
******
Makan malam dibalkon kamar diterangi sinar bulan purnama dan beberapa bintang, Fitri pelayan khusus Eva berceloteh menceritakan keluarganya.
"Saya tiga bersaudara non saya anak sulung, adik pertama saya namanya Sarah yang terakhir cowok non namanya Burhan."
"Bagaimana dengan keluargamu dikampung?." Fitri tersenyum tipis.
"Mereka baik-baik saja, emak masih sibuk disawah, bapak sibuk dengan bangunan yang harus segera ia selesaikan. Si centil Sarah baru masuk sma kemarin umurnya sama dengan non Eva, kalau Burhan masih kelas dua smp, dia yang paling aktif nggak bisa diam non kalau pulang sekolah pasti langsung ikut bapak membantu sebisanya maklum non masih kecil jadi sebisanya dia jadi kuli bangunan hitung-hitung kerja sampingan non hehe..." Fitri tertawa, pandangannya menerawang mengingat keluarganya.
"Kenapa nggak dilarang dia kan masih sekolah?."
Fitri melanjutkan ceritanya.
"Sudah saya larang non tapi dia tetap bersikeras mau membantu bapak jadi kuli bangunan dengan catatan nilainya harus bagus dan Burhan membuktikannya, jadi tidak ada alasan untuk melarangnya. Nah kalau yang ini dia sangat centil, tidak bisa satu hari saja tidak dandan."
Aku menatap Fitri.
"Sicentil Sarah?." Fitri mengangguk pelan, tersenyum tipis.
"Kita kalau ketemu pasti berantem menjelek-jelekkan satu sama lain, kalau sudah kayak gitu saya acak-acak rambutnya non, sampai dia marah terjadilah aksi kejar-kejaran kaya Tom & Jerry gitu haha... Dulu sebelum saya merantau, saya membantu emak disawah, Burhan sama bapak jadi kuli bangunan dan Sarah yang beres-beres rumah, masak, cuci baju pokoknya pekerjaan upik abu gitu deh non. Saat kami pulang semuanya sudah beres, terus malamnya kita makan bareng sambil bertukar cerita, ketawa bareng sudah pasti ada caci dan makian tersangkanya saya dan Burhan, Sarah jadi korbannya hahaha."
Aku ikut tersenyum tipis.
"Setelah selesai makan kami bubar sendiri-sendiri. Burhan belajar di kamarnya, Sarah juga belajar bareng Burhan ndompleng gitu non dikamar Burhan, emak sama bapak duduk diteras rumah. Kalau saya, menggantikan Sarah jadi upik abu hahaha."
Eva mengalihkan pandangannya menatap bulan purnama.
"Pasti menyenangkan." Fitri menatapku.
"Tentu saja, kapan-kapan non harus ikut saya ke kampung, non pasti senang tapi rumah saya jelek non kumuh lagi, tidak seperti rumah non Eva yang besar kayak istana ini."
"Tidak masalah, malah aku ingin menukar rumah istana ini."
Fitri terperanjat kaget mendengar jawabanku.
"Ada yang salah?." Fitri menggeleng sebagai jawaban.
"Non Eva sangat cantik, apa lagi malam ini dengan sinar bulan yang menyinari wajah cantik dan manis non Eva, seperti malaikat."
"Sudah pernah lihat malaikat?."
"Eh, belum non."
"Mau lihat nggak?."
"Kan ini lagi lihat malaikatnya." Eva memutar bola matanya.
"Ehehe, mau non bagaimana caranya?"
"Terjun dari sini, nanti juga ketemu malaikat."
"Dari sini non?. Waahh ketemu malaikat pencabut nyawa dong Fitri." Eva tersenyum tipis.
"Sudah dulu, aku hampir terlambat." Ucap Eva berdiri mengambil buku yang sudah ia siapkan diatas meja belajar, Fitri dengan cekatan membereskan meja bundar di balkon membawa piring dan gelas bekas makan malam Eva.
"Saya permisi non." Fitri membungkuk berlalu melewati Eva hendak keluar namu tiba-tiba angin kencang masuk kedalam kamar menerbangkan rambut Fitri yang selalu ia urai bola mata Eva menangkap sesuatu di belakang leher Fitri dengan jelas.
