Yuki

Yuki
Bab 3



"Non Eva melakukannya lagi?." Aku hanya diam tidak menjawab.


"Berapa lama?."


"Sekitar tiga jam, ayo kita bawa non Eva kekamarnya dulu sebelum nyonya bangun." Ajak Fitri.


Jam menunjukkan pukul 18.00 Fitri memberikkan sepatu high heels 3cm berwarna peach senada dengan mini dress yang aku gunakan, rambut panjang yang dibuat curly sedikit menarik dikedua sisinya kebelakang diikat dengan pita putih. Fitri menatap kagum dengan mulutnya yang terbuka. Aku sedikit memutar pergelangan kaki mengecek kalau tidak ada masalah dengan kakiku. Satu jam lalu dokter khusus keluarga Ahyner memeriksaku dan memberikan penanganan, padahal tidak perlu berlebihan seperti itu tapi Ronggo bersikukuh untuk memanggil dokter.


"Manis." Gumam Fitri, mengalihkan perhatianku kepadanya.


"Tidak.. tidak.. tidak, cantik." Gumamnya lagi seraya menggelengkan kepala dengan cepat.


"Manis cantik elegan. Apa ada kata yang lebih dari itu? jika ada mungkin kata itu yang cocok untuk non Eva." Aku meraih mini handbag(tas tangan) peach dengan garis putih dari tangan Fitri.


"Seharusnya kamu juga diperiksa dokter tadi." Ucapku melangkah meninggalkan kamar.


"Saya tidak sakit non." Tolak Fitri seraya mengikutiku dari belakang.


"Yakin?." Tanyaku dengan muka datar, dengan cepat Fitri mengangguk kuat.


"Kepalamu mungkin bermasalah, besok pergilah kedokter." Setelah mengatakan itu aku berjalan menuruni tangga dibelakang Fitri bengong memikirkan kata-kataku, beberapa menit setelah itu ia tersadar dan segera membungkuk hormat.


"Hati-hati dijalan non." Serunya.


Aku melihat ayah berdiri di anak tangga menungguku. Ayah mengulurkan tangannya yang aku sambut dengan canggung.


"Sudah siap?." Tanya ayah,kami berjalan keluar rumah.


"Hm."


Ronggo membukakan pintu penumpang membiarkan kami masuk dan perlahan mobil meninggalkan rumah.


Acara dilaksanakan pukul 19.00 jarak rumah dan tempat tujuan sekitar dua puluh tiga menit. Didalam mobil aku langsung membuka Ipad mengerjakan proyek di amerika. Sedangkan ayah membuka laptopnya, jari besar itu sibuk diatas keyboard.


"Kemarin malam kamu tidak masuk kursus?." Tanya ayah memecah keheningan didalam mobil dengan pandangan lurus ke layar.


"Hm." Jawabku yang juga sibuk dengan benda ditanganku.


"Karena kemarin malam dan hari ini kamu melewatkan jadwal ayah akan menambahkan jam disetiap jadwal minggu depan." Ronggo melirik kami dari kaca spion dalam.


"Hm." Tanganku bergerak cepat dilayar benda canggih itu.


"Besok jam delapan pagi kita berangkat sampai disana kita langsung meeting, mengecek dan menandatangani beberapa kontrak baru." Jelas ayah.


"Hm."


"Malam hari ayah akan bertemu dengan mitra kerja lama kita, kamu mau ikut?." Tanya ayah.


Hubungan ayah dan anak yang unik, bisakah mereka berbicara dengan santai?tanpa disibukan dengan pekerjaan, apakah tidak ada pilihan lain untuk mengobrol selain tentang pekerjaan dan kursus privat, selama hampir sembilan tahun aku bekerja, aku tidak pernah mendengar mereka membicarakan hal yang lain. Buah memang tidak jauh dari pohonnya, batin Ronggo.


"Apakah aku perlu datang?."


"Hm, kamu bisa belajar menghadapi mitra kerja kita yang setia dan loyal."


