
"Ibu, pak Dani dimana?." Tanya Eva setelah duduk dimeja makan.
"Lagi mandi, sebentar lagi juga keluar." Jawab tante Dila.
Beberapa menit kemudian pak Dani keluar dari kamar mandi rambutnya terlihat masih basah handuk hitamnya melingkat dileher.
"Eh ada tamu, kok baru kesini?." Pak Dani melempar handuknya ke wajah Fathur.
"Mandi dulu sana." Kata pak Dani.
"Hei! ini masih basah kak." Protes Fathur.
"Dani..." Protes tante Dila lembut, pak Dani tersenyum kecil lalu mengambil tempat duduk diseberang Eva dan Ega.
"Maaf pak Eva baru sempat kesini sekarang." Ega menangkap sesuatu yang tidak biasa didalam diri Eva.
"Sudah ngobrolnya sekarang kita sarapan dulu." Tante Dila melayani semua orang dimeja makan.
Didalam hidup Eva masakan yang paling enak adalah masakan yang dibuat Dila. Didalam hati, Ega juga mengakui kehebatan tante Dila dalam memasak.
"Ngomong-ngomong kok aku nggak dikenalin sama cowok disebelah kamu, kalian pacaran?." Tanya pak Dani kepada Eva membuat semua orang tertawa, pak Dani menunjukkan wajah bingungnya.
"Eva kamu hutang penjelasan kepada kami." Tante Dila mengingatkan setelah semua orang selesai makan Eva mengangguk pelan lalu menceritakannya dari awal.
"Jadi kalian kembar?." Eva dan Ega mengangguk serempak membuat pak Dani salah tingkah karena menganggap mereka pacaran.
"Pasti sangat sulit bagi kalian terpisah sangat lama." Lirih tante Dila, Eva mengangguk lemah pikirannya kembali lagi ke masa-masa kelam sebelum Ega datang. Ega tahu apa yang sedang dirasakan oleh adiknya sekarang.
"Yang terpenting sekarang kita sudah bersama lagi tante." Ega tersenyum lembut menenangkan Eva.
Eva dan Ega sampai dirumah ketika hari sudah gelap mereka memasuki rumah sambil tertawa mengingat permainan sepak bola yang mereka mainkan dirumah tante Dila tadi, mereka dibagi menjadi dua tim. Eva dengan pak Dani sedangkan Ega dengan Fathur.
"Seharusnya tadi aku bisa mencetak tiga gol." Protes Eva.
"Akuin saja kalau kalah non." Sindir Ega.
"Nggak bisa, itu gara-gara tanganmu kepanjangan aku jadi susah ngelaknya."
"Kamu kira aku maling pakai alasan tangan panjang segala." Ega menjulurkan lidahnya meledek Eva, Eva yang kesal langsung menyikut perut Ega.
"Aww! sakit." Ega sedikit menunduk memegang perutnya. Serangan Eva belum selesai ia melayangkan cubitannya ke lengan Ega.
"Mau lagi? nih... ini..." Ega menghindar dari tangan Eva terjadilah aksi tom & jerry, Eva mengejar Ega berusaha mendaratkan cubitannya.
Saat Eva mencubit Ega ia merasakan sakit yang sama ditempat yang sama juga saat ia mendaratkan cubitannya, Eva teringat kejadian di rumah tante Dila saat mereka selesai bermain sepak bola. Ega yang menawarkan diri membantu tante Dila memotong buah semangka melukai jari telunjuk sebelah kirinya.
Argh!, jerit Eva di dalam hati. Tangan Eva yang awalnya memegang ponsel tiba-tiba menjatuhkannya karena rasa sakit dijari telunjuknya yang tiba-tiba muncul. Eva menatap jari telunjuknya yang biasa-biasa saja.
"Kamu tidak apa-apa?!." Jerit Fathur berlari melewati Eva, Eva menolehkan kepalanya mengikuti arah Fathur berlari bola mata birunya bergetar.
"Nggak apa-apa kok, cuman tergores sedikit." Ucap Ega menekan jari telunjuknya yang meneteskan darah.
"Aku ambil obat dulu." Fathur dengan cepat masuk kedalam rumah dan kembali membawa kotak p3k kecil.
Perih, batin Eva menatap telunjuknya lalu kembali menatap jari telunjuk Ega yang terluka dan kembali menatap jari telunjuknya.
Jun Ho si, sekarang aku tahu jawaban atas penyakitku selama ini, aku tidak gila. Rasa sakit yang aku rasakan selama ini berasal dari Ega aku merasakan hal yang sama, batin Eva meneteskan air matanya. Jadi, semua sayatan pisau dipunggungku, setiap cambukan, dan pukulan kamu menanggungnya selama ini? rasa sakit yang sangat menyakitkan dan mengerikan itu, Ega.. kamu, batin Eva menghapus air matanya. Eva berdiri melangkah pelan seraya menatap manik Ega dalam.
