Yuki

Yuki
Bab 30



Didalam hati Ega mengutuk dirinya karena telah membuat saudari kembarnya marah. Eva menginjak gas semakin dalam mobil sport merah malaju cepat , cepat, dan semakin cepat Eva tidak menghiraukan teriakan Ega yang ketakutan Eva sudah sangat kesal. Tidak ada yang bisa menghentikan Eva termasuk Ronggo bersama rekannya. Ronggo terkejut tiba-tiba mobil majikannya melaju kencang dan terus menambah kecepatannya Ronggo kerepotan untuk mengejar mobil sport itu dijalanan pagi hari yang sibuk. Eva memarkirkan mobil secara kasar lalu ia menutup mobil dengan keras Eva berjalan cepat meninggalkan Ega.


"Yuki! tunggu." Ega berlari menyusul Eva tapi Eva keburu menghilang dilorong kelas X.


Sepanjang jam istirahat Eva menghindari Ega dia tidak mau bertengkar dengan saudara kembarnya dan mendengar pertanyaan-pertanyaan yang tidak ingin ia dengar.


"Ra aku minta tolong ya, nanti berikan kunci ini ke Ega." Lirih Eva menyerahkan kunci mobil kepada Tiara saat pelajaran kimia pada jam terakhir.


"Ega?." Tiara menatap Eva bingung.


"Kamu kenal Ega kan?." Tanya balik Eva.


"Siapa sih yang nggak kenal Ega, anak baru yang langsung jadi pacar cewek populer kayak kamu." Gantian Eva menatap Tiara bingung.


"Aku?." Tiara mengangguk pasti, Eva tertawa tertahan.


"Aku... pacar Ega, ya nggak mungkin lah gosip dari mana tuh?."


"Anak-anak pada ngomong gitu." Eva tersenyum dia geli sendiri.


"Ternyata aku terkenal ya disekolah, aku baru tahu." Tiara mencubit lengan Eva.


"Kamu jadi orang makannya jangan cuek, siapa sih yang tidak tahu Eva Augustin Ayhner." Eva mengelus lengannya bekas cubitan Tiara.


"Tapi kok banyak yang tidak tahu Ega Augustav Ayhner." Tiara terkejut matanya mengerjap-ngerjap beberapa kali.


"Kalian... kakak adik?." Eva tersenyum.


"Tepatnya saudara kembar."


"Kok aku baru tahu kamu punya saudara kembar terus kenapa aku tidak pernah lihat Ega?." Eva mengedikkan pundaknya.


"Di pingit kali Ega jadi kamu tidak pernah lihat dia."


"Ih kok kamu gitu sih." Tiara memanyunkan bibirnya membuat pipi chubbynya tambah lucu dan menggemaskan.


"Tolong ya nanti kasihin kunci itu ke Ega, kalau dia tanya aku kemana bilang saja ke benua Afrika." Tiara menahan senyumnya.


"Memangnya kamu mau kemana?." Tiara penasaran.


"Mau keliling, sebelumnya makasih ya ra."


Ega berdiri didepan kelasnya, dia berjalan mondar-mandir tidak tenang.


"Kamu kenapa sih dari tadi mondar-mandir terus." protes Dody yang sedari tadi memperhatikan tingkah Ega teman barunya.


"Aku khawatir sama Eva, dia dari tadi menghindariku terus, bel pulang juga sudah dari tadi tapi dia belum kelihatan juga." Jelas Ega.


"Samperin saja ke kelasnya." Saran Heru.


"Kamu benar juga." Ega berhenti sebentar melihat ada anak perempuan yang berlari menghampiri mereka.


"Tiara." Lirih Fathur.


"Maaf lama, tadi Eva nyuruh aku kasih ini ke kamu." Tiara menyerahkan kunci mobil yang diterima oleh Ega.


"Evanya mana?." Tiara menggeleng pelan.


"Aku juga tidak tahu, dia bilangnya mau ke benua afrika." Jawab Tiara.


