
Tepat pukul 21:00 Eva sampai dirumah dia langsung menuju kamar mandi membersihkan diri saat ia keluar dari kamar mandi Ega sedang duduk diatas ranjangnya.
"Pasti belum makan malam." Tebak Ega, Eva menggeleng pelan.
"Ayo kedapur aku temani."
Eva makan malam ditemani Ega, Eva makan sedikit terburu-buru karena sebentar lagi waktunya untuk kursus. Eva tidak ingin telat karena hukuman Takeda sangat mengerikan.
"Pelan-pelan saja, tidak usah buru-buru." Kata Ega.
"Sebentar lagi kelas kursus, aku tidak mau telat." Jawab Eva.
"Kursus?." Ulang Ega, Eva melirik Ega sebentar mungkin kembarannya itu tidak tahu kalau setiap malam Eva masih ada kelas. Eva meneguk lemon hangatnya lalu segera berdiri.
"Kapan-kapan aku jelasin, sekarang aku harus pergi. Good night." Eva mencubit sekilas pipi Ega sebelum pergi.
***
Satu bulan sudah Eva berpura-pura menjadi pemagang di perusahaan ayahnya, Eva juga sudah menepati janjinya dengan panti asuhan dan sekarang panti asuhan itu resmi atas namanya pribadi, hari-hari Eva masih sangat sibuk setelah pulang lembur dari kantor ia langsung masuk kelas kursus yang berakhir pukul dua belas malam belum lagi jika dia harus membuat proposal perusahaan diluar negeri.
Hari ini sangat panas, kelas Eva dan Ega berkumpul jadi satu dalam kelas musik, Eva duduk disebelah kiri Tiara dan disebelah kirinya ada Ega. Mereka berada diruang musik dengan kursi berundak-undak memanjang.
Guru menjelaskan berbagai jenis musik yang ada didunia memberikan kesempatan anak yang bisa memainkan alat musik untuk maju memainkannya. Entah mereka sudah janjian atau memang hanya kebetulan Tiara dan Ega kini sedang berdiri didepan kelas, Ega berdiri dibelakang piano sedangkan Tiara memegang biola ditangannya.
Eva mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali, ada yang tidak beres dengan dirinya. Ega dan Tiara memainkan sebuah melodi indah yang menggema di ruang musik. Perlahan tangan kiri Eva bergerak kesamping meraih seragam orang yang duduk disebelah Ega menggenggam lemah seragam itu. Si pemilik seragam terkejut menatap Eva, Eva menarik lemah seragam itu agar mendekat. Eva tersenyum membalas tatapan Ega dibawah sana. Perlahan tapi pasti si pemilik seragam sudah duduk tepat disebelah Eva.
"Panas." Lirih Eva yang terdengar oleh si pemilik seragam.
"Tentu saja sekarang jam setengah dua belas." Balas si pemilik seragam, Eva menyenderkan tubuhnya ke pemilik seragam dengan posisi tubuh tetap tegak agar Ega dibawah sana tidak curiga.
Tempat duduk paling belakang membuat murid lain tidak sadar kalau Eva sedikit menyenderkan tubuhnya ke Fathur.
Fathur sudah kaget karena tiba-tiba Eva mencengkeram seragamnya lalu menariknya mendekat ke gadis itu tapi ia lebih kaget lagi setelah gadis itu menyenderkan tubuhnya kepada dirinya. Suhu tubuh gadis itu tinggi sekali, bukan karena hari ini memang panas tapi Eva sakit. Dia jarang sakit, selama ini dia tidak pernah sakit, batin Fathur panik.
"Kamu sakit." Lirih Fathur.
"Kamu dingin." Jawab Eva lemah. Fathur tidak habis pikir kenapa Eva malah menjawab hal yang tidak nyambung sama sekali.
"Aku bawa kamu ke uks." Kata Fathur hendak menggendong Eva.
"Jangan bergerak." Kata Eva dingin menghentikan niat Fathur.
"Aku tidak tahu apa yang kamu pikirkan tapi aku akan bawa kamu ke uks sekarang." Jelas Fathur.
"Jangan membuatku marah." Aura Eva berubah, meskipun dia sedang sakit tapi auranya masih tetap kuat. Fathur yang baru pertama kali melihat Eva dengan aura seperti itu terdiam.
"Setelah jam pelajaran ini selesai cepat bawa Ega keluar, jangan beri tahu dia keadaanku, aku minta tolong sama kamu." Pinta Eva.
"Kenapa aku harus melakukannya?." Ega tersenyum ke arah mereka, Eva melambaikan tangan kanannya tersenyum manis membalas senyuman Ega.
"Aku tidak mau Ega khawatir, ini bukan masalah besar nanti juga sembuh." Fathur melirik Eva teringat saat dirumahnya mereka juga pernah duduk seperti itu dengan gitar ditangannya.
