Yuki

Yuki
Bab 47



Ega berkutat dengan pikirannya, mencerna fakta dan semua informasi yang ia lihat. Jika ruangan ini saja sudah seperti ini bagaimana dengan ruangan laborat nanti, haruskah ia menuruti kemauan adiknya?, pikir Ega.


"Bagaimana aku bisa melakukannya jika semua tenagaku sudah terkuras." Jawab Ega lemah.


"Baiklah kita akan melakukannya besok." Eva sudah memutuskan.


"Besok kita sekolah." Ucap Ega, Eva berniat memutar tubuhnya melepas tangan Ega.


"Tiara sangat mengkhawatirkanmu." Lanjut Ega, Eva mulai berontak.


"Aku sudah bilang hari ini dan besok aku libur." Tutur Eva.


"Ega lepasin, aku harus segera menyelesaikan benda ini." Ega tetap diam.


"Apa dengan itu kamu merasa tenang?." Suara lembut dan tenang dari Ega menyusup ketelinga Eva membuatnya terdiam.


"Mungkinkah perasaan seperti itu yang sedang aku rasakan?." Lirih Eva yang ditujukan kepada dirinya sendiri.


"Ya." Jawab Ega.


"Waktu tidak akan terulang." Gumam Eva.


"Hm."


"Berjaga-jaga bukankah lebih baik." Ucap Eva.


"Tentu, tapi tidak memaksakan diri dan melupakan orang lain." Eva menarik nafas panjang.


"Ga." Panggil Eva.


"Hm?."


"Eksperimenku sangat menakjubkan bukan?." Pertanyaan tiba-tiba dari Eva membuat Ega tersenyum kecil itu pertanda bahwa ucapannya diterima oleh Eva.


"Sangat luar biasa. Kamu memang jenius, orang tidak akan tahu jika sendok dipiring mereka adalah bom." Eva tersenyum


"Kenapa selalu mengalah padaku?." Ujar Eva.


"Hm?."


"Aku tahu kamu lebih jenius dariku." Ega berpikir sebentar.


"Kamu benar. Aku memang lebih jenius darimu karena akulah yang tertua." Eva menyikut perut Ega membuat tangan Ega terlepas dari pinggangnya.


"Kita hanya berjarak dua menit." Sewot Eva.


"Tetap saja yang pertama itu lebih tua dan lebih pintar."


Eva membereskan meja dengan cepat. Ega menahan senyum melihat wajah adiknya yang kesal.


"Je matikan semua sambungan." Titah Eva dengan nada kesal.


"Baik."


***


Jam menunjukan pukul tujuh malam Ega sedang menata perlengkapan sekolah Eva memasukkannya kedalam tas lalu ia berlari membuka lemari baju mengambil seragam Eva lengkap dengan seragam olah raga untuk besok memasukkannya kedalam tote bag.


"Sudah siap." Ega berkacak pinggang dan mengangguk sebentar.


"Semua keperluan sekolahmu untuk besok sudah aku masukkan kedalam." Eva menatap datar kedua tas miliknya.


"Aku tidak pindahan ga." Ucapnya.


"Apa ini terlalu banyak?." Eva mengangguk.


"Tapi semua barang-barang ini kamu perlukan besok." Eva cemberut.


"Biar Fathur yang membawanya nanti, kamu tinggal duduk manis dijok motornya." Eva memutar bola matanya malas.


"Kenapa kamu tidak ikut?." Tanya Eva.


"Bukankah lebih baik kalian menghabiskan waktu berdua?." Eva meringkuk diatas ranjang.


"Dia pasti akan senang jika kamu ikut." Ega menatap Eva yang sedang merajuk.


"Aku akan mengganggu kalian." Ucap Ega.


"Tidak sama sekali." Jawab Eva cepat.


"Ibu sangat baik, dia pasti senang kamu ikut." Imbuh Eva.


Ini yang Ega tidak inginkan, hatinya berdesir aneh jika mendengar Eva memanggil wanita lain sebagai ibunya.


"Tante Dila menelphon langsung loh memintamu untuk menginap, pasti dia sangat mengkhawatirkanmu." Ega mengangkat kedua tas Eva.


"Hm." Sahut Eva.


"Apa kamu tidak merindukannya?." Tanya Ega.


"Tentu saja sangat rindu." Jawab Eva cepat, Ega tersenyum miring. Dia tidak bisa merubah keadaan.


"Kalau begitu mau sampai kapan kamu tiduran disana, Fathur sudah sampai didepan."


"Suruh dia pulang, kamu saja yang mengantarku." Eva duduk menyilangkan kedua kakinya.


