
Mely benar-benar gelisah mendengar bahwa aku akan memberikannya bukti,dengan tangan yang gemetaran hebat dia meraih gelas hendak minum untuk menurunkan rasa gelisahnya dan aku memanfaatkan kesempatan itu dengan baik.
Beberapa menit kemudian Mely kembali dengan kemeja putih yang tertutup. Teman-temannya bertanya kepada Mely secara bergantian. Kondisi meja kini kembali ramai. Mely melirikku canggung.
Bagaimana dia bisa tahu semua rencanaku?padahal aku yakin sejak awal dia sama sekali tidak memperhatikanku,, apakah dia mempunyai mata batin? apakah ada mata yang tersembunyi dibelakang kepalanya? batin Mely bingung.
"Sudah puas menatapku?." Tanyaku dingin, sontak Mely mengalihkan pandangannya.
"Kau melakukan cara menyedihkan seperti itu untuk merebut ayahku dari ibu atau posisi sekertaris yang kau incar?." Aku mulai malas berada di meja yang sama dengan perempuan pendiam berbisa ini.
"Aku tidak berniat seperti itu." Jawabnya mengelak.
"Apa kau pikir bisa membodohiku nona Mely." Mely bergerak gelisah.
"Tanpa kau merayu ayah kinerja dan potensimu saja sudah memenuhi standar menjadi sekertaris perusahaan, tapi sangat disayangkan kau memilih jalan yang berduri." Tanganku sedikit merapihkan dress.
"Kau sudah melihat sendiri ayah tidak terpengaruh dengan akal bulusmu, aku peringatkan kau nona Mely. Lebih baik kau fokus dengan pekerjaanmu dari pada sibuk merayu ayah." Raut wajah Mely seperti mengatakan bahwa dia keberatan.
Sudut bibirku terangkat sedikit menampilkan smirk yang tidak terlihat oleh orang dimeja itu. Dengan suara lembut mengintruksi penghuni meja.
"Maaf, saya ingin keluar sebentar. Silahkan lanjutkan obrolan kalian."
"Loh kok mau pergi nona," Sela menatapku kecewa.
"Dia bosen denger suara lo yang cempreng itu." Srobot Reza.
"Nona muda sudah tidak kuat dengan hawa kegelapan dari tubuh lo." Galuh tidak mau kalah menyerang Sela.
"Tolong maafkan penyihir hitam ini nona." Kata Andin seraya mengulurkan tangannya ke arah Sela.
"Waaahh kalian bener-bener ngajak berantem." Sela yang terlihat tomboy itu melipat lengan bajunya ke atas.
"Hahahaha, ampuun jangan sihir kita jadi abu." Reza menghayati perannya. Selagi mereka sibuk dengan peran masing-masing badanku sedikit condong ke kanan dengan mata yang masih menatap kedepan.
"Saya bisa dengan mudah menendangmu dari perusahaan sekarang juga, mataku itu banyak jika kau tidak mengindahkan peringatanku dihari itu juga aku yang akan memecatmu langsung." Mely membeku dikursinya.
"Berhati-hati lah nona Mely." Kataku penuh penekanan disetiap katanya.
Meluruskan duduk kembali seraya melempar senyum indah yang kubuat.
"Kak Seli jangan diganggu lagi," seketika Seli menatapku penuh terima kasih yang lain pun kaget aku membela temannya itu.
"Malam ini bulan purnama, kalian harus berhati-hati." Wajah mereka menunjukkan kebingungan.
"Waktu dimana ilmu hitam sangat kuat, bisa menyerang dimana saja. Kalau begitu saya permisi." Aku melirik Seli tersenyum jail.
"Hahaha!!." Tawa mereka pecah aku melihat sekilas ayah tersenyum bersama mereka.
"Pak putri bapak bisa lucu juga." Ucap Reza disela-sela tawanya.
Dari taman samping suara tawa mereka masih terdengar dengan jelas, aku memutuskan untuk berjalan agak menjauh. Berdiri menikmati angin malam memandangi langit gelap penuh bintang dan sinar bulan. Taman penuh bunga dan lampu-lampu kecil sebagai penerangan terlihat sangat indah.