"Baiklah, aku ikut."


"Setelah selesai ayah langsung pergi ke negara tetangga selama empat hari, ayah serahkan pekerjaan di korea kepadamu."


"Hm."


"Ayah dengar kamu mengerjakan proyek di amerika, sudah sejauh mana?."


"Ini berjalan sangat lambat karena harus detail dan tidak boleh ada kesalahan, saingan kita juga tidak bisa diremehkan." Jelasku, ayah mengangguk tanpa bersuara.


"Jangan terlalu memaksakan, setelah selesai kirimkan ke ayah agar ayah cek, memutuskan memakai ide mu atau tidak." Kalimat terakhir ayah sebuah tantangan bagiku.


Selama perjalanan kami membicarakan pekerjaan-pekerjaan dengan masih berkutat dengan kesibukan masing-masing. Sampai akhirnya mobil kami berhenti didepan restoran berbintang.


Lengan kiri ayah ditekuk menunggu tanganku melingkarinya. Dengan tangan kami yang bergandengan melangkah seiring memasuki tempat acara. Semua mata tertuju kepada kami dan menunduk hormat.


Ruangan yang luas bernuansa eropa dengan meja bundar dan kursi yang mengelilinginya itu tampak penuh terisi. Seorang pria paruh baya dengan jas hitam rapih menghampiri kami.


"Selamat malam pak presdir selamat malam nona muda." Sapanya yang kutahu adalah direktur diperusahaan. Aku hanya mengangguk singkat.


"Sepertinya semua orang sudah hadir, apakah saya terlambat?." Bola mata ayah menyapu seisi ruangan.


"Anda tidak terlambat,kami yang terlalu bersemangat datang lebih awal." Ayah mengangguk paham.


"Mari pak, meja bapak ada disebelah sini." Dia pun menuntun kami ke meja yang sudah disiapkan.


Ternyata dimeja kami tidak seramai meja yang lainnya, hanya ada aku, ayah, direktur dan istri direktur. Ayah memberi tanda untuk memulai acaranya, seorang pelayan restoran memberikan mic kepada ayah. Ayah berdiri dengan wibawa kepemimpinannya yang terpancar yang membuat hati kecilku berkhianat mengagumi bahwa pria itu adalah ayahku.


"Selamat malam, terima kasih untuk para karyawan beserta keluarganya yang telah hadir dan meluangkan waktu untuk datang keacara kecil ini. Saya mengadakan acara ini adalah bentuk terima kasih saya kepada karyawan yang sudah bekerja keras, jujur, dan mendedikasikan dirinya kepada perusahaan. Kejadian tadi pagi adalah cara saya menghadapi karyawan yang keluar dari prosedur dan jalurnya, saya harap itu semua bisa menjadi pelajaran dan contoh yang tidak harus ditiru." Suara ayah yang berkharisma memenuhi seisi ruangan.


"Saya jarang berada dikantor bukan berarti saya tidak tahu apa-apa, untuk karyawan yang ingin mencontoh mereka saya sarankan untuk berpikir dua kali. Dan yang hadir disini malam ini, saya ucapkan selamat, kalian luar biasa. Dan yang terakhir, silahkan nikmati hidangan yang ada." Ayah tersenyum mengakhiri pidatonya. Jiwa kepemimpinan, kharisma yang kuat, tegas dan lembut melebur menjadi satu. Aku tidak heran jika dulu ibu jatuh hati dengan ayah.


Kami disibukkan dengan hidangan-hidangan yang datang susul menyusul. Suara orkestra yang dimainkan oleh grup ternama melengkapi suasana acara malam ini.


"Wah saya kira nona muda pilih-pilih makanan tapi ternyata tidak." Suara lembut yang keluar dari istri direktur.


"Terkadang makannya memang banyak tapi anehnya Eva tidak pernah gendut." Jawab ayah seraya melirikku,aku hanya tersenyum terpaksa.


