
Ega melihat wajah Eva yang berubah dingin sorot matanya penuh kekhawatiran.
"Ada ap." Kalimat Ega terpotong karena tangan Eva yang membolak balik wajahnya ke kanan dan ke kiri.
Ya ampun aku lupa!, seru Ega dalam hati.
Tangan Eva turun kebawah memegang ujung kaos yang dipakainya menarik keatas, perut sixpack Ega terlihat jelas membuat iri mata yang melihatnya. Tangan besar Ega menghentikan pergerakkan Eva menggenggam tangan ramping adiknya, Eva mendongak protes. Mata biru dan coklat terang itu saling menatap, yang satu dengan sorot matanya yang tajam dan dalam sedangkan satunya lagi dengan sorot mata yang lembut menenangkan.
"Jangan disini, malu." Ujar lembut Ega seraya mengelus punggung tangan Eva dengan ibu jarinya.
"Katakan siapa yang melakukannya." Kata Eva dingin.
"Kita bicara dikamar." Ega menurunkan tangan Eva menutup perutnya yang terekspos.
"Katakan." Geram Eva.
"Kita ke kamar dulu." Ega tidak menghiraukan keberadaan teman-temannya yang terpenting sekarang adalah menenangkan saudari kembarnya ini, Ega tidak mau membuat adiknya marah lagi, melihat Eva sekhawatir ini kepada dirinya saja menyayat hati Ega.
"Ega. Katakan." Eva memanglah Eva gadis keras kepala. Bola mata Eva tidak bergerak dari mata Ega, Ega menghela nafas panjang.
"Kalian kedepan dulu nanti aku menyusul."
Setelah teman-temannya pergi keruang tengah Ega berjalan ke ruang makan menarik dua kursi bersebrangan lalu duduk di salah satu kursi. Ega menatap Eva yang tetap berdiri.
"Duduk dulu." Pinta Ega, Eva melangkah ke kursinya duduk bersedekap menatap Ega.
"Mbok Is tolong kosongkan ruang makan." Perintah Ega yang langsung dilaksanakan mbok Is. Ega kembali menatap kembarannya.
"Aku sudah lama penasaran, terkadang aku juga mengikutimu tapi mereka tidak membiarkanku masuk." Ega mulai menjelaskan.
"Aku ingin tahu apa yang kamu lakukan disana, setiap kali kamu keluar dari tempat itu pasti bajumu bersimbah keringat atau wajahmu berubah tenang namun dingin." Lanjut Ega.
"Paviliun." Tebak Eva, Ega mengangguk.
"Aku mengelabui penjaga dihalaman depan paviliun dan berhasil menerobos masuk tapi aku tidak menyangka akan disambut meriah oleh wanita cantik yang ada didalam paviliun." Eva menahan senyumnya.
"Kamu pasti tahu kelanjutannya, wanita itu menyerangku secara membabi buta." Ega menutup wajahnya dengan sebelah tangan menahan malu.
"Kenapa kamu masuk kesana?." Tanya Eva tidak menghiraukan raut wajah Ega yang menahan malu. Eva paham Takehara tidak akan segan-segan kepada orang yang melanggar aturan, Eva sangat terkejut saat merasakan tendangan tepat diulu hatinya pukulan diwajah dan di beberapa titik lemah tubuh hal itu hanya bisa dilakukan oleh orang profesional saja pikirannya langsung melayang ke Ega, Eva sangat khawatir dengan saudara kembarnya.
"Aku penasaran, kenapa hanya kamu yang boleh masuk kesana." Jawab Ega.
"Untunglah wanita itu membiarkanmu keluar dari sana." Ujar Eva.
"Hem, dipertengahan saat ia menyerangku wanita itu tiba-tiba melepaskanku begitu saja." Eva beranjak kedapur kembali dengan es batu dan handuk ditangannya.
"Jangan ulangi lagi." Kata Eva mulai mengompres pipi Ega yang sedikit lebam.
"Karena kamu tidak mau menjelaskan tentang kursusmu itu aku memutuskan untuk mencari tahunya sendiri." Ega meringis menahan sakit.