Agh! tenggorokanku sakit, aku terlalu banyak bicara hari ini, batinku. Disaat menikmati suasana yang tenang itu tiba-tiba punggungku terasa perih sontak tanganku meraih bagian itu.
"Agh." Lirihku merasakan rasa perih dibagian yang lain. Aku meringis menahan sakit.
"Ini sakit sekali." Punggungku rasanya seperti dicambuk, tanganku gemetar menekan bagian yang terasa sakit itu. Aku menggigit keras bibir bawah menahan ringisan yang keluar dari bibir, satu tetes air mata lolos menuruni pipi.
"Pemandangan yang indah." Suara berat menyadarkanku, dengan gerakan pelan aku kembali menegakkan tubuh menarik tanganku dari punggung, tangan satunya membenarkan letak rambut seraya menghapus air mata yang lolos tadi dengan gerakan kecil.
"Kamu benar-benar suka menyendiri ya." Laki-laki itu sudah berdiri disampingku.
"Siapa yang mengizinkanmu berdiri disitu?." Kataku datar.
"Ih galak banget." Kata Dimas mengambil satu langkah lebar menjauh.
"Aku baru melihat sisi lain dirimu malam ini." Aku tidak menanggapinya wajahku menengadah keatas.
"Disekolah kamu terlihat seperti tidak memperhatikan penampilan tapi malam ini kamu," Dimas berhenti sejenak.
"Berbeda, sifat cuekmu sedikit berkurang, auramu juga berbeda, kamu berkharisma sama seperti pak Daren." Dimas melirikku.
"Mmmm?, sepertinya sifat cuekmu tidak berkurang." Dimas terkekeh sendiri.
"Aku suka sifat cuekmu, membuat hatiku jatuh semakin dalam." Dimas menatapku lekat.
Terserah dia mau berkata apa aku benar-benar capek hari ini. Ingatan dikamar ibu tadi siang menghampiriku tiba-tiba rasa sakit hati yang terlupakan karena kesibukan acara ini sekarang kembali dan bertambah dengan rasa perih dipunggung.
"Kamu tidak kedinginan?." Dimas melepas jas putihnya, tangannya terulur hendak memakaikannya kepadaku. Aku menyadari niatnya segera kakiku berjalan menjauh dengan cepat.
"Ok, aku tidak akan melakukannya." Setelah itu Dimas melangkah mendekat dan berhenti untuk memberi jarak.
"Langitnya bagus banget ya? sampai segitunya ngeliatin." Dimas membuka mulutnya lagi setelah tidak mendapat jawaban dariku.
"Pak Daren pasti bangga punya putri yang cerdas dan mempunyai wawasan luas." Hening, hanya suara hembusan angin yang tertangkap indera pendengaran, beberapa menit kemudian.
"Kalian juga sangat mirip tapi wajah kalian tidak, mungkin kamu lebih mirip ibumu." Mendengar itu rasa kesal menyelimutiku. Aku melangkah meninggalkannya dan berhenti sejenak.
"Boneka dan pemiliknya, itu lebih cocok." Aku melanjutkan langkahku masuk kedalam restoran lagi.
Aku tidak terlalu paham apa maksudnya tapi setidaknya dia mendengarkan apa yang aku ucapkan sejak tadi, aku harus lebih berusaha lagi, batin Dimas.
***
22:00 mobil mewah itu berhenti didepan rumah megah bak istana, acara makan malam selesai pukul 21:30 tapi karena jarak yang lumayan memakan waktu itu hingga sampailah mereka pada pukul sepuluh malam dan sekarang Eva sedang duduk di depan meja kerja ayahnya bersama sang ayah yang membolak balik kertas putih.
"Sudah yakin dengan pilihanmu?." Kata Daren setelah melihat kertas putih dihadapannya yang berisi calon-calon karyawan yang akan menduduki posisi baru di perusahaan.
"Hm."Jawab Eva santai.
