
Hari berikutnya Eva kembali mengunjungi beberapa tempat dimana ayahnya berinvestasi masih dengan penyamarannya, Daren juga menerima ide-ide Eva untuk tender di amerika dan proposal perusahaan di china.
Pemotretan dilakukan dengan lancar, dekor tempat pemotretan dan make up artis juga sesuai keinginan Eva. Tugas Eva selesai lebih cepat, karena kerja kebutnya yang ia lakukan dimana pun dan kapan pun. Hari terakhir di korea Eva lakukan untuk berbelanja kebutuhan ruang rahasianya bersama Jun Ho. Menggunakan nama Jun Ho sebagai pembeli membuat Eva aman dari Ronggo dan Daren.
"Kenapa butuh barang sebanyak ini, apa yang sedang kamu kerjakan di indonesia?." Tanya Jun Ho.
"Melatih ilmu yang aku pelajari darimu." Jawab Eva.
"Itu tidak membutuhkan bahan-bahan kimia sebanyak ini, apalagi ini." Jun Ho menunjuk kantong hitam yang dipegangnya.
"Menurutmu apa yang akan aku lakukan dengan benda itu?." Eva menaikkan satu alis.
"Aku tahu dan sangat paham jika otakmu itu sangat jenius tapi tidak mungkin juga kan kau bisa membuat benda-benda elektronik, bukankah tidak ada daftar pembelajaran permesinan di jadwal privatmu?." Tutur Jun Ho menyelidik.
"Kau benar, mungkin untuk memenuhi koleksiku dirumah." Eva melenggang tanpa memperdulikan Jun Ho.
"Gadis nakal berhenti.. kau mau membuatku menjadi kacungmu hah?." Protes Jun Ho menatap barang-barang ditangannya seraya berjalan mengikuti Eva. Eva tersenyum kecil mendengar ucapan Jun Ho.
Kaki Eva berhenti tiba-tiba membuat Jun Ho hampir menabraknya.
"Tidak ada lampu merah kenapa kamu berhenti?." Eva membalikan badan menghadap Jun Ho.
"Ada barang yang lupa aku beli."
"Apa?." Tanya Jun Ho.
"Dimana toko bangunan?." Jun Ho menjatuhkan rahangnya menatap Eva tidak percaya.
"Untuk apa cari toko bangunan?."
"Dimana?." Eva tidak mengindahkan pertanyaan Jun Ho.
"Dari sini lurus, agak jauh." Jawab Jun Ho tidak minat.
"Ayo." Eva menarik pergelangan tangan Jun Ho.
"Kemana para pengawalmu? kenapa tidak suruh mereka saja untuk membawa belanjaanmu gadis nakal." Eva memutar bola matanya malas.
"Aku mengurung mereka di apartemen." Jawaban singkat Eva membuat Jun Ho pasrah akan keadaannya.
Perjalanan cukup lama bagi Jun Ho untuk sampai di toko bangunan tujuan mereka. Toko bangunan yang dikunjungi Eva dan Jun Ho bukan toko bangunan seperti di indonesia atau pun toko bangunan kecil, ditoko ini gedungnya seperti toko elektronik dengan kaca-kaca besar, didalamnya pun sangat bersih. Eva memasuki toko dengan semangat. Jun Ho menghela nafas berat. Bola mata Eva dengan teliti menyapu setiap inci produk yang ada.
"Gadis nakal." Lirih Jun Ho.
"Hm?."
"Sebahagia itu ya belanja di toko bangunan?." Jun Ho menundukkan wajahnya sejajar dengan Eva.
"Matamu berbinar sangat terang." Eva dengan kasar megalihkan pandangannya.
"Hahaha." Jun Ho tertawa bahagia melihat raut wajah Eva yang kesal.
Eva memilih beberapa alat yang tidak diketahui namanya oleh Jun Ho membawanya ke kasir.
"Memang di indonesia tidak ada toko bangunan?." Eva melirik sinis Jun Ho yang berdiri disampingnya.
