
"Anda sangat luar biasa nona kami sampai kerepotan melawan anda." Puji ketua pasukan.
"Besok pagi-pagi buta kita lanjutkan latihannya. Untuk sekarang sudah cukup, jangan lupa lakukan pendinginan." Jelas ketua pasukan. Kami mengangguk serempak.
Keringat membasahi seluruh tubuh Eva gadis itu merasakan tubuhnya sangat lengket. Eva membawa kakinya menaiki tangga menuju ke kamar.
"Cucu nenek kok mirip kucing habis jatuh dari got? basah begitu?." Nenek menatap Eva dari lantai bawah.
"Komandan semakin hari tambah seram nek, latihan sore saja sudah begini, besok pagi-pagi harus latihan lagi." Eva menunjuk kaos coklat yang basah karena keringat.
"Sudah sana mandi, setelah itu langsung turun bantuin nenek merajut." Eva tersenyum, ia suka belajar merajut dari neneknya.
"Um. Eva mandi dulu." Eva melangkah masuk kedalam kamar.
Eva turun menggunakan rok mini dan kaos pendek. Menghampiri nenek diruang tengah.
"Waah cucu siapa ini cantik sekali?." Goda nenek. Eva hanya memanyunkan bibir.
"Mau ngedate non?." Nenek semakin gencar menggoda Eva.
"Pasti pacarnya kangen nih." Nenek mengedipkan satu matanya. Eva mengambil hasil rajutan yang belum ia selesaikan.
"Nek mending ceritain tentang Ega, Eva penasaran." Pinta Eva menghentikan godaan nenek. Nenek berpikir sebentar.
"Ega, sejak kecil juga sudah belajar bela diri dari kakek, Ega juga cerdas, sabar, dan tidak keras kepala sepertimu." Eva tersenyum kecil, tangannya mulai merajut.
"Terus nek?."
"Ega anak yang perhatian, dia membawa kehangatan, dan mudah bergaul."
"Nggak seperti Eva." Lirih gadis itu.
"Tidak juga, dulu Eva juga gadis yang lucu, manja, dan yang masih sama sampai sekarang adalah..."
"Adalah?." Eva menatap nenek, menunggu.
"Sama-sama nakal hahaha." Tawa nenek pecah, Eva ikut tersenyum. Itu dulu nek, mungkin, batin eva.
Sore itu mereka habiskan untuk merajut. Malam harinya ada kursus fisika selama dua jam. Setelah itu Eva berkutat memikirkan teka-teki dari kakeknya.
Jam setengah lima pagi Eva dan para pengawal lainnya sudah berkumpul dihalaman belakang rumah nenek. Menu latihan masih sama seperti kemarin siang.
Eva dikeroyok dua puluh orang tinggi besar parahnya lagi semua penerangan dimatikan kata ketua pasukan agar Eva belajar menggunakan indra perasa yang ia miliki.
Gila nggak tuh ternyata ketua pasukan lebih parah dari master Takehara di jakarta tapi Eva tetap mematuhinya. Kali ini Eva sudah siap dengan semua serangan dan berusaha melawan balik.
Sunyi, gelap.
Bak! Buk! Sret!.
Aargh!! Buk!.
Entah sudah berapa lama mereka saling menyerang. Keringat mengucur deras. Tidak Eva sangka mereka juga pandai menyerang dalam kegelapan.
Eva berkonsentrasi, mengendap, mengambil arah yang tidak mereka sangka dan... Buk! Eva meninju perut salah satu dari mereka. Sret! Eva menariknya dan membanting tubuh kekar itu ke tanah. Buk!. Mereka mengetahui keberadaan Eva dan langsung berlari menyerang.
Sial, batin eva.
Bak! Buk! Sret!.
Perlawanan sengit sedang Eva hadapi. Gelap bukan apa-apa bagiku, batin eva menyeringai.
Orang-orang dihalaman itu sangat fokus dan menikmati setiap perlawanan yang saling mereka berikan hingga tidak sadar secercah cahaya menyembul dari arah timur. Sang mentari mulai menampakkan wujudnya bola mata Eva tertuju kepada fenomena indah itu.
