
Tiga puluh menit berlalu Daren dan Eva sedang duduk dimeja makan mewah bersama dengan keluarga Choi yang terlihat sangat bersemangat dengan acara makan malam ini.
"Nyonya Ayumi tidak datang?." Tanya pak Choi.
"Istri saya tidak ikut ke korea dia sedang tidak enak badan." Alasan klise dari Daren.
"Sayang sekali, saya telah berharap nyonya Ayumi ikut makan bersama kita." Kata istri pak Choi yang duduk disebelah suaminya.
"Saya minta maaf telah mengecewakan anda nyonya Choi." Kata Daren.
"Semoga nyonya Ayumi segera sembuh dan bisa melakukan aktivitasnya kembali." Kata pak Choi.
"Terima kasih atas perhatiannya."
"Ouh, apakah ini putri anda pak Daren?." Tanya istri pak Choi. Daren tersenyum melirik Eva.
"Benar nyonya, ayo perkenalkan dirimu." Eva membungkuk memperkenalkan diri dengan gaya khasnya.
"Annyeonghaseo Eva imnida." Eva menampilkan senyum yang dia buat-buat.
"Omo, cantik sekali.. Aku merasa menjadi orang yang sangat beruntung bisa melihat langsung wajah putri pak Daren." Bola mata istri pak Choi berbinar, bibirnya tersenyum lebar seakan mendapatkan barang limited edition.
"Kau tahu Eva, banyak orang diluar sana penasaran ingin melihat wajahmu, media juga berusaha keras mencari informasi tentang dirimu dan sekarang kamu duduk dihadapan kami bukankah kami sangat beruntung, benarkan Hana." Kata istri pak Choi panjang lebar seraya meminta persetujuan putrinya yang duduk disampingnya.
"Ne omma, bolehkah aku meminta fotomu? aku akan memamerkannya kepada teman-teman di kampus." Hana putri pak Choi itu dengan sigap mengeluarkan ponselnya.
"Maaf tapi kami tidak bisa memberikan yang satu itu, belum saatnya Eva diketahui publik untuk keamanannya, semoga anda mengerti nona muda." Tolak Daren secara halus menghapus raut wajah bahagia anak dan ibu itu.
"Tidak apa-apa kita bisa foto bersama suatu saat nanti." Istri pak Choi mengelus pelan tangan putrinya. Eva menatap getir pemandangan didepan matanya.
Begitu ya, cara seorang ibu menenangkan anaknya, batin Eva menatap tangannya sendiri.
Daren dan pak Choi mulai tenggelam dengan obrolan mereka, istri pak Choi dan putrinya mulai membom Eva dengan pertanyaan-pertanyaan membuat yang ditanya menahan rasa kesal dan berusaha untuk mengalihkan perhatian mereka jika memasuki hal yang bersifat pribadi.
"Waahh tasmu bagus sekali bukankah ini keluaran terbaru bulan ini? bagaimana kamu bisa mendapatkannya?." Hana menatap tas merah Eva dengan sorot mata memuja.
"Aku hanya beruntung mendapatkannya." Jawab Eva singkat, padahal sepatu, tas, jam tangan, dan accessories mewah milik Eva Ronggo yang membelinya tentu saja bukan dengan gaji Ronggo tapi dengan kartu yang Daren berikan kepadanya untuk membeli kebutuhan Eva yang tidak sempat Eva beli sendiri karena terlalu sibuk.
"Aku pergi jauh-jauh ke paris untuk membeli tas itu tapi mereka bilang semuanya sudah terjual habis dalam waktu dua puluh jam membuatku ingin meratakan toko itu." Geram Hana membayangkan kejadian saat itu.
Dia tipe orang yang sangat aku hindari, semoga acara ini cepat selesai aku tidak punya waktu untuk melayani tuan putri manja seperti dia, batin Eva.
