
Arga dan Lusi masuk ke dalam kamar Eva melihat gadis remaja yang terbaring lemah sedang diperiksa, tidak lama setelah itu masuklah dokter keluarga Ayhner bersama Daren.
"Ibu." Panggil Daren. Lusi mengangguk.
"Bawa mereka semua keluar, dan perintahkan pelayan untuk membawa minuman kesini." Titah Lusi kepada Daren.
Daren menyuruh dokter keluarganya untuk kembali ke tempat kerja lalu Daren meminta Arga untuk sementara berjaga-jaga di depan rumah. Pelayan membawakan minuman yang diminta meletakannya diatas meja dan segera pergi. Daren menepuk pelan pundak Fathur membuat pemuda itu berjingkat kaget.
"Nak, bisa tunggu diluar?." Ucap Daren lembut. Fathur mengangguk sekilas.
"Baik, saya permisi om." Fathur keluar meninggalkan kamar Eva namun dia tidak pulang, Fathur memilih menunggu didepan pintu kamar.
"Katamu dia adalah dokter sekaligus guru psikologi Eva?." Tanya Lusi.
"Benar." Jawab Daren.
"Aku tidak menyangka Ayumi akan bertindak sejauh ini." Lusi menghela nafas berat.
"Maafkan saya ibu." Daren menundukan kepala dalam.
"Lihat betapa menyakitkannya ini untuk dilihat." Lusi mengeluarkan kekesalannya yang sudah ia pendam. Daren diam tidak menjawab.
"Apa anda sudah selesai memeriksanya dokter Jun?." Tanya Lusi menggunakan bahasa korea seraya menghampiri ranjang diikuti oleh Daren.
"Ne halmeoni (Ya, nenek)." Jun Ho cepat-cepat menghapus air matanya.
"Apa yang membuat cucu saya mengeluarkan darah begitu banyak?." Tanya Lusi.
"Saya belum yakin karena semua organ didalam tubuhnya berfungsi dengan baik, tidak ada kerusakan atau pun penyakit didalam tubuhnya."
"Lalu?." Tanya Daren dengan nada dan wajah yang datar.
"Saya akan memastikannya." Jun Ho bersiap untuk memeriksa Eva lagi.
"Tunggu." Kata Lusi. Jun Ho menoleh kepada Lusi.
"Ne? (Ya?)." Jun Ho menghampiri Lusi dan Daren dengan sopan.
"Sepertinya kamu dekat dengan cucuku, apa ada sesuatu yang kalian sembunyikan?." Jun Ho membungkuk sedikit.
"Tidak nek, kami beberapa kali bertemu. Pertama saat Augustin berusia dua belas tahun dan yang kedua Augustin berusia lima belas tahun, hanya itu." Jawab Jun Ho.
"Apa yang putri saya lihat darimu?." Tanya Daren yang penasaran sejak dulu karena putrinya tidak pernah memilih guru privat sendiri, tapi lain hanya dengan orang berdarah korea itu, Eva yang memilihnya.
"Saya juga tidak tahu tuan, ini kehormatan bagi saya." Daren meneliti Jun Ho menilainya.
Setelah melihat keadaan putrinya yang tidak kunjung mendapat perubahan Daren teringat akan guru psikologi Eva dikorea, Daren segera menghubungi Jun Ho dan memintanya untuk datang ke indonesia beberapa hari yang lalu, dan jadwal kedatangannya memang hari ini.
"Tolong periksa cucu saya, dokter Jun Ho." Pinta Lusi.
"Baik nek." Jun Ho kembali mendekati Eva.
Jun Ho menatap Eva yang terdiam menatap langit-langit kamar. Hati Jun Ho terasa sakit melihat gadis nakalnya yang dingin, tegas, dan cuek itu kini dalam keadaan yang sangat tidak baik-baik saja. Jun Ho meletakan tangan kirinya diatas dahi Eva.
