Yuki

Yuki
Bab 41



Didepan gedung tinggi berlantai sembilan Daren keluar dari dalam mobil disusul oleh laki-laki tinggi putih dengan rambut sedikit panjang yang dikucir ke belakang laki-laki itu mengenakan kemeja berwarna putih yang ditutupi jas warna abu-abu dengan dasi berwarna senada. Badannya yang tegap, langkah kakinya yang mantap sangat sempurna dengan garis wajah yang tegas hidung yang mancung dan mata hitam legam dengan sorot mata lembut jangan lupakan bibir bawahnya yang sedikit lebih tebal menggoda para kaum hawa.


Ega berjalan di belakang Daren mereka disambut para karyawan yang berdiri berbanjar dikanan dan kiri membungkuk hormat. Ega sangat canggung sekaligus gugup Ega hampir menabrak kakinya sendiri karena rasa gugup yang menguasainya.


Daren langsung menuju ruang meeting setelah beberapa menit berbicara dengan direktur.


Ruangan luas dengan meja panjang diisi oleh orang-orang hebat duduk berjejer menunggu pemimpin mereka.


Daren melangkah menghampiri kursinya serempak semua orang berdiri membungkuk hormat. Ega kira dia sudah terbiasa dengan para pengawal dan pelayan yang selalu membungkuk hormat kepadanya namun ini sangat berbeda atmosfirnya sangat berat. Aura persaingan, kebohongan yang disembunyikan, ketakutan menguar dirasakan oleh Ega.


Daren mengangguk sekilas mempersilahkan mereka untuk duduk namun belum ada yang bergerak sebelum Daren duduk dikursinya. Ega baru menyadari tidak ada kursi untuknya ia tetap berdiri disamping kanan agak kebelakang Daren.


Meeting dibuka, semua orang fokus dengan setiap pembahasan. Ega ikut memahami, kesempatan ini adalah pembelajaran yang sangat bagus untuknya dan sampai tiba saatnya membicarakan penyebab harga saham turun.


"Direktur Kapila." Panggil Daren memotong kalimat Joseph yang sedang memberi argumen.


"Dimana manager marketing?." Semua mata tertuju kepada sang direktur.


"Dia sedang melakukan meeting bulanan dengan anggotanya." Jawab Direktur.


"Bukankah dia juga harus ada disini?." Banyak anggota meeting yang bingung dengan pertanyaan Daren.


"Maaf presdir bukankah ini meeting untuk membahas penurunan harga saham?." Tanya salah satu wanita.


"Karena itu saya memanggil manager marketing." Jawab Daren santai namun dengan sorot mata yang tegas.


Tok tok tok. Ceklek.


Pria paruh baya memasuki ruang meeting gerakkannya patah-patah lebih canggung dari Ega. Pria itu berdiri di baris sebelah kanan sedikit mendekat.


"Selamat pagi." Suaranya sedikit bergetar.


"Apa anda sudah menyelesaikan meeting?." Tanya Daren.


"Belum pak presdir." Jawabnya.


"Manager Ivan." Panggil Daren tenang mengintimidasi tapi tetap terlihat berkharisma.


"Yya."


"Apa ide anda dan anggota anda untuk memasarkan produk baru kita?." Anggota meeting terdiam menunggu jawaban.


Sebenarnya mereka tidak paham dengan apa yang sedang dilakukan oleh Daren mereka ingin meminta penjelasan kepada Daren namun tidak ada yang berani melakukannya karena mereka sangat tahu Daren tidak bisa dilawan pimpinan utama mereka sangat cerdas, dan tidak terbantahkan.


"Kami berniat melakukan perubahan mengikuti tren anak muda saat ini." Jelas Ivan.


"Apa anda yakin dengan ide anda?." Tanya Daren berpaling menatap Ivan yang ditatap mengangguk gugup.


"Ya saya yakin."


"Apakah ide anda sudah disetujui oleh pimpinan devisi marketing?." Ivan melirik Joseph sekilas.


"Sudah."


"Bagaimana pak Joseph?." Daren menatap Joseph tenang.


Joseph yang ditanya tapi Ega yang merasa gugup, Ega menelan salivanya kasar.


"Benar saya sudah menyetujuinya." Jawab Joseph. Daren menyenderkan tubuhnya ke punggung kursi.


"Apa kamu memahami sesuatu?." Tanya Daren yang ditujukan kepada Ega disampingnya.


"Iya." Jawab Ega.


"Keputusan apa yang harus aku ambil?." Ega mendekatkan badannya menunduk sedikit mensejajarkan kepala mereka.


