan dengan asmara haha." Eva melayangkan pukulannya dipangkal lengan Ega.
"Argh! hahaha." Ega kesakitan tapi tidak menghentikan tawanya.
"Kayak kamu tidak." Eva mencubit keras pipi Ega namun Ega dengan cekatan menjauhkan pipinya dari tangan Eva.
"Aku selalu tegas dengan perasaanku selain itu, jangan menyakiti dirimu." Ega mengelus lembut pipi Eva yang sama dengan pipinya yang habis dicubit Eva. Eva menatap dalam mata Ega.
"Ga." Panggil Eva lembut.
"Hm?." Ega menarik tangannya membalas tatapan Eva dengan lembut.
"Aku lapar." Ega tersenyum.
"Karena itu kita kesini." Eva menaikan satu alisnya.
"Tidak ada restoran disini." Ucap Eva.
"Kamu sampai lupa dengan jalan rumah ibumu?." Kata Ega sedikit mengejek. Eva menatap sekitar lebih teliti ia menoleh cepat kepada Ega setelah memahami sesuatu.
"Aku malu bertemu dengannya." Lirih Eva.
"Malu sama Fathur?." Eva memutar bola matanya malas.
"Kita pulang ya, jangan sekarang menemuinya." Ajak Eva.
"Tadi malam kan kalian satu kamar kenapa harus malu." Eva mencubit lalu memelintir lengan Ega dengan kuat.
"Jangan menggodaku terus."
"Aaww iyya.., argh!. Ampun." Akhirnya Eva melepas cubitannya.
"Kekuatan orang lapar memang mengerikan." Celetuk Ega yang mendapat hadiah tatapan laser dari Eva.
"Ehem!." Ega berdeham untuk mencairkan suasana.
"Aku perlu berbicara dengan Fathur." Kata Ega.
"Besok saja kalau tidak telephon dia." Jawab Eva.
"Sepertinya pangeran gagah kita sudah datang." Ucap Ega, Eva menoleh kedepan mendapati Fathur berjalan kearah mobil mereka.
"Ga pulang."
"Tunggu sebentar tidak lama kok." Ega melepas sabuk pengamannya.
"Ga aku lapar." Eva berusaha menahan Ega.
"Iya sebentar ya dek kakak ada urusan penting." Ucap Ega dengan nada lembut sekaligus manja membuat Eva merinding jij*k. Eva melirik Fathur yang sudah berdiri didepan mobil.
"Bukankah dia terlihat gagah." Ega berbisik disamping telinga Eva lalu kabur keluar mobil dengan cepat sebelum mendapat pukulan atau cubitan dari adiknya yang sedang kesal.
Eva menatap lurus kedepan melihat kembarannya sedang mengobrol lama dengan temannya. Entah apa yang mereka bicarakan Eva tidak dapat mendengarnya dari dalam mobil.
"Sorry, Yuki belum siap bertemu dengan tante Dila, sepertinya dia masih malu dengan kelakuannya beberapa hari belakangan." Ucap Ega.
"Tidak masalah nanti aku sampaikan kepada ibu." Jawab Fathur.
"Haruskah aku tetap merahasiakan pesan itu dan mencegah Yuki mengetahuinya?."
"Tidak, itu ide buruk. Dia dengan cepat akan mendapatkan apa yang ia inginkan, Eva orangnya seperti itu." Tolak Fathur.
"Kamu benar, aku akan menunjukkannya nanti, aku pulang dulu thur sampai besok." Pamit Ega.
"Apa dia baik-baik saja tadi?." Tanya Fathur buru-buru.
"Yuki baik-baik saja bahkan kami bertemu dengan keluarga Dimas." Fathur terlihat terkejut.
"Kamu tidak perlu khawatir, dia bukan gadis lemah, mungkin tidak selemah itu hahaa." Ega teringat saat Eva terus mengurung diri.
"Aku pulang." Lanjut Ega.
"Hati-hati."