"Aku mulai." Ucap Jun Ho lembut lalu tangannya turun menutup mata Eva, secara perlahan. Jun Ho mulai menghipnotis Eva ia sangat berkonsentrasi agar bisa melihat apa yang ada didalam pikiran alam bawah sadar gadis itu.
Jun Ho melihat langit siang yang cerah. Dengan bergerombol anak-anak berseragam meninggalkan gedung terlihat Eva berdiri diseberang lapangan basket bersama pria tampan disisi kirinya. Wajah Eva terlihat dingin dan cuek seperti biasa namun beberapa detik kemudian tatapannya berubah tajam, ia berjalan menyebrangi lapangan basket diikuti pria itu namun seorang pemuda memanggilnya dari belakang lalu mereka terlihat serius membicarakan sesuatu Jun Ho tidak bisa mengerti bahasa yang mereka gunakan.
Jun Ho melihat pemuda itu mengecup kening gadis nakalnya dengan lembut dan sebuah air mata terlihat dari sudut-sudut mata pemuda itu. Hal berikutnya yang Jun Ho lihat membuat bulu kuduknya merinding hebat. Ia tidak bisa mempertahankan air matanya.
Gambaran ingatan Eva berhenti saat mobil berwarna putih itu bergerak menjauh lalu gelap. Jun Ho berusaha mencari ingatan yang lain namun ia kembali ke ingatana dimana Eva berdiri disebrang lapangan basket, ingatan itu terus berputar seperti tidak ada tombol pause, jika ingatannya sudah selesai berputar maka akan kembali ke ingatan awal, begitu seterusnya. Baju yang Jun Ho kenakan sudah basah kuyup karena keringat dingin, air matanya yang terus keluar telah bercampur dengan keringatnya.
Jun Ho tidak menyerah ia berusaha terus menggali semakin dalam ingatan Eva menerobos setiap penghalang namun seakan ada yang menariknya dengan cepat kembali ke satu-satunya ingatan yang mengambil alih pikiran dan tubuh Eva saat ini. Ya, ingatan yang sangat menyakitkan.
Eva mengerang kesakitan, Jun Ho mengerutkan keningnya sangat fokus, telinganya mendengar Eva terbatuk-batuk cukup keras dengan terburu-buru Jun Ho menghentikan hipnotisnya ia membuka mata dengan nafas yang tersengal-sengal melihat darah keluar dari mulut dan hidung Eva, manik Jun Ho bergetar.
Daren yang melihat putrinya mengerang kesakitan segera melompat naik keatas ranjang memegang tangan putrinya, tidak lama setelah itu Eva terbatuk-batuk mengeluarkan darah yang tidak sedikit, Daren dengan cekatan membersihkan mulut dan hidung putrinya dengan kain apa pun yang bisa ia raih.
"Daren!." Seru Lusi. Daren tidak menjawab ibu mertuanya ia sibuk membersihkan darah di hidung Eva.
Uhuk!.
Tangan Daren bergerak cepat menengadah mulut Eva menangkap darah yang keluar agar baju Eva tidak bertambah kotor karena darahnya, dengan satu tangan Daren mengangkat punggung Eva menyenderkannya ke dada, menahan tubuh Eva agar tetap duduk mencegah darah yang keluar dari hidung Eva kembali masuk ke dalam karena itu sangat berbahaya.
Uhuk!.
Daren bergerak lebih cepat menarik selimut disampingnya untuk menutup mulut Eva. Lusi merosot jatuh terduduk dilantai, kakinya tidak memiliki tenaga untuk menahan berat tubuhnya melihat pemandangan yang meremukan seluruh tulangnya, sangat menyakitkan. Kamar luas itu dipenuh bau amis dari darah cucunya.
Bola mata Daren bergerak dengan pelan menatap tajam manik Jun Ho yang sedari tadi diam tidak melakukan apa pun. Jun Ho tercekat, ia merasa ketakutan saat mata Daren menatapnya, aura Daren menekan Jun Ho membuat laki-laki itu bergerak kaku mengobati Eva.