"Tidak bisa begitu." Ega berjalan keluar kamar.


Ega menghampiri Fathur yang berdiri didepan teras, laki-laki itu terlihat seperti biasanya, memakai jaket hitam dan celana jeans penampilan yang tergolong biasa saja tapi tidak jika itu sahabatnya.


"Tidak masuk?." Tegur Ega.


"Disini saja." Fathur tidak melihat Eva dibelakang Ega.


"Dia sedang merajuk." Ega menyerahkan tas ransel Eva kepada Fathur.


"Apa kalian baik-baik saja?." Ega meregangkan otot lehernya.


"Aku sedikit pusing dan banyak teka-teki menumpuk menunggu untuk diselesaikan, selain itu kami baik-baik saja." Jawab Ega.


"Bawa dia mampir ke cafe sebelum kerumahmu, pesankan makanan yang manis-manis untuknya." Ega menyodorkan kartu kreditnya kepada Fathur.


"Tidak perlu." Fathur mendorong pelan kartu kredit kembali kepada Ega.


"Kamu akan terkejut dengan nafsu makannya thur." Ega tersenyum meledek.


"Apa dia lebih parah dari Dody dan Heru?." Ega tertawa mengingat dua sahabatnya.


"Ya, mungkin."


"Apanya yang mungkin?." Suara datar itu membuat Ega dan Fathur menoleh ke asal suara.


"Sudah siap?." Tanya Ega.


"Hm." Ega menatap Fathur mengulurkan tote bag kepadanya.


"Kalian hati-hati dijalan." Eva mengambil tote bag dari tangan Ega sebelum diterima Fathur.


"Aku saja yang membawanya." Eva berjalan melewati Ega begitu saja.


"Dia pasti sangat kesal." Lirih Fathur.


"Begitulah, aku menolak keinginannya beberapa kali." Ega menepuk pundak Fathur.


"Hati-hati." Fathur mengangguk berjalan menuju motornya.


Fathur mencangklek ransel Eva didepan dadanya agar gadis itu leluasa duduk dibelakang sedangkan Eva menaruh tote bagnya diantara mereka berdua sebagai pembatas. Pemandangan itu terlihat lucu dimata Ega. Fathur membunyikan klakson sebelum pergi.


"Tidak turun?." Tanya Fathur tanpa menoleh kebelakang.


"Tidak." Jawab Eva datar.


"Ya sudah kalau begitu." Fathur turun dari sepeda motornya berjalan memasuki cafe.


Sudah sepuluh menit Fathur tidak keluar dari dalam cafe, membuat mood Eva semakin buruk. Eva bersandar ke sepeda motor Fathur bersedekap mengingat-ingat kerangka alat yang ia gambar tadi sore memeriksanya lagi didalam kepalanya.


Empat orang laki-laki asing menghampiri Eva.


"Malam." Sapa salah satu dari mereka, Eva masih fokus dengan isi kepalanya.


"Temannya dimana?." Tanya pria lainnya, mereka saling pandang karena tidak kunjung mendapat jawaban.


"Mahasiswi univ mana?." Salah satu dari mereka melangkah maju mendekati Eva.


Eva merasa terganggu, ia mengangkat wajahnya tanpa menatap wajah empat pria itu.


"Univ." Ulang Eva, mereka tersenyum melihat wajah Eva, akhirnya mereka juga mendapatkan balasan dari gadis itu.


"Iya, kami dari kampus negeri dekat sini, kamu?." Tanya pria 1, Eva diam.


"Kamu terlihat kesepian mau gabung bareng kami?." Ajak pria 3. Eva tertawa dalam hati.


Kesepian, apa aku terlihat seperti itu atau mata mereka yang sudah ru**k, batin Eva dalam hati. Ke empat pria itu bergerak mengelilingi Eva sedangkan gadis itu tetap santai menyandar pada sepeda motor.


"Mau minum?." Pria 2 menyodorkan sebotol air mineral, Eva meliriknya.


"Jika kamu tidak suka yang itu aku juga memiliki yang lain." Ucap pria 4 dengan botol minuman yang mengandung isotonik, Eva semakin kesal.


Ini kenapa orang tua melarang anak perempuan mereka keluar dimalam hari, batin Eva.


"Jika kalian ingin menipuku lakukanlah dengan benar." Ucap Eva dingin bola matanya menyorot tajam.


"Sembunyikan perubahan warna pada minuman yang sudah kalian campur dengan obat menj*j*kan itu agar bisa menipu mataku." Mereka terkejut, pria 1 yang berdiri dibelakang Eva mengeluarkan sapu tangan dari saku celananya.


