Yuki

Yuki
Bab 52



Di dalam aula paviliun, suara pukulan, gesekan kaki dengan lantai yang licin basah karena keringat, dan hawa panas yang memenuhi ruangan itu tidak membuat salah satu diantara mereka gentar.


Fathur dengan tubuhnya yang kokoh berhasil menahan serangan Eva sedangkan Eva berusaha menyerang Fathur dengan gerakan cepatnya. Mereka bagaikan seekor beruang dan seekor cheetah yang saling menyerang.


Fathur menyadari jika Eva selalu menatap tubuhnya membuat ia berpikir lebih mudah menyerang Eva karena fokus gadis itu yang terpecah, Eva juga lebih sering menyerang bagian tengah tubuh Fathur. Rasa canggung diantara mereka berdua hilang entah kemana, Fathur hanya fokus menyerang dan bertahan.


Mata Eva tidak lepas dari tubuh Fathur ia tidak membiarkan ada yang terlewat dari pengamatan matanya.


Aliran darah yang unik, serangan yang tidak membuang-buang tenaga dan energi, pertahanan yang sempurna benar-benar jenis bela diri yang sangat unik.


Disaat aliran energi berkumpul di tangannya, tubuhnya masih menyimpan energi yang lain untuk melindungi dari serangan musuh. Ototnya bergerak dengan sangat baik, tidak ada pergerakan yang sia-sia. Padahal sudah berkali-kali Eva menyerang Fathur dan memberikan totokan pelumpuh tapi laki-laki itu hanya merasakan sedikit rasa sakit.


Eva berdiri diam mengganti pola serangannya, Eva masih belum puas dengan informasi yang dia dapat dia membutuhkan lebih. Fathur yang melihat Eva tidak selincah sebelumnya bergerak menyerang gadis itu.


Eva mengamati bagaimana Fathur memanfaatkan tubuhnya dengan jenis bela diri yang dia miliki. Eva bergerak menghindar dengan lembut, Fathur terkejut padahal gerakan Eva tidak secepat tadi kenapa gadis itu bisa menghindarinya. Fathur kembali memberikan pukulan telapak tangannya ke dada Eva yang dibelokkan dengan halus berbalik menyerang dada sebelah kiri Fathur.


Dak.


Eva melihat bekas warna merah mudah di tempat tangan Fathur tadi menghantam dadanya. Eva mulai paham dengan cara kerja jenis bela diri itu. Eva membiarkan Fathur menyerangnya ia hanya menghindar dan sesekali memberikan pukulan yang Eva pikir akan memberikan dampak kepada Fathur.


Fathur terus menyerang Eva yang selalu bisa menghindari semua serangannya. Eva menggunakan tai chi ( jenis bela diri dari tiongkok) untuk menghadapi Fathur. Ini sudah cukup, batin Eva ia meliukkan tubuh menghindar seraya memberi pukulan tenaga dalam. Fathur limbung, Eva segera memanfaatkannya ia memberikan totokan didada Fathur membuatnya jatuh telentang.


Bruk.


Seperti sebelumnya totokan kuat dari Eva tidak mempengaruhi Fathur hanya memberinya sedikit rasa sakit, Eva memberikan totokan kedua ditempat yang sama, erangan kecil dari mulut Fathur terdengar oleh telinga Eva. Fathur meraup nafas banyak-banyak.


"Bela diri yang memperkuat setiap bagian tubuh, tidak cepat namun sangat kuat, untuk membuat totokanku berhasil aku harus melakukannya dua kali." Fathur hanya mendengarkan Eva bicara ia masih sibuk mengatur nafasnya.


"Beruntung sekali kamu bisa mempelajarinya." Fathur melirik Eva, nafas gadis itu terlihat teratur. Bagaimana bisa? padahal mereka bertarung cukup lama, batin Fathur.


"Aku akan melakukan sesuatu kepada tubuhmu katakan jika terasa sangat sakit." Ucap Eva langsung memberikan beberapa totokan agar Fathur bisa rileks.


Tangan kiri Eva memegang pergelangan tangan kanan Fathur memeriksa denyut nadi laki-laki itu dan tangan kanan Eva memukul serta memberikan totokan di perut dan dada laki-laki itu. Eva memejamkan mata berkonsentrasi merasakan irama detak jantung Fathur mengamati respon aliran darah dan energi jika tubuhnya mendapat serangan. Eva mengeluarkan jarum aku puntur dari celananya menancapkan satu jarum diperut Fathur disusul jarum-jarum yang lain.


Fathur memperhatikan semua yang dilakukan Eva terhadap dirinya, sesekali menahan rasa sakit yang timbul karena pukulan dan totokan, jarum panjang itu tidak memberikan rasa sakit ditubuhnya. Eva mengeluarkan beberapa jarum lagi menancapkannya dikedua lengan Fathur.


