Yuki

Yuki
Bab 19



Aku menarik nafas panjang menetralkan keterkejutanku.


"Kenapa kamu disini?." Tanya Fathur, dasar lemot ya buat mandi lah, batinku.


"Minggir!." Aku berjalan melewatinya dan menutup pintu keras.


Darr!.


"Eva! pelan-pelan rusak nanti pintunya." Protes Fathur yang kaget.


"Bodo!." Lirihku dari dalam kamar mandi.


"Aku bisa mendengarnya." Seru Fathur dari luar.


******


Eva keluar dari kamar mandi, malam ini Eva masih meminjam baju dari penduduk rumah itu. Kaos biru panjang dan celana training hitam yang kebesaran membungkus tubuh rampingnya. Eva berjalan memasuki kamar Fathur yang dipinjamnya sejak malam kemarin.


Menyisir rambut panjangnya Eva tenggelam kedalam pikirannya sendiri. Ini pertama kalinya Eva melawan Daren, membuat Daren marah bukan pilihan yang bagus tapi terlalu banyak pertanyaan didalam kepala Eva menuntut jawaban, jawaban yang tidak mungkin Eva dapatkan jika tetap berada dirumah itu.


ini adalah pilihan yang benar, aku benar memilih pergi dari sana, Eva meyakinkan dirinya sendiri. Jika nanti aku kembali ayah benar-benar mengurungku aku akan menerimanya setelah semua keanehan dan kejanggalan ini terpecahkan, ujar Eva dalam hati.


Eva membuka pintu kamar kakinya melangkah menuju dapur. Didapur Eva mendapati pak Dani dan Fathur sedang fokus menatap layar laptop, karena penasaran Eva menjulurkan lehernya agar bisa melihat apa yang membuat kakak beradik itu sangat fokus.


"Sedang lihat apa?." Kakak beradik itu terperanjat kaget melihat Eva sudah berdiri dibelakang mereka.


"Ini aku sedang iseng-iseng mencari arti simbol dari novel yang sedang aku baca." Tutur pak Dani.


"Boleh aku lihat?." Eva semakin mendekat ke layar, pak Dani disebelah kanan Eva menggeser kursinya memberi ruang untuk gadis itu begitu juga Fathur yang berada disebelah kiri.


"Sepertinya aku pernah melihat angka itu." Ujar Eva.


"Tentu saja kamu sering melihat angka itu, dari TK juga sudah diajari berhitung." Fathur tiba-tiba sewot, sepertinya dia marah karena kejadian tadi di depan kamar mandi, batin Eva.


"Bodoh." Eva mengucapkannya dengan wajah datar, pak Dani tersenyum mendengar Eva membodohi adiknya sedangkan Fathur mengerutkan dahi kesal.


"Urutannya sama." Lirih Eva mulai berpikir.


"Aku ingat sekarang." Pak Dani menatap Eva tertarik dengan pembahasan mereka saat ini.


Eva tiba-tiba menarik kerah kaos sebelah kirinya.


"Hei! mau ngapain kamu?." Seru Fathur terkejut dengan perbuatan tiba-tiba Eva disampingnya.


"Bodoh. Kamu kira aku mau ngapain." Eva memberikan tatapan dinginnya kepada Fathur.


Terlihat dipundak bawah sebelah kiri sedikit ke belakang sebuah deretan angka dan kode. Bola mata pak Dani meneliti setiap tulisan-tulisan kecil itu.


"Sama persis." Lirih pak Dani menarik perhatian Eva dan Fathur.


"Itu tato?." Fathur meneliti angka dan kode yang diukir kecil dengan tinta hitam diatas kulit putih Eva. Fathur cepat-cepat mengalihkan tatapannya.


"Pak Dani bisakah anda mengambil fotonya?." Ucap Eva.


Pak Dani mengambil foto tato itu dengan ponselnya, Eva mengembalikan kerah kaos seperti semula lalu menggeser kursi diseberang Fathur dan pak Dani, mendudukinya. Pak Dani menzoom foto yang baru diambil.


"Fathur kertas pulpen." Ucap pak Dani, dengan cepat Fathur memberikan kertas putih beserta pulpen kepada kakaknya itu. Tangan pak Dani sibuk mencoret-coret kertas.


"Selesai." Pak Dani menyodorkan kertas tadi ke tengah meja, matanya melebar tidak percaya.


"I-ini..." Suaranya tercekat. Fathur juga sama dia diam seribu bahasa.


