
Ega berusaha untuk tenang ia menoleh menatap Eva yang tersenyum senang membalas tatapannya.
"Kok bengong?." Tanya Eva mencubit kecil pipi Ega.
"Karena ini sangat luar biasa." Ucap Ega menyapukan pandangannya ke setiap sudut ruangan.
"Kamu juga berpikir seperti itu?, ini memang menarik." Eva berjalan kearah kanan menuju meja dengan tumpukan kabel dan benda-benda bulat seperti bola kasti.
Ega berjalan menghampiri rak tinggi dan panjang itu dengan sekat kecil sampai yang terbesar bahkan yang panjang pun ada, rak-rak itu memakai penutup kaca. Ega mengamati dari sebelah kiri rak bersekat kecil.
"Benda-benda apa ini?." Tanya Ega tanpa mengalihkan perhatiannya.
"Itu alat perubah suara, disebelahnya ada lensa mata, dibaris atas ada alat penyadap jarak jauh, kamu tahu, alat terkecil dalam sejarah yang pernah aku buat? lihat kotak nomor tujuh satu." Jelas Eva.
"Waahh." Lirih Ega melihat benda bulat sangat kecil yang tidak jelas bentuknya.
"Benda bulat apa ini?." Tanya Ega penasaran.
"Bulat? hahaha." Eva tertawa keras membuat Ega menoleh kepadanya.
"Lihat pakai kaca pembesar." Eva menunjuk kaca pembesar yang tergeletak diatas meja sebelah komputer.
Ega sangat penasaran ia segera mengambil kaca pembesar itu dan mendekatkannya ke penutup kaca. Betapa terkejutnya Ega dengan apa yang dia lihat. Bentuk benda itu tidak bulat melainkan lonjong dengan banyak cabang seperti pohon kering dengan ukuran doubel super kecil.
"Apa yang kamu lihat?." Tanya Eva.
"Bagaimana bisa seperti ini?." Ega menjauhkan kaca pembesar, benda itu terlihat bulat lalu ia mendekatkannya kembali benda itu terlihat seperti pohon bercabang.
"Alat itu bisa memadamkan listrik seluruh kota jakarta." Ucap Eva.
"Sangat menarik bukan." Ega mengangguk sekilas ia melanjutkan ke rak disampingnya yang lebih besar.
Berbagai bentuk ada disana, yang menarik perhatian Ega adalah benda-benda dengan bentuk alat makan berukuran kecil.
"Untuk apa benda yang ini?." Tanya Ega lagi.
"Hm? nomor berapa?." Eva sedang mengotak-atik kabel.
"Seratus empat." Jawab Ega.
"Kotak dari nomor seratus sampai dua ratus semuanya bom." Jelas Eva, Ega mengerutkan dahinya memandangi gelas kecil seperti mainan itu, terus semakin banyak nomor kotak semakin besar ukuran bendanya.
Ega terus berjalan menyusuri rak-rak, ia berhenti untuk menatap benda didalam sana.
"Yuki, ini ilegal." Sergah Ega.
"Aku penasaran dengan jenis-jenis pistol dan cara membuatnya, mereka memiliki kelebihan masing-masing. Bukankah itu menarik." Jelas Eva. Ega menarik nafas panjang.
"Bagaimana dengan rak diujung sana?." Ega menatap dari kejauhan rak yang terpisah dari rak lainnya.
"Hm?, itu produk gagal aku harus menelitinya lagi." Jawab Eva, Ega berjalan mendekati saudari kembarnya.
"Apa yang sedang kamu buat?." Ega menjulurkan kepalanya mengintip.
"Kamu akan melihatnya sebentar lagi." Eva menjentikkan jarinya sekali membuat Ega menatapnya tidak paham.
"Selamat sore Eva." Suara perempuan tiba-tiba menyapa Eva membuat Ega melotot mencari asal suara, hal itu tak luput dari perhatian Eva membuatnya tertawa terbahak-bahak hingga matanya membentuk garis bulan sabit.
"Hahaha ga kayaknya kamu perlu ikut kelas kursus untuk menyembuhkan sifat jelekmu yang mudah terkejut itu." Eva menghapus air mata yang lolos dari sudut matanya.
"Siapa Ega, Eva?." Tanya Je, lagi-lagi Ega menatap horor mencari asal suara. Tawa Eva kembali pecah.
"Ega berhenti, jangan seperti itu. Kamu membuatku sakit perut." Ega menutup wajahnya yang sudah berubah merah dengan telapak tangan.
"Je, Ega kembaranku, aku belum sempat memasukkan datanya padamu." Jelas Eva.