Mereka sudah ketahuan, pria 1 tidak punya pilihan lain, mereka harus bergerak cepat. Tangan pria 1 terangkat hendak membekap mulut Eva dengan sapu tangan yang sudah diberi obat bius, ketiga temannya semakin mendekat kepada Eva untuk menekannya membuat gadis itu merasa takut dan bergerak mundur.


Master izinkan aku menghajar pengganggu seperti mereka, batin Eva sudah siap menyerang. Mereka berempat saling memberi kode untuk menyerang Eva dari arah depan lebih dulu setelah itu pria 1 akan menyergapnya dari belakang namun naas rencana mereka gagal.


Sret!!.


Kedua pria didepan Eva tersibak kesamping sampai tersungkur ketanah karena begitu kuatnya tenaga orang itu membuat pria 2 menabrak pria 3 dan menindihnya. Bola mata Eva menatap tidak percaya. Fathur dengan raut wajah tegas muncul dari belakang pria 2 dan 4 bola mata laki-laki itu menatap lurus ke belakang Eva.


Eva membeku karena terkejut, Fathur yang berdiri dihadapannya seperti orang lain dimata Eva. Karena keterkejutan itu membuat Eva lengah, sebuah lengan besar muncul dari samping kanan Eva. Eva kira Fathur akan menerjangnya dengan kecepatan kaki seperti itu, tapi ia berhenti tepat didepan Eva.


Dak!.


Suara pukulan keras terdengar sangat jelas ditelinga Eva. Tangan kiri Fathur memukul pangkal lengan pria 1 membuatnya tersungkur ke belakang dan tangan kanannya menangkap tote bag disebelah kiri Eva yang hampir terjatuh. Posisi mereka sangat dekat tidak ada jarak diantara keduanya.


"Pergi." Ucap Fathur pelan dengan suara yang sangat rendah. Empat pria itu kabur tunggang langgang.


Bola mata Eva bergetar menatap bagian depan jaket Fathur, parfum laki-laki itu menyeruak memaksa masuk kedalam hidung Eva mengingatkannya saat pertama kali mencium aroma parfum Dimas ketika membonceng laki-laki itu, disusul oleh ingatan-ingatannya yang lain bersama Dimas.


Eva mencengkeram pinggiran jok motor. Aku kira aku sudah berdamai dengan ingatan-ingatan itu, batin Eva mendongak menatap wajah Fathur dari bawah dagu laki-laki itu.


Fathur terus menatap pria 1 yang sedang berlari kencang menjauh dari mereka hingga pria 1 tak terlihat barulah Fathur mengendurkan otot-ototnya ia menghembuskan nafas lega menundukkan kepalanya.


Deg!.


Jantung Fathur berhenti berdetak sepersekian detik. Wajah Eva tepat berada dibawahnya mata mereka saling menatap.


"Jangan menyukaiku." Ucap Eva. Kalimat yang keluar dari bibir gadis itu membuat jantung Fathur berdetak nyeri hatinya terasa sakit.


Fathur sudah tahu dia tidak mungkin bisa menggapai gadis didepannya ini, tapi ditolak langsung sebelum menyatakan perasaannya terasa lebih menyakitkan.


Fathur menarik tangannya, ia mundur satu langkah. Eva melihat Fathur membuang wajahnya. Tanpa mengatakan apa pun Fathur membalikan badan kakinya melangkah berniat kembali kedalam cafe, namun tiba-tiba sebuah tangan mencengkeram lengan belakang jaketnya.


Hening.


Hening.


"Berjanjilah kamu tidak akan menyukaiku." Pinta Eva. Hening.


"Carilah wanita yang bisa membalas perasaanmu." Eva mencengkeram kuat jaket sebelah kiri Fathur.


"Kamu harus berjanji padaku." Fathur tetap bungkam.


Eva mengendurkan cengkeramannya pada jaket Fathur tangannya turun kebawah menautkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking Fathur. Fathur mencengkeram bagian atas tote bag ditangan kanannya ia tetap diam tidak merespon.


"Kamu sudah berjanji." Eva berdiri menarik jarinya tapi jari kelingking Fathur dengan cepat melingkar menahan jari Eva. Laki-laki itu mulai berjalan membawa Eva masuk kedalam cafe. Banyak pasang mata melihat kearah mereka, Fathur menarik kursi menyuruh Eva untuk duduk tanpa membuka suara.


Saat Eva sudah duduk Fathur melepaskan kaitan jari kelingking mereka dan berjalan ke seberang meja meletakkan tote bag dikursi sebelahnya bersama dengan tas ransel milik Eva. Eva melihat meja mereka sudah dipenuhi bermacam-macam jenis cake dan dua gelas lemon tea dingin dan panas.