"Aku pergi dulu." Pamit Tiara.


"Terima kasih." Tiara memberikan senyum imutnya lalu gadis itu pergi.


"Ke afrika, hahaha keren juga." Ucap Dody sambil tertawa.


"Kalian sedang bertengkar?." Tanya Heru penasaran.


"Iya, lebih tepatnya aku yang buat dia marah, sekarang aku harus cari dia kemana coba?." Ega bingung sangat mencemaskan Eva.


"Aku memang tidak tahu dia dimana tapi kalau dengan siapa mungkin aku tahu." Semua mata menatap Fathur.


***


Di pinggir jalan agak jauh dari sma tunas jaya Eva berdiri menunggu seseorang setelah berhasil kabur dari Ronggo dan pengawal lainnya. Jalanan yang ramai membuat Eva mudah untuk bersebunyi jika nantinya Ronggo atau pengawal lain melihatnya. Dari belakang tiba-tiba sebuah tangan menutup mata Eva.


"Kak Dimas." Ucap Eva.


"Kok kamu tahu?." Dimas menarik tangannya lalu berdiri disamping Eva.


"Baunya bisa kecium." Dimas menatap gadis yang sangat dirindukannya.


"Waah, wangi?." Eva menggeleng pelan.


"Asem." Dimas terdiam sebentar lalu tawanya pecah seraya memegang perutnya.


"Hahaha, apa ini? sekarang kamu bisa ngelawak? haha." Eva menahan senyumnya melihat wajah Dimas yang merah padam karena tertawa.


"Sorry." Ucap Dimas setelah ia berhenti tertawa. Menatap lurus manik Eva merasakan ada perubahan dari wajah dingin gadis itu, Eva yang risi menaikan satu alisnya.


"Aku berharap akulah orang yang merubah ekspresimu itu tapi... siapa laki-laki yang beruntung bisa merubah poker facemu?." Tanya Dimas. Eva memiringkan kepalanya tidak paham.


"Jangan pasang wajah seperti itu." Dimas menutup wajahnya dengan telapak tangan kanannya tidak kuasa melihat wajah Eva sekarang yang terlihat menggemaskan dimata Dimas.


"Hm? poker face." Gumam Eva berpikir.


"Saudaraku." Dimas menatap Eva kembali setelah mendengar jawaban singkat gadis itu.


"Dia yang merubahku." Imbuh Eva membuat hati Dimas merasa lega.


"Eva." Panggil Dimas.


"Hm?."


"Mau makan es krim?." Eva mengangguk pelan.


Mereka berjalan menyusuri trotoar yang ramai, Dimas berusaha menjaga jarak dengan Eva namun karena banyaknya pejalan kaki yang berlalu lalang membuat Dimas beberapa kali bersenggolan dengan pejalan lain.


Sret.


"Eh?." Seru Dimas kaget menatap tangannya lalu menatap Eva dan berganti menatap tangannya lagi.


"Maaf menggagalkan kak Dimas bertabrakan dengan cewek cantik itu." Kata-kata itu keluar dari bibir Eva, Dimas yang masih terkejut kembali menata Eva namun gadis itu menatap ke arah lain tepatnya kepada perempuan yang hampir bertabrakan dengan dirinya yang sudah berjalan menjauh.


"Em, makasih." Eva tidak menanggapi Dimas ia membalikkan badannya kembali berjalan, jantung Dimas berdetak sangat cepat tangan Eva masih memegang tangannya.


Lembut, ternyata tangannya sangat kecil, batin Dimas. Namun kebahagiaan Dimas tidak bertahan lama Eva tiba-tiba menarik tangannya.


"Kenapa kita tidak jadi bertemu di sma tunas jaya?." Dimas menjilat es krim vanilanya.


"Aku berubah pikiran." Eva menghabiskan es krimnya.


"Mau nonton?." Ajak Dimas.


"Tidak nanti mereka menemukanku." Sontak Dimas menatap Eva.


