Yuki

Yuki
Bab 8



Jun Ho menunjukkan smirknya menatap datar gadis kecil itu.


"Waw kau boleh juga gadis nakal." Jun Ho menarik pelatuk pistol, niat Jun Ho untuk menggertaknya namun gadis kecil itu tetap diam tidak bergerak.


"Apa yang kau inginkan?." Tanya Jun Ho.


"Jun Ho si, dokter psychology dan dokter bedah, menyembunyikan reputasi dokter bedahnya dengan menjadi dokter psychology karena trauma saat mengoperasi kekasihnya yang gagal." Ucap gadis itu.


Jun Ho menggertakkan gigi. Siapa sebenarnya gadis ini kenapa dia tahu rahasia yang tidak ada satu orang pun mengetahuinya kecuali Jun Ho sendiri.


"Gadis nakal, tidak sopan mencuri informasi pribadi orang tanpa permisi. Kau harus dihukum." Jun Ho menarik pemicu pistol tanpa ragu.


DORR!!


Suara tembakan keras itu teredam gemuruh guntur dan suara hujan yang turun deras. Bola mata Jun Ho membulat sempurna melihat pelurunya menembus dinding dibalik pintu dengan susah payah Jun Ho menggerakkan bola matanya melirik gadis kecil telah bergeser lima belas senti dari tempatnya dan sekarang gadis itu berdiri menyender dipinggir pintu menatapnya datar. Jun Ho merasa dirinya sedang terancam.


"Jika aku jadi kau aku akan mengurungkan niatku untuk menembak lagi setelah melihat tembakanku yang meleset." Lagi, suara datar itu mengusik telinga Jun Ho.


Jun Ho yang terdesak dengan cepat menarik pelatuk pistol mengarahkannya lagi kepada gadis itu.


Cetak!!.


Sebelum Jun Ho sempat menarik pemicu pistol pergelangan tangannya terhantam benda keras membuat genggamannya pada pistol terlepas, pistol terjatuh kelantai.


"Sudah aku katakan bukan." Suara datarnya kini berubah jadi dingin.


Jun Ho ingin meraih pistol yang terjatuh baru saja Jun Ho berdiri benda sama yang menghantam pergelangan tangannya kini menghantam keras dahinya membuat Jun Ho terdorong kebelakang dan berakhir duduk dikursinya lagi.


"Jangan bergerak, aku tidak ingin melukaimu." Gadis itu berjalan pelan menghampiri Jun Ho. Rasa takut merayapi Jun Ho, sebagai psycholog seharusnya Jun Ho mengutamakan ketenangan agar bisa berpikir jernih tapi rasa takut yang dominan membuatnya tidak bisa berpikir jernih.


Gadis itu semakin dekat, Jun Ho berusaha untuk pergi tapi benda keras meghantam dahinya lagi membuat Jun Ho tersungkur kebelakang.


"Sudah kubilang aku tidak ingin menyakitimu." Darah merembes dari dahi Jun Ho.


"Yak neo!!(Kamu!!) tidak ingin menyakitiku kau bilang?! sejak tadi kau menyakitiku!." Seru Jun Ho, keberaniannya kembali muncul. Gadis itu menaikkan satu alisnya.


"Bisakah kita tidak mengulur waktu?." Gadis itu melompat naik ke meja berjongkok didepan Jun Ho.


Jun Ho kini bisa dengan jelas melihat wajah gadis kecil itu, dia tertegun memandangi setiap inci wajah yang menurutnya mustahil ada didunia. Mata biru muda terang bagaikan langit dimusim panas dengan bulu mata lebat dan panjang, garis alis panjang dan tegas, hidung ramping mancung seperti hidung milik elf, bibir menawan yang terlihat seksi dengan rona pink, menghilangkan kesadaran Jun Ho bahwa paru-parunya butuh oksigen.


"Karena dua kemampuanmu itu aku berusaha mati-matian untuk bisa datang kesini." Suara dingin itu menyadarkan Jun Ho untuk kembali bernafas.


"Apa yang kau inginkan?." Jun Ho kembali bertanya.


