Yuki

Yuki
Bab 45



Ega menunggu perintah selanjutnya dari kembaran yang sedang mengerjainya.


"Dikamarmu." Jawab Ega.


"Bisa kunci pintunya?, jendela kamar ada yang terbuka?." Tanya Eva.


"Aku sedang mengunci kamar. Tunggu, aku cek jendela dulu." Ucap Ega berjalan menuju jendela mengeceknya.


"Terkunci semua." Jawab Ega masih memegang nampan besar.


"Matikan lampu." Titah Eva.


"Hah? ini siang hari lampu sudah ma." Ega menghentikan ucapannya melihat lampu kamar yang masih menyala.


"Kenapa kamu tidak mematikannya?." Ega berjalan mematikan lampu.


Brak!.


Ega kaget, ia menoleh mencari asal suara.


Duk duk duk duk duk.


Ega terkejut dengan apa yang sedang ia lihat dan hampir menjatuhkan nampan ditangannya. Benda tipis gepeng berwarna silver berjatuhan dari langit-langit kamar menutup semua akses untuk keluar.


"Ap." Ega hendak bertanya namun ia urungkan karena tiba-tiba dari tujuh titik besi yang mengurung dirinya mengeluarkan cahaya merah saling menyilang menyambung membentuk sebuah sensor.


Ega melebarkan matanya saat sebuah sensor mendekat hendak menembus dirinya, Ega menahan nafas ia tidak bisa berkutik, dibelakangnya masih ada sensor yang bergerak kesana kemari saling menyambung.


"Apa kamu tidak apa-apa?." Ega menatap horor sensor yang berhenti tepat didepan perutnya.


"Ga?." Panggil Eva, tidak ada jawaban.


"Kamu ingin bunuh diri?, bernafaslah." Ucap Eva sedikit terkikik.


Ega mengerjapkan matanya beberapa kali lalu menghembuskan nafas secara kasar.


"Yuki..." Panggil Ega lirih.


"Hm, sekarang berjalan ke arah yang tidak terkena sensor." Ega melirik ke kanan kiri mencari, ada sebuah jalan lurus disebelah kirinya yang tidak terkena sensor, Ega berjalan menyebrang berhenti didepan rak buku.


"Dirak kedua dari bawah ada judul buku yang tertulis dengan tinta warna putih pada pinggir buku, dorong buku itu lalu tarik." Ega berjongkok melakukan yang diperintah kembarannya.


Ega meneliti setiap buku dibaris rak kedua dari bawah, ia menemukan sebuah buku tipis dengan judul pendek dan tinta yang tipis pula berwarna putih. Tangannya terulur mendorong pelan buku lalu menariknya kembali.


Grek.


Ega terduduk kebelakang karena terkejut untung makanan dinampan tidak jatuh berceceran ia mendongak keatas, rak buku tinggi dan cukup besar itu bergerak pelan lalu berhenti disudut sembilan puluh derajat. Ega melihat sebuah lorong di belakang rak buku.


"Apa kamu mau duduk terus disana?." Ega terkejut dengan suara Eva ditelinganya.


"Apa kamu melihatku?." Tanya balik Ega.


"Sejak tadi aku juga melihatmu, ayo berdiri dan masuklah." Ega melirik ponselnya dia tidak melakukan panggilan video, Ega menyapu isi kamar mencari kamera cctv.


"Aku memasangnya ditempat tersembunyi." Kata Eva menjawab isi pikiran saudara kembarnya.


"Hmm." Ega berjalan masuk melewati rak buku berhenti didepan pintu berwarna hitam.


"Katakan kill me." Ucap Eva, Ega menaikan satu alisnya namun ia tetap menurut.


"Kill me."


Cetak!. Titik bulat muncul ditengah-tengah pintu.


Sreeettt... Dua buah garis muncul diatas dan dibawah titik bulat itu bergerak membentuk sebuah lingkaran, terus bergerak zig zag keatas dan kebawah.


Wush.


Angin kecil menghantam wajah Ega saat pintu terbelah menjadi dua menampakan cahaya terang dari ujung lorong sana. Ega perlahan memasuki lorong.