"Kamu kabur lagi?." Eva tidak bisa menahan senyumnya melihat Dimas terkejut.


"Tidak perlu seheboh itu."


"Bagaimana tidak heboh setiap kamu kabur pasti lama tidak akan pulang." Ujar Dimas dengan nada khawatir, Eva menggeleng pelan.


"Aku kabur untuk bertemu denganmu setelah itu aku pulang." Jawab Eva datar, raut wajah Dimas menunjukkan keraguan.


"Kalau tidak percaya kamu boleh anterin aku sampai rumah." Dimas tersenyum lalu mereka melanjutkan perjalanan.


Disetiap jalan yang mereka lewati banyak pasang mata menatap kagum dua sejoli itu sesekali Dimas menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal untuk menghilangkan rasa gugupnya. Langkah mereka terhenti di taman kota yang cukup ramai dengan beberapa penjual dan sekumpulan anak-anak kecil dan beberapa orang dewasa.


"Mau kesana?." Eva menatap manik Dimas mengangguk singkat.


Dimas dan Eva memasuki taman kota berdiri di pinggiran menatap sekumpulan anak-anak kecil yang sedang bermain dipandu oleh tiga wanita dewasa bisa dibilang wanita berusia sekitar dua puluh tujuh hingga tiga puluhan tahunan itu. Anak-anak terlihat sangat bersenang-senang suara tawa mereka menggema ditelinga Eva bibir Eva secara otomatis tertarik menampakkan sederet gigi rapih dan putihnya. Wajah Dimas mulai panas ia berusaha sekuat mungkin menahan perasaan yang bergejolak dihatinya.


Salah satu dari tiga wanita itu mengajak beberapa orang di pinggir taman untuk ikut kedalam permainan Eva gadis itu melangkah secara sukarela kedalam kerumunan ditengah lapangan itu. Dimas mengerjapkan mata beberapa kali memastikan kalau itu benar-benar Eva yang dia kenal, gadis yang sangat membenci keramaian sekarang berjalan menjemput keramaian.


"Pasti sakit, sini kakak obati." Ucap Eva menunjuk lutut anak kecil itu, Eva membuka ranselnya mengambil plester yang dia bawa menempelkan plester itu ke lutut kecil anak itu.


"Sekarang sudah tidak apa-apa." Anak kecil itu mengangguk tersenyum memamerkan gigi kelincinya.


"Kakak, Ista bilang telima kasih." Ucap salah satu anak laki-laki yang berlari kecil menghampiri Eva. Eva menaikan satu alisnya, anak perempuan yang dipanggil Ista itu tersenyum.


"Sama-sama, lain kali hati-hati." Kata Eva lembut. Ista tersenyum lagi.


"Ista bilang dia akan hati-hati." Ucap anak laki-laki itu lagi, Eva menatap anak laki-laki dengan rambut tebal.


"Kamu bisa baca pikirannya?." Tanya Eva.


"Em. Aku bisa melakukannya." Jawab mantap anak laki-laki itu sambil menunjuk dirinya.


Eva menyipitkan matanya menoleh ke Ista menggerakan kedua tangannya membentuk sebuah pola.


"Apa dia benar-benar bisa membaca pikiranmu?." Ista terkejut lalu ia dengan segera menggerakan kedua tangannya juga menjawab pertanyaan Eva.


"Dia tidak bisa, tapi tebakkannya banyak yang benar." Eva menggerakan tangannya lagi.


"Dia teman yang baik." Ista mengangguk dan menggerakan tangannya.


"Benar, tapi aku tidak bisa mengatakan padanya." Eva dengan cepat menggerakan tangannya.


"Kenapa?." Ista membalasnya.


"Dia akan kepedean." Jawab ista dengan wajah cemberut, seketika Eva tertawa. Anak kecil itu menggerakan tangannya lagi.


"Suara kakak bagus." Eva tersenyum menjawab Ista.