Satu pukulan hampir saja mengenai perut kecilnya. Eva kembali berkonsentrasi namun tiba-tiba ada yang menarik baju belakangnya alhasil sukses membanting tubuh Eva. Punggung gadis itu menghantam tanah dengan keras, saat itulah Eva melihat sinar matahari pagi menerobos...
Pikiran Eva tiba-tiba teringat akan sesuatu.
Surat itu!, jerit Eva dalam hati.
Secepat kilat Eva bangkit lalu melumpuhkan orang yang membantingnya tadi dan segera berlari mengejar cahaya itu.
Aku tidak boleh kehilangan kesempatan ini, batin Eva tetap dalam larinya.
Eva berlari memasuki rumah nenek dan berhenti dilantai dua tapi cahaya yang ia kejar tidak masuk ke lantai dua. Eva memutuskan berlari menuju jendela besar dilantai dua itu, mengintip dari jendela mencari cahaya tersebut.
Ya ampun. Loteng!, seru Eva. Cahaya itu masuk ke loteng.
Cepat-cepat Eva kembali berlari menuju anak tangga kecil, merangkak menaikinya. Ingatan Eva melayang kepada tulisan terakhir dari surat kakek, teka-teki itu.
"Ketika cahaya timur, itu artinya cahaya matahari terbit dari arah timur," gumam Eva.
"Menembus menara, yaitu loteng rumah nenek sendiri." Eva sudah sampai diloteng dan disambut sinar matahari yang langsung membungkus tubuhnya. Tunggu dulu, apa maksud dari 'senyum manis mengalahkan segalanya?', batin Eva.
Bola mata Eva menelusuri sampai ke sudut-sudut semua barang-barang yang tersimpan diloteng. Ia melihat banyak peti, buku-buku, dan barang-barang antik lainnya. Eva melangkah menuju salah satu peti paling besar. Ada gembok yang menggantung disana. Jemari Eva menelusuri pinggiran peti yang terukir indah. Eva baru menyadari sesuatu bahwa cahaya itu hanya menyinari kain lusuh yang menggantung ditembok. Pelan-pelan Eva menarik kain lusuh itu. Terlihat sebuah lukisan gadis cantik yang sedang tersenyum.
"Inikah?!" seru Eva. Eva mengulangi pesan itu lagi.
"Ketika mentari timur menembus menara, senyum manis mengalahkan segalanya, terlihat jelas ukiran permata."
Mata Eva menangkap sesuatu disudut kanan bawah lukisan itu. Ada permata berukiran burung elang, jemari lentik Eva menjelajahi ukiran burung elang tersebut.
Ada yang aneh, batin eva.
Eva mencoba menekan ukiran burung elang tetapi tidak terjadi apa-apa, ia mencoba cara lain, jarinya mencoba menggeser burung elang dan hasilnya pun tetap nihil.
"Kalau diputar." Gumam Eva. Tangannya memutar burung elang searah jarum jam hasilnya tetap sama, nihil. Eva berpikir sebentar. Ia mencoba memutarnya lagi tapi kali ini berlawanan dengan arah jarum jam.
Klik!.
Lukisan itu sedikit terbuka. Eva melangkah mundur menghindari lukisan yang bergerak terbuka, lukisan yang cukup besar itu.
"Berangkas." Eva menaikan satu alisnya.
Dibalik lukisan ada berangkas hitam. Tombol sandinya bukan angka yang biasa berangkas-berangkas lain miliki. Ini menggunakan huruf alfabet. Eva langsung terpikirkan sesuatu yang mungkin akan berhasil untuk membuka berangkas. Segera tangannya menekan tombol-tombol berangkas.
O W L
Klik!.
Eva tersenyum, sesuai dugaan, batin Eva.
"Kakek kau yang terbaik."
Didalamnya hanya ada selembar amplop, Eva menutup kembali berangkas dan menutupi lukisan seperti semula dengan kain lusuh tadi.
Diruang tamu Eva membuka isi amplop coklat itu. Surat lagi, batin eva. Dan ada dua buah peta, Eva memilih untuk membaca surat yang lumayan tebal itu lebih dulu.
Eva, kakek yakin pasti kamu bisa menemukan amplop ini. Kamu juga bingung dengan semua yang sedang kamu hadapi sekarang bukan? tapi tetap saja kamu berusaha mengikuti petunjuk dari kakek.
