
Pagi hari di Sma Tunas Jaya hiruk pikuk siswa siswi memulai hari pertama mereka setelah liburan sekolah. Mobil sport berwarna merah memasuki halaman sekolah, si pengemudi memarkirkan mobilnya dengan lihai. Pemandangan itu menarik perhatian para siswa dan guru-guru disekolah, banyak yang berhenti untuk mengagumi mobil mewah itu. Siswa diparkiran khusus mobil lebih terkejut, bola mata mereka melebar menatap mobil sport terparkir disana.
Pintu kemudi terbuka, gadis tinggi ramping nan putih itu keluar dari dalam mobil. Banyak orang yang tidak percaya dengan penglihatan mereka.
Rambut panjang diikat setengah membiarkan sisanya tergerai tertiup angin menampakkan kesan girly. Para siswa maupun siswi mengakui betapa cantiknya gadis itu. Langkah kaki jenjangnya begitu anggun membuat jantung kaum adam yang melihatnya berdegup kencang.
Dari jok samping kemudi keluarlah seorang laki-laki yang lebih tinggi, tidak ada cacat sedikit pun diwajahnya. Penampilan rapih membuatnya terlihat keren, aura kuat yang terpancar dari laki-laki itu membuat mata kaum hawa tidak berkedip.
Eva menghampiri laki-laki itu tangannya terulur meraih tangan laki-laki misterius menggandengnya pergi meninggalkan parkiran, pengawal mereka membungkuk sekilas.
"Ayo." Ucap lembut Eva kepada Ega, seketika itu juga para kaum adam dan hawa tertampar kenyataan yang menyakitkan.
"Siapa dia?." Tanya siswa 1 kepada teman disebelahnya.
" Anak baru, aku harap mereka tidak pacaran." Jawab siswa 2.
"Aku juga berharap begitu."
Di lain sisi, salah satu siswi yang menonton kejadian tersebut berlarian disetiap lorong kelas sambil meneriakan sesuatu.
"Perhatian!. Mahluk super dingin menggandeng cowok ganteng! mahluk super dingin menggandeng cowok ganteng!!."
Berita itu secepat kilat menyebar keseantero Sma Tunas Jaya. Mahluk super dingin adalah julukan anak-anak kepada Eva, bagi mereka berita pagi ini adalah trending topik nomor satu yang tidak boleh dilewatkan. Tiara menghentikan siswi yang sedari tadi heboh menyiarkan breaking news (berita terbaru).
"Dimana Eva sekarang?." Tanya Tiara, siswi itu menunjuk halaman depan sekolah.
"Terima kasih." Siswi itu mengangguk dan melanjutkan lagi siaran manualnya.
Fathur, Heru, dan Dody sedang berjalan menuju kelas baru mereka, tahun ini mereka satu kelas lagi.
"Ada apa sih kok rame banget?." Tanya Dody yang tidak sengaja mendengar siswa siswi berceloteh antusias.
"Apa ada siswi yang memperebutkan lo lagi thur?." Goda Dody.
"Jangan ngaco." Tandas Fathur teringat kejadian memalukan dulu.
"Lagi ngomongin apa sih?." Tanya Heru kepada salah satu siswi yang berdiri tidak jauh darinya.
"Kamu belum tahu?." Heru menggeleng pelan.
"Itu loh katanya mahluk super dingin sedang menggandeng siswa baru." Jelas siswi itu antusias.
"Emang Eva masuk sekolah lagi?." Heru menatap dua sahabatnya yang dijawab gelengan kepala oleh mereka.
Apakah dia selamat? aku tidak pernah mendengar kabarnya setelah dia meninggalkan rumah malam itu, batin Fathur. Orang yang baru dipikirkannya pun berjalan kearahnya.
"Gue nggak mimpi kan? itu beneran Eva?. Woaw cantik banget." Ucap Dody bergeming ditempatnya.
"Eva si mahluk super dingin saja sudah cantik apa lagi kalau kayak gini, nggak kuat gue lihatnya." Komentar Heru.
Fathur hanya bergeming melihat gadis yang dirindukannya bergandengan tangan dengan laki-laki lain yang jauh lebih keren dan tampan dari dirinya. Raut wajah Eva terlihat sangat bahagia bibirnya tersenyum kecil. Mahluk dingin Sma Tunas Jaya seakan-akan ditelan bumi meninggalkan gadis cantik dengan senyum yang manis.
"Yuki, kenapa orang-orang melihat kita seperti itu?." Ega tersenyum kepada siswi yang sedari tadi menatapnya alhasil siswi itu membeku dibuatnya.
"Tidak apa-apa, sudah jangan dipikirin." Jawab Eva lembut.
