
Dimas dan Eva berjalan dibawah langit sore yang mulai gelap, mereka berjalan ke penitipan motor yang lumayan jauh dari taman kota. Dimas memberikan helm kepada Eva.
"Mau langsung pulang?." Tanya Dimas, Eva menaiki jok belakang motor setelah memakai helmnya.
"Bagaimana kalau berkeliling dulu?."
"Ok." Jawab Dimas.
Eva menaikan satu alisnya. Sudah satu menit mereka masih tidak bergerak dari tempat.
"Ada apa? ayo jalan." Ucap Eva menatap punggung Dimas heran.
"Nunggu kamu pegangan dulu." Eva melebarkan matanya tidak habis pikir.
"Sudah, ayo." Dimas menahan senyumnya mendengar nada kesal dari Eva, Eva mencengkeram jaket belakang Dimas dengan satu tangannya.
Dimas membawa sepeda motornya keliling jalanan jakarta tapi matanya tetap waspada dengan para penjaga Eva yang bisa saja tiba-tiba ada disekitar mereka. Kini langit berubah gelap Dimas berinisiatif mengakhiri tur keliling jalanan.
"Va." Panggil Dimas.
"Hm?."
"Pulang ya." Dimas melirik Eva dari kaca spion.
"Hm." Dimas yang mendengar gumaman dari gadis dibelakangnya itu langsung membawa sepeda motornya ke arah rumah keluarga Ahyner.
Sepeda motor itu berhenti didepan gerbang besar yang menjulang tinggi dengan dua penjaga berbadan besar berdiri sigap didepan gerbang tersebut, Eva menarik nafas panjang.
"Kenapa?." Tanya Dimas melepas helmnya, Eva menatap punggung Dimas.
"Apa yang sedang kamu pikirkan?." Dimas memiringkan tubuhnya agar bisa melihat gadis yang duduk dibelakangnya.
"Eva?." Panggil lembut Dimas karena tidak mendapatkan jawaban dari Eva, gadis itu melepas helmnya.
"Besok aku jemput ya?." Eva mengalihkan pandangannya menatap manik Dimas, Dimas tersenyum melihat ekspresi wajah Eva.
"Kak Dimas besok kuliah." Ujar Eva, Dimas diterima diperguruan tinggi negeri yang dia inginkan karena nilai-nilainya yang terbilang tinggi serta prestasi-prestasi yang dia dapat.
"Besok nggak ada kuliah." Jawab Dimas.
"Benar?." Dimas mengangguk.
"Nggak ngrepotin?." Dimas menggelengkan kepalanya.
Eva mengulurkan helm ditangannya kepada Dimas lalu ia turun dari motor besar itu.
"Besok jam setengah tujuh." Ucap Eva, Dimas mengangguk sekilas.
"Terima kasih sudah dianterin." Dimas tersenyum mengulurkan tangannya hendak mengelus surai Eva namun gerakkannya terhenti di udara ia menarik kembali tangannya.
Apa yang kamu lakukan Dimas, bisa-bisa Eva menghindarimu lagi, batin Dimas merutuki dirinya.
Eva menaikan satu alisnya melihat Dimas menunjuk dahinya sendiri.
"Kamu nggak mau melakukan hal yang sama seperti yang kamu lakukan kepada Rian dan Ista tadi kepadaku?." Tanya Dimas tersenyum lebar, Eva mengingat saat ia mengecup dahi Rian dan Ista.
"Kembalilah ke umur empat tahun." Jawab datar Eva.
"Bagaimana kalau kamu anggap aku berumur empat tahun."
"Gila." Ucap datar Eva. Tawa Dimas pecah.
"Hahaha, oh iya besok kita pergi tanpa acara kabur-kaburan." Dimas sejak tadi merasa risi ditatap tajam oleh dua penjaga gerbang rumah Eva.
"Kalau kak Dimas nggak keberatan kita diikuti dan diawasi bisa aku pertimbangkan." Dimas mengangguk.
"Itu lebih baik dari pada aku mendapat tatapan laser." Eva tahu apa yang dimaksud Dimas mereka tertawa sebentar lalu Eva pamit masuk kedalam rumah, Dimas menatap tubuh Eva yang menjauh lalu hilang dibalik gerbang.
Zzzz... zzzz... zzzz.
Dimas mengangkat panggilan dari nomor tidak dikenal.
"Halo?." Dimas fokus mendengarkan.
"Ok, dimana?."
Didalam rumah, baru saja Eva hendak menaiki tangga terdengar suara wanita yang tidak ingin ia dengar.