"Maaf non saya lupa menutup pintu balkon." Fitri membalikkan badannya hendak menutup pintu balkon tapi dihentikan oleh Eva.
"Biar aku saja." Fitri membungkuk lagi lalu melangkah keluar kamar.
Malam ini sama seperti malam sebelumnya Takehara tidak memberi ampun sedikit pun kepada Eva kesalahan kecil saat menjawab pertanyaan Takehara berhujung hukuman, sikap harus sempurna. Empat jam yang terasa tidak pernah selesai bagi Eva sudah ia lalui, mulut Eva menguap lebar dengan satu tangan menutupi mulutnya ia berhenti didapur mengambil botol lemon tea dari kulkas meminumnya hingga tandas.Eva melanjutkan langkahnya.
"Hikhikhik." Eva berhenti di depan pintu kamar utama, menempelkan telinganya di pintu.
"Ega." Lirih suara wanita yang sangat Eva hafal.
"Hikhik, Ega..." Rintihan Ayumi menyayat hati Eva, sekeras apa pun Eva untuk menerima kenyataan ia tidak kuasa menahan rasa sakit dihatinya.
"Eg hikhik, sayang." Tubuh Eva merosot kelantai tangannya memegang pintu dengan wajah yang tertunduk air mata lolos dari sudut matanya.
Berhenti memanggil namanya, ini menyakitkan, batin Eva menggigit bibir menahan isak tangis.
Satu jam Eva duduk didepan pintu kamar utama meratapi rasa sakitnya, setelah dirasa kakinya bisa berjalan Eva masuk kedalam kamar.
"Seharusnya ayah menciptakan robot yang tidak memiliki hati jadi aku tidak akan merasakan luka seperti ini." Lirih Eva diatas ranjangnya.
Tubuh yang kelelahan membuat mata Eva cepat terpejam.
"Ayo kesini... lihat ini." Anak laki-laki itu menunjuk sesuatu berwarna merah muda.
"Iiicch!... cacing!." Anak perempuan itu langsung bersembunyi dibelakang anak laki-laki.
"Kamu takut?." Tanya anak laki-laki sembari mengambil cacing dengan tangannya.
"Iiicch... buang! Eva nggak mau. Buang!."
Anak perempuan itu sangat ketakutan ia menjauhi anak laki-laki seraya menutup mata dengan kedua tangan mungilnya.
"Baiklah aku buang sekarang."
Tapi anak perempuan itu masih menutup matanya. Anak laki-laki pun menghampiri anak perempuan, dengan lembut membuka kedua tangan anak perempuan tersebut.
"Tidak apa-apa, cacingnya sudah tidak ada lagi, sekarang buka matamu."
Anak perempuan itu membuka mata perlahan pertama kali yang ia lihat adalah anak laki-laki yang sedang tersenyum kepadanya tepat didepan wajahnya, mereka tersenyum bersama.
Eva terbangun tubuhnya bersimbah keringat, nafas Eva memburu tidak beraturan.
Mimpi itu lagi, sampai kapan aku dihantui mimpi itu, batin Eva menyandarkan punggungnya ke kepala ranjang mengatur nafas memejamkan mata berusaha untuk tenang.
"Non nggak sarapan?." Tanya Fitri, Eva berjalan memasuki mobil.
"Tidak."
Pagi ini Eva berangkat lebih awal dari biasanya jalanan Jakarta sudah ramai oleh pedagang dan orang-orang berangkat kerja.
"Om Ronggo." Tegur Eva datar.
"Iya non." Ronggo memiringkan sedikit tubuhnya ke kanan.
"Om sudah lama bekerja dengan ayah kan?." Ronggo merasa aneh kenapa tiba-tiba majikan mudanya bertanya seperti itu.
"Betul non." Eva menatap keluar jendela posisinya yang duduk dibelakang kursi kemudi membuat Ronggo sulit melihat wajah majikannya.
"Aku ingin bertanya tapi om harus jawab dengan jujur." Ronggo terkejut, sebelumnya Eva tidak pernah meminta izin jika hendak bertanya, perasaan aneh menelusup ke hati Ronggo. Sebelum Ronggo sempat menjawab Eva sudah melempar pertanyaannya.
