
Suara lirih dan sangat lemah itu tertangkap oleh telinga Fathur, ia menoleh menatap Eva.
"Kemarilah." Fathur mendekati ranjang. Tangan Eva yang terbebas dari jarum terulur keatas.
"Mendekat." Fathur semakin mendekati ranjang, tangan Eva menarik pelan kerah baju Fathur, laki-laki itu hanya bisa pasrah mengikuti Eva. Bibir Eva tepat berada di telinga Fathur.
"Bodoh." Lirih Eva.
Mata Fathur melebar kaget namun bibirnya tertarik keatas, ia menarik dirinya namun tangan Eva menelusup kedalam surai belakang kepala Fathur mencengkeramnya pelan. Mata Fathur bertemu dengan manik biru Eva, posisi itu mengingatkan Fathur dengan kejadian didepan cafe. Eva menatap dalam manik hitam Fathur, perlahan air matanya keluar membuat tenggorokan Fathur tercekat.
"Apa sekarang kamu ingin aku tidak pergi?." Ejek Fathur.
"Tidak, aku ingin kamu menjauhiku." Fathur tersenyum.
"Itu lah dirimu."
"Hm." Eva tetap menatap dalam manik Fathur.
"Apa?." Fathur menahan air matanya. Eva terus menangis.
"Kamu tahu tentang kami." Lirih Eva.
"Hm."
"Kamu tahu kan kami cucu mantan mafia, kami sangat berbahaya." Lanjut Eva.
"Hm."
"Katakan kepada ibu, aku sangat menyayanginya." Jari Fathur terangkat ingin menghapus air mata yang jatuh dipipi Eva namun lagi-lagi ia urungkan.
"Kenapa berhenti?, kamu benar-benar laki-laki yang menyebalkan." Eva mengingat kembali memori itu membuatnya mengerutkan kening.
"Hm." Fathur akhirnya meghapus air mata Eva dengan ibu jarinya.
"Bodoh."
"Hm."
"Terima kasih." Tangan Eva turun ke leher Fathur dan menotoknya.
Tubuh Fathur terasa kaku ia terdiam dengan posisi menunduk, Eva mendorong pundak Fathur secara perlahan seraya tertatih beranjak duduk. Bola mata Fathur bergetar bergerak-gerak ketakutan, ia ingin menggerakan tubuhnya tapi tidak bisa. Eva akhirnya berhasil duduk dengan peluh bercucuran didahinya lalu dengan sekali dorongan membuat tubuh Fathur jatuh terduduk dikursi samping ranjang.
"Kamu terlalu banyak mengetahui tentang kami." Ucap Eva dengan suara lemah. Fathur melebarkan matanya.
"Aku tidak ingin kejadian seperti kak Dimas terulang, kalian bisa dalam bahaya." Eva menurunkan kedua kakinya menggelantung disamping ranjang menghadap Fathur.
"Tunggulah sebentar." Eva membuka selimut lalu tiba-tiba ia memegang sebelah kepalanya mengernyit kesakitan.
"Ssss ... Uhuk!." Eva menutup mulutnya dengan tangan, darah mengalir dari sela-sela jarinya.
"Hmmm, apakah jika aku mengingat kejadian itu ini yang akan terjadi?." Eva tersenyum miring. Lalu membersihkan tangan dan mulutnya.
"Argh! kepalaku serasa mau meledak." Eva mencengkeram rambutnya ia berusaha berkonsentrasi dengan apa yang ingin ia lakukan.
Uhuk!.
Darah kembali keluar, Eva menatap Fathur, mata hitamnya terbuka menatap tajam sarat akan kekhawatiran. Eva perlahan kembali membersihkan darahnya.
"Berhenti menatapku seperti itu, apa kamu ingin bola matamu melompat keluar?." Eva berusaha berdiri, tangan kirinya meraih kantong darah yang digantung disamping ranjang.
"Sebaiknya kamu tidak melihat apa pun." Tangan kanan Eva menutup kedua mata Fathur.
"Aku akan melakukannya dengan cepat." Seusai mengatakan itu Eva berjalan tertatih mengecek semua jendela dan mengunci pintu, tangannya terulur hendak mematikan lampu kamar.
"Tunggu, sssss.., kenapa aku bisa lupa. Ini pasti karena kepalaku benara-benar sudah tidak beres." Eva berjalan kembali menghampiri Fathur.
"Kamu bisa menggerakan sebelah kakimu lalu berdiri dan duduk diranjang. Ikuti ucapanku atau kamu akan seperti ini terus." Ucap Eva lalu tangannya menotok sekali pada kaki Fathur.
Eva terkejut Fathur menurutinya tanpa perlawanan. Setelah Fathur duduk di ranjang Eva kembali menotoknya dan mendorong tubuh Fathur sampai terbaring.
"Posisi ini akan aman." Gumam Eva kembali berjalan dan mematikan lampu kamarnya. Eva tertatih-tatih seraya memegangi kepalanya berjalan memasuki ruang rahasia.
