Yuki

Yuki
Bab 7



Bon Hwa meraih gelasnya dan menengguk isi dalam gelas sampai habis.


"Nona, itu adalah model-model terkenal dan terbaik yang kami pilih, coba nona lihat lagi mungkin ada yang terlewat." Eva menatap tegas mata Bon Hwa.


"Tidak."


"Bisakah anda menjelaskan kenapa anda tidak tertarik dengan model-model ini?." Bon Hwa tidak ingin jerih payah anggota timnya ditolak begitu saja karena itu dia ingin mendengar alasan logis dari Eva.


Bukannya menjawab pertanyaan Bon Hwa Eva malah berdiri meninggalkan Bon Hwa membayar makanan mereka dan keluar dari restoran itu, dengan tergesa Bon Hwa menyusul Eva.


Bon Hwa berjalan dibelakang Eva menatap punggung gadis itu menerka-nerka apa yang ada didalam pikiran Eva, pikirannya sulit sekali untuk ditebak.


Mereka memasuki toko kosmetik tujuan mereka berdua berikutnya, pelayan-pelayan muda dengan polesan make up produk yang dijual terlihat sangat cantik menyambut mereka dengan ramah. Didalam toko terlihat ramai oleh pengunjung. Bon Hwa kira Eva akan melihat-lihat produk yang selalu menarik perhatian para wanita itu tapi dia salah Eva berjalan lurus kearah wanita dengan seragam yang berbeda dengan pelayan lainnya.


"Annyeonghaseo." Eva menunduk sedikit dan dijawab dengan ramah oleh wanita itu.


"Maaf kami perwakilan dari kantor, hari ini kami akan mengecek beberapa dokumen, mohon kerja samanya." Eva tersenyum ramah yang dia buat dengan sempurna membuat Bon Hwa kaget, Bon Hwa mengira Eva orang yang kaku dan serius juga dingin tapi apa yang dia lihat saat ini berbanding terbalik. Sebenarnya dia orang yang seperti apa?, batin Bon Hwa.


"Boleh saya lihat ID anda?." Tanya wanita yang menduduki posisi kepala toko itu.


"Tentu saja." Eva mengalihkan pandangannya menatap Bon Hwa. Tujuan Eva mengajak Bon Hwa mengunjungi dua toko hari ini karena Eva butuh ID karyawan perusahaan dengan jabatan tinggi dan sekaligus ingin mendengar hasil meeting kemarin secara langsung.


Bon Hwa menunjukkan IDnya.


"Bisa saya lihat ID anda nyonya?." Tanya kepala toko.


"Dia sekertaris saya, apa ID saya belum cukup meyakinkan anda?." Kata Bon Hwa.


"Tidak tuan ini sudah cukup, silahkan tunggu sebentar." Wanita kepala toko itu meninggalkan mereka berdua dan naik ke lantai dua.


Bola mata Eva menyapu seisi ruangan seperti seekor elang yang mencari mangsa.


"Anda tidak ingin mencoba produk kita nona?." Tanya Bon Hwa membuka percakapan. Jawaban Eva membuat Bon Hwa seperti tersambar petir.


"Pecat karyawan yang sedang melayani wanita berambut blonde itu."


"Hah?."


"Maaf membuat anda menunggu silahkan naik keatas." Kata kepala toko yang sudah kembali.


"Pecat sekarang." Eva melangkah meninggalkan dua orang yang masih bingung dengan apa yang mereka dengar.


Bon Hwa menghampiri Eva yang sedang fokus menatap layar komputer.


"Apa yang anda katakan tadi hanya bercanda bukan?." Tanya Bon Hwa yang tidak diindahkan oleh Eva.


"Anda tidak bisa memecat karyawan sembarangan, karyawan itu sudah bekerja keras." Bon Hwa mulai kesal dengan gadis didepannya yang selalu mengabaikan dirinya. Tidak ada tanggapan dari Eva membuat Bon Hwa menarik nafas panjang.


"Tolong pikirkan kembali keputusan anda nona."


"Pecat juga kepala toko." Bon Hwa memijat dahinya frustasi.


"Nona Eva, bisakah anda menjelaskannya kepada saya?." Suara bariton Bon Hwa berubah pelan.


"Setidaknya jawab saya nona." Eva sibuk menekan keyboard dan mouse bergantian.


"Nona, saya sedang bicara dengan anda." Eva mendongakkan kepalanya menatap Bon Hwa.


"Bisakah anda tidak banyak bertanya manajer Hwa? mendengar anda banyak bicara mengingatkanku dengan kejadian tadi malam membuat tenggorokanku kembali terasa sakit." Eva menyentuh lehernya, selesai makan malam yang panjang dengan keluarga Choi tenggorokkan Eva sangat kering dan itu menyakitkan karena terlalu banyak bicara.