"Kenapa memilih dia menjadi sekertaris ?." Tanya Daren menatap putrinya.
"Pemikirannya yang kritis dan tindakannya yang cepat, dia bisa dipercaya, kemampuanya tidak kalah dengan pak direktur." Daren mengangguk setuju.
"Bagaimana dengan Sela? kenapa memilih menjadikannya kepala marketing?."
"Pribadi yang lues dan tomboy membuatnya akan lebih disegani karyawan-karyawan yang lain dan lawan bisnis kita terutama laki-laki, mereka tidak akan menganggap enteng kak Sela. Kemampuannya tidak perlu diragukan lagi." Daren membalik halaman berikutnya.
"Posisi yang cocok untuk Galuh dan Andin menjadi kepala dan wakil keuangan." Daren mengangguk-angguk semangat.
"Kenapa Reza menjadi manajer?." Daren mengalihkan pandangannya dari kertas kepada Eva.
"Bukankah ayah sudah tau alasannya?." Daren membalik kertas itu lagi, Daren sudah paham betul cara kerja Reza dan ide-ide cemerlangnya, kemampuan mengembangkan potensi karyawan lain dan pengambilan keputusan yang tepat, dan Daren tidak menyangka putrinya yang tiga tahun lalu mulai ia bawa dalam urusan perusahaan juga sesekali mengikut sertakannya kedalam meeting membuatnya berkembang sangat pesat .
"Ayah minta penjelasanmu." Daren sedikit kaget melihat kertas ditangannya. Tangannya menunjuk foto didalam kertas itu yang ia tunjukkan kepada Eva.
"Aku sedang mengujinya, apa ayah pikir kemampuan bagus yang di ikuti niat busuk bisa menguntungkan perusahaan?." Eva membalas tatapan Daren.
"Dimataku sekarang, dia berpotensi menjadi tikus perusahaan selanjutnya karena itu aku melemparkannya kepada kak Sela, biar kak Sela yang menjinakan ular itu." Eva melirik sinis foto Mely.
"Dia harus di disiplinkan." Eva memberikan posisi sebagai wakil kepala marketing kepada Mely agar dia lebih sering bersama Sela, Eva bisa melihat kemampuan Sela mengatur rekan kerjanya dan sifat tegas Sela yang mendukungnya menjadi wanita karir yang tangguh.
Tentu saja Eva tidak mengenal dengan baik orang-orang yang datang di acara makan malam tadi, tapi karena biodata yang dikirimkan Daren terlampau lengkap hingga sifat, cara kerja, dan kebiasaan mereka tertulis disana bahkan keluarga mereka pun tercantum dengan rinci.
"Ayah jadi lebih tenang meninggalkanmu mengurus pekerjaan dikorea." Lirih Daren meletakkan kertas itu diatas meja lalu menatap Eva penuh selidik.
"Apa yang terjadi antara kamu dengan Mely tadi?." Eva membuang muka tidak ingin melihat mata Daren.
"Kamu sangat aneh tadi, kamu tidak akan melakukan hal ceroboh. Menumpahkan air hah?." Eva menghempaskan tubuhnya ke punggung kursi.
"Apa ayah tidak sadar Mely sedang merayu ayah dan menyimpan niat busuk?." Tanya Eva dingin.
"Tentu saja ayah tahu." Daren menjawabnya dengan tenang membuat Eva mengangkat salah satu alisnya ke atas.
"Itu tidak berpengaruh kepada ayah, dia harus menjadi seperti ibumu agar bisa mendapatkan ayah." Smirk terukir di bibir Eva membuat Daren sedikit kaget.
"Kalian saja selalu bertengkar tidak pernah akur untuk apa memaksakan membuat kalimat menjijikan seperti itu." Daren lebih memilih menghentikan topik itu.
"Ini berkas buat meeting besok dan beberapa pekerjaan di korea, pelajari dan segera tidur." Daren memberikan berkas-berkas itu kepada Eva.
"Hm." Eva meraih berkas dan berdiri meninggalkan ruang kerja ayahnya.
Didepan kamar Eva Fitri sedang berdiri seraya melempar senyum andalannya kepada sang majikan.
