
"Polisi dan ambulans lima menit lagi sampai." Seru pak Dani dari luar sana mengintrupsi Ronggo.
Pak Dani merasa ada yang tidak beres dengan murid-muridnya didalam lingkaran itu membuat pak Dani berinisiatif mengambil tindakan.
"Kalian cepat lakukan." Perintah Ronggo.
Tiga pengawal sekaligus bergerak maju, Eva tanpa ragu menyingkirkan tangan Ega dengan sekali hentakkan.
Tiga pasang tangan terulur berusaha meraih jasad Dimas. Ega baru melihat film kung fu kemarin bersama teman-temannya ada sebuah patung dewa yang memiliki banyak tangan yang mempunyai jurus seribu tangan mungkin.., Ega lupa dengan namanya dan kini Ega melihat langsung didepan mata kepalanya sendiri.
Pergerakan tangan Eva tidak bisa dibaca, lembut namun keras menangkis semua pergerakan tangan para pengawal. Beberapa detik Ega mengagumi keahlian adiknya namun saat salah satu geraman terdengar diantara pengawal membuat Ega sadar.
"Yuki!." Teriak Ega menarik pundak Eva dengan kuat.
"Cepat bawa dia!." Perintah Ega, serentak para pengawal tadi meraup jasad Dimas dari Eva tentu saja Eva tidak tinggal diam ia hendak meraih jasad Dimas.
Plak!.
Ega menangkupkan kedua tangannya ke pipi Eva menimbulkan bunyi tamparan, Ega tidak bermaksud sekuat itu menangkup wajah adiknya rasa bersalah merayapi Ega tapi sekarang bukan waktunya meratapi kejadian yang sudah terjadi, mata Eva semakin tajam menatap para pengawal, Ega menarik tangannya membawa wajah Eva tepat dihadapannya.
"Lihat aku!." Teriak Ega tepat diwajah Eva. Bola mata Eva bergerak-gerak mencari keberadaan tubuh Dimas.
"Tatap mataku Yuki!." Teriakan ketiga Ega membuahkan hasil, bola mata Eva berhenti tepat di manik coklat terangnya, mereka saling menatap. Ega tidak kuasa melihat air mata yang turun dari mata biru adiknya.
"Dia pergi..." Ucap Eva lemah air matanya semakin deras. Tatapan tegas Ega berubah lembut.
"Em." Ega mengangguk, tangan Eva naik kepundak Ega mencengkeramnya.
"Dimas pergi." Ega meneteskan air matanya.
"Em." Tubuh Eva bergetar.
"Dia tidak akan kembali." Ega memeluk Eva erat tubuh Eva bergetar hebat didalam pelukkan Ega.
"Jangan ditahan, kamu boleh meluapkannya." Ucap Ega satu tangannya mengelus pelan surai adiknya. Eva tetap bungkam air matanya terus mengalir.
"Amankan nona muda dan tuan muda, bereskan keributan ini." Perintah Ronggo kepada para pengawal.
"Tuan muda bawa non Eva pergi, serahkan yang disini kepada kami." Ucap Ronggo bersimpuh dengan satu kaki didepan Ega.
Ciitt.
Decitan ban mobil berhenti tepat disamping Ega dan Eva. Ronggo membukakan pintu belakang mobil seraya membungkukkan badannya empat puluh derajat.
Ega berdiri menggendong Eva masuk kedalam mobil.
***
Empat hari sudah setelah kejadian mengerikan itu Eva masih senantiasa mengurung dirinya di kamar.
Ega masuk kedalam kamar Eva tanpa mengetuknya lebih dulu melihat tubuh dibalut selimut sedang meringkuk diatas ranjang. Ega berjalan menghampiri ranjang duduk dibelakang tubuh itu.
"Yuki, makan dulu." Ega menepuk lengan kiri Eva tidak ada jawaban.
"Sampai kapan kamu mau seperti ini?." Ega berbaring dibelakang Eva memeluk adiknya.
"Aku tahu kamu sedang menangis." Masih tidak ada jawaban Ega menarik nafas panjang.
"Jangan menyiksa dirimu." Ega mengecup kepala Eva dari balik selimut mempererat pelukkannya memejamkan mata.
