
Eva menegakkan duduknya menaruh kedua tangan yang saling menumpuk diatas paha raut wajah yang berubah tenang dengan sorot mata datar dan tegas bak seorang putri bangsawan memancarkan aura kuat tak terbantahkan. Tubuh Jun Ho bergerak kaku memperbaiki cara duduknya secara otomatis, aura Eva menekan Jun Ho untuk harus meghormatinya, pandangan Jun Ho lurus menghadap meja didepannya.
Kenapa dengan diriku? dia menyerang psikologiku? dia menekanku membuatku tunduk kepadanya? tidak! aku tidak merasakan niat jahat darinya, ini.. aura penguasa, batin Jun Ho.
"Jun Ho si." Suara merdu, tenang, dan tegas itu menggema ditelinga Jun Ho.
"N n ne." Lirih Jun Ho dengan terbata dan gemetar.
"Katakan padaku semua yang kau tahu." Suara itu kembali mengalun masuk kedalam gendang telinga Jun Ho.
"S sudah semuanya."
"Apa kau menjawab dengan jujur?." Jun Ho tidak berani menatap bola mata Eva.
"N ne." Tangan Jun Ho saling menggenggam erat menahan gemetar tangannya.
"Apa hanya itu yang kau sembunyikan?."
"Ne." Lirih Jun Ho berusaha menenangkan diri.
"Apa kau mempunyai niat terselubung kepadaku Jun Ho si?." Jun Ho menggeleng cepat.
"T tidak."
"Berikan aku alasanmu kenapa kau ingin mengetahui lebih banyak tentangku?." Jun Ho sejak awal tidak pernah berbohong atau berpura-pura di depan Eva, hanya satu rahasia yang ia simpan dan rahasia itu pun sudah Jun Ho katakan.
"Aku tidak bisa melihat wanita yang aku sayangi menahan rasa sakit sendirian, aku tidak bisa hanya diam saja, aku ingin membantu." Lirih Jun Ho masih menatap lurus meja didepannya.
"Terima kasih, tapi itu tidak perlu." Mata Jun Ho bergetar.
"Aku tidak bisa menyelamatkan ibu dan kekasihku. Rasa bersalah dan kecewa kepada diri sendiri selalu membayangiku, menghantui setiap malam sampai kamu datang dan meminta pertolonganku, ada secercah cahaya dihatiku bahwa apa pun yang terjadi aku ingin menyembuhkanmu, menyelamatkanmu, sesuatu yang tidak bisa aku lakukan dulu." Tangan kanan Jun Ho meremas sweater abu-abunya tepat di dada sebelah kiri, air mata turun perlahan dari sudut kedua mata Jun Ho.
"Apa kau menganggapku sebagai pengganti mereka Jun Ho si?." Pertanyaan Eva menohok keras hati kecil Jun Ho ia tercekat untuk menelan salivanya sendiri terasa sangat sulit, Jun Ho diam.
"Kau ingin menebus penyesalanmu melalui diriku, Jun Ho si?." Jun Ho membuka mulutnya namun tidak ada suara yang keluar dari dalam tenggorokan itu.
Baru pertama kali ini Jun Ho menunjukkan kepada orang lain betapa rapuhnya dia selama ini, perasaan dan emosi yang selama ini ia pendam berusaha untuk menghapusnya kini muncul kepermukaan. Jun Ho ingin mengamuk tapi aura kuat dari Eva membuatnya tertahan, ia hanya bisa menangis terisak dengan suara yang ia tahan.
"Aku tidak bisa menceritakan rahasia penting diriku kepada orang lemah sepertimu Jun Ho si." Bola mata Jun Ho membola sempurna tangan sebelah kirinya memegang kepala.
Dia benar, sebenarnya aku lemah karena itu aku memakai topeng lain untuk menyembunyikan kelemahanku, batin Jun Ho.
"Orang yang tidak bisa memaafkan dirinya sendiri adalah manusia lemah, dia hanya akan mencari pelampiasan untuk membuat dirinya sendiri merasa nyaman."
Setiap kata-kata yang keluar dari mulut Eva menghantam keras bak belati menancap didada Jun Ho tetap disana menancap semakin dalam.
"Luka itu adalah bagian dari hidupmu, sekeras apa pun kau membuangnya, melupakannya, menutupinya, kenyataan bahwa itu adalah bagian dari dirimu tidak akan pernah hilang. Jun Ho semakin terisak, ia meunutupi wajahnya dengan kedua tangan.