"Dimana Ega?. Kenapa jam segini dia belum pulang, kamu meninggalkannya?!." Seru Ayumi.
Ini pertama kalinya Ayumi bicara dengan Eva setelah kejadian dulu yang membuat Ayumi marah besar tapi kalimat yang keluar dari wanita itu tidak seperti yang Eva harapkan.
"Kamu mendengarku. Dimana Ega?. Sekarang sudah jam setengah tujuh malam dia belum pulang!." Ayumi geram tidak mendapatkan respon dari putrinya.
"Eva! ibu bicara sama kamu." Eva bergeming ditempatnya berdiri, matanya panas menahan emosi.
"Ini pertama kalinya ibu bicara sama Eva." Sekarang Ayumi yang bergeming ditempatnya dia baru sadar tentang hal itu.
"Tapi apa?!. Ibu malah marah-marah sama Eva!." Teriak Eva masih menatap tangga didepannya Eva tidak ingin melihat wajah Ayumi dibelakangnya.
"Jaga nada bicaramu!." Ayumi ikut berteriak membuat Eva kembali diam hatinya hancur, mbok Is yang melihat ikut merasakan pedih dihatinya.
"Baru Lima jam Ega belum pulang ibu sudah secemas ini. Tapi Eva tidak pulang berbulan-bulan ibu tetap tenang didalam rumah!." Eva meluapkan emosinya, dia sudah tidak peduli lagi.
"Kurang aj*r!! kamu berani..."
PRANGGG!!!.
Ayumi memecahkan vas bunga disebelahnya.
"Pergi!!." Teriak Ayumi.
Teriakan itu menyayat hati Eva dia berlari secepat yang dia bisa air mata bergulir turun ke pipi tangannya membanting pintu kamar keras lalu menghempaskan tubuhnya diatas kasur. Dirumah besar itu memang sudah tidak terdengar suara pertengkaran sepasang suami istri lagi tapi kini digantikan oleh pertengkaran seorang ibu dengan anaknya.
Pukul 20:15 Ega baru sampai rumah dia sudah tidak memakai seragamnya lagi, setelah Ega tahu Eva pergi dengan Dimas informasi yang dia dapat dari Fathur Ega meminta Ronggo untuk mengambil baju gantinya dirumah. Ega memutuskan untuk membuntuti Eva dengan ditemani Fathur meskipun sangat sulit membujuk temannya yang satu itu tapi pada akhirnya Fathur mau juga, Ega mencari Eva berjam-jam dan menemukannya saat perjalanan pulang.
Didapur Ega sedang meminum jus jeruk yang ada didalam kulkas dengan beberapa kali tegukan jus jeruk itu sudah tandas tak tersisa.
"Den baru pulang?." Mbok Is keluar dari pintu belakang dapur.
"Iya mbok, kehausan nih jadi jus jeruknya Ega habisin." Ega tersenyum lembut.
"Tidak apa-apa den nanti mbok Is buatkan lagi, nyonya sangat mencemaskan den Ega, kenapa den Ega tidak pulang dengan non Eva?, maaf den saya lancang." Mbok Is menunduk dalam menyesal atas kelacangannya bertanya. Ega meletakan botol ditangannya.
"Biar nanti aku yang ngomong sama ibu, tadi ada kepentingan mendadak jadi aku pulang belakangan." Ega menangkap sesuatu yang ganjil dari raut wajah mbok Is.
"Ada apa mbok?." Mbok Is menggeleng pelan. Sebenarnya Ega ingin menanyakan ini kepada Eva dan menghiburnya tapi ada suatu hal lain yang sangat membuatnya resah ini waktu yang tepat untuk mengorek informasi dari mbok Is pelayan terlama dirumah ini.
"Mbok Is mau bantuin Ega tidak?."
"Iya den, mbok Is harus bantu apa?." Ega menuntun mbok Is duduk dikursi meja dapur, Ega menarik kursi disebelah mbok Is lalu duduk tenang disana.
"Mbok Is sekarang bantu Ega menceritakan semua tentang rumah ini sebelum Ega datang, yang paling penting tentang Yuki." Mbok Is menelan salivanya dengan susah payah. Ega mengira usia mbok Is tiga tahun dibawah umur neneknya Lusi.
"Tolong mbok, Ega harus tahu Ega juga bagian dari keluarga ini." Mbok Is menghembuskan nafas berat.
"Sebenarnya apa yang terjadi diantara Yuki dan ibu?." Mbok Is mulai bercerita.
