
Dimeja makan Ega sudah menambahkan lauk dua kali ke piring Eva dan sekarang ia mengulurkan lagi satu potong ayam goreng, tangan Eva dengan cepat memblokir ayam goreng dengan sendoknya, dua saudara kembar itu saling melempar tatap.
"Biar beratmu bertambah." Ujar Ega.
"Sudah kenyang tidak muat lagi." Tolak Eva.
"Kamu terlalu ringan Yuki." Eva menggeleng pelan.
"Ini masih pagi loh ga, tidak baik juga makan terlalu kenyang." Kata Eva.
"Ya sudah separuh-separuh." Ega mengambil jalan tengah.
"Tidak, sudah tidak bisa masuk lagi." Tolak Eva dengan wajah memelas.
"Separuh atau kamu tidak boleh pergi?." Ucap Ega tegas. Dua pilihan yang memberatkan, batin Eva.
"Kamu jahat ga, separuh." Dengan berat hati akhirnya Eva mengalah, Ega membagi ayam sama rata.
Ega dan Eva selesai dengan makanan mereka, dua anak kembar itu berjalan keluar rumah. Ega menautkan jemarinya ke jemari Eva posesif, dihalaman depan rumah terparkir mobil hitam mewah dengan pengemudinya yang berdiri disamping mobil tersenyum cerah menatap mereka. Ega dengan langkah mantapnya menghampiri Dimas, laki-laki itu sangat rapih dan terlihat keren dengan celana jeans dan hoodie putihnya.
"Apa kalian sudah janjian?." Ega menatap hoodie putih Dimas lalu beralih menatap kaos putih Eva.
"Ini hanya kebetulan." Jawab Dimas.
"Apa kalian hanya akan ke panti saja?." Selidik Ega, mode posesif on, batin Eva.
"Tidak, kita akan ke toko sembako dulu." Jawab jujur Dimas.
"Hanya itu?." Ini lebih parah dari pada ayah, batin Eva yang merasakan betapa posesifnya Ega.
"Sebelum itu kami akan ke restoran dekat sekolah untuk mengambil pesanan." Jelas Dimas gugup.
Apakah memang ini turun temurun di keluarga kami, aura Ega membuat Dimas tidak bisa berkutik padahal Dimas lebih tua darinya, batin Eva.
"Antarkan dia pulang sebelum jam tiga." Titah Ega.
Eva sedikit merasa kasihan dengan Dimas yang terintimidasi kembarannya, Eva menarik tangan Ega melepas tautan mereka melingkarkan tangannya dileher Ega menarik lembut saudara kembarnya untuk menghadapnya. Eva mendekatkan wajahnya ke wajah Ega menabrakkan hidung mancung mereka ke kanan dan ke kiri beberapa kali.
"Kamu membuatnya takut." Eva menghentikan kegiatannya untuk melihat ekspresi Ega.
"Sorry." Lirih Ega memeluk Eva.
"Pergilah, ingat! jam tiga harus sampai dirumah." Eva tertawa riang dalam pelukkan Ega.
"Apa yang kamu tertawakan?." Tanya Ega tanpa melepas pelukkannya.
"Kamu mirip sekali dengan ibu tiri."
"Diamlah." Ucap Ega sedikit merajuk membuat Eva semakin tertawa keras matanya membentuk garis bulan sabit.
"Yuukii." Tegur Ega.
"Maaf." Lirih Eva menghentikan tawanya melepas pelukkan Ega menatap mata coklat terang itu.
Cup.
"Sudah jangan marah." Eva mengecup pipi kiri Ega merayunya agar tidak marah lagi namun Ega masih tetap diam tanpa ekspresi yang Eva artikan sebagai ekspresi cemberut kembarannya.
Cup.
"Hotaru." Panggil Eva lembut setelah mengecup pipi kanan Ega. Ega yang dipanggil dengan nama kecilnya merasa sangat senang ia mengecup sekilas dahi adiknya.
"Cepat pulang." Eva menatap Ega menahan senyum.
"Kan setiap hari ketemu." Eva teringat jawaban Ega tadi malam dengan jahil ia membalikkannya kepada Ega.