"Apa maksud dari angka ini, pak guru tahu?." Tanya Eva bingung, yang Eva lihat hanya satu baris angka dan dibawah angka terdapat sebaris kode.


8 9 3


●22L


"Ok, kalau aku tidak salah," pak Dani mulai menjelaskan.


"Angka 8 itu untuk "ya" angka 9 untuk "ku" dan angka 3 untuk "za" jadi kalau ketiganya digabungkan menjadi yakuza." Eva seperti pernah mendengar kalimat itu tapi tidak tau kapan dan dimana.


"Yakuza?." Tanya Eva.


"Sekelompok mafia atau sering disebut organisasi mafia jepang." Jelas Fathur, pak Dani menatapku penuh selidik.


"Siapa diantara keluargamu yang asli orang jepang?." Pak Dani menunggu jawaban.


"Ayahmu?." Tanya Fathur.


"Bukan, ayah asli orang amerika." Apakah mungkin... batin Eva.


"Kakek, kakekku asli orang jepang dia menikah dengan nenek yang asli orang indonesia."


"Sudah jelas kakekmu pasti mempunyai rahasia besar dibalik semua ini."


Tiba-tiba Eva merasakan nyeri diperutnya seperti ada seseorang yang meninju keras disana. Kenapa harus sekarang, batin Eva. Perasaan Eva mengatakan ada yang tidak beres, Eva merasakan tekanan entah dari mana.


"Eva kamu nggak apa-apa?." Tanya pak Dani. Eva mencengkeram pinggiran meja, menahan rasa sakit yang menyerangnya.


"Eva, va kamu kenapa?." Fathur hendak berdiri menghampiri Eva.


"Duduk!." Ucap Eva dingin membuat Fathur mengurungkan niatnya, tante Dila muncul dari ruang tamu.


"Ada apa ini?." Eva menatap pak Dani tajam.


"Apapun yang sedang terjadi aku harus bergerak cepat. Ini sangat aneh." Ucap Eva tajam.


"Aku mengerti tapi apa kamu baik-baik saja?." Pak Dani menatap Eva khawatir.


Eva berusaha mengendalikan dirinya. Setelah beberapa menit yang hening Eva perlahan menggelengkan kepalanya, cengkeraman tangan Eva dimeja mengendur.


"Aku tidak tahu pak guru, aku sendiri sangat bingung." Lirih Eva.


"Tenang nak, semua akan baik-baik saja." Tante Dila menghampiri Eva berdiri disamping gadis itu dan mengelus pelan surainya.


Apa lagi sekarang, tato dipundakku memiliki arti yakuza? mafia? haha jangan membuatku tertawa, ucap kesal Eva dalam hati. Fathur menyilangkan lengannya dan menyenderkan punggungnya dikursi. Eva menatap pak Dani dalam dan serius bukan tatapan tajam seperti tadi.


"Tato ini sudah ada sejak aku masih sangat kecil dua tahun kira-kira usiaku saat itu, ini peninggalan kakek dan tidak boleh ditunjukan kepada siapapun, nenek yang memberitahuku." Jelas Eva, semua orang menatap Eva menunggu.


"Kakek pergi meninggalkan jepang saat usiaku baru beranjak tiga tahun, tiga tahun setelah kakek pergi tepatnya saat hari ulang tahunku yang ke enam ayah dan ibu membawaku ke indonesia dan menetap disini."


"Berarti sebelum kamu tinggal di indonesia kamu tinggal di jepang?." Tanya pak Dani, Eva mengangguk mantap.


"Kakek memberiku tato ini pasti bukan karena iseng saja dan ada kemungkinan bahwa aku adalah cucu seorang yakuza walaupun hanya 50% jika angka yang pak guru jelaskan itu benar." Pak Dani mengangguk setuju.


"Itu memang benar aku yakin 100%." Fathur mengangguk setuju.


"Satu masalah sudah terpecahkan tinggal kode dibawah angka ini?." Eva menunjuk kode dan meraih pulpen lalu mencoret-coretnya.


"Titik dua puluh dua L." Ucap Fathur.


"Aku juga melihat itu." Fathur cemberut mendengar jawaban datar Eva. Pak Dani menautkan alisnya.


"Jika titik ini kita anggap nol bagaimana?."


"Nol dua puluh dua L?." Fathur mencondongkan tubuhnya kedepan.


"Apa huruf L ini bisa dirubah menjadi angka juga?." Saran Fathur.


