Yuki

Yuki
Bab 49



Berita tentang kejadian penembakan itu terdengar sampai di telinga Daren dan Ayumi pihak sekolah juga menghentikan semua kegiatan, memulangkan para siswa lebih awal memberi tahu mereka jika ada rapat guru dadakan.


Beberapa guru dan kepala sekolah masuk kedalam kelas Eva dan Ega meminta mereka semua yang melihat kejadian penembakan itu untuk diam tidak menceritakannya kepada siapapun agar kegiatan sekolah tetap kondusif, para guru juga menenangkan para siswa dengan mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja, pihak berwajib yang akan menanganinya.


Setelah pulang sekolah Eva langsung mengurung diri didalam kamar tepatnya didalam ruang rahasianya, gadis itu sangat fokus melebihi biasanya, segala ide didalam kepalanya mengalir deras bah air terjun, seluruh anggota badannya bergerak cepat.


Pagi jam dua dini hari Eva berhasil menyelesaikan alat canggih yang dia inginkan, ia tersenyum tidak sabar ingin memberikannya kepada Ega, setelah itu Eva kembali kedalam kamarnya untuk tidur ia bekerja tanpa istirahat seharian ini.


Setelah memastikan badannya sudah bersih Eva merebahkan dirinya diranjang, gadis itu terkejut dengan panggilan dan pesan yang menumpuk diponselnya.


Ega mengomel karena tidak bisa masuk kedalam kamarnya, ia juga sulit dihubungi serta mengingatkan Eva untuk tidak melupakan makan siang dan makan malamnya. Eva memutuskan tidak membalas pesan dari Ega ia sudah tidak sabar menunggu hari esok untuk memberitahu saudara kembarnya itu.


Pagi yang tidak terduga, Daren dan Ayumi langsung terbang kembali ke indonesia setelah mendengar kabar anaknya hampir terbunuh padahal mereka baru saja sampai di Australia untuk urusan bisnis.


Pagi itu Daren sudah pergi dengan beberapa anak buahnya. Setelah tahu nyawa anak-anaknya sedang terancam mereka berdua memberikan penjagaan ekstra ketat kepada sikembar.


Eva sedikit terkejut saat ingin pergi ke ruang makan begitu juga dengan Ega yang menyusulnya dari belakang. Di ruang tamu yang besar itu seorang pemuda berdiri menunggu sesuatu.


"Siapa?." Tanya Eva datar. Kenapa ada orang asing didalam rumahnya, batin Eva.


"Kamu polisi?." Tanya Ega yang membuat Eva menoleh kepadanya, Eva mengangkat satu alisnya heran.


"Biar ibu Ayumi yang menjelaskan kepada kalian." Eva yang mendengar nama Ayumi disebut membuka matanya lebar-lebar lalu menatap dingin kepada pemuda itu.


Pemuda itu menatap sikembar bergantian, mengamati mereka. Oh inikah sikembar yang jenius itu, batin si pemuda. Ega merasakan suasana ganjil didalam rumahnya.


"Mulai dari sekarang Ronggo hanya akan menjaga Ega sedangkan kamu akan dijaga oleh Arga anggota interpol." Kata Ayumi yang sudah berdiri dibelakang Eva dan Ega. Ega memiringkan badannya melihat Ayumi berdiri dengan wajah serius, Eva sudah menduga ada yang tidak beres.


"Apa? aku tidak salah dengar?." Ucap Eva dengan nada dingin tanpa menoleh ke belakang.


"Katakan padaku bahwa itu tidak benar ga." Eva menoleh kesamping menatap manik coklat terang milik Ega.


"Buat apa pakai anggota interpol-interpol segala?." Lanjut Eva. Di lain sisi Arga berdiri dengan sikap yang santai.


"Ini tugas saya untuk menjaga anda. Saya mendapatkan perintah dari atasan yang menerima permintaan ibu Ayumi." Eva tersenyum miring.


"Bagus." Ucap Eva semakin dingin. Ega menggandeng tangan Eva menariknya keluar takut adiknya semakin marah namun baru berjalan beberapa langkah ketakutannya benar-benar terjadi.


"Kalian juga tidak akan satu sekolah lagi!." Seru Ayumi membuat Eva langsung menghentikan langkahnya, Eva diam tidak bergerak. Ega merasa was-was.


"Apa maksudmu?!." Geram Eva.


"Yang aku katakan sudah jelas." Jawab Ayumi. Eva menyentakkan tangannya dari genggaman Ega lalu berbalik menatap Ayumi penuh kebencian.


"Kamu mau memisahkan kami. Itu tidak akan bisa!." Udara diruangan itu mulai terasa berat. Ayumi tetap berdiri dengan tenang.