"Kemampuan membaca tren pemasaran cukup baik, idenya sangat kurang untuk membuat terobosan besar, menurutku jika tetap menggunkan ide itu harga saham akan semakin turun. Kemampuan manager Ivan sepertinya sudah di ambang batasnya, aku tidak menyukai pimpinan devisi marketing ada sesuatu yang dia sembunyikan." Jelas Ega, Daren menganggukkan kepalanya kembali menatap Ivan sedangkan Ega melangkah mundur berdiri ditempatnya semula.


"Manager Ivan sudah tiga bulan anda tidak kompeten dalam pekerjaan." Daren sedikit menundukkan tubuhnya.


"Terima kasih untuk kerja kerasnya selama ini." Semua mata terbelalak kaget.


Kesalahan apa yang telah dilakukan manager itu? kenapa tiba-tiba dia dipecat? Daren Augustin Ayhner tidak akan ada yang bisa lolos dari mata tajamnya. Apakah aku juga telah melakukan kesalahan? bagaimana jika korban selanjutnya adalah aku, batin para anggota meeting.


"Manager Ivan silahkan kembali ke ruangan anda." Lanjut Daren.


"** tapi presdir, apa kesalahan saya?." Tersirat kebingungan diwajah Ivan.


Ega tidak menyangka Daren akan memecat Ivan detik itu juga, ia melangkah mendekat membisikan sesuatu ditelinga ayahnya.


"Ayah tidak seharusnya memecat manager Ivan." Daren mengangkat tangannya membuat Ega mundur.


"Saya menghargai kerja keras dan dedikasi anda kepada perusahaan selama ini karena itu saya membungkuk kepada anda manager Ivan." Daren tetap tenang namun tegas, Ivan langsung membungkuk sembilan puluh derajat.


"Maafkan saya presdir." Seru Ivan.


"Kembali keruangan anda, direktur akan menemuimu nanti." Ivan kembali membungkuk sebelum pergi.


"Silahkan lihat dilayar tablet masing-masing." Perintah Daren, semua anggota meeting beralih menatap layar tablet dimeja mereka.


Daren memberikan tabletnya kepada Ega, dengan cepat Ega membaca isi file yang muncul di layar tablet, dugaannya benar.


"Hasil meeting hari ini." Suara Daren menginterupsi mereka, dengan wajah yang masih terkejut mereka mencoba untuk fokus.


"Sesuai dengan bukti yang kalian baca." Daren menatap lurus kedepan.


"Hari ini kepala devisi marketing dipecat bersama seluruh anggotanya tanpa terkecuali karena telah menggelapkan dana perusahaan serta kinerja mereka yang turun." Joseph tertegun, ia rasa sudah melakukannya dengan rapih mustahil kalau dia ketahuan.


"Tiga bulan saya biarkan saja membuat anda begitu percaya diri pak Joseph, ini juga peringatan untuk kalian semua. Meeting selesai." Daren berdiri meninggalkan ruang meeting dengan anggota yang masih mencerna apa yang baru saja terjadi.


Ega berjalan dibelakang Daren, ayah dan anak itu menyusuri lorong perusahaan masuk kedalam lift, turun.


"Ayah, jika Joseph sudah terbukti bersalah kenapa anggota marketing juga dipecat." Ega membuka mulutnya.


"Seluruh anggota marketing ikut andil membantu Joseph menggelapkan dana kecuali Ivan. Tebakanmu benar Ivan sudah diambang batasnya karena itu dia tidak diperlukan lagi diperusahaan." Jelas Daren.


"Bukankah itu terlalu kejam." Ujar Ega merasa iba dengan Ivan.


"Adikmu lebih kejam kalau kamu tahu." Ega menatap Daren tidak percaya.


"Yuki?." Lirih Ega.


"Kamu akan mengetahuinya jika melihatnya langsung." Jawab Daren.


Aku harus lebih berusaha lagi, batin Ega.


Deg! Deg! Deg!.


Ega meremas dada sebelah kirinya, pintu lift terbuka Daren dengan wibawanya berjalan keluar karena merasa tidak ada yang mengikutinya Daren menoleh ke belakang.


"Apa yang kamu lakukan disitu?." Ega segera melepas tangannya berjalan cepat menyusul Daren.


"Baik."


Yuki sudah sadar kalau aku tidak disampingnya, semoga dia berpikir aku sedang di sekolah, batin Ega.


***


Dirumah bah istana itu Eva menggeliat didalam selimut kebesarannya ia mulai meneteskan air matanya lagi teringat mendiang senior yang selalu mengganggunya. Eva memiringkan badan mencari tubuh yang selalu memeluknya pelukkan yang bisa membuatnya tenang.


Kosong. Tempat disebelahnya kosong, kembarannya tidak ada disana, Eva mulai panik cairan bening itu semakin deras turun ke pipinya. Memori bersama mendiang Dimas ikut berputar-putar menghantuinya.


