Yuki

Yuki
Bab 32



Didalam sebuah ruangan yang penuh dengan buku-buku dan dokumen-dokumen berdirilah seorang gadis menghadap meja besar, pemilik meja itu duduk menatap si gadis. Mereka masih sibuk membicarakan bisnis.


"Mulai besok tidak ada jadwal privat untukmu." Ucap Daren, Eva menaikan satu alisnya.


"Besok setelah pulang sekolah kamu pergilah ke perusahaan, bantu Reza diperusahaan." Perintah Daren.


"Apa dia sudah tidak sanggup melaksanakan tugasnya?." Tanya Eva datar.


"Perusahaan sedang sangat sibuk karena semua yang dilakukan untuk pemulihan keuangan dan citra perusahan berjalan sangat baik dan mendapat respon lebih tinggi dari yang diharapkan." Jelas Daren.


"Aku akan melakukannya, tapi kali ini ada syaratnya." Daren kaget, Eva melakukan negosiasi dengannya yang selama ini tidak pernah ia lakukan.


"Apa?." Tanya Daren menatap putrinya.


"Mulai sekarang aku tidak mau selalu diawasi, bagaimana ayah, deal?." Daren tersenyum miring.


"Fine, you got it. (Baik, kamu mendapatkannya)." Jawab Daren.


"Aku akan menyamar menjadi mahasiswa magang part time sebaiknya ayah memberi tahu direktur." Jelas Eva.


"Maafkan ayah menyeretmu kedalam urusan pekerjaan ayah." Eva mengambil setumpuk proposal dari meja kerja Daren.


"Bukankah itu sudah biasa." Daren menatap putrinya.


"Ayah dengar kalian mulai berbicara lagi?." Eva bergeming ditempat, ia tersenyum sinis.


"Lebih tepatnya bertengkar ayah." Ingatan Eva kembali ke masa lalu, dia sangat kecewa kepada Daren karena tidak sedikit pun Daren menolongnya dari amukan Ayumi, seharusnya Daren bisa menolongnya dan menentang Ayumi bukankah Daren seorang kepala rumah tangga.


"Eva, ayah..."


"Aku akan segera menyelesaikan pengecekan proposal ini." Srobot Eva lalu meninggalkan ruang kerja Daren.


Ega mengetuk beberapa kali pintu kamar Eva tapi tidak ada jawaban Ega memutuskan untuk masuk kedalam, dia tidak menemukan Eva dikamarnya Ega melihat setumpuk proposal di meja belajar kembarannya karena penasaran ia membuka salah satu proposal itu alangkah terkejutnya Ega karena proposal itu tertulis menggunakan huruf china (hanzi) tangan Ega membuka proposal yang lain hasilnya sama setumpuk proposal itu ditulis dengan huruf hanzi. Ega merapihkan proposal seperti semula berjalan menuju ranjang, aku akan menunggunya disini, batin Ega merebahkan tubuhnya diatas ranjang Eva.


***


"Pengontrolan emosi sangat penting ojou chan (nona muda), apa akhir-akhir ini anda hilang kendali?." Ujar Takehara.


Ya, sekarang Eva sedang melakukan kelas khursusnya Eva mengabari masternya untuk memundurkan jam pelajaran karena dia sedang menghadap Daren.


"Ya shishou (Master)." Jawab Eva dengan posisi duduk bersimpuh.


"Anda membiarkan amarah anda keluar benar begitu ojou chan?." Takehara memang pembaca yang handal dia tahu Eva bukannya terbawa emosi tapi muridnya itu pasti membiarkan emosi lebih tepatnya amarahnya keluar karena pengendalian emosi dan pikirna muridnya sangatlah baik.


"Ya shishou." Takehara menatap muridnya dalam, aura penguasa muridnya dalam mode on pasti sudah terjadi sesuatu yang membuat emosinya berkecambuk didalam sana karena itu sekarang dia sedang menundukkan emosi-emosi itu menenangkannya. Takehara memulai pelajarannya dan memancing sedikit emosi Eva, Takehara menekan tombol kecil ditangan kanannya.