"Baik, hallo kembaran Eva." Sapa Je si komputer.
"Siapa yang bicara?." Lirih Ega, Eva menunjuk komputer ditengah diantara dua komputer yang lain dengan ukuran paling besar.
"Dia yang bicara?." Ega mendekatkan wajahnya kedepan komputer.
"Apa dia bisa melihat?." Tanya Ega.
"Tidak, apa kamu ingin dia bisa melihat?." Tanya Eva.
"Tidak, itu lebih mengerikan." Jawab Ega.
"Je buka data penyusup." Titah Eva, Ega menarik kursi didepan komputer Je, mengamatinya.
"Baik." Dua komputer di masing-masing sisi menampilkan kode-kode yang Ega tidak pahami dan Je komputer menampilkan sebuah grafik dan simbol-simbol aneh. Ega menoleh kebelakang mendapati Eva sedang memakai kaca mata besar berwarna biru gelap, kedua tangannya memegang alat panjang seperti sumpit, Ega tidak tahu alat apa itu.
Eva mulai berkutat dengan alatnya dan bola dimeja, ia terlihat sangat fokus. Bau kabel panas tercium oleh hidung Ega, percikan api kecil keluar dari bola dan kedua alat yang Eva pegang. Beberapa menit Ega hanya mengamati Eva dan komputer didepannya. Grafik di layar Je komputer bergerak naik turun, kode dikedua komputer juga berganti-ganti.
"Data penyusup telah diperbarui." Suara dari Je komputer, Ega melihat layar besar didepannya. Sederet data komponen, kekurangan, kelebihan, hingga gambar replika dari bola yang terus berputar pun tertera dilayar Je komputer. Ega sangat kagum dengan komponen isi bola itu ia juga tidak percaya dengan kelebihannya.
"Je hasilnya." Eva membuka kaca mata mengambil bola hitam dari atas meja.
"Semua data ok. Tidak ditemukan keanehan. Penyusup sempurna." Ega merasa aneh dengan nama bola itu.
"Persiapkan pengujian." Eva meletakan bola seukuran bola kasti itu diatas podium. Ega sedari tadi ingin menanyakan tentang podium itu tapi rasa penasaran terhadap benda-benda didalam rak lebih menarik perhatiannya.
"Baik. Data siap." Ketiga komputer itu menampilkan data yang sama.
"Aktifkan tabung." Titah Eva melangkah mundur menghampiri Ega mengambil buku catatannya.
"Baik."
Ddrrrrttt.
Tabung kaca yang sangat tebal keluar dari pinggir podium menjulang tinggi keatas masuk sampai kedalam sela-sela corong diatas sana. Bola mata Ega mengikuti setiap gerakkan mesin-mesin itu.
"Tabung siap. Terkunci." Lapor Je komputer.
"Aktifkan penyusup." Perintah Eva.
"Penyusup diaktifkan."
Bagian atas bola itu menyala putih lalu sebuah garis melingkar membagi bola menjadi dua bagian, bagian atas dan bawah lalu berputar berlawanan arah.
"Pakai ini." Eva mengulurkan penutup telinga dan sebuah kaca mata kepada Ega.
"Apa yang akan terjadi jika aku tidak memakainya?." Tanya Ega.
"Kamu tidak ingin tuli dan buta kan?." Ega menatap Eva yang juga memakai kedua alat itu, Ega lalu menerimanya.
"Tentu saja tidak." Eva memastikan Ega sudah memasang alatnya dengan benar.
"Jangan dibuka sampai aku menyuruhnya mengerti?." Tanya Eva, Ega mengangguk sekilas.
"Tekan tombol kecil dipenutup telinga." Eva menunjuk penutup telinganya, jari Ega langsung mencari tombol kecil yang Eva tunjukan lalu menekannya setelah itu ia tidak bisa mendengar apa pun. Tangan Eva menekan tombol samping kaca mata Ega merubah warna lensa menjadi buram namun tidak dengan kaca bagian dalam lensa. Setelah dirasa semua sudah aman Eva kembali fokus kedalam tabung.
"Je aktifkan pengujian." Titah Eva, Ega tidak bisa mendengar suara Eva ia juga sulit membaca gerak bibir adiknya.
"Baik."
Hal berikutnya yang terjadi membuat tenggorokkan Ega tercekat. Segaris kilat petir turun dari atas menyambar bola penyusup dengan cepat.
Jjedderrr!!!.