"Apa yang sedang kamu cari sebenarnya?." Tanya Fathur. Eva masih sibuk menancap jarum, mencabut beberapa jarum lalu menancapkannya lagi.


"Mengamati energi didalam tubuhmu." Jawab singkat Eva.


"Bukankah itu tidak bisa dilihat?." Eva mulai mencabut semua jarum ditubuh Fathur.


"Hm, aku tidak bisa melihatnya dengan mata telanjang, aku merasakannya." Eva menyimpan jarunya kembali.


"Ada apa dengan energiku?." Fathur penasaran kenapa Eva sangat tertarik dengan itu.


"Energi atau bisa dikatakan chi setiap orang berbeda-beda. Chi adalah energi yang mengalir ditubuh manusia, chi bisa diatur sesui keinginan kita setelah menempuh banyak latihan. Dan chi didalam tubuhmu sangat aneh, darahmu juga meresponnya dengan sangat baik." Jelas Eva.


"Apa maksudnya?." Fathur tidak pernah mendengar tentang ini sebelumnya ia hanya mengikuti ayahnya untuk belajar bela diri.


"Chimu seperti bergerak sendiri secara alami melindungi dampak pukulan atau serangan lain dari luar karena itu, beberapa seranganku tidak membuatmu merasa sakit padahal aku benar-benar menyerangmu." Eva berhenti sebentar membalas tatapan Fatur.


"Jangan terlalu dipikirkan, ilmu chi sangat dalam, kamu butuh waktu bertahun-tahun untuk mempelajarinya." Ucap Eva melihat raut wajah Fathur yang terlihat sedang berpikir keras.


"Bela diri yang kamu pelajari membuat chi didalam tubuhmu bisa melakuka semua itu, mungkin jika kamu belajar lebih dalam lagi." Eva menggantung kalimatnya.


Tunggu, jika Ega bisa menjauhkan racun tipis didalam tubuhnya untuk tidak mengenai organ-organ vital dia harus bisa memahami dan mengerti chi dari siapa pun, tidak hanya itu, chi bisa melakukan banyak hal tergantung penggunanya, batin Eva.


"Eva?." Panggil Fathur melihat Eva yang tiba-tiba diam.


"Fathur." Panggil Eva.


"Apa?." Tanya Fathur.


"Apa yang kamu lakukan untuk mengendalikan chimu agar bisa menjadi seperti ini?."


"Aku tidak tahu." Jawaban Fathur memupuskan harapan Eva.


"Kalau begitu bisa kamu mengendurkan chimu sebentar?." Pinta Eva.


"Aku tidak tahu caranya." Jawab Fathur jujur. Eva berdiri membelakangi Fathur.


"Sudah selesai, ganti bajumu aku tunggu diruangan sebelah." Ucap Eva pergi meninggalkan Fathur.


Fathur membutuhkan waktu beberapa menit untuk mengganti bajunya karena rasa sakit ditubuhnya akibat serangan-serangan Eva. Fathur keluar dari aula latihan mendapati Eva sedang duduk membaca buku dengan seragam sekolahnya. Cepat sekali dia berganti baju, batin Fathur.


"Ayo." Eva menyimpan buku kedalam rak lalu berjalan keluar.


"Kamu terlihat lelah." Celetuk Fathur di tengah-tengah langkah mereka.


"Bulan sabit." Ucap Eva mengalihkan pembicaraan, Fathur melirik keatas.


"Seharusnya ada banyak bintang." Lanjut Eva.


Mereka memasuki dapur, wangi makanan tercium oleh hidung mereka dari arah ruang makan, Eva yang sudah lapar ingin segera mengisi perutnya.


Duk.


Fathur menabrak Eva yang tiba-tiba berhenti didepan pintu dapur menuju ruang makan.


"Ada apa?." Fathur menatap kebawah melihat ekspresi wajah Eva yang tidak bisa ia artikan.


"Ega ayo tambah lagi." Terdengar suara wanita dari dalam ruang makan.


"Sedikit saja bu, Ega sudah kenyang." Fathur mendengar suara sahabatnya.


"Baiklah, bagaimana dengan harimu?." Fathur yakin itu adalah suara Ayumi ibu si kembar, Fathur belum pernah bertemu dengan kedua orang tua sahabatnya itu. Eva membalikan badan berjalan melewati Fathur.


"Eva ." Lirih Fathur menyusul gadis itu.


Fathur melihat Eva duduk di salah satu kursi yang ada ditaman ia menghampiri gadis itu dan duduk diseberangnya melirik wajah Eva yang berubah datar.


