Yuki

Yuki
Bab 5



"Nuguseyo? (Siapa kamu?)." Tanya laki-laki disebelah Eva. Eva tadinya sangat penasaran dengan tim marketing karena memiliki manajer yang sangat muda tapi dia terlalu banyak berharap dan sekarang Eva kecewa. Suasana perlahan berubah panas.


"Anda memilih mereka berdua hanya karena chemistry atau mereka adalah model yang anda sukai Eun Jung si?." Sontak penghuni ruangan merasa geram atas ucapan Eva yang menyakitkan itu.


"Yak! siapa kamu?. Apa kamu pikir memilih model itu mudah? pilihanku adalah yang terbaik." Teriak Eun Jung kepada Eva, tangannya mengepal menahan emosi.


"Terbaik? anda sudah yakin Eun Jung si?." Kata Eva datar yang terdengar mengejek.


Berani-beraninya dia berbicara seperti itu, apa yang dia tahu dari pekerjaan kami. Sejak tadi aku ingin menarik maskernya dan menjait bibirnya itu, batin salah satu karyawan.


"Maaf nona dari mana anda datang, kenapa bisa tersesat disini? saya akan segera memanggil security." Laki-laki yang sejak tadi tidak dihiraukan oleh Eva sudah tidak sabar lagi tangannya meraih telepon di meja dekat jendela hendak memanggil security tapi gerakkannya terhenti mendengar kalimat yang terlontar dari mulut pedas perempuan tadi.


"Apa kalian ingin merugikan perusahaan ini?manajer Hwa si?." Eva menekan kalimat terakhir seraya menatap datar Bon Hwa. Bon Hwa membalas tatapan perempuan yang sudah seenaknya sejak tadi.


"Apa mau anda sebenarnya nona?." Bon Hwa tidak menjawab pertanyaan Eva dia balik bertanya dengan suara bariton yang mengintimidasi. Bagian IT disebelah mereka tertarik melihat keributan yang terjadi dari kursi mereka.


"Saya bertanya lebih dulu kepada anda manajer Hwa, bukankah anda harus menjawab lebih dulu?." Ucap Eva tetap datar.


"Tentu saja kami tidak ingin merugikan perusahaan karena itu kami selalu bekerja keras." Bon Hwa menyilangkan lengannya didepan dada, tatapan mereka berdua tidak lepas sejak tadi menambah ketegangan diruangan itu.


"Apa anda sudah melihat desain yang dibuat tim perancang sebelum melakukan meeting ini manajer Hwa?." Dua security berbadan besar memasuki ruangan mencari tersangka yang membuat keributan.


"Sekarang giliran anda menjawab pertanyaan saya nona."


Dua security menghampiri Eva dengan langkah cepat tangan mereka hendak menarik paksa Eva tapi gerakkan mereka terhenti saat jarak mereka sudah dekat. Dua security itu saling berbisik dan membungkuk sebentar lalu pergi meninggalkan ruangan. Membuat orang-orang yang berada disana melongo bingung.


"Pak orangnya disini! dia belum ditangkap, jangan pergi dulu." Teriak laki-laki yang menelpon tadi.


Dua security itu, tadi pagi telah melihat Eva berjalan bersama dengan sang presdir mereka juga mendengar putri presdir juga datang ke perusahaan dan mereka yakin perempuan yang hampir mereka seret adalah putri presdir.


"Saya hanya ingin jalan-jalan dan ruangan ini menarik perhatian saya." Semua orang bertambah melongo mendengar jawaban Eva.


Apa dia pikir ini mall atau taman hiburan?, batin semua orang disana.


Diluar ruangan dua orang sedang berjalan terburu-buru.


"Apa yang terjadi dengan nasib kita kalau tadi kita benar-benar menyeret putri presdir dari sana?." Kata salah satu security.


"Sssssttt." Security satunya menggesek ibu jari dileher.


"Hiiih.. kita akan mati." Mereka merinding memikirkannya.


Didalam ruangan panas itu Eva sudah mulai tidak sabar.


"Model laki-laki terlalu kurus, model perempuan kurang tinggi, dan bentuk wajahnya terlalu imut, mereka akan membuat nilai produk kita menurun dan kamu mengatakan pilihanmu yang terbaik? jika memilih model saja sudah menyusahkanmu perusahaan tidak bisa mempertahankan anda Eun Jung si." Eun Jung gemetar tidak menyangka kata-kata seperti itu akan ia dengar.


