Yuki

Yuki
Bab 18



Di pagi harinya sampai aku berangkat sekolah Eva belum keluar juga dari kamar.


"Kamu rahasiakan ini, jangan sampai ada yang tahu siapapun itu." Pesan kak Dani sebelum aku berangkat sekolah tadi.


Kak Dani adalah kakakku plus guru geografi di sekolah, hanya beberapa anak yang tahu kalau kami bersaudara.


Saat jam istirahat pertama Dimas mencari-cari Eva didalam kelas. Tersirat kebingungan dan rasa khawatir diwajahnya, bukan hanya Dimas Tiara juga ikutan heboh bertanya kesana-sini. Bel masuk berbunyi bukan guru yang masuk kedalam kelas melainkan orang-orang berbadan tinggi besar dengan langkah mantapnya memasuki kelas.


Mereka mencari seseorang.


"Jika kalian melihat atau bertemu dengan Eva Augustin Ayhner anak dari Daren Augustin Ayhner harap cepat hubungi nomor ini." Orang itu menunjuk kertas berisi tiga nomor telepon beserta foto Eva.


"Kami mohon kerjasamanya." Salah satu dari mereka membagikan kertas tersebut.


"Gila, Eva hilang. Padahal kemarin baik-baik saja tuh." Dody sewot.


"Belum juga dua puluh empat jam Eva hilang body guardnya sudah kalang kabut kayak gitu." Sekarang Heru ikut buka mulut.


"Gimana nggak heboh, dia kan pewaris tunggal perusahaan pak Daren. Tujuh belas turunan pun nggak habis-habis." Heru menjitak kepala Dody.


"Duit aja yang lo pikir." Dody meringis mengelus kepalanya. Aku tidak sabar ingin cepat pulang.


Akhirnya bel pulang berbunyi aku segera membereskan tas dan berlalu pergi, zzz zzz ponselku bergetar.


Kak Dani.


Kecoh mereka, jangan sampai mereka mengikutimu sampai rumah.


Pesan dari kak Dani, aku melihat kearah pintu gerbang. Disana orang-orang berbaju serba hitam berkumpul bersama motor mereka.


Me.


Ok, aku akan mengecoh mereka.


Kak Dani.


Hati-hati.


Aku memasukkan kembali ponselku ke dalam saku celana masih memperhatikan orang-orang itu.


"Mereka geng motor?." Tanya Heru dibelakangku.


"Dari kapan kamu disitu?." Tanyaku kaget, Heru dan Dody tiba-tiba muncul entah dari mana.


"Dari tadi, mereka kayak orang mau pawai." Dody menunjuk gerombolan orang-orang berbaju hitam.


"Kalian mau bermain?." Aku melirik Heru dan Dody bergantian. Heru tersenyum jail.


"Waaah... main kejar-kejaran nih, ayo kita tunjukkan siapa yang paling keren." Dody yang paling semangat diantara mereka bertiga. Kami sudah menaiki motor masing-masing.


"Ingat saat keluar gerbang kita biasa-biasa saja sampai dipertigaan ketiga dari sini kita baru berpencar dan kumpul diwarkop pak Dadan ok?." Jelasku mengingatkan rencana yang telah kita buat beberapa menit yang lalu, Heru mengangguk mantap.


"Ok bos! tapi yang menang ditraktir dikantin besok kan?." Tanya Dody.


"Dasar tukang makan." Srobot Heru.


Kami pun menjalankan misi sesuai rencana. Benar saja kami diikuti tiga pengendara motor berbaju serba hitam itu.


Saat kami sudah sampai dipertigaan yang dimaksud kami mengangguk bersama dan menarik gas menggeber motor masing-masing. Heru berbelok ke kanan,Dody ke kiri sedangkan aku mengambil jalan lurus. Orang-orang yang membuntuti kami sontak kaget dan kebingungan. Ini kesempatanku untuk meloloskan diri. Tapi mereka dengan sigap ikut berpencar. Aku menyalip sebuah mobil melajukkan sepeda motor dengan kecepatan tinggi, mataku melirik spion.