Ega tidak dapat mendengar suara apa pun namun ia bisa merasakan getaran kecil dikedua kakinya. Baru sepuluh detik berlalu lubang-lubang kecil dari bawah podium terbuka mengeluarkan air panas menenggelamkan bola disusul cahaya laser yang tak kalah panas keluar dari dalam corong. Ega berkeringat, padahal bola penyusup yang direbus dan ia juga tidak merasakan hawa panas dari dalam tabung tapi kulitnya seakan merasakan hal itu.
Air cepat menyusut, laser juga kembali masuk kedalam corong dan kini digantikan oleh api dari bawah podium. Sampai kapan bola itu mendapat siksaan kejam, batin Ega. Api sudah padam, angin dingin turun dari atas merubah suhu didalam tabung menjadi -12° lalu sebuah tangan robot muncul dari atas membawa pedang menusuk, menggores bola secara brutal Ega melihatnya ngeri. Selang beberapa menit tangan robot berhenti kembali keatas di gantikan beton besar berbentuk kotak.
Tidak mungkin benda besar itu akan dijatuhkan dari atas sana kan?, orang bodoh mana yang mau menjatuhkan ben, batin Ega belum selesai karena sudah terjawab dengan hantaman keras tiba-tiba dari beton besar itu. Getaran lebih kuat dari yang sebelumnya dirasakan Ega hingga ia mencengkeram pinggiran kursi.
Dua tangan robot muncul dari atas mencengkeram beton menariknya kembali. Eva meletakan catatannya diatas meja melepas kaca mata dan penutup telinga, ia juga melepaskan milik Ega. Eva sedikit terkejut dengan raut wajah saudaranya.
"Kamu tidak apa-apa?." Tanya Eva, Ega menoleh pelan menatap Eva.
"Aku tidak tahu, yang tadi itu berlebihan." Lirihnya. Eva tersenyum lembut.
"Je kondisi penyusup." Tanya Eva.
"Baik. Kondisi penyusup, tidak ada goresan, tidak ada kerusakan. Semua berfungsi." Jawab Je.
Eva mengetik sesuatu diatas keyboard.
"Je aku memasukkan data diriku sebagai target penyusup." Jelas Eva.
"Di konfirmasi."
Setelah itu Eva mengadap tabung, bola penyusup merespon, bergerak kearah Eva berada, Eva mencoba berjalan kearah lain, bola penyusup segera mengikutinya.
"Je aktifkan aktifitas penyusup."
"Baik."
Layar komputer sebelah kanan berubah seperti sudut pandang dari bola itu. Eva mencoba berlari memutar, bola penyusup juga ikut berputar mengikuti Eva, Eva berhenti lalu bergerak menjauh bola penyusup membentur-benturkan tabung berusaha mendekat.
"Je tambah lapisan tabung." Titah Eva.
"Baik." Lapisan tipis turun dari atas melapisi seluruh tabung.
"Je aktifkan mode serang."
"Baik." Ega diam dan terus mengamati.
Bola penyusup bergerak sedikit mundur, setengah lingkaran bagian atas terangkat mengeluarkan dua tangan di masing-masing sisi mengarahkannya kepada Eva. Eva sengaja melakukan gerakkan mendadak.
Dor!. Dor!.
Bola penyusup merespon gerakkan mendadak dari Eva.
"Je mode full serang." Ega menatap bola penyusup tanpa berkedip.
"Baik."
Krek.
Empat tangan lagi keluar dari dalam bola membuat jumlah tangan penyusup menjadi enam tangan. Eva menjulurkan tangan kanannya kedepan, jarinya membentuk sebuah pistol menatap bola penyusup.
"Bang." Ucap Eva datar dengan jari yang terangkat seperti sedang menembak.
Dor. Dor. Dor. Dor. Dor. Dor. Dor. Dor. Dor. Dor. Dor. Dor.
Respon sangat cepat dari bola penyusup membuat Eva tersenyum. Bola penyusup berputar sangat cepat melepaskan tembakannya dari ke enam tangan itu. Peluru-peluru kecil melayang ke segala arah menabrak tabung yang tak tertembus hingga salah satu peluru yang terpental menghantam bola penyusup yang tidak mendapatkan efek apa pun.
"Je mode S."
"Baik."
Bola penyusup berhenti dan kembali ke wujud bola biasa. Eva berjalan ke komputer mengetik sesuatu meneliti layar komputer.
"Je turunkan tabungnya."
"Baik." Tabung perlahan turun, Eva bersiul membuat Ega kaget. Bola penyusup menggelinding menghampiri Eva.
"Good boy." Ucap Eva mengambil bola penyusup.
"Je simpan data terbaru dan kunci." Titah Eva.
"Baik."
Ega melihat tiga komputer menampilkan tiga simbol yang berbeda namun bergerak seirama dan hilang, kembali ke layar utama.