"Awas kamu yah." Ega memain-mainkan kedua pipi Eva.
"Egwa... Akuw haruss pwergi." Ucap Eva tidak jelas karena tangan Ega masih memainkan pipinya.
"Hm, hati-hati." Ega melepas tangannya.
***
Dijalan Dimas dan Eva saling diam tidak ada yang membuka mulutnya, kini mereka sedang menunggu pegawai restoran memasukkan pesanan mereka kedalam mobil.
"Terima kasih." Ucap Dimas kepada pegawai restoran.
Eva masuk kedalam mobil dan disusul oleh Dimas, Dimas membawa mobil dengan santai melirik sebentar kesamping.
"Aku iri." Ucap Dimas tiba-tiba.
"Hm?."
"Kalian sangat dekat, jika aku tidak tahu kalau kalian adalah saudara kembar mungkin aku akan berpikir kalian sepasang kekasih." Dimas melirik Eva mata mereka bertemu.
"Aku tidak bisa hidup tanpanya." Jawab Eva.
"Kamu benar, bagaimana denganku?." Eva menaikan satu alisnya tidak paham.
"Tentu saja kamu tetap bisa hidup ada dan tanpa adanya diriku hahahaa." Dimas tertawa seraya menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Bodoh, batin Dimas.
Beberapa menit kemudian mereka sampai dipanti, Dimas dan Eva disambut meriah oleh anak-anak dan beberapa pengurus panti. Dimas mengangkat semua barang bawaan mereka meletakkannya didapur panti.
Di panti Eva hanya duduk dan mengamati anak-anak belajar dan bermain Dimas juga ikut serta didalamnya dengan telaten mengajari mereka. Eva tidak sadar hari sudah siang waktunya mereka untuk makan, dua pengurus panti beranjak kedapur untuk mempersiapkan makan siang anak-anak juga berkumpul diruang makan menunggu makanan mereka datang.
Eva berjalan tanpa suara ke samping panti memeriksa sebentar bahwa tidak ada orang yang melihatnya lalu ia membuka tas mengambil beberapa obat yang langsung diminumnya sekaligus tanpa dibantu dengan air putih.
Eva berjalan kembali ke ruang makan tiba-tiba sebuah piring datang dari arah belakangnya. Eva menatap tangan besar itu.
"Jangan suka ngilang nona muda." Kata Dimas dibelakang Eva.
"Kamu juga harus makan." Sambung Dimas, Eva menerima piring itu mengamati sebentar lalu menoleh ke belakang tapi Dimas sudah tidak ada, laki-laki itu hilang entah kemana.
Eva menikmati makanannya yang hampir habis bola matanya sedari tadi mencari seseorang.
"Cari siapa?." Entah sejak kapan Dimas sudah duduk disampingnya menikmati makanan yang ada dipiring laki-laki itu.
"Rian dan Ista, dimana mereka?." Tanya Eva yang baru menyadari keganjilan yang ia rasakan sejak sampai dipanti. Hening sebentar.
"Mereka ada dikamar." Jawab Dimas.
"Kamar?." Eva berhenti makan ia meletakkan sendoknya dan berdiri, tangan kiri Dimas dengan cekatan menahan tangan Eva meremasnya sebentar. Eva menatap bingung Dimas.
"Habisin dulu, aku tidak ingin diterkam oleh kembaranmu karena tidak bisa menjagamu dengan baik." Kata Dimas mendongak menatap bola mata Eva. Eva dengan mata birunya menatap datar Dimas, Dimas paham arti tatapan itu ia memberikan senyum lembutnya kepada Eva.
"Setelah ini kita kesana." Gadis itu sepertinya sedang berpikir, Dimas sedikit ragu Eva mau menurutinya namun sepertinya Dimas hari ini sedang beruntung Eva kembali duduk dengan pelan Dimas melepas tangannya dari tangan Eva. Mereka melanjutkan makan siang.
"Dimana kamarnya?." Tanya Eva. Dimas dan Eva kini sedang berjalan menuju kamar Rian.
"Sebentar lagi." Jawab Dimas memimpin jalan, Dimas berhenti dipintu berwarna coklat dengan taman kecil didepannya.