"Apa yang tidak bisa aku lakukan." Ucap Ayumi penuh kesombongan.


"Kepercayaan dirimu terlalu tinggi nyonya." Eva menekan setiap kalimatnya.


"Heh." Ayumi memberikan smirknya.


"Gadis bodoh sepertimu hanya akan membuat Ega dalam bahaya." Kalimat itu meluncur dengan mulus dari bibir Ayumi. Eva mengepalkan kedua tangannya aura gelap menyelimuti gadis itu.


"Bodoh katamu. Apa perlu anda saya ingatkan nyonya." Bola mata Eva tidak bergerak dari manik Ayumi menatapnya sangat tajam seakan tidak sabar ingin segera memangsa musuhnya.


"Tutup mulutmu dan pergi!." Tubuh Eva terasa panas.


"Ega akan pindah ke sekolah lain." Tambah Ayumi.


"Gampang sekali anda mengatakannya nyonya." Kesabaran Eva sudah habis sejak tadi.


"Anda yang tidak bisa menemukan Ega tapi aku bisa!, anda yang tidak bisa membawa Ega kembali tapi aku bisa!. Anda yang bertingkah semau anda sendiri dan tidak pernah memikirkan orang lain!. Dan sekarang dengan seenaknya anda mau memisahkan kami hah!!. Itu tidak akan terjadi!!!." Teriak Eva, Ayumi menatap tajam Eva, ia menerjang aura Eva dengan amarahnya.


"Kamu pikir kamu siapa berteriak-teriak dirumahku!." Suara Ayumi tinggi dan mengintimidasi Eva sempat gentar namun bom didalam dirinya sudah meledak, ini yang ditakutkan oleh Ega. Eva maju hendak menyerang Ayumi tapi Ega lebih cepat, ia menahan tubuh Eva dari depan.


"Kurang Aj*r kau Ayumi!." Ega mendorong mundur tubuh Eva yang terus memberontak.


"Aku akan membunuhmu!. Ega! lepaskan aku!!." Ega sekuat tenaga membawa Eva masuk kedalam mobil."


"Aku membencimu!. Aku membencimu! Ayumii!!." Teriakan Eva menggema diseantero rumah besar itu, Ayumi menghela nafas berat.


Didalam mobil sedan hitam yang melaju menuju sekolah Eva masih marah-marah menumpahkan segala emosinya.


"Dia pikir dia siapa bisa seenak jidatnya sendiri. Jangan-jangan kamu sudah tahu rencana dia ga?!." Eva menatap tajam Ega yang terus duduk diam disampingnya.


Ronggo bergerak gusar melihat emosi majikan mudanya yang tidak pernah semarah itu. Tidak pernah, benar-benar tidak pernah. Ega mengangguk lemah. Respon Ega menghantam dada Eva.


"Ooh... Bagus, kalian sekongkol ternyata. Dan kamu nurut sama dia?." Ronggo melihat kedua majikan mudanya dari kaca spion dalam mobil.


"Itu yang terbaik Yuki." Eva menarik tangan Ega menggenggamnya erat mencari kebohongan dari mata saudara kembarnya.


"Tidak! kita dipisahkan lagi itu yang namanya terbaik?. Kamu tadi pagi salah minum obat ya?!." Ega membalas tatapan saudari kembarnya.


"Yuki..." Eva melepas tangan Ega perlahan membuang wajahnya keluar jendela mobil. Ega hanya bisa menghela nafas berat.


Selama perjalanan mobil sedan hitam itu sunyi dan terasa sangat dingin. Eva sungguh tidak percaya dengan apa yang telah terjadi, tatapan mata Ega mengatakan segalanya. Bahwa semua ini benar, apa yang dia katakan adalah benar. Rasa nyeri dihati Eva menggerogotinya.


Arga sudah mendengar semua cerita tentang Eva Augustin Ayhner tentang tingkah laku dan sifatnya sebelum dan sesudah Ega saudara kembarnya kembali termasuk cerita tentang keluarga Drs. Daren Augustav Ayhner yang kurang harmonis dan Arga menyimpulkan bahwa kejadian tadi adalah pertama kalinya Eva dan Ayumi saling menatap satu sama lain.


Kenapa Arga anggota interpol yang sangat disegani oleh para anggota yang lain mau melindungi Eva gadis sma yang masih labil, itu karena dia ditugaskan untuk menangkap pembunuh kelas kakap yang sudah dicarinya selama ini yang kebetulan pembunuh itu juga mengincar anak dari pengusaha terkenal.


Tugas Arga menjadi lebih mudah ketika Ayumi meminta atasannya untuk mengirim salah satu anggota interpol yang cakap dan berbakat untuk melindungi putrinya, dan atasannya memilih Arga.


