Yuki

Yuki
Bab 39



Eva menerjang kerumunan dipinggir lapangan basket itu Tiara mengikutinya dari belakang. Eva melihat banyak orang menangis bibir mereka berk*mat-k*mit tidak jelas. Mata Eva menangkap sosok guru fisika kelas sepuluhnya dulu yang terkenal killer sekarang sedang menangis histeris Eva bertambah penasaran dia sekuat tenaga menerobos kerumunan terakhir.


Jantung Eva hampir lepas melihat pemandangan didepannya, seorang laki-laki tergeletak tidak berdaya darah mengalir dari hidung dan perutnya. Tangannya yang lemah berusaha menahan pendarahan diperut atletisnya. Tidak ada seorang pun yang berani mendekati laki-laki itu, kaki Eva tiba-tiba lemas bibirnya bergetar.


"Kak Dimas!." Seru Eva, Eva berlari menghampiri Dimas belum separuh jalan Eva sudah dihadang oleh pak Dani dan Ronggo.


"Minggir!." Teriak Eva marah karena tidak ada satu orang pun yang berusaha menolong Dimas.


"Jangan va berbahaya." Larang pak Dani.


"Jangan non ada bom disana." Kini Ronggo yang melarang Eva.


"Aku bilang minggir!." Eva menerobos pak Dani dan Ronggo tapi tangan Eva dengan cepat sudah dicekal oleh Ronggo.


"Berani-beraninya om! lepaskan. Disana ada orang sekarat tapi kalian cuma berdiri menonton saja!." Seru Eva membuat suara tangis dari pinggir lapangan semakin keras.


"Tangis kalian tidak ada gunanya." Setelah mengatakan itu Eva dengan cepat merobohkan Ronggo yang lengah dan berlari menghampiri Dimas.


"E... Vva..." Lirih Dimas memanggil namanya.


Hati Eva seperti tercabik-cabik melihat orang yang disayanginya tergeletak tidak berdaya, YA! kini Eva tahu bahwa ia menyayangi Dimas entah sejak kapan tapi Eva yakin dengan perasaannya sekarang.


Eva berlutut disamping Dimas ia memberikan senyum paling manis yang ia miliki tapi itu terasa menyakitkan.


"Per.., gi, ada bom ditubuhku." Eva menatap dada Dimas yang menonjol dibalik kemeja coklat yang dia pakai.


Bomnya ada disana, batin Eva berusaha sekuat mungkin untuk tenang menahan gejolak dihatinya. Tangan Eva mulai membuka kancing kemeja Dimas satu persatu, segerombolan pengawal berlari menghampiri Eva.


"Berhenti!. Satu langkah saja kalian mendekat aku pecat kalian semua termasuk om Ronggo." Seketika para pengawal bergeming ditempat mereka.


Kancing terakhir terlepas Eva segera melepas seragam putihnya membuat kaget orang-orang disana untunglah Eva selalu memakai kaos pendek dibalik seragamnya membuat orang-orang disana merasa lega.


"Kak tahan ya ini akan sakit." Eva memeriksa perut Dimas, ada luka tusukan yang cukup dalam diperut laki-laki itu. Darah segar keluar terus mengalir tidak ada henti-hentinya Eva mengikat seragam putih miliknya diperut Dimas untuk memperlambat darah yang keluar.


"Aaaarrgghh..!!." Dimas mengerang kesakitan suaranya membuat hati Eva pilu, setetes air mata jatuh ke pipinya. Tiba-tiba Ega sudah berdiri disamping Eva.


"Kamu juga mau menghalangiku ga?." Mata Eva melihat waktu dibom yang menunjukkan 03:11.


"Apa yang bisa aku bantu?." Tandas Ega.


"Kamu percaya aku bisa menjinakan bom ini?." Tanya Eva.


"Jangan Eva, sebentar lagi polisi dan ambulans akan segera datang!." Seru Dani.


"Aku percaya." Jawaban Ega membuat hati Eva merasa sedikit lebih baik.


"Aku butuh gunting." Ega segera berlari ke ruang kelas terdekat, biasanya setiap kelas memiliki satu gunting dikelas.


"Kamu ngapain?, bom ini akan meledak jika tersentuh." Lirih Dimas wajahnya mulai pucat.