"Ini, ayo masuk." Dimas membuka pintu itu melangkah masuk Eva dibelakangnya mengekor.
"Kok belum tidur?." Ucap Dimas mendekat ke sisi ranjang, Eva menatap ranjang tanpa ekspresi.
"Kak Dimas bawa kakak cantik nomor dua loh." Ujar Dimas menoleh ke belakang dimana tempat Eva sedang berdiri.
Dimas tidak bisa menebak apa yang sekarang sedang dipikirkan atau pun sedang dirasakan oleh Eva dengan ekspresi seperti itu. Ista dengan air mata yang membanjiri pipinya berlari memeluk Eva. Berbeda dengan Rian yang terbaring diranjang, anak laki-laki itu tersenyum cerah memamerkan gigi-gigi kecilnya.
"Hai kakak nomol dua, sudah lama kakak tidak kesini." Ucap riang Rian, Eva menunduk menatap Ista yang menangis hebat, Eva mengelus lembut surai Ista.
Bibir Ista terbuka namun tidak ada suara yang keluar dari sana. Eva memegang kedua pundak Ista melepas pelukkan gadis kecil itu. Eva mensejajarkan tingginya dengan tinggi Ista menghapus air matanya. Eva mulai menggerakan tangannya membentuk sebuah pola.
"Rian kenapa?." Tanya Eva, Ista dengan gerakkan tangannya menjawab Eva.
"Rian sakit sudah dua hari ini." Cairan bening kembali terjatuh dari mata Ista.
"Sakit apa? sudah diperiksa dokter?." Ista menggeleng.
"Rian tidak suka dokter." Jawab Ista, Eva melirik Rian diatas ranjang.
"Ista jangan nangis lagi ya, biar kakak yang membujuk Rian." Ista menggelengkan kepalanya lagi.
"Kak Dimas juga sudah membujuk Rian sejak kemarin, ibu panti dan guru-guru yang lain juga sudah tapi Rian selalu marah-marah jika dibujuk." Jelas Ista, Eva tersenyum lembut menghapus air mata Ista yang turun lagi. Eva berdiri pelan menghampiri ranjang. Disisi lain ranjang ada ibu panti berdiri menyapa Eva. Dimas mundur memberikan Eva ruang.
"Kak Eva wajahnya selem." Dimas yang mendengar kalimat itu dari mulut Rian menahan tawanya.
"Rian sehat kok, Rian kuat, Rian mau jagain Ista." Eva menoleh menatap Rena.
"Mereka kakak adik?." Tanya Eva.
"Bukan." Jawab Rena, Eva menaikan satu alisnya. Apa yang membuat Rian berpikir seperti itu, batin Eva.
"Itu namanya cinta pertama." Jelas Dimas, jawaban Dimas tidak masuk kedalam logika Eva. Gila, batin Eva. Dimas mendekatkan bibirnya ke telinga Eva membisikkan sesuatu.
"Jangan menyebutku gila Eva Augustin Ahyner." Eva mendelik kepada Dimas membuat laki-laki itu menahan senyumnya. Eva kembali menatap Rian.
"Boleh kakak menyentuhmu?." Tanya Eva.
"Boleh." Jawab Rian.
Tangan kiri Eva menyentuh denyut nadi ditangan kanan Rian, Eva fokus berkonsentrasi.
Dimas dan Rena hanya melihat apa yang dilakukan Eva tanpa berkomentar. Ista berjalan memeluk kaki Dimas.
"Rian nggak panas kan kak, Rian baik-baik saja." Ucap Rian seraya tersenyum namun Eva malah mengerutkan keningnya Dimas yang baru pertama kali melihat Eva mengerutkan dahinya menjadi khawatir.
Eva meletakkan jari telunjuk kanannya dibawah hidung Rian, kembali berkonsentrasi. Beberapa detik berikutnya Eva menarik kedua tangannya menatap dalam Rian.
"Kenapa Rian tidak mau ke rumah sakit?." Senyum diwajah Rian memudar.
"Lian benci doktel." Wajah Rian berubah cemberut.
"Boleh tidak kakak mendengar cerita Rian kenapa Rian benci dokter?." Bujuk Eva.
