Yuki

Yuki
Bab 35



Dikantor Setelah bertemu dengan klien dan menghadiri meeting sebagai asisten Reza, Eva berakhir di mesin foto copy, sekertaris Reza entah kenapa hari ini dia sangat aktif sekali menyuruh anak magang palsu itu. Eva yang disuruh pun harus memerankan karakternya dengan baik, ini kedua kalinya ia menyuruh Eva untuk mengcopy laporan. Eva merapihkan hasil foto copyannya berjalan menuju meja sekertaris, perempuan itu sedang menatap layar komputernya.


"Maaf bu ini hasil foto copyannya saya taruh dimeja." Ucap Eva menaruh hasil foto copyannya.


"Hum terima kasih." Ucapnya tanpa melirik Eva.


"Kalau begitu saya permisi dulu bu." Eva berniat pergi dari sana dan masuk kembali ke dalam ruangan Reza tapi apa daya tuhan belum menghendaki.


"Eva." Panggil sekertaris Ana, Ana Kenanga itulah nama yang tertulis di depan meja kerjanya.


"Iya bu?." Eva membalikkan badan menghadap Ana.


"Bisa buatkan aku kopi, sepertinya mataku sangat berat. Tolong ya." Ucap Ana dengan senyum manis yang Eva yakini adalah senyum palsunya.


"Baik bu, tolong tunggu sebentar." Jawab Eva ia juga memberikan senyum palsunya yang tak kalah manis.


Eva sudah berdiri didalam dapur kecil di lantai itu, Eva terdiam menatap semua benda didapur satu persatu, otaknya bekerja keras.


Bagaimana aku melakukannya? menaruh kopi kedalam gelas dan mendidihkannya? tapi tidak ada kompor disini, apakah membuat kopi butuh gula atau garam? haruskah aku mengukur berat kopi, gula, dan garam sekaligus? berapa perbandingannya???. Aku harus memakai sarung tangan sebelum membuatnya agar steril bukan? dimana mereka menyimpan sarung tangannya? tunggu, aku juga harus memakai celemek, pikiran Eva berputar-putar.


Disaat Eva sedang mencari celemek dan sarung tangan didalam laci seseorang masuk kedalam dapur Eva memperhatikan setiap gerakan orang itu.


Apa yang dia lakukan tanpa celemek dan sarung tangan?, batin Eva.


Orang itu menekan tombol merah, air panas mengalir turun yang ditampung oleh gelas dibawahnya. Orang itu mengaduk gelas sebentar lalu pergi meninggalkan dapur Eva dengan wajah serius menghampiri gelas mengambilnya satu lalu otaknya kembali bekerja keras.


Apa tidak apa-apa tidak memakai celemek dan sarung tangan? apa yang dia masukan tadi? sepertinya dia tidak menimbangnya lebih dulu, apa yang harus aku masukan pertama kali? garam?, kopi?, gula?, aku tidak boleh gegabah dan salah memasukan urutan yang benar mungkin itu akan membuat rasa kopinya berubah bahkan bisa menjadi aneh, pikir Eva.


"Apa gelasnya telah melakukan kesalahan?." Eva terkejut langsung menoleh kesamping, perempuan itu menaikan kedua alisnya dengan cepat menatap Eva.


"Kamu menatapnya seperti sedang menghakimi tersangka." Lanjutnya, Sela kembali menatap gelas kosong yang tidak bersalah diatas meja.


"Kak ada apa kesini?." Tanya Eva, Sela kembali menatap Eva. Kantor Sela ada di lantai empat satu tingkat diatasnya tapi kenapa dia ada dilantai tiga sekarang.


"Dapur lantai empat kehabisan gula jadi aku turun untuk memintanya sedikit." Jelas Sela menunjukkan kotak kecil ditangannya.


"Apa yang kamu lakukan disini Eva?." Tanya Sela. Sela, Galuh, dan Andin sudah tahu kalau Eva sedang menyamar menjadi anak magang diperusahaan mereka juga menuruti permintaan Eva untuk memanggil namanya saja saat dilingkungan perusahaan tanpa embel-embel nona muda untuk membantu penyamarannya mereka terkadang juga makan malam bersama dikantin perusahaan.