"Hana bukankah besok kamu libur kenapa tidak mengajak Eva pergi berbelanja." Istri pak Choi mngedipkan sebelah matanya kepada Hana dan tersenyum misterius.
Apa lagi sekarang?, batin Eva tidak tenang.
"Omma benar, Eva si bagaimana kalau besok kita jalan-jalan ke mall-mall di seoul kebetulan bulan ini aku juga belum sempat berbelanja." Ucap Hana tersenyum lebar.
Apa tidak ada yang lain didalam pikirkannya selain belanja dan jalan-jalan, batin Eva.
"Maaf besok dan tiga hari kedepan aku sudah ada janji." Tolak Eva berharap mereka berhenti mengganggunya.
"Ouh sayang sekali, apa kau tidak bisa membatalkan janjimu untuk satu hari?." Tanya Hana.
"Maaf tidak bisa."
"Kalau begitu hari ke lima tidak apa-apa kan?." Istri pak Choi menatap Eva memaksa. Kenapa mereka ngotot sekali sih, Eva mulai kehabisan kesabaran.
"Hari kelima aku kembali ke indonesia."
"Udah ditunda saja kan cuman satu hari." Hana mengangguk setuju dengan ibunya.
"Maaf tapi aku sudah lama absen sekolah." Ibu dan anak itu menghembuskan nafas berat mereka kecewa.
"Lupakan itu, kita bisa jalan kapan-kapan. Ngomong-ngomong kamu sudah punya pacar?." Hana berusaha membuka obrolan lagi dia tidak membiarkan Eva diam barang semenit pun.
"Tidak." Padahal sejak tadi Eva hanya menjawab pertanyaan mereka dengan singkat dan datar tapi mereka tetap bersikukuh membuatnya bicara.
"Kenapa? apakah cowok di indonesia jelek-jelek?." Tanya Hana tanpa ba bi bu.
"Aku tidak terlalu memperhatikan mereka."
"Aku punya teman dia sangat tampan sepertinya kalian akan cocok, dia juga anak dari salah satu pengusaha besar loh aku akan mengenalkan kalian." Kata Hana memutuskan sebelah pihak.
"Terima kasih tapi aku tidak tertarik." Sedikit membuatku kerepotan hah? ini sangat merepotkan ayah, batin Eva teringat ucapan Daren ditaman tadi.
"Oh iya kita belum bertukar nomor." Hana mengetik sesuatu diponselnya.
"Maaf tapi aku tidak memakai ponsel." Kata Eva berbohong.
"Bagaimana bisa?." Tanya Hana kaget.
"Aku tidak memerlukannya." Aku tidak akan membiarkanmu mengusik hidupku nenek sihir, ucap Eva dalam hati.
"Semua orang pasti memerlukan ponsel Eva si."
"Ada pengawal yang selalu bersamaku dan, aku menghubungi ayah meggunakan telepon rumah jadi aku tidak memerlukan ponsel." Tiba-tiba Hana memberikan ponselnya tepat ditelapak tangan Eva menggenggamnya erat.
"Pakai ponselku, aku akan beli yang baru. Bukankah pak Daren sangat kaya, membelikan ponsel untuk anaknya masa tidak sanggup." Bola mataku melebar tidak percaya dengan apa yang terjadi.
"Tas limited edition yang tidak bisa aku dapatkan kamu bisa membelinya tapi kenapa tidak dengan benda murahan ini." Boom!kesabaran Eva meledak, Eva sungguh ingin berkata pedas seperti yang biasa dia lakukan tapi karena mengingat bawa ayah Hana adalah mitra kerja ayahnya yang setia dan loyal Eva menahan dirinya sejak awal.
"Terima kasih atas pujiannya nona Hana aku tidak bisa menerima benda murahan ini." Eva tersenyum manis yang dia buat sesempurna mungkin mendorong tangan Hana dan ponselnya keseberang meja.
Aku tidak sanggup lagi berada disini, batin Eva menatap dingin Daren disampingnya. Daren yang merasakan tatapan dingin Eva segera mengakhiri acara makan itu.
