Yuki

Yuki
Bab 36



Eva menoleh kesamping menatap Dimas tajam, tangan Dimas masih menekan tombol close lift. Dimas membalas tatapan Eva dengan tatapan lembutnya.


"Jawab aku." Eva membuang wajahnya kasar.


"Lepaskan tanganmu." Ucap Eva dingin.


"Tidak, sebelum kamu katakan dimana letak kesalahanku." Eva menutup rapat mulutnya, Dimas menarik nafas panjang.


"Aku kesini karena disuruh ibu untuk mengantarkan baju kakak sepupuku yang tertinggal dirumah, katanya baju itu mau dipakainya besok." Jelas Dimas meneliti setiap inci wajah Eva dari samping, ekspresi gadis itu tidak berubah masih tidak ada respon.


"Setelah aku memberikan baju itu aku diajak kakak sepupuku untuk menemaninya makan malam." Eva menaikan satu alis, gerakan itu tertangkap oleh mata Dimas.


"Perempuan yang duduk bersamaku tadi adalah kakak sepupuku." Sontak Eva langsung menoleh menatap Dimas menyelidik.


Dimas paham sekarang, Eva marah karena melihatnya bersama Ana kakak sepupunya. Dimas menahan senyum diwajahnya karena Eva sedang serius menatapnya mencari kebohongan di dalam setiap kata-katanya. Eva membuang wajahnya kesal.


"Sekarang percaya?." Tanya Dimas sedikit meledek membuat Eva memutar matanya.


"Tidak." Dimas mendekatkan dirinya kepada Eva.


"Kalau cemburu lucu banget sih." Dimas mencubit pipi Eva gemas, Eva menyingkirkan tangan Dimas dari wajahnya.


"Siapa juga yang cemburu." Tolak Eva.


"Tidak cemburu hm?." Dimas mendekatkan wajahnya mencubit hidung mancung Eva, Eva memukul-mukul lengan Dimas menyuruhnya melepas cubitan dihidungnya.


Cemburu? apakah aku tadi cemburu? tapi setelah mendengar penjelasan Kak Dimas tadi membuatku sedikit lega, apakah itu yang dinamakan cemburu? tunggu yang lebih penting lagi adalah perempuan serigala itu kakak sepupunya! kebetulan yang buruk, batin Eva.


"Jadi nanti pulang jam berapa?." Tanya Dimas, Eva diam tidak bergerak.


"Va, boleh kan aku jemput kamu?." Tidak ada respon, Dimas mengerutkan dahinya.


"Apa yang sedang kamu pikirkan?." Tegur Dimas mengelus pelan sebelah pipi Eva membuat sang empu terperanjat kaget.


"Hah apa?." Eva mendapati wajah Dimas berada tepat didepan wajahnya dengan tergesa Eva melangkah mundur.


"Apa?." Tanya Eva masih terkejut, Dimas menegakkan badannya.


"Kamu pulang jam berapa?."


"Delapan."


"Aku jemput jam delapan." Dimas dibuat menderita menahan rindu oleh gadis didepannya selama satu bulan terakhir karena tidak bertemu dan tidak mendapat balasan dari pesan-pesan yang dia kirimkan, tangan Dimas mengacak surai Eva sebentar menyalurkan rasa rindunya kepada gadis itu.


"Sampai jumpa nanti." Dimas meninggalkan Eva keluar dari gedung besar itu. Eva melirik jam tangannya dan segera masuk kedalam lift kembali untuk bekerja.


Jam menunjukkan pukul 20:00 Eva merapihkan meja kerjanya bersiap pulang.


"Kak masih belum selesai?." Tanya Eva.


"Sebentar lagi, kamu duluan saja." Reza menyelesaikan pekerjaannya yang tanggung hampir selesai.


"Aku duluan kak." Pamit Eva melangkah keluar ruangan.


Diperjalanan menuju lift Eva merasakan hal aneh ditubuhnya, sebelah tangan Eva memegang kepalanya yang berdenyut, ia segera menekan tombol open lift melangkah gontai dan menutup lift dengan cepat. Eva menyandarkan tubuhnya di dinding lift mengatur nafasnya yang mulai tidak beraturan.


