
Obrolan Fathur dan Eva berhenti tapi tidak dengan sambungan telephonnya. Entah apa yang sedang kedua remaja itu sibuk pikirkan. Mereka terdiam ditempat masing-masing tenggelam kedalam lautan pikiran mereka.
Eva turun dari ranjang berjalan menuju jendela kamar Fathur membukanya perlahan. Angin dini hari menyeruak masuk kedalam kamar menerpa wajah gadis itu.
Aku harus segera memberitahu Ega tentang rencanaku untuk mencari Fitri tapi apakah dia akan setuju?. Memburu atau diburu, batin Eva menghirup udara pagi lalu ia tersenyum. Sungguh aku mengira akan terus menjalani hidup yang membosankan namun fakta keberadaanmu membuat semuanya berubah.
Hari-hari membosankan kini sudah tidak ada lagi, aku tidak akan membiarkan satu orang pun menyakitimu atau mengambilmu dariku, Ega, batin Eva tegas.
"Bulan purnama." Gumam Eva.
"Hm." Sahut Fathur.
"Mau melawanku?." Tanya Eva tiba-tiba.
"Hah?."
"Dengan tangan kosong." Eva teringat kembali cara Fathur melawan pria-pria itu ia merasa harus mengetahuinya lebih lanjut.
"Tidak." Tolak Fathur.
***
"Sarapannya!." Seru tante Dila dari arah dapur.
"Maaf bu, ini sudah siang." Jawab Eva dari ruang tengah seraya memasang sepatunya cepat-cepat.
"Kamu juga thur?." Tanya pak Dani yang baru keluar dari kamar mandi.
"Aku lupa memasang alarm." Jawab Fathur jarinya bergerak cepat memasang kancing seragam sekolah.
Eva terbelalak kaget melihat kedua tali sepatunya belum terpasang. Apa yang dilakukan Ega kemarin!, satu kakiku sudah masuk lagi, geram Eva dalam hati sambil berusaha memasang tali sepatu sebelah kirinya yang belum terpakai.
Tangan Eva bergerak kesana-kemari memasukan tali sepatu lalu melepasnya lagi dan mengulangi gerakan yang berbeda.
Kenapa lebih gampang merancang kabel dari pada benda ini, batin Eva meletakan sepatunya ke lantai dengan kasar.
Sebuah tangan mengambil sepatu hitam dari lantai memasang tali sepatu dengan cepat lalu memberikannya kepada gadis itu, tangan Eva meraihnya dan segera memakai sepatu lalu mengikatnya. Kaki kanan Eva reflek mundur kebelakang ketika merasakan ada tangan yang bergerak di sepatunya. Fathur menarik kaki kanan Eva mendekat melanjutkan kegiatannya memasang tali sepatu gadis itu. Mereka berdua terus diam.
"Aaa." Tante Dila menyodorkan sesuap nasi kepada Eva, Eva yang masih belum fokus menuruti ucapan tante Dila, sontak Eva tersadar pipinya langsung berubah merah menatap wanita yang dipanggilnya ibu. Eva menahan senyum, hatinya terasa hangat.
"Dasar bayi hulk." Lirih Fathur seraya berdiri.
"Hm?." Eva melemparkan tatapan tajam kepada Fathur.
"Kamu juga harus sarapan." Tante Dila hendak menyuapi Fathur namun laki-laki itu menatap sendok ditangan tante Dila dengan tatapan laser.
Fathur membuang wajahnya cepat.
"Aku sarapan disekolah, cepat kita harus berangkat." Fathur berlalu keluar lebih dulu.
"Kalian juga kenapa bangun kesiangan." Keluh tante Dila, Eva berdiri menyusul Fathur.
"Berangkat dulu bu." Eva mencium pipi Dila sekilas.
"Tunggu, satu suap lagi." Tante Dila menyodorkan sendoknya, Eva buru-buru melahapnya dan segera berlari menyusul Fathur.
Fathur membawa sepeda motornya dengan kecepatan tinggi dijalanan yang ramai meliuk-liuk menyalip beberapa kendaraan roda dua dan roda empat, itu hal baru bagi Eva ia menikmati adrenalin yang berdesir didadanya. Kedua tangan Eva sesekali ia julurkan sedikit kesamping merasakan angin kencang yang menerpanya.
Eva tersenyum kecil namun suara decitan roda menghilangkan senyuman itu.
Cciiittt!!!.
Roda belakang terangkat naik melempar tubuh Eva kedepan namun dengan gerakkan cepat kedua tungkak kaki Eva berputar kebelakang menahan tubuhnya agar tetap berada pada posisinya.
Bruk.