***
Sinar mentari menelusup membelai wajah dua saudara yang masih terlelap tidur. Ega membuka matanya mengamati wajah Eva pemandangan yang selalu ia lihat empat hari terakhir.
Sejak kejadian itu Ega selalu tidur dikamar Eva menemani adiknya, jika Ega belum berbaring disebelah Eva saudari kembarnya itu akan terus menangis sampai Ega memeluknya barulah perlahan Eva terlelap tidur. Eva selalu tidur memunggunginya tapi saat pagi hari posisinya sudah berubah menghadap Ega dengan kepala yang menyembul dari dalam selimut.
Ega menyapukan telunjuknya di kedua kelopak mata Eva terus turun ke hidung dan berhenti disana.
"Matamu sudah sangat bengkak, hidungmu lebih buruk dari hidung badut." Lirih Ega dengan suara seraknya.
"Ohayou Yuki (Selamat pagi Yuki)." Ega tersenyum lembut mengecup hidung dan kedua mata Eva yang masih tertutup.
"Aku akan segera kembali, makanlah meskipun hanya sedikit." Ega bergerak hendak duduk namun Eva mencengkeram baju sampingnya, Ega menatap Eva yang perlahan membuka matanya. Ega kembali berbaring menghadap adiknya.
"Putri hulk sudah bangun." Ega tersenyum mengelus lembut pipi Eva. Eva menenggelamkan wajahnya didada bidang Ega.
"Aku harus berangkat sekolah Yuki, kamu mau ikut?." Tidak ada jawaban.
Setelah kejadian tewasnya Dimas hari berikutnya sekolah diliburkan selama dua hari sekarang hari ketiga masuk sekolah dan Eva tidak ada niat untuk berangkat ke sekolah jangankan ke sekolah keluar kamar saja tidak. Ega mengusap surai Eva lembut.
"Jangan lupa sarapan, aku harus pergi sekarang." Ega memundurkan tubuhnya mengecup kening Eva sebelum pergi kebiasaan barunya.
***
Ega menutup pintu kamarnya ia sudah rapih dengan seragam sekolah lengkap. Ega berjalan menuruni tangga belum separuh jalan Ega berhenti melihat Daren menaiki tangga dengan wajah serius. Ega turun menghampiri Daren.
"Pagi ayah." Sapa Ega.
"Pagi." Daren berhenti.
"Tidak biasanya ayah naik ke lantai dua ayah mau kemana?." Tanya Ega sopan.
"Apa saudari kembarmu masih mengurung diri?." Tanya Daren tegas.
"Ya." Daren tanpa mengatakan apa pun berjalan melewati Ega.
"Ayah." Sergah Ega cepat, Daren menghentikan langkahnya.
"Apa Yuki melakukan sesuatu yang buruk?." Tanya Ega menatap punggung kokoh Daren.
"Dia telah lalai dalam pekerjaannya karena membiarkan dirinya terjebak perasaan tidak penting itu." Daren melanjutkan langkahnya.
"Biarkan Ega yang menggantikan Yuki." Seru Ega, Daren kembali menghentikan langkah kakinya membalikan badan menatap putranya dibawah sana.
Ega merasa gugup ditatap seperti itu oleh Daren. Setiap bersama Ega Daren selalu bersikap hangat meskipun tidak sering karena Daren jarang ada dirumah dan Ega sekarang baru berhadapan lagi dengan ayahnya yang tegas dan serius setelah sepuluh tahun lebih.
"Apa yang kamu bisa?." Ega kaget ditanya seperti itu.
"Apa yang Yuki lakukan aku juga bisa melakukannya." Jawab tegas Ega menahan perasaan gugupnya.
"Apa kamu yakin?." Ega membalas tatapan Daren.
"Ya." Jawab Ega.
"Ayah kirimkan filenya sekarang besok kita berangkat ke singapura." Jelas Daren berjalan turun melewati Ega.
Ega bernafas lega, maaf Yuki aku tidak bisa membiarkan Ayah memarahimu seperti waktu itu akan aku cari solusinya, cepatlah kembali seperti dirimu yang nakal dan manja, batin Ega.
