
Dilantai dua rumah megah itu kedua anak kembar hendak pergi kekamar masing masing setelah menikmati makan malam mereka.
"Yuki sebentar." Eva menoleh kepada Ega.
"Hm?."
"Berjanjilah kamu tidak akan menyembunyikan apa pun dariku, kita akan memikirkannya berdua." Eva menaikan satu alisnya heran.
"Tentu, ada apa tiba-tiba seperti ini?."
Ega mengeluarkan lipatan kertas kecil dan kusam itu kepada Eva.
"Buka dan baca." Titah Ega, Eva menurutinya ia perlahan membuka lipatan kertas kecil itu. Eva terdiam, wajahnya berubah serius.
"Aku menemukannya dipunggung Dimas saat membantunya untuk duduk." Eva menatap tepat ke manik Ega.
"Kamu sudah janji padaku Yuki, jangan sembunyikan apa pun yang kamu pikirkan." Ega memperingatkan.
Didalam secarik kertas kecil itu tertulis.
'Nyawa harus dibayar dengan nyawa, aku akan membuat kamu dan saudara kembarmu mati menderita. Cowok manis itu sebagai permulaan.'
"Kurang aj*r kau Fitri." Geram Eva meremas kertas. Sampai sekarang Fitri belum bisa ditemukan oleh para pengawal khusus, mereka masih sibuk mencarinya.
"Kita kan tidak membunuh siapa pun?." Ega menggeleng.
"Kita memang tidak tapi karena kita Sarah dan Burhan tertangkap dan mendapatkan hukuman itu." Jelas Ega.
"Kamu benar."
***
Dipagi hari Eva bangun lebih cepat ia berjalan menuju kamar Ega membuka pintu perlahan tanpa mengetuknya.
"Bangun." Eva duduk ditepi ranjang menggerak-gerakkan badan Ega pelan.
"Ga bangun." Eva lebih cepat menggerakkan tubuh Ega.
"Hmmm." Ega menggeliat menatap pengganggu tidurnya dipagi hari.
"Ada apa?, ini baru jam lima subuh Yuki.., hooaamm."
"Hari ini dan besok aku tidak masuk sekolah." Ucap Eva, sontak Ega bangkit duduk menatap adiknya.
"Kenapa?, apa yang kamu rencanakan?." Srobot Ega.
"Aku tidak mungkin berangkat dengan mata seperti ini." Eva menunjuk kantung matanya yang hitam legam.
"Oh, kamu benar. Sekolah akan heboh jika tiba-tiba ada hantu ikut bersekolah bersama siswa lain." Celetuk Ega kembali merebahkan diri.
"Hanya itu?." Eva melirik Ega yang hendak memejamkan matanya lagi.
"Aku tidak ikut sarapan nanti, aku ingin sarapan sendiri." Ega menarik selimut menghadap Eva.
"Kenapa?."
"Kamu lupa dia sudah pulang." Ucap Eva kesal.
"Oh iya, ibu baru pulang tadi malam." Gumam Ega.
"Sorry sudah mengganggumu." Eva mengecup sekilas kening Ega.
"Hm."
"Selamat tidur kembali." Tidak ada jawaban dari Ega sepertinya dia sudah jatuh kealam mimpi lagi.
Eva perlahan keluar dari kamar Ega berjalan menuju lantai satu. Eva membuka pintu ruang makan terus berjalan kebelakang dan sampailah ia di dapur. Cukup lama Eva hanya memandangi isi dapur.
Apa yang harus aku lakukan?, bagaimana cara melakukan ini?, batin Eva berpikir keras.
Aku tidak akan bisa melakukannya, ini hanya akan membuang waktu, batin Eva kembali. Ia berjalan ke samping dapur menyusuri lorong panjang dan berhenti didepan salah satu pintu mengetuknya pelan.
Tok tok tok.
Krek.
Seorang wanita dengan seragam rapih membukakan pintu terkesiap melihat majikan mudanya yang telah mengetuk pintu kamar miliknya.
"Nona, kenapa anda bisa disini?." Tanya mbok Is kaget.