"Manajer Hwa, saya yakin kalian tidak melihat desainnya, dan keputusan kalian tadi sangat merendahkan tim perancang. Perusahaan memiliki perancang-perancang profesional rancangan mereka akan menarik customer dan menguntungkan perusahaan atau malah merugikan perusahaan itu tergantung dengan tim marketing. Apakah tim marketing bisa menyeimbangkan kemampuan mereka dengan tim perancang?." Jelas Eva dengan nada datarnya.


Mereka dibuat tidak percaya dengan ucapan perempuan aneh yang duduk dengan santai di meja meeting itu. Bon Hwa tersenyum simpul memamerkan lesung pipi nya.


"Terima kasih sudah mengatakan kesalahan tim kami, nona sepertinya sangat percaya dengan kemampuan nona, apa nona bisa melepas maskernya? bukankah kurang sopan berbicara menggunakan masker?." Kata Hwa tersenyum manis. Eva berdiri dari duduknya.


"Apa ada yang lebih penting dari memperbaiki meeting ini manajer Hwa? sampai perhatian anda teralihkan?." Kalimat Eva menohok hati Bon Hwa, sedari tadi dia sudah sakit mendengar Eva melempar kalimat-kalimat pedas kepada bawahannya dan sekarang dia merasakannya juga.


"Anda manajer termuda yang dieluh-eluhkan banyak karyawan tapi ternyata kemampuan anda tertutup oleh kecerobohan." Laki-laki yang tadi menelpon security berlari hendak menarik blazer Eva namun dicegah oleh Bon Hwa.


"Yak! jaga mulutmu." Seru laki-laki itu.


Eva mengangkat satu alisnya tidak peduli, dia berjalan menuju pintu keluar tapi tiba-tiba terdengar suara teriakan dari bagian IT.


"Pak Lee! ada yang mencoba meretas kita." Teriak karyawan rambut blonde.


"Hentikan dia! lindungi sistem kita. Yak kamu!cari siapa yang berani meretas kita." Seru manajer Lee.


"Baik!." Jawab mereka serempak, ruangan yang tadinya panas karena Eva sekarang berubah menjadi tegang. Tanpa mereka sadari Eva berdiri dibelakang mengamati. Manajer Lee juga sibuk memberikan arahan kepada anak buahnya.


Komputer berjejer dengan jari pemiliknya yang bergerak cepat diatas keyboard.


"Pak keamanannya tidak bisa ditembus! tidak ada celah untuk masuk kedalam sistem mereka." Seru pria gendut yang ditugaskan untuk mencari si pelaku.


"Cari terus, pasti ada celah menembus keamanannya." Orang-orang di tim marketing pun ikut tegang melihat tim IT yang berusaha menggagalkan peretasan.


"Pak Lee! dia berhasil mengambil dokumen penting perusahaan." Seru pria dengan rambut panjang sebahu.


"Apa?!." Seru manajer Lee, bola matanya mengarah ke komputer yang menunjukkan dokumen perusahaan yang sedang diunduh oleh peretas.


"Ini tidak boleh terjadi. Gerakkan jarimu, lindungi dokumen perusahaan apa pun yang terjadi." Raut wajah semua orang berubah pucat, manajer Lee memutar otaknya mencari cara untuk menghentikan peretasan itu.


"Pak! dia juga berhasil mengunduh dokumen internastional." Seru pria blonde.


"Yak! lokasi peretas apa belum ditemukan?." Seru manajer Lee mengusap wajahnya dengan kasar.


"Belum pak, mereka sangat pintar menyembunyikan lokasi mereka." Seru pria gendut.


Eva menarik nafas berat lalu berjalan menghampiri komputer yang tergeletak paling ujung disebelah pria gendut.


"Apa yang akan anda lakukan?!." Teriak laki-laki yang hampir menarik blazer Eva dengan muka marahnya menghentikan kesibukkan tiga orang didepan komputer itu beralih menatap Eva.


"Apa kalian punya waktu untuk menatapku?." Seketika mereka tersadar dan kembali berkutat dengan komputer masing-masing. Manajer Lee membuang muka.


Tidak ada waktu untuk meladeni perempuan aneh itu, batin manajer Lee.