"Bagaimana dengan saudara kembar anda ojou chan?." Suara lembut dan tenang Takehara mencoba menarik perhatian Eva.


Beberapa bola seukuran bola kasti terbang kearah Eva dengan kecepatan tinggi dari berbagai arah, dengan tenang Eva menangkap setiap bola yang mendekat tanpa merusak posisi tubuhnya serta tatapan mata lurus kedepan.


"Dia baik-baik saja." Bahkan aura Eva menyelimuti suaranya.


"Anda merasa iri saudara kembar anda hanya melakukan kelas privat saja ojou chan?." Bola-bola itu masih menyerang Eva.


"Tentu saja tidak."


"Bukankah dia terlalu banyak diberikan kelonggaran?." Eva tetap tenang menjawab Takehara dan melindungi dirinya.


"Itu lebih baik, aku tidak ingin dia berakhir sepertiku." Tangan ramping Eva dengan cepat bergerak menangkap bola-bola yang menyerangnya.


"Apa anda bisa bertahan melihat kemesraan saudara kembar anda dengan Ayumi dono? (dono\= sebutan gelar kehormatan untuk memanggil tuan tempat mereka mengabdi.)"


"Itu hal mudah bagiku." Takehara menekan tombol ditangan sebelah kirinya. Bola-bola yang sudah habis digantikan sebuah benda agak panjang dan kecil mirip bolpoin tapi dengan diameter lebih kecil.


Tangan kiri Eva menangkap benda itu tiga sekaligus benda itu diapit disetiap sela jari Eva begitu juga dengan tangan kanannya.


"Bukankah anda juga merindukan sentuhan Ayumi dono ojou chan?." Pancingan Takehara yang ini membuahankan hasil, dengan gerakkan pelan Eva menatap manik Takehara dengan tangan yang masih sibuk menangkap benda-benda yang meluncur kearahnya.


"Sungguh aku membenci fakta itu." Nadanya tenang berkuasa.


"Bukankah perasaan itu meluap didalam hati anda?." Mata biru itu menatap lebih dalam manik Takehara.


"Aku akan membunuh perasaan itu." Senyum Takehara mengembang.


Master dan muridnya terus melanjutkan pelajaran mereka mengatur emosi dengan tetap berkonsentrasi juga kelincahan gerakan tangan karena jika ada satu saja yang luput akan mengenai salah satu bagian tubuh yang dipastikan sangat kuat rasa sakitnya.


Pukul dua belas malam Eva keluar dari paviliun berhenti sebentar didapur untuk mengambil air putih dari dalam kulkas meredakan dahaganya. Eva masuk ke dalam kamar bola matanya menangkap sesosok tubuh terbaring diatas ranjangnya Eva melangkah kedalam kamar mandi membersihkan diri dari keringat setelah beberapa menit berkutat dengan rutinitas membersihkan diri Eva menghampiri ranjang menatap lembut saudara kembarnya. Tangan kiri Eva mengelus lembut pipi Ega.


"Bukan salahmu, disini orang yang paling menderita adalah kamu Hotaru, bukan aku." Ucap Eva lembut lalu mengecup kening kembaranya.


Eva berjalan ke meja belajarnya menarik kursi duduk disana, tangannya membuka satu persatu tumpukan proposal, membaca dan meneliti setiap halaman, Eva sangat fokus dengan kegiatannya terkadang tangannya memcoret proposal memberi tanda dan membenarkan bahkan menambahi bagian yang menurutnya kurang.


"Kamu sudah kembali?." Terdengar suara berat khas bangun tidur dari arah ranjang.


Ega beranjak duduk berusaha mengumpulkan kesadarannya, ia melirik jam dinding diatas televisi menunjukkan angka 02:07 lalu beralih menatap saudari kembarnya yang fokus membolak-balikan laporan yang tadi ia buka.