Kepala Eva terkulai lemah didada Daren, gadis itu terlalu banyak mengeluarkan darah. Daren memanggil pelayan masuk ke dalam kamar untuk membantu Jun Ho membersihkan darah Eva, para pelayan mondar-mandir membawa pergi kain yang terkena darah dan membawa masuk kain yang baru.
Setelah dirasa Eva tidak mengeluarkan darah lagi Daren membaringkan putrinya ia menghubungi rumah sakit tempat dokter keluarganya melakukan praktek.
Daren berjalan menghampiri ibu mertuanya membantu Lusi berdiri lalu menuntun wanita tua itu untuk duduk disofa mengulurkan secangkir air putih. Jun Ho berjalan menghampiri mereka.
"Maaf tuan, Augustin membutuhkan donor darah secepatnya." Ucap Jun Ho dengan hati-hati.
"Saya sudah menghubungi rumah sakit untuk membawa semua barang yang diperlukan sebentar lagi mereka sampai." Jelas Daren.
"Baik tuan." Jawab Jun Ho. Lusi mengatur nafasnya yang tidak teratur menenangkan dirinya, dengan satu tarikan nafas panjang Lusi menyuruh Jun Ho untuk duduk bersama mereka.
"Dokter Jun apa hasilnya setelah memeriksa cucu saya?." Tanya Lusi. Tangan Jun Ho saling meremas sebentar lalu membalas tatapan Lusi.
"Saya mencoba melihat isi pikiran Augustin, penyebab sakit dikepalanya dan kenapa dia mengeluarkan darah begitu banyak, karena dia memikirkan kenangan buruk yang terjadi kepadanya." Jelas Jun Ho.
"Kenangan buruk?." Ulang Lusi.
"Ya, kenangan disekolah dengan seorang pemuda dan wanita cantik. Saya tidak tahu apa yang mereka bicarakan tapi kenangan kejadian mengerikan itu terus berputar tanpa henti didalam kepala Augustin." Daren membisu, lidah Lusi terasa sangat pahit untuk membuka mulut.
"Saya juga mencoba masuk semakin dalam ke alam bawah sadarnya namun selalu gagal." Daren memijat-mijat dahinya.
"Dokter Jun, anda bisa beristirahat dikamar yang sudah disiapkan atau tetap berada disini terserah anda. Saya dan Daren akan keluar sebentar." Kata Lusi beranjak berdiri.
"Saya akan menemani Augustin disini." Jawab Jun Ho. Lusi berjalan meninggalkan kamar. Daren menatap Jun Ho tegas sebelum menyusul Lusi.
Didepan kamar, Lusi berhadapan dengan pemuda yang dia yakini adalah teman cucunya. Pemuda itu mengeluarkan keringat dingin di dahinya khawatir, namun ia terlihat berusaha untuk tetap tenang.
"Eva tidak baik-baik saja, dia sedang istirahat." Ucap Lusi dengan senyum lemahnya.
"Darahnya begitu banyak." Kata Fathur yang melihat para pelayan mondar-mandir membawa kain yang terkena bercak darah Eva tadi.
"Syukurlah, bolehkah." Kalimat Fathur berhenti karena ragu-ragu. Daren yang muncul dari belakang Lusi menepuk pelan pundak Fathur.
"Masuklah, temani dia." Ucap Daren tenang.
"Terima kasih." Lalu Fathur masuk ke dalam kamar Eva.
"Mmm?, apa yang terjadi denganmu?." Lusi menatap Daren yang terlihat aneh.
"Ega beberapa kali menceritakan tentangnya kepadaku." Lusi mengangguk paham.
"Ada yang lebih penting lagi. Bawa aku kepadanya sekarang, Daren." Titah Lusi.
***
Didalam aula yang bernuansa eropa bercampur jepang Lusi dan Daren duduk dengan tenang tidak lama kemudian seorang wanita cantik dengan baju kimono menghampiri mereka dengan sebuah nampan ditangannya. Takehara duduk diseberang meja meletakan nampan disebelah kanannya lalu wanita itu membungkuk dalam.