"Anak muda memang seharusnya makan yang banyak untuk membantu pertumbuhan, bukan begitu nona muda?." Kini direktur bergabung kedalam obrolan,aku tidak menanggapinya tanganku sibuk dengan hidangan-hidangan dimeja.


"Pak Joni hanya datang berdua?." Tanya ayah


"Iya pak, anak saya dua-duanya masih sibuk kuliah dan belum bisa pulang ke indonesia." Jawab pak direktur, obrolan itu berlanjut hingga lima belas menit lamanya lalu ayah memutuskan untuk berkeliling menghampiri setiap meja untuk menyapa dan bertukar sedikit cerita dengan karyawan lainnya tentu saja mengajakku untuk menemaninya.


Tinggal beberapa meja lagi yang belum kami datangi, dengan biodata yang ayah kirimkan tadi siang sangat memudahkan tugasku. Ayah dan aku sedang duduk dimeja yang bisa dibilang sedikit ramai.


"Kak El jangan ambil punya Eri!." Teriak anak kecil itu, yang dipanggil El menyeringai seraya mengangkat gelas es krim coklat tinggi-tinggi.


"Gigi kamu nanti sakit dek, terus dicabut sama dokter loh pakai tang,mau?." Ucap anak laki-laki itu.


"Nggak mau. Tapi Eri juga mau es krimnya..." Tangannya terulur berusaha meraih es krim dari genggaman sang kakak.


"Dek kalau gigi nya rusak nanti sama dokter di bor loh hii serem, kamu beneran mau?." Tangan mungil itu tiba-tiba berhenti di udara dan


"Huuwaaa!! kak El jahat, gigi Eri ngga mau di bor..." Anak kecil itu menangis meraung-raung.


TUK!.


Sebuah pukulan jari mendarat di dahi anak laki-laki yang dipanggil El itu.


"Aaaww!!." Tangan besar itu terulur meraih gelas yang diperebutkan oleh adik-adiknya sejak tadi dan memberikannya kepada gadis kecil nan imut itu.


"Cup cup cup, dek coba lihat es krimnya ada buah cherry nya looh." Tangan kanannya menepuk pelan kepala gadis kecil itu sedangkan tangan kirinya meraih buah cherry dari dalam gelas es krim miliknya dan meletakkannya kedalam gelas sang adik. Tangis Eri tiba-tiba berhenti lalu ia melirik gelas dihadapannya, senyum kecil yang membuat pipi chubby nya menggembung menambah keimutan gadis kecil itu, matanya berbinar senang.


"Ayo dimakan." Kata laki-laki yang duduk disebelahku. Sejak kapan? kenapa aku baru menyadarinya, batinku. Sejak tadi aku hanya mengikuti ayah dan fokus kepada orang-orang yang berada di biodata tidak mau repot-repot memperhatikan sekitar. Raut wajah Eri berubah cepat genangan air mata terlihat jelas dimata bulatnya.


"Nanti gigi Eri di cabut pakai tang terus di bor,Eri takut." Cicitnya. El yang duduk disebelah kanan Eri mengangguk-anggukkan kepala.


"Betul dek sini buat kakak aja." Tangan El hendak meraih gelas itu tapi sebuah pukulan jari mendarat mulus di dahinya, lagi.


Tuk!


"Aaww!kak, sakit." Protes El mengelus-elus dahinya.


"Berhenti, jangan menjahili Eri lagi, malu ada pak presdir." Ucap laki-laki tertua memberi peringatan kepada adiknya.


"Eri kan anak baik, jadi dokter nggak akan mencabut gigi Eri pakai tang apalagi pakai bor." Tangan besar itu mengelus pelan surai adiknya.


"Dokter nggak akan cabut gigi Eri?." Tanya nya polos. Laki-laki itu menggeleng meyakinkan adik kecilnya.


"Buruan dimakan nanti meleleh loh." Eri mengangguk senang mulai mengambil suapan besar masuk kedalam mulut mungilnya.


