Yuki

Yuki
Bab 26



Bus telah sampai dipelabuhan besar kedua remaja itu turun dari bus, Ega melihat sekeliling lalu mendongakkan kepalanya tangan kanan diangkat menutupi wajahnya.


"Mataharinya sangat terik." Ucap Ega.


"Tentu saja ini kan jam dua belas siang." Sahut Eva datar.


"Ayok sebentar lagi kapalnya berangkat." Eva menarik pelan tangan Ega memasuki kapal besar itu.


Setelah kapal berhasil menyebrang Eva tidak langsung kembali ke jakarta ia berhenti didaerah cilegon banten menyewa hotel disana.


"Apa yang akan kita lakukan disini?." Tanya Ega saat memasuki kamar hotel.


"Mandi." Jawab Eva singkat.


"Hah?." Ega menatap bingung saudarinya.


"Cepat sana mandi, itu pakai handuk yang sudah tersedia. Aku akan keluar sebentar, jangan kemana-mana." Ucap Eva lalu pergi meninggalkan Ega begitu saja.


"Eva, tunggu!." Seru Ega yang tidak didengar oleh Eva.


Tidak lama setelah Ega selesai membersihkan dirinya pintu hotel terbuka menampakkan sosok gadis dengan tiga kantong plastik ditangan kanan dan kirinya.


"Apa yang kamu bawa?." Tanya Ega menghampiri Eva.


"Baju dan makanan." Ega mengambil alih barang belanjaan adiknya.


"Malam ini kita menginap disini, besok kita baru pulang." Ega mengangguk sekilas.


"Aku mandi dulu." Ujar Eva masuk kedalam kamar mandi.


***


Dirumah seluruh orang sudah menunggu Eva, Eva mendapat sambutan yang meriah dari para penjaga dan pelayan.


"Non, non Eva nggak apa-apa?." Fitri menghampiri Eva dan melihat keadaan gadis itu.


"Terima kasih nek sudah mengumpulkan mereka semua." Lusi tersenyum bahagia bisa melihat cucunya kembali dengan selamat, Lusi mendapatkan pesan dari cucunya tadi pagi yang meminta agar Lusi mengumpulkan semua orang dirumah putrinya tanpa terkecuali.


Daren memeluk anak gadisnya.


"Jangan melakukannya lagi Eva, kamu hampir membuat ayah gila." Ucap Daren.


"Baru hampir ayah, belum terjadi kan?." Jawab Eva datar.


Jika aku tidak kabur ayah tidak mungkin memelukku seperti ini, batin Eva. Daren melepas pelukkannya merasa bersalah. Ayumi tetap bergeming duduk disofa ruangan pandangan matanya lurus kedepan tanpa melirik sedikit pun kepada putrinya yang lama tidak pulang.


Kamu benar-benar tidak peduli denganku bahkan jika aku tidak kembali sekalipun, batin Eva menatap punggung Ayumi.


"Eva sini nak." Lusi yang sadar dengan apa yang sedang terjadi menarik perhatian Eva untuk datang menghampirinya.


"Nenek." Eva memeluk Lusi, tangan keriputnya mengelus pelan punggung Eva.


"Nenek khawatir sekali, nenek takut kehilangan cucu cantik nenek." Eva menggelengkan kepalanya pelan.


"Eva sudah janji sama nenek, Eva pasti kembali." Eva melepas pelukkannya dan beralih menatap Fitri yang berdiri agak jauh darinya.


"Nek apakah sudah siap semua yang Eva minta?." Tanya Eva kepada Lusi.


"Apa yang kamu minta va?." Tanya Daren terkejut. Eva menjawabnya dengan seulas senyum yang sangat lama tidak Daren lihat.


"Cepat masuk!." Seru Eva, semua orang yang berada diruang tengah kaget dengan orang-orang yang tiba-tiba masuk kedalam rumah.


"Ada apa ini Eva?." Tanya Daren bingung melihat banyak sekali orang-orang berpakaian serba hitam seperti penjaga dirumahnya berdiri sigap menunggu perintah. Bukannya Eva menjawab pertanyaan Daren dia malah berjalan melewati Daren dengan wajah datarnya.


"Tangkap mereka." Perintah Eva segera dilaksanakan oleh orang-orang yang baru masuk tadi. Mereka menangkap beberapa penjaga dan pelayan yang bekerja dirumahnya. Penjaga dan pelayan yang selama ini Eva curigai.


"Non Eva, apa yang terjadi? kenapa saya ditangkap?." Fitri semakin bingung dengan dua orang yang sedang menahan kedua tangannya.