"Tentu saja ada, tapi barang yang aku inginkan tidak ada disana." Jawab Eva seraya membayar belanjaannya.
"Ini." Eva memberikan kantong belanjaannya yang baru kepada Jun Ho dan berlalu pergi.
"Yak! gadis nakal. Kau benar-benar tidak sopan." Seru Jun Ho tetap menerima belanjaan Eva, ditangannya kini penuh dengan belanjaan-belanjaan berat.
"Apa kau tidak bisa seperti gadis-gadis lain? belanja baju, make up, accessories, sepatu, itu lebih ringan dibawa." Protes baru Jun Ho.
"Jun Ho si, bukankah kamu sudah lama tidak membawakan belanjaan wanita?." Eva mengeluarkan smirknya.
"Belanjaan wanita katamu? ini.. belanjaan wanita?." Jun Ho menatap Eva yang mengagguk mantap.
"Aku salah bicara sepertinya."
Mereka berjalan menuju parkiran, dengan hati-hati Jun Ho memasukkan semua belanjaan Eva kedalam bagasi mobilnya sedangkan si pemilik belanjaan sudah duduk di samping kursi kemudi. Jun Ho membuka pintu mobil memasang sabuk pengaman, lalu menyalakan mesin mobil.
"Kita mau kemana lagi?." Tanya Jun Ho menjalankan mobil keluar parkiran.
"Makan, lapar." Jun Ho mengangguk.
"Mau coba ke hongdae?." Tawar Jun Ho.
"Hm." Eva mengangguk singkat.
"Baik, lets go." Seru Jun Ho riang seraya meninju udara membuat Eva menggeleng-gelengkan kepalanya.
Tidak cukup lama mereka telah sampai didaerah terkenal dengan kuliner jalanannya, hongdae selalu ramai dari pagi hingga malam, apalagi sekarang waktu jam makan siang. Eva dan Jun Ho berjalan bersisian mata Eva membulat penuh, pemandangan dihadapannya membuat perutnya berteriak kencang. Eva menarik lengan Jun Ho menghampiri stan bungeoppang. Jun Ho tersenyum melihat raut wajah dan tingkah Eva.
"Mau rasa apa?." Tanya Jun Ho lembut menunduk agar bisa menatap mata Eva, yang ditatap berpikir sebentar.
"Krim dan kacang merah." Jun Ho mengangguk lalu memesankan pesanan Eva.
Tidak menunggu lama pesanan pun jadi, Eva mengeluarkan dompet kecilnya mengambil isinya yang dihentikan oleh Jun Ho.
"Biar aku yang bayar hari ini, terus lagian mana ada penjual di pinggir jalan menerima pembayaran pakai black card heh?." Jun Ho tersenyum miring seraya memberikan satu lembar uang kepada penjual.
"Terima kasih." Ucap Eva yang mendapatkan tepukan pelan dikepalanya.
"Gadis nakal jinaknya memang pakai makanan." Eva membuang wajahnya dan mulai memakan roti berbentuk ikan itu.
"Kamu tidak makan?."
"Nanti saja." Eva mengedikkan bahu dan mulai menikmati jajanan ditangannya dengan elegan. Tidak berlangsung lama Eva menarik tangan Jun Ho lagi menuju stan berikutnya.
"Mau berapa?."
"Satu."
Jun Ho membeli tornado potato lalu hendak mengulurkannya kepada gadis yang seharusnya berdiri disampingnya tadi tapi gadis itu hilang tidak ada ditempatnya. Dimana dia?, batin Jun Ho. Matanya mencari-cari Eva. Sebuah tangan putih melambai-lambai dari seberang jalan menyuruh Jun Ho untuk segera menghampirinya.
"Gadis nakal, jangan suka ngilang." Ucap Jun Ho menjewer pipi Eva.
"Dakkochi (sate ayam) ini baunya harum sekali, tiba-tiba saja kakiku sudah berdiri disini." Jun Ho memberikan tornado potatonya kepada Eva.
