Yuki

Yuki
Bab 50



Eva menuntun Ega duduk dipinggir ranjang membelakangi Eva. Eva mengecek semua bekas luka Ega lalu beralih ke pergelangan tangannya memeriksa denyut nadi, telunjuk lentik Eva diletakan dibawah hidung Ega.


Eva berkonsentrasi menutup matanya sesekali ia terlihat menaikan satu alisnya keatas. Ega menatap wajah adiknya lamat-lamat, tiba-tiba mata Eva terbuka lebar.


"Kamu selama ini berbohong padaku!." Seru Eva membuat Ega terperanjat kaget.


"Apa gara-gara ini yang membuatnya memisahkan kita?." Ega bingung dia tidak paham apa yang sedang dibicarakan oleh adiknya.


"Ada racun ditubuhmu, mereka sudah meracunimu sebelum kita kabur, benarkan?!." Ega mulai paham, Ega sungguh mengakui kehebatan saudari kembarnya yang bisa mendeteksi racun sangat tipis ditubuh manusia tanpa menggunakan alat medis.


"Mungkin kamu salah." Eva menggeleng cepat.


"Aku tidak salah. Denyut nadi dan nafasmu sudah cukup bagiku untuk mengetahui kalau ada racun ditubuhmu." Jelas Eva dengan yakin. Ega menghela nafas panjang.


"Kenapa kamu membohongiku?, kenapa kamu berbohong padaku, kenapa ga?." Eva memukul-mukul dada Ega frustasi, air matanya mulai mengalir deras Ega menarik Eva kedalam pelukkannya.


"Kamu jahat kepadaku." Eva memberontak berusaha melepas pelukkan Ega tapi Ega semakin mempererat pelukkannya.


"Kamu jahat ga. Kamu jahat Ega Augutav Ayhner!." Teriak Eva tangisnya menjadi-jadi, sudah empat tahun Eva tidak menangis histeris seperti itu sejak malam dimana ia menyusup kedalam apartemen Jun Ho dan malam ini suara tangis yang menyayat hati kian menggema didalam kamar Ega membuat pilu telinga yang mendengarnya.


"Aku membencimu." Ucap Eva lemah, gadis itu sudah tidak memberontak lagi.


"Aku tidak mau kehilangan kamu lagi." Suara Eva bergetar, isak tangisnya terdengar terputus-terpus.


"Aku akan membuat penangkal racun untukmu, kamu tidak perlu pergi." Eva meringkuk dipelukkan Ega mencari perlindungan dari rasa sakitnya.


"Please jangan pergi ga.., aku tidak bisa tanpa kamu." Air mata Ega yang berusaha ia tahan sejak tadi mengalir begitu saja tanpa persetujuannya.


"Aku bisa tanpa wanita yang sudah melahirkanku tapi aku tidak bisa tanpa kamu ga." Ega mempererat pelukkannya, hati Ega bergetar hebat.


"Ga.., jangan pergi ya, tetaplah bersamaku kumohon." Mereka menangis cukup lama hingga Ega membuka mulutnya setelah lama diam.


"Aku tetap harus pergi." Lirih Ega. Eva menarik tubuhnya menggeleng cepat.


"Satu minggu, hanya satu minggu penangkal racunnya sudah jadi. Tunggu sampai saat itu tiba, jika penangkal racunku berhasil menyembuhkanmu kamu tidak boleh pergi tapi jika tidak, silahkan kamu pergi dan aku akan ikut denganmu." Eva menyunggingkan senyum manisnya namun air mata itu terus mengalir dari kedua sudut mata birunya.


"Aku sayang sama kamu, aku juga tidak bisa jauh darimu. Apa yang kamu rasakan aku juga merasakannya." Ucap Ega seraya menghapus air mata Eva dengan jarinya.


"Apa pun yang terjadi ingat, aku sangat menyayangimu." Lirih Ega menatap dalam-dalam manik biru indah itu.


***


Setiap pulang sekolah Eva akan mengurung dirinya dilaboratorium hingga pagi tiba, bermodalkan sampel darah Ega Eva terus berusaha membuat penangkal racun untuk menyembuhkan saudara kembarnya.


Arga merasakan ada perubahan pada gadis remaja itu, setiap hari Eva terlihat sangat fokus dimana pun dia berada, Eva juga cenderung banyak diam namun terkadang dia juga terlihat ceria sesekali membantu teman-temannya mengerjakan soal yang sulit.


Dijam istirahat Eva habiskan dengan Ega beserta teman-temannya sedangkan Arga dan Ronggo selalu mengikuti kemanapun mereka pergi.