"Maaf atas keributannya." Kata laki-laki disebelahku seraya menatap ayah dan menundukkan kepalanya hormat. Mataku membulat terkejut, dunia begitu luas kenapa terasa sempit. Laki-laki itu kini menatapku tersenyum lebar, senyum yang membuatku cukup kesal tadi siang.


"Tidak apa-apa, keluarga kalian sangat harmonis." Ucap ayah mengalihkan perhatiannya kepada laki-laki yang menjabat sebagai kepala rumah tangga itu terlihat masih cukup muda.


"Terima kasih atas pujiannya, ya.. meskipun setiap hari ada-ada saja hal yang terjadi." Mereka tertawa bersama.


"Pak ini istri saya Adel." Laki-laki yang berada disalah satu biodata bernama Roi Purnama itu memperkenalkan anggota keluarganya. Istri pak Roi tersenyum mengangguk sekilas.


"Terima kasih telah mengundang keluarga karyawan kecil seperti kami pak presdir." Ayah mengangguk sebagai jawaban.


"Panggil saja pak Daren seperti yang lainnya." Sepasang suami istri itu mengangguk paham.


"Dan disebelah istri saya putra kedua kami Ello yang masih duduk di kelas lima sd." Ello mengangguk hormat, dia masih cemberut karena ulah kakaknya tadi.


"Sebelah Ello ada putri kecil kami, Eri yang baru masuk sekolah dasar." Dengan wajah yang belepotan es krim Eri tersenyum memamerkan gigi-gigi kecilnya.


"Yang terakhir putra pertama kami, Dimas kelas tiga sma tunas jaya." Dimas tersenyum seraya mengangguk.


"Suatu kehormatan bisa bertemu dengan pengusaha hebat seperti anda pak Daren." Kata Dimas. Ayah menatapku dengan mata biru tuanya.


"Kalian satu sekolah?." Dengan pandangan tetap kedepan aku menjawabnya seperti biasa.


"Hm."


"Mungkin semua orang sudah tahu, tapi saya perkenalkan lagi, putri saya Eva." Aku membungkuk sopan. Dengan segera mereka juga ikut membungkuk sebagai balasan.


"Apa kalian sudah saling kenal?." Tanya ayah lagi.


"Tidak." Jawabku.


"Sudah." Jawab Dimas.


Kami menjawab bersamaan membuat Adel tersedak minumannya. Roi segera memberikan tisu kepada istrinya.


"Apa ada sesuatu yang telah terjadi dengan kalian?." Tanya ayah curiga.


"Tidak." Jawabku.


"Ada." Jawab Dimas.


Lagi-lagi kami menjawab bersamaan. Bisakah orang ini diam, batinku kesal.


"Kalian mencurigakan." Ello menatap kami curiga. Aku melihat Dimas membuka mulutnya hendak menjawab Ello dengan segera aku melempar pertanyaan kepada Roi untuk membuatnya diam.


"Silahkan."


"Apa menurut bapak perusahaan yang pincang ini bisa sembuh dan berjalan seperti dulu lagi?."


Aku ingin tahu jawabannya menghadapi masalah perusahaan yang sedang tidak baik-baik saja, dengan perusahaan yang banyak kehilangan dana maupun karyawan-karyawan penting.


"Tentu saja bisa nona, perusahaan harus menggunakan tongkat untuk tetap berjalan sambil menyembuhkan diri. Menggunakan perusahaan yang bekerja sama dengan kita untuk menambah kuantitas jual dengan menawarkan kualitas yang lebih baik, memenangkan banyak tender,dan mencari tenaga kerja baru yang sudah berpengalaman untuk memudahkan pekerjaan dan mempercepat kesembuhan perusahaan." Jelas Rio tegas.


"Menambah kuantitas jual dan memenangkan banyak tender bukankah harus memiliki modal besar agar bisa berjalan dengan baik?dengan perusahaan yang banyak kehilangan dana, bagaimana anda menutup kekurangan ini?." Aku menatapnya menunggu jawaban.