"Kamu sangat cantik." Anak laki-laki yang sedari tadi memperhatikan kedua perempuan itu tidak bisa menahan pertanyaannya lagi.


"Kakak bisa bahasa isyalat? Ista nggak bisa ngomong kata ibu panti sualanya sakit." Tanya anak laki-laki itu.


"Kakak bisa sedikit, kamu teman yang baik, namamu siapa?." Tanya Eva mengelus surai anak laki-laki itu.


"Lian." Jawab Rian dengan suara cedalnya.


"Rian tidak main lagi sama teman-teman yang lain?." Tanya Eva menatap mata polos Rian.


"Lian mau temani Ista, Ista kasihan sendilian." Jawab Rian.


"Waah, itu baru cowok keren." Suara Dimas terdengar dari belakang tubuh Eva, Eva sedikit mendongakkan kepala melihat Dimas yang kini mengelus surai Rian.


"Em, Lian cowok kelen." Dimas tersenyum mengangguk-anggukan kepalanya.


"Hai gadis cantik, ini untukmu." Dimas mengulurkan setangkai bunga yang Eva tebak diambil dari salah satu tumbuhan disana. Ista tersenyum menerima bunga itu.


"Rian bukankah dia secantik bunga itu?." Ujar Dima melirik Rian.


"Em, Ista cantik sepelti bunga." Jawab Rian polos.


"Gombal." Gumam Eva yang terdengar oleh Dimas.


"Sepertinya kakak ini cemburu Rian." Rian menatap Eva.


"Kakak jangan cembulu kakak juga cantik kok tapi cantikan Ista." Dimas tertawa mendengar jawaban anak kecil itu Ista tersenyum malu-malu sedangkan Eva menaikan satu alisnya membuat Dimas semakin tertawa terbahak-bahak.


"Kamu pria sejati Rian." Ucap Dimas mencubit gemas pipi Rian.


"Ayo kita kesana." Ajak Dimas kepada Rian.


Dua laki-laki itu berjalan kedalam lingkaran permainan Dimas sudah berbaur dengan anak-anak disana tertawa mengejar anak-anak Eva menoleh menatap Ista menggerakan tangannya.


"Mau ikut kesana?." Ista tersenyum mengangguk lalu meraih tangan Eva menariknya kedalam permainan.


Eva tidak menyangka dirinya bisa berbaur dengan anak-anak bermain bersama mereka ia merindukan sensasi itu, sensasi yang tidak ia dapatkan dahulu. Eva menikmati setiap menit canda dan tawanya bersama anak-anak, bibir Eva mengembang membentuk senyum indah matanya melengkung seperti bulan sabit suara indahnya bercampur dengan suara anak-anak disana. Dimas menikmati setiap momen itu menyimpannya dalam-dalam dikepala dan hatinya.


"Kakak punya sesuatu." Seru Dimas membawa satu kotak besar es krim.


"Waaaahhh..." Seru anak-anak.


"Ayo berbaris." Perintah Dimas yang diikuti oleh anak-anak lalu ia membagikan es krim kepada semua anak yang ada disana.


Seseorang menghampiri Eva.


"Selamat sore, saya Rena pemilik panti." Sapa wanita itu.


"Sore, Eva." Jawab Eva singkat.


"Terima kasih sudah mau bermain dengan anak-anak panti kami." Eva menatap lurus anak-anak yang berbaris menunggu giliran mereka mendapat es krim.


"Pacarmu sangat baik, sepertinya dia laki-laki yang bertanggung jawab." Ujar Rena.


"Dia hanya teman." Rena tersenyum simpul.


"Apa ada yang mengganggu pikiranmu?." Tanya Eva, Rena menatap Eva kaget.


"Kamu sangat peka sekali, tapi kenapa tidak peka dengan cowok disana?." Eva mengedikan bahunya, Rena menatap anak-anak pantinya.