Maafkan kakek va.
Awal mula dari semua ini adalah dulu saat usia kakek masih remaja 16 tahun, kakek senang sekali berpetualang mencari sesuatu yang dianggap orang tidak ada, mustahil, dan berbahaya.
Suatu hari kakek menguji diri sendiri. Seberapa dalam kakek bisa menyelam, disanalah didasar laut diantara dua tebing, kakek menemukan sesuatu yang sangat luar biasa. Kakek mengumpulkan sedikit demi sedikit sampai terkumpul lalu menyimpannya. Kakek sembunyikan ditempat rahasia, hanya kakek yang tahu tempat itu.
Genap 24 tahun kakek bergabung dalam organisasi mafia jepang hanya selama 1 tahun, kemudian kakek memutuskan meninggalkan organisasi karena kakek bertemu dan jatuh hati kepada nenekmu. Keluarga kakek sangat bahagia saat itu namun kakek tidak menduga musuh kakek saat masih menjadi anggota mafia datang kembali.
Mereka mencari sesuatu dari kakek. Mereka tidak menginginkan uang, emas, atau pun perusahaan-perusahaan kakek. Mereka mencari sesuatu yang jauh lebih berharga dari itu semua yaitu sesuatu yang kakek ambil dari dasar laut diantara dua tebing dulu.
Rupanya mereka dulu juga mencarinya namun kakek lah yang menemukannya terlebih dahulu. Kekhawatiran kakek pun terjadi, mereka mulai mencurigai kakek. Selama bertahun-tahun kakek menyembunyikannya dan berusaha menghentikan mereka.
Saat Ayumi berusia 17 tahun kakek menawarkan untuk memberikannya kepada ayumi tapi ditolaknya mentah-mentah. Kakek sangat kecewa saat itu, dan kakek tetap berusaha membujuk Ayumi untuk mau menerimanya. Tapi Ayumi tetap keras kepala tidak mau menerimanya.
Anak semata wayang kakek menolak mentah-mentah jerih payah kakek, karena itu kakek putuskan mewariskannya kepada cucu-cucu kakek. Nenekmu pasti sudah menjelaskan kenapa kalian dipisahkan bukan, selain untuk melindungi kalian masih ada alasan lain, kalian adalah kunci dari warisan.
Kalian tidak boleh bersama jika kalian bersama mereka akan dengan mudah menemukan warisan itu dan menghancurkan keluarga kita itulah alasan kenapa kakek memisahkan kalian. Kamu sudah menemukan surat ini jadi sekarang sudah waktunya kamu menemukan warisan itu...
Temukan kakakmu, mereka tidak akan membunuh kakakmu karena dia terlalu berharga.
Mereka juga tidak tahu kalau kalian adalah kembar.
Ikuti kedua peta itu, oh iya kakek hampir lupa.
Carilah samurai kecil yang disimpan oleh sahabat kakek (peta biru).
Semoga kalian berhasil, berhati-hatilah.
Maafkan kakek, semoga kalian tidak membenci kakek.
Maaf.
Cucu-cucuku.*
Kakek, Eva tidak akan mengecewakan kakek, batin Eva. Saudara? aku memiliki saudara, apakah ini yang dinamakan rindu?, ujar Eva memegang dadanya. Satu tetes air mata lolos dari mata birunya.
Eva mengambil kedua peta. Satu berwarna kuning dan satunya lagi berwarna biru. Dengan seksama mata biru Eva menjelajahi peta berwarna kuning. Ini pasti tempat dimana Ega berada, batin Eva. Eva beralih menelusuri peta berwarna biru.
I ini tidak mungkin! batin Eva terbelalak kaget.
"Eva kamu sudah sarapan?." Lusi menghampiri cucunya pelan, tiba-tiba ide itu bermunculan didalam kepala Eva.
"Nenek Eva butuh bantuan nenek kita harus ke jakarta dua hari lagi."
"Kenapa tiba-tiba sekali?." Tanya Lusi. Eva menyimpan kembali surat dan peta kedalam amplop coklat.
"Nek, Eva butuh banyak barang." Bukannya menjawab Lusi Eva malah sibuk mencari kertas dan bolpoin di dalam nakas dekat sofa.