"Doktel jahat Lian benci." Eva mengelus pucuk kepala Rian.
"Dokter jahat sama Rian?." Rian menggeleng pelan.
"Doktel jahat sama ibu, ibu sakit pelutnya digunting." Dimas tertegun laki-laki itu langsung menatap Rena meminta penjelasan.
"Rian masuk panti baru enam bulan yang lalu ibu Rian satu-satunya keluarga yang Rian punya meninggal dirumah sakit waktu itu." Jelas Rena.
"Apa penyebabnya?." Tanya Dimas.
"Operasi usus buntu." Jawab Rena.
"Doktel sudah bunuh ibu." Rian menahan air matanya sekuat tenaga. Dimas, Rena, Ista menjatuhkan air mata mereka tanpa mereka sadari.
"Rian mau jagain Ista?." Tanya Eva mengalihkan fokus Rian. Rian mengangguk mantap.
"Rian sayang sama Ista?." Rian membalas tatapan Eva lalu mengangguk pasti.
"Rian mau lihat Ista lebih sedih?." Rian menggeleng cepat.
"Kalau begitu Rian harus ke rumah sakit." Rian tiba-tiba menampar tangan Eva yang berada diatas kepalanya.
"Tidak!. Pelgi!. Lian nggak mau lihat kakak." Seru Rian mulai histeris, Eva menatap Rian dalam.
"Rian tadi bilang tidak mau buat Ista sedih, lihat. Ista sekarang menangis karena Rian." Rian menatap Ista yang sedang menangis dipelukkan Dimas.
"Ista jangan sedih, Lian tidak apa-apa, Lian sehat kok." Ucap Rian, tangan Eva menekan perut Rian tepat di lambungnya.
"Aaagghh!." Jerit Rian air matanya mulai turun.
"Rian tidak boleh berbohong." Ucap Eva mengecup lembut kening Rian.
"Kakak janji setelah Rian bangun nanti Rian sudah sembuh." Ucap Eva lalu menotok leher samping sedikit kebawah dengan dua jarinya membuat Rian secara perlahan kehilangan kesadarannya.
Ista yang melihat Rian tidak bergerak berlari memukul lengan Eva. Ista berteriak tanpa suara, Dimas berjalan menghampiri Ista tapi Eva menyuruhnya berhenti dengan isyarat lima jari tangan gadis itu.
Eva memeluk tubuh Ista berkata dengan lembut.
"Kakak hanya membuat Rian tertidur." Ista masih memberontak didalam pelukkan Eva.
"Rian punya kanker lambung kalau tidak segera dioperasi akan membahayakannya." Ista berhenti memberontak, semua mata tertuju kepada Eva.
"Kan ker?." Ulang Ista dengan gerakkan tangannya, Eva mengangguk.
"Kanker adalah penyakit jahat yang ada di tubuh manusia." Ucap Eva menjelaskan tanpa bahasa isyarat.
"Sekarang kakak mau panggil dokter buat periksa Rian dulu ya." Eva mengelus pelan pipi Ista.
"Rian tidak akan pergi ninggalin Ista kan? Rian tidak akan mati seperti ayah dan ibu kan?." Tanya Ista khawatir.
"Rian pasti sembuh, Ista doain Rian ya." Jawab Eva, Rena menarik Ista dari pelukkan Eva.
"Bagaimana kamu tahu?." Tanya Rena.
"Yang terpenting bukan bagaimana caranya saya tahu, sekarang Rian harus dibawa kerumah sakit." Eva mengeluarkan ponselnya. Sedangkan Dimas menatap Eva tidak berkedip.
Ternyata masih banyak yang belum aku ketahui tentangnya, batin Dimas.
Eva memasukkan ponselnya kedalam tas.
"Bu Rena, dokter akan sampai beberapa menit lagi biarkan mereka membawa Rian ke rumah sakit. Jangan khawatir, dia adalah dokter kepercayaan saya. Untuk biaya semua saya yang menanggung." Eva berjalan keluar setelah mendengar jawaban Rena.