"Betul sekali. Dana perusahaan yang tersisa masih bisa menutup modal produksi tambahan kuantitas jual kita, sedangkan untuk tender yang dimenangkan kita bisa menjual nama produk kita untuk pengusaha muda yang baru ingin membangun usahanya dibawah nama besar produk kita dari situ kita akan mendapatkan modal." Semua orang sibuk mendengarkan kecuali Ello dan Eri yang masih berkutat dengan dessert mereka.


"Bagaimana dengan berhutang? untuk memudahkan semuanya." Roi matapku dengan raut wajah yang susah diartikan.


Apakah benar dia anak dari pengusaha besar dan tersohor di negeri ini? biasanya anak-anak dari pengusaha-pengusaha besar tidak tahu tentang pekerjaan orang tua mereka sampai nanti pada waktunya. Aku seperti sedang diuji sekarang. Ini kah putri pak presedir yang tidak bisa dianggap enteng, Eva Augustin Ahyner, batin Rio.


"Itu memang cara yang mudah nona, tapi saya pribadi lebih memilih menghindarinya, menjual nama produk juga bisa membantu pengusaha baru. Namun jika itu satu-satunya cara untuk mengembalikan perusahaan seperti dulu lagi kenapa tidak." Kualihkan pandanganku dari Rio.


"Bagaimana, sudah puas?." Tanya Ayah lirih.


"Hm."


"Kakak, apakah pakai lensa mata?." Pertanyaan tiba-tiba dari Ello membuat kami semua menatapnya.


"Bapak presdir juga pakai lensa mata? waahh keren, Ello juga mau pakai lensa mata bu yang warna merah biar seperti vampir-vampir di tv." Adel gugup mendengar celotehan putranya takut bos suaminya itu tersinggung.


"Tidak nak, itu bukan lensa mata tapi mata asli." Jelas Adel lirih.


"Maafkan putra saya pak." Rio tersenyum kikuk.


"Tidak apa-apa, kamu punya anak yang tanggap pak Rio."


"Terima kasih atas pujiannya."


Disaat orang-orang sibuk menanggapi celotehan Ello diam-diam Dimas sedikit mendekatkan wajahnya ke arahku.


"Apa kamu sedang menguji kemampuan papahku?." Aku terang-terangan mengacuhkan laki-laki itu.


"Ayah, aku ingin ini cepat selesai." Kataku lirih menatapnya. Ayah mengangguk mengerti.


"Silahkan nikmati acara malam ini saya ingin mengunjungi meja selanjutnya.


"Baik, terima kasih banyak sudah mau mengunjungi meja kami pak Daren non Eva." Ucap Rio berdiri membungkuk saat kami meninggalkan meja mereka.


Meja terakhir yang paling membosankan. Tiga perempuan dan dua laki-laki sedang sibuk membicarakan sesuatu. Mataku menangkap hal ganjil disana membuatku segera mengambil tindakan.


Awalnya sama seperti meja-meja yang lain menyisakan dua kursi bersebelahan untuk aku dan ayah tapi saat aku dan ayah sudah dekat dengan meja itu mereka semua berdiri membungkuk hormat salah satu diantara mereka menjatuhkan ponselnya memungut benda pipih itu seraya menggeser tempat duduknya. Bodoh, batinku.


Ayah yang berjalan disebelah kananku berhenti sebentar menjawab salam mereka dan menyuruh untuk segera duduk. Dengan langkah anggun bak bangsawan aku melangkah melewati ayah membuat semua mata di meja itu terpesona, tanganku terulur menarik kursi kosong disebelah kanan sedikit menjauhkannya dari kursi disebelah kiri. Aku menyunggingkan senyum manis yang kubuat sempurna.


"Ayah silahkan." Sesaat Ayah menatapku bingung dan kaget, langkah tegas ayah menghampiriku. Setelah ayah memposisikan dirinya didepan kursi lalu kudorong kursi itu sedikit kedepan sampai akhirnya ayah duduk dengan sempurna.


