Yuki

Yuki
Bab 42



Pintu dibuka sangat keras hingga menarik perhatian mahluk didalam kepompong selimut itu. Ega terengah-engah diambang pintu matanya tertuju kepada Eva sedangkan Eva tubuh gadis itu bergetar maniknya menatap dalam Ega air mata itu jatuh susul menyusul.


Akhirnya ia keluar dari kepompong putih. Eva membuka selimutnya berlari cepat begitu juga dengan Ega ia berlari ke arah Eva tubuh mereka bertubrukkan Eva melingkarkan lengan di leher saudara kembarnya Ega membalas pelukkan Eva mengelus lembut surai belakang adiknya.


"Maafkan aku." Lirih Ega, Eva menenggelamkan wajahnya dipundak Ega.


"Maaf." Gumam Ega.


"Kamu pasti takut." Tubuh Eva semakin bergetar.


"Maaf."


Fathur melihat semua pemandangan itu. Ega yang masih menggunakan jas hitam kemeja garis-garis beserta celana dan sepatu kantornya memeluk erat Eva dengan wajah khawatir.


Apa dia mengabaikan rasa sakitnya? dasar posesif, batin Fathur.


"Kamu tidak boleh seperti ini terus." Kata Ega.


"Kamu tidak akan pernah kehilangan aku, sampai kapan pun aku akan selalu bersama mu. Kamu lupa dengan kalimat itu? Dimas mengatakannya sebelum pergi." Tubuh Eva berhenti bergetar ia membeku didalam pelukkan Ega namun air matanya masih senantiasa jatuh ke pipi putihnya membasahi bahu Ega.


"Kamu tidak boleh terpuruk lebih dalam lagi ingat kebahagiaan dan kenangan indah bersama Dimas seharusnya memberi kekuatan untukmu." Eva melonggarkan pelukkannya mendongak menatap Ega. Jari panjang Ega menghapus air mata adiknya.


"Kamu lupa masih ada aku disini?." Eva menggeleng pelan. Perlahan tangan Eva meraih tangan kanan Ega menariknya didekat jantung gadis itu.


Untuk pertama kali setelah tragedi Dimas Eva menggerakkan bibirnya menatap sendu manik Ega.


"Sakit." Suara serak dan lemah itu keluar dari bibir Eva.


"Ikhlaskan dia." Ega menangkup kedua pipi Eva.


"Jangan menangis lagi paru-paruku sesak sulit bernafas hm." Ucap Ega dengan nada manja.


Bibir itu tertarik keatas Eva tersenyum tipis.


"Utututu... Baby hulk tersenyum." Ega meledek Eva dengan mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya dipucuk hidung Eva pelan. Eva memundurkan kepalanya menjauh dari tangan Ega tapi tangan Ega yang lain menahan belakang kepala Eva.


"Kamu harus mengembalikan lemak ditubuhmu itu, ayo makan." Ega menarik kepala Eva mendekat mengecup lembut dahi adiknya.


"Aku tebak kalian berdua hanya diam semalaman bukan, oh mungkin sampai sebelum aku datang, mengabaikan sarapan kalian begitu." Ega melirik dua nampan diatas meja belajar Eva.


"Tebakanmu tidak sepenuhnya benar." Ucap Fathur menghampiri dua anak kembar yang saling berpelukan itu.


"Aku hampir dilempar bantal dan mendapat tonjokan dipipi." Ega tertawa terbahak-bahak.


"Seharusnya aku ada disini untuk melihatnya." Ujar Ega.


"Jangan bercanda." Sergah Fathur membuat Ega semakin tertawa. Tiba-tiba Eva merosot kebawah untung Ega dengan cekatan menangkapnya sehingga Eva tidak terjatuh.


"Kamu harus makan." Ega menggendong Eva turun dari lantai dua menuju ruang makan diikuti Fathur dibelakangnya.


Ruang makan itu ramai oleh celotehan dua sahabat yang saling melempar lelucon mengabaikan seorang gadis yang sibuk dengan piringnya.


"Non silahkan makanan penutupnya." Ujar mbok Is menarik piring ke empat dari hadapan Eva menyodorkan piring kecil berisi buah-buahan dan semangkok salad.


Eva dengan perlahan menikmati makanannya mencoba mereset pikirannya suara tawa dua orang itu tidak mempengaruhi Eva hingga makanan didalam piring dan mangkok tandas tak bersisa, Eva mengelap sudut bibirnya meneguk lemon hangat melirik Ega yang balas menatapnya.


"Ada apa?." Eva menaikan satu alisnya sedikit.


"Mbok Is vitaminnya." Seru Ega, mbok Is datang membawa vitamin untuk menambah daya tubuh Eva.


"Diminum." Titah Ega bukannya meminum vitamin Eva menatap Ega dari ujung rambut sampai ujung sepatunya.