"Eva!." Teriak seseorang. Tiara berlari menghampiri gadis itu, dia berhenti dihadapan Eva mengatur nafasnya.
"Kamu kemana aja sih, tiba-tiba ngilang gitu." Protes Tiara kepada sahabatnya itu.
"Sorry ra aku ada urusan penting." Jawab Eva.
"Tapi kamu baik-baik saja kan?." Tiara mengkhawatirkan sahabat kecilnya.
"Uhm, aku nggak apa-apa kok." Tiara ingat akan berita heboh pagi ini.
"Va, tadi aku dengar kamu menggandeng tangan cowok ganteng?." Eva tersenyum mendengarnya sedangkan Ega yang sedari tadi diam mulai merasa risi.
"Kamu dengar dari siapa?." Tanya Eva.
"Seantero sma tunas jaya sudah pada tahu kali, emang berita itu benar ya?." Tiara menatap sahabatnya yang sudah berubah sekarang, dihadapannya Eva terlihat ceria tidak seperti Eva yang kemarin ia kenal dengan rambut panjangnya yang disanggul asal. Kamu sudah kembali seperti Eva kecil yang aku kenal dulu, batin Tiara.
Eva tersenyum lalu mempererat genggaman tangannya.
"Maksud kamu ini?." Tiara mengikuti arah pandang Eva, ia terkejut ternyata gosip yang didengarnya itu benar.
"Tiara kamu nggak apa-apa?." Eva mengibaskan tangannya didepan wajah Tiara, sahabatnya itu langsung salah tingkah.
"Eh, sorry." Lirih Tiara.
"Oya kenalin ra ini Ega, Ega ini Tiara." Eva menyikut Ega membuyarkan lamunan saudaranya itu.
"Ehem, Ega." Ega mengulurkan tangannya yang disambut oleh tangan Tiara.
"Tiara."
Eva melihat Fathur yang berdiri tidak jauh darinya, mata mereka bertemu, dia laki-laki yang berhasil membuat Eva kesal malam itu.
***
Bel istirahat berbunyi Eva segera menghampiri kelas XI IPA 5, pandangannya menyapu seluruh isi kelas itu. Orang yang dicarinya sedang duduk dibangku nomor tiga baris kedua dari meja guru.
"Ega... kok kita nggak satu kelas?." Eva cemberut berjalan mendekati cowok itu. Ega tidak bisa menahan rasa gemasnya melihat tingkah Eva alhasil tangannya yang besar mengacak-acak rambut kembarannya.
"Ih aku serius." Eva merapihkan rambutnya dengan kesal.
"Memangnya kenapa kalau nggak satu kelas?." Tanya Ega santai.
"Nggak boleh, pokoknya kita harus satu kelas titik. Aku akan minta om Ronggo biar dia ngomong sama kepsek." Ega menahan tangan Eva yang hendak pergi.
"Apa?, ini nggak adil masa aku di kelas XI IPA 3 sedangkan kamu disini." Protes Eva.
"Ega lepasin, aku mau ngomong sama om Ronggo." Eva berusaha melepaskan tangannya.
"Laper, mau makan?." Ega mengelus-elus perutnya menatap Eva, siasat Ega berhasil Eva berhenti tidak berusaha melepaskan tangannya lagi. Ega juga baru sadar kalau dirinya benar-benar lapar.
"Ayo, kita makan diluar." Ega menautkan alisnya.
"Diluar?." Eva menatap saudaranya itu.
"Iya, dicafe depan." Ega beranjak dari kursinya.
"Kenapa harus keluar segala." Ega menarik lembut tangan Eva keluar kelas, Ega menyempatkan berpamitan dulu dengan teman sebangkunya sebelum pergi.
"Aku duluan." Fathur hanya mengangguk pelan menatap kepergian mereka.
"Ga ini kita mau kemana? pintu keluarnya ada disana." Eva menunjuk pintu gerbang yang berlawanan arah.
"Siapa yang bilang mau keluar." Jawab Ega.
"Terus kita mau kemana?." Anak-anak dilorong menatap iri mereka berdua.
"Kantin." Eva melebarkan matanya.
"Kasihan tuh cewek." Komentar Eva.
"Aku tidak mau." Tolak Eva. Sekarang mereka berdua duduk dimeja kantin. Dimeja mereka tersaji dua mangkok bakso, satu es jeruk dan satu es kelapa muda.
"Ayo dimakan Yuki." Bujuk Ega.
Ega memutuskan memanggil Eva dengan nama jepangnya memori yang tersimpan didalam kepalanya hanya ada nama itu Ega merasa aneh jika memanggil saudari kembarnya dengan nama lain.