"Tapi kondisimu parah."
"Jangan bodoh, aku tidak akan semudah itu tumbang." Fathur menarik nafas kasar.
"Dulu kamu tidak pernah sakit." Ucap Fathur.
"Dulu?." Ulang Eva.
"Selama kita smp kamu tidak pernah sakit." Eva mengerjapkan matanya lagi.
"Kita?." Fathur menatap sahabatnya dibawah sana sedang memulai lagu kedua.
"Lupakan." Tandas Fathur.
"Katakan." Sahut Eva, Fathur melirik sebentar gadis disebelahnya.
"Kita satu sekolah sejak smp kita juga selalu dikelas yang sama." Jelas Fathur, Eva tertawa kecil membuat Fathur bingung.
"Lucu sekali, kenapa aku tidak sadar sejak dulu satu kelas dengan orang menyebalkan sepertimu." Fathur tersenyum kecut.
Eva berniat menjauh dari Fathur tapi karena tubuhnya yang lemah membuat dia sulit bergerak punggung tangannya tidak sengaja bersentuhan dengan punggung tangan Fathur.
"Kamu dingin." Lirih Eva
"Ke uks ya." Ajak Fathur.
"Tidak, pokoknya jangan sampai Ega tahu."
"Kamu keras kepala." Geram Fathur.
"Hm."
Eva mengumpulkan semua tenaganya untuk duduk tegak Fathur yang menyadari niat Eva sedikit membantunya dengan gerakan kecil senormal mungkin agar Ega yang sedang berjalan kembali ke meja tidak menyadarinya.
"Tumben kalian akur." Ucap Ega duduk disebelah kiri Fathur yang tadinya diduduki oleh laki-laki itu.
"Nggak tahu nih tiba-tiba Eva ngajak diskusi." Jawab Fathur asal.
"Diskusi apa?." Tanya Ega, Eva hanya mendengarkan karena ia sudah tidak punya tenaga.
"Musik yang kalian mainkan, bagus banget loh permainan kalian." Puji tulus Fathur meskipun alasannya adalah bohong, Ega tertawa canggung.
Tidak lama kemudian bel istirahat berbunyi Fathur benar-benar mengajak Ega segera pergi dari kelas.
"Yuki, ayo makan bareng?." Ega menatap adiknya.
"Aku sama Tiara maaf ya tidak bisa sama kamu." Kata Eva asal.
"Ya sudah aku duluan." Pamit Ega keluar meninggalkan kelas dengan Fathur.
"Ayo va, mau ke cafe atau kantin?." Ajak Tiara seraya berdiri.
"Kantin, kamu duluan saja aku mau ke toilet dulu." Alasan Eva.
"Mau aku temani?." Eva memutar bola matanya.
"Ok ok aku mengerti, aku duluan." Tiara pergi meninggalkan Eva.
Setelah mengelabui Ega dengan alasan yang logis Fathur dengan cepat berlari kembali ke ruang musik hatinya tidak tenang memikirkan kembaran sahabatnya itu, dengan kasar Fathur membuka pintu menimbulkan bunyi keras.
Brak!.
Fathur melihat Eva sedang telungkup di atas meja ia segera berlari ke arah gadis itu.
"Eva." Panggil Fathur, posisi Eva yang menghadap meja membuat Fathur kesulitan melihat wajah gadis itu.
"Hm." Gumam Eva.
"Ayo ke uks." Fathur meraup Eva kedalam gendongannya dia sudah tidak peduli lagi jika Eva marah. Fathur menuruni undakan bangku menuju pintu keluar.
"Turunin." Lirih Eva.
"Tidak."
"Bodoh, kamu mau buat kita jadi tontonan?." Protes Eva lemah, Fathur berhenti ia berpikir sebentar lalu menurunkan Eva dengan hati-hati.
Eva berusaha menopang tubuhnya mulai berjalan pelan, sebelah tangannya bertumpu kepada dinding dan sebelah tangannya lagi menggenggam ujung lengan seragam Fathur.
Kenapa tiba-tiba begini, nanti ada meeting dikantor, ada klien juga, bodohnya aku, batin Eva merutuki dirinya.
Pintu uks sudah terlihat, lorong juga sepi, Fathur memastikan tidak ada orang disekitar sana ia dengan cekatan melingkarkan tangannya ke pinggang dan lutut Eva mengangkatnya.
"Apa yang kamu lakukan bodoh." Protes Eva ingin memberontak tapi badannya benar-benar lemah.
"Tidak ada orang, diamlah." Fathur berlari menuju uks, ia membuka pintu uks lalu membaringkan Eva perlahan, mengambilkan air minum yang tersedia disana.
"Minum dulu." Eva menuruti Fathur.