"Nenek mengerti tapi sekarang kita makan dulu, ayo." Ucap Lusi memperhatikan cucunya.
"Eva harus mencatat semua barang-barang yang Eva butuhkan." Eva tidak mengindahkan Lusi.
"Eva, apa kamu lupa tata krama nak?." Tanya Lusi dengan suara lembut yang berwibawa, Eva yang mendengarnya sontak menghentikan kesibukannya memperbaiki postur tubuh agar sempurna. Membungkuk sopan.
"Maaf atas ketidak sopanan Eva." Lusi mengangguk singkat.
"Sekarang kita ke ruang makan." Eva membungkuk sebentar lalu mengikuti Lusi ke ruang makan.
Setelah menyelesaikan ritual sarapannya Eva mengeluarkan kertas dan bolpoin menulis sederet barang yang dia butuhkan.
"Apa yang kamu rencanakan?." Tanya Lusi.
"Aku akan menjemputnya nek." Eva selesai menulis daftar barang yang dibutuhkan memberikannya kepada Lusi.
"Bolehkah Eva meminta semua barang itu?." Tanya Eva penuh harap.
"Bawa ketua pasukan untuk menemanimu." Lusi meneliti daftar barang yang diminta cucunya.
"Untuk apa semua ini?." Lusi menatap Eva bingung.
"Tidak nek, Eva harus pergi sendiri. Eva membutuhkannya untuk membuat sesuatu."
Negosiasi yang cukup panjang dilakukan oleh nenek dan cucu itu sampai akhirnya Eva bisa meyakinkan Lusi. Hari ini sama dengan hari kemarin Eva mengurung dirinya didalam kamar berkutat dengan eksperimen barunya gadis itu tidak sekali pun meninggalkan kamarnya.
"Eva, makan siang dulu nak." Lusi masuk kedalam kamar Eva bersama seorang pelayan yang membawa nampan makanan. Lusi melihat cucunya sangat fokus dengan komputer dan kabel-kabel serta alat-alat yang tidak Lusi pahami kegunaannya.
"Letakan disana lalu keluarlah." Perintah Lusi kepada pelayannya, dengan patuh pelayan itu meninggalkan kamar. Tersenyum melihat betapa memesonanya cucu kecil yang sudah tumbuh besar itu sedang fokus dengan benda kecil ditangannya. Lusi menghampiri Eva memegang kedua pundak cucunya dari belakang.
"Apakah cucu cantik nenek ini sudah memiliki kekasih hati?." Eva yang sudah menyadari kehadiran Lusi sejak tadi tidak terkejut dengan pertanyaan random yang biasa neneknya lontarkan.
"Tidak ada waktu untuk itu nek." Lirih Eva masih berkutat dengan kesibukannya.
"Nenek akan bicara dengan ayahmu untuk mengurangi semua jadwalmu bagaimana?." Lusi sedikit memiringkan kepalanya agar bisa melihat wajah cucunya.
"Ide yang buruk." Lusi menautkan alisnya.
"Kenapa?."
"Ayah akan mengganti jadwalku dengan jadwal pekerjaannya." Lusi menarik sebelah pipi Eva.
"Nenek pastikan itu tidak akan terjadi."
"Hm."
"Jadi? tidak adakah pangeran yang mencoba mendekati putri beku ini?." Eva memutar bola matanya.
"Ada." Jawab Eva malas tapi tidak denga Lusi yang tersenyum puas.
"Siapa?." Tanya Lusi tidak sabar.
"Pangeran gila, haha." Eva tertawa melihat respon Lusi yang cemberut.
"Gadis nakal, nenek doain kamu beneran suka sama pangeran gila itu." Lusi mencubit kembali pipi Eva.
"Hahaha, sudah jadi." Ucap Eva ditengah suara tawanya.
Lusi menjauhkan tangannya dari pipi Eva berjalan ke sofa dikamar itu.
"Baiklah, waktunya makan." Eva mengikuti Lusi dan duduk di seberang neneknya memberikan benda yang baru selesai ia buat kepada sang nenek lalu mengelap tangannya dengan tisu basah dan mulai menikmati makanan yang pelayan tadi bawa.
"Benda apa ini?." Tanya Lusi meneliti setiap inci benda kotak kecil berwarna hitam dengan sebuah kabel kecil dan tombol hijau di tengahnya.