"Sembuhkan aku." Jun Ho terperanjat kaget menatap mata biru itu tidak percaya.


"Kau bisa kerumah sakit bukan?." Gadis kecil itu menggeleng membalas tatapan Jun Ho dalam.


"Tidak ada yang boleh tahu."


"Kau bisa meminta dokter untuk merahasiakannya karena itu hak pasien." Jun Ho tidak habis pikir dengan gadis kecil dihadapannya ini.


"Hanya kau yang bisa." Jun Ho bingung dengan jawaban yang dia dengar.


"Na?!.(Aku?!.)"


"Selain dua kemampuanmu kau juga bisa melakukan therapy hypnotic(terapi hipnotis) dan yang paling penting kau bisa menjaga rahasia dengan sangat baik." Entah apa yang merasuki Jun Ho tiba-tiba dia mencubit pipi gadis kecil dihadapannya.


"Kau benar-benar gadis nakal, sebanyak apa informasi pribadiku yang telak kau curi hah?." Yang dicubit tidak merespon hanya menatap Jun Ho dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Kuanggap kau bersedia menyembuhkanku dan menyimpan semua rahasia yang akan kamu ketahui." Jun Ho tidak melepas tangannya dari pipi gadis itu.


"Kita berdamai?." Gadis itu mengangguk pelan.


"Bagus gadis nakal."


"Mau sampai kapan tanganmu mencubit pipiku?." Jun Ho segera melepas tangannya.


"Mian(Maaf), pipimu lembut hehe." Gadis itu mengelus pipinya seraya turun dari atas meja.


"Jadi, apa penyakitmu?." Tanya Jun Ho beranjak dari kursinya berjalan mengambil kotak p3k yang selalu tersedia di ruang kerjanya.


"Tidak ada." Sontak Jun Ho menjatuhkan alcohol yang sedang ia gunakan untuk membersihkan luka didahinya.


"Kau gila gadis nakal, terus apa yang harus aku sembuhkan?." Gadis kecil itu memungut pistol dilantai dan mengembalikannya kedalam laci meja.


"Secara medis aku sehat." Jun Ho memungut alcohol yang terjatuh lalu kembali merawat lukanya.


"Berarti ada masalah dengan kepribadianmu?."


"Mungkin, tapi bukan itu." Jawaban gadis itu membuat isi kepala Jun Ho berputar-putar.


"Yak sebenarnya apa yang ingin kau sembuhkan?." Geram Jun Ho.


"Aku juga tidak tahu. Makannya aku datang kesini." Jun Ho melihat sorot mata kebingungan, sedih dan frustasi dari mata biru itu.


"Kemarilah duduk disini." Jun Ho duduk disofa yang berada di sisi ruangan. Gadis itu menggeleng pelan.


"Waktuku tidak banyak, aku tidak bisa membuat kekacauan lebih dari ini." Lirih gadis itu.


"Sebenarnya apa yang sedang terjadi denganmu?." Gadis kecil ini sangat misterius, batin Jun Ho.


"Maukah kau mendengarkanku dan menuruti permintaanku Jun Ho si?." Dimata Jun Ho gadis itu seperti menahan sesuatu yang berat, sendirian. Dia bergerak-gerak gelisah, memalingkan wajahnya dari Jun Ho sesuatu yang tidak dia lakukan sebelumnya.


Apakah dia tidak pernah meminta sesuatu sebelumnya? sikapnya sangat canggung, batin Jun Ho.


"Uhm, katakan." Sontak mata biru itu menatap bola mata Jun Ho dan segera mengalihkan pandangannya ke arah lain. Hati kecil Jun Ho ingin menolong gadis kecil itu entah benar atau tidak yang dia rasakan, hanya melihat kondisi gadis itu sekarang membuat dada Jun Ho sangat sesak.


Dia tidak baik-baik saja, dia harus segera ditolong, batin Jun Ho.


"Jadi lah guru psikologi dan guru bedah rahasiaku," Permintaan diluar kepala itu membuat Jun Ho ingin menanyakannya tapi ia urungkan dan memilih untuk mendengarkan lebih dulu.