"Terima lah kenyataan, terima luka itu dengan hati dan kesadaranmu, perlahan maafkan dirimu yang lalu, itu akan mengobati lukamu dan akan mengisi sesuatu yang kosong dihatimu."
Entah mengapa suara Eva saat ini terdengar berubah ditelinga Jun Ho, suara merdu, tenang dan tegasnya terdengar sangat lembut menyentuh telinga Jun Ho sampai menelusup ke hatinya. Perlahan belati didada Jun Ho terdorong keluar.
"Tidak semua rahasia harus diketahui orang lain, tidak apa menyembunyikannya agar hati merasa tenang, memiliki banyak wajah bukan sebuah kesalahan tapi sebuah pertahanan diri."
Eva tersenyum lembut, senyum tulus pertama kali yang terukir di wajah dan hatinya.
"Seonsaengnim."
Jun Ho langsung membeku mendengar suara indah itu memanggilnya, kedua tangan yang menutupi wajah sembabnya terjatuh lemas bola mata Jun Ho perlahan mencari asal suara. Jun Ho terdiam, satu tetes dua tetes air mata mengalir susul menyusul, bibirnya bergetar.
Mata biru itu tertutup membentuk garis lengkung seperti bulan sabit, bibir menawan itu merekah membentuk senyuman indah menunjukkan deretan gigi rapih dan putih.Jun Ho tidak ingin berkedip meskipun pandangannya buram terhalang air mata, pemandangan yang indah menghangatkan hati Jun Ho yang sakit dan hampa. Ujung belati terdorong lepas dari dada Jun Ho meninggalkan bekas menganga lebar namun Jun Ho sudah memantapkan dirinya untuk perlahan menerima dan menyembuhkan luka masa lalunya.
"Terkadang mengetahui sedikit lebih baik dari pada mengetahui sepenuhnya." Mata biru itu kini menatap dalam Jun Ho, dengan elegan Eva berdiri melangkah meninggalkan Jun Ho sendiri.
Jun Ho menghapus air mata dengan tisu dimeja mengatur nafasnya menengguk lemon yang sudah berubah dingin. Lagi-lagi aku diajari olehnya, batin Jun Ho. Eva kembali dengan sebuah kotak berukuran lumayan besar lalu kembali duduk ditempatnya.
"Jun Ho si, terima kasih." Wajah Jun Ho terlihat bingung dengan ucapan Eva, seharusnya aku yang mengucapkan terima kasih, batin Jun Ho.
"Hari ini, sangat menyenangkan." Eva lalu menyodorkan kotak berwarna biru kepada Jun Ho, Jun Ho menatap kotak itu lalu beralih menatap Eva dan kembali menatap kotak.
"B bu buatku?." Akhirnya sekian lama suara Jun Ho bisa keluar kembali dari tenggorokannya meski terbata dan serak. Eva mengangguk, cara duduk Eva sudah kembali biasa juga aura aneh itu pun ikut hilang. Perlahan Jun Ho membuka kotak biru.
"Jangan." Eva menghentikan tangan Jun Ho yang tinggal sedikit lagi dia bisa melihat isi dalam kotak itu.
"Buka saja di apartemenmu, aku tidak ingin mendengar suara tangisanmu yang mengganggu itu lagi." Ucap Eva datar.
"Yak, gadis nakal." Jun Ho ingin protes tapi tenaganya sudah terkuras saat ia menangis tadi, Jun Ho menghembuskan nafas panjang menatap Eva.
"Aku benar-benar seperti kakak yang habis dimaraih adiknya hehe." Ucap Jun Ho tersenyum kecil.
"Aku hanya menggunakan ilmu dari guru yang cengeng." Eva memberikan smirknya kepada Jun Ho.
"Aku tidak bisa menyangkal itu."
"Pulanglah Jun Ho si sebelum mereka selesai memperbaiki listriknya."
"Baiklah." Jun Ho berdiri dengan kotak biru ditangan kanannya.
"Maaf telah memaksamu menceritakannya, kalau ada apa-apa hubungi oppa mu ini, oppa mu akan segera terbang ke indonesia untuk membantumu." Jun Ho menunjuk dirinya sendiri dengan ibu jari kiri dengan sombong. Eva memutar bola matanya. Jun Ho mendekati Eva menepuk pelan kepala gadis itu.
"Ingat aku selalu siap membantumu, hati-hati pulang ke indonesia. Jika ada pekerjaan di korea mampirlah ke rumah sakit." Jun Ho menarik tangannya dan berlalu keluar dari apartemen.