Otak Eva bekerja keras memahami kode dihadapannya. Tante Dila ikut mencondongkan tubuhnya memperhatikan kegiatan mereka.


"Apakah semua ini memakai angka? jika huruf L dibalik dia akan berubah menjadi angka tujuh." Tutur pak Dani.


"0227." Apa lagi ini? tunggu aku ingat sesuatu, batin Eva.


"Apakah ini kode untuk sesuatu?." Tanya Fathur.


"Bukan, kakek tidak akan semudah itu menggunakan sesuatu yang sama dua kali." Jelas Eva, tangannya mulai mencoret-coret kertas lagi.


"Apa maksudmu va?." Tanya pak Dani.


"Ini bukan angka tapi huruf, titik ini bukan angka nol tapi huruf O." Jelas Eva.


"Kalau begitu huruf apa untuk mewakili angka dua puluh dua?." Tanya tante Dila ikut penasaran.


"W." Jawab Eva cepat, Eva menyadari kebingungan mereka.


"Angka dua puluh dua didalam sandi caesar adalah huruf W."


"Bagaimana kamu tahu kalau ini adalah sandi caesar, trus sandi caesar itu apa? kak Dan kamu tahu?." Tanya Fathur menatap pak Dani.


"Tidak." Jawab pak Dani singkat.


"Sandi caesar adalah sandi subsitusi yang menggunakan kunci yang panjangnya satu karakter diambil dari huruf alfabet, kakek sering menggunakan sandi itu." Tante Dila menatap kagum kepada Eva.


"Jadi?." Tanya tante Dila mengintrupsi.


"OWL." Ucap pak Dani dan Fathur kompak.


"Apa maksudnya?." Tante Dila menatap pak Dani dan Fathur bergantian.


"Itu panggilan kakek kepadaku dulu, aku pernah menggunakan nama itu sekali." Suara Eva membuat yang lain beralih menatapnya.


Ingatan Eva kembali ke masa-masa TK dulu saat bermain bersama Tiara, tiba-tiba Eva merindukan gadis chubby itu.


"Sekarang kakekmu ada dimana?." Suara pak Dani membuyarkan lamunan Eva.


"Kakek sudah lama meninggal." Pak Dani mengetuk-ketukkan jarinya diatas meja berpikir keras.


"Kamu mau kemana?." Tanya pak Dani khawatir.


"Sendiri?." Srobot Fathur.


"Bahaya nak." Tante Dila meremas pundak Eva pelan, Eva tersenyum melihat reaksi mereka, baru kali ini Eva merasa sangat diperhatikan.


"Aku akan ke suatu tempat lalu aku akan mencari sesuatu yang menggangguku selama ini, tentu saja aku pergi sendiri, itu lebih aman jika ini ada hubungannya dengan mafia maka sekarang ini berita tentang hilangnya aku pasti sudah tersebar luas dan mereka tidak akan mensia-siakan kesempatan emas ini." Eva cepat-cepat menambahkan sebelum ada yang protes.


"Tidak ada yang bisa mencegahku."


Dila menggeleng pelan, pak Dani menghembuskan nafas berat, Fathur meremas-remas tangannya gelisah.


"Ini masalah serius menyangkut keluargaku dan hidupku, ibu jangan khawatir eva akan baik-baik saja." Eva menatap manik tante Dila lembut.


Mata Fathur melebar mendengar Eva menyebut ibunya dengan sebutan ibu bukan tante.


"Pak boleh aku pinjam ponsel nya?."


Pak Dani menatap Eva sebentar lalu memberikan ponselnya. Eva berjalan meninggalkan dapur menuju ruang tamu, ia membuka secarik kertas dan menekan sederet angka.


"Halo?." Suara dari seberang sana, Eva menyunggingkan senyum tipis.


"Siapa ini?." Tanyanya lagi.


"Cafe." Sunyi sebentar.


"Oh ya ampun..e," jeritnya.


"Jangan sebut!." Srobot Eva cepat. Bahaya jika Daren sudah menyuruh orang untuk menyadap telephon disekitar wilayah jakarta.


"Ok, bagaimana keadaanmu? sekarang kamu ada dimana? kamu bohong sama aku, kamu tahu aku tidak bisa tidur karena mencemaskanmu." Dimas menyelesaikan kalimatnya dalam satu hembusan nafas.


"Apa kakak seorang rapper?."