"Dan tolong bantu aku menemukan penyakit yang sedang aku rasakan. Bersandiwaralah seakan-akan kau hanya menjadi guru psikologiku saja. Jun Ho si tolong jaga rahasiaku seperti kau menjaga rahasia kekasihmu." Setelah mengatakan itu gadis kecil bermata biru membungkuk sembilan puluh derajat. Jun Ho tertegun dengan sikap gadis nakal yang menerobos apartemennya beberapa menit lalu.


"Arrasseo aku akan melakukannya, angkat wajahmu." Jun Ho beranjak dari sofa berjalan menghampiri gadis kecil yang perlahan menegakkan badannya.


"Sebelum itu kita fokus dengan penyakitmu lebih dulu, oh.. aku hampir lupa siapa namamu?." Tanya Jun Ho berdiri di hadapan gadis kecil yang tingginya tidak lebih dari sikunya.


"Augustin."


"Baik Augustin sekarang kau resmi jadi pasien pribadiku, kau blasteran korea?." Gadis yang menyebut dirinya Augustin itu menggeleng.


"Aku tidak punya waktu, besok aku akan menemuimu lagi dirumah sakit. Berpura-puralah tidak mengenalku." Augustin membungkuk sembilan puluh derajat lalu melangkah menuju pintu tapi tiba-tiba dia berteriak histeris.


"Aaaarrrggghhh!!!."


Augustin terjatuh membungkuk, tangannya mencengkeram punggung tapi itu tidak berlangsung lama karena dia kembali berteriak dan bergulung-guling dilantai.


"Aaaarrrggghhh!!!"


"Yak! kau kenapa? mana yang sakit?." Jun Ho bersimpuh disebelah Augustin.


"Aaaarrrggghh!! hen..ti..kan! ku moho..aarrgghh!!!." Augustin gadis kecil itu menangis hebat, wajahnya pucat teriakan dan jerit tangisnya sangat menyayat hati Jun Ho, tangan Jun Ho terulur.


"Katakan padaku dimana yang sakit?!." Jun Ho agak berteriak karena suara jerit pilu Augustin sangat keras seperti menantang suara hujan diluar sana.


"Pu..ng.. hikhik aarrggh!! hen..ti..kan.." Augustin kembali meracau meringkuk memeluk kedua lututnya.


"Apanya yang harus berhenti?. Yak jawab aku Augustin!." Jun Ho menggoyang-goyangkan pundak Augustin dari belakang.


"Hikhik sak..kiit..hikhik, ampuni aku.. hikhik. Berhenti..ku mohon." Suara Augustin yang mulai pelan itu membuat tenggorokkan Jun Ho tercekat.


"Dimana?." Hanya satu kalimat itu yang berhasil keluar dari tenggorokkan Jun Ho.


"Pung.. Aaarrgghh!!..hik..hik..Aaarrgghh...!!." Lolongan jerit Augustin kembali memenuhi apartemen itu, dia tengkurap membenamkan wajahknya ke lantai dan tangannya mengepal kuat. Jun Ho kembali panik.


"Punggung? rasa sakitnya ada dipunggung?." Setelah mendapat anggukkan dari Augustin Jun Ho langsung menaikkan kaos yang dikenakkan Augustin keatas. Mata Jun Ho bergetar hebat.


"Jauhkan pecut itu dari punggungku!!." Teriak Augustin.


"Aaagghh...! ku mohon henti..aargghh!!."


"Hikhik aarggh perih, siapapun ku mohon jauhkan pisau itu dari punggungku sakit.. nggak kuat..hikhik..sak..kit.."


Air mata Jun Ho jatuh diatas punggung Augustin, telinganya seakan mau pecah mendengar setiap lolongan dari mulut gadis itu.


"Tolong.. berhentilah, maafkan aku..maafkan aku..siapapun tol..hikhik..ong berhenti, perih." Tubuh Augustin bergetar.