"Tidak akan ada orang selain aku yang bisa membukanya." Jelas Eva melihat raut wajah Ega yang penasaran.
"Tapi jika ada orang yang menyadap Je bukankah sangat berbahaya." Kata Ega khawatir.
"Itu tidak akan terjadi." Ucap Eva berjalan ke salah satu rak memasukkan bola penyusup setelah ia non aktifkan.
"Bagaimana kamu bisa seyakin itu?." Tanya Ega, Eva membalikan badannya berjalan menuju meja dengan bola lainnya.
"Je hanya merespon dua sidik jariku yang saling bergesekan membuat bunyi jentikan jari." Eva membuka kertas sketsa.
"Je merespon suaraku dan intonasinya." Eva mencoret-coret kertas sketsa dengan pensil.
"Je hanya merespon detail data Eva Augustin Ayhner, jadi jika ada orang lain diluar syarat itu Je akan membloknya." Jelas Eva. Ega terus mengamati Eva.
"Jika ada yang menyadap Je dari jarak jauh?." Tanya Ega.
"Je akan membalas, ia merusak jaringan-jaringan si penyadap menghapus semua data penyadap lalu menyembunyikan sinyalnya sendiri agar tidak terlacak lagi." Jawab Eva.
"Je tidak mungkin bisa melakukan semua itu." Lirih Ega.
"Je, sepertinya Ega meragukanmu, bisakah kau menyadap ponsel Ega." Kata Eva.
"Baik. Dalam proses."
"Lihat ponselmu ga." Pinta Eva, Ega mengeluarkan ponselnya, ia terkejut sontak menatap Eva.
"See?." Kata Eva santai, Ega mengangkat tangannya.
"Aku kalah." Ega menyerah.
"Je berhenti. Kembalikan ponsel Ega seperti semula." Titah Eva.
"Baik." Layar ponsel Ega bergerak-gerak kembali seperti sedia kala.
"Bagaimana dengan benda-benda Dirak jika ada yang mengambilnya?." Eva menatap Ega menyilangkan kedua lengan didepan dada mengangkat satu alisnya.
"Kamu tidak perlu sekhawatir itu ga, mereka harus bisa melewati semua penghalang didepan sana agar sampai disini." Ega berdiri menatap balik Eva.
"Aku bisa melewatinya." Sergah Ega.
"Itu karena aku membantumu dari sini jika tidak, kamu akan terkena sensor, alarm rumah pasti akan berbunyi. Tidak hanya itu saja, alarm rumah ini sudah disalurkan ke kantor polisi terdekat. Kamu bisa bayangkan dikepung oleh para polisi?." Ega menarik nafas panjang ia terlalu lelah melihat semua kejutan dihari ini.
"Siapa saja yang tahu tentang ruangan ini?." Tanya Ega lebih lembut, Eva kembali ke kegiatannya tadi.
"Kamu dan nenek."
"Nenek?." Ulang Ega.
"Hm, aku membuatkan alat penyadap agar nenek bisa masuk." Jawab Eva.
"Untuk apa kamu membuat bola tadi?." Ega terus bertanya.
"Untuk melindungi seseorang dari jarak jauh atau menyerang musuh." Eva mengingat sekilas wajah Fitri.
"Apa yang nenek katakan kepadamu setelah melihat semua ini?."
"Tidak ada karena nenek tidak pernah masuk kedalam ruangan ini atau pun ruangan sebelah." Eva meletakan pensilnya ia mulai merangkai kabel-kabel.
"Apa yang akan kamu buat?." Tanya Ega.
"Sebuah alat yang mudah dibawa kemana-mana untuk menampung berbagai alat medis agar ketika dibutuhkan aku sudah siap."
Kamu pasti masih mengingat Dimas, batin Ega.
Duk.
Tangan Eva berhenti bergerak, Ega memeluknya dari belakang meletakkan dagunya dipucuk kepala Eva.
"Kepalaku mau meledak, mataku lelah, jantungku butuh istirahat, perutku lapar, bisakah kita berhenti sampai disini hari ini?." Ega merayu Eva agar adiknya mau berhenti.
"Kita belum masuk keruang laboratoriumku." Ega menempelkan dahinya diatas kepala Eva.
"Kepalaku sudah tidak muat." Lirih Ega.
"Bukannya kamu juga menyukai eksperimen?, sebelumnya kamu membuat eksperimen racunkan digedung itu? aku ingin melihatnya, aku juga ingin menelitinya. Racun seperti apa yang akan kamu buat?." Tanya Eva bertubi-tubi ia terlihat sangat menikmati semua kegiatannya diruang rahasia ini.