"Apakah non Eva mau mandi?." Tanya Fitri.
"Tidak." Eva membuka pintu kamarnya.
"Apa ada yang non Eva inginkan?."
"Tidak." Eva menutup pintu meninggalkan Fitri diluar sana.
Didalam kamar Eva segera masuk kedalam kamar mandi, melakukan ritual sebelum tidur dan mengganti bajunya dengan baju tidur berwarna abu-abu. Eva melihat pantulan punggungnya di cermin, memperhatikan dengan seksama tempat yang terasa perih yang dia rasakan tadi. Punggungnya tidak ada yang aneh, tidak ada bekas apa pun masih putih mulus seperti biasa, seharusnya rasa sakit seperti itu meninggalkan bekas, jari panjangnya menekan-nekan tempat yang terasa perih dan sakit tadi.
Aneh, kenapa sudah tidak sakit lagi? aku harus bertemu dengannya, batin Eva. Setelah ritual kamar mandinya selesai Eva mempelajari berkas dari ayahnya sebentar sebelum kesadarannya direnggut kegelapan.
08:30 jet pribadi keluarga Ahyner lepas landas, Eva sedang menikmati sarapannya didalam pesawat bukan karena dia bangun kesiangan tapi saat hendak masuk kedapur untuk sarapan dia melihat ibunya sedang duduk menikmati makanannya, Eva langsung mengurungkan niat untuk masuk dan lebih memilih langsung pergi.
Eva mematutkan dirinya dikaca, ada yang kurang, dia mengambil lipstik warna pach dan mengoleskannya dibibir. Setelah selesai dia keluar dari kamar dan duduk tidak jauh dari ayahnya, Daren melirik putrinya sekilas.
"Lensa, dapat dari mana?." Eva melirik ayahnya sebentar.
"Dari seseorang yang ahli, aku memintanya membuat lensa sesuai keinginanku." Hening, Eva tentu saja tidak memberitahu Daren ini adalah rahasia dirinya. Akhirnya pesawat mendarat di bandara seoul. Eva mengambil masker lalu memakainya untuk menutupi setengah wajah.
Setiap kali Eva pergi untuk menemani ayahnya bekerja keluar negeri Eva selalu menutupi wajahnya bahkan umurnya pun dirahasiakan karena itu dia selalu menyamar, hanya beberapa orang yang boleh tahu. Di indonesia pun Eva menutup diri, media tidak pernah tahu putri pengusaha tersohor itu seperti apa, lingkungan sekolah Eva para pelayan para pengawal guru-guru kursus dan privat serta orang-orang kantor yang datang kemarin mereka mengetahui siapa Eva sebenarnya.
Daren dan Eva turun dari pesawat, Daren berjalan didepan disusul oleh Eva. Keduanya tidak menyadari bahwa mereka menarik perhatian orang-orang yang mereka temui. Tiga pengawal berbadan besar dengan seragam hitamnya berjalan didepan Daren, tiga pengawal berjalan disisi kanan dan tiga pengawal lagi berjalan disisi kiri tidak ketinggalan tiga pengawal dibelakang Eva.
Dari bandara mereka langsung menuju perusahaan, didalam mobil Eva memasang benda kecil dan tipis berwarna hitam dibawah lidahnya, Daren yang melihat itu pengernyitkan dahi.
"Apa kau bermaksud membuka suaramu?." Ya Daren tahu benda apa yang dipakai putrinya, pertama kali Daren melihat Eva menggunakan itu pada saat meeting bulan januari kemarin di Singapur. Benda itu merubah suara orang yang memakainya dan Daren tidak tahu dari mana Eva mendapatkan benda secanggih itu.
"Hm mungkin, jika diperlukan." Suara Eva berubah menjadi suara wanita dewasa.
"Hari ini akan berjalan sangat panjang, lakukan dengan baik." Daren tidak perduli apa yang akan dilakukan Eva selama Eva selalu patuh dan menjalankan tugasnya dengan baik.
"Hm." Jawaban Eva mengakhiri obrolan ayah dan anak itu.