"Lalu?." Tanya Jun Ho berpura-pura tidak tahu.
"Aku tidak bisa membelinya." Ucap Eva melirik dakkochi yang sedang merayu Eva untuk segera dimakannya. Jun Ho menahan senyum melihat tingkah Eva.
"Eeehh, kenapa tidak bisa?." Jun Ho menjahili Eva.
"Jun Ho si, cepat belikan aku itu." Perintah Eva kesal karena Jun Ho tidak kunjung membelikan dakkochi itu padahal Eva sudah tidak bisa menahan hasrat makannya.
"Aegyo dulu." Eva sontak mengangkat satu alisnya seraya menatap tajam Jun Ho.
"Kalau tidak mau juga tidak masalah." Jun Ho berbalik ingin pergi tapi lengan jaketnya ditarik dari belakang.
"Arrasseo." Lirih Eva tertahan, Jun Ho yang mendengarnya tersenyum lebar lalu membalikkan badan menatap manik biru itu.
"Kau serius?." Tanya Jun Ho, Eva mengangguk lemah tubuhnya bergerak-gerak gelisah tentu saja Jun Ho menyadari hal itu.
"D da," Ucap Eva sangat lirih.
"Hah apa?." Jun Ho mendekatkan telinganya ke bibir Eva.
"Da da," tenggorokkan Eva seperti tercekik menolak keinginan Jun Ho tapi dilain sisi ada dakkochi yang sedang menunggunya.
"Kamu bicara apa sih?." Eva mulai kesal dengan satu tarikan nafas.
"Dakkochi juseyo. (tolong berikan aku dakkochi.)" Ucap Eva dengan rona merah dipipinya menahan malu. Jun Ho terkejut Eva benar-benar melakukannya meskipun itu tidak bisa dibilang sebuah aegyo tapi melihat wajah malu-malu Eva sudah cukup bagi Jun Ho. Tangan besar Jun Ho menarik-narik kedua pipi Eva gemas.
"Baiklah oppa akan membelikannya untukmu." Sebelum Eva protes dengan sebutan itu Jun Ho sudah berbicara dengan penjual.
"Uhm apalagi kalau dia sedang diam dan fokus terlihat sangat seksi." Jawab Jun Ho meladeni ibu-ibu penjual seraya melempar tatapannya kepada Eva yang sedang memakan tornado potatonya dengan lahap mengusung senyum dibibir Jun Ho.
"Benarkah waahh, pasti dia sangat istimewa." Ibu itu memberikan dua porsi dakkochi yang diterima Jun Ho dengan sopan.
"Adik nakalku memang istimewa." Ucap Jun Ho berlalu pergi, ibu penjual yang mengira mereka berpacaran terpaku sebentar mendengar kalimat Jun Ho. Adiknya ternyata, batin ibu penjual.
"Nih." Eva menerimanya dengan mata yang berbinar.
"Terima kasih." Eva langsung memasukkan dakkochi kedalam mulutnya, jangan ditanya kemana hilangnya tornado potato panjang itu tentu saja sudah aman didalam perut kecil Eva.
"Enak?." Tanya Jun Ho yang juga memakan dakkochi miliknya.
"Emm." Eva mengangguk dengan mulut penuh.
Mereka berjalan menyusuri setiap stan-stan berhenti untuk membeli dan jalan lagi terus seperti itu sampai semua stan mereka kunjungi.
Jun Ho meluruskan kakinya dibangku taman punggungnya ia senderkan dan tangannya memegang perut.
"Agh, perutku sudah tidak muat lagi." Lirih Jun Ho melirik gadis disebelahnya.
"Apa kamu belum kenyang?." Eva melirik sekilas Jun Ho yang bermuka masam karena kekenyangan.
"Didalam perutmu ada apanya sih? bisa menampung semua makanan itu?." Jun Ho masih heran dengan Eva, sejak dulu nafsu makan gadis nakalnya itu memang besar tapi tidak sebesar sekarang. Eva menghabiskan suapan terakhir lalu meminum lemon tea nya.