"Jangan banyak bicara, simpan saja tenagamu sampai ambulans datang." Dimas menatap Eva penuh haru, gadis ini mau membahayakan nyawanya untuk menyelamatkan dirinya yang sudah jelas tidak dapat diselamatkan lagi, air mata keluar dari sudut mata Dimas. Ega berlari kembali ke lapangan menyerahkan gunting kepada Eva.


"Dua menit lima puluh detik tersisa, aku harus cepat." Gumam Eva.


Eva berpikir keras, banyak kabel dengan warna yang berbeda Eva harus memilih dua kabel untuk dipotongnya dan membuat bom berhenti. Semua orang menunggu harap-harap cemas.


Ronggo tidak bisa berdiri tenang hatinya sangat gelisah melihat kedua majikan mudanya diambang pintu maut kalau dia tetap membawa pergi paksa dua majikan mudanya pasti Eva akan dengan mudah melumpuhkan dirinya dan pengawal yang lain.


Bom menunjukkan angka 02:15 namun Eva masih bergeming tidak bergerak. Ega mulai gelisah tapi ia tetap percaya kepada adiknya jika Eva percaya bisa melakukannya Ega juga harus percaya.


"Eva, ssudahlah tiddak apa-appa mung.., kin ini ssudah tak., dir ku." Dimas memaksakan untuk tersenyum, Eva mengambil jarum dari leher belakang kaos hitamnya yang tersembunyi.


"Kamu tidak boleh menyerah, sekarang kak Dimas harus berjuang untuk bertahan." Suara Eva terdengar sangat lembut membuat Fathur dan semua orang dipinggir lapangan trenyuh mendengarnya.


Eva menusukkan jarum dititik tertentu pada bagian tubuh Dimas.


"Jarum lagi?, Yuki kamu mau membuatnya pingsan?." Tanya Ega melihat raut wajah Dimas yang mulai tenang.


"Tidak, itu hanya akan memperlambat denyut jantung agar kak Dimas dapat mengambil nafas dengan pelan." Ega mengangguk paham.


"Satu menit lagi, belum ketemu juga?." Tanya Ega. Orang-orang dipinggir lapangan dipaksa menjauh sejauh mungkin setelah mengetahui waktunya sudah hampir habis.


"Ini aneh." Eva menautkan alisnya.


"Aneh bagaimana?." Tanya Ega, Eva memiringkan kepalanya.


"Semua kabel ini tidak ada yang berfungsi untuk menghentikkan bomnya." Eva memicingkan matanya fokus.


"Bagaimana kamu tahu?." Ega akhirnya jongkok disebelah Eva.


"Aku pernah mempelajari dan membuat bom sendiri." Ega melotot kaget.


"Kamu gila." Eva tersenyum kecil. Waktu bom menunjukkan 00:30.


"Kurang aj*r!." Seru Eva membuat Ega dan Dimas terkejut.


"Kenapa?." Ega sudah pasrah sekarang dia tidak akan selamat dengan adiknya.


"Aku dikelabui, angkat tubuhnya ga. Posisi kan dia untuk duduk." Ega segera menurut ia mengangkat tubuh atas Dimas menahan punggung laki-laki itu dengan lengannya.


"Kamu menemukannya?." Ega bingung tidak paham dengan semua kabel warna-warni itu.


"Sial." Geram Eva, ia melihat kabel putih yang sangat tipis terselip masuk kedalam celana jeans Dimas Eva segera memotong celana jeans sebelah kanan.


"Yuki! sepuluh detik lagi." Seru Ega yang melihat waktu dibom.


Eva menemukan ujung kabel yang berhenti pada alat kecil dibalik celana jeans yang ia potong, Eva sangat yakin pasti ini kabel yang ia cari-cari tanpa menunggu lama Eva memotongnya. Waktu berhenti di detik 00:05 Eva bernafas lega dia berhasil. Eva menoleh menatap Ega dan Dimas bergantian. Kedua laki-laki itu dan semua orang disana menutup mata mereka.


"Ega?." Ega membuka mata perlahan.