"Katakan siapa kamu sebenarnya?." Eva berhenti tepat didepan Fitri.


"Apa maksud non Eva?." Tanya Fitri bingung.


"Malam itu ayah memanggilmu keruang kerjanya karena ayah curiga dengan gerak-gerikmu benar begitu Fitri?." Fitri sedikit kaget dengan pernyataan Eva, begitu juga Daren.


"Ayah tidak pernah membiarkan sembarang orang memasuki ruang kerjanya." Mata biru Eva berkilat tajam.


"Sebelum kamu masuk ke dalam rumah ini kamu memasukkan anak buahmu lebih dulu, cerdas sekali." Eva menaikkan satu alisnya.


"Siapa yang menyuruhmu?." Tanya Eva, Fitri bungkam.


"Apakah kamu tidak berniat menjawab pertanyaanku?." Eva menatap Fitri datar.


"Kebohongan tentang keluargamu." Ucap Eva penuh penekanan memancing Fitri untuk membuka mulutnya.


"Burhan dengan lesung pipit dipipi kanannya Sarah dengan tahi lalat di bawah mata kirinya, bukankah mereka adik-adikmu?." Fitri membulatkan matanya, Eva menemukan fakta yang menarik di pulau itu.


"Tanda dibelakang lehermu sama dengan milik mereka berdua." Suasana ruang tengah berubah hening.


"Eva." Lirih Daren kaget dengan perilaku anaknya. Ayumi sebenarnya takut dengan situasi saat ini mengingatkannya saat penyerangan di jepang dulu tapi dia berusaha untuk tetap tenang. Lusi berdiri menonton adegan demi adegan, satu hari yang lalu ada sebuah pesan masuk di ponselnya.


Nek tolong kumpulkan semua orang dirumah tanpa terkecuali dan tolong bawa semua penjaga dirumah nenek untuk bersiap-siap di depan rumah. Terima kasih.


Eva kembali nek.



Pesan panjang itu menghancurkan kekhawatirannya, cucunya selamat tidak ada hal yang lebih diinginkan dari keselamatan cucunya. Dan kejadian saat ini sudah ditebak oleh Lusi.


Tiba-tiba Fitri menyikut perut salah satu orang yang menahan tangannya dengan keras lalu tangannya dengan cepat mencengkeram belakang kepala penjaga Lusi kemudian menghantamkannya ke lutut sekuat tenaga.


"Argh!." Penjaga satu tersungkur ke lantai darah segar keluar dari hidungnya.


"Lumpuhkan mereka!." Seru Fitri, anak buah Fitri berusaha lepas dari cengkeraman penjaga Lusi tapi usaha mereka sia-sia penjaga Lusi lebih gesit melumpuhkan mereka semua. Lain dengan Fitri yang dengan mudah melumpuhkan penjaga kedu yang mencekal tangannya.


"Ronggo!." Teriak Daren, Ronggo tahu maksud teriakkan tuannya. Ronggo berlari menghampiri Eva dan berdiri didepan majikan mudanya melindungi. Daren segera berdiri disamping Ayumi menenangkan istrinya sedangkan Lusi dijaga oleh ketua pasukan penjaga Lusi.


"Dari mana kamu tahu tentang Burhan dan Sarah?!." Seru Fitri, sedangkan Eva tetap dengan wajah datarnya.


"Apa kamu meremehkanku?." Wajah Fitri mengeras mendengar jawaban Eva.


"Aku akui penyamaranmu membuatku hampir percaya." Tidak ada yang bergerak diruangan itu.


"Heh, dasar gadis kesepian yang mudah ditipu." Fitri menyeringai.


"Mungkin kamu benar tapi itu sudah tidak penting. Siapa yang menyuruhmu?."


"Apa yang kamu lakukan kepada adik-adikku?!." Eva mengedikkan bahu tidak peduli.


"Aku tidak akan memaafkanmu jika sesuatu terjadi kepada mereka!." Eva menarik bibir atasnya menyeringai menatap tajam mata Fitri.


"Kamu tidak pantas mengatakan itu. Setelah apa yang kalian lakukan kepada kakakku." Suara Eva berubah dingin. Daren, Ayumi, dan Ronggo bergeming mendengar apa yang Eva ucapkan. Sudahkah anaknya tahu tentang saudara kembarnya, batin Daren.


"Kurang aj*r! seharusnya aku sudah membunuhmu!." Teriak Fitri berlari menerjang Ronggo yang berdiri menghalangi jalannya.