"Siapa Ega?." Ucap Eva dingin, Ronggo bergeming ditempatnya.
"Om siapa Ega?." Ronggo tersadar ia mulai gelisah.
"Apakah Ega ada hubungannya denganku?." Ronggo tetap bungkam.
"Om jawab aku! siapa Ega?. Dia pasti ada hubungannya denganku. Iya kan om, iya kan!." Seru Eva mulai tidak sabar menatap tajam Ronggo, bola mata Ronggo bergerak-gerak menghindari tatapan majikannya yang sedang marah, Ronggo tidak pernah melihat Eva marah, majikan mudanya sangat pandai mengolah emosinya berbanding terbalik dengan Ayumi.
"Aku tahu om pasti mengetahui tentang ini, jawab aku om!." Teriakkan Eva mengagetkan pengawal yang sedang menyetir membuatnya mengerem mendadak. Eva mengangkat salah satu kakinya kedepan menahan agar tubuhnya tidak terdorong.
"Ck." Eva berdecak menyilangkan lengannya.
"Maafkan saya." Lirih pengawal yang mengemudikan mobil, Eva tidak menjawab mata birunya menatap tajam Ronggo.
"Apa kau ingin aku mengulangi pertanyaanku?."
"Tidak non, E... Eg, Ega." Jawab Ronggo terbata-bata.
"Ega siapa?. Apa aku bukan anak ayah dan ibu, apakah aku hanya anak pungut?!." Sergah Eva.
"Bukan!." Ronggo terkejut dengan volume suaranya sendiri.
"Maaf non, bukannya saya lancang tapi semua yang non pikirkan itu tidak benar." Ronggo merasa terintimidasi didalam mobil itu meskipun ac mobil sudah dinyalakan tidak merubah udara panas didalam mobil.
"Non itu anak kandung tuan dan nyonya, non Eva bukan anak pungut." Eva mengepalkan tangannya menahan emosi.
"Lalu siapa Ega?."
"Emm, saya tidak tahu." Kilah Ronggo.
Om Ronggo berbohong, aku tahu itu, geram Eva dalam hati langsung membuka pintu mobil sendiri. Ronggo terkejut ia tidak menyadari kalau mobil sudah sampai di depan sekolah segera Ronggo keluar lalu membungkuk sembilan puluh derajat.
"Pulanglah." Ucap dingin Eva memotong kalimat Ronggo.
Eva berjalan meninggalkan Ronggo, sekolah masih sepi baru beberapa anak yang terlihat memasuki halaman sekolah.
Kenapa semua orang berbohong kepadaku?, aku tahu ayah tidak menyayangiku, ayah hanya membutuhkanku untuk meneruskan bisnisnya. Sedangkan ibu tidak menginginkanku. Om Ronggo sangat patuh kepada ayah dia tidak mau jujur kepadaku. Sebenarnya kamu siapa? kenapa kamu menghancurkan hidupku... aku akan mencarimu...
Ega, batin Eva.
"Pagi-pagi kok sudah melamun?." Dimas menekuk lututnya mensejajarkan wajahnya dengan Eva. Eva membuang muka dengan cepat.
Bodohnya aku, sejak kapan dia berdiri disitu?, batin Eva.
Dimas menegakkan badannya menarik pelan tangan Eva menyebrang jalan.
"Kak lemon tea dua." Ucap Dimas kepada pelayan.
Disinilah mereka, duduk dicafe depan sekolah yang masih sangat sepi.
"Va." Tegur Dimas.
"Hm." Eva seperti biasa menghadap keluar jendela.
"Mau makan donat nggak?." Tawar Dimas, pancingan Dimas berhasil mengalihkan perhatian Eva berubah menatap dirinya. Dimas menunjuk sebuah gambar di buku menu.
"Mau nggak? yang rasa strawberry enak loh." Eva mengangguk pelan.
"Kak donat strawberry dua yang coklat dua dipisah ya." Ujar Dimas.
"Donat strawberry coklat dua piring ya kak." Kata pelayan memastikan, Dimas mengangguk.
"Baik, tolong tunggu sebentar."