Bon Hwa tidak mengerti apa yang dibicarakan Eva dia menyimpulkan Eva sedang tidak dalam keadaan baik-baik saja karena itu Bon Hwa memutuskan untuk menuruti Eva dan mengamatinya.


"Tutup toko sekarang." Perintah Eva terdengar tidak masuk akal ditelinga Bon Hwa tapi dia tetap melakukannya.


Bon Hwa turun lebih dulu berbicara dengan kepala toko, kepala toko segera menyuruh para bawahannya untuk menjelaskan kepada customer bahwa toko akan ditutup karena ada sedikit masalah. Beberapa menit kemudian Eva berjalan menuruni tangga menghampiri Bon Hwa dengan kertas ditangannya.


Eva melihat customer terakhir keluar dari toko.


"Maaf bisakah kordennya juga ditutup?." Tanya Eva kepada salah satu karyawan.


"Baik nona." Karyawan itu segera menutup semua korden menghalangi pandangan mata orang diluar sana.


"Kumpulkan semua orang." Lirih Eva disebelah Bon Hwa.


"Yura si tolong kumpulkan semua karyawan." Kata Bon Hwa kepada wanita kepala toko. Semua karyawan berkumpul didepan Bon Hwa dan Eva yang berdiri disamping meja kasir. Karyawan penjaga kasir bergegas keluar dari tempatnya setelah merapikan meja kasir yang tadi berantakan karena ada customer yang hendak membayar.


"Nona anda disitu saja." Kata Eva lembut menghentikan niat karyawan itu untuk keluar.


"Maaf atas perintah dadakan ini, pasti kalian bertanya-tanya kenapa toko ditutup dan kalian dikumpulkan. Saya manajer tim marketing dan sekertaris saya datang untuk melihat kondisi toko dan mengecek beberapa dokumen." Raut wajah semua karyawan berubah gelisah. Sebelumnya toko tidak pernah ditutup secara mendadak dan mereka juga tidak pernah dikumpulkan setelah ada kunjungan dari perusahaan.


"Untuk selanjutnya sekertaris saya yang akan menjelaskan." Eva merasakan kharisma Bon Hwa yang tegas dan tenang membuat Eva mengakui posisi Bon Hwa di perusahaan.


"Terima kasih, saya langsung saja." Mata Eva mengarah ke name tag kecil yang terpasang di dada kiri salah satu karyawan.


"Kim Na Eun shi." Semua orang menatap gadis yang kini bergeming ditempatnya.


"Ne?."


"Saya beri waktu kamu satu menit untuk menjelaskan perbuatanmu."


Semua orang membeku mendengar kalimat Eva, dikepala mereka banyak pertanyaan menuntut jawaban.


"S sa saya tidak tahu anda bicara apa nona."


"Na Eun si apa bahasa hangug (Korea) saya kurang jelas?." Nada dingin yang keluar dari bibir Eva menusuk setiap pasang telinga yang mendengarnya.


"Waktumu tinggal sepuluh detik." Eva melihat jam tangannya lalu menjentikkan jari.


"Waktumu habis Na Eun si, kamu dipecat." Semua orang disana kecuali Bon Hwa terkejut.


"Apa salah saya nona?." Air mata Na Eun mulai turun. Eva menarik nafas berat dia paling tidak suka berurusan dengan orang yang melakukan kesalahan tapi orang itu selalu berusaha menutupi kesalahannya berpura-pura tidak terjadi apa-apa. Bon Hwa menatap Eva menunggu penjelasan.


"Yura si, jika ada produk yang cacat kalian apa kan produk itu?." Tanya Eva, Yura yang tiba-tiba ditanya sedikit kaget.


"Kami mengumpulkannya untuk didata dan membuat laporan barang NG, barang NG yang sudah didata, karyawan diperbolehkan mengambilnya." Jelas Yura.


"Nona tolong buka rekaman cctv lima puluh menit yang lalu." Eva menatap karyawan dibalik meja kasir.


"Ne." Karyawan itu dengan cekatan membuka rekaman cctv, dilain sisi ada jantung yang berdegup kencang, nafasnya memburu dan tangannya yang mulai berkeringat.


"Sudah nona." Eva memutar layar komputer kedepan menghadap para karyawan.


"Saya akan putarkan dan perhatikan baik-baik." Kata Eva lalu memutar rekaman cctv.