Sial dia masih dibelakangku, kalau seperti ini terus aku tidak bisa lolos, bagus didepan sebentar lagi lampu merah, batinku. Menambah kecepatan maksimal, lima detik lagi. Wuuusshh... aku tersenyum puas melihat orang itu terjebak lampu merah dengan gesit aku berbelok memasuki gang-gang kecil. Saat aku tiba diwarkop pak Dadan Dody sudah duduk disana sambil menikmati secangkir... kopi!.


"Fathur, lo lama banget." Aku membuka kaca helm.


"Dimana Heru?." Tanyaku yang tidak melihat keberadaannya.


"Tuh baru nongol." Aku mengikuti arah pandangan Dody.


"Gila, mereka pembalap dari mana sih?." Protes Heru.


"Tahu tuh, tapi tetap saja Dody number one hahaha." Dody tersenyum puas.


"Tapi tidak ada yang diikuti kan?." Heru menggeleng.


"Tidak dong." Dody membayar kopinya.


"Kalian tidak lupa kan besok?." Sergah Dody mengingatkan, aku hanya bisa menggelengkan kepala pelan.


"Aku pulang dulu ya." Tanpa menunggu jawaban mereka motorku sudah melaju meninggalkan warkop pak Dadan.


Sampai dirumah aku memasukkan motor kedalam garasi membuka sepatu meletakkannya di rak. Pintu rumah tidak dikunci, aku langsung masuk kedalam.


"Nak ibu pergi arisan dulu, kamu jangan kemana-mana."


Ibu sudah rapih dengan pakaian arisannya.


"Iya tante." Suara Eva terdengar dari arah dapur. Ibu melihatku yang masih berdiri ditengah pintu.


"Kamu baru pulang, makanan ada dimeja ibu mau pergi arisan dulu, jaga dia jangan sampai keluar rumah dan jangan macam-macam ya." Ibu mengancamku, memeragakkan leher digorok dengan jari telunjuknya.


"Iya bu, mikirnya negatif banget sih sama anak sendiri." Aku mencium punggung tangan ibu.


"Ibu pergi dulu."


Ibu berlalu pergi, dengan malas aku melemparkan tas ke atas meja dan melepaskan jaket merah meletakkannya disebelah tas. Aku menyambar gitar dipojok sofa lalu menghempaskan tubuh disofa ruang tengah memainkan gitar sebentar.


"Kamu tidak makan dulu?." Eva datang membawa segelas air putih dan satu piring pisang goreng ia duduk diseberang meja.


Eva memakai kaos warna merah, kaosku yang sudah tidak aku pakai karena kekecilan dan celana hitam panjang milik kak Dani yang juga sudah tidak dipakainya lagi.


"Aku tidak lapar." Eva hanya mengangkat pundaknya acuh.


Eva menatap tanganku yang sedang memegang gitar.


"Apa kamu satu kelompok denganku di pelajaran geografi?." Aku mengangguk pelan.


"Bagaimana kamu tahu?." Eva menunjuk jam hitamku.


"Kamu ternyata adiknya pak Dani, kalian lumayan mirip." Aku meneguk air putih yang dibawakan Eva.


"Thanks." Eva mengangkat bahunya lagi.


"Siapa namamu?." Pertanyaan Eva membuatku sontak menatapnya.


"Sudah aku duga."


"Apa?." Tanya Eva.


"Kamu tidak mengenalku."


Eva bergeming ditempatnya, lalu dia beranjak berdiri membalikkan badannya meninggalkan ruang tamu.


Aku mulai memainkan gitar lagi, kupejamkan mata menikmati alunan melodi dari gitarku. Petikan terakhir membuatku membuka mata.


"Kamu..?." Lirih Eva, aku terkejut melihat Eva sudah berdiri dihadapanku tatapan matanya sangat sulit diartikan.


"Jangan berhenti." Ucapnya.


"Sejak kapan kamu berdiri disitu?." Eva melangkah dan duduk sibelahku.


"Maukah kamu memainkannya lagi?." Bukannya menjawab pertanyaanku dia malah menatap dua bola mataku lekat, mata birunya membuat tenggorokkanku tercekat. Aku menelan saliva dengan susah payah, tanganku mulai memetik senar gitar kembali.


"Bagaimana tadi disekolah?." Aku menatapnya heran.


"Disekolah ramai dengan berita hilangnya kamu." Jariku masih memainkan senar gitar.


"Lalu?." Eva membetulkan duduknya semakin dekat denganku, duh nih anak mau bikin aku jantungan yah, ucapku dalam hati.