Tidak menunggu lama semua pesanan sudah datang. Eva menatap piring kecilnya yang berisi donat coklat dan stroberi ia mulai memakannya.
Dimas yang melihat gadis didepannya makan dengan lahap mendorong piring donatnya kepada gadis itu. Eva menaikkan satu alis, Dimas yang tahu kode itu langsung menjawab.
"Buat kamu, aku sudah sarapan tadi." Eva dengan polosnya mengambil donat milik Dimas lalu memakannya.
Dibalik wajah dingin dan datarnya kalau sedang makan begini terlihat lucu, batin Dimas tersenyum tipis.
"Terima kasih." Ucap Eva seraya mengelap mulutnya dengan tisu.
"Mau pesan lagi?." Tawar Dimas.
"Lima menit lagi bel." Dimas membulatkan matanya melirik jam ditangan.
Plak.
Dimas memukul dahinya sendiri.
"Ya ampun, aku tidak sadar. Ayo kita pergi." Dimas segera membayar dan meraih tangan Eva berlari secepatnya. Duo sejoli itu berlari menyebrang jalan dengan cepat membuat satpam sekolah jantungan, di persimpangan lorong Eva menarik tangan Dimas, Dimas yang merasakan ada tarikan ditangannya berhenti lalu menatap Eva.
"Ada apa?." Tanya Dimas mengatur nafasnya.
"Pertandingannya jam berapa?." Dimas kaget.
"Kamu mengingatnya?." Tanya balik Dimas.
"Jam berapa?."
"Oh, jam dua belas. Di jam itu pelajaran akan dikosongkan karena akan banyak murid dari sekolah lain yang juga datang kesini." Eva melepas tangan Dimas dari pergelangan tangannya.
"Sampai nanti." Lirih Eva berjalan ke kanan lorong menuju kelasnya.
Di belakang Eva Dimas berseru mengepalkan tangannya keudara.
Tteeettt tteeettt! bel masuk berbunyi.
Dilapangan indoor penuh dengan lautan manusia berteriak histeris menyebut nama sekolah masing-masing ada juga yang memanggil nama-nama pemain nama Dimas tidak luput dari teriakan-teriakan para kaum hawa.
Oh, dia terkenal, batin Eva. Padahal seantero sma tunas jaya tidak ada yang tidak mengenal Dimas hanya Eva mahluk dingin nan cuek sebagai pengecualian.
Eva duduk di kubu sekolahnya tidak terlalu depan juga tidak terlalu kebelakang paling pinggir dekat dengan jalan. Dibawah terlihat Dimas sedang celingak-celinguk mencari seseorang.
"Lo kenapa, kebelet?." Tanya ketua tim.
"Nggak lah." Jawab Dimas masih sibuk mencari seseorang.
"Ya kali lo lagi kebelet tapi nanggung haha." Ledek ketua tim.
"Lagi nyari siapa kak?." Tanya junior tim.
"Eva." Jawab cepat Dimas membuat seluruh anggota tim menatapnya tidak percaya.
"Ev Eva yang itu?." Tanya ketua tim terbata.
"Iya Eva yang itu." Jawab Dimas.
"Waaah nih anak nggak waras, mana mungkin freezer sepertinya mau berada ditempat ramai kayak gini." Sahut teman seangkatannya.
"Lo harus di ruqyah Dim." Ketua tim menepuk-nepuk pundak Dimas.
"Ketemu." Lirih Dimas melambaikan tangannya tinggi-tinggi senyum cerah tersungging dibibirnya, sontak membuat semua anggota mengikuti arah pandang Dimas. Mereka membeku bukan karena efek ditatap mahluk dingin yang duduk dibangku paling pinggir tapi karena mahluk itu menyunggingkan senyum tipisnya kepada mereka RALAT kepada Dimas.
Waaahhh, cantik. Manisnyaaa. Masya Allah, batin mereka.
"Woy! jangan dilihatin, keseleo nanti mata kalian." Dimas mengibas-ngibaskan kedua tangannya didepan wajah anggota timnya.
"Apaan sih lo Dim, nggak bisa biarin kita menikmati pemandangan." Sewot ketua tim.
"Kak jangan seneng sendiri, biarin kita ikutan." Protes junior Dimas.