Jam istirahat seperti biasa Eva menunggu Ega menghampirinya untuk makan bersama. Ega dengan teman-temannya berjalan dari ujung lorong, Eva langsung mengaitkan jemarinya dengan jari-jari Ega saat saudara kembarnya sudah berada dihadapannya kebiasaan baru Eva hampir satu minggu ini. Eva membawa tote bag kecil ditangannya. Mereka berjalan menuju kantin sekolah.


Sudah hal biasa jika dikantin Arga menjadi pusat perhatian para siswi-siswi sekolah, sampai ibu-ibu kantin juga sering menatapnya.


Seperti hari ini, salah satu ibu kantin mengantarkan pesanan mereka, sebelum pergi meninggalkan meja Ega cs ibu kantin menyempatkan diri tersenyum dan mengedipkan salah satu matanya kepada Arga membuat anggota interpol itu merasa canggung.


"Bagaimana kamu bisa punya pengawal seganteng dia va?." Tanya Tiara menatap Arga yang duduk disebelah meja mereka.


"Hmm? biasa saja." Jawaban Eva membuat Fathur yang duduk disebelah Ega merasa tenang.


"Lo nggak lihat, gue juga tidak kalah ganteng." Ucap Dody seraya membenarkan kerah bajunya membuat Eva tersenyum.


"Iya lo memang ganteng Do, kalau lagi sendirian. Hahaha." Timpal Heru mebuat semua orang tertawa .


"Betul, kamu ganteng kalau dibandingin sama botol kecap ini." Celetuk Tiara sambil mengangkat botol kecap ditangannya. Tawa mereka semakin pecah, Dody memanyunkan bibirnya pura-pura cemberut.


Tiara terlalu banyak bergaul dengan dua orang receh ini sampai dia juga ketularan, batin Eva menatap sahabatnya.


"Sudah ayo makan." Lerai Ega pada akhirnya. Eva membuka tote bag kecilnya mengeluarkan kotak bekal yang sudah mbok Is siapkan.


Eva masih tidak terbiasa denga menu-menu dikantin karena itu ia meminta mbok Is untuk membuatkannya bekal setiap hari terkecuali Ega, dia tidak seperti saudari kembarnya.


"Setelah pulang sekolah mau nonton?." Ajak Heru.


"Boleh, kalian ikut juga kan thur, ra?." Jawab Dody.


"Aku ikut." Jawab Tiara sedangkan Fathur hanya mengangguk.


"Kalian juga ikut kan va? ga?." Tanya Tiara. Eva membuka mulutnya hendak menolak tapi Ega lebih dulu sudah menjawab Tiara.


"Kami ikut." Eva menatap Ega protes. Ega membalas dengan tatapan lembutnya membalikan tangan kiri Eva yang berada dibawah meja mengelusnya pelan.


"Istirahat sebentar, tanganmu juga perlu istirahat. Lihat." Lirih Ega memastikan hanya mereka berdua yang bisa mendengar suaranya.


Eva melirik kebawah, telapak tangannya terasa sangat kasar, ada beberapa kulit yang mengelupas kecil-kecil karena terkena reaksi salah satu cairan yang dia buat. Eva tidak suka memakai perban karena akan mengganggunya saat membuat penangkal racun Ega.


"Hm." Ega tersenyum lalu menepuk pelan pucuk kepala Eva.


"Bayi hulk yang pintar." Eva cemberut menyingkirkan tangan Ega, ekspresi Eva membuat mereka tersenyum begitu juga dengan dua laki-laki disebelah meja mereka.


Empat remaja laki-laki dan dua remaja perempuan sedang berjalan-jalan di tengah mal yang ramai dengan dua orang pria berbadan tinggi terus berjalan dibelakang mereka. Tiara sudah beberapa kali masuk kedalam toko pernak pernik membeli barang-barang yang menurutnya lucu. Dody dan Heru juga sesekali masuk kedalam toko musik yang menurut mereka menjual barang-barang bagus.


"Mau masuk?." Tanya Ega kepada Eva. Eva melirik toko khusus wanita disampingnya yang memasang berbagai macam produk tas, sepatu, hingga baju-baju yang modis.


"Buat apa?." Tanya balik Eva.


"Apa kamu tidak tertarik?, setiap perempuan pasti akan tertarik dengan toko seperti ini." Jelas Ega.


"Tapi aku tidak." Jawab Eva singkat, Ega menoleh menatap Fathur.


"Kamu dengar, bayi hulk memang tidak lucu." Kata Ega kepada Fathur yang mengangguk setuju.


"Dia akan langsung berlari jika kamu menunjukan toko disebelah sana." Ujar Fathur mengedikan dagunya.


Eva melirik arah yang ditunjukan Fathur, bola matanya berbinar cerah tanpa babibu lagi gadis itu berjalan menuju jejeran toko makanan namun sebuah tangan menariknya dari dalam toko yang ia lewati.