Roda jatuh dengan keras. Seorang wanita segera berlari meraup anaknya meminta maaf kepada Fathur karena anaknya yang tiba-tiba berlari kejalanan, Fathur menanggapinya dengan ramah, setelah wanita itu pergi Fathur langsung memutar badannya kebelakang membuka kaca helm dengan kasar.
"Kamu tidak apa-apa?." Tanya Fathur menatap dalam mata biru itu.
"Hm." Gumam Eva, Fathur meletakkan tangannya diatas helm Eva.
"Sorry." Ucap Fathur. Tatapan dalam yang diberikan laki-laki itu membuat Eva bergeming. Fathur membalikan badannya lagi menutup kaca helm bersiap menjalankan sepeda motornya.
Diperjalanan setelahnya Eva cemberut menyilangkan kedua lengannya didepan dada kesal. Gadis itu mencondongkan sedikit tubuhnya kedepan.
"Kenapa pelan sekali, ini sudah siang." Kata Eva, sebenarnya Eva kesal karena Fathur membawa sepeda motornya dengan kecepatan sedang gadis itu ingin merasakan sensasi bebas seperti tadi.
"Telat sebentar tidak apa-apa." Jawab Fathur santai dia tidak mau kejadian seperti tadi terulang.
"Thur cepetin." Titah Eva.
"Tidak." Tolak Fathur.
"Thur!." Seru Eva.
"Tidak." Fathur tetap dengan pendiriannya.
"Fathur!." Deg. Fathur terkejut, ini kedua kalinya Eva memanggil namanya.
Duk.
"Cepetin." Ucap Eva merajuk, ia membenturkan helmnya ke helm belakang Fathur. Fathur tersenyum, laki-laki itu bisa membayangkan wajah Eva yang sedang cemberut.
"Tidak." Jawab Fathur santai.
"Thur," mendengar suara lirih dari gadis dibelakangnya membuat Fathur luluh.
"Siap-siap." Ucap Fathur pada akhirnya.
"Hum." Jawab Eva semangat.
Gadis itu menegakkan badannya menatap lurus kedepan, Fathur menarik gas menambah kecepatan. Sepeda motor itu melaju kencang membawa kedua remaja yang tersenyum bahagia dengan cara mereka masing-masing.
Eva melihat pintu gerbang hendak ditutup oleh satpam, jarak mereka pun sudah dekat tapi Fathur terlihat tidak ada tanda-tanda akan mengurangi kecepatannya. Fathur membanting setir motor, sepeda motor berbelok tajam membuat tangan Eva reflek melingkar erat dipinggang laki-laki itu.
Satpam terlonjak kaget melihat sepeda motor yang berbelok tajam didepan matanya.
Mereka sudah berada di parkiran, Fathur mematikan motor dan melepas helm lalu meletakkannya ia melirik kebawah, tangan Eva masih memeluknya erat.
"Tidak mau turun?." Tanya Fathur menoleh kesamping melirik gadis dibelakangnya. Eva menarik tangan kanannya membiarkan satu tangan yang lain berada diperut Fathur memiringkan sedikit badannya seraya menaikan kaca helm.
Mata itu terbuka lebar menatap tepat manik Fathur dengan bola mata berbinar dan bibir yang tertarik keatas.
"Tadi sangat seru." Kata Eva riang. Suara merdu dan ringan itu merasuk kedalam telinga Fathur.
"Thanks." Ucap Eva tersenyum, Fathur bisa melihat dengan sangat jelas karena jarak mereka yang sangat dekat. Mata berbentuk seperti bulan sabit dengan senyum manis menghias wajah putih itu.
Eva menjauhkan badannya melepas helm yang diterima oleh Fathur. Dengan wajah berseri Eva berjalan meninggalkan Fathur.
"Kamu selalu tidak pernah bertanggung jawab." Lirih Fathur memegang dadanya, ia kembali teringat kejadian tadi malam.
"Yuki!." Fathur menoleh melihat Ega berdiri ditengah-tengah pintu parkiran.
"Ega!." Seru Eva berlari memeluk saudaranya.
"Kenapa baru berangkat?." Tanya Ega menyelidik.
"Ga tadi sangat menyenangkan!." Kata Eva melingkarkan tangannya dilengan Ega menarik saudara kembarnya pergi. Fathur hanya diam mengikuti dari belakang.
Didalam kelas Ega melempar banyak pertanyaan kepada sahabatnya. Dua jam kosong itu membuat Ega dengan mudah melancarkan aksinya.
"Ada yang terjadi diantara kalian?." Tanya Ega kepada Fathur yang sedang meletakan kepalanya diatas meja.
"Tidak." Jawab Fathur singkat.
"Terus kenapa kalian terlambat?." Ega melirik sahabatnya itu.