"Membuat kopi." Jawab Eva, Sela meletakkan kotak kecil alias tempat gula yang kosong ditangannya ke meja dengan keras kedua tangannya berkacak pinggang.


"Reza sudah tidak war*s menyuruhmu membuat kopi." Geram Sela.


"Bukan kak Reza yang menyuruhku." Sela mengerutkan alisnya.


"Katakan siapa yang berani menyuruhmu?." Eva melihat dengan jelas raut kesal diwajah Sela.


"Sekertarisnya, kak Sela tidak perlu sekesal itu ini juga tugas anak magang."


"Si Ana cewek serigala itu beraninya dia." Gumam Sela, Eva membiarkan Sela mengoceh sendiri sedangkan ia kembali menatap gelas kosongnya.


"Kak Sela." Panggil Eva lirih.


"Ya ada apa?." Sela melirik Eva.


"Bagaimana cara membuat kopi?." Tanya Eva polos.


Sela mendekati gelas kosong mengambil satu saset kopi membukanya lalu menuangkan kopi kedalam gelas setelah itu Sela menambahkan satu sendok gula dan menyeduhnya. Setiap gerakan Sela Eva perhatikan dengan seksama.


"Lain kali jika perempuan serigala itu menyuruhmu membuat kopi lagi katakan padaku biar aku yang membuatnya, ini sudah jadi." Sela memberikan gelas berisi kopi kepada Eva. Eva menatap gelas lamat-lamat.


Jadi begitu cara membuat kopi, batin Eva.


"Bagaimana kakak menakar gulanya?." Pertanyaan tiba-tiba Eva membuat Sela memicingkan mata.


"Berapa perbandingan gula dan kopinya?." Sela seketika tertawa terbahak-bahak.


"Hahaha kamu tidak perlu menakar gula dan membuat perbandingannya untuk membuat kopi hahaha." Eva yang masih penasaran kembali bertanya.


"Apakah kopinya aman untuk diminum? Kak Sela tadi tidak menggunakan sarung tangan mungkin kopi ini tidak steril." Ujar Eva masih menatap kopi yang bergoyang-goyang karena guncangan tubuh Sela yang tertawa.


"Apa? hahaha sarung tangan hahaha, steril? hahaa." Eva mengalihkan pandangannya menatap Sela.


"Maaf va haha." Sela berusaha menghentikan tawanya ia menghapus air mata yang keluar dari sudut matanya.


"Ekhem! kamu membuatku sampai mengeluarkan air mata." Ucap Sela mengatur nafasnya.


"Aku paham nona muda pasti tidak pernah masuk dapur." Ujar Sela, Eva mengangguk singkat.


"Kamu tidak perlu menggunakan sarung tangan untuk membuat kopi, untuk gulanya itu tergantung orangnya masing-masing, apakah dia suka manis atau tidak jadi menyesuaikan." Eva memproses penjelasan Sela.


"Sudah jangan terlalu dipikirkan, kalau perempuan serigala itu menyuruhmu membuat kopi lagi panggil aku saja." Eva menerima gelas itu.


"Terima kasih kak, kamu telah menolongku."


Setelah berpisah dengan Sela Eva segera membawa gelas berisi kopi panas ke meja Ana meletakkannya hati-hati.


"Silahkan bu." Lirih Eva, Ana meliriknya sebentar.


"Kenapa lama? apa kamu sengaja mengulur waktu?." Ucapan Ana membuat Eva semakin yakin kalau perempuan dihadapannya itu layak mendapat julukan perempuan serigala.


Ana perempuan itu saat bicara dengan Eva terkadang nada suaranya sangat halus tapi penuh siasat dan terkadang suaranya ketus mengintimidasi seperti sekarang tapi jika ada Reza atau pun atasan lainnya dia akan berbicara dengan lembut yang dibungkus dengan senyum indahnya.


"Maaf." Hanya itu yang bisa diucapkan Eva.


"Sudahlah, foto copy lagi ini." Eva melirik setumpuk kertas yang ditunjuk Ana.


"Berapa lembar yang dibutuhkan bu?." Tanya Eva mengambil tumpukan kertas itu.