"Kamu juga harus coba." Ucap Tiara kegirangan, Eva menaikan satu alisnya melihat bermacam-macam produk kecantikan berjejer disebelahnya.


Tiara mengangkat satu tangannya yang menggenggam brush / kuas make up. Eva yang menyadari apa yang ingin Tiara lakukan segera menjauhkan wajahnya namun tangan Tiara lebih cepat, sahabatnya sudah menahan dirinya untuk tidak bisa kabur.


"Jangan lakukan ini padaku." Lirih Eva menatap horor Tiara.


"Tenang saja aku sangat profesional." Tiara tersenyum mengerikan dimata Eva, raut wajahnya terlihat sangat bersemangat.


"Ra." Panggil Eva lirih.


"Hm?." Tiara langsung melaksanakan aksinya sebelum korbannya berhasil kabur.


Dengan senyum mengembang Tiara berjalan keluar toko menghampiri para laki-laki yang sudah berkumpul menunggu mereka.


"Dimana Yuki?." Tanya Ega tidak melihat saudarinya bersama Tiara.


"Ada, dia masih mengumpulkan keberaniannya." Tiara menunjuk kedalam toko.


"Va ayo, itu tidak buruk kok!." Seru Tiara, Eva berjalan pelan sambil menundukkan wajahnya, setelah sampai disebelah Tiara Eva membisikan ancaman kepada sahabatnya itu.


"Adiku memang cantik." Puji Ega membuat Eva tersenyum malu melemparkan wajahnya kesamping dengan cepat, namun mata Eva malah bertabrakan dengan manik Fathur yang terlihat terkejut.


"Eva!." Teriakan seseorang membuyarkan lamunan Fathur.


"Sebelah sini!." Eva mencari asal suara, matanya menangkap dua laki-laki dan satu perempuan yang sedang melambaikan tangannya kuat-kuat.


"Ga aku kesana sebentar." Pamit Eva berjalan pergi menghampiri ketiga orang itu.


"Sedang jalan-jalan nona muda?." Tanya Galuh. Eva mengangguk singkat


"Ini sedang diluar tolong panggil Eva seperti biasanya." Pinta Eva.


"Kalian kok cuman bertiga?." Tanya Eva.


"Istriku sedang menangani urusan dikantor, Mely juga sedang menggantikan Sela rapat." Jelas Galuh. Sela merangkul Eva secara tiba-tiba.


"Pacarmu yang mana?." Sela melirik Ega cs.


"Tidak ada." Sela melepas rangkulannya dengan cepat.


Duk.


Reza memukul kepala Sela dengan map ditangannya.


"Jangan memasang wajah kecewa seperti itu setelah lo nolak gue." Eva tersenyum.


"Eh mana ada cowok nembak ditengah-tengah pasar kayak lo, ya mana gue dengar." Sela membela dirinya.


"Kak Rez mau Eva bantu?." Tawar Eva.


"Aa tidak, terima kasih." Jawab Reza seraya tersenyum.


"Bekerja?." Tanya Eva kepada mereka.


"Hum, kami sedang menilai beberapa toko yang memasang produk perusahaan sekaligus kami sedang mencari lokasi strategis untuk menaruh layar LED iklan produk-produk perusahaan nantinya." Jelas Reza.


"Boleh Eva lihat?." Reza memberikan map ditangannya kepada Eva, gadis itu segera membaca dan memahami isi map.


"Kak Galuh berapa anggaran minimum yang perusahaan keluarkan?." Tanya Eva.


"Yang paling minimum sekitar tiga ratus lima puluh juta." Reza sedikit membungkuk mengamati tangan Eva yang mencoret-coret isi kertas didalam map dan sesekali laki-laki itu memberikan saran.


"Sudah selesai, ini menurut saya." Eva menyerahkan map kembali kepada Reza.


"Terima kasih." Lirih Reza mengamati hasil pemecahan masalah yang sejak tadi mereka masih ragu untuk mengambil keputusan.


"Kalau ada anda pekerjaan saya cepat selesai." Ucap Reza yang mendapat amukan dari Sela. Eva segera berpisah dengan ketiga orang itu berjalan kembali ke rombongan.


Ega yang melihat Eva sedang berjalan kearah mereka mendorong Fathur kedepan lalu mengajak yang lainnya pergi lebih dulu ke bioskop.


"Kamu boleh menghapusnya." Lirih Ega sebelum pergi.


Eva heran kenapa hanya ada Fathur dan Arga yang berdiri agak jauh dari mereka, dimana yang lain?.


"Yang lain sudah pergi ke bioskop lebih dulu." Kata Fathur memberi tahu Eva.


