Yuki

Yuki
Bab 33



Benar saja pagi itu Dimas sudah menunggu Eva didepan gerbang dengan sepeda motornya, Eva menghampiri Dimas yang sedang sibuk dengan ponsel ditangannya.


"Sudah menunggu lama?." Tegur Eva mengalihkan perhatian Dimas, laki-laki yang ditegur menoleh menatap Eva.


"Baru lima menit yang lalu, berangkat sekarang?." Eva mengangguk kecil Dimas memberikan helm kepada Eva.


Sudah beberapa detik tidak ada tanda-tanda Dimas akan menjalankan sepeda motornya padahal Eva sudah duduk manis dijok belakang.


"Ada apa lagi sekarang?." Tanya Eva bingung.


"Kamu sudah beberapa kali duduk disitu masih tidak paham juga." Jawaban Dimas membuat Eva tambah bingung.


"Apa?." Tanya Eva lagi.


"Pegangan Eva Augustin Ahyner." Eva memutar bola matanya memegang ujung jaket bagian belakang Dimas tapi Dimas masih belum menjalankan sepeda motornya.


"Sekarang kenapa?." Eva memiringkan sedikit tubuhnya ke kanan bertanya kepada Dimas.


"Kamu salah." Ucap Dimas membuat Eva menaikan satu alisnya.


Tangan Dimas meraih kedua tangan Eva menariknya kedepan memasukkan tangan Eva kedalam saku jaketnya, Eva terkejut otaknya membeku.


"Kita berangkat." Ucap Dimas melajukan sepeda motornya.


Dasar gila, batin Eva.


"Kamu pasti mengataiku gila." Ucap Dimas dari depan.


"Hm." Dimas tertawa mendengar jawaban Eva.


"Aku harus giat belajar dengan Rian, ini sangat membantu." Eva tidak mengindahkan ucapan Dimas ia menatap lurus tangannya yang ada didalam saku jaket Dimas.


Dia bukan Ega ini terasa aneh, batin Eva menundukkan kepalanya menyembunyikan rona di wajahnya.


"Sudah sarapan?." Tanya Dimas, karena suara yang terbawa angin membuat Eva tidak jelas mendengar ucapan Dimas.


"Apa?." Seru Eva.


"Sudah sarapan?." Ulang Dimas, Eva mengerutkan dahinya karena tidak bisa mendengar dengan jelas ia sedikit memajukan badannya kedepan.


"Apa? tidak jelas." Dimas sedikit memelankan kecepatan sepeda motornya sedikit menegakkan badannya kebelakang mengikis jarak antara mereka.


Deg.


Terlalu dekat, batin Eva.


"Sudah sarapan?." Suara Dimas mengalihkan fokus Eva.


"Belum." Wangi parfum maskulin Dimas tercium oleh hidung Eva karena jarak mereka yang sangat dekat membuat hal itu sangat mungkin terjadi, Eva berinisiatif segera mundur kebelakang tapi lagi-lagi suara Dimas mengalihkan perhatiannya.


"Mau mampir ke cafe depan sekolah?."


"Hm." Jawab Eva cepat lalu menggeser tubuhnya kebelakang.


Didalam cafe depan sekolah Eva sibuk dengan laptop didepannya jari-jari panjang dan ramping itu bergerak cepat diatas keyboard.


"Donatnya dianggurin non?." Tegur Dimas melihat donat yang tergeletak dimeja belum tersentuh.


"Nanti." Jawab Eva yang kini tangan kirinya bergerak diatas layar ponsel dan tangan kanannya masih sibuk menekan tombol-tombol keyboard.


"Lima belas menit lagi bel loh." Dimas mengingatkan.


"Hm." Gumam Eva.


"Kelihatannya sibuk banget, mau aku suapi?." Eva menempelkan ponselnya ditelinga.


"Selamat pagi pak." Sapa Eva kepada orang diseberang telepon.


"Baik, tolong kirimkan saya filenya." Dimas menatap wajah serius Eva yang memancarkan aura seksi.


"Jangan, biarkan saja."


"Baik, saya tidak ingin ada orang lain di ruangan itu." Dimas menyangga dagunya dengan tangan kanan.


"Baik, terima kasih atas pengertiannya."


"Ya, semua file."


"Terima kasih." Eva memutus sambungan telepon ia kembali fokus dengan laptopnya.


"Bisakah kamu berhenti melihatku seperti itu?." Dimas tersenyum.


"Kamu perempuan berbahaya." Eva menghentikan gerakkan jarinya ia menutup laptop dan beralih kepada donatnya yang belum tersentuh.


"Kalau begitu jangan dekati aku." Eva mulai menggigit donatnya.


"Aku tidak bisa."