Eva sudah duduk didepan komputernya menarik nafas sebentar, Eva tidak sadar bibirnya tersenyum tipis yang tidak dibuat-buat.


Ini menarik, batin Eva.


"Pak Lee lima menit lagi dokumen nya berhasil diunduh!." Seru pria rambut panjang.


"Tujuh menit lagi dokumen internasional berhasil diunduh." Seru pria blonde.


"Yak gendut! apa yang kau lakukan." Teriak manajer Lee.


Jari Eva bersiap diatas keyboard.


"Berhenti!." Teriak Eva tiba-tiba, jarinya dengan cepat menari di atas keyboard. Semua orang kaget mendengar teriakan Eva.


Hening.


"Jauhkan jari kalian dari keyboard." Perintah Eva.


Apa yang dipikirkan perempuan gila itu, berhenti? waahh dia benar-benar sudah gila, batin mereka semua.


"Berhenti kataku." Eva menekan setiap kata, kepalanya bergerak menghadap ke kanan menatap tajam seluruh tim IT aura dinginnya menguar dari dalam tubuh, aura yang tidak Eva keluarkan saat berdebat dengan tim marketing membuat semua orang membeku terutama tim IT yang ditatap langsung. Keringat dingin menetes membasahi kening seluruh tim IT, mereka menarik jari dari keyboard dengan pelan menengguk kasar saliva masing-masing.


Sepuluh jari Eva masih menari diatas keyboard meskipun tatapan matanya mengarah kepada orang-orang disampingnya. Setelah melihat mereka menuruti ucapan dirinya Eva mulai kembali fokus ke depan layar komputer.


Eva menyusup kedalam jaringan hacker secara sembunyi-sembunyi ilmu yang didapat selama satu setengah tahun terakhir Eva gunakan dengan sangat baik. Tujuan Eva menyuruh ketiga tim IT tidak menyentuh komputer mereka adalah untuk membuat si hacker berpikir bahwa tim IT tidak bisa mencegah, dan melawan peretasannya membuat si hacker lengah mengira dia lah yang mengendalikan permaianan ini.


Tanpa disadari si hacker Eva sudah masuk kedalam jaringannya dan mengorek informasi. Aku yakin mereka tidak bodoh dengan meretas kami dari markas mereka bukan? dan bingo, batin Eva tersenyum simpul.


Eva menemukan lokasi hacker dengan cepat setelah itu Eva mempercepat gerakkan jarinya menjelajahi isi komputer hacker mencari sesuatu. Wajah Eva terlihat sangat fokus dan menikmati kegiatannya itulah yang penghuni ruangan itu pikirkan.


Laki-laki berambut panjang dan blonde saling menatap satu sama lain mereka seperti bertelepati lalu kembali menatap layar masing-masing dan kembali saling menatap.


Apa yang terjadi, kenapa pengunduhannya tidak secepat tadi? ini sangat pelan, pikir dua orang itu sontak mata mereka melebar, mengakhiri tatapan mereka dan dengan cepat berpaling menatap perempuan yang sedang sibuk diujung sana.


"Apa dia yang melakukannya?." Tanya laki-laki blonde kepada laki-laki berambut panjang.


"Tidak mungkin." Jawab laki-laki rambut panjang.


"Dia yang melakukannya, ini tidak bisa dipercaya tapi memang dia yang melakukannya." Kata pria gendut bola matanya tidak lepas menatap setiap gerakan yang Eva lakukan.


Eva tiba-tiba mengambil ponselnya dari dalam handbag dengan tangan kiri karena tangan kanannya masih sibuk dengan keyboard, menggeser layar benda pipih itu dan menempelkannya ketelinga.


"Pergi ke utara, dua ratus lima puluh meter dari samping perusahaan. Lantai dua cafe, pria topi hitam, jaket army. Jangan sampai lolos. S mission." Perintah tegas keluar dari mulut yang tertutup masker, mereka yang berada dalam satu ruangan yang sama dengan Eva tidak sadar telah jatuh kedalam pesona yang dimiliki gadis itu.


"Manajer Lee tolong panggilkan direktur untuk segera datang kesini." Manajer Lee tersentak kaget dari lamunannya dengan gerakkan cepat melaksanakan perintah dari gadis itu.