"Hehe, maaf aku ceroboh melukai jariku." Ucap Ega yang melihat Eva melangkah menghampirinya seraya menunjukkan jari telunjuk yang terbungkus plester itu. Eva tidak memberi respon kepada Ega ia terus melangkah mengulurkan kedua tangannya memeluk Ega erat.
"Bodoh." Lirih Eva menahan tangisnya. Ega mengelus belakang kepala Eva lembut.
"Maaf, jangan nangis lagi."
Kami mempunyai ikatan batin yang sangat kuat, batin Eva didalam pengejarannya yang masih berusaha mendaratkan cubitan mautnya ditubuh Ega. Suara mbok Is menghentikan aksi kejar-kejaran anak kembar itu.
"Maaf non, den." Ega dan Eva menghentikan aksi mereka, menatap mbok Is.
"Non Eva dan den Ega disuruh makan malam sama nyonya." Jelas mbok Is, Ayumi keluar dari arah dapur Eva dengan cepat berpaling menatap ke arah lain.
"Ayo kalian pasti sudah lapar." Ajak Ayumi tatapan matanya tertuju kepada kedua anaknya Eva bergeming ditempat matanya lurus menatap tangga dibelakang Ega.
"Ayo lapar banget nih." Ega menarik tangan Eva yang ditarik hanya diam bagaikan patung.
"Yuki, ayo." Eva manarik tangannya pelan.
"Kamu saja yang makan aku sudah kenyang." Setelah mengatakan itu Eva berjalan menuju kamarnya meninggalkan Ega yang kebingungan. Didalam kamar Eva mengeluarkan ponselnya.
Kak besok ke Sma Tunas Jaya jam 15:00.
Eva menekan layar send. Sepuluh detik kemudian ada telephon masuk, Eva melirik layar ponselnya seulas senyum mengembang dari sudut bibir tipisnya. Eva hanya menatap layar ponselnya tanpa mengangkat panggilan. Notifikasi muncul 5 panggilan tidak terjawab lalu ponselnya bergetar lagi sebuah pesan masuk membuat jari Eva menyentuh layar ponsel.
Kak Dimas.
Kok nggak diangkat? anak baik angkat telephonnya dong.
Me.
Tidak mau.
Kak Dimas.
Aku ingin dengar suara kamu...
Me.
Besok saja.
Kak Dimas.
Hm :(
Kabar kamu bagimana? kemarin kok batalin janji?.
Me.
Sehat kak, maaf kemarin ada masalah sedikit.
Kak Dimas.
Mmm... Eva.
Me.
Ya.
Kak Dimas.
Aku kangen kamu.
Eva menahan senyum wajahnya berubah merah seperti kepiting rebus.
"Dimas ya?." Eva terperanjat kaget entah sejak kapan Ega sudah berdiri didepannya membawa nampan.
"Sejak kapan kamu berdiri disitu?." Ega meletakkan nampan diatas meja belajar.
"Sejak kamu senyum-senyum sendiri." Ega duduk disebelah Eva diatas kasur yang empuk.
"Aku bawa makan malam buat kamu, aku tahu kamu belum makan, seharian ini kan kita bareng terus." Eva melirik sekilas kembarannya.
"Aku sudah tidak lapar." Ega menatap Eva lekat-lekat.
"Ega sayang, jangan bahas soal itu sekarang ya kita bahas hal yang lebih penting lagi ok." Ega hendak protes tapi Eva sudah berjalan meraih remote tv.
"Kamu harus lihat ini." Ega mengurungkan niatnya untuk protes dan mengikuti saran Eva.
Ternyata Eva menunjukkan berita disalah satu stasiun tv nasional tentang kasus penyelundupan barang-barang terlarang yang terorganisir dengan rapih serta beberapa tindakan kriminal lainnya seperti penculikan anak-anak, penjualan organ-organ manusia secara ilegal, pembunuhan, dan masih banyak lagi.