***
Saat sarapan, di mobil, disekolah Ega berkutat dengan file yang Daren kirimkan mempelajarinya. Guru privat sedang mengecek jawaban soal yang sudah Ega kerjakan Ega memanfaatkan waktu itu untuk membuka file lagi.
"Untuk pertemuan yang berikutnya saya akan memberikan soal dua kali lipat dari hari ini." Jelas guru privat kimia itu.
"Baik."
"Hari ini sampai disini." Ega membungkuk mengucapkan terima kasih.
Di jam berikutnya Ega sedikit tidak bisa berkonsentrasi karena rasa sakit dijantung dan sesak di paru-parunya bertambah. Pasti Eva sedang menangis kencang, jika hanya menangis biasa Ega masih bisa menahannya tapi kalau sudah seperti ini Ega harus menahannya sekuat tenaga.
Dua jam berlalu, privat terakhir di hari ini sudah selesai. Secepat kilat Ega berlari meninggalkan ruang tengah tanpa membereskan alat tulisnya bahkan guru privatnya saja masih disana sedang bersiap-siap untuk pulang.
Ega mengatur nafasnya didepan pintu kamar setelah dirasa lebih baik Ega membuka pintu menatap sebuah kepompong diujung kepala ranjang.
Eva duduk memeluk lutut masih dalam balutan selimut, wajahnya ia sembunyikan diantara kaki dan tubuhnya. Ega duduk dipinggir ranjang mengusap pelan surai adiknya.
Zzz zzz zzz.
Ega melirik ponsel diatas nakas, ponsel Eva berhenti bergetar tangan Ega meraih ponsel Eva melirik layar benda pipih itu dahi Ega berkerut.
Apa ini, Bon Hwa 30 panggilan tidak terjawab Jun Ho 71! panggilan tidak terjawab, Ega mengedipkan matanya dua kali.
"Yuki, mereka berdua berbahaya. Tidak ada orang yang menelpon sebanyak ini." Kata Ega menatap wajah adiknya yang tersembunyi lalu kembali ke layar ponsel Eva.
Banyak sekali nama-nama yang menghubungi adiknya.
"120!! ssiapa yang menghubungimu sebanyak ini, apakah dia penguntit?." Ega melirik nama kontak yang tertera.
Ayah.
Ega melirik Eva hatinya merasa iba ia memutuskan untuk kembali melihat layar ponsel Eva. Ega sedikit merasa aneh dengan nama disalah satu deretan orang yang menghubungi Eva.
"Yuki, siapa itu si bodoh?." Tanya Ega, si bodoh 7 panggilan tidak terjawab, dia yang paling sedikit menelpon Yuki, batin Ega jarinya menarik layar keatas layar ponsel berhenti menandakan sudah semua notifikasi ia lihat Ega terdiam sebentar menatap notifikasi pesan dibaris terakhir.
Kak Dimas.
Kangen.
10:11
"Kamu pasti sudah melihatnya." Eva tetap diam.
"Aku tidak memintamu untuk melupakannya, aku juga tidak memintamu mencari penggantinya." Ega berhenti sebentar.
"Mau cari angin luar?." Ajak Ega, mungkin dengan cara itu bisa sedikit membuat Eva lebih baik.
Ega khawatir jika besok Eva bangun tidak ada dia disampingnya. Ega terkejut tiba-tiba tangan Eva terulur memeluknya Ega melirik kebawah.
"Baik kita tidak akan kemana-mana." Ucap Ega menyimpulkan jawaban Eva.
"Si bodoh itu siapa?." Tanya Ega penasaran. Eva mengeratkan pelukkannya.
"Baik, aku tidak akan bertanya lagi."
***
Diruang makan yang luas itu hanya ada dua manusia yang mengisinya mereka menyantap makanan seraya membahas pekerjaan.
"Apa kamu sudah memahami filenya?." Tanya Daren.
"Sudah."
"Bagaimana menurutmu isinya?." Daren memancing Ega untuk memeriksa apakah Ega sudah pantas ia bawa ke perusahaan atau masih perlu belajar.