Ronggo dengan sigap menangkis pukulan Fitri lalu mengirim satu pukulan keras kearah perut tapi pukulannya ditahan oleh tangan Fitri yang bebas.


Pertarungan diantara mereka pun dimulai.


"Katakan padaku siapa yang menyuruhmu!." Seru Eva ditengah pertarungan Ronggo dan Fitri.


"Jangan berharap!." Sergah Fitri.


"Kamu tidak akan bisa pergi dari sini!." Teriak Eva.


Tendangan memutar Fitri telak mengenai leher Ronggo membuatnya tersungkur menabrak meja disampingnya dengan keras. Fitri mengangkat kakinya tinggi-tinggi hendak menghantamkannya ke kepala Ronggo tapi tiba-tiba sebuah vas bunga melayang ke arah wajahnya dengan cepat kakinya yang setengah turun hampir menghantam kepala Ronggo berubah arah menendang vas bunga.


PRANG!.


"Lumayan." Komentar Eva datar.


"Katakan padaku apa yang terjadi dengan mereka berdua sebelum aku benar-benar membunuhmu." Tatapan Fitri dan Eva saling beradu.


"Jangan berharap." Mendengar penolakan Eva membuat Fitri benar-benar marah.


Fitri berlari dan melompat ke arah Eva, tubuh Fitri melayang diudara dengan satu kaki lurus kedepan dan kaki lainnya ditekuk siap menendang dada Eva.


Dilain sisi Daren memeluk Ayumi yang ketakutan, pandangannya tidak pernah lepas dari putrinya. Daren takut putrinya terluka meskipun putrinya sudah belajar berbagai ilmu bela diri tapi itu tidak menghilangkan ketakutannya.


Eva menggeser tubuhnya ke kiri lalu menghantam dada fitri dengan kepalan kedua tangannya.


Bruk!.


Serangan Eva belum selesai tangan kanannya terkepal meninju wajah Fitri tapi sayang pukulannya tidak mengenai sasaran, Fitri berguling menghindari pukulan mematikan Eva.


Fitri duduk dengan satu kaki, tangannya memegang dada mengatur nafas, dengan cepat Eva sudah berdiri dihadapannya mengirim tendangan kesamping. Fitri tidak bisa menghindar tangannya bergerak kesamping melindungi kepalanya.


Bruk!.


Fitri kembali menghantam lantai tapi kali ini dia dengan cepat berdiri memberi jarak antara dirinya dan Eva.


"Katakan siapa yang menyuruhmu." Wajah Eva datar tapi sorot matanya sangat tajam, Fitri membeku menatap manik mata mantan majikannya itu. Fitri mengira sudah mengenal dan tahu tentang kepribadian Eva tapi dia terlalu naif, gadis remaja yang berdiri didepannya sangat berbeda, menatap tepat ke bola matanya, wajahnya dingin, aura gelap keluar darinya.


"Kenapa kamu tidak mencoba membunuhku sejak awal?." Eva bergerak mendekati Fitri.


"Aku sangat ingin melakukannya tapi tugasku bukan itu." Fitri melangkah melebarkan jarak diantara mereka, waspada akan serangan cepat Eva.


"Apa tugasmu? kamu tidak sebodoh itu berniat menculikku kan?."


"Haha tentu saja tidak, tugasku mengawasi gadis pendiam dan kesepian yang berdiri didepanku ini dan mencari dokumen rahasia yang tersimpan disalah satu perusahaan milik ayahmu." Jelas Fitri.


"Sudah aku duga, kamu mengecewakanku." Meskipun baru beberapa bulan Fitri bekerja dirumahnya tapi Eva sudah mulai nyaman dengan perempuan itu, Eva semakin mendekat.


"Haha jangan membuatku tertawa, mengecewakanmu? haha." Tawa Fitri menggema diruang tengah.


"Jawab aku siapa yang menyuruhmu?." Eva mencoba semakin mendekat.


"Kamu pikir aku akan mengatakannya." Kini Fitri menyerang Eva lebih dulu, pertarungan jarak dekat tidak terelakan lagi. Eva bertahan dengan baik tapi tidak dengan Fitri, dia terkena beberapa pukulan dan tendangan dari Eva. Fitri berlari cepat menaiki tangga menuju lantai dua, Eva berlari mengejarnya. Dibalkon lantai dua Fitri berhenti, bola matanya melihat kebawah.


"Kamu tidak bisa lari, dibawah sana banyak orang sedang berjaga. Kamu terkepung Fitri." Eva menekan nama Fitri diakhir.