"Tanyakan saja kepada ayah." Tiba-tiba Eva menekan pipi Ega membuat sang mpu meringis kesakitan.
"Yuki, pelan-pelan." Ucap Ega.
"Berhenti meminta ikut meeting perusahaan, jangan ikut kedalam urusan perusahaan, kamu paham?." Eva menekan lebih keras pipi Ega.
"Agh! Yuki." Erang Ega.
"Aku tidak bisa hanya melihatmu melakukan semuanya sendiri aku ini kakakmu." Ega memencet hidung Eva.
"Perusahaan sudah cukup orang tidak membutuhkan orang baru." Tolak Eva.
"Terus kenapa kamu tidak libur? aku tahu jadwalmu besok Yuki." Mereka berdua tidak ada yang mau mengalah.
"Sekali kamu terlibat urusan perusahaan kamu tidak bisa lepas darinya." Ayah tidak akan melepasmu Ega, batin Eva.
"Aku bisa mencari solusinya." Ega mengelus lembut pucuk kepala Eva.
"Buka bajumu." Ega menatap Eva terkejut.
"Aku mau mengobati lukamu." Lanjut Eva.
"Terima kasih Yuki tapi mbok Is sudah mengobatinya tadi." Ega tersenyum lembut.
"Aku harus melihatnya sendiri." Eva mengulurkan tangannya hendak membuka kaos Ega.
"Yuki, tunggu." Ega berusaha menjauh dari Eva.
Zzz zzz zzz.
Eva mengangkat ponselnya membuat Ega menghela nafas lega.
"Moshi moshi (Halo)." Ega menatap Eva. Siapa yang menelepon Yuki menggunakan bahasa jepang, batin Ega.
"Sumimasen ima sugu ikimasu (Maaf sekarang aku segera kesana)." Eva menutup panggilannya, tangan Eva mencubit pipi Ega yang lebam sebentar membuat kembarannya kesakitan lalu ia kabur secepat kilat ke halaman belakang.
Ega tertawa melihat kelakuan adiknya ia beranjak ingin mengikuti Eva tapi suara Fathur menghentikannya.
Dua jam sudah berlalu Ega, Fathur, Dody, dan Heru masih asik bermain playstation, ruang tengah ramai oleh suara mereka. Fathur melihat minuman mereka yang sudah habis dia berinisiatif mengambil ke dapur.
"Biarin thur aku panggilin pelayan dulu." Kata Ega.
"Cuman ambil air ga." Jawab Fathur, Ega tersenyum membiarkan Fathur pergi.
Fathur mesuk ke dapur bersih nan besar itu langkahnya terhenti. Dihadapannya seorang gadis sedang berdiri didepan kulkas yang terbuka menengguk air dari botol. Keringat menetes dari dahi terus turun ke leher jenjang yang putih itu rambut panjangnya diikat dengan rapih, kaos putihnya basah karena keringat, Fathur menelan salivanya kasar cepat-cepat Fathur membuang wajahnya ke samping.
Eva merasa ada yang memperhatikannya ia segera menghabiskan air dibotol menutupnya lalu menoleh kesamping, Eva memicingkan mata melihat sosok yang berdiri diam bah manekin.
"Kenapa kamu bisa ada disini?." Tanya Eva datar.
"Sebelum kamu pulang kami sudah disini." Jawab Fathur masih memalingkan wajahnya.
"Kami?, siapa yang kamu maksud?."
"Kamu lihat sendiri." Eva menaikan satu alisnya lalu mengedikkan bahu acuh.
"Sepertinya kamu sudah sembuh." Ujar Fathur.
"Hm." Eva melangkah melewati Fathur namun laki-laki itu menahan lengannya.
"Apa kamu mau keluar seperti itu?." Eva menoleh menatap tajam Fathur namun yang ditatap sudah memalingkan wajahnya.
"Apa maksudmu?."
"Baju.., mu." Lirih Fathur. Eva hendak menurunkan pandangannya namun suara Ega menghentikan niatnya.
"Apa yang aku lihat ini? kalian mempunyai hubungan dibelakangku?." Ucap Ega masuk kedapur. Fathur sontak melepas tangannya dari lengan Eva.