"Belum tidur?." Ega menguap lebar.


"Hm." Gumam Eva, dimata Ega sekarang Eva terlihat sangat keren, Ega menggeser duduknya ke tepi ranjang.


"Kamu masih marah sama aku?." Tanya Ega, ia tidak mendapatkan respon.


"Maafin ucapanku dimobil tadi pagi Yuki, aku menyesal sudah membuatmu marah. Aku tidak mau kamu marah sama aku." Lirih Ega menundukkan kepalanya menatap lantai perasaan menyesal memenuhi hatinya.


"Ega." Lirih Eva lembut, sekarang Eva sudah berdiri didepan Ega. Ega tetap bergeming tidak bergerak.


"Ega sayang, lihat aku." Tetap tidak ada respon dari Ega.


"Hm.., Ega aku tidak marah sama kamu. Kenapa aku diam saja dan kenapa disekolah aku menghindar dari kamu itu karena aku tidak mau bertengkar sama kamu." Jelas Eva, Ega trenyuh mendengar jawaban Eva membuat rasa bersalahnya bertambah.


"Ega dengar aku," Eva menarik wajah Ega agar menatap matanya.


"Kamu tahu, orang yang dengan berani dan sabar berusaha membuatku bicara kepada orang lain adalah kak Dimas," meskipun dia sedikit gila, batin Eva.


"Orang yang memberikan kehangatan dihatiku yang beku ini sebelum kamu datang adalah tante Dila, dan orang yang membuatku tersenyum mengisi jiwa yang kosong sekaligus tak tergantikan adalah Ega Augustin Ahyner." Eva tersenyum manis, Ega menundukkan kembali wajahnya.


Eva sangat menyayanginya lebih dari yang dia tahu tapi apa... dirinya malah menyakiti hati saudari kembarnya, batin Ega. Eva berlutut didepan Ega lalu menatap mata coklat terang itu.


"Ini semua bukan gara-gara kamu, aku juga tidak iri sama kamu, dan yang jelas aku tidak marah sama kamu tidak bisa marah sama kamu." Eva menghembuskan nafas panjang.


"Kamu sangat berarti buat aku, aku akan melakukan apa pun buat kamu, jika kamu memintaku untuk menjauhi kak Dimas aku akan melakukannya." Eva sadar kalau Ega sedikit tidak suka dengan seniornya itu meskipun mereka belum pernah bertemu.


"Kalau aku mau kamu anggap ibu seperti kamu menganggap tante Dila bagaimana?." Eva bergeming sebentar lalu dia tersenyum manis.


"Kecuali itu, aku tidak bisa."


"Tapi Ayumi ibu kandung kamu bukan tante Dila." Ega sangat ingin memperbaiki hubungan ibunya dengan saudari kembarnya.


"Dia bukan ibuku." Eva lalu berdiri menghampiri tumpukan proposal yang hampir ia selesaikan.


Sedalam itu lukamu Yuki, batin Ega.


"Aku ingin membantu tapi aku tidak tahu apa yang tertulis disana." Ujar Ega menghampiri Eva.


"Sepertinya kamu perlu tambahan jam belajar." Goda Eva.


"Sungguh aku tidak menyukai itu tapi sepertinya kamu benar." Ucap Ega ikut melihat isi proposal yang tidak ia mengerti.


"Bagaimana kamu bisa bertahan dengan privat-privat yang menyiksa itu?." Tanya Ega mengingat setiap kelasnya.


"Karena tidak ada yang aku lakukan, lumayan untuk mengisi waktu luang." Ega tidak habis pikir.


"Tidak ada gunanya mengeluh sekarang, tidak ada gunanya juga memberontak sekarang." Ega terdiam mencerna ucapan Eva.


"Segala emosi yang ada dalam diriku sudah aku buang jauh-jauh sejak dulu, aku hanya melakukan semua ini hanya melakukannya dengan perjanjian tidak ada home schooling tidak ada akselerasi sampai nanti saat usiaku dua puluh tahun."