"Kami kehilangan donatur, gaji kerja saya juga tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan panti, saya akan menjual panti untuk memenuhi kebutuhan mereka dan membawa mereka kerumah pribadi saya karena itu hari ini kami bersenang-senang ditaman kota agar anak-anak tidak melihat banner yang tertulis didepan panti dan langsung pindah kerumah saya." Jelas Rena tersenyum getir, Rena merasa aneh kenapa dia dengan mudahnya menceritakan masalahnya kepada gadis sma disampingnya, aura gadis itu membuat Rena membuka mulutnya.


"Berapa harganya?." Rena kembali menatap gadis sma itu.


"Berapa?." Tanya Eva lagi setelah lama menunggu jawaban yang tidak kunjung Rena berikan.


"Tujuh ratus juta." Lirih Rena.


"Lepas bannernya, dua hari lagi aku akan membeli panti itu, berikan aku alamatnya." Rena melebarkan matanya, apakah dia salah dengar?. Eva mengulurkan ponselnya kepada Rena.


"Saya minta nomor anda." Rena menerima ponsel itu dengan ragu.


"Saya hari ini memang tidak membawa uang tapi saya serius dengan ucapan saya bu Rena." Rena menatap manik biru Eva, tidak ada keraguan didalam kata-katanya. Sepertinya dia mengatakan dengan jujur apa salahnya menunggu dua hari demi anak-anak, rumah kecilku tidak akan muat menampung mereka, batin Rena mengetikan nomor ponselnya sekaligus memberikan alamat panti kepada Eva.


"Terima kasih, saya tidak menyangka bisa bertemu malaikat seperti kamu Eva." Ucap Rena.


"Saya hanya manusia biasa bu yang kebetulan bertemu dengan bu Rena." Jawab Eva datar.


"Sampai jumpa dua hari lagi." Lanjut Eva meninggalkan Rena.


Rena tersenyum menatap punggung gadis sma yang menjadi malaikatnya tidak terasa air mata jatuh ke pipi Rena. Eva berjalan menghampiri Rian dan Ista menggerakan tangannya seraya berbicara.


"Rian Ista kakak pulang dulu ya kapan-kapan kita ketemu lagi." Kedua anak kecil itu menundukkan kepalanya dengan wajah belepotan karena es krim yang mereka makan.


"Ista jangan sedih, kakak cantik nomol dua pasti bakal ketemu kita lagi." Hibur Rian kepada Ista, Rian mengatakan itu dengan menahan air matanya yang hampir jatuh.


Lucu, batin Eva.


"Kakak cantik nomor dua? yang nomor satu siapa?." Tanya Dimas tiba-tiba sudah disamping Eva.


"Nomol satunya Ista." Seru Rian menahan ingusnya.


"Kamu benar-benar cowok keren Rian." Dimas memberikan tisu kepada Rian.


"Kita akan ketemu lagi kok jadi jangan sedih." Ucap Dimas mengelus surai Ista, Ista menatap Dimas lalu menggerakan tangannya, Dimas yang tidak mengerti menoleh menatap Eva meminta pertolongan.


"Ista bilang, kakak halus janji." Eva tersenyum mendengar jawaban Rian, Dimas menatap Rian lalu kembali menatap Eva, Eva hanya mengangguk membenarkan.


"Waah, kamu bisa bahasa isyarat juga Rian?."


"Lian nggak bisa, Lian baca pikilan Ista." Dimas terkejut.


"Kamu memang hebat, kakak harus belajar dari kamu. Kakak ingin sekali bisa membaca pikiran kakak cantik nomor dua." Ucap Dimas kepada Rian.


"Baik lain kali Lian ajali kakak tapi halus beliin Lian es klim lagi." Jawab polos Rian.


"Siap! ya." Dimas memberi hormat kepada Rian membuat Eva mengingat kejadian yang mirip seperti itu dulu.


"Ista kakak janji kita bakal ketemu lagi, kakak sekarang harus pulang." Ucap Eva juga menggerakan tangannya, Ista mengangguk. Eva memberikan kecupan didahi Ista dan Rian sebelum pergi.