"Masih pagi jangan gila." Dimas menahan senyumnya. Kini aura seksi berubah imut saat Eva mengunyah donat, Dimas memijat-mijat kepalanya.


"Perlu obat?." Eva melirik Dimas yang duduk didepannya.


"Aku harus menahan ini sampai lima tahun kedepan." Eva meminum lemon tea nya.


"Kenapa harus menunggu selama itu?." Tanya Eva. Dia pura-pura tidak tahu atau benar-benar tidak tahu? tapi sepertinya dia benar-benar tidak tahu, batin Dimas.


"Karena disaat itu aku pastikan akan menjadi laki-laki yang pantas melamarmu."


"Uhukk.., uuhukk, uhukk." Eva tersedak minumannya.


"Pelan-pelan." Dimas segera berdiri disamping Eva memberikan tisu seraya mengelus punggung gadis itu pelan niatnya untuk membantu.


"Le-uhukk uuhukk." Eva tidak bisa bicara dengan benar karena batuknya yang tidak mau berhenti.


"Jangan bicara dulu, coba minum pelan-pelan." Eva mengikuti instruksi Dimas, Eva menarik nafasnya perlahan setelah dirasa baik-baik saja ia mendongakkan kepalanya menatap datar Dimas sedangkan yang ditatap memasang wajah bertanya.


"Lepaskan tanganmu." Ucap Eva datar.


"Eh? maaf." Dimas segera menjauhkan tangannya.


Eva memasukkan laptopnya kedalam tas lalu berdiri dari duduknya.


"Terima kasih sudah menjemputku." Eva berjalan kearah kasir.


"Biar aku saja." Dimas segera membayar makanan mereka.


"Terima kasih." Ucap Eva keluar dari cafe, Dimas mengejar Eva yang sudah berdiri dipinggir jalan hendak menyebrang. Dengan langkah seribu Dimas sudah berdiri didepan Eva merentangkan kedua tangannya melangkah membantu Eva menyebrang.


"Mau aku jemput nanti?." Tawar Dimas setelah mereka berhasil menyebrang.


"Kamu part time jadi ojek?." Satpam yang mendengar obrolan mereka menahan senyumnya.


"Tidak." Dimas menggaruk belakang kepalanya.


"Berarti kamu sudah tahu jawabannya." Eva melangkah meninggalkan Dimas.


"Alumni sini kan?." Tanya satpam.


"Iya pak."


"Perempuan tadi putri keluarga Ahyner, mulutnya sangat pedas haha tapi cantik sih haha." Komentar satpam sekolah, Dimas tidak menanggapi matanya menatap lurus punggung Eva yang perlahan menjauh.


TING!.


Sebuah pesan masuk mengalihkan perhatian Dimas, ia mengambil ponselnya dari saku jins nya.


Calon.


Hati-hati.


Dimas tersenyum melihat pesan singkat itu kembali menatap ke arah hilangnya gadis pengirim pesan.


"Pak doain ya biar cinta saya kesampaian." Ucap Dimas kepada satpam.


"Selamat berjuang nak haha." Satpam itu tertawa lagi.


Istirahat pertama Eva sibuk membuka file-file yang dikirimkan dari kantor tadi pagi sampai dia tidak sempat mengisi perutnya dan sekarang istirahat kedua Eva masih berkutat dengan file-file itu didalam cafe, pasta yang ia pesan sejak tadi belum disentuhnya.


"Akhirnya ketemu." Kata Ega sambil tersengal-sengal mengatur nafasnya.


"Kenapa lari-lari?." Tanya Eva tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptop.


"Aku mencarimu kemana-mana seperti orang gila." Ucap Ega duduk disebelah Eva.


"Aku memiliki dua orang gila ternyata." Ega menatap Eva.


"Hah?." Seru Ega.


"Minum dulu." Eva menyodorkan minumannya kepada Ega tanpa melirik kembarannya, Ega menerima minuman Eva yang langsung diminumnya setengah.


"Sibuk banget sih biasanya juga urusan kantor kamu kerjakan dirumah." Protes Ega.


Ega melihat piring pasta yang sudah dingin lalu melirik saudari kembar disebelahnya. Tangannya meraih piring dan garpu memutar pasta dengan sangat rapih.


"Sibuk boleh, makan jangan lupa." Ucap Ega.


"Hm." Ega menyodorkan garpu berisi gulungan pasta itu kedepan mulut Eva.


"Aaaa." Kata Ega, Eva membuka mulutnya, dengan hati-hati dan telaten Ega menyuapi Eva.


Tentu saja tidak sedikit pasang mata yang melihat kelakuan mereka, tapi kedua anak kembar itu sama sekali tidak menghiraukan bisik-bisik orang-orang disana.


"Duh pintarnya bayi hulk ayah, sekarang minum dulu." Ega mendekatkan gelas ke bibir Eva, Eva dengan kalem mengikuti semua perintah Ega tanpa mengalihkan pandangannya dari laptop.