"Masing-masing tujuh lembar, cepat ya." Senyum miring terukir dibibir Ana. Akan aku kabulkan permintaanmu, batin Eva tersenyum dalam hati.


Eva menggunakan dua mesin foto copy sekaligus, dengan gerakan cepat ia menata kertas-kertas itu dengan rapih, tiga menit kemudian Eva berjalan kembali ke meja Ana.


"Saya sudah menyelesaikannya." Ana mengerutkan keningnya sebentar.


"Bagus, sekarang tolong berikan itu kepada kepala marketing." Dia menguji kesabaranku jika bukan karena sedang berpura-pura menjadi anak magang sudah aku beri pelajaran kamu, batin Eva mengambil kembali tumpukan kertas yang baru ia letakkan.


"Saya akan mengantarnya permisi." Ucap Eva meninggalkan Ana.


Eva berdiri menunggu lift terbuka tumpukan kertas ditangannya agak mengganggu arah pandangan Eva.


"Mau kemana?." Tanya Reza seraya mengangkat separuh kertas.


"Ke ruangan kak Sela." Reza menatap Eva.


"Ana sudah keterlaluan hari ini, kamu boleh menolaknya Eva." Pintu lift terbuka mereka berdua melangkah masuk.


"Aku harus menjadi anak magang yang baik agar mereka tidak curiga." Reza menatap lurus kedepan.


"Sebagai putri presdir saya tidak menyangka anda akan bertahan selama ini diperusahaan apa lagi dengan tingkah Ana yang berubah setengah bulan ini." Ujar Reza.


"Hm." Jawab singkat Eva, Eva sendiri tidak terlalu ambil pusing dengan tingkah Ana yang terkadang memancing kekesalannya. Pintu lift terbuka Reza melangkah keluar lebih dulu.


Eva menyapukan pandangannya di lantai empat itu, karyawan dilantai empat tidak kalah sibuknya. Reza masuk kedalam ruangan Sela tanpa mengetuk pintu Eva yang berdiri agak jauh dari Reza melihat pemandangan yang menarik dari pintu yang tidak tertutup itu.


"Kenapa lo yang nganterin berkas ini?." Tanya Sela yang duduk di kursi kerjanya.


"Baik kan gue, lo harus traktir gue nanti." Jawab Reza seraya meletakkan berkas diatas meja Sela.


"Idih, mana ada orang baik minta imbalan." Sergah Sela.


"Gue bisa anggap itu tanda terima kasih." Sela berdiri menghampiri Reza ia memukul keras kepala Reza dengan map yang ia pegang.


"Ngarep aja terus lo." Reza tersenyum misterius.


"Apa lo?, senyum-senyum kayak gitu." Tanya Sela menantang Reza, lengan Reza dengan mulus melingkar dileher menarik tubuh Sela mendekat.


Reza mengapit leher Sela dibawah lengannya membuat perempuan itu memberontak tidak mau diam.


"Lo harus dikasih pelajaran karena sudah nimpuk gue." Ucap Reza.


"Rez lepasin nggak!?." Seru Sela memukul-mukul lengan kekar Reza.


"Sel lepas sakit tangan gue." Sela semakin mengencangkan kuncian tangannya.


"Apa? lo bilang apa, gue nggak denger." Sela menjahili Reza.


"Sela yang baik hati tolong lepasin tangan gue." Rayu Reza, Eva menahan senyum melihat interaksi mereka berdua yang tidak menganggap ada mahluk lain didalam ruangan itu.


Eva melangkah masuk mendekati orang yang sedari tadi menatap interaksi Reza dan Sela dengan tatapan cemburu.


"Apa ini, targetmu sudah berubah?." Lirih Eva mengagetkan Mely.


"Bukankah mereka serasi kak Mely." Eva menekankan kalimat terakhirnya.


"Mata anda sangat jeli nona muda." Jawab Mely tak kalah lirih.


"Tentu saja, kau tidak bisa menyembunyikan sesuatu dariku." Jawab Eva menatap dua kepala devisi sedang bertarung.


"Saya bantu." Mely mengulurkan tangannya hendak mengambil alih berkas ditangan Eva.