"Bodo." Dimas sewot, Eva tersenyum kecil.


"Maaf karena aku sudah membohongi kakak, aku baik-baik saja dan aku berada di tempat yang paling aman." Bola mata Eva menyapu seisi ruang tamu yang akan segera ia tinggalkan.


"Aku akan menjemputmu sekarang katakan kamu dimana?."


"Tidak bisa, dengar, aku menelephon kakak agar kakak tidak terlalu mengkhawatirkanku, aku akan pergi ke suatu tempat untuk beberapa waktu. Kakak konsentrasi saja dengan ujian yang akan datang, kakak harus lulus dan mendapatkan nilai yang bagus, jaga diri baik-baik hanya itu yang ingin aku sampaikan. Terima kasih sudah mencemaskanku." Eva langsung mengakhiri sambungan telephon tanpa mendengar jawaban dari seberang.


Saat Eva hendak kembali ke dapur dan ia melihat Fathur berdiri diam tidak jauh dari posisi Eva berdiri.


"Ini ponselnya pak terima kasih." Pak Dani mengangguk dan menerima ponselnya.


"Makan dulu yuk, sampai lupa kan kita belum makan malam." Ajak tante Dila.


"Maaf bu kayaknya Eva nggak bisa ikut makan, Eva harus segera pergi." Tolak Eva.


"Kamu tidak boleh pergi sebelum kamu makan." Tegas tante Dila, Eva mengangguk pelan lalu duduk dikursi kosong.


"Fathur, ngapain kamu diam disitu ayo makan." Seru tante Dila. Fathur perlahan kembali ke kursinya.


Sunyi, tidak ada yang membuka suara. Semua orang sibuk dengan pikiran dan piringnya masing-masing. Sampai tante Dila memecah kesunyian.


"Sekarang tujuan Eva kemana?." Tanya tante Dila, pak Dani menunggu jawaban Eva penasaran sedangkan Fathur dia masih sibuk dengan piringnya.


"Stasiun bu, tujuan eva cukup jauh."


"Apa kamu punya uang untuk membeli tiket?." Tanya pak Dani.


"Ada, sebelum aku kabur aku sempat membawa uang cash untuk berjaga-jaga kalau aku nanti bisa kabur."


"Berarti sebelumnya kamu sudah berencana untuk kabur?." Tanya pak Dani kaget. Eva mengangguk pelan.


"Ya sudah nanti Fathur yang mengantarmu ke stasiun." Kata tante Dila, tangan Fathur langsung berhenti.


"Kenapa harus Fathur?." Pandangan Fathur tidak beralih dari piringnya.


"Kakakmu masih ada pekerjaan." Jelas tante Dila.


"Eva pergi sendiri saja bu."


"Tidak, bahaya nak, ibu tidak mau kamu pergi sendirian, kalau boleh ibu juga mau ikut denganmu tapi sayangnya kamu sudah menolak tadi. Fathur kamu harus anterin Eva selamat sampai stasiun." Fathur hanya diam dan melanjutkan aktifitasnya lagi.


Kenapa tuh anak?, batin Eva.


Setelah makan malam selesai Eva segera menaiki jok belakang sepeda motor itu.


"Fathur kamu jangan ngebut-ngebut, nak kamu yang hati-hati ya." Tante Dila mengecup sekilas dahiku Eva tersenyum lalu mengangguk.


"Fathur sudah cepat sana takut kemalaman." Suruh pak Dani.


"Hemm." Bukannya menstarter motornya Fathur malah melepas jaket kulit hitam yang dipakainya.


"Pakai, buat menutupi kepalamu. Percuma kabur kalau nanti ketahuan." Fathur meletakkan jaket kulitnya diatas kepala Eva. Tumben ni anak, batin Eva. Fathur menstarter motornya.


"Ibu, pak Dani, Eva pergi dulu, terima kasih untuk semuanya." Lirihku.


"Iya, hati-hati nak." Jawab tante Dila dan pak Dani mengangguk tersenyum.


Fathur menginjak pedal gas melajukan motornya meninggalkan rumah sederhana itu. Tanganku menggenggam besi pinggiran motor sebagai pegangan.


Fathur berhenti disalah satu minimarket untuk memesan tiket.


"Kamu disini saja biar aku yang turun, tujuan kemana?." Tanya Fathur seraya melepas helm.


Eva menggeleng pelan dan berjalan meninggalkan Fathur. Setelah selesai membayar Eva segera kembali ke parkiran.