"Aku lapar, karena hari ini bukan hari minggu tidak ada pelayan didapur jam segini." Jelas Eva, mbok Is menunduk dalam.
"Maaf nona, telah membuat anda datang kemari, saya akan lebih berhati-hati lagi." Kata mbok Is. Eva berjalan meninggalkan mbok Is dibelakangnya.
"Buatkan aku makanan."
Didapur setelah Eva menghabiskan makanannya ia bergegas pergi ke halaman belakang rumah menuju paviliun. Ia harus menata dirinya lagi dari berbagai aspek.
Eva melewati penjaga dengan mudah membuka pintu pertama paviliun melepas alas kakinya menggeser pintu kedua. Ruangan itu gelap Eva yakin masternya selalu bangun pagi-pagi sekali. Eva melangkahkan kakinya masuk lalu menutup pintu kembali.
Ceklek.
Ruangan berubah terang Takehara berdiri jauh dari Eva menatapnya tajam.
"Shishou (Master)." Eva menunduk sembilan puluh derajat.
Wuussh.
Eva melebarkan matanya.
BUK!.
Eva menekuk lengan kiri keatas melindungi sebelah kepalanya dari tendangan Takehara.
Kreeett.
Takehara semakin keras menekan kakinya kedalam.
Grep!.
Eva mencengkeram pergelangan kaki Takehara dengan tangan kanannya.
Dengan satu gerakkan cepat Eva bergerak kesamping memelintir kaki Takehara.
SRET!.
Takehara melayangkan pukulan sampingnya mengarah ke wajah Eva.
Dak!.
Eva menangkis pukulan Takehara. Masternya itu memindahkan beban tubuh bagian bawahnya keatas menekuk pinggang rampingnya kebelakang bertumpu dengan satu tangan dilantai, dengan kibasan kuat Takehara mengincar kaki Eva dengan kaki kirinya yang bebas sontak membuat Eva melompat menghindar dan melepas cengkeramannya.
Takehara melakukan salto dua kali ke belakang. Eva baru sadar baju kimono yang dipakai masternya teronggok ditempat awal masternya berdiri dan sekarang masternya memakai baju latihan seperti biasa.
Belum sepenuhnya Eva tersadar dari pikirannya Takehara tiba-tiba sudah berdiri tepat didepannya mengirim sebuah pukulan kuat keperut. Eva refleks melakukan kuda-kuda depan menyilangkan tangannya menghentikan serangan, tidak sampai disitu genggaman tangan Takehara terbuka berputar berbalik mencengkeram kedua tangan Eva memelintirnya. Tubuh Eva mengikuti arah putaran agar tidak terluka yang berakhir ia menghadap keatas dalam posisi berdiri dengan kedua tangan yang telah terkunci.
Eva merasakan tenaga yang kuat didalam kuncian Takehara, rupanya masternya itu sedang serius menghadapi dirinya, Takehara jarang sekali menunjukkan kekuatan yang sebenarnya dia selalu menahan diri.
Eva menarik nafas tipis merilekskan tubuhnya. Tolakkan kuat dari kaki Eva membuat tubuh bagian bawahnya berputar kebelakang melayang diatas kepala Takehara, Eva mengincar pundak kanan masternya, kaki kanan Eva dengan kuat menghantam pundak Takehara tapi lagi-lagi masternya bisa menahan dengan kedua tangannya lalu melempar tinggi tubuh Eva.
Bluk.
Eva mendarat dengan mulus setelah beberapa kali berputar diudara. Murid dan guru itu saling pandang sejenak.
Srek!.
Dak!.
Mereka berdua berlari saling menghampiri memberikan serangan masing-masing. Tubuh mereka meliuk-liuk dengan gerakkan cepat.
Sebuah totokkan keras mendarat dipundak kanan Eva saat Takehara berputar dibelakangnya membuat gadis itu jatuh dengan satu lutut dilantai dan menekuk lutut lainnya.
"Apa yang anda lakukan ojou chan?." Suara Takehara sangat dingin, Eva terdiam tidak bergerak.