Keluarga Choi sudah meninggalkan restoran sepuluh menit yang lalu, kini tinggal Eva dan Daren duduk diam sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Aku tidak akan pernah ikut acara makan malam lagi." Gumam Eva yang masih terdengar oleh telinga Daren.
"Kamu harus terbiasa, kamu tidak bisa menghindarinya entah makan malam atau makan siang bahkan sarapan sekalipun." Kata Daren, aku bisa gila.., dua kali acara makan malam saja membuatku hampir meledak, batin Eva.
"Kerja bagus, kamu sudah menahan diri." Eva mengacuhkan Daren.
"Ayah ingin membahas sedikit tentang kejadian tadi siang diperusahaan denganmu sebelum ayah berangkat." Eva meminum lemon hangatnya yang baru dia pesan lima menit yang lalu.
"Hm."
"Kenapa tiba-tiba kamu mengambil alih proyek baru tim marketing?."
"Style Mode Grup perusahaan yang menyewa hacker berbakat itu akan melaunchingkan produk mereka diwaktu yang sama dengan pelaunchingan produk baru kita. Aku ingin memberi mereka pelajaran, aku tidak akan kalah." Kata Eva penuh keyakinan. Daren tersenyum simpul yang tidak sengaja tertangkap sepasang mata biru muda.
"Are you happy dad? see your doll working hard? (Apa ayah senang? melihat bonekamu bekerja keras?)."Eva menaikkan satu alisnya.
"Apa kamu ingin berhenti?." Tanya Daren.
"Ayah tidak akan membiarkanku berhenti begitu saja. Apa yang harus aku bayar untuk itu?."
"You must have known. (Kamu pasti sudah tahu.)" Daren menatap manik biru Eva yang tertutup lensa hitam, beberapa menit kedua pemilik mata biru itu saling menatap.
"Apa ayah benar-benar ingin mengambil kebebasanku?."
"Ya, itu tergantung kamu Eva." Eva sedikit tersentak saat mendengar Daren menyebut namanya, Daren tidak pernah menyebut nama Eva selain didepan orang lain dan jika itu terjadi artinya Daren sedang dalam mode sangat serius atau marah.
"Aku ingin pulang, pekerjaanku masih banyak."Lirih Eva, mengambil kebebasanku hah? dan ayah menjawabnya tanpa rasa ragu, sempurna sekali hidupku, batin Eva mengejek dirinya sendiri.
"Ayah tidak ikut pulang, dari sini ayah langsung ke bandara."
"Hm, aku juga tidak pulang ke mansion aku akan ke apartemen dekat perusahaan." Daren menatap Eva sebentar.
"Lakukan apa pun yang kamu suka tapi jangan lupa apa yang ayah katakan tadi." Kata Daren mengingatkan bahwa dia serius dengan ancamannya.
"Hm."
Mereka berdua keluar dari dalam restoran beberapa pasang mata menatap Eva. Daren membuka jasnya memakaikan jas kebesaran itu kepada putrinya menutup tubuh Eva yang mengenakan dress mini tanpa lengan itu.
"Gantilah penyamaranmu, kamu seperti gadis nakal yang berjalan dengan om-om." Ucap Daren.
"Ronggo." Panggil Daren, Ronggo yang berdiri tidak jauh dari majikannya segera menghadap sang majikan.
"Ya tuan."
"Aku pergi." Ronggo membungkuk sembilan puluh derajat.
"Baik tuan, saya mengerti." Ronggo sudah sangat paham dengan tuannya jika Daren mengatakan akan pergi itu artinya jaga Eva dengan baik saat aku pergi tapi dia tidak pernah mengatakannya dengan benar hanya sekali saat Ronggo baru bekerja kepada Daren.
***
Matahari tersenyum indah pagi ini, cahayanya menerobos jendela kamar remaja yang sedang tidur dimeja kamarnya, dengan setumpuk kertas dan laptop yang masih menyala.