Terlihat salah satu karyawati sedang merapihkan lipstik membuka tutupnya memeriksa tidak ada kerusakan terlihat tidak ada kejanggalan sampai tiba-tiba Eva menghentikan rekaman itu.


"Ada yang tahu siapa dia?." Tanya Eva melirik layar komputer.


"I itu Na Eun." Ucap salah satu diantara mereka.


"Bagaimana anda tahu bahwa dia Na Eun si?."


"Hanya Na Eun yang memakai kuncir rambut."Semua orang saling menatap baru sadar akan fakta itu.


"Apa yang kalian temukan direkaman tadi?." Tanya Eva perlahan menjelaskan situasi.


"Tidak ada nona." Eva menghembuskan nafas berat, lagi. Ini melelahkan, batin Eva.


"Dia sudah terlatih, ini bukan pertama kalinya dia melakukan ini kenapa? karena setiap dia melakukan aksinya tubuhnya selalu membelakangi kamera. Melakukan tugasnya memeriksa produk terlihat seperti biasa saja tetapi, disaat dia menemukan target dengan gerakan cepat dan rapih dia merusak produk." Eva memutar rekamannya lagi dan mengentikannya.


"Disini terlihat kuku ibu jarinya menggunakan cat kuku berwarna ungu muda," Eva memutar rekaman lagi dan menghentikannya.


"Saat dia menutup lipstik ada warna lain yang menempel disana." Semua mata fokus memperhatikan layar, diujung kuku ibu jari Na Eun ada bercak warna pink warna yang sama dengan lipstik yang baru diperiksa.


"Bukankah tadi dia melaporkan barang NG Yura si?." Eva kini menatap Yura tajam.


"Ne nona."


"Buka lokernya sekarang Yura si." Air mata Na Eun semakin deras. Yura dan beberapa karyawati melihat isi loker Na Eun yang tedapat banyak bermacam produk.


"Ini semua ada didalam loker Na Eun nona." Kata Yura memperlihatkan barang-barang yang dibawa dua karyawati lain.


"Na Eun si ka-" Na Eun tiba-tiba berlutut dihadapan Eva dan Bon Hwa.


"Maaf kan saya non, tuan, jangan pecat saya." Suara tangis pilu Na Eun mengisi lantai satu. Sorot mata Eva berubah tajam.


"Lakukan sesuatu yang membuatmu tersenyum diakhir, penyesalanmu tidak merubah keputusanku." Suara Eva menusuk hati siapa pun yang mendengar.


"Yura si." Panggil Eva tajam. Yura yang menatap pilu bawahannya langsung berpaling menatap manik Eva.


"N ne?." Eva ingin cepat menyelesaikan semua ini.


"Jika kamu ingin menyembunyikan data dan memanipulasinya jangan gunakan satu komputer minimal dua komputer yang kamu butuhkan." Eva memberikan kertas yang dia print sebelum turun dari lantai dua kepada Bon Hwa. Bola mata Yura bergetar. Eva mengetuk dua kali samping kepalanya dengan telunjuk seraya menatap Yura.


"Kamu di pecat. Kalian semua boleh pulang." Eva melangkah pergi.


"Yura si, nanti ada orang yang menemuimu meminta pertanggung jawabanmu, kalian semua boleh pulang dan besok tetap bekerja seperti biasa." Usai mengatakan itu Bon Hwa berlari menyusul Eva.


Bon Hwa membuka pintu toko dengan kasar rasa bersalah menggelayuti hatinya. Bon Hwa melangkah lebar hendak berlari mencari Eva yang sudah hilang dari pandangannya tapi tiba-tiba ada sebuah tangan menariknya dari samping.


"Lama." Ucap Eva menarik pergelangan tangan Bon Hwa, Bon Hwa yang masih terkejut hanya bisa mengikuti.


Mereka berhenti disalah satu Cafe, Eva melepaskan tangannya dan berlalu masuk, Bon Hwa sedikit kecewa menatap pergelangan tangannya.


"Lemon tea," Eva menatap Bon Hwa yang sedari tadi diam memandanginya.


"Dia menunggu pesanan anda." Bon Hwa berpaling dari wajah Eva menatap pelayan cafe yang sedang menunggunya.


"A ah, americano." Jawabnya salah tingkah.


"Baik silahkan tunggu sebentar." Kata pelayan, mata Eva menangkap ada bangku kosong dipojok cafe kakinya melangkah menuju bangku itu dan duduk disana. Eva melihat Bon Hwa masih menunggu pesanan mereka.


Eva melirik jam tangannya pukul 14:30.


"Anda punya acara lain?." Tanya Bon Hwa memberikan minuman Eva seraya duduk dihadapannya.


"Hm."