Arga dengan tenang duduk dibalik kemudi dengan Ronggo disebelahnya. Ronggo pengawal paling senior, yang dipercaya, sekaligus ketua para pengawal dirumah keluarga Ayhner.


Mobil sudah sampai didepan gerbang sekolah, Eva terburu-buru keluar dari dalam mobil dan berjalan cepat pergi menjauh. Ega hendak mengejar Eva namun dicegah oleh Arga.


"Biar saya saja." Ucap Arga, setelah mengatakan itu Arga berlari mengejar Eva.


Eva masuk kedalam ruang musik yang sangat sepi lalu menghempaskan pantatnya dikursi piano. Eva memutuskan untuk menyepi disana menenangkan hati dan pikirannya. Eva sangat marah dengan keputusan Ayumi yang memisahkan dirinya dengan Ega setelah apa yang selama ini Ayumi lakukan kepada dirinya. Merusak dan menghancurkan hidupnya dan sekarang satu-satunya kebahagiaan Eva juga Ayumi rampas. Eva mengepalkan tangannya kuat-kuat.


Aku membencimu, aku sangat membencimu Ayumi!, kenapa kamu tidak bisa sedikit pun membiarkan aku bahagia, batin Eva. Eva menatap piano didepannya sangat lama, menarik nafas panjang lalu meletakan jemarinya diatas tuts-tuts piano Eva mulai memejamkan mata menuangkan segala emosinya kedalam melodi piano yang dia buat.


"Ada apa?." Tanya Fathur kepada Dody.


"Lo dengar itu?." Tanya Dody.


"Iya gue dengar suaranya dari ruang musik." Jawab Heru, Fathur menajamkan indra pendengarannya.


"Siapa pagi-pagi begini sudah nongkrong diruang musik?." Celetuk Dody. Fathur menikmati alunan melodi yang indah itu.


"Yuki." Lirih Ega sontak ketiga sahabatnya terkejut dan langsung menatapnya.


The power of love, batin Ega hatinya terasa nyeri ia sudah menyakiti hati saudari kembarnya, lagi. Lagu itu lagu yang mereka berdua pernah mainkan.


Mata Eva tebuka perlahan ia menangkap sosok didepannya sedang berdiri, senyum mengejek tersungging dari bibir itu.


"Kamu membuntutiku." Ucap Eva.


"Mulai dari sekarang kamu akan selalu melihatku." Jawab Arga, Eva beranjak dari kursi piano berjalan meninggalkan ruang musik menuju ke kelas. Tidak lama bel masuk pun berbunyi.


"Kenapa wajahmu kusut kayak martabak telor?." Tanya Tiara. Eva duduk menyandarkan punggungya ke kursi.


"Aku sedang bad mood." Jawab Eva.


"Maaf tempat dudukmu pindah dipojok sana." Arga menunjuk meja kosong dibelakang kepada Tiara.


"Hah? kamu siapa?." Tiara terpaku menatap Arga.


"Saya pengawal baru non Eva, mohon kamu segera pindah dari bangku ini." Tiara menautkan kedua alisnya.


"Sejak kapan pengawalmu ikut masuk kedalam kelas?." Tanya Tiara melirik Eva.


"Biarkan saja dia." Jawab Eva singkat.


"Maaf nona ini perintah dari ibu anda." Arga memberikan senyum manisnya yang sukses menyihir Tiara.


"Dia bukan ibuku!." Seru Eva membuat beberapa anak menatapnya, raut wajah gadis itu mulai mengeras menatap tajam mata Arga.


"Sudah va biar aku pindah saja." Lirih Tiara nyalinya menciut.


"Tidak." Bola mata Eva tidak bergerak sedikit pun dari Arga.


"Maafkan saya terpaksa menggunakan cara kekerasan." Eva semakin tajam menatap Arga, sejujurnya hati Arga bergetar ditatap seperti itu oleh gadis sma dihadapannya.


"Va aku pindah saja ya." Eva menggebrak meja berdiri lalu menyeret tasnya dengan kasar.


"Biar aku yang pindah." Tiara menatap Eva khawatir, setelah kejadian penembakan kemarin Eva sepertinya dijaga sangat ketat.


Selama jam pelajaran Eva hanya tidur dimejanya, gadis itu memikirkan segala sesuatu yang menimpanya selama ini. Arga duduk dengan tenang disebelah Eva membuatnya merasa seperti siswa sma kembali, Arga melirik gadis disebelahnya. Berani-beraninya tidur didalam kelas padahal guru sedang menerangkan, ya ampun dia juga tidak mengeluarkan bukunya. Dasar anak orang kaya paling nanti dia juga menyogok kepala sekolah agar lulus ujian, batin Arga.