"Jangan mengada-ngada." Jawab Eva.
"Yuki dari mana kamu? kenapa keringatmu banyak sekali?." Otak Ega berpikir cepat.
"Jangan-jangan kamu habis dimarahi wani..." Eva menghentikan kalimat Ega dengan cara melompat ke punggung saudara kembarnya.
"Gendong, capek." Rajuk Eva.
"Bayi hulk siapa sih ini manja banget." Ucap Ega menggendong Eva.
"Tahu tuh, ayo antarkan aku ke kamar." Eva menggerakkan kakinya maju mundur.
"Sorry thur aku mau urus bayi hulk satu ini dulu." Fathur menahan senyumnya mengangguk singkat.
Di ruang tengah Eva menaikan satu alisnya, tiga pasang mata itu saling melempar tatap.
"Ega, temen kamu?." Tanya Eva yang didengar oleh dua manusia didepan tv itu.
"Waahh, va lo tega. Kita satu kelas tahun kemarin." Ucap Heru.
"Gue sama lo juga satu kelompok di pelajaran geografi." Tambah Dody.
"Ru hati gue hancur, bagaimana bisa Eva lupa dengan cowok seganteng gue." Dody memegang dadanya berpura-pura menghapus air mata.
"Gue juga nggak habis pikir kurang keren apa gue?." Sahut Heru dengan wajah datarnya.
"Hahaha... Bener-bener tega kamu Yuki." Imbuh Ega.
"Aku tidak tahu kalau pernah satu kelas dengan mereka." Ucap Eva memukul punggung Ega pelan.
"Haha aku tanya, kamu tahu nama mereka?." Ega melirik kebelakang.
"Apa lagi itu Ega... Sudah ayo naik." Ega menaiki tangga sambil tertawa puas.
Pukul 17.30 Eva berlari kecil menuruni tangga ia melihat Ega dan teman-temannya duduk disofa ruang tengah, dari belakang Eva mengecup pipi Ega membuat tiga pasang mata terperanjat kaget.
"Mandi sana, bau." Ucap Eva. Ega mengerutkan dahinya.
"Mau kemana?." Eva menghela nafas panjang. Please jangan lagi, batin Eva.
"Siapa?." Eva memutar bola matanya dengan malas.
"Kamu sudah tahu." Mata Ega menelisik wajah Eva.
"Siapa?." Ulang Ega, Eva menarik nafas panjang. Va dia kembaranmu sabar sabar, batin Eva.
"Dimas." Tubuh Fathur sedikit menegang mendengar jawaban Eva sedangkan Heru dan Dody saling pandang entah apa yang mereka pikirkan.
"Kamu sudah pergi dengannya tadi pagi." Eva menatap mata coklat terang milik Ega.
"Ada sesuatu yang penting." Jawab Eva.
"Apa yang lebih penting dari pada makan malam denganku?."
"Ega, kita bisa makan malam bareng besok." Kata Eva.
"Besok sore ibu pulang." Fathur, Dody, dan Heru merasakan ketegangan diantara dua saudara kembar itu.
"Hanya kali ini hm?."
"Dengan satu syarat." Kata Ega.
"Baik, apa itu?." Lebih baik menyetujuinya dari pada tidak bisa pergi sama sekali, pikir Eva.
"Kamu diantar oleh Fathur."
"Hah?."
"Hah?."
Ucap Eva dan Fathur bersama-sama.
"Ok deal." Ucap Ega memutuskannya sendiri.
"Kalian hati-hati. Ru, Do, ayo ke kamarku lebih baik kalian mandi disana." Ega melangkah pergi tanpa menoleh kebelakang yang disusul Heru dan Dody.
"Thur semangat." Ledek Dody sebelum pergi.
Dengan berat hati Eva duduk dijok belakang motor Fathur.
"Turun." Ucap Fathur.
"Hah?."
Eva tidak menyangka dia disuruh turun kembali oleh laki-laki didepannya ini.
"Pakai ini untuk menutupi rokmu." Fathur mengulurkan jaketnya. Eva dengan cepat mengikat jaket Fathur dipinggang menutupi mini skirt yang ia pakai, Eva kembali duduk dijok belakang, kedua tangan Eva ia letakkan diatas pahanya.