Wush. Sret.


Ega menoleh kebelakang melihat pintu masuk tadi sudah menutup kembali, ia melanjutkan langkahnya. Pupil Ega menangkap sebuah balkon kecil berwarna hitam diujung lorong, ia mulai bisa melihat pemandangan didepan.


Ega keluar dari lorong berhenti di balkon kecil, ia menatap takjub dengan pemandangan didepannya. Ruangan bercat hitam dan putih yang megah dengan ukiran tata surya beserta meteoroid, benda-benda mikroskopik terkecil yang mengorbit matahari hingga benda kecil tata surya lainnya terukir dengan sangat rinci. Aroma oli, kabel terbakar, dan beberapa bahan-bahan kimia menyeruak masuk kedalam hidung Ega.


"Youkoso, Yuki no Sekaide (Selamat datang, didunia Yuki)." Suara Eva mengalun indah ditelinga Ega, ia menatap kebawah melihat adiknya sedang mendongak menatapnya lembut dengan ceria dan senyum merekah. Ega kehilangan kata-kata.


"Oide... (Kemarilah)." Ucap Eva lalu mematikan sambungan mereka. Ega menatap tangga disampingnya ia berjalan dengan hati-hati setelah memasukkan ponselnya kedalam saku celana seragam sekolahnya.


Eva berjalan riang menghampiri Ega mengambil alih nampan besar itu dari tangan saudaranya.


"Terima kasih." Eva membawa nampan meletakkannya diatas meja sofa mengambil beberapa makanan lalu melahapnya.


Ega berjalan menatap setiap ukiran disana. Disebelah ukiran tata surya ada ukiran dasar laut lengkap dengan penghuninya sampai ukiran untuk mengkaji gaya yang terjadi dilaut beserta gerakannya atau bisa disebut oseanografi fisik dan biologi laut atau oseanografi biologi terukir rapih, bahkan ukiran sungai didasar laut dan fenomena-fenomena alam yang terjadi didalam laut lainnya.


Ega bergeser kesamping melihat ada unsur kimia terukir juga disana, dan terakhir sebuah ukiran burung hantu raksasa berwarna putih sedang terbang mencengkeram bola dunia dengan kedua kaki besarnya.


Ega menelan salivanya susah payah, ia menurunkan pandangannya dan melihat dua komputer dimeja yang tidak jauh darinya berdiri, Ega melangkah mendekati meja mengintip layar komputer, satu komputer menampilkan seisi rumah mereka satunya lagi sebuah gedung dimana ia pernah ditahan dan tumbuh besar disana.


"Yuki?." Ega menoleh cepat kearah adiknya yang sedang santai menyantap makanan.


"Aku sempat menyadap kamera keamanan mereka untuk berjaga-jaga jika ada yang kembali kesana, Fitri misalnya." Jawab Eva enteng. Ega menghembuskan nafas berat ia melirik bingkai foto yang terletak disamping kiri komputer.


Ega meraih bingkai itu ia menatap sendu wajah didalam foto.


"Hanya satu foto itu yang aku miliki." Ega meletakkan kembali bingkai foto ditempatnya semula berjalan duduk diseberang Eva.


"Ega." Eva meminum lemon tea dan mengelap bibirnya dengan tisu.


"Hm." Ega mengambil cemilan dari nampan lalu memakannya.


"Apa kamu ingat saat kita masih kecil?, sebelum kita berpisah." Tanya Eva.


"Tidak." Jawab Ega, Eva berpikir sebentar.


"Bisa jelaskan semua ini?." Ega memutar jari telunjuknya. Eva merapihkan anak rambut yang sedikit berantakan.


"Mau dari mana?." Ucap Eva.


"Dari awal." Jawab Ega, Eva menyentuh leher bagian depannya bersiap menjelaskan.


"Aku merancang ruangan ini saat berusia tujuh tahun, memilih jenis bahan-bahan yang diperlukan hingga memilih para pekerjanya sendiri." Ega mengerutkan dahinya.