"Eva tolong kerjakan soal didepan." Semua anak menoleh menatap Eva membuat Arga merasa risih. Kenapa gue dapat pekerjaan menjadi baby sitter kayak gini, mana bayinya segede jerapah, rutuk Arga dalam hati.


"Eva. Kamu dengar bapak?." Guru matematika Eva mulai geram, gadis itu membuka matanya perlahan menegakkan badan dan pergi menghampiri gurunya. Papan tulis berwarna putih itu penuh dengan jawaban Eva ia menoleh mengembalikan spidol kepada gurunya.


"Saya izin tidur lagi pak." Setelah mengatakan itu Eva kembali duduk di bangkunya dan tidur menghadap tembok.


Arga memang sudah mendengar kejeniusan si kembar tapi dia baru melihatnya dengan mata kepalanya sendiri. Gue terlalu meremehkan anak ini, batin Arga. Empat jam berlalu bel istirahat pertama pun berbunyi.


Ega menghampiri kelas Eva dia ingin menenangkan adiknya.


"Kamu diperintah untuk menjagaku bukan?." Eva melihat Ega didepan pintu kelas hendak menghampirinya.


"Benar." Jawab Arga.


"Aku minta kamu melindungiku dari Ega." Permintaan Eva mengagetkan Arga.


"Apa?, tapi dia saudara kembarmu." Eva bersandar dikursi menyilangkan kedua lengannya.


"Aku tidak mau ketemu dia sekarang." Jawab Eva, Arga berdiri menghampiri Ega didepan kelas mencegahnya masuk.


"Kenapa kamu menghalangiku?." Ronggo ternyata sudah berdiri dibelakang Ega mengawalnya.


"Maaf tapi Eva tidak ingin bertemu denganmu." Ega menatap Arga tidak percaya.


"Dia bilang begitu?." Tanya Ega memastikan.


"Ya." Jawab Arga. Ega menatap Eva dari jauh, adiknya duduk diam dibangkunya. Mata biru itu terlihat sendu. Ega tahu hati Eva pasti sangat terluka saat ini tapi Ega harus mengikuti permintaan ibunya itu yang terbaik untuk Eva dan dirinya.


"Aku harus ngomong sama dia." Ucap Ega tegas.


"Maaf tidak bisa." Tapi Ega tidak menghiraukan ucapan Arga ia menerjang pria itu dengan kuat membuatnya bergerak mundur lalu Ronggo dengan cepat menahan Arga yang hendak mengejar Ega, tubuh kekar Ronggo membuat ruang gerak Arga sangat terbatas.


"Bodoh!." Umpat Eva. Dengan gerakan cepat Eva sudah melompat keluar dari jendela kelas lalu berlari meninggalkan Ega yang mematung.


"Kamu benar-benar tidak mau bertemu denganku." Lirih Ega.


Sampai dirumah Eva tetap tidak mau menemui Ega meskipun beberapa kali Ega berusaha untuk menemui kembarannya tapi Eva selalu berhasil menghindarinya. Bahkan malam ini hujan sangat deras udara pun berubah dingin seakan mendukung suasan hati si kembar.


Ega menarik bajunya ke atas hendak mengganti kaos tipis yang ia pakai dengan baju yang lebih tebal, sebelum Ega berhasil melepas bajunya tiba-tiba Eva sudah berdiri dibelakangnya, Ega yang sadar buru-buru menurunkan bajunya. Eva melempar tutup bolpoin dengan ibu jari dan jari tengahnya yang mengenai tangan Ega cukup keras membuatnya kesakitan.


"Diam." Kata Eva datar. Eva menghampiri Ega melihat setiap bekas luka dipunggung saudaranya.


"Kenapa aku baru tahu?." Ega hendak memakai bajunya kembali.


"Jangan coba-coba." Eva mengancam dengan suara dingin membuat Ega mengurungkan niatnya.


"Pasti Burhan yang melakukannya, kurang aj*r anak itu." Geram Eva hatinya serasa remuk melihat pemandangan dihadapan matanya itu. Perlaha Eva menelusuri setiap bekas luka yang memenuhi punggung Ega.


"Apa ini bekas dari rasa sakit yang aku rasakan dulu?." Ega mengangguk kecil, Eva menelusuri setiap bekas luka dengan telunjuknya.


"Masih sakit?." Ega menggeleng pelan. Bekas luka berwarna ungu yang memanjang seperti bekas cambukan, bekas sayatan-sayatan dari yang terkecil sampai yang terpanjang memenuhi punggung putih itu. Eva mencoba keahliannya.


"Biar aku periksa." Ega hanya diam tidak ingin melawan, ia takut membuat Eva marah setelah dia mau berbicara lagi dengannya.