"Kantor yang mana?." Lirih Eva, Ega menggaruk sebelah pipinya dengan jari telunjuk.


"Singapur." Jawab Ega canggung.


"Ga sepertinya kamu sudah membuat dia marah." Bisik Fathur dari seberang meja.


"Aku tidak punya pilihan lain."


"Lumayan tontonan gratis." Ega melirik Fathur protes.


"Seneng kamu." Sergah Ega. Eva mengulurkan tangannya didepan Ega.


"Ponsel." Pinta Eva, Ega merogoh saku jasnya menaruh benda pipih berwarna putih itu diatas tangan Eva.


"Telephon siapa?." Tanya Ega melihat Eva meletakkan ponselnya ditelinga setelah mengetik sesuatu.


"Ayah." Jawab Eva singkat, Ega terkejut langsung mengambil kembali ponselnya dari tangan Eva.


"Ega, kembalikan." Eva kembali meminta ponsel Ega.


"Tidak."


"Aku akan bicara dengan ayah." Ega menggelengkan kepalanya.


"Ini kemauanku sendiri ayah tidak menyuruhku." Eva merasakan pusing dikepalanya.


"Sudah aku katakan bukan, jika kamu masuk kedalam urusan perusahaan kamu tidak bisa lepas darinya." Eva menatap manik Ega.


"Sorry, aku tidak punya pilihan." Jawab Ega. Eva berdiri dari kursi berjalan kepintu kaca disamping ruang makan.


"Ini salahku, harusnya aku yang kesana." Eva memunggungi Ega menatap kolam renang.


"Jangan ulangi lagi." Kaki Eva yang telanjang melangkah kepinggir kolam tiba-tiba.


BYUR!.


Eva melompat kedalam kolam renang masih menggunakan piyama putihnya reflek Ega berlari kearah kolam renang disusul oleh Fathur.


Ega memegang jantungnya melihat Eva dengan santainya berenang bolak-balik disana.


"Jantungku hampir copot karena khawatir." Lirih Ega.


"Hm.., sama." Ega melirik Fathur yang membeku disampingnya kembali menatap adiknya didalam kolam renang. Bola mata Ega melebar tangannya langsung menutup mata Fathur.


"Heh, tutup matamu. Jangan mencari kesempatan dalam kesempitan!." Seru Ega membalikan badan Fathur.


"Mana aku tahu jika bajunya transparan kalau terkena air." Fathur membela diri. Ega mendorong Fathur berjalan meninggalkan kolam renang masih dengan menutup matanya.


"Sini aku sucikan matamu pakai air sabun." Sergah Ega kesal.


"Enak saja kamu lihat tubuh kembaranku." Ucap Ega ketus.


"Ga. Aku tidak melihat tubuh adikmu dengan jelas bajunya tidak begitu transparan tapi lumayan transparan." Lirih Fathur diakhir kalimat.


"Baik, aku akan tambahkan detergen untuk mensucikan matamu." Ucap Ega dingin, Fathur merinding ia berusaha lepas dari Ega.


"Kamu tidak serius kan ga?." Fathur memberontak tapi tenaga Ega lebih besar menahannya.


"Aku juga akan mencuci otakmu memastikan kamu tidak mengingat apa yang telah kamu lihat tadi." Lirih Ega didekat telinga Fathur diakhiri dengan suara tawa sinis membuat Fathur semakin memberontak.


"Ega..! kamu gila." Seru Fathur yang dijawab tawa melengking dari bibir Ega.


Eva sayup-sayup mendengar tawa saudara kembarnya dan teriakan Fathur, ia menghirup nafas panjang menahannya lalu menyelam kedalam dasar kolam menyilangkan kedua kakinya meletakkan kedua tangannya diatas paha memejamkan matanya.


Eva memutuskan mendinginkan kepalanya saat merasakan pusing dikepala. Mengendurkan urat-urat yang tegang merasakan gelombang kecil dari dalam kolam hingga airnya berubah tenang. Eva merasakan pasokan udaranya hampir habis ia meluruskan kakinya terlentang rileks membiarkan tubuhnya terangkat kepermukaan, membuka matanya menatap gumpalan putih diatas sana bergerak bergerombol dihamparan langit biru menghirup udara banyak-banyak menekuk kepalanya kedalam air kearah lutut menggerakkan kedua tangannya mendorong tubuh semakin kedalam dibantu dengan kakinya yang terakhir masuk. Memiliki tubuh yang lentur membuatnya mudah melakukan berbagai gerakkan tanpa mencederai tubuhnya.


"Win!." Dor. Dor. Dor.


Suara dari televisi menayangkan seorang pembalap memegang piala dengan kembang api berwarna-warni mengiringi kemeriahan itu.


"Bagaimana bisa?." Ucap Ega lesu, Fathur menepuk-nepuk punggung sahabatnya yang selalu kalah bermain ps melawannya.