"Kalian bersiaplah, lakukan seperti apa yang kalian lakukan tadi, dalam hitungan ketiga kita lakukakan bersama." Kata Eva tegas yang diangguki ketiga orang itu.


"Satu." Eva bersiap-siap memutus jaringannya.


"Dua." Jantung keempat tim IT berdegup kencang, sebenarnya banyak pertanyaan didalam kepala mereka tapi apa yang dilakukan perempuan aneh itu membuat mereka tidak bisa meremehkannya.


"Tiga.Sekarang!." Seru Eva.


Jari-jari mereka bergerak serempak berbeda dengan jari Eva yang sudah berhenti, unduhan yang sempat menjadi pelan sekarang kembali ke kecepatan sebelumnya membuat kedua orang laki-laki itu terperanjat kaget namun dengan cekatan mereka berusaha menghentikannya.


"Lokasi peretas ditemukan."Seru pria gendut.


"Bagus dimana di-." Eva memutus kalimat manajer Lee.


"Sibukkan dia." Eva berdiri kebelakang pria gendut.


"Pak! unduhan telah digagalkan." Seru laki-laki rambut blonde.


"Disini unduhan juga telah digagalkan." Kata laki-laki rambut panjang.


"Bagus." Kedua tangan manajer Lee menggenggam pundak kedua bawahannya menyalurkan rasa terima kasih dan rasa leganya.


Mereka berpaling menatap anggota tim IT yang masih sibuk dengan arahan perempuan yang telah menyelamatkan dokumen-dokumen berharga milik perusahaan.


"Apa yang harus saya lakukan?." Tanya pria gendut kepada Eva dibelakangnya.


"Masih ada waktu dua menit lagi, bagaimana kalau kita ucapkan selamat kepada penyusup manis kita?." Tanya Eva menatap lurus layar komputer dengan nada dinginnya.


"Dengan senang hati." Ucap pria gendut menunjukkan smirknya. Pria gendut sudah mengambil alih komputer hacker lalu membuka tab kecil untuk mengirim pesan.


"Jal haess-eo (Kerja bagus), selamat kamu telah berhasil menerobos keamanan jaringan kami." Kata Eva yang segera diketik oleh pria gendut. Eva memberi jeda beberapa detik menunggu jawaban dari hacker namun jawaban yang ditunggu tidak kunjung datang.


"Apa kamu menikmatinya?." Tidak ada jawaban.


"Aku juga sangat menikmatinya." Yang sedang Eva lakukan membuat semua orang disana merinding ngeri.


"Sebagai ucapan terima kasih karena kamu telah membuatku terhibur aku telah mengirimkan hadiah untukmu." Pria gendut sedikit kaget dengan ucapan Eva tapi tetap mengetiknya.


"Semoga kamu menyukai hadiahku, anyeong." Setelah mengetik kalimat terakhir Eva tiba-tiba jaringan hacker terputus lalu terdengar deringan ponsel yang berasal dari dalam tas kecil Eva.


"Hm."


"Kami sudah menangkapnya nona."


"Bawa dia ke mension lalu masukkan dia keruangan bawah."


"Baik nona."


Ceklek, pintu terbuka menampakkan direktur Han yang sedang terengah mengatur nafasnya. Direktur Han berjalan menghampiri gadis itu.


"Anda memanggil saya nona muda?." Suara Han yang terdengar oleh semua orang membuat wajah mereka pucat pasi.


Nona muda?, jangan-jangan dia adalah.., putri sajangnim!, batin mereka terguncang teringat perlakuan mereka kepada gadis itu tadi.


"Style Mode Group siapa mereka?." Han sedikit terkejut karena tiba-tiba Eva menyebutkan nama itu.


"Salah satu saingan besar kita akhir-akhir ini nona, apa ada yang mengganggu anda?." Eva membalas tatapan Han.


"Mereka meretas kita." Han kaget mendengarnya, selama ini tidak ada hacker yang bisa menembus keamanan sistem perusahaan karena keamanan sistem perusahaan dibuat sesempurna mungkin.


"Apakah mereka berhasil mendapat apa yang mereka inginkan?." Tanya Han khawatir.


"Tidak, lebih lengkapnya kamu tanya saja mereka aku juga sudah mengambil banyak informasi perusahaan mereka."


Siapa yang meretas siapa kalau begini?, batin manajer Lee menggaruk kepalanya.