"Kesiangan, aku lupa memasang alarm." Jelas Fathur.
"Kenapa Yuki tidak membangunkanmu? apa pak Dani juga kesiangan?."
"Eva juga bangun terlambat, kak Dani libur hari ini." Ega mengerutkan alis merasa janggal.
"Kami melakukan panggilan sampai jam setengah empat pagi." Ega terkejut.
"Apa ponsel kalian baik-baik saja?." Tanya Ega yang terheran-heran.
"Hm?." Fathur melingkarkan lengannya sebagai bantalan.
"Karena itu kalian kesiangan, kalian sudah jadian." Ujar Ega. Fathur menyembunyikan wajahnya diantara kedua lengannya.
"Tidak, kami tidak jadian." Sergah Fathur lemah. Ega menatap sahabatnya bingung.
"Eva menelphonku lebih dulu." Lanjut Fathur.
"Ada apa dengannya?." Gumam Ega yang terdengar oleh telinga Fathur.
"Dia penasaran dengan jenis bela diriku." Sahut Fathur.
"Kalian habis berkelahi?." Tanya Ega kaget.
"Lebih tepatnya aku dengan para pria hidung belang itu." Lagi-lagi Fathur menghentikan niat Ega untuk bertanya dengan gerakan tangannya.
"Karena Eva tidak mau ikut masuk kedalam cafe jadi aku masuk lebih dulu untuk memesan makanan dan segera kembali menemuinya tapi saat aku keluar dia sudah dikepung empat pria hidung belang. Aku marah dan berjalan cepat menghampiri mereka membuat para hidung belang itu kabur." Jelas Fathur panjang lebar.
"Apa kamu menghajar mereka?." Tanya Ega.
"Tidak, aku hanya mendorong dan sedikit memberi pukulan." Jawab Fathur. Kenapa Yuki tertarik dengan bela diri Fathur, batin Ega.
"Lalu kenapa wajahmu mendung begitu?." Tanya Ega.
"Mungkin karena kurang tidur." Elak Fathur.
"Jangan membodohiku." Sergah Ega. Hening.
"Apa yang Yuki katakan padamu?." Fathur mengepalkan tangannya tanpa terlihat oleh Ega.
"Dia menolaku sebelum aku mengatakan apa pun." Ega menyandarkan punggungnya.
"Dia sudah mengikhlaskan Dimas." Fathur tersenyum kecut mendengar kalimat yang keluar dari bibir Ega.
"Dia mulai peka dengan sekitarnya." Ega menatap belakang kepala Fathur.
"Yuki menyadari perasaanmu." Fathur terkejut dengan pernyataan itu ia mengangkat kepalanya menatap Ega.
"Aku tidak menyukainya." Elak Fathur.
"Kamu menyukai Yuki." Ucap Ega.
"Tidak." Fathur menggeleng kuat.
"Sudah sejak lama kamu menyukainya." Tambah Ega.
"Tidak."
"Mau sampai kapan kamu menolak perasaanmu?." Tanya Ega. Fathur ikut menyenderkan punggungnya.
"Eva tidak bertanggung jawab atas apa yang dia perbuat kepadaku." Lirih Fathur.
"Dia tidak bertanggung jawab kepada banyak laki-laki." Tambah Ega.
"Kamu benar, aku tidak seberuntung dia." Fathur teringat saat Eva selalu berusaha bertemu dengan Dimas.
"Jadi, kamu menyukai saudari kembarku?." Tanya ulang Ega.
"Hm, aku menyukainya." Akhirnya Fathur mengakui perasaan yang selama hampir lima tahun ini ia pendam sendiri.
"Sejak kapan?." Ega kembali menginterogasi Fathur.
"Sejak pendaftaran smp." Ega semakin gencar ingin bertanya namun untuk yang ketiga kalinya Fathur menghentikan niat Ega dengan tangan kanannya.
"Dihari terakhir pendaftaran, hanya ada satu kursi kosong disebelahku. Eva masuk dengan seragam merah putihnya membuat semua pasang mata terfokus kepadanya, tanpa melirik mencari kursi kosong Eva langsung berjalan kearahku. Aku seperti disihir olehnya, sejak saat itu aku selalu beruntung bisa dekat dengannya. Satu kelas, satu kelompok, menjadi pasangan murid teladan tapi semua itu tidak ada yang berarti." Fathur menengadah menatap langit-langit kelas.
"Dia tidak mengingatku. Nama, bahkan wajahku. Dia dekat tapi terasa sangat jauh." Fathur menumpahkan isi hatinya. Ega mengikuti Fathur menatap langit-langit kelas.
"Aku ikut prihatin." Ucap Ega tulus.
"Thanks, aku lebih merasa lega sekarang. Tapi bisakah kamu tidak seposesif itu?." Ega tertawa.
