Yuki

Yuki
Bab 23



Semakin dalam Eva memasuki hutan semakin terasa gelap dan mencekam pohon-pohon besar menjulang tinggi menutup cahaya bulan diatas sana ditambah rumput liar yang lebat membuat langkah Eva semakin sulit, suara deru ombak dibelakang Eva pun kian samar-samar terdengar. Ditengah-tengah hutan dipulau sumatra utara. Eva menemukan tempat yang cukup aman untuk istirahat tidak ada rumput liar hanya ada satu pohon besar yang sudah tumbang itu memudahkan mata Eva untuk menangkap sinyal bahaya, gadis itu duduk dibatang pohon besar, meletakkan tas ranselnya lalu membuka kantong yang diberikan sikakek tadi.


Eva merasakan lapar diperutnya, seharian ini Eva terlalu fokus dengan pikiran-pikirannya sampai ia lupa untuk memberi asupan kepada tubuh. Menikmati buah-buahan yang diterima dari kakek tua ditengah hutan sendirian dikelilingi pohon-pohon besar dan sesekali terdengar suara dari para penghuni hutan. Sambil menunggu malam semakin larut.


Tangan Eva sibuk membuka tas ranselnya, didalam tas tersebut terdapat bermacam-macam jenis pistol, sebuah pulpen yang jika dibuka berubah menjadi pisau kecil, ada seratus jarum yang sudah diolesi cairan tertentu, korek api, alat pemecah sandi, dan masih banyak lainnya. Dengan cekatan Eva memasukan semua barang-barang ke dalam saku celananya kecuali pistol, Eva pikir dia tidak membutuhkan benda itu. Eva menyembunyikan tas ranselnya dibawah kayu-kayu besar lalu menutupinya dengan dedaunan.


Flashback on.


"Kenapa kita buru-buru ke Jakarta sekarang?." Eva dan Lusi duduk dibangku belakang mobil.


"Aku sudah tahu tempat Ega berada dan misteri penyebab semua ini walaupun belum seutuhnya nek." Mobil dengan kecepatan tinggi melaju di jalan raya.


"Lalu?." Lusi menatap Eva penasaran.


"Aku membutuhkan barang-barang yang ada dikamarku nek, hanya nenek yang bisa mengambilnya." Eva menatap Lusi serius.


"Kenapa bukan kamu sendiri? kamu tidak mau bertemu dengan ayah dan ibumu?." Eva langsung membuang muka menatap jendela.


Anak ini benar-benar membenci orang tuanya, batin Lusi. Keheningan menyelimuti mobil mewah tersebut sampai akhirnya Eva angkat bicara.


"Sesampainya disana nenek jangan percaya siapapun, nenek tahu kan letak kamarku?." Lusi mengangguk sekilas.


"Dirak buku kedua dari bawah ada satu buku yang judulnya tertulis dengan tinta putih dorong buku itu kedalam lalu tarik, ada pintu rahasia dibalik rak buku, nenek cukup katakan KILL ME pintu akan terbuka." Jelas Eva


Lusi terkejut, kenapa kamu membuat kata sandi seperti itu?, selama ini pasti berat buat Eva sampai dia bermain dengan kata-kata yang menyeramkan, batin Lusi.


"Tolong ambilkan ransel hitam diatas meja semua barang yang aku butuhkan ada didalam ransel nek dan kostum hitam yang ada didalam tabung." Lusi fokus mencerna setiap kalimat yang cucunya katakan.


"Untuk membuka tabung harus menggunakan sandi yang cukup rumit jadi Eva membuatkan alat penyadap untuk memudahkan nenek membuka tabungnya." Jelas Eva.


"Alat yang tadi siang kamu berikan kepada nenek?." Tanya Lusi memastikan, benda kotak hitam kecil itu yang dimaksud oleh cucunya. Eva menganggukkan kepalanya.