Didepan Je komputer jari-jari Eva bergerak dengan cepat sesekali berhenti untuk membersihkan mulutnya dari darah yang keluar.
"Je." Lirih Eva.
"Ya. Eva." Mata Eva menyapu seluruh ruangan menatap lamat-lamat semua hasil percobaannya entah kenapa ia merasa sedih. Eva berdiri dari duduknya berjalan mendekati salah satu rak.
"Aku akan meningkatkan sistem keamanan." Eva beranjak keluar tanpa mematikan semua komputernya.
Eva berdiri didepan pintu putih menunggu proses scan pada iris matanya, tidak menunggu lama Eva segera masuk, tangannya bergerak lemah namun konsisten, kepalanya serasa berputar-putar tapi ia tetap berusaha mempertahankan konsentrasinya. Eva mendekati meja operasi mengambil sebuah pisau menancapkannya dipergelangan tangan mulai menyayatnya pelan berhati-hati agar tidak mengenai urat nadinya. Eva meringis menahan rasa sakit.
Tangan kirinya mengambil jarum yang sudah disiapkan sebelumnya menusukan jarum dikulit yang tersayat menjahitnya dengan satu tangan. Setelah selesai Eva mengambil perban menutup bekas lukanya lalu ia kembali keruangan sebelah.
"Je, aku tidak tahu apa yang orang dewasa rencanakan kepadaku, aku tidak bisa mempercayai mereka." Jemari Eva bergerak diatas keyboard.
"Apa yang akan kamu lakukan?." Eva menutup matanya kuat-kuat nafasnya mulai memburu.
"Entahlah." Eva menekan tombol Enter, layar Je komputer berubah menampilkan grafis detak jantung.
"Berhasil." Eva menyenderkan punggungnya.
"Je, aku akan merindukan ruangan ini."
"Kamu bisa datang kapan saja. Eva." Eva menghirup nafas panjang berusaha menahan rasa sakit di kepalanya.
"Hmmm, aku pergi." Eva meninggalkan ruang rahasia dengan sesuatu ditangannya.
Eva menghidupkan lampu mengambil tas sekolahnnya memasukan sebuah kotak kedalamnya lalu berjalan menghampiri ranjang.
Eva merunduk menatap Fathur sekilas lalu menotok lehernya, dengan cepat mata Fathur terbuka lebar mendapati Eva yang menunduk didepannya, wajah gadis itu kotor oleh bercak darah, Fathur menurunkan matanya melihat baju Eva juga terdapat banyak bercak darah sampai ke lengan-lengan bajunya.
"Aku sudah tidak kuat." Lirih Eva langsung ambruk diatas tubuh laki-laki itu. Tangan Fathur bergerak dengan cepat menangkap kantong darah agar tetap berada diatas.
"Apa yang kamu lakukan." Geram Fathur perlahan membaringkan Eva kesamping.
"Aku tidak memiliki obat untuk kepalaku." Jawab Eva yang sudah tidak bisa bergerak lagi.
Fathur menggantungkan kantong darah Eva ketempat semula lalu membenarkan posisi gadis itu.
"Huh, dalam keadaan seperti ini kamu masih saja melakukan hal diluar kepala." Ucap Fathur menghempaskan pa**atnya dikursi.
"Uhuk!."
Fathur segera mengubah posisi Eva menyandar di kepala ranjang membersihkan darah dimulut gadis itu.
"Apa?." Tanyanya.
"Memori didepan lapangan basket." Fathur paham yang dimaksud Eva.
"Tapi kamu sudah mau bicara sekarang itu kemajuan, hal yang positif." Ujar Fathur kembali duduk.
"Karena ada orang bodoh yang mengatakan hal bodoh membuat telingaku sakit." Fathur tersenyum simpul.
"Kamu mendengar semua yang pak Daren katakan tadi?." Tanya Fathur.
"Hm, samar-samar." Jawab Eva.
"Apakah dia berniat meninggalkan indonesia." Gumam Fathur menengadah menatap langit-langit.
"Mungkin." Eva melirik pergelangan tangan kanannya.
"Thur, aku ingin meminta sesuatu kepadamu, apa kamu mau melakukannya?." Fathur menutup matanya sejenak ia sudah tidak kaget lagi jika Eva meminta hal aneh kepadanya.
"Katakan."
"Apa yang kamu dengar dikamarku, lupakan itu." Titah Eva.
"Hm... Maksudmu suara aneh seperti benda jatuh?." Fathur memperjelas ucapan Eva.
"Ya, dan, bisakah kamu ambilkan tiga bola diatas meja belajarku." Pinta Eva, karena tangannya yang tidak muat Eva meletakannya diatas meja setelah keluar dari ruang rahasia. Fathur mengambil tiga bola seukuran bola baseball mengulurkannya kepada Eva.
"Bola apa ini?." Fathur menatap bola satu persatu.
"Kenapa disetiap bola hanya ada satu huruf?. I, D, F?." Tanya Fathur.