Masih berdiri dibelakang kursi ayah aku memajukkan badan sedikit, menatap kedepan tepatnya kepada laki-laki dan perempuan yang duduk berdampingan didepan ayah seraya melemparkan senyum.


"Ayah, kita tidak boleh kalah romantis dengan pasangan pengantin baru didepan kita." Suara merduku menggoda pasangan yang baru menikah itu seraya mengedip sekilas kepada ayah. Hal itu membuat duo sejoli yang masih dimabuk cinta itu merona hebat karena malu. Gelak tawa terdengar mengisi meja itu.


"Ga muka lo kayak tomat mateng tuh." Galuh menutup sebelah wajahnya dengan tangan.


"Berisik lo Rez." Reza kembali tertawa puas, dia tidak menghiraukan ayah yang duduk disebelah kirinya.


"Ndin, diatas kepala lo muncul asepnya." Ledek perempuan yang duduk disebelah kanan Galuh kepada Andin yang duduk disebelah kiri suaminya. Tawa mereka kembali pecah.


"Ih lo Sel,diem ah." Andin menutup wajahnya dengan kedua tangan.


"Hahahaha..." Suara tawa dimeja kami mengundang banyak mata melihat kearah kami.


"Ayah,bukankah seharusnya kita memberi selamat kepada mereka?." Suaraku menghentikan tawa mereka.


"Kamu benar, selamat untuk pernikahan kalian, semoga kalian disegerakan mendapat momongan dan semakin tambah giat bekerja." Ucap ayah, tetap saja pekerjaan tidak pernah ketinggalan dalam kamus besar ayah.


"Terima kasih pak presdir, suatu kehormatan untuk kami bahwa pak presdir mengetahui pernikahan kami bahkan sampai menerima ucapan dari anda." Galuh membungkuk sedikit diikuti oleh Andin.


"Kewajiban saya untuk memperhatikan karyawan-karyawan saya." Ucap ayah. Aku mengangkat tangan kepada salah satu pelayan mengisyaratkan untuk memberikan sesuatu kepada pasangan baru itu.


"Sedikit hadiah dari saya, saya harap kakak-kakak mau menerimanya." Pelayan memberikan kotak persegi panjang dengan ukuran kecil itu kepada Andin.


"Silahkan dibuka." Kataku melihat sorot mata Andin yang penasaran. Andin melirikku sebentar lalu tangannya yang gemetar terulur untuk membuka kotak.


"Ndin buruan, gue penasaran." Seli menatap tajam kearah kotak kecil itu.


"Sabar Sel, gue nggak tau kenapa ini jantung lebih deg-degan dari pada waktu akad gue." Reza menepuk dahi nya keras mendengar jawaban dari temannya itu.


"Eh Ga jangan bilang lo juga." Galuh melirik Reza dan menganggukkan kepalanya. Plak!Reza menepuk dahinya untuk yang kedua kali.


Perlahan kotak itu menampakkan isinya. Andin menutup mulutnya dengan tangan, Galuh melihat wajah istrinya yang kaget melirik kedalam kotak. Galuh tidak percaya dengan apa yang dia lihat, membuat teman-temannya bertambah penasaran.


"Ih lo berdua bikin gue mati penasaran, apa isinya?." Seli gemas dengan tingkah dua temannya itu.


Perlahan Galuh mengeluarkan isi dari dalam kotak. Dua buah tiket bolak-balik ke korea lengkap dengan bukti pemesanan hotel dan cek uang yang cukup untuk mereka gunakan selama tiga hari di korea nanti.


"I-ini ter terlalu berlebihan pak."Ucap Galuh terbata-bata. Bola mata Seli hampir melompat keluar melihat kertas ditangan Galuh. Reza membulatkan mulutnya.


"Itu putri saya yang memilih, terima saja." Semua mata menatap kearahku. Andin menitihkan air mata seraya mengucap terima kasih.