Singapura 20:30.


Ega masuk kedalam kamar hotel menghempaskan tubuhnya dikursi sofa.


"Halo." Sapa Ega.


"Lakukan pelan-pelan jangan sampai dia melihat wajahmu." Ega memberi instruksi.


"Ya, kamu boleh masuk sekarang." Tangan Ega memegang ponselnya ditelinga sedangkan tangan yang lain meremas dadanya. Terdengar suara benda menghantam tembok lalu suara pintu yang tertutup keras, Ega mulai khawatir.


"Dia mengusirmu?, bagaimana bisa?." Tanya Ega.


"Sepertinya dia sadar aku bukan kembarannya dia melempar kursi kecil kearahku aku mundur kebalik pintu untuk menghindarinya."


"Apa kamu baik-baik saja?." Tanya Ega.


"Kamu sendiri? sepertinya keadaanmu lebih buruk." Tanya balik Fathur.


Saat kejadian dilapangan depan sekolah Fathur menangkap sesuatu yang ganjil dari sahabatnya itu, sebelum Eva menangis Ega terlihat baik-baik saja namun ketika Eva mulai meneteskan air matanya ada sesuatu yang tidak beres terjadi kepada Ega.


Sahabatnya seperti menahan sesuatu semakin deras air mata Eva yang keluar semakin aneh tingkah Ega, sahabatnya itu jelas sekali menahan rasa sakit didadanya Ega juga terlihat kesusahan bernafas, Fathur kira sahabatnya mempunyai penyakit asma dan jantung tapi setelah ia menanyakan keanehan yang ia lihat kepada Ega laki-laki itu menjelaskan kepadanya tentang ikatan batin diantara dia dan saudari kembarnya.


Hal yang tidak logis menurut Fathur tapi benar adanya karena itu kemarin Ega memintanya untuk datang kerumah sahabatnya saat sore hari dan menginap disana. Fathur paham karena ia adalah satu-satunya orang yang mengetahui rahasia mereka berdua maka dari itu dengan senang hati Fathur menyetujuinya tapi permintaan gila yang sahabatnya minta setelah itu membuat Fathur sedikit ragu.


Fathur sudah tahu keadaan Eva setelah kejadian mengerikan itu karena Ega setiap hari bercerita kepadanya tapi tiba-tiba Ega mengirim pesan panjang tadi siang memintanya untuk menggantikan posisi sahabatnya malam nanti tidur disamping adiknya dan memeluknya itu hal yang paling gila.


Karena tidak ingin sahabatnya menderita menahan sakit dikarena air mata saudari kembarnya Fathur pun akhirnya setuju, namun perhitungan sahabatnya salah besar entah bagaimana caranya Eva menyadari bahwa dirinya bukanlah Ega bahkan tanpa melirik kearahnya.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang?." Tanya Fathur, terdengar suara nafas putus-putus dari seberang sana.


"Maukah kamu mencobanya lagi, kamu tidak perlu berpura-pura menjadi diriku tapi jika Yuki tetap menolakmu biarkan saja, kamu tidurlah dikamarku." Jelas Ega.


"Kamu tidak berniat menahannya sampai besok malam kan?." Ega tersenyum manis dikamar hotel itu.


"Ini tidak seberapa." Jawaban Ega tidak bisa diterima oleh Fathur, Fathur melihat dengan mata kepalanya sendiri betapa tersiksanya Ega saat Eva menangis seperti itu dirinya saja tidak kuasa melihatnya.


"Aku akan memberi tahu Eva tentang keadaanmu." Ucap Fathur.


"Jangan lakukan." Sergah Ega.


"Aku tidak ingin dia mengkhawatirkanku." Imbuh Ega.


"Kenapa kalian selalu seperti ini?." Ega mengerutkan alisnya diseberang sana.


"Apa maksudmu?." Fathur menyenderkan punggungnya ke pintu kamar Eva.


"Menyiksa diri sendiri dengan alasan tidak ingin membuat khawatir satu sama lain." Apa Eva pernah melakukan hal yang sama?, batin Ega.


"Bertahanlah, aku akan berusaha semampuku." Ucap Fathur.


"Thanks thur." Ega mematikan ponselnya, ia merebahkan tubuhnya diatas sofa meringkuk.


Dilain sisi Fathur mempersiapkan hatinya sebelum masuk kembali ke kamar Eva ia harus siap dengan apa pun yang akan terjadi didalam nanti. Perlahan tangannya memutar kenop pintu.


Ceklek.


Tidak seperti tadi, Fathur tidak langsung menghampiri Eva ia memilih berdiri didepan pintu menyenderkan punggungnya disana.