"Satu bulan yang lalu kepolisian setempat mendapatkan laporan dari seseorang yang tidak dikenal, orang itu melaporkan bahwa adanya penyelundupan barang-barang terlarang dan beberapa tindak kriminal lainnya, kepolisian setempat pun langsung bergerak setelah mendapat laporan tersebut memastikan bahwa laporan tersebut bukan laporan iseng dari orang yang tidak bertanggung jawab ternyata semua laporan itu benar polisi menemukan sekitar seratus dua puluh sembilan orang tergeletak tidak sadarkan diri. Hasil penelitian dokter menyatakan bahwa orang-orang tersebut telah diberi obat bius dengan dosis aman tetapi obat bius itu sudah di campur beberapa bahan-bahan kimia yang lain sehingga membuat orang yang terkena tidak sadarkan diri selama satu minggu dan anehnya obat bius itu aman didalam tubuh manusia, dokter kusuma yang menangani kasus ini mengatakan bahwa orang yang membuat obat bius ini bukan orang sembarangan karena beberapa ilmuwan saja belum tentu bisa menciptakan obat bius seperti ini. Polisi juga menemukan anak-anak disekap dibeberapa kamar digedung itu mereka tidak hanya disekap tapi juga dipaksa bekerja oleh para tersangka yang lebih mengejutkan lagi digedung itu polisi menemukan penjara bawah tanah. Gedung ditengah hutan liar di sumatra utara itu benar-benar sarang kejahatan. Kepala polisi sumatra utara mengatakan bahwa yang melumpuhkan para penjahat dan pelapor adalah orang yang sama menurut kepala polisi sumatra utara juga si pelapor adalah seorang wanita." Pembawa berita masih menjelaskan.
"Dan tidak sedikit para penjahat yang dijatuhi hukuman mati, hukuman tersebut telah dilaksanakan sore tadi pukul 17:15 WIB penjahat yang tidak mendapat hukuman mati mereka mendapatkan hukuman minimal penjara seumur hidup termasuk kedua bos mereka yang berinisial B dan S karena masih dibawah umur." Ega bergeming ditempatnya.
"Kamu ingat Sarah?." Eva bertanya hati-hati. Ega tetap tidak bergerak Eva memeluk Ega lembut lama mereka hanya diam.
"Meskipun dia jahat, licik, dan kejam tapi dia telah banyak membantuku." Suara Ega memecah kesunyian Eva membiarkan Ega meluapkan perasaannya.
"Aku sangat jahat meninggalkan dia disana." Eva menggeleng pelan.
"Tidak, itu balasan yang setimpal untuk kejahatan-kejahatan yang mereka lakukan dan hukuman itu diluar kuasa kita." Ega menarik tubuhnya.
"Kamu benar." Eva tersenyum jail.
"Kamu masih sayang sama Sarah?." Ega melebarkan matanya.
"Apa?! aku sayang sama Sarah?." Eva mengangguk pasti.
"Jangan ngawur, aku hanya merasa punya hutang budi sama dia." Eva mengedipkan sebelah matanya jail.
"Aku serius, tidak ada perasaan sayang dihatiku buat Sarah." Ucap Ega tegas.
"Iya iya aku percaya sama kamu."
***
Hari baru semangat baru si kembar sedang menuruni tangga, seragam putih abu-abu yang biasa saja berubah menarik ketika dipakai oleh si kembar.
"Ega, ayo sarapan dulu." Seru Ayumi menghentikan langkah si kembar.
"Ayo." Ajak Ega kepada Eva.
"Aku tidak ikut." Eva berjalan meninggalkan Eva.
"Nona Eva, tuan menunggu nona di meja makan." Srobot mbok Is sebelum Eva berjalan semakin jauh.
"Sejak kapan keluarga ini ada acara sarapan segala." Tandas Eva datar, kalimatnya menohok setiap telinga yang mendengar.
"Sejak sekarang, ayo nanti kamu kesiangan." Jawab Daren.
Daren duduk diujung meja, Ega duduk disebelah Ayumi sedangkan Eva memilih duduk dimeja diseberang mereka.
"Ayo makan yang banyak." Ayumi melayani Ega sangat teliti baru setelah itu dia melayani suaminya, Eva geram melihat adegan demi adegan itu membuat hatinya nyeri.
"Ayumi kamu juga harus melakukannya kepada Eva." Lirih Daren mengingatkan.
"Tidak perlu, Eva bisa sendiri." Eva mengambil beberapa helai roti lalu mengoleskan selai coklat diatasnya.
"Akhirnya keluarga kita bisa berkumpul lagi seperti dulu, ayah sangat berterima kasih kepadamu Eva." Eva terdiam mencerna kalimat Daren. Apakah dia salah dengar? atau itu cuman khayalannya saja, ayahnya berterima kasih kepada dirinya? apa mungkin? pikir Eva.
"Ibu juga bahagia sekali kamu sudah kembali kerumah, ayo makan yang banyak." Ayumi memberikan setumpuk roti lagi kepada Ega.
"Ega juga senang bisa kembali kerumah, bu roti Ega masih banyak jangan ditambahin lagi." Ayumi tersenyum hangat membuat Eva terdiam seketika. Eva tidak pernah melihat senyum seperti itu sebelumnya dan kini dia tahu bahwa senyum itu diberikan Ayumi untuk Ega.
"Biar kamu cepat besar." Jawab Ayumi. Eva menahan segala perasaan yang berkecambuk dihatinya.
"Ega sudah sebesar ini masih kurang besar, apa Ega harus sebesar hulk baru ibu senang." Ledek Ega membuat semua orang didapur tertawa tapi tidak dengan Eva.