"Tidak. Terima kasih." Eva melangkah ke sisi meja kerja Sela menghindari pertarungan kedua pimpinan itu meletakan berkas di atas meja.


Eva merogoh sakunya mengeluarkan ponsel menekan icon kamera mengambil foto adegan tangan Reza yang dikunci kebelakang oleh Sela mengirimnya ke Andin lalu Eva tidak sengaja melihat nama kontak Dimas, sudah lama ia tidak membalas pesan-pesan dari Dimas karena kesibukannya sudah satu bulan lebih juga ia tidak bertemu dengan Dimas.


Eva teringat akan pertanyaan Ega tadi siang, apakah dia menyukai Dimas? perasaan suka itu seperti apa? apakah hanya dengan beberapa kali membonceng bisa dikatakan suka? bagaimana dengan Fathur, ia juga beberapa kali memboncengnya, Eva menggelengkan pelan kepalanya mengusir pikiran-pikiran yang berputar-putar tanpa ada jawaban.


"Lihat, sepertinya Eva sudah jengah melihat kita." Ujar Reza.


"Kita? maaf-maaf saja, bukan gue tapi lo." Jawab Sela, mereka entah sejak kapan sudah mengakhiri perkelahian sengit mereka.


"Jangan mulai lagi, ini sudah waktunya istirahat." Reza menahan dirinya agar tidak terpancing oleh Sela.


"Va, ayo makan." Ajak Reza. Eva menatap keduanya.


"Apa kalian sudah selesai?." Eva melangkah menuju pintu keluar yang diikuti oleh Sela dan Reza dibelakangnya.


"Gue nyerah, bad girl satu ini susah dikalahin." Ucap Reza sambil melirik Sela.


"Haah? coba katakan sekali lagi." Sela melipat lengan kemejanya.


"Udah, gue nggak punya tenaga lagi... Laper." Eva membuka suaranya.


"Kasihan kak Mely hanya menonton kalian." Seketika Reza dan Sela saling pandang.


"Ya ampun gue lupa dia ada disana, sebentar gue balik dulu mau ngajak dia makan bareng kita." Raut wajah Sela sedikit panik.


"Bisa-bisanya lo sama sekertaris sendiri lupa." Celetuk Reza.


"Ini gara-gara lo." Tuduh Sela.


"Lah gue korban lo Sel."


"Berisik ah." Sela mengambil langkah seribu kembali ke ruangannya.


Reza dan Eva melanjutkan perjalanan mereka ke kantin perusahaan yang ada dilantai dua. Eva mendapat balasan pesan dari Andin.


"Kak." Reza yang mendapat teguran melirik Eva disampingnya.


"Aku dapat pesan, kak Andin sama kak Galuh sudah menunggu di kantin." Jelas Eva.


"Cepat sekali mereka sudah disana." Kalian berdua yang kelamaan lupa waktu, batin Eva mengingat perkelahian Reza dan Sela.


Eva dan Reza sudah sampai di lantai dua mereka berjalan beriringan seperti biasa menarik perhatian orang-orang disekitar mereka. Terkadang hal itu membuat Reza tidak nyaman.


Eva tidak percaya dengan bola matanya dengan pemandangan yang berada didepan mereka.


Apa yang dilakukannya disini?, batin Eva.


Dimas sedang duduk berdua asik mengobrol sesekali terlihat ia tersenyum dan tertawa, Eva lebih terkejut lagi dengan lawan bicara Dimas perempuan yang membuatnya bolak-balik mesin foto copy hari ini siapa lagi kalau bukan perempuan serigala itu Ana Kenanga.


Dimas tertawa terbahak-bahak bola matanya tidak sengaja bertabrakan dengan mata biru yang dikaguminya.


"Eva." Lirih Dimas.


"Apa? kamu bilang apa Dim?." Tanya Ana.


"Tidak apa-apa." Jawab Dimas singkat pandangan matanya kembali ke gadis pujaannya.


Dimata Dimas Eva sangat kharismatik dengan pakaian kantor yang ia kenakan. Atasan turtleneck putih yang dipadukan dengan pantsuit warna pastel yang lembut memberinya kesan feminim baju itu juga menampilkan betapa jenjangnya kaki Eva.