Aku kira ini sudah sembuh, batin Eva menekan nomor di layar ponselnya.


"Halo." Lirih Eva.


"Ya nona muda? apakah anda masih sakit?." Tanya dokter diseberang sana.


"Hm." Apakah sebaiknya aku ke laboratorium membuat obatku sendiri?, tapi dengan kondisiku seperti ini sepertinya akan sulit, pikir Eva.


"Nona muda, haruskah saya kerumah?." Eva melirik ponselnya.


"Tidak, salah satu pengawal nanti akan kerumah anda, bisakah anda berikan obat kepadanya?." Eva mengelap keringat dingin yang keluar di dahinya.


"Baik nona."


"Terima kasih." Ucap Eva mengakhiri teleponnya.


Ting!.


Pintu lift terbuka Eva menegakkan badannya berjalan senormal mungkin seraya memasukkan ponselnya kedalam tas kerja.


Diloby Dimas sedang duduk menunggunya, Eva berhenti sebentar mengeluarkan ponselnya kembali.


"Ya nona." Pengawal Eva yang sering duduk dibalik setir itu mengangkat panggilan Eva.


"Pergilah kerumah dokter tanpa Ronggo dan jangan katakan pada siapa pun." Kata Eva tegas.


"Baik nona."


"Sekarang kalian langsung pulang katakan pada Ronggo aku pulang dengan temanku." Jelas Eva.


"Baik nona." Eva langsung mematikan sambungannya setelah mendengar jawaban dari seberang.


Dimas melihat Eva sedang berdiri tidak jauh darinya gadis itu sedang berbicara dengan orang ditelepon, Dimas memutuskan menghampiri gadis itu, saat jarak mereka sudah dekat Eva menjauhkan ponselnya memasukan benda pipih itu kedalam tas.


"Sibuk?." Tanya Dimas.


"Hanya menyuruh mereka untuk pulang." Dimas langsung paham siapa yang Eva maksud dengan mereka.


"Maaf mendadak mengajakmu." Eva tidak menjawab Dimas ia berjalan melewati laki-laki itu.


"Ayo kita pulang sekarang."


Eva sudah didepan pintu keluar ia baru sadar Dimas tidak ada disampingnya, dengan malas Eva membalikan badan mendapati laki-laki itu masih berdiri ditempatnya sedang menahan senyum.


"Apa yang kak Dimas lakukan?." Tanya Eva sedikit keras agar suaranya bisa terdengar oleh Dimas, Dimas sedikit terperanjat menyadari Eva sudah berdiri didepan pintu keluar ia berlari kecil menghampiri Eva.


"Maaf aku terlalu terpesona dengan kata-kata yang kamu ucapkan." Dimas memimpin perjalanan.


"Yang aku ucapkan?, Apa?." Tanya Eva tidak paham.


"Kamu mengatakan 'kita' tadi, itu terdengar sangat indah." Dimas menekan kata kita dalam kalimatnya seraya tersenyum lebar. Eva mengalihkan pandangannya.


"Tunggu disini sebentar." Dimas berlari kencang menuju parkiran. Tidak menunggu lama Dimas sudah berada dihadapan Eva mengulurkan helm. Eva menaiki motor Dimas mengulurkan kedua lengannya melingkar dipinggang Dimas.


Deg!.


Dimas terdiam dia tidak bisa berkata-kata. Apa yang terjadi?, batin Dimas.


Tenagaku mulai hilang, jika aku tidak ingin jatuh secara kony*l dari motor aku harus melakukan ini, batin Eva mempererat pegangannya dipinggang Dimas.


Eva menaikan satu alisnya.


"Aku sudah pegangan, sekarang apa lagi?." Tanya Eva karena Dimas masih tidak bergerak.


"Hah? a ap apa? oh iya... pulang." Jawab Dimas terbata-bata menekan jantungnya.


Hey kamu tenanglah, ucap Dimas dalam hati lalu melajukan sepeda motornya.


Dipertengahan jalan kepala Eva berdenyut-denyut lagi ia menyenderkan kepalanya dipunggung Dimas menutup mata merasakan sakit yang menjalar ditubuhnya.


"Ehem, va." Panggil Dimas.