"Kenapa seperti itu? perjanjian itu merugikanmu." Ega sedikit kesal.


"Haha perjanjian itu malah sangat menguntungkanku." Jawab Eva disela tawanya.


"Kenapa bisa begitu?." Jawab Ega tidak terima.


"Kalau aku tidak setuju sudah lama aku menjadi tahanan rumah dan perusahan." Ega mengepalkan tangannya.


"Dengan bela dirimu kamu bisa memberontak Yuki." Ega menahan nada suaranya agar tetap tenang.


"Hei, kamu marah?." Eva berdiri dari duduknya berjinjit melingkarkan kedua lengannya ke leher Ega yang lebih tinggi dari dirinya. Pelukan hangat Eva membuat Ega sedikit rileks lengannya ia lingkarkan dipinggang adiknya.


"Aku tidak tahu harus marah kepada siapa." Lirih Ega didekat telinga Eva.


"Kamu tidak harus marah kepada siapa pun, ini semua sudah benang takdir keluarga kita." Ucap Eva mengelus lembut surai Ega.


"Bukankah takdir terlalu kejam kepada kita?." Ega menenggelamkan wajahnya di pundak Eva.


"Kamu salah Ega, kita sangat istimewa karena terpilih untuk menghadapi masalah besar seperti ini." Ega tersentak oleh jawaban Eva.


"Kita hanya bisa menjalani dan menghadapinya, berusaha semampu kita." Ega mempererat pelukkannya.


"Seharusnya aku yang lahir lebih dulu." Celetuk Eva, jari Ega menggelitik pinggang Eva membuat sang empu menggeliat.


"Hahaha Ega berhenti." Ega menghentikan aksinya menarik diri menatap manik biru itu.


Bahkan saat kamu berubah dewasa seperti ini aku tidak tahu, aku tidak tahu apa-apa tentangmu yang sekarang, yang aku lihat tetap Yuki manjaku, batin Ega. Eva tersenyum.


"Sudah tidur sana." Ucap Ega.


"Tidur bareng?." Eva tersenyum menampakkan deretan giginya, Ega yang gemas pun ikut tersenyum tangannya mengacak-acak surai Eva.


"Dasar manja."


Akhirnya mereka berakhir tidur di ranjang Eva, saling berhadapan Ega menepuk-nepuk pelan punggung tangan adiknya kebiasaan saat kecil dulu agar Eva cepat tidur benar saja baru beberapa kali tepukan Eva sudah jatuh ke alam mimpinya.


"Yuki maaf." Lirih Ega sebelum terjatuh tidur.


Sinar dari luar mengganggu tidur Eva ia menggeliat kecil.


"Sorry, who? (Maaf, siapa?)." Eva samar-samar mendengar sebuah suara.


"Hallo?." Eva membuka matanya melihat Ega sedang memegang ponselnya.


"Ega?." Lirih Eva bangkit untuk duduk.


"Maaf keganggu ya?." Ega menatap adiknya, rambut acak-acakkan muka bantal, ditambah nyawanya yang belum terkumpul, Ega tersenyum.


"Siapa?." Eva menunjuk ponselnya.


"Tidak tahu, disini tertulis Jun Ho si." Eva menaikan satu alisnya.


"Saat aku tanya pakai bahasa indonesia dia tidak menjawab jadi aku tanya pakai bahasa inggris tapi dia malah menjawab dengan bahasa yang tidak aku ketahui." Jelas Ega.


"Siapa dia?." Tanya Ega menatap Eva yang sedang menutup mulutnya, menguap. Eva menyandarkan tubuhnya ke samping tepatnya menyandar kepada Ega.


"Guruku, dia orang korea." Ega mengangguk paham tiba-tiba terbersit sesuatu dikepalanya.