Fathur berhenti didepan cafe mewah, Eva melepas jaket Fathur mengembalikannya kepada laki-laki itu. Fathur menerima jaketnya.
"Jangan pakai baju seperti itu lagi."
Deg.
Entah ada angin ribut dari mana Eva mendengar Fathur berbicara dengan nada lembut sekaligus tegas yang memancarkan aura maskulin dari laki-laki itu.
"Akan aku pikirkan." Eva membalikkan badan berjalan meninggalkan Fathur.
Apa yang aku katakan tadi?, akan aku pikirkan??, memangnya apa yang salah dengan pakaianku, batin Eva masuk kedalam cafe.
Dimas melihat Eva berjalan kearahnya dengan anggun. Beberapa pasang mata menatap Eva mengagumi gadis itu, Dimas lumayan terganggu dengan tatapan laki-laki disana yang melirik gadis pujaannya.
Eva memakai blouse putih dengan bunga-bunga kecil sebagai motifnya dan mini skirt berwarna biru sedikit tua.
"Sudah pesan?." Tanya Eva setelah duduk dihadapan Dimas.
"Belum, aku menunggumu dulu." Eva menyelipkan rambutnya yang ia buat bergelombang ke belakang telinga, tangannya membuka buku menu. Eva selalu membuat Dimas terpesona seperti sekarang.
"Aku pesan ini saja." Eva menunjuk gambar menu.
"Tunggu sebentar." Dimas memanggil pelayan cafe mengatakan pesanan mereka.
"Ada apa tiba-tiba memintaku kesini?." Tanya Eva tanpa basa basi. Dimas tersenyum canggung
"Bagaimana keadaan Rian?." Pertanyaan yang tiba-tiba terlontar dari mulut Dimas padahal bukan itu yang ingin ia tanyakan.
"Hm, besok dia mulai dioperasi." Dimas berusaha menenangkan rasa gugupnya.
"Apakah hanya itu? kamu bisa mengirimku pesan, kita tidak perlu keluar malam-malam." Kata Eva. Dimas menatap gadis yang lebih muda dua tahun darinya.
"Apa kamu tidak suka kalau kita bertemu?." Tanya Dimas.
"Bukan seperti itu, hanya saja..." Dimas memotong kalimat Eva.
"Berarti kamu suka?." Eva membuang wajahnya kesamping.
"Mungkin." Dimas tersenyum senang mendengar jawaban Eva.
"Aku bilang mungkin." Eva menegaskan kepada Dimas setelah melihat raut wajah Dimas yang berubah.
"Mungkin darimu adalah 'iya' bagiku." Jawab Dimas dengan senyum lebarnya, Eva bergeming sebentar lalu segera membuang wajahnya lagi.
Malam itu Dimas dan Eva menghabiskan waktu mereka di cafe dengan mengobrol meskipun lebih banyak Dimas yang bertanya tapi tak bisa dipungkiri wajah keduanya terlihat senang.
"Va."
"Hm?." Eva menatap Dimas.
"Mungkin butuh lima tahun lagi agar aku pantas melamarmu tapi apakah saat ini aku belum pantas untuk menjadi kekasihmu?." Ucap Dimas pelan dan lembut, Eva tidak bisa mengartikan sorot mata Dimas yang Eva lihat Dimas menatapnya sangat dalam.
"Apa maksudnya?." Tanya Eva. Astaga! aku sudah keringat dingin mengatakannya, apa Eva tidak paham dengan ucapanku? atau apakah kata-kataku terlalu sulit untuk diartikannya, batin Dimas. Dimas teringat kenangannya pertama kali dengan gadis itu, mungkin ini akan berhasil, batin Dimas. Dengan menarik nafas panjang mengumpulkan keberanian.
"Eva Augustin Ahyner, sejak pertama kali aku melihatmu didepan pintu gerbang sekolah hatiku sudah menjadi milikmu, rasa sayang ini terus tumbuh membuatku hampir gila, aku berusaha mengabaikannya tapi tidak bisa. Aku sadar bahwa aku ingin bersamamu hanya kamu bukan orang lain." Dimas mengungkapkan perasaannya kepada Eva untuk yang kedua kalinya tapi pernyataan cintanya saat ini berbeda dengan yang dulu, jantung Dimas berdegup tidak karuan keringat dinginnya menetes, Dimas takut dia akan ditolak lagi seperti dulu.