Jun Ho meraup tubuh kecil itu kedalam pelukkannya memeluknya seerat mungkin. Jun Ho tidak bisa berbuat apa-apa, saat dia menaikkan kaos gadis kecil itu dia membeku sesaat punggung itu mulus tidak ada luka apa pun tapi kenapa gadis kecil itu berteriak untuk berhenti? kenapa dia mengatakan pecut? pisau? tidak ada goresan dipunggungnya kenapa dia mengatakan perih dan kesakitan, semua pertanyaan-pertanyaan itu berputar-putar didalam kepalanya.


Karena ini dia mengatakan tidak tahu saatku tanya penyakitnya, apa ini trauma? bukan! jerit kesakitannya terasa nyata.. apakah ini halusinasinya? tapi beberapa detik lalu dia dengan sadar melangkah pergi, batin Jun Ho.


Tubuh kecil itu meringkuk didalam pelukkan Jun Ho.


"Hentik..kan..hikhik. Maafkan ak..u.." Dia seperti sedang mengalami korban kekerasan, batin Jun Ho lagi. Jun Ho mendekatkan bibirnya ke telinga Augustin membisikan dengan halus.


"Naega yeogi isseo gwaenchanha...(Tidak apa-apa aku ada disini...)." Dengan isakkan pilu dan tangan yang bergetar meraih kerah kemeja Jun Ho menggenggamnya erat.


"Naega michyeosseo? (Apa aku sudah gila?)." Mata biru itu bergetar tertutup cairan bening yang terus jatuh menatap bola mata Jun Ho, bibir yang tadinya menawan dan seksi kini berubah pucat, ada darah segar mengalir dari sana.


"Tidak, kamu tidak gila. Berhentilah menggigit bibirmu kamu melukainya." Jun Ho mengelap darah dibibir Augustin dengan ibu jarinya.


Beberapa menit yang terasa sangat lama, tubuh Augustin berhenti meronta jerit tangisnya mereda tersisa isakkan kecil dari bibirnya. Jun Ho mengendorkan pelukkannya menunduk sedikit agar bisa melihat wajah gadis dalam dekapannya.


"Sudah tidak apa-apa?." Tanya Jun Ho dengan lembut seraya menghapus sisa air mata di pipi Augustin.


Respon Augustin membuat Jun Ho terkejut.


"Lepaskan." Suara datarnya kembali meskipun masih terdengar sedikit isakkan disana.


"Tetaplah seperti ini sampai kamu tenang." Jun Ho kembali mengeratkan pelukkannya, niat Jun Ho untuk membuat gadis itu merasa tenang tapi diluar dugaan Augustin mencubit kuat perutnya.


"Argh! yak." Augustin segera berdiri dengan tertatih.


"Apa kau pria tidak laku sampai-sampai mencari kesempatan kepada gadis kecil sepertiku?." Mulut Jun Ho terbuka lebar mendengar ucapan Augustin.


"Yak gadis nakal. Kau itu pasienku."


"Apakah pasien juga harus dipeluk-peluk?."


"Yak, aku hanya memelukmu sekali kenapa kata-katamu mengatakan kalau aku melakukkannya berkali-kali hah?." Jun Ho berdiri dengan tangan yang memegangi perutnya.


"Dan berhentilah mengatakan'yak', itu terdengar tidak enak."


"Sekarang kau mengomentari cara bicaraku heh, gadis nakal." Augustin membuang wajahnya.


"Aku harus pergi sekarang, pasti mereka sudah berada didekat sini." Jun Ho menatap Augustin penasaran.


"Siapa?."


"Pengawalku." Lagi-lagi Jun Ho dibuat terkejut.


"Apa kau anak anggota kriminal?."


"Apa yang mempunyai pengawal hanya anggota kriminal?." Jun Ho menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Aku pergi." Lanjut Augustin.


"Tunggu sebentar." Jun Ho tidak bisa tidur kalau tidak menanyakan ini.


"Apa yang terjadi padamu tadi, trauma? halusinasi? atau itu luka dalam?." Augustin menatap pintu membelakangi Jun Ho.


"Aku tidak punya trauma dipunggung, aku seribu persen sadar, aku ingatkan lagi medis mengatakan tidak ada kelainan atau penyakit didalam tubuhku."


"Tapi tadi seperti nyata." Augustin mengangguk.