"Anda harus segera pergi?." Eva meminum lemon tea nya.


"Hm."


"Sayang sekali." Lirih Bon Hwa.


"Saya minta maaf atas perlakuan saya yang kurang baik tadi."


"Hm."


Eva meletakkan minumannya yang tinggal setengah.


"Terima kasih anda mau menemani saya hari ini, sampai jumpa." Setelah mengatakan itu Eva pergi meninggalkan Bon Hwa yang masih kaget ditinggal pergi tiba-tiba.


Eva menaiki bis menuju tujuan berikutnya, jarinya mengetik pesan dilayar benda tipis itu kepada Ronggo.


​​​​​​Aku akan menemui guru sebentar tunggu lah di luar.


O R (Om Ronggo)


Baik non.


Eva turun didepan rumah sakit besar berlantai tiga dengan taman yang luas disampingnya, Eva menghampiri meja resepsionis.


"Saya ingin bertemu dokter Jun Ho."


"Apakah anda sudah membuat janji?."Tanya resepsionis.


"Belum tapi bisakah anda menghubungi dokter Jun Ho katakan kepadanya Augustin ingin bertemu dengannya." Tanya Eva.


"Baiklah, tolong tunggu sebentar."


Beberapa menit kemudian resepsionis memanggil Eva.


"Dokter Jun Ho menunggu anda diruangannya silahkan naik ke lantai tiga." Eva mengangguk singkat.


"Gamsahabnida."


Eva tidak langsung menuju ke lantai tiga dia masuk ke toilet lebih dulu. Didalam toilet Eva membuka lensa mata memasukkannya kedalam kotak kecil, mata birunya terpantul indah dicermin, jari telunjuk dan jempolnya melepas titik hitam dipipi melemparnya begitu saja ke tempat sampah, Eva menarik sesuatu yang tipis di bawah matanya benda itu berfungsi untuk merubah sedikit bentuk wajah bagian bawahnya.


Benda eksperimannya yang masih dia rahasiakan itu Eva pakai untuk berjaga-jaga kalau situasi mengharuskannya membuka masker karena itu dia menyuruh pengawalnya untuk menjaga jarak agar mereka tidak menyadari ada perbedaan diwajahnya. Dan dengan satu tambahan t*hi lalat dipipi membuatnya menjadi orang yang berbeda.


Eva memotong benda tipis yang menyerupai kulit itu dengan gunting super kecil yang dia bawa didalam tas lalu melemparnya kedalam tempat sampah,Eva menjulurkan lidahnya mengambil benda tipis dan kecil berwarna hitam dari bawah lidah.


"Agh rusak, aku harus membuatnya lagi." Lirih Eva, memasukkan benda canggih itu kedalam plastik lalu memasukkannya ke dalam tas.


Eva menatap pantulannya dicermin, mencuci mukanya dan menyisir rambut dengan jari. Setelah berasa cukup Eva meninggalkan toilet menuju lantai tiga.


Eva berjalan dilorong rumah sakit yang sepi berpapasan dengan beberapa suster dan berhenti didepan pintu bertuliskan psychology mengetuknya pelan, terdengar suara laki-laki dari dalam ruangan menyuruhnya masuk. Perlahan Eva mendorong pintu dan menutupnya kembali.


Mata Eva bertemu dengan mata Pria tiga puluh tujuh tahun dengan seragam putih sedang tersenyum cerah kepadanya.


"Lama tidak bertemu gadis nakalku." Suara riang Jun Ho menggelitik telinga Eva, pria itu berjalan menghampiri Eva merentangkan kedua tangannya.


"Jangan menyentuhku." Suara dingin Eva menghentikan Jun Ho.


"Sudah dua tahun lebih kita tidak bertemu kau tetap tidak berubah." Jun Ho mengulurkan tangannya hendak menyentuh kepala Eva dia ingin mengacak-acak rambut gadis itu.


Cetak!.


"Argh!." Jun Ho memegang pergelangan tangannya.


"Jangan coba-coba."


"Yokshii, gadis nakal tetaplah nakal."Jun Ho kembali duduk dikursi kebesarannya.


"Kau mau berdiri terus disitu?." Eva melangkah duduk didepan Jun Ho.


"Selain ingin megunjungi dokter sekaligus guru psychologymu yang super ganteng ini pasti ada hal lain yang ingin kamu tanyakan bukan?." Eva memutar bola matanya malas.


"Berhenti lah melakukannya, melihat wajahmu yang tidak menua itu saja membuatku bergidik ngeri." Jun Ho tersenyum lebar.