"Bomnya mati. Yuki kamu berhasil!." Jeritan Ega menyadarkan semua orang, mereka tersenyum lega mengucapkan syukur, tiba-tiba darah keluar lagi dari hidung Dimas.


"Ega dimana ambulansnya?!." Eva kembali gelisah.


"Ambulans sampai lima belas menit lagi!." Seru Ronggo tersenyum bahagia karena semua nyawa yang berada disana sudah terselamatkan, didalam hati Ronggo selalu mengakui kejeniusan otak Eva. Ronggo berlari menghampiri kedua majikan mudanya begitu juga dengan Dani dan Fathur yang lain ikut mendekat tapi mereka memilih untuk menjaga jarak.


"Lima belas menit terlalu lama." Eva mencabut bom dari tubuh Dimas lalu menyerahkannya kepada Ronggo, Eva melihat kain seragam putihnya sudah berubah warna.


"Sial. Pendarahannya terlalu cepat, om Ronggo suruh ambulansnya lebih cepat lagi!." Eva memeriksa denyut nadi Dimas. Kumohon jangan tinggalkan aku, tetaplah berdetak kumohon, lirih Eva dalam hati.


Darah keluar lagi dari hidung Dimas.


"Ega baringkan dia." Ega dengan hati-hati membaringkan tubuh Dimas, dengan tangan kosong Eva membersihkan darah di hidung Dimas.


"Siapa yang melakukan ini kepadamu?." Air mata mulai menggenangi mata Eva.


"Aku tidak tahu, mereka sangat banyak." Mata Dimas terpejam lalu terbuka begitu terus membuat hati Eva hancur, Eva berusaha untuk tetap kuat dengan lembut ia membersihkan hidung Dimas matanya kini sudah dipenuhi air mata susul menyusul jatuh dari tempat asalnya.


"Kamu harus bertahan hm, please demi aku." Dimas tersenyum kecil.


"Aku menyayangimu." Lirih Dimas. Darah kental Dimas mengotori lapangan basket itu.


"Akhirnya aku bisa melihatmu menangis." Dimas menatap Eva lembut.


"Sudah sejak lama aku ingin melihat wajahmu yang seperti ini, meluapkan perasaanmu menangis tanpa tertahan. Aku merasa lega sekarang." Air mata Eva semakin deras, Eva tidak tahu selama ini Dimas benar-benar memikirkannya kelemahannya bukan hanya fisik yang ia miliki.


Betapa bodohnya aku membuatmu menunggu terlalu lama, batin Eva.


"Jangan katakan apa pun, kamu harus menghemat tenaga sampai ambulans datang." Ucap Eva.


"Aku menyukai rambutmu yang terurai seperti ini." Kata-kata yang selama ini ingin Dimas ucapkan namun tertahan di tenggorokkannya hari ini akhirnya dia bisa mengatakannya.


Semenjak Ega kembali Eva sudah tidak pernah menyanggul rambutnya lagi.


"Om Ronggo! dimana ambulansnya?!." Seru Eva tidak sabar.


"Sudahlah va biarkan saja, aku juga sudah tidak kuat lagi." Eva menggeleng kuat jemari tangannya meraih jari-jari Dimas menautkan tangan mereka.


"Tidak boleh. Kamu harus kuat, aku tidak mau kehilanganmu." Dimas tersentuh mendengar kalimat yang terlontar dari bibir Eva.


"Kamu tidak akan pernah kehilangan aku, sampai kapan pun aku akan selalu bersama mu." Dimas menatap mata biru muda yang selama ini menghipnotisnya. Setiap kenangan dengan Eva kini berputar didalam kepala Dimas.


Eva mengangkat kepala Dimas meletakkannya dengan hati-hati dipangkuannya.


"Aku sangat ingin mengatakan ini kepadamu." Ucap Dimas lemah, Eva menarik tangan Dimas mendekat ke dadanya menekan tangan besar yang digenggamnya meremas kuat, rasa takut kehilangan menjalar dihatinya.


"Kamu adalah mahluk super dingin sekaligus bidadari terindah didalam hidupku." Isak tangis Eva lolos dari bibirnya.


"Di hiks.., diamlah."


"Semua ini sudah takdir Eva." Lirih Dimas.


"Jangan kumohon.., jangan." Dimas berusaha menghapus air mata Eva.