"Para pengawalmu datang menggeledah kelas satu per satu, mereka membuat brosur orang hilang lengkap dengan fotomu beserta tiga nomor yang bisa dihubungi jika kamu ditemukan. Mereka juga mengikuti para siswa saat pulang sekolah sampai didepan pintu rumah masing-masing."


Eva menatap udara kosong.


"Kamu?." Mataku enggan melepas tatapannya dari Eva.


"Tentu saja aku juga diikuti tapi aku, Heru, dan Dody berhasil mengelabui mereka."


Eva menyandarkan punggungnya ke sofa.


"Hebat kalian bisa lolos dari orang-orang suruhan ayah. Jangan berhenti kumohon."


Eva menyadari alunan melodi gitarku akan berhenti, mendengar nada suaranya yang penuh harap aku mengulangi lagi permainan gitar dari awal.


"Tiara mencemaskanmu." Eva menghela nafas panjang.


"Aku tahu." Jawab Eva singkat.


"Dimas juga." Bibirku bergetar menyebut nama Dimas.


"Dia akan tahu nanti." Jawabannya membuat hatiku merasakan desiran aneh.


"Kenapa kamu kabur dari rumah?." Eva menyandarkan kepalanya dipundakku.


"Aku harus mencari seseorang." Suara Eva menyadarkanku, aku mulai memetik senar gitar kembali yang sempat berhenti tadi.


"Maaf selama ini aku tidak mengenalmu." Eva menempelkan lengannya ke lenganku. Jantungku berdegup maraton, ya ampun kenapa tadi aku tidak ganti baju lebih dulu atau memakai parfum lagi kalau kayak gini kan bau keringat.. memalukan, racauku dalam hati.


"Fathur, namaku Fathur." Eva tersenyum tipis.


"Fathur salam kenal namaku Eva."


Aku mengulangi lagi petikan melodi lagu yang aku buat sendiri, lagu ini belum mempunyai lirik. Sudah tidak terhitung berapa kali aku memainkannya. Aku melirik sedikit kesamping.


"Heemm..." Eva tertidur dipundakku. Benar kata orang-orang wanita paling cantik saat mereka tidur.


Aku tersenyum melihat wajahnya yang damai. Aku tidak menyangka bisa sedekat ini dengan gadis dingin sma tunas jaya.


"Aku disini va selalu disini." Gumamku.


Mataku mulai berat, duh ini mata ngga mau diajak kompromi, batinku menahan kantuk. Seakan-akan ada dua gajah yang bergelantungan dipelupuk mata dan... gelap.


******


Eva.


"Mereka seperti bayi." Samar-samar aku mendengar suara wanita paruh baya.


"Bayi gorila, orang sudah pada gede-gede dibilang bayi." Terdengar suara laki-laki juga disana. Apakah aku bermimpi lagi?.


Pelan-pelan aku membuka mata, pertama kali yang aku lihat adalah pak Dani dan ibunya sedang duduk diseberang meja menatapku dengan lembut. Kenapa mereka ada disini? aku menengadah kesamping. Kulihat sepasang mata sedang menatapku bingung, wajah kami hanya berjarak lima cm aku bisa melihat dengan jelas wajah cool itu. Seakan dihantam benda berat aku tersadar, bola mataku melebar syok. Secepat kilat aku mundur menjauhinya alhasil pinggangku menabrak pembatas sofa.


"Aaw!." lirihku, ternyata dia juga sama kagetnya. Posisi yang tadinya duduk sekarang sudah berganti berdiri dengan gitar ditangannya.


"Tuh suaramu membangunkan mereka." Tante Dila protes, aku menatap mereka bergantian.


"Maaf tante, maaf pak itu tidak disengaja sungguh Eva tidak bermaksud..." Fathur memotong kalimatku.


"Kenapa ibu nggak bangunin Fathur." Protes Fathur.


"Kalian tertidur pulas ibu tidak tega bangunin kalian." Jelas tante Dila.


"Fathur sudahlah, terserah kamu mau ganti baju sekarang atau tetap disini kakak harus bicara dengan Eva." Pak Dani menatapku dalam, aku mengangguk pelan.


Fathur kembali duduk tapi kini jarak kami cukup jauh, masing-masing ada dipojok kanan dan kiri sofa.