Kenapa dia malah duduk disini bukannya ikut bergabung dengan saudara kembarnya? aku rasa mereka tidak sedang bertengkar? dia selalu mencurigakan, tunggu. Kenapa aku bisa lupa, batin Fathur memukul dahinya pelan. Eva tidak dekat dengan ibunya, aku pikir dia bukan tipe orang pendendam, Fathur menatap lamat-lamat wajah Eva memikirkan kecurigaan-kecurigaannya. Tiga orang pelayan membawakan mereka makan malam lalu pergi meninggalkan mereka.


Angin malam yang tidak begitu dingin dengan beberapa lampu taman yang unik menyala terang dan warna-warni bunga membuat suasana malam terlihat romantis. Eva mengelap tangannya dengan handuk kecil yang basah bersiap menyantap hidangan diatas meja.


"Tidak ada niatan untuk mendekati ibumu?." Tanya Fathur tiba-tiba. Eva tidak merespon.


"Apa yang kamu maksud?." Tanya Eva.


"Aku bisa membantu jika kamu ingin lebih dekat dengan ibumu bukan ibuku." Fathur menekan kata terakhir memperjelas maksud dirinya.


"Diam dan makan." Titah Eva. Fathur masih kekeh dengan niatnya.


"Kamu bisa mempercayakan ini kepadaku." Eva mulai jengah dengan sikap Fathur. Kenapa dia tiba-tiba cerewet? pasti karena alien didalam tubuhnya mengambil alih otaknya, batin Eva mengambil sendok dan mengaduk sedikit makanan dipiring.


"Akan aku tuliskan beberapa cara untuk mendekati ibumu." Fathur mulai bersemangat.


"Aku juga akan membantu berbicara dengan Ega tentang ini." Ucap Fathur.


"Kamu jangan khawatir pasti tante Ay.. Hap." Kalimat Fathur terhenti karena sebuah sendok masuk kedalam mulutnya. Fathur menatap Eva tidak percaya.


"Diam dan makan kataku." Ucap Eva dingin, ia menarik pelan sendok dari dalam mulut Fathur, laki-laki itu masih terkejut namun mulutnya mulai mengunyah makanan yang ada didalam.


Bola mata Fathur bergetar menatap sendok didalam genggaman Eva ia mengulurkan tangan hendak menahannya namun naas dia kurang cepat.


"Kenapa kamu makan pakai sendok itu?." Protes Fathur.


"Hm? kenapa?." Tanya Eva dengan sendok dimulutnya.


"Itu, sendok bekasku tadi." Lirih Fathur wajahnya mulai bersemu merah.


Eva menarik keluar sendok dari dalam mulutnya menaruh sendok yang ia pegang dipiring Fathur menukarnya dengan sendok laki-laki itu yang masih bersih.


"Maaf, aku kembalikan." Ucap Eva dengan wajah datarnya lalu melanjutkan makan malam yang sempat terhenti.


Fathur menatap bingung dan tidak percaya dengan sikap Eva yang biasa-biasa saja setelah apa yang gadis itu lakukan kepada dirinya. Fathur menatap horor sendok dipiringnya, ini bukankah... Ciuman tidak langsung, batin Fathur dengan wajah merah padam.


***


Eva tersenyum-senyum sendiri badannya berputar-putar senang mata birunya berbinar cerah, ia seperti bukan dirinya namun perasaan bahagia yang memenuhi dirinya tidak bisa ia tahan mengecup sekilas tabung kecil berwarna putih menyimpannya dengan hati-hati. Eva bersenandung riang meninggalkan ruang rahasianya. Sinar mentari pagi langsung menerpa wajah Eva saat ia kembali ke kamar.


Semalam setelah Fathur pulang Eva langsung masuk ke lab ruang rahasia ia menyusun kembali formula dan takaran ramuannya ia juga mendapatkan informasi penting setelah melawan Fathur di paviliun. Eva yakin bahwa jenis bela diri yang laki-laki itu miliki bisa melakukan pertahanan dengan aliran chi yang sudah dilatih sejak lama bahkan mungkin lebih dari itu .., seperti Ega. Eva yakin bahwa kembarannya bisa melindungi organ vital tubuhnya dari racun mematikan dengan teknik tertentu untuk mengendalikan chi didalam tubuh.


Butuh waktu semalaman untuk membuat ramuannya berhasil dan mengujinya dengan darah Ega. Eva sangat bahagia saat dia berhasil membuat penawar racun yang sangat rumit menurut Eva. Hari ini adalah hari ketujuh, hari perjanjian Eva dan Ega.


Eva membuka pintu kamar melihat Ega yang hendak turun kelantai satu, Eva berlari memeluk Ega dari samping membuat Ega terkejut. Arga yang tidak biasa melihat tingkah sikembar ikut terkejut.