Ega tidak kuat melihat Eva menangis hatinya nyeri sangat sakit, semakin Eva larut dalam tangisnya jantung Ega semakin terasa sakit begitu juga dengan paru-parunya Ega kesulitan mengisi oksigen ke paru-parunya.


"Terima kasih... Hiks!." Lirih Eva.


"Untuk kesabaranmu saat menghadapiku, terima kasih untuk setiap perhatianmu, terima kasih..." Eva semakin menggenggam erat tangan Dimas.


Dimas menangis tidak kuasa menahan rasa campur aduk dihatinya. Sungguh Dimas tidak ingin berakhir seperti ini tapi dia juga tidak mau membuat gadis pujaannya semakin sedih.


"Va..." Panggil Dimas lemah.


"Hm?.., hiks." Eva menatap penuh sayang ke manik Dimas.


"Aku.., cin." Kalimat Dimas terhenti oleh jari telunjuk Eva yang menempel dibibirnya, Eva menggeleng pelan.


"Ssssttt..." Eva memberikan senyum manis nan tulusnya mendekatkan bibirnya ke telinga Dimas.


"Aku menyayangimu, aku menyukaimu, dan hati Eva Augustin Ayhner hanya milik Dimas Purnama." Suara Eva sangat lembut ditelinga Dimas.


Hati Dimas bergetar senang, bahagia juga sedih, ini yang ia tunggu-tunggu selama ini sekarang dia mendapatkannya tapi kenapa terasa sangat mustahil.


Eva menarik kepalanya menatap manik sendu dibawahnya, tangan Eva melepas tautan mereka beralih menangkup pipi Dimas air mata Eva semakin deras ia mengecup kening Dimas memejamkan kedua matanya ibu jarinya mengelus lembut pipi itu.


Dimas juga memejamkan matanya meloloskan air mata disudut mata kirinya. Hangat, inikah yang dirasakan Rian, Ista, dan Ega sungguh aku tidak ingin berakhir seperti ini tapi apa yang bisa aku lakukan mungkin ini sudah takdirku. Aku tidak bisa bersamamu Eva, aku akan pergi membawa perasaan kita.., yah akhirnya aku dan kamu menjadi kita meski dialam yang berbeda.


Pemandangan itu membuat semua orang trenyuh juga sedih melihat sepasang remaja yang sedang jatuh cinta mengalami tragedi yang sangat tragis secepat itu.


Maafkan aku kak, jangan tinggalkan aku, batin Eva. Hati Dimas sangat bahagia mengetahui bahwa gadis yang selama ini dia cintai juga mencintainya itu sudah cukup untuk melepas semua rasa sakit ini.


Terima kasih va, jaga dirimu baik-baik, selamat tinggal. Love You Eva Augustin Ayhner, batin Dimas.


Kecupan hangat yang cukup lama itu mengantar kepergian Dimas. Eva melepas kecupannya menatap wajah Dimas yang tersenyum damai.


"Tidak mungkin." Lirih Eva bola matanya bergetar hebat.


"Buka matamu hm." Ibu jari Eva masih senantiasa mengelus lembut pipi Dimas. Bibir Eva bergetar.


"Kak..." Eva memeluk Dimas erat tangisnya tertahan tidak ada suara yang keluar dari bibir gadis itu hanya air mata yang terus mengalir tidak berhenti.


Ega sedang mencengkeram dada sebelah kiri menahan rasa sakit yang menggerogotinya nafas yang terpotong-potong kesulitan mengambil oksigen, sejak tadi bola mata Ega tidak berpaling dari saudari kembarnya.


Eva membutuhkanku, batin Ega berusaha melangkah menghampiri Eva. Sekuat tenaga Ega berjalan senormal mungkin menahan rasa sakitnya, Eva bersimpuh membungkuk memeluk jasad Dimas. Ega berlutut disamping Eva memeluknya lembut tapi juga tegas, tubuh Eva bergetar dipelukkan Ega.


Apa kamu selalu menangis seperti ini?, batin Ega menahan air matanya.


"Yuki, lepaskan dia." Ucap Ega lembut. Eva menggelengkan kepalanya kuat-kuat.