"Aku harus mendengar semua penjelasanmu sekarang." Pinta pak Dani. Pak Dani terlihat sudah tidak memakai seragamnya lagi.


Aku menghembuskan nafas pelan sebelum mulai bercerita.


"Jadi begitu." Kata pak Dani setelah aku selesai menceritakan kronologi bagaimana aku bisa kabur dari para pengawal dan sampai bertemu dengan pak Dani di pinggir lapangan.


"Aku tahu ayahmu adalah konglomerat besar tapi cara dia melindungimu terasa janggal menurutku." Jelas pak Dani.


"Benar, empat bulan terakhir aku juga berpikir seperti itu." Jelasku, entah mengapa saat aku bercerita dengan pak Dani tidak ada perasaan waspada seperti biasanya.


"Apa kamu tidak pernah sekali pun pergi tanpa dikawal?." Tanya pak Dani lagi, Fathur menatapku penasaran.


"Pernah, saat pertama kali aku menyusup kabur tanpa ketahuan." Tidak mungkin aku membeberkan apa yang sebenarnya terjadi.


"Seperti ada yang ditutupi, ayahmu seperti melindungimu dari sesuatu." Pak Dani menyilangkan lengannya berpikir keras. Tidak aku sangka guru geografiku pandai menilai situasi juga.


"Apa ayahmu memiliki musuh?." Imbuhnya.


"Tidak, ayah tidak punya musuh setahuku." Aku menatap lukisan pedesaan yang tergantung di sisi lain tembok.


"Bagaimana kamu bisa seyakin itu?." Sekarang Fathur ikut bicara.


"Karena aku tahu semua agenda ayah, mitra kerjanya didalam maupun diluar negeri." Pak Dani mengangguk paham.


"Jadi kapan kamu mau pulang?." Tanya pak Dani, aku mengalihkan pandanganku dari lukisan pedesaan itu menatap pak Dani.


"Ada sesuatu yang harus aku cari, aku tidak akan pulang sampai aku menemukannya."


Tante Dila menggeser duduknya tidak tenang.


"Bagaimana dengan sekolahmu?." Pertanyaan Fathur membuat pak Dani beralih menatapku.


"Aku akan usahakan ikut tes kenaikan kelas." Tante Dila menggeleng pelan.


"Ini semakin rumit, Eva bagaimana cara kamu mencarinya? diluar sana banyak orang yang sedang mencarimu dan sebenarnya apa yang sedang kamu cari? orang tuamu pasti sedang khawatir sekarang."


Pak Dani menghempaskan punggungnya ke sofa, wajahnya terlihat lesu, pasti karena kelelahan.


"Pasti ada penyebab semua ini, semua orang dirumah berbohong kepadaku, aku tidak bisa mempercayai mereka. Aku harus mencari tahu sendiri dan menyelesaikannya. Aku juga tidak mau menghabiskan masa remajaku dikawal orang-orang tinggi besar itu."


Aku menyunggingkan senyum menenangkan mereka. Semua orang bergeming, tante Dila lah yang pertama kali tersadar.


"Baiklah ceritanya sudah dulu sekarang Fathur kamu pergi mandi, Dani kamu beresin kamarmu yang berantakan." Pak Dani dan Fathur segera beranjak dari duduk mereka.


"Iya bu..." jawab mereka kompak. Aku tersenyum mendengar jawaban mereka, lucu, batinku.


Tante Dila berdiri menghampiriku dan duduk tepat disampingku. Tangannya dengan lembut menggenggam tanganku, aku menatap tangan kami berdua ada desiran kecil disana merambat naik ke hatiku. Tidak terasa sebutir cairan bening turun dari kelopak mata dan jatuh diatas punggung tangannya yang kasar.


Seperti inikah tangan seorang ibu? rasanya hangat menenangkan, ucapku dalam hati. Sebutir air mata jatuh lagi diatas punggung tangan kasar itu.


"Maaf." Lirihku menyeka air mata.


"Tidak pa-apa." Dila tersenyum hangat kepadaku, aku menatap matanya yang meneduhkan.


"Ibumu pasti bangga mempunyai anak secantik dan sepintar kamu." Aku berpaling menatap lantai.


"Ibu tidak menginginkanku." Air mataku turun lagi dan lagi.