Didalam mobil Jun Ho sangat penasaran dengan isi kotak biru itu perlahan Jun Ho membukanya menarik dua benda bulat dari dalam kotak.
"Berat, apa ini?." Dua benda bulat dengan persegi dibawahnya sebagai dasar bola itu.
"Apa yang harus aku lakukan dengan dua benda aneh ini? gelap, apa ini tombol untuk menyalakannya." Gumam Jun Ho menekan tombol biru kecil disebelah tombol merah. Benda itu mengeluarkan cahaya sebuah tulisan kecil muncul dipermukaan bola.
Bagaimana kabarmu piggy? (anak babi)
Jun Ho hampir melempar bola itu karna terlalu kaget, piggy adalah panggilan sayang kekasihnya dulu kepada Jun Ho. Tulisan itu perlahan hilang digantikan pemandangan dalam bola, sebuah taman kecil dengan pohon sakura yang mekar, ada dua orang sedang duduk dibawah pohon seorang wanita dengan pakaian pasien dan seorang dokter dengan seragam putihnya mereka tertawa bahagia memandang keatas tangan mereka saling bersentuhan diatas tanah.
"Kau membuatku banyak menangis hari ini." Jun Ho terisak tangannya mengelus bola itu dengan sayang.
"Bagaimana kamu bisa tahu tentang Hana ku gadis nakal." Lirih Jun Ho menatap wajah kekasihnya, pemandangan itu sama persis seperti dimemori Jun Ho tiga hari sebelum Hana nya melakukan operasi, mereka selalu tertawa berdua.
Perlahan Jun Ho meletakkan bola itu diatas pangkuannya meraih bola satunya. Menekan tombol biru yang sama, cahaya terang memenuhi bola sebuah tulisan kembali muncul Jun Ho penasaran kenangan dengan Hana yang mana lagi yang akan keluar.
Jun Ho yaahh... Fighting!.
Deg! Deg!
Jangan-jangan, batin Jun Ho.
Seorang wanita paruh baya sedang memiringkan sedikit tubuhnya kekanan tersenyum manis menatap wajah anak laki-laki yang sedang duduk dipangkuannya menatap sang ibu dengan senyuman lebar.
Tangis Jun Ho sudah tidak bisa ditahan lagi ia meraung didalam mobil diparkiran apartemen yang sepi.
"Gadis nakal." Ucap Jun Ho dalam tangisannya. Entah sudah berapa lama Jun Ho menangis suaranya hampir habis, mengelap wajah dengan kasar menghentikan raungannya. Jun Ho mengambil bola dipangkuannya dengan tangan kiri mensejajarkan mereka didepan wajahnya.
"Aku sangat merindukan kalian, pemandangan yang indah." Lirih Jun Ho tersenyum simpul melihat kenangan indahnya bersama kedua wanita yang paling ia cintai. Badan Jun Ho bergetar sedikit karena sesenggukkannya yang belum berhenti membuat dua bola ditangannya bergerak saling menabrak sontak Jun Ho mengutuk dirinya atas kecerobohan yang dia lakukan. Bola mata Jun Ho menangkap sesuatu yang ganjil, dua bola itu masih menyatu karena gerakan kecil tadi dan ada sebuah gerakan dari kedua bola itu. Boneka Hana, dirinya, ibu dan Jun Ho kecil bergerak saling mendekat ditengah-tengah boneka itu berhenti menjadikan satu kesatuan, Hana disebelah kanannya dan ibu Jun Ho dengan posisi awalnya yang sedikit miring kekanan berhenti bersandar di pundak kiri Jun Ho besar, bunga sakura itu roboh kesamping dan tenggelam kedalam rumput yang diduduki mereka digantikan kelap-kelip kunang-kunang yang muncul entah dari mana mengelilingi mereka bersamaan dengan pohon sakura yang hilang cahaya terang itu pun berganti gelap dengan bulan sabit yang bersinar indah titik-titik bintang menghiasi langit-langit bola, satu garis cahaya turun dari langit-langit bola menggambarkan bintang jatuh. Jun Ho terdiam terpaku dengan pemandangan itu namun belum berakhir, sesuatu yang muncul diantara bintang-bintang membuat Jun Ho kembali meraung.
Jun Ho yaahh, saranghae.
Piggy-aah, saranghae.
"Gomawo gadis nakal." Lirih Jun Ho disela tangisnya.