"Mbok Is bekerja dirumah ini sejak tuan dan nyonya Ayhner datang ke indonesia dan menetap disini. Non Eva kecil sangat senang dengan rumah barunya anak yang manis, ceria, tingkah-tingkah lucunya sering membuat orang disekitarnya tertawa tuan dan nyonya sangat memanjakan non Eva kejeniusan non Eva juga sudah terlihat sejak kecil membuat nyonya bersemangat mengajarkan hal-hal baru kepada non Eva tapi semua itu hanya bertahan sebentar. Suatu hari nyonya mendapat telepon dari ayahnya sejak saat itu sifat dan perilaku nyonya Ayumi berubah drastis nyonya sering menangis histeris, mengurung dirinya dikamar dan jarang bicara." Pasti ketika aku diculik, batin Ega.
"Tidak lama kemudian tuan besar meninggal, rumah ini diselimuti duka mendalam sifat nyonya semakin dingin dan keras. Tidak ada suara tawa bahkan musik sekalipun didalam rimah ini, mbok Is juga tidak tahu penyebab sebenarnya perubahan sifat nyonya tidak ada yang tahu kecuali Ronggo. Non Eva kecil yang tidak tahu apa-apa sering kena marah nyonya padahal non Eva hanya ingin belajar dan bermain dengan ibunya, non Eva anaknya tidak pernah putus asa non Eva masih terus berusaha mencari perhatian dari nyonya tapi hasilnya tetap sama suara tangis non Eva kecil menghiasi rumah ini setiap hari. Setiap hari juga mbok Is berusaha menenangkan non Eva kecil mengajarinya untuk bersabar dan memberi ucapan-ucapan manis agar non Eva merasa senang, non Eva berhenti menangis setelah pagi yang mengerikan itu. Non Eva kecil hendak beragkat ke sekolah non Eva berpamitan dengan tuan dan nyonya," mbok Is tercekat.
"Apa yang terjadi mbok?." Ega merasakan hal yang tidak baik.
"Kesalahan kecil yang dibuat non Eva..." Lirih mbok Is berusaha melanjutkan ceritanya.
*"Non Eva memegang tangan nyonya Ayumi lalu menciumnya. 'Beraninya kau menyentuh tanganku dan menciumnya!!' *setelah mengatakan itu nyonya langsung menampar non Eva tiga kali 'I.. b.. u..'." Mbok Is menirukan suara Eva kecil bibirnya bergetar air matanya mulai mengalir tidak sadar Ega ikut menangis menghayati cerita mbok Is.
*"Nyonya langsung berdiri dan menampar non Eva dua kali lagi 'Apa! ibu!. Siapa yang kau panggil ibu?!!'* lalu nyonya menampar pipi non Eva lagi dan lagi sampai darah segar keluar dari dua sudut bibir non Eva, tuan Daren tidak bisa menghentikan istrinya kami semua juga hanya bisa menonton dan menangis nyonya Ayumi seperti dirasuki iblis menakutkan sekali, non Eva kecil menangis sejadi-jadinya non Eva sampai mengucapkan janji tidak akan mengulanginya lagi tapi percuma nyonya sudah menyeret non Eva ke gudang yang gelap dibelakang rumah agak kesamping non Eva berteriak sambil meronta-ronta 'Ibu Eva nggak mau pegang tangan ibu lagi... Eva nggak akan cium tangan ibu lagi... Eva janji bu... Lepasin Eva...' den mbok Is tidak kuat lagi." Mbok Is hampir menghabiskan tisu dimeja dapur tangannya juga gemetar hebat sebenarnya Ega juga tidak kuat lagi mendengarnya tapi dia harus.
"Mbok tolong Ega ya..." Ega menatap mbok Is dengan mata yang penuh dengan air mata.