"Sebuah kehormatan bagi saya bertemu kembali dengan anda, heika." Sapa hormat Takehara kepada Lusi.
"Kamu masih memanggilku seperti itu Tacchan? (singkatan nama Takehara dan nama panggilan khusus oleh Lusi) ." Takehara tersenyum lembut.
"Maafkan saya Lusi dono (dono \= sebutan gelar kehormatan untuk memanggil tuan tempat mereka mengabdi) . Anda mau berkunjung kemari adalah kehormatan bagi saya Daren Dono." Lajut Takehara. Daren mengangkat satu tangannya isyarat agar Takehara menegakkan kepalanya lalu perlahan Takehara mangangkat kepalanya bersamaan dengan tubuhnya yang duduk tegak.
Tangan kiri Takehara mengangkat lengan kimono sebelah kanannya ke dalam, mengambil gelas dari atas teko meletakannya didepan Lusi dan Daren dengan gerakan yang lembut, rapih, dan sangat tertata lalu menuangkan teh kedalam gelas. Aneh rasanya jika wanita secantik dan selembut Takehara bisa bertarung dan tak kenal ampun. Sentuhan terakhir Takehara menyiapkan minumannya sendiri.
Sunyi, tidak ada yang bergerak atau pun membuka suara. Lusi mengangkat gelas tehnya menyeruput sedikit diikuti oleh Daren lalu baru Takehara. Lusi meletakan gelasnya dengan anggun beralih menatap Takehara.
"Tacchan." Panggil Lusi.
"Hai' (Ya)." Jawab Takehara.
"Pergilah, tugasmu sudah selesai disini." Titah Lusi.
"Baik Lusi dono." Daren melirik ibu mertuanya.
"Ibu, sekarang Yuki dalam keadaan terburuknya dia masih membutuhkan Takehara disini." Protes Daren dengan nada tenang dan sopan.
"Yuki akan aku jadikan seorang artis atau idol dinegeri ginseng, jika itu tidak berhasil. Aku akan mengirimnya ketempat dimana awal mula ini terjadi." Kalimat Lusi membuat Daren dan Takehara membeku.
Hening.
"Ibu untuk membuat Yuki menjadi artis atau idol masih bisa masuk akal, untuk membuat Yuki sibuk dengan pikiran barunya mengalihkan pikirannya yang sekarang, itu salah satu cara agar dia bisa sembuh. Tapi untuk pilihan kedua sangat tidak masuk akal." Jelas Daren.
"Kamu lupa Daren, semua yang Tacchan laporkan?." Tanya Lusi.
"Iie (Tidak)."
"Baik semua ini sudah jelas." Daren masih tidak bisa menerima keputusan yang diambil Lusi.
"Tapi ibu, saya tetap menentang keputusan kedua ibu." Tolak Daren.
"Kamu terlalu naif Daren." Nada suara Lusi yang tenang membuat udara disekitar mereka berubah dingin.
"Tetap saja saya tidak bisa menerimanya, setelah percobaan pembunuhan yang masih belum tertangkap sangat berbahaya membiarkannya pergi kesana." Lusi menggerakan tangan kanannya membuat Daren langsung diam. Lusi mengelus pelan pinggiran gelas dengan ujung jarinya.
"Apa kamu kira cucuku tidak bisa menemukan penembak ikan teri itu Daren?, cucu-cucuku berkembang terlalu cepat, kita terlalu bodoh yang terlambat menyadarinya." Takehara tersenyum simpul.
"Aku tidak bisa membiarkannya pergi dan jauh dari jangkauanku." Ucap Daren kekeh dengan pendiriannya.
Brak!.
Lusi menggebrak meja membuat tiga gelas bergetar karenanya. Jantung Daren berdegup keras, sudah sangat lama Daren tidak melihat Lusi marah, terakhir yang ia lihat saat ibu mertuanya bertengkar dengan ayah mertuanya.
"Jangan remehkan marga yang kamu dapat, Daren." Suara Lusi tetap tenang.