"Hm." Jawab Eva.


"Besok ada acara tidak?." Tanya Dimas hati-hati.


"Tidak."


"Bagaimana kalau besok pagi mengunjungi panti?."


"Hm." Dimas tersenyum bahagia ia melirik kebawah ke tangan Eva yang melingkar erat dipinggangnya Dimas juga merasakan beban di punggungnya pertanda bahwa Eva sedang bersandar padanya.


Motor besar itu berhenti didepan pintu gerbang rumah mewah milik keluarga tersohor.


"Va, sudah sampai." Dimas tidak merasakan adanya pergerakan, Dimas membuka helm melirik ke belakang. Apa dia tidur?, batin Dimas.


"Va," Dimas mengelus punggung tangan Eva dengan lembut masih tidak ada respon. Dimas memutuskan untuk membiarkan Eva seperti itu sebentar lagi namun baru lima menit berlalu pintu gerbang dibuka dengan kasar menimbulkan bunyi berderit namun ajaibnya gadis dibelakang Dimas tidak terganggu sama sekali.


Ega dengan langkah lebar menghampiri Dimas seketika para penjaga menunduk hormat.


"Apa dia merepotkanmu?." Tanya Ega kepada Dimas.


"Tidak sama sekali." Ega melepas helm yang dipakai Eva dengan lembut dan hati-hati.


"Sepertinya kamu mendapat lampu hijau." Ujar Ega melirik tangan Eva yang melingkar dipinggang Dimas seraya memberikan helm kepada laki-laki itu.


"Ahahaha semoga saja." Dimas tertawa canggung.


"Terima kasih sudah mengantarkan adikku." Ucap Ega mengangkat Eva dari jok motor Dimas, menggendongnya. Ega menatap cukup lama wajah Eva yang sedikit tertutup oleh rambut, kepala Eva terkulai lemas didada bidang Ega.


"Apa semuanya baik-baik saja?." Tanya Dimas merasa ada yang aneh dengan tatapan Ega.


"Iya, semuanya baik-baik saja terima kasih. Hati-hati dijalan." Ega masuk kedalam rumah meninggalkan Dimas yang masih menatapnya dibelakang sana.


Di tengah-tengah anak tangga Eva menggerakkan kepalanya pelan mendongak menatap Ega.


"Mmm, hmmm... Ega?." Lirih Eva.


"Kamu kenapa?." Tanya Ega menatap khawatir kembarannya.


"Aku kenapa?." Eva balik bertanya ia melingkarkan lengannya dileher Ega menenggelamkan wajahnya diceruk leher kembarannya.


"Tidak biasanya kamu tertidur diatas motor seperti itu."


"Hm." Hanya gumaman Eva menjawab Ega.


"Setelah mengantarmu ke kantor aku merasa gelisah hatiku tidak bisa tenang, apa ada sesuatu yang terjadi?." Eva mengangguk dua kali diceruk leher Ega.


"Perempuan serigala itu membuatku bekerja lebih keras." Eva menutupi fakta sakitnya, untunglah saat ini badannya tidak panas hanya sakit kepala dan lemas yang ia rasakan jadi Ega bisa dibohonginya.


"Alasan apa lagi yang membuatmu tidak menolaknya?." Ega melanjutkan langkahnya ke kamar Eva.


"Karena aku anak magang." Ega menghela nafas mendengar jawaban saudara kembarnya.


"Badanmu ringan sekali apa kamu tidak makan?." Ega mendorong pintu kamar, meletakan Eva duduk dipinggir ranjang.


"Akhir-akhir ini nafsu makanku berkurang." Eva menurunkan tangannya dari leher Ega.


"Kamu harus menjaga tubuhmu, aku tidak mau kamu sakit." Ega memeluk Eva mengecup dahinya. Maafkan aku ga, batin Eva merasa bersalah karena sudah membohongi saudara kembarnya itu. Ega melepas pelukannya menatap Eva tangan kirinya bergerak mengelus lembut surai adiknya.


"Besok pagi mau ikut ke panti?." Ajak Eva.


"Besok hari minggu ga." Protes Eva, Ega menahan senyumnya.


"Aku masih ada kelas." Eva menaikan satu alisnya.