"Gomawo gadis nakal." Tangan Jun Ho terulur ingin menyentuh hidung mancung Eva yang menurutnya menggemaskan, ia langsung mendapatkan tatapan tajam gadis itu.


"Arrasseo aku tidak akan melakukannya, jadi?." Jun Ho menarik tangannya lagi.


"Aku merasakannya lagi." Raut wajah Jun Ho berubah serius.


"Kapan?."


"Baru tiga hari yang lalu."


"Dimana?."


"Punggung."


"Duduk disini."Jun Ho meletakkan kursi bulat disamping kursinya, Eva dengan patuh duduk memunggungi Jun Ho.


"Angkat bajumu." Eva mengangkat sweaternya keatas, Jun Ho memeriksa punggung Eva dengan teliti.


"Tidak ada yang aneh, kau sudah melihatnya?." Eva menurunkan lagi sweaternya.


"Ya dari cermin."


"Berapa kali itu terjadi?." Eva kembali duduk dikursi berhadapan dengan Jun Ho.


"Sejak terakhir kita bertemu lima puluh kali." Jun Ho menyenderkan punggungnya di punggung kursi.


"Semuanya dipunggung?."


"Tidak, aku pernah merasakan pukulan keras di ulu hati, dipipi, dan tendangan dipinggang dan kakiku."Jun Ho mengelus dagunya berpikir.


"Penyakitmu ini sangat aneh, kau merasakan sakit yang nyata tapi tidak ada bekas yang tertinggal." Jun Ho menatap Eva dalam.


"Apa hanya itu?."


"Tidak." Eva membalas tatapan Jun Ho.


"Dua bulan sekali badanku akan mengeluarkan keringat dingin tanpa sebab."


"Sejak umurmu delapan tahun kamu merasakan rasa sakit yang datang tiba-tiba dan tidak meninggalkan bekas, tapi ini kasus baru untukmu, sejak kapan itu terjadi?."


"Sehari setelah terakhir kita bertemu."


"Apa kau yakin?." Eva mengangguk.


"Bagaimana dengan mimpimu?." Tanya Eva.


"Aku masih sering memimpikannya."


"Saat aku menghipnotismu ada saat dimana ingatanmu terpotong dan ketika aku menggalinya lebih dalam ada sesuatu yang menghalangi, aku pernah memaksa menerobos penghalang itu hasilnya darah keluar dari bibirmu. Ini sangat aneh."Jun Ho menyilangkan lengannya berpikir keras.


"Mau mencoba hipnotis lagi?." Tanya Jun Ho.


"Tidak, hasilnya akan tetap sama."


"Apa jangan-jangan kamu pernah dihipnotis sebelum bertemu denganku?."


"Itu tidak mungkin, ingatanku sangat kuat sejak kecil, dan aku tidak pernah membiarkan sembarang orang berada dekat denganku."


"Ada satu cara." Mereka saling menatap.


"Apa?." Tanya Eva.


"Kau harus bertanya langsung kepada ibumu, dia orang yang berpotensi memiliki semua jawaban-jawaban atas masalah ini." Eva membuang muka.


"Lupakan."


"Kau harus mencobanya, kau tidak boleh membiarkan dirimu tersiksa seperti ini." Jun Ho geram melihat Eva yang keras kepala, hatinya juga merasa sakit melihat gadis itu tersiksa.


Tiga tahun lalu seorang gadis kecil bermata biru mengunjungi kediamannya, kunjungan yang tidak bersahabat. Malam itu hujan turun sangat deras, Jun Ho sedang duduk membaca diruang kerjanya tiba-tiba pintu ruangan terbuka pelan membuat Jun Ho langsung siaga. Jun Ho tinggal sendirian jadi tidak mungkin ada orang lain dirumahnya.


"Apa kau akan menembakku dengan benda itu?." Suara merdu nan dingin itu keluar dari balik pintu menampakkan seorang gadis kecil dengan rambut hitam sebahu, kulit seputih salju dengan mata biru yang menyala terang. Jun Ho terperanjat kaget karena gadis itu tahu apa yang Jun Ho genggam didalam laci meja.


"Mungkin, bagaiman kau bisa masuk gadis nakakl?." Tidak ada yang bergerak diantara mereka.


"Lewat pintu depan." Bola mata Jun Ho membulat sempurna. Dia bukan gadis sembarangan, batin Jun Ho.


"Pintu depan mempunyai dua lapis keamanan, maksud pertanyaanku adalah bagaimana kamu melewatinya?." Gadis itu memiringkan kepalanya.


"Dengan memasukkan sandi." Jun Ho mengeluarkan pistolnya dari dalam laci mengarahkan tepat ke kepala gadis itu.