"Ada hal baik apa pagi ini?." Tanya Ega mengacak rambut Eva gemas. Eva tersenyum lebar memancarkan kecantikan alami dirinya, tidak terasa ada satu orang yang terhipnotis dengan pemandangan langka itu.


"Aku berhasil membuatnya, kamu tidak perlu pindah." Riang Eva, Ega menatap dalam mata adiknya lalu ikut tersenyum senang.


"Benarkah?." Ega mencubit kedua pipi Eva tangannya bermain-main disana.


"Tunggu saja." Eva tersenyum membiarkan tangan Ega mencubiti pipinya.


***


Karena terlalu senang Eva lupa membawa bekal yang sudah disiapkan mbok Is tadi pagi. Ega hari ini menawarkan diri untuk memesankan makanan untuk mereka semua, tidak menunggu lama ibu-ibu kantin mengantar pesanan mereka, seperti biasa ibu kantin tidak lupa memberikan senyuman mautnya kepada Arga dengan kerlingan mata sebagai jurus pamungkas membuat Ega cs tertawa kecuali Tiara, gadis chubby itu terlihat kesal.


Eva terkejut bukan main melihat mangkok didepannya.


"Ega kamu pesan bakso?." Eva menatap Ega tidak percaya, apa dia lupa aku tidak menyukai makanan ini, batin Eva. Ega tersenyum melihat ekspresi Eva.


"Kamu gila." Eva merasa kesal dengan respon Ega ia yakin Ega pasti sedang mengerjainya.


"Emang kenapa dengan baksonya va?." Tanya Tiara.


"Lo nggak suka?." Tanya Heru. Tanpa sadar Eva memanyunkan bibirnya kesal.


"Arga, kita pergi." Eva berdiri dan langsung pergi meninggalkan kantin. Eva terus berjalan cepat melewati lorong-lorong kelas lalu berhenti didepan perpustakaan.


"Dasar tukang ngambek." Ucap Arga duduk disebelah Eva.


"Bodo." Jawab Eva cuek.


"Sikap dingin tapi suka merajuk." Arga menatap lurus taman kecil didepan perpustakaan.


"Hm." Gumam Eva lalu ia berpikir sebentar.


"Kamu interpol kan, berapa usiamu? dua puluh lima?." Eva menoleh kesamping menilai Arga.


Terlihat masih muda, sorot mata yang tajam, kulit agak kecoklatan, lumayan tampan, pantas saja Tiara kecentilan sama dia. Aku tidak pernah melihat Arga dengan jelas kalau bukan karena Tiara yang menerorku untuk membantunya dekat dengan orang ini, mana aku mau melihat wajahnya, batin Eva.


"Dua puluh tahun." Eva menaikan satu alisnya.


"Aku anggota interpol termuda." Lanjut Arga.


"Bagaimana bisa?." Tanya Eva.


"Aku menyelesaikan waktu smp dan sma lebih cepat dari anak-anak yang lain, termasuk kuliahku." Keren juga, batin Eva.


"Kamu pasti kesal ditugaskan untuk menjaga gadis sma menyebalkan sepertiku." Ucap Eva menatap lurus kedepan. Cantik juga, matanya indah, batin Arga.


"Sedikit, tapi karena tujuan utamaku adalah untuk menangkap pembunuh itu apa pun akan aku lakukan." Jawab Arga.


"Fitri." Gumam Eva.


"Bukan." Eva melirik Arga.


"Yang aku cari pembunuh laki-laki." Eva hendak bertanya namun dihentikan oleh sosok laki-laki yang tiba-tiba duduk disamping Eva.


"Sorry, aku tidak bermaksud mempermalukanmu tadi." Eva membuang wajahnya kesal, Ega mengacak-acak surai Eva dengan lembut.


"Ayo makan." Wajah Eva masih kesal tapi tetap menuruti perintah Ega. Ega mengulurkan sendok ditangannya menyuapi Eva.


"Jangan tanya." Sergah Ega cepat melihat raut wajah Arga.


"Bayi hulk ini sulit belajar makan bakso, ini saja bakso kedua yang lolos keperutnya." Jelas Ega, Eva tersenyum manis mendengar penjelasan saudara kembaranya, Ega ikut tersenyum melihat adiknya yang menggemaskan itu. Ega mendekatkan bibirnya ditelinga Eva membisikan sesuatu.


"Aku menyayangimu saudari kembarku, tetaplah tersenyum seperti ini." Ega menatap Eva memberikan senyum manis dan hangatnya yang dijawab senyuman oleh Eva. Setelah isi mangkok habis tak bersisa Ega pergi meninggalkan Eva didepan perpustakaan.