"Ada lubang kecil dibawah tabung, nenek masukkan kabel kecil di alat penyadap itu ke lubang yang ada ditabung lalu tekan tombol hijaunya, tunggu sebentar tabungnya akan terbuka." Lusi benar-benar fokus mendengarkan.


"Jangan sampai ada yang tahu ruang rahasia Eva nek siapapun itu, lebih baik nenek mengunci pintu dan matikan lampu kamar keamanan kamar akan aktif secara otomatis." Tambah Eva.


"Ada apa didalam ruang rahasia itu?." Tanya Lusi, tidak menyangka bahwa cucunya memiliki ruang rahasia sendiri, padahal jadwal cucunya lebih padat dari pada dirinya ketika Lusi ingin bertemu dengan cucunya pun sangat sulit, Eva kembali menatap keluar jendela.


"Laboratorium rahasiaku, hanya nenek yang aku beri tahu. Apakah nenek akan memberi tahu mereka?." Lusi tahu siapa yang dimaksud Eva dengan mereka.


"Tidak tentu saja tidak, nenek akan jamin ayah dan ibumu tidak akan tahu soal ini." Lusi meletakan tangannya diatas tangan Eva.


"Terima kasih nek." Ucap Eva.


"Kalian memang cucu kakek." Gumam Lusi sangat lirih, kalian sangat suka melakukan sebuah penelitian dan menciptakan sesuatu yang mengejutkan, batin Lusi.


Flashback off.


Eva membentangkan peta berwarna kuning diatas tanah yang gersang.


"Disini rupanya, dari sini aku harus ke arah barat" Eva segera beranjak pergi mencari tempat bertanda X dipeta.


Nekat itu yang sedang Eva lakukan sekarang, ketakutan-ketakutan yang terlintas dikepala Eva tidak bisa menghancurkan tekadnya yang sudah bulat. Sambil menandai setiap pohon yang Eva lewati, bola mata biru itu melirik peta memastikan ia mengambil jalan yang benar. Sudah tiga jam Eva berjalan semakin dalam memasuki hutan dan memutuskan untuk berhenti sebentar. Mengatur nafas, kepala Eva menengadah menatap bulan dan bintang yang tertutup ranting-ranting pohon.


"Langit begitu tinggi tapi kenapa bisa memperlihatkan beratus bahkan beribu bintang disana." Gumam Eva.


"Tinggi? bodoh kenapa tidak terpikirkan olehku." Tiba-tiba ide muncul dikepala Eva.


Eva mengedarkan pandangan mencari pohon yang paling tinggi diantara pohon yang lain. Setelah menemukannya Eva dengan lincah memanjat pohon itu sampai kepuncaknya. Kini jarak pandang Eva semakin luas. Dikejauhan sana bola mata Eva menangkap setitik cahaya, Eva tidak membuang-buang waktu lagi kaki dan tangannya bergerak cepat turun dari pohon.


Eva berlari dengan kecepatan tinggi menghampiri cahaya tersebut, ketika dirasa sudah dekat Eva menghentikan larinya berjalan pelan tanpa suara, berdiri dibalik pohon bersembunyi, mengawasi pemandangan didepannya.


Bagaimana bisa ada gedung semegah ini ditengah-tengah hutan belantara? batin Eva masih tidak bergeming dari tempatnya bersembunyi. Ega pasti ada didalam sana, ya ampun... bagaimana aku bisa mengenalinya? lihat fotonya saja tidak pernah. Apa boleh buat aku harus tetap memeriksanya, batin Eva.


Gedung itu berlantai dua dengan banyak penjaga berlalu-lalang. Eva mengelilingi gedung dari pinggiran hutan berhati-hati agar tidak terlihat. Dengan baju serba hitam mendukung Eva agar tidak terlihat sampai akhirnya Eva menemukan pintu belakang yang sepi tidak ada yang menjaga pintu itu. Eva berlari tanpa suara memasuki gedung.