Dimas mengikuti Eva keluar kamar dengan sebelumnya menenangkan Ista lebih dulu mengatakan kepada anak perempuan itu bahwa semuanya akan baik-baik saja. Eva berdiri diam dipinggir taman kecil didepan kamar.
"Kamu baik-baik saja?." Tanya Dimas.
"Hm, hanya berpikir betapa sakitnya menahan semua itu sendirian." Eva menerawang kembali ke masa-masa kecilnya didalam ruang rahasia menahan rasa sakit yang terus menghantamnya.
"Kalau Rian nanti bangun dan sadar, jika dia tidak berada di panti melainkan di rumah sakit itu akan membuat psikologinya terguncang." Ujar Dimas.
"Serahkan semuanya kepada dokter." Jawab Eva, Rian tidak akan bangun sampai dia selesai operasi, batin Eva.
"Apa kamu belajar ilmu kedokteran juga?." Dimas melirik gadis disampingnya. Eva hanya mengedikkan bahunya.
"Wah sepertinya akan lebih sulit untuk mendapatkan mu."
"Mau menyerah." Ucap Eva.
"Itu tidak akan terjadi." Jawab Dimas tegas tanpa sadar Eva tersenyum kecil.
"Va." Lirih Dimas.
"Hm?."
"Ini memang waktu yang tidak tepat tapi, Eva maukah kamu..." Dimas menoleh ke gadis disebelahnya, mata Dimas melebar kaget.
Eva memegangi perutnya menahan sakit dan tiba-tiba ia jatuh terduduk, tangan lainnya memegang sebelah kaki.
"Va kamu kenapa?." Tanya Dimas khawatir. Eva menatap Dimas.
"Kita pulang sekarang." Pinta Eva cepat.
"Baik kita pulang sekarang." Dimas membantu Eva berdiri.
"Kamu bisa berja.., lan?!." Seru Dimas terkejut karena Eva menarik tangan Dimas berlari cepat kearah mobil laki-laki itu.
"Cepat." Pinta Eva sudah duduk dikursi samping kemudi. Dimas bergegas memasang sabuk pengaman menjalankan mobilnya.
Dimas melirik Eva khawatir, sejak tadi gadis disebelahnya membuang muka menghadap kaca mobil tangannya terkadang terkepal seperti menahan sesuatu. Dimas ingin sekali bertanya tapi ia mengurungkan niatnya melihat Eva yang berubah seperti itu.
Tangan kiri Dimas meraih tangan kanan Eva menautkan jemari mereka, Eva menatap tajam laki-laki disampingnya.
"Kalau mau marah aku pantas menerimanya, kalau kamu tidak suka kamu boleh melepasnya." Ucap Dimas tenang. Eva kembali membuang wajahnya menghadap kaca mobil.
Dimas kira Eva akan marah besar kepadanya tapi gadis itu tidak mengatakan apa pun Eva membiarkan Dimas menggenggam tangan rampingnya. Dimas meremas lembut tangan Eva menenangkan gadis itu. Nafas Eva naik turun mulai tidak beraturan.
"Kita kedokter ya." Ajak Dimas.
"Pulang." Jawab Eva tegas.
Membutuhkan waktu satu jam lebih untuk sampai dirumah Eva, tangan Eva dengan cepat melepas sabuk pengaman membuka pintu mobil menoleh sebentar ke arah Dimas.
"Terima kasih kak." Setelah mengatakan itu Eva secepat kilat berlari masuk kedalam rumah meninggalkan Dimas dengan sejuta pertanyaan.
Eva memasuki rumah besar itu kaki jenjangnya berlari ke lantai dua Eva membuka pintu kamar secara kasar yang ia cari tidak ada di kamar Eva membuka pintu kamar mandi kamar mandi itu kosong. Eva meninggalkan kamar berlari menuruni tangga bola matanya bergerak cepat ia fokus dengan apa yang ia cari, segerombol orang masuk dari pintu belakang. Mata biru Eva menemukan target, Eva menambah kecepatan larinya.
"Hei. Kamu sudah pulang." Ucap Ega terkejut, seperti kilat Eva sudah berdiri dihadapannya. Tangan Eva menarik kerah baju Ega membuat laki-laki itu terdorong kedepan.