Perlahan mata biru itu terbuka menyambut sinar mentari yang membangunkannya.
"Ngghh." Eva meregangkan badannya mengerjapkan mata beberapa kali tangannya bergerak diatas keyboard.
Tadi malam Eva langsung menuju apartemen milik ayahnya didekat perusahaan, menyuruh Ronggo untuk mengambil barangnya dimansion dan mengantarnya ke apartemen Eva juga menyuruh pengawalnya untuk tinggal diapartemen disebelahnya tanpa terkecuali. Eva ingin sendiri.
Akhinya Eva menyelesaikan pekerjaannya setelah semalaman dia berkutat dengan tumpukan dokumen. Remaja itu berjalan memasuki kamar mandi melakukan ritual paginya, memasukkan sabun bunga sweet pea kedalam bathup, sabun favorit Eva karena wanginya yang manis membuatnya rileks sabun ini juga salah satu produk perusahaan ayahnya di China.
Pukul 10:45 Eva turun dari bis di halte dekat daerah Myeongdong setelah berdebat sangat lama dengan Ronggo yang hampir membawa tiga pengawal untuk ikut naik bis. Eva sedikit melirik kesamping tepatnya kepada tiga laki-laki berdiri tidak jauh darinya berjas hitam sedang menatapnya intens, Eva meraih ponselnya.
"Ya nona ada yang anda butuhkan?." Suara Ronggo dari seberang telepon.
"Bagaiman aku bisa menyamar dengan baik kalau kalian terlalu dekat." Nada dingin Eva penuh penekanan.
"Maaf nona tapi ka-"
"Apa kemampuan kalian terlalu rendah?menjaga dari jarak jauh saja tidak bisa?." Srobot Eva memotong kalimat Ronggo.
"Maaf nona kami akan menjaga jarak."
"Seratus lima puluh meter tidak kurang, jika kurang dari itu aku akan memecat kalian." Mata Eva menyorot tajam kearah pengawal-pengawalnya.
"Baik non kami mengerti."
Eva memutuskan telepon lalu berjalan masuk kedalam pusat perbelanjaan myeongdong. Hari ini Eva akan mengunjungi butik dan toko kosmetik perusahaannya. Eva memakai skinny jeans biru muda dengan atasan sweater kerah bulat warna coklat yang bagian depannya dimasukkan kedalam celana dipadukan dengan heels hak 3 cm.
Eva menghampiri laki-laki yang berdiri di pinggir salah satu toko dengan ponsel ditangannya, laki-laki itu memakai jeans hitam dengan sweatshirt yang ditutupi bomber jacket hitam rambutnya yang ditata rapi menyempurnakan penampilannya.
"Annyeonghaseo." Lirih Eva setelah berdiri didepan laki-laki itu. Bon Hwa terdiam menatap kaki putih yang dibungkus heels hitam, perlahan mengangkat kepalanya untuk melihat perempuan yang menghubungi telepon kantornya kemarin dan memintanya untuk menemani perempuan itu hari ini.
"Annyeonghaseo." Mata Bon Hwa bergetar sesaat, dia sering bertemu dengan wanita cantik tapi dua kali melihat perempuan didepannya ini seperti ada yang berbeda padahal perempuan ini selalu memakai maskernya.
"Kita berangkat sekarang." Kata Eva berjalan lebih dulu yang segera diikuti oleh Bon Hwa.
"Anda sudah paham dengan tugas anda manajer Hwa?." Tanya Eva.
"Ye, nona muda. (Ya)"Jawab Bon Hwa yang berjalan dibelakang Eva. Kemampuan Eva yang luar biasa dalam mengurus masalah perusahaan membuat Bon Hwa gerogi dan khawatir jikalau ia melakukan kesalahan, perasaan yang belum pernah Bon Hwa rasakan karena sejak dulu dia selalu percaya dan yakin dengan kemampuannya hal itu juga yang membuatnya duduk dijabatannya sekarang.