Mereka turun didepan gedung tinggi bertuliskan H Group. Ayah dan Anak itu turun dari mobil disambut para karyawan-karyawan yang sudah menunggu kedatangan mereka. Langkah kaki Daren dan Eva memasuki lobi serempak semua orang menunduk hormat.
"Selamat datang presdir! nona muda!." Seru mereka kompak. Ayah mengangguk singkat sebagai jawaban.
"Kita meeting sekarang, semua orang sudah berkumpul?." Wanita cantik dengan celana panjang berwarna putih dan atasan yang senada sedikit menegakkan tubuhnya.
"Semua orang sudah berada diruangan, silahkan presdir lewat sebelah sini." Wanita itu menuntun kami ke ruang meeting yang berada di lantai lima.
Pintu hitam diujung ruangan memancarkan aura persaingan. Wanita yang mengantarkan mereka membuka pintu dan membungkuk hormat. Daren melangkah memasuki ruangan serba hitam itu dengan wibawa dan kharismanya disusul langkah anggun dan mantap putrinya. Seisi ruangan melihat pimpinan mereka memasuki ruangan besar itu segera bangkit dari kursinya dan membungkuk hormat.
"Presdir." Seru mereka, Daren berdiri di depan kursi kebesarannya disamping kirinya ada Eva putrinya. Daren mengisyaratkan mereka untuk duduk kembali dengan gerakan tangan.
"Kita mulai meetingnya." Ucap Daren berkharisma. Seorang pria berdiri maju memimpin meeting.
Meeting berjalan selama dua jam setengah argumen dan penolakan terus terjadi diruang serba hitam itu hingga Eva membuka suaranya menunjukkan kemampuannya yang berpikir kritis, melihat peluang, memanfaatkannya dan memberikan argumen, Eva tidak bisa mengambil keputusan karena itu adalah tugas presdir. Jajaran petinggi perusahaan dibuat kagum dan terpesona akan kecerdasan putri pemilik perusahaan hingga mereka tidak bisa membuka mulut mereka lagi.
"Kamu membuat mereka menyadari keberadaanmu dan mengakuimu." Ucap Daren, mereka sedang berjalan menuju ruangan presdir.
"Hm." Seorang wanita berpakaian cantik berdiri didepan pintu memberikan hormat kepada Daren, Eva, dan pak Han selaku direktur diperusahaan.
"Berita ini akan cepat menyebar."
"Hm."
Flashback on.
Selesai meeting para jajaran petinggi perusahaan berebut mengucapkan selamat kepada Daren atas keputusannya yang hebat seperti biasanya dan juga memberikan selamat kepada Eva.
"Pak presdir, keputusan anda sangat hebat seperti biasanya." Ucap laki-laki tua seraya menjabat tangan Daren.
"Terima kasih."
"Anda memiliki penerus yang luar biasa, perusahaan sangat beruntung." Ucap pria umur 45 tahun.
"Perusahaan akan berjaya memiliki nona muda." Kata wanita umur 37 tahunan.
"Anda terlalu berlebihan." Sanggah Daren seraya menyambut uluran tangan wanita itu.
"Nona muda, kami sengat senang anda akhirnya mau menyampaikan sendiri isi pikiran anda." Eva hanya mengangguk menjawab uluran tangan wanita muda berumur sekitar 27 tahun.
"Anda sangat luar biasa nona muda." Ucap laki-laki tua yang sedari tadi hanya diam dan mengamati.
"Terima kasih."
Dan masih banyak pujian-pujian yang mereka berikan sebelum meninggalkan lantai lima.
Flashback off.
"Direktur Han bagaimana keadaan perusahaan tiga bulan terakhir?." Daren duduk dikursi kebesarannya sedangkan Eva duduk manis disofa yang ada diruangan itu.
"Sesuai dengan laporan yang sudah saya berikan kepada anda pak, perusahaan banyak mengalami peningkatan, para karyawan juga semakin kompak itu berdampak positif bagi perusahaan." Ucap Han.