Satu hari yang lalu Eva sudah kembali ke rumahnya, hari minggu adalah hari dimana Eva tidak mau diganggu, dia akan menghabiskan waktu dari pagi buta sampai malam di ruang rahasianya. Dua hari yang lalu saat Ronggo dan yang lainnya terbangun mereka tidak curiga kepada Eva karena tidak ada hal yang mencurigakan dari majikannya itu.
Sekarang pukul lima pagi Eva melangkah turun ke dapur, dapur masih sepi hanya ada mbok Is dengan celemek merahnya sedang menunggu Eva dengan senyuman.
"Mau sarapan apa non hari ini?." Tanya mbok Is yang sudah hafal jadwal bangun hari minggu Eva dan kebiasaan-kebiasaannya dihari tertentu itu.
"Sandwich daging sapi dan salad." Jawab Eva duduk di kursi makan.
"Baik nona, ini lemon hangatnya." Mbok Is meletakkan minuman favorit Eva dihadapan gadis itu.
Kepala pelayan itu dengan cekatan menyiapkan sarapan majikannya, tidak membutuhkan waktu lama sarapan yang diminta Eva sudah siap dimeja. Jangan tanyakan dimana pelayan yang lain, Eva tidak mau berbicara kepada mereka karena itu tidak ada pelayan didapur selain mbok Is. Fitri? dia adalah pelayan khusus Eva selain memasak dan setiap hari minggu dia diliburkan karena Eva yang tidak mau harinya diganggu oleh siapa pun.
Eva memandangi sarapannya sebentar dan mulai dengan memakan sandwich nya. Hening, hanya terdengar suara detak jam dari ruang tengah mbok Is berdiri menunggu majikannya selesai dengan makanannya. Eva meletakkan sumpit saladnya dengan pelan.
"Terima kasih." Lirihnya, meminum lemon hangat.
"Semoga nona suka dengan sarapannya." Mbok Is membungkuk sedikit.
"Hm."
Eva melangkah pergi masuk kembali kedalam kamarnya mengunci pintu lalu mematikan lampu membuat sensor keamanan kamar menyala. Eva menekan tombol rahasia membuka pintu dibalik rak buku itu melangkah masuk kedalam sebuah ruangan bernuansa hitam dan sedikit putih. Kaki Eva menghampiri sebuah lemari kaca dengan satu set baju putih tergantung.
Eva membuka lemari kaca itu dengan sebuah sandi mengganti piyamanya dengan baju itu. Eva mencuci tangannya di wastafel yang ada disisi tembok lalu memakai sarung tangan berwarna putih dan tidak ketinggalan sebuah masker menutupi sebagian wajahnya Eva berjalan menghampiri salah satu pintu berwarna putih berdiri diam membiarkan alat scan nya mengenali retina Eva, perlahan pintu itu bergeser menyeruakan aroma bahan-bahan kimia. Eva memasuki ruangan itu berdiri dibalik meja yang penuh dengan tabung-tabung kecil dengan cairan berwarna-warni. Eva mencampur cairan-cairan disana berpindah dari tabung satu ke tabung lainnya dan mencatatnya dengan sangat rinci dan rapi
Eva tersenyum dengan hasil penelitiannya meraih jarum yang mirip dengan jarum akupuntur namun ini lebih pendek lalu merendam separuh jarum kedalam cairan yang berhasil Eva buat hari ini. Berasa cukup Eva menaikkan semua jarum dari tabung meletakannya ke kotak aluminium membiarkan jarum-jarum itu berdiri dengan sebuah alat pembantu dan Eva kembali dengan tabung-tabungnya yang lain.
Eva terlihat sangat menikmati kesibukannya. Ruangan dengan dua meja panjang saling bersisihan, dua rak berdiri di pojok ruangan, rak pertama berisi tabung kosong rak kedua terdapat beberapa tabung yang sudah di isi. Empat jam Eva habiskan didalam laboratorium kecilnya dengan hati-hati Eva menyimpan hasil penelitian kedalam sebuah lemari diruangan itu setelah semuanya beres Eva keluar dari laboratorium melepas sarung tangan dan maskernya mencuci kedua tangan.
Eva duduk disofa hitam yang tersedia, meminum lemon tea dinginnya dari lemari es ukuran kecil diruangan itu. Setelah cukup istirahat Eva berdiri didepan lemari kaca yang lain menekan sandi, kaca tebal itu perlahan turun Eva mengambil set baju mengganti baju laboratnya dengan baju dari tabung kaca bersiap melakukan eksperimen berikutnya.