Dimana dia? motornya disini kenapa orangnya ngilang?, batin Eva. Fathur tidak ada ditempatnya. Eva mengedarkan pandangan mencari cowo itu.


Tidak terduga tiba-tiba laki-laki tinggi besar berbaju hitam yang Eva kenali sebagai salah satu bawahan Ronggo berdiri tidak jauh dari Eva. Eva segera menutupi kepalanya dengan tudung jaket menyembunyikan wajahnya.


Dimana dia, awas kalau ketemu aku injak kakinya, batin Eva geram. Laki-laki itu mendekati Eva.


Aduh bodoh banget aku mau diantar dia, jadinya gini kan, rutuk Eva dalam hati.


Eva masih berdiri tenang menundukkan kepalanya, tapi yang sebenarnya terjadi jantung eva sudah dag dig dug takut ketahuan.


Kumohon jangan mendekat kumohon, jika dia mendekat lagi aku harus lari, batin Eva memejamkan matanya. Laki-laki itu semakin mendekat.


"Permisi nak." Laki-laki itu sudah berdiri disamping Eva.


Mampus, aku harus lari sekarang, ujar Eva. Eva mengambil satu langkah lebar tapi dug!.


Eva menabrak seseorang.


"Maaf om ada perlu apa ya dengan santi pacar saya?" suara ini, batin Eva lega.


"Oh namanya santi, aku kira dia orang yang saya cari. Kalau begitu saya permisi."


Bisa-bisanya ayah memperkerjakan orang yang lebih bodoh dari Fathur, rutuk Eva lagi.


"Maaf lama." Tangan Fathur perlahan masuk kedalam tudung jaket dan berhenti ditelinga Eva.


"Apa yang kamu! lak." Mulut Eva terhenti karena benda asing.


"Ini untuk menutupi wajahmu, ternyata mereka banyak tersebar dimana-mana."


Fathur selesai memakaikan masker unutuk Eva, sejak kapan dia membelinya?, tanya Eva dalam hati.


"Aku membelinya didalam. Aku mengantri dibelakangmu, kamu nggak melihatku makanya nyelonong keluar sendirian."


Fathur menjawab apa yang Eva pikirkan. Sekuat tenaga Eva menginjak kaki kanan cowok itu.


"Arg!." Fathur melompat kesakitan sambil memegangi satu kakinya.


"Siapa suruh lama." Eva berjalan kesamping sepeda motor.


"Tadi mesin kasirnya eror. Kamu marahnya ke kasirnya dong." Fathur mengibas-ngibaskan kakinya yang sakit.


Eva menatap Fathur tajam lalu mengetuk-ngetuk punggung pergelangan tangannya. Sudah tidak ada waktu lagi isyarat yang ditangkap oleh Fathur. Dengan kesal Fathur menaiki sepeda motor, sepeda motor itu pun melaju meninggalkan minimarket.


Distasiun Eva menukar kertas dari minimarket dengan satu tiket ke bandung. Eva duduk menunggu kereta datang. Fathur duduk disebelahnya, mereka diam seribu bahasa.


Eva masih kesal dengan Fathur karena kejadian di minimarket tadi, tiba-tiba Fathur bergerak dari duduknya menghadap Eva tangan cowok itu terulur merapihkan rambut Eva yang tertutup tudung jaket.


"Apa yang kamu lakukan?." Eva hendak menepis tangan Fathur.


"Sst, mereka disini. Ada tiga orang, jangan membuat mereka curiga." Lirih Fathur.


Eva mengedarkan pandangannya, benar mereka juga ada di stasiun. Eva tidak boleh ketahuan apa pun yang terjadi, Eva sudah melangkah sejauh ini.


Eva menatap Fathur yang berpura-pura sibuk merapikan rambutnya melindungi Eva dari pandangan mereka.


"Kurang berapa jam lagi keretanya datang?." Tanya Fathur, tatapan Eva beralih ke tiga orang yang sedang mondar-mandir itu.


"Lima belas menit lagi."


Eva menarik mundur menjauh dari Fathur. Tidak lama setelah itu pengumuman kereta yang akan Eva naiki sudah tiba.


"Thanks." Lirih Eva berdiri, Fathur ikut berdiri.


"Aku antar sampai depan pintu." Eva tidak menjawabnya ia pergi masuk kedalam stasiun tanpa menengok ke belakang, Eva melangkah masuk kedalam gerbong kereta.