Eva terkejut. Di dalam gedung lantai satu Eva menemukan banyak sekali anak-anak seumurannya sedang mengemas, menimbang, dan mengepak sesuatu mirip seperti tepung. Anak kecil pun tidak sedikit sedang melakukan hal yang sama. Eva segera bersembunyi dibelakang lemari terdekat sebelum ada yang sadar akan keberadaannya.


Pandangan Eva beredar dari celah lemari mencari seseorang. Eva sangat fokus memperhatikan masing-masing dari mereka. Bukan dia. Dia juga bukan. Bukan... Bukan...


Eva memang tidak pernah melihat foto Ega bahkan saat mereka kecil pun Eva tidak mengingatnya tapi Eva yakin akan perasaannya, bahwa entah bagaimana caranya mereka pasti akan mengenal satu sama lain. Tunggu, ada yang aneh, batin Eva. Ia kembali mengedarkan pandangannya menatap satu persatu anak-anak disana. Wajah mereka lebam dan biru-biru. Apa yang terjadi disini?, batin Eva.


Pertanyaan Eva terjawab dengan datangnya tiga laki-laki dua diantaranya berumur sekitar 27-30 tahunan berpakaian seperti preman dan ditengah mereka anak laki-laki lebih muda dari Eva berdiri dengan angkuhnya.


Raut wajah anak-anak disana langsung berubah tegang melihat siapa yang datang. Eva menyimpulkan bahwa anak muda itu pasti bos mereka. Salah satu preman beranting hitam menggebrak meja berisi tepung putih.


"Lo bosen hidup hah! mau cari mati!. Kerja yang bener!." Tubuh gadis berambut pendek itu bergetar hebat diteriaki seperti itu.


PLAK!.


Tamparan keras mendarat di pipi cowok berambut panjang hingga menutupi matanya.


"Kerja berantakan! ini barang mahal..." Teriak preman bertato kepada cowok yang kira-kira sebaya dengan Eva.


Sebelum cowo bertato menyelesaikan kalimatnya anak muda alias bos mereka mengangkat tangan menyuruh anak buahnya berhenti. Dengan langkah angkuh dia mendekati cowok berambut panjang dan buk! buk!, dua pukulan mendarat diperut dan wajah cowok berambut panjang.


"Bosen hidup ya. Jack potong rambutnya jangan sisakan sehelai pun." Perintah sang bos, preman bertato mengangguk paham.


"Baik den Burhan." Jawab pria bertato, Eva bergeming ditempat. Nama itu, batin Eva.


Ketiga orang itu pergi menuju lorong disebelah kiri. Setelah memastikan keadaan sudah aman Eva keluar dari tempat persembunyiannya menuju lantai dua.


Dilantai dua Eva menemukan tanaman-tanaman yang ditata rapi memenuhi seluruh ruangan. Jendela serta atap kaca yang memungkinkan sinar matahari masuk dengan mudah. Eva mendekati salah satu tanaman.


"Ganja." Lirih Eva.


Semua tanaman diruangan ini adalah tanaman ganja berarti yang dikemasi anak-anak itu adalah narkoba, pantas saja gedung ini tersembunyi ditengah hutan, batin Eva. Eva memutuskan untuk segera pergi dari tempat itu. Menyusuri lorong-lorong.


Diujung lorong terdengar suara langkah kaki mendekat, tanpa berpikir panjang Eva membuka salah satu pintu disebelahnya dan bersembunyi disana. Suhu diruangan itu sangat berbeda, ternyata yang dimasuki Eva adalah ruangan pendingin. Eva melingkarkan kedua tangan ketubuh mencari kehangatan. Bola mata Eva menyapu seisi ruangan. Rak-rak berjejer disana sini diisi dengan banyak sekali toples kaca. Eva mendekati salah satu toples kaca agar bisa melihat dengan jelas isi toples yang tertutup embun karena suhu yang minus.


Mata biru Eva melebar tidak percaya.