"Sini in." Ujar Ega menjauhkan piring dan gelas dari hadapannya.


"Apanya?." Tanya Eva.


"Laptop kamu." Eva menghentikan kegiatannya lalu menatap Ega tidak paham, tanpa banyak bicara Ega menarik laptop dari Eva membawanya ke hadapannya.


Eva menatap saudara kembarnya yang sedang fokus dengan laptop miliknya jari-jari Ega bergerak cepat diatas keyboard. Tidak lama jari-jari Ega berhenti ia menoleh kesamping.


"Ada yang lain?." Eva mengerjapkan mata dua kali.


"Yuki, ada yang lain tidak? waktu kita tinggal sedikit loh." Eva menggeleng pelan.


"Tidak perlu sekaget itu, ini sudah selesai." Ega mengembalikan laptop Eva ketempat semula. Eva segera mengecek file-file itu, mata Eva terbuka lebar menatap kembarannya.


"Ega ini..." Lirih Eva kalimatnya menggantung.


"Kalau tulisannya masih pakai bahasa indonesia atau inggris aku masih bisa mengerjakannya." Jawab Ega santai.


"Ini keren." Ucap Eva.


"Aku tidak akan berpangku tangan dan membiarkanmu melakukan semuanya sendiri." Ega mengelus lembut kepala Eva.


"Sabar ya, aku akan belajar dengan cepat." Eva mengalihkan pandangannya.


"Kamu tidak perlu melakukannya." Ujar Eva.


"Tentu saja aku harus melakukannya." Mereka saling menatap lalu tertawa bersama.


***


Eva berjalan memasuki perusahaan besar itu ia menyapa semua orang yang dia temui, biasanya orang-orang yang menyapanya tapi kini dialah yang harus menyapa mereka dan selalu memberikan senyum buatannya. Eva sudah berada dilantai tiga ia berdiri didekat lift menunggu Reza.


"Maaf, sudah lama?." Tanya Reza terburu-buru menghampiri Eva dengan setumpuk file ditangannya.


"Sepertinya kakak sangat kerepotan." Eva mengulurkan tangannya hendak membantu tapi Reza dengan sigap menjauhkan file-file itu.


"Anak magang mana yang membiarkan atasannya membawa tumpukan file sendiri." Ujar Eva membuat Reza sedikit canggung.


"Maaf saya belum terbiasa non, anda boleh membawanya tapi sedikit saja." Kata Reza, Eva mengambil setengah file dari tangan Reza.


"Jangan meremahkan perempuan kak, tidak lebih tepatnya pak manajer." Reza tersenyum kaku.


"Ini sungguh sangat canggung."


"Panggil namaku saja pak Reza tanpa embel-embel non, anggap aku seperti anak magang yang lain."


"Saya akan berusaha, mari."


Reza menuntun Eva menuju ruangannya, ketika melewati setiap baris meja-meja kerja Eva melihat banyak karyawan yang berlari dari meja kerja mereka ke mesin foto copy dan dari meja kerja satu ke meja kerja lainnya, mereka sangat sibuk berkutat dengan pekerjaan masing-masing.


"Bukankah mereka hebat, kerja lembur bagai kuda hahaha." Lelucon yang garing menurut Eva.


Eva juga melihat sekilas ke ruangan disamping kanannya didalam ruangan itu sedang mengadakan rapat yang cukup panas.


"Disebelah sana meja sekertarisku." Reza menunjukkan meja sekertarisnya, Eva langsung membungkuk tersenyum kepada sekertaris itu tentu saja senyum yang ia buat sedemikian rupa.


"Dan ini ruangan kita." Reza membuka pintu ruang manajer, Eva mengekor dibelakangnya.


"Letakan disini saja ." Reza meletakan file yang dipegangnya diatas meja kerjanya Eva mengikuti.


"Itu meja kerja anda nona muda." Reza menunjuk meja kerja berukuran sedang dengan komputer diatasnya, meja itu berada di depan agak kesamping dari meja kerja Reza mejanya menghadap ke pintu.


"Eva, pak Reza." Eva mengingatkan seraya melangkah menuju meja kerjanya dan meletakan tas kerja diatas meja.


"Maaf saya akan lebih berhati-hati." Tiba-tiba pintu diketuk menampakkan direktur perusahan.


"Maaf saya tidak bisa menjemput anda nona muda." Ucap Joni.


"Itu lebih baik untuk penyamaranku pak direktur." Joni langsung paham dengan maksud Eva.


"Maaf saya akan lebih berhati-hati Eva." Eva tersenyum karena dia tidak perlu menjelaskan panjang lebar situasi saat ini, direktur Joni sudah paham.