"Jangan seperti ini, kasihan Dimas." Tubuh Eva semakin bergetar mendengar nama Dimas disebut gadis itu mempererat pelukkannya.


"Yuki..."


Ega menoleh menatap Ronggo memberi isyarat dengan matanya untuk memisahkan Eva dengan jasad Dimas. Ronggo memahami pesan majikan mudanya dia bersama dua pengawal lainnya mendekati jasad Dimas. Satu pengawal menekuk lutut disisi tubuh Dimas yang lain tangannya terulur hendak mengambil jasad Dimas.


Grep.


Pengawal itu terkejut dengan gerakkan cepat Eva. Ibu jari dan jari telunjuk Eva mencapit jari telunjuk pengawal itu, perlahan Eva mengangkat kepalanya menatap tepat ke manik pengawal itu, seperti berada digunung es tubuh pengawal itu terkunci oleh tatapan dingin gadis remaja alias majikannya.


Ronggo sangat terkejut dengan respon Eva. Ini berbahaya, batin Ronggo. Ega yang memeluk Eva juga merasakan apa yang pengawal itu rasakan meskipun ia hanya menatap mata Eva dari samping tapi itu sudah cukup membuat bulu kuduknya merinding hebat.


"Semuanya berkumpul!." Seru Ronggo. Semua pengawal bergerak serempak membentuk lingkaran mengelilingi kedua majikannya dan pengawal itu membatasi pandangan dari orang luar.


"Bantu dia." Perintah Ronggo kepada pengawal 2.


"Baik." Pengawal 2 langsung bergerak masuk kedalam lingkaran baru saja satu kakinya menginjak kedalam lingkaran dua jari Eva menekuk jari telunjuk pengawal satu.


"Aaarrggh!." Jerit pengawal 1 menghentikan langkah pengawal 2.


Jantung Ega dan para pengawal berdegup kencang, Eva melirik ke atas menembus benteng pengawal tepat ke arah manik Ronggo. Tatapan dingin, tajam, aura penguasa yang sanggup menundukkan berbagai musuh itu menguar dari tubuh Eva meskipun demikian air mata itu terus menetes dari mata majikannya.


Hati Ronggo bergetar ketakutan sekaligus sedih dia tidak pernah melihat sosok itu selama bekerja bersama keluarga Ayhner. Majikan mudanya penuh misteri.


"Apa pun yang terjadi jangan keluarkan suara kalian." Titah Ronggo.


Pengawal 1 mengunci mulutnya rapat-rapat, perlahan pengawal 2 menggerakkan kakinya yang lain. Tangan Eva bergerak cepat menjepit telapak tangan pengawal 1 dengan empat jarinya. Pengawal 2 menelan salivanya kasar ia berusaha bergerak sangat pelan agar Eva tidak menyadarinya tapi dia salah karena majikannya itu memiliki mata setajam mata elang.


Eva mendorong kuat dengan perlahan telapak tangan pengawal 1 menimbulkan geraman dari pengawal itu, seketika pengawal 2 menghentikan gerakkannya.


Ega melihat pengawal 1 menggertakan giginya menahan rasa sakit. Manik Ega menangkap gerakkan kecil dari bibir Eva, mulut Eva terbuka suara asing merasuk kedalam gendang telinganya.


"Satu langkah satu jeritan." Suara itu mengalun menghipnotis telinga yang mendengarnya, Ega membeku. Kemana suara kembarannya yang merdu dan manja, suara siapa yang keluar dari bibir adiknya, batin Ega. Mata Eva tetap mengalirkan air mata membuat rasa sakit dijantung dan paru-paru Ega tidak hilang.


Pengawal 2 mencoba bergerak lagi begitu juga Eva kembali menekan telapak tangan pengawal 1.


"Mmmm!." Geraman kecil keluar dari pengawal 1 dengan tekad kuat Ega memaksa tubuhnya untuk bergerak.


Grep.


Tangan Ega menggengam pergelangan tangan Eva menahan gerakkan adiknya. Melihat itu pengawal 2 berusaha mendekat namun Eva mematahkan harapan pengawal 2 dengan satu dorongan kuat jerit tertahan pengawal 1 menggema dilingkaran itu Ega berusaha menarik tangan Eva.