"Tolong kamu urus masalah peretasan ini, saya juga ada permintaan direktur Han." Ucap Eva datar.


"Permintaan apa nona?." Jantung Eun Jung berdegup kencang khawatir dia akan dipecat karena sikap dan kesalahannya. Tidak hanya Eun Jung laki-laki yang hampir menarik blazer putri presdir itu pun wajahnya sekarang benar-benar pucat pasi dia menahan nafas menunggu apa yang akan dikatakan Eva.


"Proyek yang sedang tim marketing lakukan sekarang tolong laporkan semuanya kepadaku, aku yang akan mengambil alih." Tim marketing tidak percaya dengan apa yang mereka dengar.


"Baik nona muda."


"Dan katakan kepada mereka untuk bekerja lebih keras lagi kalau bisa mereka lembur sampai pagi karena aku tidak suka pekerjaan yang setengah-setengah." Suara datar dan tegas juga tatapan tajam Eva dengan tidak sadar membuat semua orang menunduk.


"Baik, akan saya sampaikan."


"Terima kasih." Eva pergi meninggalkan ruangan marketing dan IT.


Melihat kepergian Eva mereka membuang nafas yang tertahan dan meraup udara sebanyak-banyaknya untuk mengisi paru-paru mereka yang sempat kosong.


"Dia tidak memecatku?!." Seru Eun Jung.


"Aku hampir mati." Laki-laki yang hampir menarik blazer Eva terduduk dilantai kakinya yang gemetar sudah tidak kuat berdiri.


"Dia mengucapkan terima kasih, tidak arogan seperti yang aku kira." Gumam Bon Hwa.


"Manajer Hwa manajer Lee, ikut saya." Direktur Han berjalan keluar.


***


Mansion yang berada di daerah gangnam terlihat sangat megah lampu-lampu menyala terang membuat mansion itu seakan bercahaya. Seorang gadis berambut panjang sepinggang terlihat sibuk dengan benda elektronik dan sebuah buku kecil duduk dihalaman samping mansion.


"Mau mengintrogasinya?" Daren berjalan dari dalam mension menghampiri Eva.


"Tidak." Daren berdiri sambil menatap putrinya.


"Bukankah ini waktu yang tepat mencoba mempraktekkan ilmu psikologimu?."


"Tentu saja."


"Jadi?."


"Apa tidak ada orang yang mampu mengintrogasinya?" Jawab Eva sibuk dengan kegiatannya.


"Bukankah kamu yang menangkapnya, apa kamu tidak ingin mengintrogasinya sendiri?."


"Aku tidak punya waktu untuk itu." Daren mengalihkan pandangannya menatap halaman taman dengan air mancur ditengah-tengah membelakangi Eva.


"Bukankah lebih baik menyelesaikan sekolahmu dan masuk ke perguruan tinggi, kamu bisa lebih fokus keperusahaan." Mendengar kalimat Daren menghentikan gerakkan tangan Eva, Eva mendongak menatap Daren dengan salah satu alis yang terangkat.


"Apa ayah sudah tidak sabar ingin memasukkan boneka ayah ini kedalam kurungan?." Nada dingin Eva masuk kedalam telinga Daren.


"Yes, if you want to do that, i'll delete all your private schedules and courses. (Ya, jika kamu mau melakukannya, aku akan hapus semua jadwal privat dan kursus kamu.)"


"No thanks dad, i love my private schedules and courses. (Tidak terima kasih ayah, aku menyukai jadwal privat dan kursusku.)" Daren membalikkan badannya menatap Eva.


"Lima tahun lagi aku berumur dua puluh tahun, bersabarlah sampai saat itu. Apa ayah lupa dengan ucapan ayah sembilan tahun lalu?." Eva menatap dalam manik Daren yang jarang sekali Eva lakukan kecuali disaat Eva sedang marah.


"Ayah akan mengunjungi hacker berbakat itu dulu. Dua puluh menit lagi kita berangkat." Daren berbalik pergi tapi baru beberapa langkah dia berhenti menatap putrinya yang sudah kembali sibuk dengan benda elektroniknya.


"Mitra kerja kita nanti juga membawa putri mereka mungkin akan sedikit membuatmu kerepotan." Seru Daren dengan tenang, melihat wajah putrinya yang berubah membuat Daren tersenyum tipis lalu kembali melanjutkan perjalanannya.