"Haruskah kita melakukannya?." Daren menarik nafas panjang tatapannya menerawang jauh.
"Obat mujarab biasanya berada di tempat yang kita hindari." Ujar Lusi. Daren menyeruput tehnya.
"Lusi dono, kemana saya harus pergi?." Tanya Takehara, Lusi memberikan secarik kertas kepadanya.
"Sudah saatnya kita berhenti bermain aman." Ucap Lusi.
"Baik Lusi dono. Rencana ini tergantung ojou chan." Lusi tersenyum berbanding terbalik dengan Daren.
Sore hari semua pelayan sibuk mempersiapkan segalanya didalam rumah itu. Jun Ho sedang membicarakan sesuatu dengan Lusi diruang kerja Daren yang tertutup, sedangkan Daren kembali ke kamar putrinya menghampiri seorang pemuda yang duduk diam dikursi sebelah ranjang.
"Apa kamu tidak mencoba mengajaknya bicara?." Tanya Daren tiba-tiba kepada Fathur.
"Eh? tidak." Jawab Fathur yang kaget.
"Cobalah bicara kepadanya, jangan hanya menatapnya saja." Fathur menoleh melirik Daren.
Pria yang Fathur kira sangat tegas, keras, dan berwibawa itu ternyata mempunyai hati yang lembut. Daren menoleh membalas tatapan Fathur.
"Ini saat terakhirmu bertemu dengannya, katakan kepada ibu dan saudaramu. Aku sangat berterima kasih atas kebaikan keluarga kalian." Fathur membeku mendengar kalimat Daren.
"Mungkin Eva tidak akan kembali lagi kesini. Waktumu tinggal satu jam lagi." Daren meremas pelan pundak Fathur lalu meninggalkannya berdua bersama putrinya. Daren berjalan menemui Arga.
Fathur menatap benda berwarna merah yang menggelantung disamping ranjang turun kebawah sampai di tangan Eva.
"Aku tidak habis pikir kenapa kalian berdua dengan mudahnya pergi begitu saja." Ujar Fathur ia tidak mengharapkan respon dari gadis yang terbaring diatas ranjang dengan tatapan kosong itu.
"Tiga minggu yang lalu sahabatku pergi tanpa satu patah kata pun." Fathur diam ia merasakan sesak didadanya.
"Pergilah, sembuhkan dirimu. Jangan menyiksa diri sendiri lagi, dan carilah jalan keluarmu. Bukankah kamu selalu melakukannya." Fathur beralih menatap Eva.
"Aku tidak mau kamu melupakan Ega, aku ingin kamu menghadapinya. Tentu saja terasa berat dan sangat sakit, begitu juga dengan diriku sekarang." Fathur mencengkeram dada sebelah kirinya.
"Meskipun kamu menyuruhku untuk tidak menyukaimu aku tidak akan menjauh darimu, meskipun kamu membenciku aku akan tetap menjaga perasaanku untukmu, meskipun kamu meninggalkanku aku terus berdoa untuk kesembuhanmu, karena aku tidak ingin lari dari perasaanku atau pun kenyataan ini." Fathur merasakan setetes air mata jatuh ke pipinya.
"Karena semua itu adalah bagian dari cerita hidupku." Fathur beranjak berdiri.
"Aku juga pernah kehilangan orang yang aku cintai, setidaknya kamu tidak kehilangannya, kamu masih bisa bertemu lagi dengannya. Biarkan Ega menata hati dan pikirannya begitu juga denganmu, setelah itu kalian harus bersama lagi." Fathur mendekati ranjang tangannya terulur ingin mengusap surai Eva namun tangannya berhenti diudara.
"Ingat va, kita anak enam belas tahun, berhentilah memikirkan urusan orang dewasa. Kamu, aku, Ega, kita hanyalah seorang remaja. Jadilah dirimu sendiri. Bayi hulk." Fathur menarik tangannya kembali berbalik hendak pergi.
"Fathur."