"Kalau begitu kenapa anda berjalan dibelakang saya?." Tanya Eva membalikkan tubuhnya menghadap Bon Hwa.
"Kita sudah sampai." Bon Hwa menatap samping kirinya, butik putih mewah berdiri kokoh disana.
"A ah, iya kita sudah sampai, ayo masuk." Apa yang kamu lakukan Bon Hwa, kamu terlihat bodoh, batin Bon Hwa.
Mereka berdua masuk ke dalam butik mewah itu dan disambut oleh beberapa pelayan toko. Di saat Bon Hwa sedang berbicara dengan salah satu kepala toko Eva berkeliling melihat-lihat.
"Saya perwakilan dari perusahaan dan itu sekertaris saya, kami akan mengecek beberapa dokumen, ini ID saya." Bon Hwa menunjukkan ID kantornya kepada kepala toko.
"Baik, silahkan masuk." Kepala pelayan membukakan pintu belakang menuju ruangan kantornya. Bon Hwa mengedikkan dagunya mengisyaratkan Eva untuk mengikutinya.
Diruangan kecil itu hanya ada Bon Hwa dan Eva sedangkan kepala pelayan kembali ke toko. Bon Hwa duduk dimeja kerja milik kepala toko mata nya fokus menatap layar komputer memeriksa satu persatu data di komputer itu. Sedangkan Eva hanya berdiri dibelakangnya.
"Kenapa dua bulan lalu ada penurunan?." Lirih Eva. Bon Hwa menatap grafik didepannya.
"Bulan ini salah satu rival kita melauncingkan produk baru dengan harga diskon yang besar." Jawab Bon Hwa.
"Style Mode Grup." Bon Hwa mengangguk.
"Produk baru dengan harga diskon, mereka tidak takut dengan kerugian yang mereka dapat. Ini menarik." Gumam Eva yang didengar oleh Bon Hwa.
"Sepertinya data-data ini tidak ada kejanggalan." Eva mengangguk.
"Ayo pergi, aku lapar." Eva melangkah meninggalkan Bon Hwa dibelakang.
"Terima kasih atas kunjungannya." Kepala toko membungkuk saat Bon Hwa dan Eva pergi.
Myeongdong seperti biasanya selalu ramai apa lagi sekarang jam makan siang banyak restoran yang penuh oleh pengunjung. Bola mata Eva bergerak dari toko satu ke toko lainnya, berisik, batin Eva.
Dari belakang tangan Bon Hwa terulur ke lengan samping kanan Eva tepat saat itu seorang pemuda berjalan menabrak tangan Bon Hwa yang terulur untuk melindungi Eva. Tanpa merasa bersalah pemuda itu berjalan melewati mereka begitu saja. Bon Hwa mensejajarkan langkahnya dengan Eva berjaga takut ada kejadian yang sama.
Tiba-tiba Eva berhenti didepan toko coklat.
"Mau masuk?." Tanpa menjawab pertanyaan Bon Hwa Eva memasuki toko itu.
"Selamat datang, silahkan coklatnya akan membuat anda ketagihan." Kata pelayan toko.
Coklat dengan bermacam bentuk tersaji didepan mata Eva. Eva memilih kotak ukuran kecil dengan isi enam coklat yang menarik perhatiannya. Bon Hwa dengan sigap mengeluarkan dompetnya hendak mengeluarkan isinya yang dicegah oleh tangan Eva, Eva memberikan black card kepada kasir toko. Bola mata Bon Hwa dan kasir toko sekejap membola lalu segera menetralkannya lagi. Bon Hwa menelan salivanya kasar.
Mereka berdua keluar dari toko. Eva yang tidak sabar langsung membuka kotak coklat itu lalu tangan kanannya terangkat membuka masker. Bon Hwa yang memperhatikan Eva sejak tadi tidak sabar ingin melihat wajah dibalik masker itu.