"Sudah lama sekali aku tidak merasakan seperti ini." Lirih Eva menatap lurus taman.
"Maksudmu jalan-jalan?." Eva mengangguk.
"Bukankah kamu sering keluar negeri? hari minggu di indonesia kamu juga tidak ada kelas kan?." Eva mengangguk.
"Setiap keluar negeri aku tidak pernah berpikir untuk jalan-jalan tidak ada waktu, hari minggu aku habiskan waktuku untuk belajar sendiri." Jawaban Eva membuat Jun Ho mengerutkan kening.
"Kamu menyembunyikan fakta ini dari hipnotisku gadis nakal." Eva mengedikkan bahu acuh.
"Aku tidak semudah itu meruntuhkan pertahananku dan memberikanmu akses untuk mengobrak-abrik ingatanku Jun Ho si."
"Sejak pertama kali bertemu denganku kamu sudah belajar cara bertahan dari hipnotis bukan.?"
"Menurutmu?."
"Menyebalkan, apa oppa mu ini tidak bisa kamu percaya heh?." Eva berdiri menatap Jun Ho datar.
"Usia dan wajahmu saja tidak bisa dipercaya." Eva berjalan meninggalkan Jun Ho.
"Yak! gadis nakal, mau kemana kamu?." Teriak Jun Ho.
"Pulang!." Seru Eva.
Diperjalanan kembali ke apartemen Eva meminta Jun Ho untuk berhenti lima ratus meter sebelum sampai ke apartemen.
"Apa yang sedang kamu lakukan?." Tanya Jun Ho melihat Eva sibuk dengan laptopnya yang ia bawa.
"Mematikan kamera cctv." Jawaban datar dari Eva menarik perhatian Jun Ho.
"Cctv yang mana?."
"Dari tempat kita sampai apartemen." Jun Ho mengintip isi laptop Eva yang penuh tulisan, kode yang tidak Jun Ho mengerti sama sekali.
"Bagaimana caranya? memang bisa? ini banyak loh." Eva yang diperhatikan tidak merasa terganggu dan tetap sibuk menatap lurus laptopnya.
"Tinggal dimatiin."
Cetik.
Jari telunjuk Eva menekan tombol enter lalu menutup laptopnya.
"Ayo jalan,sebelum mereka bisa memperbaikinya." Jun Ho meluruskan duduknya menatap Eva tidak percaya. Jun Ho membawa mobilnya ke parkiran apartemen.
"Listriknya mati, tidak bisa pakai lift jadi Jun Ho si harap pakai tangga, apartemenku dilantai dua nomor dua puluh satu." Eva mengambil setengah belanjaannya.
"Sisanya tolong Jun Ho si bawakan, oh iya lima menit setelah aku masuk Jun Ho si baru boleh masuk, terima kasih." Jun Ho paham apa yang dikatakan Eva meskipun dia tidak paham dengan tujuannya dia hanya mengangguk.
Didalam apartemen Eva langsung memasukkan barang belanjaannya kedalam kamar.
Tok! Tok! Tok! suara ketukan pintu. Eva membukakan pintu untuk Jun Ho dan mengambil alih kantong-kantong belanjaanya.
"Silahkan masuk, aku akan meletakkan ini dikamar dulu."
"Permisi." Jun Ho melihat-lihat sekeliling, tidak ada yang menarik sama seperti apartemen biasa.
Tidak lama Eva keluar dari kamarnya mengambil dua botol lemon hangat yang disimpannya lalu memberikan satu kepada Jun Ho.
"Sekarang aku boleh bertanya?." Eva menengguk lemon hangatnya lalu mengangguk singkat.
"Kenapa kita tidak masuk bersama?." Jun Ho membuka botol lemon hangatnya menengguk sedikit karena sudah tidak ada ruang kosong didalam perutnya tapi tenggorokkannya terasa kering membuatnya mau tidak mau meminum lemon hangat yang diberikan Eva.