"Sabar bro, ini hanya karena keberuntungan selalu memihak kepadaku." Ucap Fathur, Ega menyingkirkan tangan Fathur dari punggungnya.


"Mendengar kalimat itu keluar dari mulutmu membuatku semakin kesal."


"Hahahaa aku memang sengaja melakukannya haha." Ega meletakkan stik psnya kesal, semerbak wangi manis tercium oleh hidungnya begitu juga dengan Fathur terlihat dari suara tawanya yang tiba-tiba berhenti.


"Ga aku pergi sebentar." Dua sahabat itu menoleh serempak kebelakang.


"Mau kemana?." Ega berdiri menatap adiknya yang memakai dress berwarna putih selutut rambutnya ditata rapih dengan jepit rambut berbentuk tiga bunga kecil berwarna putih pula. Eva terlihat seperti putri Aurora dari film Maleficent, dengan mata birunya jika dipasangkan telinga runcing mungkin lebih mirip seorang elf.


"Menemuinya." Jawab Eva, Fathur membuka lebar matanya tapi tidak dengan Ega ia tersenyum kecil. Dua laki-laki itu mengerti siapa orang yang dimaksud Eva.


"Tunggu sebentar aku siap-siap dulu." Ega langsung tancap gas menuju kamarnya.


Fathur menghampiri Eva lalu berhenti, memberi jarak. Matanya menatap kearah lain.


"Kamu yakin?." Tanya Fathur tenang sebenarnya dia masih khawatir dengan gadis itu karena baru beberapa jam yang lalu Eva berhenti menangis dan keluar dari kamarnya.


"Hm."


"Hm."


"Harus hari ini menemuinya?." Tanya Fathur.


"Hm." Jawab Eva membuat Fathur tersenyum getir.


"Aku sudah siap, ayo kita berangkat." Ega terlihat bersemangat berjalan melewati Eva dan Fathur.


Ega membukakan pintu samping kemudi mempersilahkan adiknya untuk masuk. Ega melirik Fathur yang masih berdiri diteras rumah ia menutup pintu mobil pelan berjalan menghampiri sahabatnya.


"Lagi ngapain? ayo masuk." Kata Ega.


"Aku tidak ikut." Jawab Fathur.


"Kenapa?." Tanya Ega.


"Apa kamu yakin dia akan baik-baik saja?." Hening.


"Aku meragukannya." Imbuh Fathur. Ega menoleh menatap kursi depan mobil.


"Kamu ingat saat kita mencari Yuki dan Dimas untuk membuntuti mereka." Kata Ega tiba-tiba mengungkit masa lalu.


"Aku masih ingat." Jawab Fathur.


"Yah walaupun kita menemukan mereka saat hari sudah hampir malam." Ega mengingat kembali setiap kejadian itu.


"Aku menelepon Dimas setelah dia mengantar Yuki, memintanya untuk bertemu."


"Kalian berbicara berdua didalam restoran membiarkan aku menunggumu sendirian diluar." Sahut Fathur mengejek, Ega tertawa kecil.


"Masih ngambek saja kamu, kayak cewek yang lagi pms." Celetuk Ega membuat Fathur mengerutkan dahinya.


"Thur." Nada suara Ega berubah tenang dan tegas menandakan dirinya sedang serius.


"Aku tidak tahu apa yang telah mereka berdua lewati sebelum aku kembali tapi saat itu aku dengan tegas memintanya menjauh dari Yuki." Fathur sedikit kaget ia membuka mulutnya hendak bertanya.


"Aku langsung mengatakan kepadanya tanpa basa-basi." Srobot Ega menghentikan niat Fathur untuk bertanya.


"Aku juga mengatakan kalau Yuki sudah memiliki kekasih hati meskipun mereka belum berpacaran sekarang." Fathur kembali kaget hendak bertanya tapi ia urungkan niatnya memilih untuk mendengarkan.


"Dimas memintaku memberikannya izin untuk mendekati Yuki, dia sama sekali tidak mendengarkan ucapanku." Ega memasukkan satu tangannya kedalam saku celana.


"Tentu saja aku menolak, tapi Dimas tetap berusaha membujukku sampai aku memberikannya izin dengan syarat jika aku memintanya untuk meninggalkan Yuki dia harus melakukannya."


"Kenapa?." Akhirnya Fathur bertanya.


"Aku mempunyai firasat buruk jika Yuki bersama Dimas." Jawab Ega.


"Apa kamu paranormal?." Celetuk Fathur.


"Mungkin." Ega tersenyum misterius.


"Aku pergi, terima kasih sudah membantuku menjaga Yuki." Ega menepuk sekilas pundak Fathur berjalan masuk kedalam mobil.


***


Eva meletakan setangkai bunga lily warna putih diatas rumput hijau menatap tulus nama yang terukir disana.