"Apakah pengendalian emosi anda sudah tumpul?." Takehara berbicara perlahan namun sangat mengintimidasi. Eva paham apa yang dimaksud masternya.
"Maaf, saya terlalu larut dalam kesedihan." Ucap Eva tenang, dia mengatakannya dengan tulus.
"Sikap anda sangat mengecewakan saya ojou chan." Takehara masih berdiri dibelakang Eva melirik gadis dibawahnya dengan wajah datar.
"Dia salah satu orang berharga bagi saya shishou." Jawab Eva.
Takehara mengangkat kaki kirinya sejajar dengan leher Eva.
Wwuusshh...
Takehara menendang udara kosong, Eva berguling rendah kedepan. Wajah cantik Takehara berbanding terbalik dengan sikap keras dan dinginnya sekarang ini.
"Anda harus terbiasa dengan itu ojou chan." Eva melirik keatas menatap sekilas manik masternya, dengan perlahan Eva berdiri memegang pundak kanannya yang terasa sakit.
"Bagaimana saya bisa terbiasa melihat orang berharga saya mati didepan mata dan tidak bisa melakukan apa pun untuk menolongnya. Hanya bisa menangis menyedihkan, shishou?." Aura Eva berubah menentang aura mengintimidasi dari tubuh Takehara.
"Apakah perlu saya ingatkan anda ojou chan." Setelah mengatakan itu Takehara menerjang Eva, pertarungan mereka tidak terelakan lagi. Takehara menyerang Eva bertubi-tubi.
Sebuah pukulan punggung tangan yang keras menghantam ulu hati Eva memaksanya bergerak mundur.
"Anda adalah anak dari Daren pengusaha besar didunia." Apa maksudnya, kenapa dia membawa-bawa ayah, batin Eva. Takehara kembali menyerang Eva.
"Saya tahu anda tidak bodoh ojou chan." Bisik Takehara tepat didepan wajah Eva sebelum mendaratkan pukulan telapak tangannya dipundak kiri Eva.
"Musuh bisa datang dari mana saja, kematian tidak akan memilih korbannya." Eva mencerna dengan cepat setiap kalimat dari Takehara.
"Jika itu datang kepada orang terkasih anda apakah anda akan bernegosiasi dengan kematian?." Takehara masih terus menyerang Eva sedangkan Eva berusaha mati-matian mempertahankan diri.
"Anda terlalu naif." Eva menahan pukulan samping Takehara dengan tangan kirinya.
"Anda benar shishou, saya terlalu naif." Eva menatap manik Takehara sangat dalam ia juga menekan aura masternya dengan auranya sendiri. Udara diruang tengah paviliun itu berubah panas.
"Terima kasih sudah menyadarkan saya. Bolehkah saya juga serius menghadapi anda shishou?." Takehara sedikit terkejut yang tidak ia tampakkan sama sekali.
"Tentu, dengan senang hati ojou chan." Takehara tersenyum manis.
Eva berjalan santai kembali kedalam rumah setelah pertarungan sengit dan panjang itu. Ia berhenti didapur untuk mengisi energi tubuhnya yang terkuras.
Apa yang dikatakan shishou memang benar tapi ini bukan hanya karena musuh ayah sebagai pengusaha, ini lebih rumit lagi, aku harus mulai menyusun rencana. Fitri tunggu aku, batin Eva.
***
"Ga kapan Eva berangkat sekolah?." Tanya Tiara mereka sedang istirahat dikantin.
"Kembaran lo masih sedih ga." Ucap Heru.
"Gue boleh nengokin dia nggak? mungkin dengan melihat wajah gue dia bisa ngelupain Dimas." Celetuk Dody.
"Buset pede amat lo." Srobot Heru, Dody tersenyum kikuk.
"Usaha kali ru nggak apa-apa." Dody membela diri.
"Hahaha Dody benar, kamu aku dukung Do dari pada yang diam tidak melakukan pergerakan apa pun." Ega menimpali sambil melirik Fathur yang diikuti ketiga teman-temannya sang empu hanya mendengarkan tidak paham kalau dirinya sedang dibicarakan.