Seperti adegan dalam film yang biasa Bon Hwa lihat pemeran prianya berdiri membeku melihat kecantikan pemain utama wanita yang mampu menyihir setiap mata yang melihatnya, begitulah keadaan Bon Hwa saat ini. Eva yang tidak peduli dengan sekitarnya mengambil coklat dari dalam kotak dan memakannya, matanya sedikit berbinar saat coklat itu meleleh didalam mulutnya pemandangan langka itu pun tertangkap oleh mata Bon Hwa. Gerakan Eva yang tiba-tiba mengulurkan kotak coklat kepada Bon Hwa membuatnya terperanjat kaget. Melihat Bon Hwa yang tetap diam membuat Eva bingung, satu alisnya terangkat. Bon Hwa yang mendapat respon seperti itu segera membuang mukanya, jantung Bon Hwa berdegup kencang.
Manis, lucu, dia punya t*hi lalat di pipinya, batin Bon Hwa.
"Anda sakit manajer Hwa?." Tanya Eva.
"Ti tidak." Jawabnya terbata.
"Sepertinya anda demam, wajah anda merah sekali." Bon Hwa spontan menutup wajahnya dengan sebelah tangan.
"Mungkin beberapa coklat bisa membuatmu lebih baik." Eva menyodorkan lagi kotak coklatnya.
"A ah iya mungkin, terima kasih." Bon Hwa mengambil satu coklat dan memasukkannya kedalam mulut, rasa coklat itu benar-benar meleleh didalam mulut membuatnya sedikit rileks setelah mendapatkan kejutan beruntun.
Mereka melanjutkan perjalanan dan berhenti didepan restoran Andong Jjimdak.
"Jika nona tidak tertarik kita bisa mencari tempat lain." Eva tidak menjawab Bon Hwa dan langsung masuk kedalam restoran. Bon Hwa membuang nafas berat.
Bisakah kamu menjawab lebih dulu, batin Bon Hwa.
"Sudah memesan?." Tanya Bon Hwa duduk didepan Eva seraya melepas bomber jacketnya, Eva hanya menunjuk gambar menu kepada Bon Hwa. Bon Hwa melihat isi menu dan memanggil pelayan memberikan pesanan mereka.
"Laporan hasil meeting." Kata Eva seraya mengulurkan tangannya ke depan.
"Bolehkah kita makan lebih dulu?." Yang dijawab tatapan dingin Eva, Bon Hwa mengeluarkan ponselnya meletakkan ponsel itu ditangan Eva.
"Itu adalah kandidat model-modelnya, dan disebelahhnya tempat yang akan kita sewa untuk pemotretan." Eva menggeser layar benda pipih itu.
"Silahkan pesanannya." Pelayan memberikan pesanan mereka seraya mencuri pandang kepada Eva membuat Bon Hwa berdeham keras.
"Selamat menikmati." Pelayan itu untuk terakhir kalinya melirik Eva dan pergi.
"Nona Eva makanannya keburu dingin." Eva meraih sumpit disampingnya tanpa mengalihkan pandangan dari layar ponsel, tangannya yang satu menarik rambut panjangnya kebelakang menggenggamnya agar tidak jatuh mengenai kuah makanan.
Semerbak rasa manis yang menggoda tercium oleh hidung Bon Hwa membuat nalurinya mencari asal aroma itu. Matanya menutup menajamkan indra penciumannya, aroma itu berada tidak jauh darinya perlahan Bon Hwa membuka mata mendapati Eva yang sedang menunduk menikmati makanannya dengan kedua mata yang sibuk menatap layar ponselnya.
Michigetta! (Sepertinya aku bakalan gila!), batin Bon Hwa.
Eva mengelap mulutnya dengan tisu lalu mengembalikan ponsel Bon Hwa.
"Tempatnya lumayan tapi untuk modelnya tidak ada yang bagus, cari yang lain." Bon Hwa tersedak mendengar keputusan Eva.