"Hm." Eva berjalan melewati Fathur menyusul Ega dan teman-teman yang lain, Fathur menarik nafas lalu mengejar Eva menghadang gadis itu.


"Apa?." Tanya Eva mendongak untuk bisa melihat wajah Fathur degan jelas.


"Hapus." Titah Fathur seraya menghapus riasan diwajah Eva dengan sapu tangannya. Eva menatap Fathur tidak percaya.


Mahluk alien dari mana yang berdiri dihadapanku sekarang?, apa dia ketularan sifat Ega?, batin Eva merebut sapu tangan Fathur dari laki-laki itu.


"Sudah aku katakan." Fathur diam menunggu kelanjutan kalimat Eva.


"Jangan menyukaiku." Ucap Eva tegas berjalan melewati Fathur menuju toilet perempuan.


Eva membasuh wajahnya membersihkan make up, setelah terlihat tidak ada yang menempel dikulitnya Eva membuka pintu toilet seraya mengeringkan wajahnya dengan sapu tangan Fathur.


"Aku tidak tahu apa yang telah aku lakukan sampai kamu membenciku." Eva menghentikan langkahnya.


"Tidak perlu kamu ulangi aku masih ingat apa yang kamu ucapkan." Kata Fathur dari samping pintu toilet.


"Hm."


Mereka berjalan berjauhan menghampiri Ega yang sudah masuk ke dalam bioskop, Fathur, Eva, dan Arga masuk paling terakhir ke dalam bioskop yang sudah berubah gelap.


Keanehan duduk macam apa ini?, pikir Eva. Eva duduk disebelah Ega disusul oleh Fathur yang duduk disebelahnya sedangkan Arga duduk tepat dibelakang Eva.


Film yang mereka tonton sepertinya banyak membuat para pengunjung berteriak histeris seperti saudara kembarnya dan Fathur, dua laki-laki itu reflek memegang tangan Eva saat terkejut. Eva melirik Ega yang mengeluarkan keringat dingin lalu Eva menoleh kesamping melihat Fathur yang sudah pucat.


Fathur yang tersadar sedang memegang tangan Eva segera melepaskannya perlahan lalu membalas tatapan Eva, sedikit memiringkan tubuhnya mendekat.


"Sorry." Bisik Fathur.


"Hm." Jawab Eva.


"Bukankah itu terkena cairan berdosis tinggi." Fathur menunjuk tangan Eva lalu kembali terkejut dengan suara keras dari film yang mereka tonton.


Eva seperti menemukan sesuatu setelah mendengar ucapan Fathur, otaknya berputar dengan cepat. Eva kembali menyusun takaran formula-formula yang ia pakai lalu menambahkan beberapa bahan lain kedalam daftar bahan yang dipakainya sampai tidak terasa film yang mereka tonton sudah selesai.


"Ayo." Eva hanya berjalan mengikuti tarikan tangan Ega.


"Wah tadi bukankah sangat menyeramkan?." Ucap Dody.


"Setuju." Tidak biasanya Heru setuju dengan Dody.


"Aku tidak akan menonton film horor luar negeri lagi." Keluh Tiara.


"Sudah sore, gue pulang dulu." Celetuk Dody menatap layar ponselnya.


"Gue juga, ra lo mau sekalian bareng gue?." Ajak Heru, Dody yang mendengarnya tidak terima.


"Enak saja lo ru, nyari kesempatan."


"Rumah Tiara searah sama rumah gue Do." Jawab Heru dengan wajah kesal sehabis dituduh, Dody menggaruk belakang kepalanya canggung.


"Boleh." Jawab Tiara.


"Kita duluan ga, thur, Eva." Pamit mereka bertiga.


"Aku juga ga, duluan ya." Fathur menepuk pundak Ega sekilas lalu berjalan melewati Eva, tangan Eva dengan cepat meraih tangan Fathur menggenggamnya erat membuat sang empu terkejut begitu juga dengan Ega.


"Yuki?." Panggil Ega lembut disebelahnya, otak Eva masih berputar cepat memperhitungan peluang baik dan buruknya formula baru yang baru saja ia susun. Fathur mencoba melepaskan tangannya namun Eva malah semakin menggenggamnya erat.


"Yuki, kamu tidak apa-apa?." Ega mengelus pelan surai Eva. Ada hal yang luput dari perhatian Eva dan sekarang hati kecilnya menyuruh Eva untuk mencari potongan yang terlewat didalam kepalanya.


"Yuki, Fathur mau pu." Eva menarik kuat tangan Fathur membuat wajah laki-laki itu sejajar dengan dirinya, Ega yang terkejut menggantungkan kalimatnya.


"Kita perlu bicara." Ucap Eva tegas. Ega melihat adiknya sedang dalam mode serius.