Siapa laki-laki itu?, sepertinya aku pernah melihatnya tapi dimana? yang lebih penting Eva terlihat dekat sekali dengan laki-laki itu, batin Dimas geram.


Reza memesankan pesanannya dan pesanan Eva mereka berjalan ke arah meja Andin dan Galuh yang dengan sabar menunggu mereka.


"Rez lo berantem lagi sama Sela." Reza terkejut menatap Galuh.


"Tahu dari mana lo?." Elak Reza.


"Lihatin yang." Pinta Galuh, Andin dengan gampangnya menunjukkan foto yang ia terima dari Eva tepat diwajah Reza, si tersangka hanya memberikan senyum jahilnya.


"Tangan gue gatel kalau lihat Sela." Jawab Reza.


"Nggak didalam kantor juga kali Rez, nanti kalau ada karyawan lain yang lihat kalian bagaimana?." Sahut Galuh.


"Ok sorry, gue kebawa suasana tadi." Eva yang duduk disebelah Reza menjadi pendengar yang baik.


"Maksud lo?." Tanya Andin.


"Sela kelihatan lelah dengan pekerjaannya jadi gue berinisiatif menjahilinya." Ujar Reza.


"Kapan lo mau ungkapin perasaan lo sama Sela." Tanya Andin.


"Belum ada waktu yang pas." Jawab Reza.


"Jangan kelamaan nanti keburu diambil orang." Srobot Galuh, makanan mereka sudah datang bertepatan dengan datangnya orang yang dibicarakan.


"Sorry lama ya?, gue mau pesen dulu." Sela yang tiba-tiba datang dengan keringat dipelipisnya langsung pergi memesan makanan setelah itu Sela bergabung dengan kami.


"Habis nguli dimana lo? keringatan gitu." Celetuk Andin.


"Gue habis maraton ndin, gue ngajak Mely buat gabung sama kita tapi dia nolak." Reza menggeser tisu dimeja ke hadapan Sela perempuan itu dengan segera mengelap keringat diarea pelipisnya.


"Rez lo punya masalah sama orang?." Tanya Galuh.


"Nggak kenapa?."


"Orang yang bersama sekertaris lo dari tadi ngelirik lo terus kayaknya dia marah deh." Reza menoleh ke meja samping mendapati laki-laki muda yang menatapnya tidak suka.


"Gue saja nggak kenal." Reza mengacuhkan laki-laki itu.


Entah apa sebutan perasaan yang sekarang dirasakan oleh Eva tapi hatinya pedih sampai detak jantungnya pun terdengar aneh.


Apakah ini yang dirasakan Mely tadi, ataukah ini hal yang berbeda? tapi yang jelas aku tidak suka perasaan seperti ini membuatku tidak nyaman, batin Eva.


Waktu istirahat hampir selesai Reza cs beranjak hendak kembali ke ruangan masing-masing saat mereka memasuki lift tiba-tiba ada yang menarik lengan Eva kebelakang membuat dirinya tertinggal rombongan.


Dimas laki-laki itu menatap mata Eva dalam, Eva dengan cepat membuang wajahnya kesamping.


"Kenapa kamu disini? kamu membantu pak Daren?." Tanya Dimas lembut. Harusnya aku yang bertanya kenapa kamu disini, batin Eva tidak menjawab pertanyaan Dimas.


"Apa karena ini kamu tidak sempat membalas pesanku?." Dimas melepas pelan genggaman tangannya di lengan Eva.


"Kamu pasti sangat sibuk." Tidak ada jawaban.


"Kamu pulang jam berapa? aku akan menjemputmu." Eva tetap bungkam.


"Aku tahu kamu sedang marah, katakan dimana letak kesalahanku?." Dimas sangat paham gadis didepannya ini sedang marah terlihat dari sikapnya yang kembali dingin. Eva tidak mengindahkan pertanyaan Dimas ia melangkah melewati laki-laki itu menekan tombol lift.


"Eva?." Panggil Dimas lembut, pintu lift terbuka Eva melangkahkan kakinya namun sebelum kakinya memasuki lift pintu lift kembali tertutup.