"Apa kamu pikir aku sedang mendongeng?." Melihat raut wajah Ega yang tidak percaya membuat Eva sedikit terkikik didalam hati.


"Terdengar mustahil ditelinga tapi karena aku percaya kamu tidak akan berbohong kepadaku jadi lanjutkan." Ujar Ega, Eva mengangguk.


"Aku ingin memiliki ruanganku sendiri dimana aku bisa dengan bebas melakukan hal yang aku sukai tanpa ada yang mengawasiku." Ega fokus mendengarkan.


"Ini berawal ketika aku duduk dibangku kelas satu sekolah dasar semester kedua, satu tahun lebih muda dari usiaku merancang ruangan ini." Eva kembali mengingat masa-masa kecilnya.


"Aku bersekolah di sekolah dasar international disana juga terdapat sekolah menengah pertama dan menengah atas dengan gedung yang terpisah. Disana anak-anak kelas satu sd pada awal semester kedua harus mengamati, melihat, apa yang siswa smp lakukan didalam kelas, sayangnya saat rombongan kelas satu melakukan kunjungan ke gedung smp aku tidak berangkat selama satu minggu." Eva mengingat hari-hari menyakitkan dimana ia terbaring lemah diatas ranjangnya dengan luka lebam dan kedua sudut bibir yang robek belum lagi tubuh kecilnya yang belum kuat menahan semua rasa sakit itu.


"Di minggu berikutnya aku ditemani oleh guru wali kelas untuk mengunjungi gedung smp, kelas yang guru pilihkan saat itu sedang melakukan praktek diruang laboratorium. Aku masuk dan melihat mereka dari depan kelas." Tidak terasa Eva sedikit menarik kedua sudut bibirnya.


"Aku melihat mereka sedang mengamati sebuah daun yang ada dimeja masing-masing sambil mendengarkan penjelasan dari guru, ada yang menarik perhatianku. Berderet-deret tabung kecil dengan cairan berwarna-warni tertata rapih dirak samping kelas, aku bertanya kepada guru wali kelas cairan apa itu dan ia menjawab itu adalah zat-zat kimia, berikutnya aku kembali mengamati kelas, sedikit ikut mendengarkan penjelasan guru smp sambil mencuri pandang daun siswa yang duduk di paling depan." Ega mendengarkan dengan baik.


"Setelah hari itu aku selalu teringat tabung warna-warni yang ada dilaborat, tanganku terasa gatal jika mengingatnya, disela-sela jadwal privat yang tiba-tiba menumpuk itu aku meminta salah satu guru ipa untuk menjelaskan tentang cairan itu, penjelasan darinya tidak cukup bagiku, aku meminta om Ronggo membawaku dihari minggu ke toko buku." Eva menatap Ega.


"Bagaimana dengan toko mainan, apa kamu juga banyak membelinya?." Tanya Ega.


"Tidak satu pun, waktu bermainku berhenti di dua minggu sebelumnya." Eva mengibaskan tangannya seperti mengusir sesuatu.


"Aku mempelajari semuanya disela-sela waktu luang, delapan bulan berikutnya aku merancang ruangan ini seperti yang aku katakan diawal tadi sampai ke detailnya. Kendalanya adalah para pelayan dan pengawal, aku kembali membeli buku yang aku butuhkan mempelajarinya setelah itu membuatnya." Ega mulai curiga.


"Dijam istirahat aku berlari ke gedung smp mengendap-endap masuk kedalam ruang laboratorium meminjam ruangan itu untuk mencoba eksperimen pertamaku, dan aku menyelesaikannya dalam waktu tiga bulan waktu yang sangat lama." Eva memanyunkan bibirnya merasa sedikit kesal.


"Kemudian aku menguji cobanya dengan serangga, hewan mamalia, hingga reptil, setelah dirasa berhasil aku membuat sebanyak-banyaknya." Eva menengguk lemon teanya.


"Apa tidak ada yang memergokimu?." Tanya Ega.