"Tidak ada guru yang jaga, aku panggil guru dulu." Ujar Fathur membalikkan badan hendak pergi.
"Bodoh." Lirih Eva membuat Fathur kembali menghadapnya.
Fathur keluar meninggalkan uks. Eva merasakan nafasnya yang memburu dan terasa panas. Aku ceroboh, aku tidak boleh sakit, batin Eva. Terdengar suara pintu dibuka Eva melirik ke arah pintu melihat Fathur menghampirinya, laki-laki itu menarik kursi kesebelah ranjang yang ditiduri Eva.
"Makan dulu." Ujar Fathur membuka bungkus roti memberikannya kepada Eva, jari Eva bergerak ingin meraih roti tapi karena tidak memiliki tenaga Eva hanya bisa pasrah. Fathur termasuk laki-laki yang peka ia sadar dengan situasi Eva ia memotong kecil roti lalu mengulurkannya.
"Buka mulutmu." Perintah Fathur, Eva menatap tangan Fathur yang berada didekat bibirnya. Hening, Fathur masih tetap mengulurkan tangannya dan Eva masih tetap menatap tangan itu setelah beberapa saat Eva baru membuka mulutnya membiarkan Fathur laki-laki lain selain Ega menyuapinya.
Uks itu hening meskipun ada dua penghuninya mereka masih betah tidak membuka suara sama sekali, roti ditangan Fathur hampir habis ketika pintu uks dibuka. Seorang pria paruh baya menghampiri mereka dengan tas ditangan kirinya, Fathur segera berdiri dari duduknya memberikan Eva minum setelah itu ia berjalan mundur memberikan akses kepada pria yang dianggapnya dokter itu.
"Silahkan." Ucap Fathur.
"Terima kasih sudah menjaga nona muda." Ujar dokter seraya duduk disebelah Eva, dokter keluarga Ahyner yang Eva hubungi tadi kini sedang memeriksanya.
"Anda demam, saya akan memberikan obat untuk menurunkan panas anda, dan juga anda tidak teratur makan nona muda itu tidak baik anda bisa terkena maag." Kata dokter.
"Jangan memberiku obat, terlalu lama." Fathur menatap Eva tidak mengerti.
"Berikan aku suntikan dengan dosis agak sedikit tinggi aku harus sudah sembuh tiga jam lagi." Pinta Eva membuat dokter menatapnya sebentar lalu melakukan yang Eva minta.
"Apa ada urusan penting nona muda?." Tanya dokter bersiap-siap menyuntikkan obat di lengan Eva.
"Hm." Dokter menyuntik Eva.
"Anda juga harus banyak-banyak beristirahat."
"Rahasiakan ini dok, ayah tidak boleh tahu." Pinta Eva.
"Baik nona muda, saya sudah selesai. Ingat anda harus banyak istirahat dan jangan telat makan, saya pergi dulu semoga cepat sembuh." Ujar dokter seraya berdiri.
"Terima kasih dok." Ucap Eva.
Fathur mengantar dokter sampai pintu uks.
"Terima kasih." Ucap Fathur kepada dokter, sebelum dokter itu pergi ia mengucapkan sesuatu yang membuat Fathur terdiam sebentar.
"Aku tidak menyangka nona muda memiliki pacar yang sangat perhatian." Ucap dokter tersenyum lalu pergi.
Fathur kembali duduk disamping ranjang.
"Bel sudah dari tadi, kembali lah ke kelas." Kata Eva, bukannya menjawab Fathur malah menarik selimut menutupi tubuh Eva.
"Tidurlah, akan aku bangunkan sepuluh menit sebelum bel pulang." Eva menaikan satu alisnya menatap Fathur.
"Kamu selalu seperti ini." Lirih Eva membuang wajahnya.
"Apa maksudmu?." Selalu melakukan sesuatu seenakmu sendiri, jawab Eva dalam hati. Fathur menatap Eva yang perlahan menutup matanya.
Fathur memandangi wajah tidur Eva ini kedua kalinya ia melihat Eva tertidur, jantungnya berpacu dengan cepat tangan Fathur menekan dada sebelah kirinya.
"Kamu seperti bintang dilangit sana, terlalu jauh untukku raih." Lirih Fathur.
Fathur mengulurkan tangannya menepuk pelan pundak Eva berusaha membangunkannya.
"Va, bangun." Tidak ada respon Fathur menepuk lagi beberapa kali masih tidak ada respon dengan ragu-ragu tangan Fathur bergerak ke pipi Eva ia menelan salivanya kasar, perlahan ia menepuk lembut pipi gadis itu.
"Bangun va." Masih tidak ada respon Fathur menepuknya lagi.
Grep.