Ega menaruh tas Eva diatas meja belajar ia kembali berjalan mendekat dan jongkok didepan Eva tangannya terulur melepas sepatu kerja Eva.


"Agar aku bisa segera membantumu." Ega menatap Eva tersenyum hangat. Ia menaruh sepatu Eva disusunan rak sepatu didalam kamar itu.


Duk!.


Ega terdorong sedikit kedepan.


"Kenapa hm?." Eva yang menabrakkan kepalanya kepunggung Ega mencengkeram kaos pundak belakang saudaranya itu.


"Kangen." Lirih Eva, Ega tertawa.


"Kan setiap hari ketemu." Eva semakin mempererat cengkeramannya.


"Aku tidak bisa membayangkan jika aku dulu mengingatmu dan kita terpisah jauh selama itu, aku pasti sudah gila." Ega memutar tubuhnya memeluk hangat Eva.


"Sudah jangan diingat, aku tidak akan kemana-mana." Ega melepas pelukkannya menatap mata biru Eva.


"Aku sudah minta om Ronggo untuk memberitahu guru kursusmu kalau malam ini kamu libur jadi, sekarang kamu mandi dan segera istirahat." Ucap Ega, Eva berjinjit mengecup sekilas pipi Ega.


"Dasar bawel." Setelah mengatakan itu Eva mengambil langkah seribu masuk kedalam kamar mandi sebelum tertangkap oleh Ega.


Setelah Eva selesai mandi Ega sudah kembali ke kamarnya.


Tok tok tok.


"Nona Eva." Eva melirik pintu kamarnya.


Ceklek.


"Apa ada yang melihatmu?." Eva mengulurkan tangannya menerima kantong berisi obat.


"Tidak nona." Eva mengangguk sekilas.


"Ingat, jangan sampai ada yang tahu. Terima kasih, kau boleh pergi." Pengawal itu membungkuk sebelum pergi.


Eva menutup kamar menguncinya, ia mengambil air yang ditinggalkan Ega membuka kantong mengeluarkan semua obat membacanya satu persatu setelah semua sudah ia baca Eva meminum obat dan berjalan ke ranjang merebahkan tubuhnya.


Zzz zzz zzz.


Eva melirik ponselnya dengan malas ia mengangkat panggilan itu.


"Hm?."


"Aku bermimpi buruk tentangmu." Ucap Jun Ho dengan nada khawatir.


"Sekarang mimpi apa lagi?." Jawab Eva malas.


"Apa kembaranmu menjagamu dengan baik?." Tanya Jun Ho.


"Hm."


"Gadis nakal kamu sudah memastikan jika rasa sakit saudara kembarmu kamu juga merasakannya?." Eva memutar bola matanya jengah.


"Tentu saja, seperti apa yang aku ceritakan padamu Jun Ho si." Hening.


"Sebenarnya apa yang kamu mimpi kan?." Tanya Eva menatap langit-langit kamar.


"Berhati-hatilah dengan orang disekitarmu gadis nakal, semoga apa yang aku khawatirkan tidak benar." Jelas Jun Ho.


"Jika hanya itu yang ingin kamu katakan aku akan menutup teleponnya." Eva ingin segera tidur jarang-jarang dia bisa tidur seawal ini.


"Ya, jangan lalai gadis nakal. Jaljayo (Selamat malam)." Jun Ho menutup panggilannya.


Eva menjauhkan ponsel dari telinganya masih menatap langit-langit kamar beberapa detik berikutnya ponsel Eva kembali bergetar tanpa melihat siapa yang menelponnya Eva menggeser layar ponsel mendekatkannya ke telinga.


"Hm."


"Pekerjaanmu di kantor sudah ayah cabut." Ternyata Daren yang menelpon Eva.


"Hm." Pikiran Eva berputar memikirkan ucapan Jun Ho tadi, dia aneh tidak biasanya Jun Ho seperti itu, batin Eva.


"Perusahaan sudah stabil sejak kamu masuk, sisanya serahkan kepada Reza."


"Hm."


"Harga saham Dee AB mengalami penurunan coba kamu selidiki penyebabnya." Jelas Daren.


"Hm."