"Bisa saja kamu." Lirih Daren pandangannya beralih kepada Eva.
"Eva, nanti sore ayah ada meeting ayah ingin kamu datang." Eva menumpuk rotinya yang baru selesai ia olesi selai.
"Eva tidak bisa, Eva sudah ada janji." Daren meletakkan rotinya diatas piring.
"Ini meeting penting dan ayah ingin kamu ada disana." Daren mengambil gelas berisi air putih lalu menengguknya beberapa kali.
"Ega saja yang gantiin Eva." Eva menengguk lemon tea nya.
" Tidak bisa, Ega masih harus belajar banyak." Srobot Ayumi hampir membuat Eva tersedak.
"Ayah, Ega lebih pintar dari Eva, Eva yakin Ega bisa melakukannya." Eva menatap Daren menunggu jawaban.
"Benar kata ibumu Ega masih harus banyak belajar." Eva bertambah geram mendengar jawaban dari ayahnya.
"Tenang saja nanti kamu pasti akan sehebat ayahmu." Ayumi merapihkan rambut Ega yang sedikit berantakan, Eva tidak bisa menahan emosinya lagi dia sudah tidak kuat melihat tingkah Ayumi Eva mengepalkan kedua tangannya.
"Ayo diminum dulu susunya mumpung masih hangat." Ayumi mendekatkan gelas susu kepada Ega.
"Ibu Ega bisa sendiri kok." Ega mengambil gelas dari tangan Ayumi, Eva sudah muak dengan tingkah Ayumi dia mendorong kursi dengan kasar membuat semua orang menatapnya.
"Eva sudah kenyang, Eva berangkat dulu." Eva berjalan cepat meninggalkan dapur padahal roti yang susah-susah dia buat belum sedikit pun ia sentuh.
"Yuki! tunggu aku." Seru Ega dari belakang.
"Cepat." Ega segera masuk kedalam mobil lalu memasang sabuk pengamannya, Eva mengatur nafasnya dan melajukan mobil pelan. Ronggo dengan beberapa pengawal menggunakan mobil sedan hitam mengikuti majikan mudanya dari belakang.
"Sebenarnya kamu kenapa?." Ega menatap Eva yang sedang fokus dibelakang kemudi.
"Emang aku kenapa?." Tanya balik Eva dengan tenang padahal didalam hatinya ingin sekali dia berteriak meluapkan semua emosinya yang selama ini dia pendam didepan Ayumi dan Daren.
"Sikap kamu beda sekali." Ega menatap lurus kepada adiknya.
"Maksud kamu?." Eva pura-pura bingung.
"Sikap kamu ramah banget ke tante Dila tapi sama ibu kandung kamu sendiri sikapmu dingin." Eva tersenyum simpul.
"Ega sayang, itu cuman perasaan kamu saja." Eva melirik kambarannya tersenyum manis berharap kembarannya itu tidak membahasnya lagi.
"Aku tidak bodoh Yuki, aku bisa bedain masalah seperti itu, apa kamu seperti ini gara-gara ada aku?." Spontan Eva menatap Ega terkejut tidak menyangka saudara kembarnya akan bertanya demikian, Eva kembali fokus mengemudi.
"Tidak ada hubungannya sama kamu." Tandas Eva.
"Yuki kamu iri sama aku karena ibu lebih merhatiin aku?." Eva mencengkeram kuat kemudi.
"Ega jangan bahas itu lagi ya," Eva berusaha menjaga nada suaranya agar tetap tenang.
"Kamu harus jawab aku dulu Yuki." Ega ingin dan harus tahu ada apa sebenarnya dengan saudari kembarnya ini.
"Ega sayang... please jangan bahas lagi." Ega menggelengkan kepalanya kuat.
"Kenapa kamu tidak mau bahas ini, karena semua yang aku katakan tadi itu benar?." Eva menginjak pedal gas membuat mobil sport merah itu melaju cepat, Ega tersentak kebelakang tapi perbuatan Eva tidak menghentikan niatnya.
"Yuki kamu iri sama aku?." Ega geram karena pertanyaannya tidak ada satu pun yang dijawab oleh Eva.
"Aku yang merusak semua ini?!." Eva menginjak pedal gas semakin dalam ia meluapkan emosinya ke jalanan pagi yang ramai.
"Yuki, pelankan mobilnya." Seru Ega bukannya Eva memelankan mobilnya dia malah menambah kecepatan mobil sport itu.
"Yuki kamu cari mati?. Kamu marah sama aku?!." Ega berteriak sejadi-jadinya jantungnya bekerja maraton kedua tangannya menggenggam erat pegangan diatas pintu.
Raut wajah Eva berubah keras matanya tidak berkedip genggaman tangannya sangat kuat diatas kemudi. Dia benar-benar marah sama aku, batin Ega.