"Tentu saja tidak ada, aku melakukannya dengan sangat rapih, cepat, dan hati-hati." Ega mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Aku membawa pulang hasil eksperimen, membeli semua barang-barang yang aku butuhkan dan menunggu waktu yang tepat untuk melancarkan rencanaku. Black Card yang ayah berikan memudahkan semuanya." Eva tersenyum kecil.


"Setelah dirasa waktunya sudah tepat aku langsung melakukan aksiku, menghubungi para pekerja memberikan mereka batas waktu yang aku inginkan daaana .., jadi!." Ucap Eva riang.


"Apa yang kamu lakukan kepada semua orang dirumah?." Tanya Ega.


"Kamu ingat bagaimana caramu melawan Burhan dan anak buahnya." Tanya balik Eva.


"Iya aku ingat, dengan jarum yang kamu berikan." Ega mulai berpikir.


"Bukankah sudah kukatakan aku sudah mengujinya." Ega menatap Eva tidak percaya.


"Kamu mengujinya kepada mereka?." Eva tersenyum manis.


"Bagaimana jika itu tidak berhasil dan mereka terbunuh?." Sergah Ega.


"Aku sudah mempertimbangkan dari hal terbesar sampai yang paling terkecil saat membuatnya dan itu tidak akan membunuh siapa pun, yah meski ada sedikit diluar perhitungan." Ega bersedekap menatap Eva.


"Apa itu?." Tanya Ega.


"Mereka pingsan terlalu lama, tiga minggu empat hari, padahal pembangunan hanya membutuhkan waktu dua minggu." Jelas Eva.


"Apa yang terjadi kepada mereka saat bangun?." Eva mengingat-ingat.


"Tentu saja mereka kaget dan bingung, mereka kira baru saja tertidur tapi waktu sudah berlalu hampir satu bulan tanpa ada yang bisa menjelaskan, rumah juga tidak terasa janggal." Ega menghembuskan nafas berat.


"Dimana ayah?." Eva memutar bola matanya.


"Ayah hampir satu tahun sekali baru pulang dan jangan tanyakan wanita itu karena dia lebih buruk." Eva memperingatkan Ega.


"Bagaimana dengan privatmu?." Eva mengambil satu cemilan dari nampan.


"Tetap berlanjut seperti biasa, mereka tidak ingin bertanya banyak kepada gadis murung sepertiku." Eva memasukkan cemilan kedalam mulut.


"Para pekerja juga yang membuat pintu tersembunyi itu?." Eva menggeleng.


"Mereka hanya membuat pintu biasa dan lorong di depan sana, sisanya aku yang memodifikasi ruanganku, aku menemukan hal baru yang aku sukai saat melihat para pekerja melakukan pekerjaan mereka." Eva tersenyum lebar.


"Sudah aku jelaskan semuanya." Eva menengguk minumannya menyisakan botol kosong.


"Bagaimana dengan ukiran-ukiran diatas sana." Ega menoleh untuk menatap deretan lukisan menakjubkan itu.


"Aku melukis apa yang ada didalam kepalaku." Jawab Eva.


"Itu sangat tinggi, bagaimana kamu bisa sampai disana?." Ega tidak melihat ada alat bantu untuk sampai diketinggian itu.


"Karena aku tidak punya sayap jadi aku menggunakan tangga." Ega melebarkan matanya mendengar candaan Eva.


"Ahaha kamu tidak percaya, kemarilah." Eva berdiri melangkah menuju meja komputer, berjongkok mengambil sebuah kotak seukuran kardus kecil meletakkannya ditengah ruangan. Ega mendekat memperhatikan.


"Begini caranya."


Eva menaiki kotak itu, jari kaki kanannya bergerak membentuk pola.


Ddzzzzss.


Dari empat sisi kotak keluar besi-besi panjang disusul dari tengah kotak empat besi panjang, mereka saling menyatu mengelilingi kaki Eva sampai ke pinggangnya.


Ddzzzss.


Sisi kotak bagian depan terangkat naik berhenti didepan pinggang Eva.


Sret.