Ini otak manusia, batin Eva. Mata Eva kembali memperhatikan toples-toples yang lain.


Ini semua organ-organ manusia, buat apa mereka mengumpulkan semua organ-organ ini?, dasar iblis, mereka akan menjualnya, rutuk Eva dalam hati.


Tubuh Eva sudah tidak kuat menahan suhu dinginnya ruangan ia sedikit membuka pintu mengintip memastikan orang-orang tadi sudah pergi, merasa aman Eva pelan-pelan berlari keluar dari sana.


Eva membalikan badan seraya melempar jarum tepat dileher kiri orang yang memergokinya. Seketika orang itu roboh, dengan cara itu juga Eva membuat Ronggo dan pengawal yang lain tidak sadarkan diri saat dikorea.


"Hey kau..." Tiga orang datang menolong temannya. Salah satu dari mereka menodongkan pistol kearah Eva.


"Angkat tangan!. Blok B ada penyusup." Orang itu berbicara lewat alat yang tersemat ditelinganya. Gawat, batin Eva. Cepat-cepat melempar jarum kepada tiga orang itu lalu pergi meninggalkan mereka.


Tiba-tiba Eva dihadang lima orang bersenjata lengkap reflek kaki Eva berhenti dan segera berbalik arah, dari ujung lorong tiga orang lagi berlari kearah Eva dengan senjata lengkap pula.


Sial aku dikepung, batin Eva.


"Bos kami telah mengepung penyusup di blok D ulangi kami telah mengepung penyusup di blok D." Salah satu dari mereka berbicara lewat alat yang ada ditelinga. Eva memutar ide untuk kabur.


"Wow lo berani juga masuk kandang macan." Suara itu berasal dari anak yang berada di lantai satu tadi, Eva berbalik menatap bos mereka.


Anak itu berjalan melewati anak buahnya dengan senyuman menyeringai. Dia tidak lebih tinggi dari Eva, berkulit putih dan baby face.


"Dari mana lo tahu tempat ini?." Tanya anak itu.


"Tempat ini mudah dicari." Anak buahnya serentak menodongkan pistol kearah Eva.


"Bohong. Tempat ini sangat susah dicari polisi pun tidak bisa menemukannya. Sebenarnya lo siapa? polisi?." Eva hanya mengedikkan bahu acuh.


"Lo cari mati ya! serang!." Seru anak itu.


Seusai bos mereka memberikan perintah mereka langsung melepas tembakannya. Eva berguling sembari melempar beberapa jarum kearah kaki mereka kecuali anak itu, semua orang langsung roboh. Kejadiannya sangat cepat sehingga membuat anak itu bergeming melihat Eva berlari meninggalkannya.


Jalan didepan bercabang Eva harus mengambil keputusan cepat. Terdengar suara langkah kaki dibelakang gadis itu.


Mereka mengejar, dengan sigap Eva berbelok ke kanan. Ia melewati beberapa ruangan. Dari ruangan yang ada di depan Eva keluarlah salah satu anggota mereka dengan cepat Eva melemparkan jarum tepat mengenai dahi orang itu.


Eva berbelok ke kiri dilorong ini Eva bertemu empat orang lagi, nasib mereka pun sama dengan teman-temannya yang lain. Eva berbelok ke kiri lalu kanan. Dilorong ini sangat sepi tidak banyak ruangan yang ada seperti dilorong-lorong sebelumnya.


Didepan jalan buntu hanya ada satu ruangan disana. Eva tidak mungkin kembali kejalan tadi karena mereka pasti sudah ada dibelakang mengejarnya. Tanpa berpikir panjang Eva masuk kedalam ruangan itu.


"Siapa kau?." Terdengar suara laki-laki dibelakang Eva. Pelan-pelan Eva membalikan badannya. Mata mereka bertemu, tubuh mereka sontak bergeming tidak bergerak. Mata itu... perasaan apa ini?, batin Eva.