"Apa kamu berniat keluar dari cangkangmu sepuluh hari kedepan?, seperti kepompong yang membutuhkan waktu sepuluh sampai lima belas hari untuk berubah menjadi kupu-kupu?." Tidak ada respon. Eva dengan gulungan selimutnya duduk dilantai menyandar kesisi ranjang, Fathur melirik kekiri menatap punggung Eva yang terbalut selimut putih.


"Kita tidak biasa bertukar cerita, dan aku hanya bisa melakukan satu hal untukmu." Masih tidak ada respon.


"Kamu mau mendengarkan suara gitarku?." Fathur melihat satu tangan Eva keluar dari selimut memegang sebuah bantal.


"Aku tidak akan melakukannya, jangan melemparku lagi." Sergah Fathur cepat, Eva menarik tangannya lagi kedalam selimut.


Fathur mencoba mendekat duduk disebelah Eva dengan jarak yang lumayan jauh. Fathur meluruskan kaki kirinya dan menekuk kaki kanannya bersandar ke pinggir ranjang.


"Kamu berubah bodoh sekarang." Ucap Fathur.


"Kenyataan adalah kenyataan tidak ada satu orang pun yang dapat merubahnya." Fathur menatap langit-langit kamar.


"Bahkan jika kamu seperti ini terus tidak akan merubah apa pun." Fathur melirik Eva disebelah kiri meletakkan lengannya diatas lutut.


"Kalian sama saja." Pintu menuju balkon yang sedikit terbuka mempersilahkan angin malam menyusup kedalam kamar membelai lembut surai Fathur.


"Selalu mengorbankan diri demi satu sama lain, selalu menyembunyikan sesuatu agar salah satu dari kalian tidak merasa cemas atau khawatir." Fathur teringat saat Eva kabur dari rumah mencari keberadaan Ega meskipun bahaya ada didepannya Eva tidak memperdulikan semua itu, dan sahabatnya Ega menerima dengan pasrah setiap harinya merasakan sakit yang luar biasa.


"Apa kamu melupakan seseorang yang susah payah kamu perjuangkan untuk merebutnya kembali?." Tangan kanan Eva keluar dari selimut hampir mengenai wajah Fathur jika laki-laki itu terlambat satu detik saja menahan tangan Eva.


"Kamu tidak sendirian, keluarganya lebih merasakan kehilangan." Hening.


Entah keberanian dari mana Fathur menarik kuat tangan Eva yang terkepal dalam genggamannya mengikis jarak diantara mereka berdua. Selimut bagian atas terbuka menampakkan wajah kusut, kantung mata hitam, dan bola mata besar dengan warna merah. Hati Fathur bergetar melihat betapa buruknya keadaan Eva.


"Keluarganya sangat terpukul, anak sulung mereka." Fathur menghentikan kata-katanya melihat air mata semakin turun deras ke pipi kurus itu. Fathur meletakkan tangan Eva perlahan.


"Kamu bisa meminta bantuanku seperti sebelumnya aku takkan mengatakan apa pun tapi," Fathur menarik ujung selimut yang terjatuh menghapus air mata Eva dengan selimut itu.


"Aku tidak bisa berbuat apa pun dengan hatimu." Fathur menyenderkan punggungnya lagi ke tepi ranjang menatap lurus tv dihadapannya.


"Kamu tenang saja aku tidak akan menyentuhmu atau pun berada dekat-dekat denganmu jika kamu tidak mengizinkannya."


Eva mengambil selimutnya yang terbuka menutup kembali seluruh tubuhnya. Badan Eva bergetar meredam isak tangisnya.


"Kamu sudah seperti mumi." Lirih Fathur.


Malam itu Fathur menemani Eva menangis sampai pagi hari tanpa tertidur. Udara dingin yang masuk kedalam kamar lewat pintu balkon ditambah duduk dilantai yang dingin membuat Fathur sedikit pilek. Bagaimana dengan Eva? jangan ditanya gadis itu masih senantiasa mengeluarkan air mata.


Pelayan tiga jam yang lalu sudah mengantarkan sarapan untuk mereka namun kedua remaja itu masih tetap diposisi masing-masing. Kini matahari beranjak semakin naik dua jam lagi matahari berada diatas kepala. Fathur bergerak menatap pintu diujung sebelah kanan.


"Aku ke kamar mandi sebentar." Fathur berdiri melangkah masuk kedalam kamar mandi mewah elegan itu ia mencuci wajahnya beberapa kali menatap pantulan dirinya dicermin.


Ceklek.


Fathur membuka pintu kamar mandi melihat Eva kini duduk menekuk lututnya diatas ranjang masih dengan selimut full menutupi dirinya, Fathur menarik nafas panjang ia melangkah mendekat.


Brak!!!.