"Benarkah?." Lalu Fitri terjun dari lantai dua dan menyerang para pengawal dibawah sana secara membabi buta.


Bagaimana dia bisa terjun dari sini dan melawan mereka seperti itu dengan luka yang dia dapatkan, batin Eva. Beberapa pengawal tumbang, Fitri segera berlari cepat memanjat pagar dan meloloskan diri.


Eva menatap sepasang mata yang berdiri dibelakang mobil dari balkon lantai dua.


"Komandan aku serahkan mereka kepadamu." Eva sudah kembali ke lantai dasar.


"Baik, saya permisi dulu." Komandan dan pasukannya menyeret para penyusup keluar.


Ronggo sudah dibawa ke kamarnya oleh salah satu pengawal Lusi. Sebentar lagi dokter pribadi keluarga Ayhner akan datang setelah dihubungi Lusi beberapa menit yang lalu.


"Cucu nenek memang hebat." Lusi memeluk Eva sekilas.


"Jangan lakukan hal bodoh seperti tadi lagi." Daren berjalan menghampiri Eva menatap bola mata putrinya.


"Eva tidak akan melakukan hal bodoh seperti tadi kalau ayah bisa mencari pengawal dan pelayan yang benar." Jawaban Eva menohok hati Daren. Daren menghela nafas berat.


"Maafkan ayah, ayah akan lebih berhati-hati lagi."


"Sudah-sudah, Eva yang penting kamu tidak terluka dan para penyusup itu sudah ditangkap." Lusi menengahi dengan lembut.


"Dia kabur nek." Lusi mengelus surai Eva.


"Nanti nenek akan mengirim orang untuk mencarinya. Bagaimana kamu tahu tentang semua ini?." Tanya lusi.


"Sebenarnya Eva sudah lama mencurigai mereka tapi kecurigaan Eva semakin besar ketika Eva mulai memahami apa yang terjadi. Di kamar, saat itu Eva tidak sengaja melihat tanda aneh dibelakang leher Fitri tanda yang sama dengan milik mere-ka." Kalimat Eva menggantung dia baru ingat sesuatu.


"Mereka?." Ulang Lusi.


"Tunggu sebentar nek." Eva berlari keluar tidak lama kemudian dia kembali ke ruang tengah. Tangan Eva menggenggam erat tangan laki-laki tinggi putih yang berjalan dibelakangnya.


"Kenapa sembunyi dibelakangku?." Lirih Eva menariknya maju kedepan.


Dihadapannya berdiri pria tinggi putih yang sangat berwibawa disamping pria itu berdiri seorang nenek yang amat sangat dirindukannya kedua orang itu menatapnya bingung. Eva meremas tangannya pelan.


"Nek Eva membawanya pulang." Deg!. Jantung Lusi berhenti sepersekian detik. Eva berpaling menatap mata Ega lembut dan mengangguk pelan.


Lusi menutup mulut dengan tangan kirinya, air mata bergulir turun membasahi pipinya yang keriput. Perlahan kakinya melangkah mendekat.


"Kaukah itu?." Tangan kanannya terulur menyentuh pipi cucunya. Mata Lusi bergerak-gerak meneliti setiap inci wajah cucu yang sangat dirindukannya. Wajah itu tersenyum lembut, cairan bening turun dari sudut mata gelapnya akibat kurang tidur.


Daren bingung dengan sikap Lusi kepada anak laki-laki dihadapannya.


"Kamu kurus sekali nak." Lusi meraih Ega kedalam pelukkan eratnya. Mereka berdua saling berpelukan dan menangis melepaskan rasa rindu.


"Eva dia siapa?." Lirih Daren menatap putrinya, yang ditatap hanya mengedikkan bahu sambil tersenyum.


Tidak mendapat jawaban dari putrinya Daren kembali menatap anak laki-laki itu. Rahang yang tegas mirip dirinya dan matanya mirip seperti... mata istrinya!.


Deg!.


Daren diam membeku. Mungkinkah, batinnya.


Lusi melepas pelukannya dan mengecup lama kening Ega. Lusi berpaling menatap Daren.


"Daren dia," sebelum Lusi selesai mengatakannya Daren telah membuka mulut lebih dulu.


"Ega." Lirih Daren.


Deg!. Ayumi langsung berdiri dari duduknya dan menatap Daren dari kejauhan. Ega mengangguk pelan.


"A-ayah." Lirih Ega suaranya bergetar. Daren langsung memeluk erat putranya.