Tiba-tiba tangan Fathur yang berada di pipi Eva digenggam gadis itu, menghentikan gerakan Fathur. Perlahan Eva membuka mata birunya ia menarik tangan Fathur seraya beranjak duduk, Eva mengerjapkan mata tiga kali mengumpulkan kesadaran. Bola mata Fathur bergetar menatap tangannya yang berada diatas paha Eva masih digenggamnya. Dia selalu berusaha membunuhku, batin Fathur merasakan debaran jantungnya yang menggebu-gebu.
Eva menoleh kesamping menatap Fathur yang wajahnya kini merah padam sangat kontras dengan kulitnya yang putih.
"Apa sekarang kamu yang sakit." Kata Eva datar, nada suaranya sudah tidak lemah seperti tadi. Eva melepas tangan Fathur ia melakukan peregangan sebentar, Fathur bernafas lega menarik cepat tangannya.
Dan seperti biasa bertingkah seperti tidak terjadi apa-apa, batin Fathur agak kesal.
"Thanks, ayo kembali ke kelas." Eva berdiri dari ranjang.
"Bagaimana keadaanmu?." Tanya Fathur beranjak dari duduknya.
"Lebih baik."
Eva dan Fathur berjalan kembali ke kelas masing-masing dipertengahan jalan bel pulang berbunyi Eva mengucapkan terima kasih kepada Fathur sebelum mereka berpisah.
"Kamu dari mana saja?." Tanya Tiara.
"Sekali-kali bolos ra he." Jawab Eva merapihkan tasnya.
"Jangan coba-coba jadi murid bandel." Tiara memukul pelan lengan Eva, Eva tersenyum kecil.
"Perhatian sekali temanku satu ini." Eva mencubit kedua pipi chubby Tiara.
"Eva sakit." Rengek Tiara.
"Hahaha, pipi kamu lucu minta di cubit." Ucap Eva.
"Yuki." Eva pengalihkan perhatiannya dari Tiara melihat Ega berdiri di depan kelasnya.
"Aku duluan ra." Eva meninggalkan Tiara menghampiri Ega.
"Aku antar ke kantor ya."
"Nanti kamu telat kelas loh." Ega meraih tangan Eva, menggandengnya ke parkiran.
"Sekali-kali telat sebentar nggak apa-apa." Eva tersenyum mengingat jawaban yang ia berikan tadi kepada Tiara.
Ega dibelakang kemudi sedang fokus menyalip truk didepan mereka, sedangkan Eva disamping kemudi sibuk dengan laptopnya.
"Yuki." Panggil Ega.
"Hm?."
"Bagaimana perasaanmu sama Fathur?."
"Hm?, perasaan?." Tanya balik Eva masih sibuk dengan laptopnya.
"Dia sepertinya menyukaimu." Tebak Ega.
"Menyukaiku?." Eva menutup laptopnya.
"Bagaimana hubunganmu dengan Dimas?." Tanya Ega lagi.
"Baik-baik saja." Jawab Eva menatap Ega, alisnya terangkat satu.
"Dari tadi kenapa kamu menanyakan hal-hal yang aneh?." Ega tertawa.
"Aneh ya haha." Eva memukul lengan kiri Ega.
"Yuki berhenti aku lagi nyetir." Eva menghentikan aksinya.
"Kamu sudah menetapkan hatimu?." Ega melirik Eva yang memasang wajah bingung, Ega mencubit pipi Eva sekilas karena gemas.
"Aku tidak paham dengan pertanyaanmu dari tadi." Ucap Eva jujur, Ega tersenyum kecil.
"Dasar lemot."
"Hah?." Eva menatap Ega tidak terima dikatain lemot.
"Begini kembaranku tercinta." Ucap Ega lembut.
"Kamu pilih Fathur atau Dimas?." Eva memiringkan kepalanya menatap Ega, Ega kesurupan kayaknya, batin Eva.
"Aku tidak punya hak memilih mereka." Jawab Eva datar, Ega menghantamkan belakang kepalanya ke kursi kemudi. Yuki memang jenius tapi kenapa lemot sekali dengan masalah seperti ini, atau memang kebanyakan orang jenius seperti itu, batin Ega.
"Diantara mereka siapa yang kamu suka atau ada perasaan sayang untuk mereka?." Tanya Ega mencoba bersabar.
"Aku sayangnya sama kamu." Jawab Eva, Ega menarik nafas panjang. Sabar ga sabar dia kembaranmu sabar, batin Ega.
"Bukan sayang seperti itu, maksudku kepada laki-laki lain selain aku, kakek, atau pun ayah."
Eva sedang berpikir mencerna ucapan Ega, apa maksudnya?. Fathur? dia sering membuatku kesal, kak Dimas? apa aku menyukainya?, pikiran Eva sedang berputar-putar mencari jawaban soal paling sulit yang pernah diberikan kepadanya.