"Miris." Ucap Heru.
"Menyedihkan." Imbuh Tiara.
"Tidak memiliki masa depan." Sahut Dody.
"Kasihan kembaranku." Ega tidak mau ketinggalan.
"Apa? kenapa kalian melihatku?." Fathur yang baru paham mencoba melawan.
Ega, Heru, Dody, dan Tiara memalingkan wajah mereka dari Fathur kembali fokus ke makanan masing-masing.
"Begitulah cowok yang tidak jentelmen, bukan tipeku." Kata Tiara.
"Apa aku termasuk kedalam tipemu ra?." Tanya Dody seraya nyengir lebar.
Cetak.
Heru menjitak dahi Dody membuat sahabatnya meringis kesakitan.
"Berhenti." Titah Heru, kelakuan dua orang itu membuat teman-temannya tertawa.
"Usaha ru." Sewot Dody.
"Jadi, kapan Eva berangkat ga?." Tiara menatap cowok dihadapannya.
"Lusa dia baru berangkat."
Bel pulang berbunyi Ega berlari meninggalkan teman-temannya yang masih membereskan buku mereka tanpa mengatakan apa pun.
"Apa ada sesuatu yang sangat penting sampai dia pergi secepat itu?." Tanya Heru kepada Fathur.
"Aku juga tidak tahu, Ega sepertinya tidak tenang sejak jam istirahat." Jelas Fathur.
"Apa Eva baik-baik saja?." Dody masuk kedalam obrolan mereka.
"Kemarin dia baik-baik saja." Jawab Fathur.
"Kemarin?." Ulang Heru.
"Lo ketemu sama calon pacar gue thur?." Tanya Dody histeris.
"Aku pulang duluan." Fathur berdiri meninggalkan sahabat-sahabatnya.
"Thur! jangan kabur lo, jawab gue thur." Teriak Dody yang tidak diindahkan sang empu.
"Ru gue ditikung sahabat sendiri." Dody menatap Heru dengan mata berkaca-kaca.
"Berarti lo harus sadar sekarang." Ucap Heru berlalu pergi.
***
Ega mengerem dengan kasar, melepas sabuk pengaman asal, ia segera berlari masuk kedalam rumah dengan wajah khawatir. Eva sejak tadi siang tidak bisa ia hubungi, berulang kali Ega sudah mencobanya.
Ega berlari cepat kelantai dua membuka kamar Eva mencari adiknya yang tidak berada disana, Ega turun ke lantai satu berlari ke halaman belakang rumah menghampiri tiga pengawal yang berdiri menjaga daerah mereka.
"Apa Yuki kesini?." Tanya Ega.
"Tadi pagi nona Eva sempat berkunjung ke paviliun." Jawab pengawal 1.
"Sekarang dia masih didalam sana?." Ega berusaha berpikir positif.
"Tidak, nona sudah keluar tiga jam yang lalu." Jawab pengawal 3.
"Baik terima kasih." Ega pergi meninggalkan mereka.
Kemana dia?, semoga dia tidak gegabah. Apa kamu melupakan janji yang kita buat tadi malam Yuki.., batin Ega berlari ke depan rumah seraya mencoba menghubungi ponsel adiknya.
Apakah dia menemui Dimas lagi?, batin Ega masuk kedalam mobil memasang sabuk dengan terburu-buru menjalankan mobil sport merah itu.
Diperjalanan Ega melacak ponsel Eva dengan GPS namun hasilnya nihil, tidak bisa ditemukan. Ega berusaha menghubungi kembali ponsel adiknya. Ia mulai frustasi. Panggilan ke empat sedang Ega coba.
Ssrrrkkk.
"Ada apa ga?." Suara orang yang ia khawatirkan mengalun ditelinganya.
"Dimana kamu?." Sergah Ega.
"Dirumah, kenapa?." Ega mengerutkan keningnya.
"Aku sudah mencarimu dirumah, dikamar, sampai ke toilet, kamu tidak ada disana." Ega sedikit lega Eva mengangkat teleponnya.