"I untuk Ibu, D untuk pak Dani, dan F untukmu, ambilah dan berikan kepada ibu dan pak Dani." Jelas Eva.
"Jelaskan." Pinta Fathur.
"Bola ini akan melindungi kalian dari orang-orang berbahaya diluar sana. Kamu tidak perlu membawanya kemana-mana karena dia yang akan terus mengikutimu." Fathur terlihat tidak percaya.
"Aku tidak membutuhkannya." Ucap Fathur.
"Bodoh. Kamu, tidak.., kalian salah satu orang yang dekat dengan kami, selain itu kalian juga mengetahui beberapa rahasia kami, apa kamu pikir pembunuh yang masih berkeliaran diluar sana mengabaikan kalian begitu saja?." Ucap Eva menggebu-gebu, untuk sejenak memori didalam kepalanya berhenti.
"Baiklah, tapi jika ibu menolaknya?." Tanya Fathur.
"Kamu tidak perlu memberikan secara langsung, kamu aktifkan bola itu didekat ibu setelahnya dia akan mengikuti si pemilik." Fathur memutar bola ditangannya.
"Jika penasaran tekan tombol kecil ditengah-tengah bola." Fathur mencari tombol yang Eva maksud dengan memutar-mutar bola berinisial F itu.
Cetik.
Fathur berhasil menekan tombolnya, terlihat bola itu sekilas menyala putih lalu mati.
"Letakan dilantai." Fathur menuruti perintah Eva. Bola berwarna hitam itu bergerak meggelinding menjauh dari Fathur memberi jarak seraya bersembunyi.
"Waaahh, dapat dari mana benda seperti ini?." Tanya Fathur mencoba memegang bola namun bola bergerak menjauh.
"Jauh." Jawab singkat Eva.
Tok Tok Tok.
"Sepertinya pak Daren sudah kembali." Ucap Fathur membuka pintu.
"Kenapa kamu mengunci pintunya?." Tanya Daren masuk ke dalam kamar melihat putrinya yang sedang bersandar lemah dipunggung ranjang dengan baju penuh bercak darah.
"Ada apa dengannya, kenapa kamu tidak meminta tolong tadi?." Sergah Daren kepada Fathur.
"Maaf om." Fathur menyembunyikan dua bola ditangannya.
"Ayah, tolong keluar dulu." Lirih Eva membuat bola mata Daren berbinar karena mendengar suaranya.
"Baik, kalau ada apa-apa segera panggil ayah." Ucap Daren meninggalkan kamar. Eva menarik nafas panjang dan terbatuk kembali.
"Va." Seru Fathur berlari menghampiri gadis itu. Panggilan yang Fathur lakukan mengingatkan gadis itu dengan kebiasaan Dimas saat memanggilnya. Eva menutup mulut ia mencegah Fathur membersihkan darahnya.
"Aku tidak nyaman dengan sikap ayah yang tiba-tiba berubah." Lirih Eva membersihkan mulutnya.
"Kamu harus ingat apa yang aku katakan tadi, lupakan apa yang kamu dengar dan rahasiakan tentang bola itu." Fathur menegakkan tubuhnya.
"Terima kasih, maaf sudah banyak merepotkan kalian." Ucap Eva.
"Apa itu salam perpisahan." Fathur melirik Eva.
"Mungkin, aku tidak tahu apa yang ayah rencanakan." Eva menutup hidungnya dengan tisu diatas nakas.
"Apa kamu akan menjadi bonekanya lagi?." Eva terkejut dengan ucapan Fathur.
"Aku sudah tidak peduli apa yang akan ayah lakukan kepadaku." Fathur menarik nafas panjang.
"Yang penting, cepatlah sembuh dan terus berusaha melawan sakit kepalamu. Dimana pun kamu nanti jadilah siswi sma seperti pada umumnya, jangan melibatkan diri dengan hal yang tidak seharusnya kamu lakukan." Eva menatap pergelangan tangannya yang berubah warna, merah.
"Aku pergi, berhati-hati lah." Pamit Fathur berjalan keluar kamar tanpa menengok ke belakang.
Eva menengadah keatas menatap langit-langit kamar menggertakan gigi menahan rasa sakit. Ada apa denganku?, apa yang akan terjadi denganku sekarang?. Si bodoh itu menyadarkanku dengan tamparan tangan dan kata-katanya, heh. Remaja kah?, enam belas tahun?, ulang tahunku sendiri saja sering lupa hahaha kony*l. Kakek, ucap Eva dalam hati.
Sinopsis dari Futago.
Seorang pemuda tampan bak pangeran yunani dengan kecerdasan, keramahan, dan kehangatannya berjuang melawan sesuatu yang sangat rumit. Kekuatan hatinya yang membuat dirinya menjadi seperti ini. Akankah dia bisa menyembuhkan luka dan memulainya dari awal.
Ada apa dengan Ega Augustin Ayhner?.
Bagaimana dengan Eva Augustin Ayhner?.
Apa yang menunggu si kembar didepan sana?.
Season kedua dari cerita Yuki.*