"Tau nih lo, ganggu aja. Mumpung ada vitamin." Ucap teman satu angkatannya kesal.
Dimas mengusap wajahnya dengan kasar.
"Pokoknya udah jangan dilihatin terus nanti dia kabur." Ucap Dimas tegas, reflek anggota timnya menatap Dimas lalu menganggukkan kepala paham.
Eva menonton pertandingan yang cukup panjang itu, melihat semangat para pemain di lapangan membuat hati Eva bergetar semangat mereka luar biasa meskipun itu hanya latih tanding. Eva ikut bersemangat terkadang senyumnya merekah ketika Dimas atau anggota lainnya mencetak angka dan ikut merasa kesal ketika lawan mereka mencetak poin. Eva tidak pernah merasa sesemangat ini sebelumnya juga merasa sekesal ini ketika suporter lawan menyoraki tim sekolahnya.
Tree poin dicetak oleh Dimas menutup pertandingan hari ini sorak-sorai penonton membahana didalam lapangan basket, Eva terbawa suasana didalam lapangan indoor itu ia tersenyum senang saat Dimas menatap matanya dari lapangan.
Banyak siswi-siswi berkumpul di pinggir lapangan memanggil-manggil nama Dimas menunggu si pemilik nama datang menghampiri mereka, cowok yang di eluh-eluhkan hanya memberikan senyum cerahnya dan berlalu pergi melewati mereka.
Dimas menaiki tangga kursi penonton duduk disebelah Eva dengan handuk yang melingkar dilehernya.
"Mereka seperti ingin membunuhku." Kata Eva datar menatap ke kumpulan fans Dimas. Dimas yang menyadari arah pandang Eva tersenyum simpul.
"Benarkah?, bukannya dari dulu mereka melihatmu seperti itu?." Eva menoleh kesamping mengangkat satu alisnya, Dimas menahan senyum melihat raut wajah Eva.
"Mereka selalu iri sama kamu." Jawab Dimas mengelap keringat diwajahnya, Eva mengambil minuman bervitamin disampingnya mengulurkan minuman itu ke Dimas masih menatap kumpulan fans Dimas.
"Iri? apa yang mereka lihat dariku?." Tanya Eva masih fokus menatap mereka tidak sadar cowok disampingnya sedang membeku menatap botol yang terulur kepadanya. Eva yang tidak mendapat jawaban memutuskan tatapannya dari para fans Dimas berpaling menatap cowok disebelahnya.
"Aku pikir kau memerlukannya." Kata Eva datar. Dimas tersentak, dengan senyum kakunya ia menerima minuman itu.
"Terima kasih." Dimas membuka tutup botol lalu meminumnya hingga tandas.
"Jadi?." Tanya Eva lagi.
"Jadi." Ulang Dimas, Eva menatap Dimas kesal.
"Apa yang mereka lihat dariku?." Ulang Eva.
"Semuanya, bahkan sifat jelekmu itu terlihat keren." Jawab Dimas. Dimas tidak tahu saja jawabannya yang terdengar enteng itu tidak bisa dipahami oleh Eva.
"Sifat jelek?." Eva berpikir keras, apakah selama ini dia berperilaku buruk kepada mereka? apa dia telah menyinggung perasaan mereka? atau malah dia pernah melukai mereka? sepertinya tidak, dia tidak pernah melakukan kontak dengan siapapun sejauh ini hanya dengan Dimas. Ini pertama kalinya Dimas melihat raut wajah serius Eva yang terlihat seksi dimatanya. Eva tiba-tiba menoleh menatap Dimas, Dimas yang terciduk memandangi wajah Eva segera mengalihkan perhatiannya.
"Kita mengulur waktu terlalu lama." Dimas yang tidak paham maksud Eva kembali menatap gadis itu.
"Aku tunggu diparkiran." Kata Eva datar.
"Hah?."
"Ninja Rr hijau, itu sepeda motormu kan?." Tanya Eva yang diangguki oleh Dimas.
"Jika ada penumpang lain tolong batalkan, kita ketemu sepuluh menit lagi." Setelah mengatakan itu Eva berlalu meninggalkan Dimas yang masih mencerna maksud ucapannya.