Cowok itu berdiri diam, rambutnya kusut acak-acakan. Dia memakai kaos putih lusuh celana jins sobek dan wajahnya menggambarkan bahwa dia bekerja sangat keras, lingkaran hitam di bawah matanya menandakan kalau dia jarang tidur. Suara langkah kaki terburu-buru dari luar menyadarkan Eva.


"Blok X kami belum menemukannya."


"Geledah semua ruangan!." Jerit suara anak itu.


"Sial." Rutuk Eva, cowok itu menarik tangan Eva.


"Cepat, masuk." Cowok itu mendorong tubuh Eva masuk kedalam lemari kecil di pinggir ruangan.


BRAK!.


Anak itu masuk dengan paksa, dia menodongkan pistol tepat kearah kepala cowok kusut.


"Dimana dia?!." Eva melihat pemandangan itu dari celah lemari.


"Siapa yang kau maksud?." Jawab cowok kusut datar.


"Jangan berlagak bego! katakan dimana dia! aku tadi melihatnya masuk kesini." Cowok kusut tetap dengan wajah datarnya.


"Kau tidak bisa melihat disini hanya ada aku. Apakah kau buta." Anak itu sekaligus bos mereka menggeram marah mendengar jawaban cowok kusut.


"Mati kau!." Jari anak itu menarik pelatuk pistolnya.


"Burhan. Jangan!." Seorang gadis merampas pistol dari tangan Burhan.


"Apa yang kau lakukan Sarah!?." Seru Burhan.


Deg. Nama itu! Burhan Sarah mereka..., batin Eva.


"Seharusnya aku yang menanyakan itu padamu Burhan." Sarah melempar tatapan tajam kepada Burhan.


"Bodoh, kau dibutakan oleh cinta. Apa bagusnya dia, dia hanya alat untuk kita dan kau harus tahu dia telah menyembunyikan penyusup!." Burhan menatap tajam balik Sarah.


"Aku yakin Hotaru tidak melakukannya." Bela Sarah.


"Bodoh kau benar-benar bodoh Sarah!." Wajah burhan merah padam menahan amarah.


"Terserah kau mau bilang apa Burhan." Sarah bersikukuh membela cowok kusut.


"Heh bang**t! kau apakan Sarah!." Cowok kusut menatap tajam Burhan.


"Burhan! cukup." Seru Sarah.


Burhan meninggalkan ruangan seraya menendang pintu keras, anak buahnya mengikuti Burhan dari belakang.


"Kamu nggak apa-apa kan Hotaru?." Sarah meraih tangan cowok kusut tapi dengan cepat ditepisnya. Sorot matanya menyiratkan ji**k melihat sarah.


"Aku tidak membutuhkan pertolonganmu." Suaranya datar tapi penuh amarah.


"Hotaru, mau sampai kapan kamu begini?." Ucap lembut Sarah.


"Pergilah." Cowok kusut membalikan tubuhnya menghadap meja kerja yang cukup besar membelakangi Sarah.


"Hotaru tolong maafkan sikap Burhan." Sarah mencoba mendekati cowok kusut.


"Aku banyak kerjaan, aku harap kamu mengerti." Jawaban dari cowok kusut menghentikan langkah Sarah untuk mendekatinya.


"Aku mengerti, sampai ketemu nanti." Sarah melangkah meninggalkan ruangan.


Setelah beberapa menit Sarah meninggalkan ruangan cowok kusut itu menatap lemari tempat persembunyian Eva.


"Keluar, kamu sudah aman." Ucap datar cowok kusut, akhirnya aku dapat menghirup udara segar kembali, batin Eva.


"Thanks." Kata Eva tidak kalah datar.


"Kamu yang dicari mereka? apakah kamu polisi atau salah satu dari mereka?." Tanya cowok kusut. Eva menghampiri pintu hendak keluar.


"Bukan keduanya." Seusai menjawab Eva keluar dari ruangan itu lalu berlari kecil di lorong-lorong.