"Seorang ibu pasti menyayangi anaknya dan selalu menginginkan yang terbaik untuk sang anak, hanya seorang ibu yang kejam yang tidak menginginkan anaknya."


Kalimat tante Dila menghantam dadaku.


"Ibuku memang kejam." Tante Dila kaget mendengar jawabanku tapi dia segera tersenyum menenangkanku.


"Ibu tidak pernah menyentuhku dan berbicara denganku jangankan menyentuh dan berbicara menatapku pun dia tidak sudi." Suaraku bergetar disetiap kata yang aku ucapkan.


"Kamu tidak berusaha mendekatinya?." Tanya tante Dila lembut.


"Sudah tapi dia malah marah besar padaku." Tante Dila mempererat genggaman tangannya.


"Ibumu pasti mempunyai alasan sendiri kenapa dia melakukan itu padamu, ingat nak surga ada ditelapak kaki ibu." Aku menatap tante Dila dalam.


"Apakah dia pantas disebut ibu?." Tante Dila terperanjat kaget lalu dia tersenyum lembut, lagi.


"Orang yang melahirkanmu adalah seorang ibu nak, mau bagaimanapun kamu tetaplah darah dagingnya." Aku masih menatap Dila tidak berkedip.


"Kalau boleh memilih aku ingin dilahirkan dari rahim tante." Sungguh aku merasa sangat nyaman sekali jika berada di dekat tante Dila, perasaan apa ini? aku belum pernah merasakan ini sebelumnya. Air mata turun dari sudut mata yang mulai keriput itu.


"Tante bolehkan aku memeluk tante?." Pintaku lirih, aku menggigit bibir bawah menahan suara isakkanku, dada ini terasa sesak paru-paruku juga sangat sulit mengolah oksigen didalam sana.


"Kemarilah nak ibu ada disini."


Tante Dila meraihku kedalam pelukkannya. Aku membenamkan diriku didadanya tangisku pecah aku tidak bisa menahannya lagi, kami berdua menangis bersama. Ini kah pelukan seorang ibu? aku merasa aman didalam pelukannya, hangat. Aku tidak ingin melepasnya.


"Kamu gadis yang kuat," disela tangis tante Dila mengelus pelan punggungku.


"Sekarang jangan panggil tante lagi ya, panggil ibu."


Aku terdiam tidak percaya dengan apa yang aku dengar, aku melepas pelukkannya menatap manik itu.


"Boleh?." Hanya desahan yang keluar dari tenggorokanku. Tante Dila mengangguk pelan dan tersenyum manis.


"I-ibu..." Ucapku terbata, kami berpelukkan lagi.


"Iya nak." Jawab ibu baruku.


Setelah lama menangis kini aku tidur dipangkuan tante Dila, dia memain-mainkan rambutku dengan jarinya.


"Dulu ibu ingin sekali punya anak perempuan tapi dikasih dua anak laki-laki." Tutur tante Dila.


"Ayah Fathur?." Tanyaku hati-hati karena sejak pertama kali aku datang kerumah ini aku tidak pernah melihat ayahnya.


"Dia sudah meninggal nak, dalam kecelakaan sepeda motor delapan tahun yang lalu." Jelas tante Dila.


"Maaf bu Eva nggak bermaksud untuk..." Tante Dila tersenyum sambil menggeleng pelan.


"Tidak apa-apa, itu adalah kenangan yang tidak dapat dilupakan."


"Mandi sana sudah sore, masa anak gadis jam segini belum mandi." Sambung tante Dila.


Sebenarnya aku masih ingin berlama-lama tiduran disana tapi benar juga kata tante Dila badanku sudah lengket. Sebelum pergi aku memeluk tante Dila sekilas lalu beranjak dari sana mengambil handuk yang dibelikan tante Dila kemarin malam, toko serba ada tidak jauh dari sini.


Aku berdiri didepan pintu kamar mandi, karena didalam sana masih ada penghuninya. Rumah ini kamar mandinya hanya ada satu dan tiga kamar, model rumah sederhana.


Pintu terbuka seseorang keluar hanya memakai handuk yang dililitkan dipinggang. Terlihat jelas tubuh sick pack beserta otot-ototnya, cepat-cepat aku menutup mata dengan handuk ditangan.