"Semoga anda betah disini, kalau ada apa-apa saya ada diruangan." Jelas Joni.


"Baik, terima kasih untuk perhatiannya direktur."


"Saya pergi dulu." Joni meninggalkan ruangan.


Eva mengambil tumpukan file yang dia letakkan tadi membawanya ke meja kerja miliknya. Eva sudah duduk dikursi kerja melakukan peregangan tangan dan jari-jarinya, Eva bersiap dengan bolpoin ditangan kanannya beberapa detik kemudian ia sudah tenggelam kedalam file-file itu. Reza menelan salivanya.


Apakah dia putri presdir yang sama saat acara makan malam itu?, dia sangat berbeda jika seperti ini, batin Reza.


Dalam waktu dua jam Eva sudah menyelesaikan tumpukan file nya memberikan file tersebut kepada Reza yang sedang fokus dengan file miliknya.


"Pak Reza anda tinggal menandatangani file nya." Reza mengangkat kepalanya.


"Sudah selesai?." Tanya Reza.


"Sudah pak."


"Bisakah panggil kak Reza saja kalau kita sedang berdua, rasanya aneh dipanggil pak oleh anda hehe." Tawa canggung Reza menggema di ruangan itu.


"Baik, boleh saya pinjam dokumen menang tender dua hari kemarin?." Reza terdiam, mengambil sebuah dokumen dari dalam laci meja.


"Ini, untuk apa anda melihatnya?." Tanya Reza penasaran, setahu dia anak presidennya hanya bisa membantunya dengan file-file biasa.


"Rapat siang tadi tidak sengaja aku mendengarnya sedikit, ada yang aneh dirapat itu." Jelas Eva kembali ke mejanya, Reza masih bengong mendengar kata-kata Eva.


Tok tok tok.


"Masuk." Seru Reza, sekertaris Reza masuk membawa setumpuk file lagi.


"Laporan ini harus di tanda tangani sekarang pak." Ucap sekertaris dengan baju yang terbilang seksi.


"Baik letakan disitu." Setelah meletakan file sekertaris keluar meninggalkan ruangan.


"Permisi kak." Ucap Eva yang tiba-tiba berdiri disamping meja Reza, Eva mengambil setumpuk file yang dibawa Reza tadi siang.


"Eva biarkan saja itu bagianku." Tolak Reza menyadari apa yang akan dilakukan Eva.


"Tenang saja, bagian anda masih banyak yang menunggu." Eva melirik dua tumpuk file dan laporan yang harus ditanda tangani, Reza mengikuti arah pandang Eva.


"Anda benar." Akhirnya Reza membiarkan file nya dibawa Eva.


Tepat pukul 20:00 Eva membereskan meja kerjanya bersiap-siap untuk pulang.


"Kak tidak pulang?." Tanya Eva melihat Reza yang masih fokus dengan pekerjaannya.


"Sebentar lagi, hampir selesai." Eva melirik sebentar dua file yang belum disentuh.


Eva meletakan tas kerjanya dipinggir meja meraih dua file itu membawanya ke meja kerja miliknya.


"Anda pulang saja tidak apa-apa biarkan saya yang menyelesaikannya." Kata Reza yang tidak di indahkan oleh Eva.


Gadis itu memegang dua bolpoin dimasing-masing tangannya membuka kedua file, bola mata birunya bergerak dengan cepat kedua tangannya bergerak tidak sinkron mencoret menulis dan membuka lembar per lembar Reza menatap Eva tidak berkedip.


"Selesai." Eva beranjak dari kursinya membawa kedua file ke meja Reza.


"Sekertaris anda besok harus mengetik ulang ini, apa anda sudah selesai?." Eva berdiri menatap Reza.


"Ah, iya sudah." Lamunan Reza buyar dia segera merapihkan mejanya bersiap pulang.


Reza dan Eva berjalan menuju pintu keluar, di kantor masih ada beberapa karyawan yang terlihat masih bekerja padahal jam sudah pukul 20:21 sekarang.


"Biasanya mereka lembur sampai jam berapa?." Tanya Eva.


"Terkadang sampai jam sembilan bahkan ada yang sampai jam sepuluh malam baru pulang." Jelas Reza.


"Apa itu kak Reza, kakak terlihat kurang tidur." Reza menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri meregangkan otot lehernya.


"Para pemimpin devisi banyak yang pulang jam segitu, baru hari ini aku bisa pulang lebih cepat itu juga karena anda nona muda, terima kasih." Eva memutar otaknya, pasti ada penyebab kenapa bisa terjadi seperti itu.


"Saya duluan kak." Ucap Eva melihat Ronggo sudah membuka pintu mobil dua meter didepannya.


"Baik nona muda." Jawab Reza, Eva menoleh sebentar.


"Eva." Ucap Eva mengingatkan.