Bagian atas sisi kotak itu terbuka kedepan membentuk sebuah tatakan kecil. Ega takjub dengan benda itu padahal ia sudah terkagum-kagum dengan ruangan ini tapi ternyata dia terlalu cepat merasa kagum dan takjub.


"Ini tangga buatanku." Eva tersenyum kecil melihat reaksi Ega.


"Akan aku jelaskan caranya. Meja kecil ini untuk meletakkan alat-alat yang diperlukan untuk melukis karena ada perekatnya disini, membuat benda tidak gampang jatuh." Eva memperlihatkan perekat berwarna coklat gelap itu dengan tangannya yang ia tempelkan.


"Kamu mau coba?." Tanya Eva, Ega mendekat mengulurkan tangannya ragu-ragu, Eva menarik tangan Ega menempelkannya ke tatakan itu, Ega merasakan kenyal ditelapak tangannya.


"Coba gerakkan tanganmu." Ega mencoba menjauhkan tangannya namun meja itu sangat lengket tangannya kembali tertarik. Eva tertawa puas.


"Angkat lima jarimu lebih dulu baru bagian bawah tanganmu." Ega melakukannya sesuai instruksi dan .., lepas, tangannya sudah bebas dari benda kenyal dan lengket itu.


"Bukankah ini menarik?." Eva tersenyum senang ia menekan kedua kaki bagian depannya kedalam kotak.


Cetik!.


Ddzzzsss.


Tubuh Eva terangkat naik bersama dengan sisi kotak seperti meja itu, besi-besi terulur naik terus memanjang.


"Aku menyukai benda ini !." Seru Eva dari atas sana.


Benda itu berhenti memanjang, Eva memutar tubuhnya kebelakang, roda kotak dibawahnya pun ikut berputar, sejak kapan kotak itu mengeluarkan roda?, batin Ega.


Eva menikmati dirinya diatas sana bergerak kesana-kemari naik-turun tanpa merasa takut, Ega masih terkejut, jantungnya berdegup tidak beraturan.


Ddzzzss.


Eva turun mendekati Ega dengan kotaknya, kini ujung jari kaki sebelah kiri Eva bergerak membentuk sebuah pola membuat besi-besi panjang itu menjauh darinya kembali menjadi kotak biasa.


"Kamu mau coba?." Tawar Eva yang dijawab dengan gelengan kuat, Eva tertawa seraya menggendong kotak mengembalikannya ke bawah meja.


"Ada banyak yang ingin aku tunjukkan kepadamu, ayo." Eva menarik lengan Ega ke sisi lain tembok menunjukkan dua buah tabung besar diatas podium kecil. Bola mata Ega membulat sempurna, bagaimana bisa aku tidak melihat benda sebesar ini, batin Ega. Ia terlalu fokus dengan ukiran-ukiran besar yang sangat apik disisi tembok yang lain


"Keduanya seragam hobiku." Jelas Eva, Ega melihat dua seragam itu secara bergantian.


"Yang hitam bukannya yang kamu pakai malam itu?." Ega mengingat baju Eva saat menyusup mencarinya.


"Betul, itu juga bisa digunakan saat aku melakukan eksperimen dengan mesin-mesinku." Jelas Eva.


Mesin?, batin Ega.


"Ayo sini." Eva menarik kuat tangan Ega menuju pintu hitam disebelah kanan. Ega terpaku cukup lama, ia menoleh melirik pintu disebelah kiri yang berwarna putih lalu kembali menatap pintu didepannya, ia kembali terkejut karena pintu polos tadi kini tiba-tiba memunculkan sebuah hologram kecil. Ega menoleh menatap adiknya yang sedang melakukan scan dengan hologram itu.


Pintu bergeser Eva langsung menarik Ega masuk. Aroma oli, kabel terbakar, dan beberapa bahan-bahan kimia yang Ega cium tadi ternyata berasal dari ruangan itu. Ega bergeming ditempatnya, seluruh bulu kuduknya merinding dari atas sampai ke bawah, bola mata Ega tidak berkedip melihat pemandangan dihadapannya.


"Welcome to my best room (Selamat datang diruangan terbaikku)." Ucap Eva riang.