"Benarkah? tapi aku ada dikamar sekarang." Ega mengerem mendadak.
"Tunggu aku disana." Ucap Ega.
"Hm." Ega langsung putar balik menuju rumahnya.
Bergegas masuk kedalam kamar adiknya yang, kosong. Ega kembali mencari ke toliet sampai ke kolong ranjang tapi Eva tetap tidak ada. Ega menempelkan kembali ponselnya setelah menekan tombol angka 1.
"Jangan berbohong padaku dimana kamu." Ucap Ega sangat tegas.
"Hei, kamu marah?." Bukan jawaban itu yang ingin Ega dengar, dia benar-benar khawatir, adiknya bisa melakukan apa pun tanpa memikirkan akibatnya.
"Jawab aku."
***
"Apa yang harus saya lakukan?." Tanya pria bertato.
"Hubungi nomor ini, lakukan dengan hati-hati." Titah pemimpin mereka.
"Baik." Pria bertato itu pergi.
Laki-laki berbadan tinggi dengan sedikit rambut yang berubah putih itu menunduk disebelah pemimpin mereka.
"Nyonya, apa anda yakin dia tidak akan menyadarinya?." Tanya laki-laki itu.
"Selama ini dia tidak pernah menyadarinya, kau tahu kenapa?." Tanya wanita itu dingin.
"Tidak nyonya."
"Karena aku yang memegang kartu ASnya." Wanita itu tersenyum puas.
"Dalam permainan ini mengambil lima langkah lebih cepat akan mempengaruhi hasilnya." Jelas wanita itu.
"Tapi nyonya, dia tidak bisa diremehkan sekarang." Wanita itu melirik sinis kepada laki-laki yang masih menunduk disampingnya.
"Tapi dia masih bisa kita jinakkan, yang lebih penting untuk sekarang bukanlah gadis itu tapi dia." Wanita itu menatap selembar foto ditangannya.
"Aku sudah mencurigainya sejak lama, ada rahasia yang dia sembunyikan." Wanita itu beralih menatap langit-langit berwarna merah didalam ruangan luas itu.
"Ini tidak akan pernah berakhir jika dia masih hidup." Gumam wanita itu meneteskan air matanya.
***
"Yuki." Panggil Ega karena tidak mendapatkan jawaban sejak tadi.
"Hm, tunggu sebentar." Jawab Eva dari seberang sana.
"Kamu tidak sedang mencari Fitri sendirian kan?." Ega menanyakan apa yang ia khawatirkan.
"Tentu saja." Ega sangat kaget mendengar jawaban Eva.
"Aku ingin melakukannya, tapi untuk menangkap rubah kita harus menjadi predator yang lebih besar." Ega menghembuskan nafas lega, dia hampir terkena serangan jantung diusia muda.
"Ga, masih marah?." Tanya Eva.
"Tidak jika kamu menjawab dimana kamu sekarang?." Ulang Ega.
"Pergilah kedapur ambilkan beberapa makanan dari sana dan juga, hmm..." Eva menggantungkan kalimatnya.
"Satu botol lemon tea dingin, terus kembalilah kekamar nanti aku telephon lagi."
Tuutt tuutt tutt.
Eva mematikan panggilan mereka, Ega tidak punya pilihan, akhirnya dia mengikuti perintah adiknya.
Setelah mengambil banyak makanan dan dua botol lemon tea dingin Ega naik ke lantai dua masuk kembali kedalam kamar adiknya.
Zzzz zzz zzz.
"Kamu mengerjaiku dasar adik nakal." Ucap Ega setelah mengangkat telepon. Ega berubah gemas dengan kelakuan Eva yang mempermainkan dirinya.
"Hahaha sekarang siapa yang ngambek." Ega menenangkan dirinya, setidaknya Eva tidak melakukan apa yang ia khawatirkan.
"Mau diapakan makanan ini?." Tanya Ega menatap nampan besar ditangannya.
"Dimana kamu sekarang?." Seharusnya aku yang bertanya seperti itu Yuki, batin Ega.