"Kami semua mengikuti nyonya kegudang tuan Daren berusaha menenangkan istrinya tapi nyonya malah memarahi tuan juga 'Ayah tolong Eva.. Eva janji nggak akan pegang dan cium tangan ibu lagi!' nyonya menampar non Eva lagi membuat darah yang keluar semakin banyak 'Ayah tolong Eva...' nyonya langsung mengurung non Eva didalam gudang gelap itu sendirian 'Ayah!... Gelap! Eva nggak suka gelap. Ayah.., bukain pintunya, Eva takut yah...' non Eva menggedor-gedor pintu, tuan Daren hanya bisa menangis mendengar suara anaknya 'Ayah.., bilangin ibu Eva minta maaf, bukain pintunya yah, aaarrgghh!!! ada tikus yah Eva takut!. Ayaaahh... Eva janji, Eva janji...' kami hanya bisa menangis dan tidak bisa melakukan apa pun karena nyonya sudah mengancam kami lebih dulu 'Ayah... Eva takut... Gelap.., gelap... Ayah gelap...' satu hari satu malam non Eva dikurung, kami menemukan non Eva dalam keadaan pingsan bibirnya bengkak dengan darah kering dikedua sudut bibirnya wajahnya juga sudah sangat pucat semenjak saat itu non Eva berubah menjadi anak yang pendiam dan dingin nyonya Ayumi tidak pernah bicara bahkan melirik sekalipun kepada non Eva, tuan dan nyonya juga selalu bertengkar. Tuan mendidik non Eva sangat keras dan disiplin, tuan selalu memberikan berbagai macam privat dan kursus mengundang guru-guru dari dalam dan luar negeri tuan juga sangat protective meskipun tuan jarang sekali ada dirumah karena sibuk dengan bisnis-bisnisnya itu tidak menjadi sebuah masalah tuan menelpon non Eva setiap empat jam sekali, non Eva juga memiliki pelayan pribadi yang berganti-ganti setiap bulannya karena tidak ada yang kuat dengan pribadi dingin non Eva hanya Fitri yang bertahan lebih dari tiga bulan melayani non Eva itu juga karena dia musuh yang menyusup memiliki niat jahat." Mbok Is mencengkeram tisu ditangannya mengingat kembali penyusup itu.
"Kelas satu smp non Eva sudah ikut membantu bisnis tuan didalam maupun diluar negeri, non Eva layaknya boneka yang digerakkan tidak memiliki jiwa dan perasaan tapi ketika den Ega datang pelan-pelan non Eva menemukan jiwanya lagi, matanya yang dulu gelap sekarang mulai bersinar, non Eva sangat menyayangi den Ega, kebahagiaan non Eva adalah den Ega itu yang mbok Is lihat."
Ega juga sangat sayang kepada Eva sangat sayang, Eva adalah mentarinya, dari segala kesempurnaannya ternyata Eva memendam dan menjalani hidup yang juga sangat menyakitkan, batin Ega ingatan Ega kembali ketika dia masih ada di dalam penjara dingin, pengap dan gelap itu.
"Sampai tadi, nyonya pertama kalinya berbicara lagi kepada non Eva." Lamunan Ega pecah mendengar suara mbok Is.
"Benarkah mbok?." Ada nada senang dari suara Ega.
"Tapi nyonya memarahi non Eva karena tidak pulang bersama den Ega." Lirih mbok Is.
"Yuki?!" Tanya Ega khawatir. Jangan-jangan sakit tadi.., batin Ega.
"Mereka bertengkar sebentar lalu nyonya memecahkan vas bunga dan menyuruh non Eva untuk pergi." Ega menghapus air matanya. Ini semua gara-gara dirinya Ega menyesal tidak memberitahu Ayumi kalau dia pulang telat.
"Terima kasih mbok sudah mau menceritakan semuanya kepada Ega." Mbok Is mengangguk lemah.
"Den tolong jaga non Eva ya, jangan buat dia menangis lagi dia sudah cukup menderita. Mbok Is sangat menyesal karena tidak bisa berbuat apa-apa dulu." Ega mengangguk pasti.
"Tentu mbok, sekarang Yuki dimana?." Mbok Is mengelap ingusnya.
"Diruang kerja tuan."
"Sekali lagi terima kasih mbok." Ega mengelus pelan punggung wanita tua itu.
Ega segera berjalan menuju ruang kerja ayahnya yang tidak jauh dari ruang tengah, dia sangat ingin memeluk saudari kembarnya sekarang meminta maaf telah membuatnya marah langkah Ega terhenti didepan pintu ruang kerja terdengar sebuah suara yang tidak bersahabat dari dalam.
"Meeting tadi sangat kacau karena tidak ada kamu disana." Ega mendengar suara tegas Daren dia memutuskan berdiri didepan pintu mendengarkan.
"Maaf ayah, tadi sore aku sudah ada janji." Terdengar suara Eva dari dalam.
"Kamu ingat proyek baru perusahaan di china yang ayah tugaskan padamu."
"Hm."
"Proyek sudah selesai dilakukan kamu cek kembali semuanya."
"Hm."
"Dan sekarang kamu teliti semua proposal ini kalau ada kesalahan segera benarkan, empat hari lagi ayah akan menggunakan proposal ini." Eva melirik sampul proposal.
"Meeting di hong kong?." Tanya Eva datar.
"Hm, persiapkan selengkap mungkin." Eva mengangguk.
Ega melangkah menjauh dari ruang kerja Daren.