"Sepertinya tidak bisa." Dua sahabat itu tertawa bersama.
***
Di jam ketiga pelajaran, kelas Eva dan kelas Ega mempunyai jam pelajaran yang sama dikarenakan guru olah raga ada kepentingan mendadak. Olah raga hari ini kelas Eva yang seharusnya berada dijam ke lima dimajukan dua jam dan digabungkan dengan kelas Ega.
Ega dan teman-temannya sedang bermain basket begitu juga dengan Eva ia bermain basket disisi lain lapangan. Olah raga dilakukan dilapangan luar jadi banyak siswa yang memilih berbagai jenis olah raga bahkan banyak yang melakukan tenis lapangan dan panahan olah raga yang sedang banyak digemari itu.
Suasana lapangan sangat ramai oleh celotehan anak-anak Eva menikmati permainannya untuk yang pertama kali, sejak dulu setiap jam olah raga dia selalu pasif duduk agak jauh dari lapangan bukan berarti nilai penjasnya jelek karena ia bisa melakukan prakteknya dengan sangat baik.
Saat Eva sedang melompat melakukan tembakan tiga poin matanya menangkap sesuatu yang mencurigakan. Sesorang memakai baju serba hitam sedang berdiri tidak jauh dari halaman sekolah, tangannya membidik tepat kearah kepala .., Ega.
Sial!!, rutuk Eva. Dengan kekuatan penuh Eva melempar bola basket ditangannya dari sisi lapangan menabrak bola basket yang sedang dipegang Heru. Dua bola basket itu terbang dengan cepat ke depan wajah Ega.
Semoga berhasil, batin Eva. Perkiraan Eva benar dua bola basketnya berhasil menggagalkan peluru yang mengarah ke dahi Ega, dua bola berwarna coklat itu berdesis kempis. Ega dan beberapa anak yang melihat kejadian itu bergeming ditempat.
Pistol peredam suara, batin Eva lalu dia berlari seraya merebut anak panah beserta busurnya dari tangan salah satu siswa, tanpa basa-basi lagi Eva menarik busurnya mengarahkan tepat ke lengan kanan orang berbaju serba hitam, orang tersebut juga mengarahkan pistolnya tepat ke jantung Eva.
Dengan tangan kiri Eva melepaskan anak panahnya sebelum pembunuh itu melepas pelurunya lebih dulu.
Sseeeeettt!!.
Berhasil!, batin Eva. Si pembunuh memegang lengan kanannya lalu berlari kabur bersama anak panah yang tertancap dilengannya.
Kamu tidak bisa lari!, seru Eva dalam hati. Eva langsung berlari cepat mengejar si pembunuh melompati pagar sekolah dengan mulus tapi sayang Eva kalah cepat, si pembunuh sudah masuk kedalam mobil berwarna hitam dan membawanya pergi.
"Kurang aj*r!!." Seru Eva ia segera merogoh saku celana olah raga mencari ponselnya namun barang yang dicari tidak ada.
"Aku meninggalkannya dikelas." Rutuk Eva mengepalkan tangannya.
Eva segera berlari kembali ke sekolah. Dilapangan beberapa anak berkerumun mencari tahu apa yang sedang terjadi.
Bola mata Eva tertuju pada satu siswa, ia mempercepat larinya mengerem tepat didepan Ega.
"Kamu tidak apa-apa?." Eva memegang kedua pipi Ega.
"Kemari." Ega menarik tangan Eva berjalan menuju halaman belakang sekolah.
"Tidak ga, kita ke kelasku dulu." Ega menatap Eva sebentar.
"Ayo cepat."
Setelah Eva mengambil ponselnya ia dan Ega berjalan ke halaman belakang sekolah dan disinilah mereka berdua dibalik pohon besar. Eva sedang menghubungi sesorang.
"Cari mobil dengan plat nomor tadi. Temukan mobil itu dengan cepat, misi rahasia mission A level." Kata Eva tegas lalu mematikan ponselnya.
"Siapa?." Tanya Ega.
"Om Ronggo." Jawab Eva, Ega mengangguk singkat.
"Aku menyuruh Heru dan Fathur untuk membawa dua bola basket yang sudah kempis untuk menceritakan kronologi yang mereka lihat kepada kepala sekolah." Eva mengangguk paham.
"Sebentar lagi pasti pihak sekolah menghubungi ayah."
"Hm." Jawab Eva singkat.
"Aku sangat terkejut." Ega memeluk Eva erat.
"Terima kasih telah menggagalkan pelurunya." Eva membalas pelukan Ega.
"Aku harus menyelesaikan rencanaku hari ini juga." Ujar Eva.
"Hum."