"Eva juga." Seakan ada petir menyambar tubuh Dimas, kalimat yang keluar dari bibir Eva membuat Dimas melayang.
"Jadi... Kamu mau jadi pacarku?." Wajah Eva merah padam seperti kepiting rebus.
"Aku akan jawab besok sepulang sekolah kalau kak Dimas jemput Eva, itu juga kalau kak Dimas mau."
"Siap! ya!." Seru Dimas membuat mereka jadi pusat perhatian di cafe itu. Eva menunduk malu, Eva tidak pernah seperti ini sebelumnya hanya Dimas laki-laki yang bisa membuatnya menyembunyikan wajah karena malu sedangkan laki-laki itu menggaruk belakang kepalanya sambil tersenyum kaku.
***
Hari yang dijanjikan. Jam istirahat Eva habiskan didalam kelas merenungi kejadian tadi malam, seperti sebuah video yang terus berputar dikepalanya. Bel pulang sudah berbunyi beberapa menit yang lalu Tiara menepuk pelan pundak Eva menyadarkan sahabatnya itu yang terus bengong sepanjang pelajaran tadi.
"Kamu ada masalah apa? cerita sama aku va." Tiara menatap Eva khawatir, Eva membalas tatapan Tiara.
"Dimas mengungkapkan perasaannya tadi malam." Lirih Eva menahan rasa malu.
"Apa?! kak Dimas nembak kamu lagi?." Seru Tiara didalam kelas untung kelas sudah kosong hanya ada mereka berdua, Eva memutuskan untuk bercerita kepada sahabat kecilnya itu.
"Kamu tidak bohong kan?." Eva menggeleng pelan wajahnya mulai berubah merah.
"Terus kamu terima?." Tanya Tiara.
"Aku belum memberi jawaban, aku bilang ke dia akan memberikan jawaban jika dia mau jemput aku hari ini." Tiara semakin antusias.
"Berarti sekarang dong, terus jawabanmu apa?." Eva tersenyum jail.
"Lihat saja nanti, aku mau bicara dulu sama Ega." Eva berdiri dari kursinya lalu melangkah keluar kelas.
"Ikh kamu buat orang penasaran saja." Tiara mengikuti Eva.
Didepan pintu kelas terdengar keributan dari berbagai arah banyak siswa-siswi berlarian ke satu arah tubuh Eva tidak sengaja tertabrak siswa yang sedang berlari alhasil tubuhnya terdorong kesamping untungnya tidak sampai terjatuh.
"Maaf aku tidak sengaja." Laki-laki didepan Eva pasti anak kutu buku terlihat dari kacamatanya yang sangat tebal.
"Tidak apa-apa, ada apa ini? kenapa banyak siswa yang berlarian?." Tiara ikut mendesak agar bisa melihat orang-orang yang sedang terburu-buru keluar dari halaman sekolah tapi anehnya banyak juga yang berdiri mengelilingi lapangan basket out door yang terletak didepan pintu gerbang. Sekolahan mereka memang memiliki lapangan in door dan out door.
"Ada apa dilapangan basket sampai guru-guru juga berkumpul disana?." Tanya Tiara.
"Ada alumnus yang sekarat, ditubuhnya terpasang bom karena itu guru-guru mengevakuasi murid-murid dan orang-orang yang masih berada disekolah." Jelas laki-laki kutu buku.
"Apa?! bom? kamu bercanda ya, tidak mungkin ada bom disekolah." Srobot Tiara.
"Terserah kamu saja aku mau pergi sebaiknya kalian juga cepat pergi sebelum bom itu meledak." Laki-laki kutu buku itu langsung berlari pergi.
"Ayo." Ajak Eva.
"Mau kemana?." Tiara bingung.
"Kita lihat alumnus itu memastikan cerita cowok tadi." Eva menarik tangan Tiara.
"Hei..!." Protes Tiara.