"Aku bilang tidak mau, nanti kalau keracunan bagaimana?." Ega tertawa terbahak-bahak.
"Tidak ada racun Yuki ini aman, kamu lihat aku dari tadi sudah makan dan masih sehat walafiat." Ega menatap Eva yang keras kepala.
"Sekarang ayo makan." Titah Ega.
"Ga, kamu tahu kan kita selalu makan dirumah atau ditempat yang menjanjikan." Lirih Eva.
"Hmm." Ega sibuk dengan mangkok baksonya. Eva meletakan sebelah tangan didagu seraya menatap saudara kembarnya.
"Disini juga menjanjikan Yuki, kayak kamu nggak pernah ke kantin saja." Eva menggeleng pelan membuat Ega menghentikan aktifitasnya.
"Bohong ya, terus disekolah makannya apa?." Tanya Ega.
"Buat apa bohong, aku selalu ke cafe depan kalau tidak aku bawa bekal yang dibawakan mbok Is." Jelas Eva.
"Karena ini pertama kalinya kamu ke kantin jadi ayo baksonya dimakan." Ega kembali mengunyah baksonya, Eva bergeming menatap mangkok bakso yang masih utuh.
"Kenapa?." Tanya Ega khawatir.
"Aku tidak tahu cara makannya." Lirih Eva membuat Ega tersedak.
"Kamu tidak apa-apa? ini minum dulu." Eva segera menyodorkan es jeruknya kepada Ega, Eva takut saudaranya kenapa-kenapa.
"Sudah lebih baik?." Ega mengangguk pelan.
"Makannya kalau makan tuh dikunyah dulu jangan main telan saja. Kamu mau bikin aku jantungan." Eva memberikan tisu kepada Ega.
"Sorry tapi kamu konyol banget sih masa makan bakso aja nggak bisa." Ega menatap Eva penuh selidik.
"Jangan bilang kalau kamu belum pernah makan ini?." Ega menunjuk mangkoknya.
"Emang nggak pernah." Bola mata Ega membulat sempurna, ia tidak percaya.
Mereka memang terlahir sebagai anak kembar tapi jarak dan waktu yang memisahkan mereka selama hampir sepuluh tahun membuat keduanya tidak tahu kebiasaan masing-masing.
"Sini aku suapin." Ega memotong kecil bakso Eva lalu mengulurkannya.
"Tidak mau, emangnya aku anak kecil." Eva memalingkan wajahnya.
"Ya sudah kalau tidak mau buat aku saja." Ega menarik tangannya.
"Eh! enak saja itu punyaku." Ega tersenyum melihat tingkah adiknya itu, pada akhirnya Ega menyuapi Eva sampai mangkok baksonya bersih tidak bersisa.
"Bagaimana enak kan?." Eva mengedikkan bahu.
"Lumayan." Ega tahu sebenarnya Eva ingin mengatakan baksonya itu enak tapi dia gengsi.
"Kamu harus bayar padaku dua ratus ribu karena tanganku sudah capek menyuapimu." Eva berdiri dari duduknya.
"Kok kamu hitung-hitungan ga, aku tidak mau. Kamu yang bayar semuanya." Eva berlalu pergi meninggalkan Ega.
"Yuki! kok jadi aku yang bayar sih." Protes Ega yang mau tidak mau dia juga yang membayar makanan mereka.
***
Terdengar alunan melodi indah dari lantai bawah segera Eva mencari asal suara. Di ruang tengah Ega sedang duduk didepan piano jari-jarinya sibuk menari diatas tuts-tuts piano, mata mereka bertemu bibir Ega tersenyum lalu melambaikan tangannya.
"Bagaimana permainanku? berantakan ya?." Tanya Ega, Eva berdiri disamping piano seraya menggelengkan kepalanya pelan.
"Sangat indah, kamu bisa bermain piano?." Eva menunjuk piano putih disampingnya.
"Aku belajar dari kakek, dulu." Ega menepuk tempat di sebelahnya.
"Ayo kita main bersama." Ajak Ega.
Eva duduk disamping Ega jarinya siap menekan tuts-tuts piano. Mereka berdua saling melempar senyum lalu alunan melodi yang sangat indah menggema diseluruh rumah mewah itu, beberapa pelayan dan pengawal berkumpul menyaksikan pertunjukan indah didepan mereka. Daren juga tidak mau ketinggalan dengan masih menenteng tas kerjanya dia berdiri memandang kedua harta paling berharga miliknya.