Moodnya berubah cepat melihat semua makanan manis itu, Eva melirik kedepan melihat Fathur sedang meminum caffee lattenya sambil menatap barista disamping meja yang tidak jauh dari mereka. Melihat Fathur yang tidak menyentuh makanannya sama sekali membuat Eva berinisiatif memakannya.


Rasa cake manis didalam mulut membuat Eva ingin memakannya lagi dan lagi. Didalam cafe yang ramai pengunjung dan suara musik yang menggema tidak mempengaruhi kesunyian meja Fathur dan Eva. Tidak terasa Eva sudah memakan semua cake dimeja dan menghabiskan isi lemon teanya yang terakhir hingga habis.


Eva menyenderkan punggungnya ke kursi matanya bertemu dengan mata hitam Fathur Eva terdiam ia merasa bersalah karena telah menghabiskan semua makanan tanpa meminta izin pemiliknya. Eva mengerjap-ngerjapkan kedua matanya merasa bersalah dan mengunci rapat bibirnya. Fathur juga terus diam tidak memberi respon apa pun.


Bodoh! karena merasa kesal sejak tadi sore membuatku tidak bisa mengontrol makanan manis, batin Eva. Fathur menyodorkan selembar tisu yang Eva terima dengan canggung. Sedikit menundukkan wajahnya membersihkan sudut-sudut mulut.


Kenapa aku harus menunduk?, aku bisa mengganti makanannya dan meminta maaf. Beres, batin Eva.


Setelah itu Eva mengangkat kepalanya menatap Fathur tapi laki-laki itu membalas tatapan Eva dengan tatapan datar mengambil tas ransel dan tote bag beranjak pergi dari sana. Hah?!, tunggu. Apa seperti ini rasanya dicueki, apakah aku juga seperti itu selama ini?, Eva! berhenti berpikir yang tidak penting, batin Eva dalam hati.


***


Lima jam yang lalu Eva diserbu banyak pertanyaan oleh tante Dila dan pak Dani mendapatkan berkali-kali pelukkan hangat dari tante Dila, sekarang jam menunjukan setengah dua pagi dan Eva masih terjaga. Ia menyilangkan kedua kakinya diatas ranjang Fathur yang ia rebut untuk malam ini.


Eva kembali mengolah emosinya, merutuki kesalahan yang tadi dia lakukan. Ada sesuatu yang menarik tertangkap oleh mata Eva. Cara Fathur melawan empat pria itu sama dengan cara Ega menyerang Burhan dan para bawahannya, menurut Eva mereka mempunyai gaya bertarung yang sama.


Jam menunjuk angka setengah tiga pagi satu jam sudah berlalu, otak Eva terus bekerja mencari jawaban keganjilan yang ia temukan. Eva melirik ponsel yang tergeletak disampingnya menatapnya tajam lalu pada akhirnya ia menyerah, Eva mengambil nafas panjang. Jari Eva mengetik sesuatu lalu menempelkan ponselnya ditelinga.


"Ya?." Itu bukan suara khas orang bangun tidur, apakah dia masih terjaga, batin Eva.


"Ada sesuatu yang menggangguku." Ujar Eva.


"Kenapa mengatakannya kepadaku, apa kamu tidak bisa mengurusnya sendiri?." Eva memutar bola matanya jengah.


Si bodoh yang menyebalkan, dia tidak mungkin tiba-tiba berubah menjadi pahlawan seperti ultraman, mungkin yang aku lihat beberapa jam yang lalu mahluk asing dari planet lain, rutuk Eva dalam hati.


"Jenis bela diri apa yang kamu pakai saat melawan pria-pria itu?." Tanya Eva langsung pada intinya.


"Jenis yang sama seperti bela diri yang lain." Eva mencoba untuk bersabar.


"Bodoh." Lirih Eva yang sangat jelas terdengar oleh orang diseberang sana.


"Apa." Eva mengangkat satu alisnya heran, Fathur tidak marah setelah ia mengatainya bodoh padahal sebelumnya Fathur akan sewot tapi kali ini dia menjawabnya dengan datar.


"Beri tahu aku." Pinta Eva.


"Apa itu penting?." Tanya Fathur balik.


"Hm."


"Aku tidak bisa memberitahumu karena aku sendiri tidak tahu jenis atau pun nama bela diri itu." Jawab Fathur.


"Bodoh." Rutuk Eva.


"Kali ini kamu benar, aku memang bodoh." Sikap Fathur yang mengalah seperti itu membuat Eva semakin heran.


Hening.