"Harga saham menurun selama dua bulan berturut-turut itu karena strategi tempat pemasaran kurang trategis, pemilihan pengiklanan juga sedikit bermasalah." Ujar Ega.
"Kenapa kamu berpikir begitu?." Daren menyantap makanannya dengan tenang.
"Dee AB bukan perusahaan baru atau pun kecil tapi pengiklanan empat bulan terakhir memakai level standar untuk citra perusahaan besar seperti itu sangat mengecewakan karena itu para customer tidak tertarik membeli produk yang mengakibatkan grafik penjualan menurun dan berdampak pada harga saham." Apakah Eva juga selalu diuji seperti ini?, batin Ega.
"Lalu?." Daren mengelap mulutnya dengan sapu tangan khusus.
"Bukankah sudah jelas, masalahnya ada di karyawan perusahaan." Daren menatap sekilas putranya.
"Habiskan makananmu, jam empat pagi kita berangkat." Daren berdiri dari kursinya.
"Jangan katakan apa pun pada ibumu biar ayah yang memberitahunya."
"Baik." Daren pergi meninggalkan ruang makan, Ega menghabiskan makan malamnya setelah itu ia menekan nama kontak di ponsel.
"Halo ga." Terdengar jawaban dari seberang.
"Aku membutuhkan pertolonganmu." Kata Ega tanpa basa-basi.
"Tentu." Ega menatap piringnya yang kosong.
"Mungkin akan sedikit merepotkan apakah tidak apa-apa?." Tanya Ega.
"Serahkan padaku." Ega tersenyum mendengar jawaban lawan bicaranya.
"Thanks."
"Ok."
Ega memutus sambungan telepon.
***
Ega sedang berbaring memeluk Eva tangannya merasakan sesuatu.
"Yuki, mau sampai kapan kamu menangis? selimutmu sudah basah loh." Ega memegang selimut basah itu.
"Berikan padaku biar aku ganti." Ega menarik pelan selimut yang membungkus tubuh Eva menggantinya dengan yang baru.
Ega merentangkan selimut menutupi separuh tubuhnya dan tubuh Eva ia kembali berbaring. Eva menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya sampai diatas kepala namun tangan Ega lebih cepat menahannya.
"Aku sudah lihat wajah jelekmu kamu tidak perlu menutupinya lagi." Kata Ega.
Ega tetap menahan selimut agar tidak menutupi wajah adiknya, tidur dengan menutup seluruh wajah membuat orang kesulitan untuk bernafas itulah yang dipikirkan Ega.
Namun Eva adalah Eva ia memiliki banyak ide dikepalanya. Eva meringkuk memasukkan tubuh bagian atasnya kedalam selimut memutar badannya seperti sushi membuat selimut ditubuh Ega tertarik, Eva menggelinding menjauh ke sisi ranjang.
Ega tertawa dibuatnya memegangi perut.
"Hahaha Yuki haha." Ega tidak kuasa untuk bicara.
Setelah Ega puas tertawa tangan kanannya memegang dada sebelah kiri. Sakit, Eva masih menangis. Terkadang sakit itu hilang tapi hanya sebentar Ega melirik Eva diujung sana.
"Maaf." Ega memiringkan badannya menghadap gumpalan besar itu.
"Yuki, kemarilah aku tidak akan tertawa lagi." Eva tetap tidak bergerak.
"Terserah kalau kamu mau tetap menangis tapi peluk aku." Ucap Ega merentangkan tangannya menunggu Eva.
Lima detik tidak ada pergerakkan Ega masih senantiasa menunggu. Gulungan besar itu berguling mendekat.
Buk.
Tubuh Eva membentur badan Ega otomatis tangan Ega melingkari gulungan berisi kembarannya itu. Ega tersenyum lebar menampakkan wajahnya yang rupawan.
"Hmm, bayi hulk tambah gendut." Ega mempererat pelukkannya.
"Oyasumi baby hulk (Selamat tidur)." Rasa sakit dijantung Ega mulai mereda nafas Eva mulai teratur.
Aku pergi hanya dua hari aku akan langsung pulang setelah semua urusan selesai. Aku berharap bisa melihat senyummu saat pulang nanti, batin Ega.
***
Singapura 06:00.