Eva membuka mulut, suara merdunya mengiringi melodi yang mereka mainkan. The Power Of Love milik Celine Dion. Ega ikut bernyanyi, suaranya tidak kalah merdu dengan Eva terjadilah duet diantara saudara kembar itu. Suara mereka melengkapi keindaha melodi piano, mata keduanya memancarkan kerinduan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata mereka menunjukannya dengan sebuah lagu membuat merinding bulu kuduk setiap orang yang mendengarnya. Semua orang hanyut dalam permainan lagu mereka. Rumah bah istana yang dulu dianggap seperti neraka oleh Eva seakan-akan hilang digantikan dengan sinar terang yang menerangi dan menghangatkan rumah itu.
Ega, semua ini karena kamu, kegelapan hatiku ini terobati oleh kehadiranmu. Kamu adalah mentariku, Eva tidak mau kehilangan Ega lagi. Ega, terima kasih kamu sudah berjuang bertahan di tempat terkutuk itu, batin Eva.
Suara merdu Eva mengakhiri lagu mereka. Eva menatap Ega dalam, satu butir cairan bening jatuh turun ke pipi putihnya. Ega menangkap hal itu. Sekarang mereka duduk dalam diam saling menatap meluapkan perasaan mereka, mata mereka lah yang berbicara. Satu butir air mata jatuh lagi dari sudut mata Eva, Ega menghapusnya dengan ibu jari.
"Selama hampir sepuluh tahun aku menjadi tawanan mereka sering sekali hati ini merasakan sakit seakan-akan ada tangan yang meremasnya yang bisa hancur kapan saja, kesedihan mendalam datang secara tiba-tiba. Aku bingung dengan apa yang terjadi kepadaku tapi sekarang aku tahu jawabannya." Ega berhenti sebentar menarik nafas panjang.
"Hatiku hancur ketika kamu menangis Yuki." Eva bergeming.
"Aku juga, tiba-tiba merasakan berbagai emosi yang menghantamku secara tiba-tiba. Mereka memperlakukanmu tidak baik kan ga?." Air mata Eva sudah tidak bisa dibendung lagi, air matanya jatuh susul-menyusul Ega menghembuskan nafas berat.
"Jangan nangis lagi." Ega menarik Eva kedalam pelukkannya.
"Ega..." Eva masih bergeming ditempatnya.
"Hemm?."
"Kamu sering dipukuli mereka?." Ega menarik tubuhnya lalu menggeleng pelan.
"Kamu bohong." Ega terperanjat mendengar jawaban Eva.
"Tubuhku sering merasakan sakit tanpa alasan seperti ada yang memukulinya tapi tidak ada bekas yang tertinggal."
Ega menyadari kontak batin diantara mereka sangatlah kuat. Ega hanya diam memeluk saudari kembarnya lagi, Eva membalas pelukkan saudara kembarnya.
Jika kamu merasakan luka yang aku rasakan bagaimana kamu bisa bertahan selama ini? kenapa aku lupa dengan fakta penting ini, bodoh sekali aku. Maafkan aku tidak bisa menjaga tubuhku dengan baik sampai kamu juga merasakan sakitnya, batin Ega.
"Ega..." Lirih Eva.
"Apa?." Tanya lembut Ega.
"Kamu pasti sangat menderita." Ega mempererat pelukkannya, ia tidak bisa mempertahankan air mata yang sedari tadi ditahannya.
Para pelayan dan pengawal trenyuh melihat dan mendengar pembicaraan majikan mereka. Daren bergeming, dia juga meneteskan air matanya menyaksikan kedua anaknya sekarang ini. Hati Daren senang sekaligus hancur. Senang karena keluarganya bisa berkumpul kembali hal yang tidak ia sangka, dan hatinya hancur karena dia sebagai ayah telah gagal menjaga hati anak gadisnya dia juga gagal karena tidak bisa menemukan putranya selama bertahun-tahun malah dia membiarkan putrinya menyongsong maut untuk mencari saudaranya, dia telah gagal menjadi suami yang baik dan bertanggung jawab untuk istrinya.
Ronggo menghampiri Daren seraya mengambil alih tas kerja Daren.
"Apa aku pantas dipanggil ayah oleh mereka?." Ronggo yang mendengar pertanyaan itu hanya tersenyum menenangkan.
"Tentu saja, tuan sangat pantas dipanggil ayah." Daren berpaling menatap Ronggo.
" Lalu apa yang sudah aku lakukan untuk mereka?."
"Tuan telah menjadikan nona Eva menjadi gadis yang sangat cerdas, tumbuh dengan baik, dan selalu memperhatikannya. Tuan juga sudah berusaha melakukan segala cara untuk mencari den Ega selama hampir sepuluh tahun ini." Ronggo mengingatkan.