"Bahkan sangat nyata. Itu pr buatmu aku akan membayarmu berapapun nominalnya, aku pergi sekarang. Terima kasih." Augustin berjalan keluar dari apartemen itu meninggalkan Jun Ho dengan segudang pertanyaan yang memerlukan jawaban.


Hari berikutnya Augustin menepati kata-katanya, dia datang kerumah sakit bersama beberapa pria berbadan tinggi besar yang diyakini Jun Ho adalah pengawalnya, salah satu pengawal berbicara dengan Jun Ho maksud mereka dan langsung membayar Jun Ho dimuka setelah para pengawal meninggalkan Jun Ho dan Augustin berdua mereka mulai bicara dengan nyaman. Meskipun Augustin harus kembali ke indonesia pembelajarannya tidak berhenti mereka lakukan. Itu lah awal pertemuan mereka.


Diruangan psychology Jun Ho menatap pasien yang sudah lama tidak mengunjunginya itu.


"Percayalah padaku, kau harus mencobanya dulu." Bujuk Jun Ho.


"Apa kau ingin aku mati heh?." Jawaban sinis dari Eva membuat Jun Ho menarik nafas panjang.


"Tubuhmu memang berubah, tinggimu juga bertambah tapi keras kepalamu semakin parah."


"Jangan membuat lirik disini Jun Ho si."


"Menurutmu ada orang lain yang mungkin tahu soal masalah ini?." Eva mengangguk.


"Ayah, tapi tidak mungkin dia mau membicarakan hal lain selain pekerjaan, kau tahu itu bukan."


"Uhm, atau kau akan berakhir dengan hukuman darinya." Jun Ho mengetahui sebagian kecil kisah hidup Eva dari terapi hipnotis yang dia lakukan, sebagian kecil itu bagi Eva yang selalu tertutup dengan perasaannya adalah hal besar.


"Jun Ho si." Panggil Eva pelan.


"Hm?."


"Apa kau pernah merasakan sakit saat orang lain yang mendapatkan rasa sakit itu?."


"Pernah."


"Benarkah? apa yang seperti itu ada?."


"Saat aku melihatmu kesakitan, saat melihatmu memimpikan mimpi buruk itu, saat kamu menyimpan semuanya sendirian dan saat kau dipaksa bekerja." Eva memutar bola matanya malas.


"Aku pewaris tunggal ayah, aku harap kamu tidak melupakkannya."


"Tentu saja, banyak pewaris tunggal seumuranmu sedang menikmati masa remajanya sekarang."


"Perusahaan ayah tidak sedikit Jun Ho si." Eva mulai kesal sekarang.


"Tapi itu tidak berarti kamu harus jadi robot perusahaan Augustin."


"Berhenti disini, kau tidak tahu apa-apa tentang keluargaku."


"Kau benar aku tidak tahu apa-apa tentang keluargamu karena saat aku menghipnotismu kau melindungi semua informasi yang penting bagimu." Jun Ho menatap Eva dalam.


"Kau sudah aku anggap adik kecilku yang nakal Augustin, aku ingin kau tidak memendam dan menyelesaikan semuanya sendirian." Ucap Jun Ho dengan lembut. Hati Eva sedikit bergetar.


"Aku bukan Augustin kecil yang malam hari menerobos apartemenmu Jun Ho si dan menangis seperti orang gila, aku sudah berubah. Dan aku tidak sendirian bukan, ada kau yang membantuku mencari jawaban atas masalahku." Jun Ho sedikit terkejut dengan jawaban yang keluar dari mulut gadis nakalnya.


"Sejak kapan mulut pedasmu berubah jadi manis?."


"Entahlah aku sendiri terkejut."


Tiba-tiba Jun Ho menjentikkan jarinya.


"Yak gadis nakal, apakah ini berhubungan?." Eva menaikkan satu alisnya bingung.


"Apa maksudmu?." Jun Ho mengambil kertas dan bolpoin lalu menulis sesuatu disana.


"Lihat ini, pertanyaanmu yang tadi membuatku berpikir rasa sakit yang kau rasakan entah kenapa aku juga merasakannya meski jauh dari apa yang kau rasakan." Eva mendengus kesal.