"Saya dengar kalian berdua sudah bekerja sangat keras, berusaha mati-matian menghendel kekacauan yang diperbuat oleh oknum yang tidak bertanggung jawab, jadi itu reward sekaligus hadiah pernikahan untuk kalian semoga kalian suka."


"Terima kasih banyak pak presdir, nona muda, kami tidak bisa berkata-kata lagi." Ucap Galuh.


"Jangan lupa hanya tiga hari." Kata ayah mengingatkan.


"Baik pak." Jawab Andin.


"Setelah itu kalian harus bekerja lebih giat lagi." Kata ayah tegas yang dijawab oleh kedua pasangan baru itu.


"Gue juga mau dapet hadiah ke korea biar bisa ketemu sama oppa-oppa." Sila memanyunkan bibirnya dengan mata masih menatap kertas yang sudah dimasukkan kembali kedalam kotak oleh Galuh.


"Lo nikah dulu sana." Reza menanggapi celoteh Sila.


"Gimana mau nikah orang jodoh gue masih dikorea sibuk konser." Plak! Reza menepuk keras dahinya untuk yang ketiga kali.


Mereka juga orang-orang yang masuk dalam biodata yang ayah kirimkan, satu pasangan muda yang baru menikah dua perempuan berkisar dua puluh lima tahunan dan satu pria berusia dua puluh enam tahun. Ayah tidak pernah mempermasalahkan cara bicara mereka karena mereka sangat profesional dalam pekerjaan dan sangat bekerja keras. Mereka adalah aset berharga untuk perusahaan. Itu lah informasi yang aku dapat tapi sepertinya ada satu yang harus didisiplinkan.


Aku berjalan melewati kursi berpenghuni itu dan duduk disebelah kirinya. Perempuan pendiam itu sibuk memperhatikan teman-temanya yang berceloteh terkadang ikut tertawa bersama,suara tawanya sangat kecil hampir tidak terdengar jika aku tidak duduk disebelahnya.


"Sorry karena sudah menjauhkan kursimu dari ayah." Kata ku super lirih yang hanya aku tujukan kepadanya. Dia melirikku terkejut.


"Tidak apa-apa." Jawabnya tidak kalah pelan. Sekarang kami sedang fokus memperhatkan ayah dan Reza yang asik bertukar argumen. Setiap beberapa menit sekali dia sibuk membenarkan duduknya.Bodoh, dia pikir aku tidak tahu akal bulusnya, batinku.


Seperti saat ini dia sedang menarik rok coklat mininya kebawah seraya mengangkat kursi itu bergeser dengan gerakan halus tapi sayang saat kursi terangkat sedikit kakiku mengait ujung kaki kursi bagian depan membuat gerakkannya terkunci. Sontak dengan cepat dia berpaling menatapku kaget. Oh kau juga bisa memasang ekspresi seperti itu, batinku.


"Kenapa Mel?." Tanya Seli yang melihat raut muka temannya yang tidak biasa.


"Tidak apa-apa." Jawab Mely yang diangguki oleh Seli.


Mereka berlima kembali dengan obrolan mereka. Dengan gerakan pelan aku menarik kakiku dari ujung kaki kursi depan.


"Bukankah ada kata-kata seperti ini, sebelum mendekati ayahnya dekati dulu anaknya." Suaraku hampir seperti bisikan tapi responnya membuatku yakin bahwa Mely memiliki pendengaran yang tajam.


"Apa kau tidak punya cara yang lebih bagus lagi untuk menggoda ayahku tanpa ketahuan?." Kini dia melirikku tajam.


"Apa maksud anda nona muda? saya tidak mengerti." Bibir mungil itu dengan mulusnya memberikan jawaban yang klasik untuk menghindar.


Dengan gerakkan anggun yang selama ini aku dapatkan dari pembelajaran khusus tata krama keluarga kakek tanganku meraih satu gelas air putih dan meminumnya.


"Apa perlu saya menjelaskannya kepadamu nona Mely?." Aku menekan kata terakhir dengan sengaja.