"Maaf aku baru datang." Lirih Eva mengelus pelan ukiran nama itu dengan punggung jari telunjuknya.


"Maaf, aku telah membunuhmu." Ega terkejut mendengar kalimat itu.


Apa dia sudah melihatnya?, batin Ega.


"Seharusnya aku lebih waspada dan memberikan sebuah alat untuk melindungimu." Eva menahan air matanya.


"Maaf, aku ceroboh." Eva menatap dalam ukiran nama Dimas Purnama dibatu nisan.


"Apa kamu sudah tidak merasakan sakit disana?."


"Apa kamu juga merindukanku? karena aku merindukanmu kak Dimas." Ega hanya berdiri diam menunggu dibelakang Eva.


"Terima kasih." Eva menarik tangannya, berdiri.


"Aku pulang dulu." Ucap Eva lalu membalikan badannya menatap manik Ega sebentar.


"Kamu sudah berjuang dengan perasaanmu." Ucap Ega mengelus lembut surai panjang Eva.


"Siapa?." Suara kecil itu melengking dipemakaman yang sepi, Eva dan Ega menoleh menatap gadis kecil yang memegang seikat bunga ditangannya.


"Eri." Lirih Eva.


"Apa kalian teman kak Dimas?." Tanya anak laki-laki yang lebih besar menghampiri adiknya.


"Ello." Ega menatap Eva bertanya.


"Bukannya kamu anak presdir?." Ello menunjuk Eva.


"Kita berdua anak presdir." Sahut Ega asal, ia tidak paham apa yang dimaksud anak kecil itu adalah Daren.


"Tapi aku tidak melihatmu diacara makan malam waktu itu, kamu pasti sedang membohongiku." Ucap Ello.


"Eri! jangan langsung lari seperti tadi kasihan kak Ello yang mengejarmu." Tegur wanita paruh baya dari belakang kedua anak kecil itu.


"El kamu berhasil menyusul Eri, terima kasih." Ucap pria dengan jas hitam mengusap surai Ello, dua pasangan suami istri itu tertegun melihat dua sosok dihadapan mereka.


"Nona muda." Lirih Rio.


"Nona Eva." Lirih Adel.


Satu keluarga itu berjalan mendekat.


"Mengunjungi Dimas?." Tanya Adel ia terkejut melihat wajah dan tubuh kurus Eva begitu pula Rio ia hampir tidak mempercayai matanya.


"Iya kami baru saja mengunjunginya dan berniat pulang sekarang." Jawab Ega setelah melihat raut wajah adiknya yang tidak baik-baik saja.


"Bagaimana kalau mampir kerumah kami dulu, ada sesuatu yang ingin saya bicarakan dengan non Eva." Adel melirik Eva yang tetap bungkam.


"Eri Ello ayo kita temui kakak kalian nanti ibu menyusul." Ajak Rio menggiring anaknya pergi.


"Baik." Lirih Eva, Adel tersenyum singkat berlalu menyusul suami dan anak-anaknya.


"Kamu harus janji padaku." Ega menatap dalam manik mata Eva.


"Apa?." Tanya Eva.


"Entah apa yang akan dikatakan tante itu padamu, kamu tidak boleh terpuruk seperti sebelumnya." Eva mengangguk sekilas.


"Hum."


***


Dirumah besar bernuansa hitam dan putih itu Ega sedang duduk menunggu saudari kembarnya di ruang tamu ditemani oleh Rio dan kedua anaknya.


Adel membawa Eva naik ke lantai dua membuka pintu berwarna hitam warna yang paling berbeda diantara pintu yang lain.


"Ayo masuk." Ajak Adel.


"Hm." Eva membuntuti Adel dari belakang.


Kamar yang tidak kecil dan juga tidak terlalu besar bernuansa klasik, tidak banyak barang terdapat dikamar itu. Eva terkejut dengan aroma kamar mengingatkannya dengan wangi parfum Dimas.


"Nona muda." Panggil Adel.


"Eva tante." Ucap Eva.


"Eva..." Panggil Adel tersenyum lembut.


"Duduk sini." Adel menarik kursi belajar mempersilahkan Eva untuk duduk.


Perlahan Eva menghampiri kursi membiarkan dirinya duduk dikursi berwarna hitam itu.


"Tante tidak duduk?." Tanya Eva karena Adel tetap diam dibelakangnya.


"Tante ingin seperti ini dulu." Eva tidak menjawab manik birunya menyapu semua benda-benda yang tertata rapih dimeja belajar.


"Tante boleh tanya?."


"Hm." Gumam Eva.


"Kenapa kamu memakai baju berwarna putih untuk melayad?." Tanya Adel, memang pakaian hitam-hitam adalah pakaian yang biasa dipakai orang-orang untuk melayad.