"Kamu bisa berapa bahasa?." Tanya Ega melirik Eva yang sudah memejamkan mata lagi.


"Aku tidak tahu, aku malas menghitungnya." Ega mencubit hidung mancung Eva.


"Argh, Ega lepasin." Eva memukul-mukul pelan tangan Ega.


"Bangun muka bantal, nanti telat ke sekolah." Ujar Ega melepas tangannya dari hidung Eva.


Ega beranjak meninggalkan kamar Eva kembali ke kamarnya yang berada disebelah sedangkan Eva masih belum berniat meninggalkan tempat tidurnya. Zzz... zzz... zzz ponselnya bergetar tertera nama Jun Ho si di layar ponsel, Eva menempelkan ponselnya ditelinga.


"Hm."


"Yak! gadis nakal. Pagi-pagi kenapa suara laki-laki yang mengangkat ponselmu?. Kamu tidak terjerumus ke lubang hitam kan?." Teriak Jun Ho dari seberang.


"Apa kau kurang kerjaan Jun Ho si?." Jawab Eva datar.


"Jawab aku gadis nakal. Katakan kamu tidak melakukan hal yang tidak-tidak kan?." Suara Jun Ho histeris.


"Jun Ho si kamu harus segera mencari pasangan pikiranmu sangat kotor." Terdengar suara barang pecah dari seberang sana.


"Gadis nakal, katakan siapa laki-laki itu akan aku kasih pelajaran dia." Kata Jun Ho geram.


"Kau akan mati ditanganku jika menyentuhnya." Ucap Eva dingin.


"Yak! kenapa kau membelanya?. Apa yang sudah dia lakukan kepadamu sampai kamu menjadi seperti ini?." Eva menarik nafas panjang.


"Jun Ho si berhentilah histeris." Ucap Eva datar.


"Mian (Maaf), jadi... Siapa dia?." Tanya Jun Ho lebih tenang.


"Saudara kembarku." Jawab Eva. Hening.


"Aku harus sekolah sudah dulu." Eva hendak mematikan ponselnya tapi terdengar suara jeritan melengking dari ponselnya.


"Tungguuu!!!."


"Apa?." Jawab Eva menempelkan kembali ponselnya ditelinga.


"Kamu tidak bercanda kan?." Tanya Jun Ho ragu-ragu.


"Apakah candaanku lucu?." Tanya Eva balik.


"Ani (Tidak)."


"Kalau begitu aku tidak bercanda."


"Tapi," Eva memotong ucapan Jun Ho.


"Akan aku hubungi lagi kalau ada waktu sekarang aku harus sekolah." Jelas Eva memutuskan sambungan.


Eva beranjak dari tempat tidurnya membuka korden kamar menatap sebentar mentari pagi. Sudah lama aku tidak mengunjungi kamar rahasia, sepertinya beberapa waktu kedepan juga seperti itu, batin Eva. Eva melangkah masuk kedalam kamar mandi membersihkan dirinya bersiap-siap.


Di anak tangga Ega sudah siap dengan seragam lengkap Eva turun menghampirinya tapi tiba-tiba Ayumi dan Daren keluar dari kamar utama.


"Ega, ayo sarapan nak." Seru Ayumi menggandeng Ega untuk ikut dengannya.


"Ibu duluan saja ya sebentar lagi Ega nyusul." Ucap Ega, Ayumi melepas gandengannya berdiri memberi jarak sedikit karena Eva sudah dekat dengan Ega.


"Sarapan?." Tawar Ega. Eva menggeleng sambil tersenyum, setelah berdiri didepan Ega Eva mengecup pipi Ega sekilas.


"Aku berangkat dulu, pulangnya aku dengan om Ronggo jadi jangan tunggu aku." Selesai mengatakan itu Eva pergi meninggalkan Ega.


"Kita bisa pulang bersama." Seru Ega dari belakang.


"Aku akan pulang telat, kamu harus fokus belajar." Jawab Eva tak kalah seru.