"Itu hanya akal bulusmu saja." Jun Ho mencubit pipi Eva sebentar karena gemas membuat sang punya pipi melempar tatapan mautnya.


"Ini karena aku menganggapmu sebagai adikku sendiri dan lihat ini." Jun Ho menunjuk kertas yang telah di gambarnya seperti lingkaran itu.


"Mimpimu." Eva menatap Jun Ho datar. Sudah gila ini orang karena sudah tua tapi belum laku-laku juga, batin Eva.


"Mimpimu yang muncul dalam tidur dan gambaran saat terapi hipnotis mereka sama. Dua anak kecil, laki-laki dan perempuan mereka bersama."


"Mimpi itu hanya sepenggal kecil tidak bisa dijadikan pacuan." Tolak Eva.


"Tapi dua pernyataan itu ada kesamaan." Jun Ho menatap Eva dalam.


"Kakak adik, hubungan saudara, karena adanya hubungan jika salah satu diantaranya terluka berarti melukai yang lain." Jelas Jun Ho yang tidak bisa diterima oleh Eva begitu saja.


Karena yang Eva alami adalah kebalikkannya, jika sebuah hubungan akan membuat keterikatan seperti itu bagaimana dengan ayahnya yang diam saja saat dirinya terluka, bagaimana dengan ibunya yang tanpa belas kasih melukai dirinya? tapi kenapa Jun Ho yang bukan siapa-siapanya ikut menangis saat dia terluka, ini akan jadi logis jika Eva bukanlah anak orang tuanya, pikir Eva.


Tunggu! apa yang aku pikirkan tadi, jika aku bukan anak ayah dan ibu, putra? mereka membahas putra dipertengkaran mereka saat itu, apa berarti.. mungkinkah?, batin Eva.


"Augustin." Jun Ho mengibas-ngibaskan tangannya didepan wajah Eva.


"Augustin!." Seru Jun Ho menyadarkan Eva.


"Kenapa tiba-tiba melamun? kau mengingat sesuatu?."


"Tidak, aku hanya sedang mencerna pernyataanmu tadi."


"Kau tidak sedang berbohong kan?." Eva menatap sinis Jun Ho.


"Kau memang sudah berubah, gadis nakalku yang jujur sudah hilang sekarang kau pandai berbohong sampai gurumu ini tidak tahu kau sedang berbohong atau sedang berbicara jujur sekarang." Eva lagi-lagi memutar bola matanya malas.


"Aku sudah terlalu lama disini, aku harus pergi. Sampai jumpa." Ucap Eva seraya berdiri.


"Dasar robot perusahaan, ambilah hari libur sekali-kali." Jun Ho juga berdiri dari kursinya.


"Belakangan banyak proyek yang harus dikerjakan."


Puk!


Jun Ho menimpuk kepala Eva dengan totebag super mini.


"Proyekmu selalu tidak pernah habis, ambilah ini." Eva menatap totebag itu sekilas dan menerimanya.


"Jaga kesehatan." Tangan Besar Jun Ho mendarat diatas kepala Eva menepuk-nepuknya kebiasaan mereka sejak resmi menjadi guru dan murid .Eva selalu membiarkan Jun Ho melakukannya karena sentuhan kecil itu yang membantunya melawan dirinya sendiri, merasakan ada kehadiran orang lain didekatnya.


"Terima kasih, sampai jumpa." Eva tersenyum tulus seraya menatap lekat manik hitam Jun Ho.Jun Ho terdiam sebentar.


"Apa ini? gadis nakalku sudah beranjak dewasa rupanya. Kakakmu ini hampir copot loh jantungnya dikasih senyum mautmu itu." Jun Ho mencubit kedua pipi Eva.


"Sakit, lepaskan Jun Ho si." Eva memukul keras tangan Jun Ho.


"Argh! dasar gadis nakal."


"Aku pergi, carilah kekasih agar kau tak kesepian. Annyeong." Eva membuka pintu ruangan.


"Akan aku pikirkan lagi, annyeong... hati-hati."