"Silahkan." Nada bicaranya sedikit bergetar tapi tidak dengan raut wajahnya yang menunjukkan ketenangan. Aku mulai berbicara dengan tatapan terus kedepan memperhatikan mereka yang asik mengobrol.


"Beberapa menit yang lalu kau melihat aku dan ayah mendekat lalu dengan terburu-buru mengambil ponsel dari dalam tas dan menggenggamnya ditangan sebelah kiri saat semuanya membungkuk kau pura-pura menjatuhkan ponsel begitu saja dari tanganmu agak kesamping kiri tepat dibawah kursi yang kau duduki sekarang," aku menengguk air putih memberi jeda untuk Mely mencerna ceritaku yang tepat sasaran.


"Dengan perlahan kau menunduk dengan posisi tetap mengarah kedepan sedangkan ponselmu berada dibawah kursi disebelah kiri agak kebelakang bukankah posisi mengambil seperti itu menyusahkanmu nona Mely?." Tanyaku.


"Aakku tidak memikirkan itu." Jawab Mely mulai gelisah.


"Benarkah? bukankah kau memang sengaja melakukannya? dengan posisi itu kau bisa lebih lama mendapatkan ponselmu dan itu artinya?." Aku melirik sedikit kearahnya. Tangan Mely saling bertautan menandakan bahwa dirinya sedang gelisah.


"Benar sekali, jawabanmu memang tepat." Ucapku antusias seraya menatap matanya dalam membuat Mely terperanjat kaget.


"Kau akan lebih lama memamerkan belahan bajumu yang sangat rendah itu kepada ayah menunjukkan sesuatu yang lumayan terekspos itu." Aku mengkode dengan lirikkan mataku segera Mely menarik kerah samping bajunya keatas. Aku memberikan senyum manis meremehkan kepada Mely.


"Apa kau pikir ayahku akan tergoda nona Mely?." Mely hanya diam, dia meremas lebih kuat tangannya.


"Aku beritahukan kepadamu sebuah rahasia dengan gratis," suara dingin keluar dari mulutku secara alami.


"Ayah sudah biasa dengan pemandangan seperti itu karena banyak diluar sana rekan kerja ayah yang berlomba-lomba menarik perhatian ayah, ayah tidak tertarik dengan hal seperti itu. Apa kau percaya kepadaku nona Mely?." Tidak ada jawaban dari Mely.


"Apakah aku harus memberikanmu bukti agar kau percaya?." Tanpa menunggu jawaban dari perempuan itu tanganku sudah melakukan tugasnya dengan baik.


"Aargh!." Seru Mely.


"Ayah bisakah ayah membersihkan baju kak Mely untukku, tanganku sedang sibuk membersihkan bajuku." Ayah menatap kami, matanya melirik sekilas benar-benar sekilas kearah baju depan Mely yang basah dan mengangkat tangannya memanggil pelayan.


"Tolong berikan baju ganti untuknya." Kata ayah kepada pelayan itu.


"Mari ikut saya nona." Mely pergi mengikuti pelayan dengan wajah yang merah padam.


Ayah memperhatikanku yang sibuk mengelap bagian kanan dress.


"Apa kamu tidak apa-apa nona muda?." Tanya Sila.


"Apa yang terjadi?." Tanya Andin.


"Saya tidak apa-apa kak cuman basah sedikit, tadi pas aku mau meletakkan gelas ternyata tangan kiri kak Mely mau minum jadi tangan kita tabrakkan deh dan baju kita basah terkena air. Tadi kami sedang asik ngobrol jadi tidak sadar kalau duduknya terlalu dekat makanya bisa tabrakkan gitu." Jelasku.


Mely benar-benar gelisah mendengar bahwa aku akan memberikannya bukti, dengan tangan yang gemetaran hebat dia meraih gelas hendak minum untuk menurunkan rasa gelisahnya dan aku memanfaatkan kesempatan itu dengan baik.