"Setelah itu kita lakukan meeting perusahaan."


"Haruskah aku ikut meeting ke singapur?." Tanya Eva.


"Akhir-akhir ini Ega memaksa ayah mengikut sertakannya kedalam meeting perusahaan, apa kamu yang menyuruhnya?." Eva menarik sudut bibirnya mendengar kalimat yang terlontar dari Daren.


"Bukankah ayah yang diuntungkan, mempunyai dua boneka." Ucap Eva datar.


"You are right (Kamu benar)." Jawab Daren.


"Jangan libatkan Ega, apa aku masih kurang?." Suara Eva berubah dingin.


"Ayah masih banyak pekerjaan."


Tuutt tuutt tuutt.


Daren memutus panggilannya membuat Eva geram. Eva meletakkan ponselnya disebelah bantal dengan kasar.


Apa dia berniat merenggut kebebasan Ega juga? dasar Ega! dia juga mau-maunya belajar tentang perusahaan seharusnya dia belajar materi sekolah saja, batin Eva menatap tajam langit-langit kamar.


Zzz zzz zzz.


Apa ayah berubah pikiran, batin Eva menempelkan ponselnya ke telinga.


"Apa ayah berubah pikiran?, jika ayah tidak melibatkan Ega dalam urusan perusahaan aku akan menuruti semua permintaan ayah satu bulan kedepan." Sergah Eva cepat.


"Ternyata kamu sakit karena terlalu banyak bekerja." Suara berat yang tidak pernah terpikirkan oleh Eva akan menelponnya sekarang sedang berbicara lewat ponselnya.


"Tidak ada urusannya denganmu." Hening.


"Sudah minum obat?." Tanya Fathur.


"Hm."


"Istirahat lah, jangan sering-sering begadang."


"Hm."


"Aku tutup teleponnya."


"Hm."


Tuutt tuutt tuutt. Jangan sakit lagi, lirih Fathur diseberang sana.


Ada apa dengan hari ini, aku juga bodoh membiarkan diriku jatuh sakit seharusnya aku lebih menjaga tubuhku sendiri, batin Eva.


***


Paginya Eva dengan celana jeans dan kaos putih yang dimasukkan tas selempang hitam dan sepatu putihnya berjalan menuruni tangga.


"Mau kemana?." Tegur Ega dari belakang.


"Sama siapa?." Ega melihat Eva dari atas sampai bawah.


"Jangan biarkan sembarang orang melihat belakang lehermu." Ega menarik kucir rambut Eva membuat rambut panjangnya jatuh terurai. Ega bersedekap menatap dalam mata Eva.


"Siapa?." Tanya Ega menyelidik, Eva memutar bola matanya.


Kumat nih anak, batin Eva.


"Dimas." Jawab singkat Eva.


"Kemana?." Tanya Ega lagi.


"Panti."


"Berdua?."


"Hm."


"Pulang jam berapa?." Apa? pergi saja belum sudah ditanya pulang jam berapa?, batin Eva menaikan satu alisnya.


"Jam lima, mungkin." Ega menautkan alisnya.


"Jam tiga." Eva menatap wajah Ega yang berubah tegas.


"Jam empat?." Tawar Eva.


"Tiga."


"Setengah empat?." Eva masih berusaha membujuk Ega.


"Tiga." Eva mencebikkan mulutnya karena jawaban Ega.


"Ok, tiga." Ucap Eva pasrah.


"Sarapan dulu." Ega menggenggam erat tangan Eva.


"Aku sarapan diluar saja." Tolak Eva.


"Nggak." Ega menarik Eva keruang makan.


"Ega..." Rajuk Eva. Ega tiba-tiba menghentikan langkahnya membuat hidung Eva menabrak punggung lebarnya.


"Ibu tidak dirumah dia menyusul ayah ke Amerika." Eva melebarkan matanya kaget.


Sejak kapan dia menyusul ayah dalam urusan bisnis, seumur hidupku dia tidak pernah melakukan itu, batin Eva tidak percaya. Eva tertarik kedepan membuyarkan lamunannya.


"Jadi tidak ada alasan untuk menolak sarapan, Yuki." Ega menekan namanya membuat Eva tersenyum kaku.