"Penyadap." Jawab Eva santai. Lusi menatap Eva lekat.
"Untuk apa?." Dia bisa membuat benda seperti ini?, batin Lusi.
"Untuk mengambil barang yang aku butuhkan nanti nek."
***
Tepat pukul 7 malam wanita tua dan seorang remaja tiba di jakarta.
"Pak berhenti." Ucap datar remaja itu kepada sopir mobil.
"Nek kita ketemu disini empat jam lagi, semoga berhasil."
Eva segera membuka daun pintu mobil dan berlari menuju keramaian.
Tuut..tuut..tuuut...
"Halo?." Eva menarik nafas berat mendengar suara dari seberang telepon wartel itu.
"Waktuku hanya sedikit, kamu cepat ke pasar malam didekat sekolah sekarang. Bawa juga kak Dimas," hening cukup lama.
"Paham?." Masih hening.
"Bodoh waktuku berkurang banyak dengan pembicaraan omong kosong ini." Saat Eva hendak menutup telepon terdengar suara dari seberang.
"Eva?." Eva menempelkan kembali gagang telepon ke daun telinga.
"Cepatlah." Gadis itu langsung menutup telepon seraya berdiri membayar biaya teleponnya. Ia menutupi wajahnya dengan tudung jumper hitam yang ia kenakan. Mencoba membaur dengan keramaian. Mencari tempat aman untuk bersembunyi.
Disamping penjual balon yang agak sepi Eva berdiri menatap keramaian pasar malam. 20 menit berlalu entah sudah berapa kali Eva melirik pintu masuk pasar malam menunggu. Disana dari kejahuan terlihat dua remaja sedang sibuk mencari-cari sesuatu. Bibir manis Eva tersenyum lebar tanpa berpikir lagi ia berlari kearah mereka.
Mata biru itu tertuju kepada satu orang. Mereka tidak sadar akan kehadiran gadis itu sampai akhirnya Eva menabrak dan memeluk orang itu erat.
"Ya ampun!. Eva kamu mengagetkanku." Protes Dimas.
Tidak Eva hiraukan protes dari Dimas, ia mempererat pelukannya. Fathur bergeming menatap dua sejoli itu. Dimas membalas pelukan gadis yang selama ini membuatnya khawatir.
"Aku sangat merindukanmu." Lirih Dimas.
Lama mereka hanya berpelukan dalam diam. Eva tidak tahu apa yang ia rasakan kepada Dimas. Apakah ia menyukai Dimas? atau hanya sebatas teman yang menganggapnya ada. Eva melepas pelukannya menatap mata Dimas yang penuh rindu juga kekhawatiran.
"Benarkah?." Raut wajah Dimas mulai melembut.
"Tentu saja, aku khawatir setengah mati setelah mendengarmu tidak kembali ke rumah." Eva tersenyum lembut.
"Maafkan aku, bagaimana dengan ujiannya?." Tadi pagi adalah hari terakhir ujian nasional untuk sekolah menengah atas.
"Lumayan untuk bisa masuk ke perguruan tinggi swasta." Eva mencubit lengan Dimas.
"Kok swasta sih." Dimas nyengir kesakitan.
"Sakit tahu, dari pada tidak lulus."
Eva melirik Fathur yang sedari tadi berdiri membelakangi mereka lalu Eva menatap dalam mata Dimas.
"Ada apa?." Tanya Dimas mengetahui perubahan raut wajah Eva.
"Waktuku tidak banyak, aku harus pergi sekarang." Jelas Eva.
"Lagi?." Eva mengangguk pelan, Dimas meraih Eva kedalam pelukkannya.
"Aku tidak akan melepaskanmu untuk kedua kalinya setelah kamu sudah berada di depan mataku." Eva membalas pelukan Dimas lembut.
"Kamu harus melakukannya, aku pasti kembali seperti sekarang ini, ada yang harus aku lakukan diluar sana." Eva melepas pelukan Dimas.
"Setidaknya kamu berpamitan langsung tidak melalui telepon seperti dulu." Wajah Dimas tenang tapi sangat jelas penuh kekhawatiran. Eva tersenyum dan dibalas senyuman Dimas.
"Bye, see you." Lirih Eva.
"See you."