Ega keluar dari kamar mandi hotel melihat ayahnya sedang duduk menghadap keluar jendela entah ia sedang menikmati pemandangan indah diluar hotel atau menikmati layar laptopnya.
"Apa ayah tidak istirahat?." Tanya Ega duduk diseberang meja, Ega melirik gelas berisi coklat panas didepannya.
"Ayah sudah istirahat di pesawat tadi." Di pesawat? itu hanya dua jam, batin Ega.
"Ada yang bisa Ega bantu?." Ega melirik jari-jari Daren bergerak lincah diatas keyboard.
"Sepertinya kamu sudah sangat siap dengan meeting hari ini." Ucap Daren tanpa mengalihkan pandangannya dari laptop.
Bagaimana mereka bisa sangat mirip, batin Ega teringat kembarannya jika sudah fokus dengan pekerjaan.
"Aku akan berusaha sebaik mungkin." Jawab Ega.
"Nanti kamu akan menyamar, ayah sudah mempersiapkan semua peralatan penyamaranmu. Jangan menyebutkan namamu yang sebenarnya." Jelas Daren.
"Apa karena aku sudah lama menghilang, yang mereka tahu hanya lah Yuki satu-satunya anak yang ayah miliki." Sudut bibir Daren terangkat kecil samar-samar terlihat.
Daren senang putranya juga memiliki kritis dan intuisi yang tinggi.
"Kamu pikir seperti itu?." Daren menyesap kopinya menatap Ega.
"Mungkin." Jawab Ega.
"Tidak ada jawaban menggantung Ega Augustin Ayhner." Tegas Daren.
"Iya, aku ingin tahu apa yang ayah pikirkan." Daren menyesap kopinya lagi.
"Adikmu tidak pernah menunjukkan wajah aslinya kepada dunia luar hanya segelintir orang yang pernah melihat wajah putri Daren itu juga berlaku untukmu." Ega hampir tidak percaya dengan ucapan Daren, adiknya hampir terjun ke semua urusan perusahaan bagaimana bisa ia menipu orang-orang diluar sana, batin Ega.
"Yuki menggunakan nama samaran?." Tanya Ega.
"Tidak, dia tetap menggunakan nama aslinya. Ayah juga memperkenalkannya sebagai putri ayah dengan merubah jumlah usianya." Ega yang sedang meminum coklat panas hampir tersedak.
"Kamu harus belajar mengolah emosimu agar tidak mudah tersedak hanya karena hal kecil yang mengagetkan." Ega mengelap bibirnya dengan tisu.
Waah ini ayah mode work, ayah tidak membiarkan hal kecil lolos begitu saja, batin Ega.
"Maaf." Ucap Ega, Daren menyenderkan punggungnya ke kursi.
"Eva Augustin Ayhner dua puluh dua tahun putri dari Daren, mereka hanya tahu sebatas itu. Bahkan Eva menggunakan alat untuk merubah suaranya." Ega tertegun.
"Alat merubah suara?." Ulang Ega.
"Hm, ayah tidak tahu dia mendapatkan alat itu dari mana, tidak hanya itu dia juga memiliki lensa mata yang aneh." Daren menyesap kopinya.
"Adikmu selalu menyembunyikan warna matanya." Lanjut Daren.
"Banyak yang tidak aku ketahui tentang Yuki." Ega meminum lagi coklat panasnya.
"Bahkan ayah sendiri juga merasa seperti itu." Daren menatap tegas manik putranya.
"Tidak ada yang bisa menebak isi pikiran Eva yang sebenarnya." Takehara sekali pun, lanjut Daren dalam hati.
"Em, jika bersamaku dia akan manja dan nakal saat bersama ayah dia sangat dewasa dan profesional jika dengan ibu dia berubah sangat dingin apa lagi saat kejadian itu." Pikiran Ega kembali saat para pengawal hendak mengambil jasad Dimas dari Yuki suara yang keluar dari mulut adiknya sangat asing bagi Ega tatapannya, auranya, Ega merinding mengingat kejadian itu, satu hal yang Ega lewatkan Yuki bersikap hangat kepada Dila ibu Fathur, batin Ega.