"Menghindari orang-orang melihat kita bersama, nanti jika mereka bangun pasti akan memeriksa setiap detail yang terjadi denganku hari ini."
"Mereka bangun? bukankah kamu mengurung mereka di apartemen?." Tanya Jun Ho.
"Aku membuat mereka tidur seharian penuh dan mengurungnya dari dalam." Jawaban datar Eva tidak bisa dipahami Jun Ho.
"Dari dalam? itu tidak mungkin kamu saja ada di sini." Kata Jun Ho.
"Apa kau lupa bagaimana aku menerobos apartemenmu yang terdapat dua lapis keamanan?." Jun Ho terdiam sebentar. Benar katanya, dia yang berumur tiga belas tahun dengan mudah membobol keamanan dua lapis tingkat tinggi itu apalagi sekarang, tidak ada yang tidak bisa dia lakukan, batin Jun Ho.
"Lalu kenapa tiba-tiba listrik mati begini, sangat jarang di seoul listriknya mati dan yang terkena hanya disekitar kita berhenti tadi dan disini?." Jun Ho menyenderkan punggungnya ke sofa.
"Aku yang mematikannya tadi sebagai pengalih perhatian saat mengirim virus kedalam kamera cctv disekitar daerah yang terkena mati listrik." Penjelasan Eva membuat Jun Ho terdiam sebentar.
"Jadi, orang-orang akan beranggapan kamera cctv rusak saat listrik mati tadi, membuat mereka berpikir kalau semua yang terjadi secara alami?." Jun Ho menatap Eva memastikan argumennya.
"Betul." Jun Ho memegang kepalanya.
"Yak! ayahmu benar-benar telah berhasil membuatmu menjadi boneka yang mengerikan." Eva terkekeh kecil.
"Kau berpikir seperti itu."
"Apa yang kamu pakai untuk membuat mereka tidur, obat bius dosis tinggi?."
"Tentu saja bukan, jika aku menggunakan obat bius mereka akan sadar dengan cepat kalau aku yang melakukannya. Untuk apa aku repot-repot mengurung mereka dari dalam kalau begitu." Jun Ho mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Jadi, apa yang kamu gunakan?." Tanya Jun Ho penasaran. Eva menarik sudut bibirnya.
"Hanya sebuah parfum." Jawab Eva singkat.
"Apa kamu mencoba belajar melakukan sebuah penelitian?." Selidik Jun Ho. Eva hanya mengangkat satu alisnya keatas.
"Jangan berbohong kepadaku Augustin." Nada datar keluar dari mulut Jun Ho.
"Apa kau melihat kebohongan dari mataku." Jawab Eva tidak kalah datar.
"Ruangan dengan cat hitam, sebuah laboratorium kecil, dan foto kakek tua. Aku melihatnya." Eva menatap Jun Ho tanpa ekspresi.
"Dihari pertama kali kita melakukan terapi hipnotis, aku penasaran bagaimana bisa tidak ada satu orang pun yang mendengar jerit kesakitanmu yang sangat memilukan itu." Eva menatap tajam Jun Ho.
"Yang sedang kamu pikirkan itu benar." Diantara guru dan murid yang duduk berhadapan mereka sekarang saling membaca pikiran masing-masing.
"Aku mencari dimana kamu saat rasa sakit itu tiba-tiba datang, dan yang aku temukan adalah ruangan itu, tidak ada seorang pun kamu sendiri, menggeliat kesakitan dilantai coklat itu." Jun Ho merasakan apartemen itu semakin dingin meskipun ac sudah dinyalakan.
"Augustin kecil dengan lebam dipipi dan mata polosnya, gemetar, meringkuk," Eva memotong kalimat Jun Ho.
"Berhenti." Kata Eva dengan nada dinginnya, hati Jun Ho sedikit bergetar takut melihat raut wajah dan suara dingin Eva tapi dia berusaha menahan raut wajah dan nada suaranya agar tetap tenang.
"Jadi Augustin, ruangan apa itu?." Jun Ho balas menatap tajam Eva.