"Ayah sangat merindukanmu, ayah kira kamu tidak akan kembali lagi nak." Daren menangis sesenggukan. Eva tidak pernah melihat Daren menangis sebelumnya. Daren yang Eva tahu adalah ayah yang berwibawa, tenang dan sangat disiplin tapi yang dilihat Eva saat ini adalah Daren yang rapuh menangis hebat memeluk Ega.


"Daren, kamu bilang apa tadi?." Suara Ayumi menghentikan tangisan Daren dia melepas pelukkannya dan menatap Ayumi.


"Ayumi. Anak kita, Ega." Jelas Daren. Air mata mulai menetes dari pelupuk mata Ayumi. Ayumi masih tetap berdiri ditempatnya.


"Siapa kamu?." Tanya Ayumi dalam tangisnya. Hati Ega terasa perih tapi juga bahagia melihat wanita yang tidak ia lihat selama hampir sepuluh tahun kini berdiri diruangan yang sama dengannya. Perlahan Ega melangkah menghampiri Ayumi air matanya susul menyusul keluar dari tempatnya.


"E-g a." Lirih Ega seraya menarik kaos hitam yang dibelikan Eva menampakkan tato hitam kecil dipangkal lengannya. Mata Ayumi terbelalak.


"Okaa-san. (I-bu)." Ega berhenti, kepalanya menunduk. Hati Ega merasakan emosi yang campur aduk, tangannya yang gemetar menghapus air mata dengan kasar. Ega ingin ibunya melihat wajahnya yang tersenyum bukan wajah penuh air mata seperti ini. Ega memaksakan bibirnya untuk tersenyum dan perlahan mengangkat kepalanya.


"Okaa san genki desuka?. (Ibu bagaimana kabarmu?)." Ayumi berlari memeluk Ega.


"Aitakatta Hotaru kun!. (Ibu merindukanmu Hotaru)!." Ega menenggelamkan wajahnya dalam pelukkan Ayumi.


"Em, Hotaru juga." Seluruh orang diruang tengah menangis termasuk mbok Is si kepala pelayan yang menonton adegan sangat mengharukan ini.


***


Dua hari setelah kejadian itu Eva berangkat ke sekolah untuk mengikuti UKK (Ulangan Kenaikan Kelas) ulang yang diselenggarakan diruang BK. Eva menyuruh Ronggo untuk meminta kepada kepala sekolah untuk membolehkannya langsung pulang setelah selesai mengerjakan soal tesnya dan juga mengurus masalah kehadirannya disekolah.


Di sekolah Eva tidak mengunjungi kelasnya bahkan dia berangkat pagi sekali untuk menghindari bertemu dengan siswa-siswi yang lain, Eva juga segera pulang kerumah setelah selesai mengerjakan soal tesnya, ia ingin cepat-cepat pulang dan bertemu dengan Ega menghabiskan waktu bersama kembarannya.


***


Siang hari yang terik sebuah mobil berhenti di depan pintu utama. Dari pintu belakang keluarlah seorang gadis memakai seragam sekolah lengkap.


Eva menatap heran Ega yang sedang duduk sendirian di depan teras, Eva langsung berlari dan duduk disebelah saudara kembarnya.


"Lagi ngapain diluar panas-panas begini?." Tangan Eva melingkar dilengan Ega.


"Lagi nungguin adikku pulang sekolah." Eva menahan senyumnya tidak sadar membuat pipinya menggembung.


"Lucunya, adik siapa sih ini?." Ega mencubit pipi Eva gemas.


"Ih sakit ga." Eva memanyunkan bibirnya.


"Ahaha." Ega tertawa melihat tingkah Eva.


"Ayah tadi menghubungiku katanya nanti sore penjaga dan pelayan baru akan datang." Jelas Eva.


"Em, oh iya tadi ayah nitip ini." Ega memberikan benda itu kepada Eva.


"Kunci mobil?." Eva menatap Ega bingung. Ega mengedikkan dagunya kearah mobil yang terparkir rapih disamping teras.


"Ya ampun ga, ini keren." Eva baru sadar ada sebuah mobil mahal terparkir disamping terasnya. Eva menyentuh bagian depan mobil sambil berjalan.


"Kata ayah kita boleh naik ini ke sekolah." Ega berdiri menatap adiknya.


"Mau coba?." Eva memutar kunci mobil dengan jari telunjuknya.


"Aku nggak bisa nyetir." Jawab Ega.


"Aku yang nyetir nanti kamu aku ajarin." Eva menarik lengan Ega masuk kedalam mobil.


Lamborghini merah meraung dihalaman rumah bah istana itu bergerak keluar.