"Hm terima kasih, kamu melakukannya dengan baik. Silahkan kembali keruanganmu aku akan mengecek proyek baru."
"Baik pak, kalau begitu saya permisi." Han berbalik hendak meninggalkan ruangan.
"Direktur Han tolong panggilkan sekertaris So in untuk membawa dokumen-dokumen yang harus saya tanda tangani." Han menjawab seraya memberi hormat sebelum benar-benar hilang dibalik pintu.
Selang beberapa menit sekertaris yang dimaksud datang membawa setumpuk tinggi dokumen ditangan, meletakkannya dimeja Daren.
"Jam istirahat makan siang sudah berlalu dua puluh menit yang lalu, kamu mau makan di kantin atau pergi mencari makan sendiri?." Daren bertanya kepada Eva.
"Aku akan makan disini." Eva membuka ipadnya.
"Sekertaris So in bisakah kamu memesankan makanan untuk kami berdua?" So in menundukkan badannya.
"Baik pak, apa yang ingin anda makan?."
"Makanan cepat saji saja, kamu mau makan apa?." Daren melontarkan pertanyaan lagi kepada Eva.
"Samakan saja."
"Seperti yang kamu dengar sekertaris So in." So in berpamitan dan pergi meninggalkan ruangan.
Sejak tadi tentu saja Eva berbicara dengan bahasa negeri ginseng itu, sejak kecil Eva sudah menguasai berbagai macam bahasa yang dia pelajari dari privat-privatnya yang tidak ada kata habis itu. Daren mulai mengecek dokumen satu persatu sedangkan Eva ia sedang berkutat dengan informasi laporan setiap bagian yang baru dia terima di ipadnya dari sekertaris So in setelah meeting selesai tadi.
Tidak lama setelah So in meninggalkan ruangan dia kembali dengan membawa makanan pesanan bos besarnya tadi.
"Ini pak makanannya saya permisi."
Beberapa menit kemudian pintu diketuk pelan So in kembali dengan lima berkas ditangannya.
"Maaf pak berkas ini harus ditanda tangani segera." So in menyerahkan berkas kepada Daren. So in penasaran dengan wajah putri bosnya yang sedang menjadi topik hangat sejak kedatangannya, terakhir kali putri bosnya datang keperusahaan dua tahun yang lalu yang terlihat masih sangat muda dan sekarang gadis itu terlihat lebih dewasa.
So in mencuri pandang ke arah sofa dia yakin sekarang putri bosnya pasti sedang makan yang berarti wajahnya tidak tertutup masker. Mata So in membulat kaget dan kecewa, putri bosnya memang sedang makan dan sedang sibuk dengan dokumen yang harus ditanda tangani bosnya tapi kenapa duduknya membelakangi posisi So in saat ini.
Hening, hanya terdengar suara kertas yang dibalik dan suara goresan bolpoin. So in menelan salivanya kasar.
Ini kah yang dilakukan oleh keluarga bos perusahaan besar makan saja sambil bekerja bukankah akan susah untuk menelan makanan jika seperti itu, jika aku jadi ibu nona muda dan istri bos sudah aku maraih habis-habisan mereka berdua dan memberikan pekerjaannya kepada yang lain agar mereka bisa makan dengan tenang, batin So in.
"Aku akan berkeliling." Tiba-tiba Eva berdiri dibelakang So in membuat wanita itu terperanjat kaget. Sekali lagi So in menelan kekecewaan. Eva sudah memakai maskernya lagi.
"Di halaman ketiga baris ketujuh merugikan kita, lebih baik jangan ditanda tangani dulu." Eva menyerahkan dokumen ditangannya kepada Daren.
"Baiklah, akan aku lihat nanti."
"Aku pergi dulu."
"Selesaikan sebelum jam lima sore."
"Hm." Eva pergi meninggalkan ruangan itu.
Parfumnya manis, merek nya apa ya?, batin So in. Eva yang berdiri dibelakang So in tadi membuat hidung So in dapat mencium bau tubuhnya.
Disetiap lorong yang dilewati Eva banyak karyawan yang kagum sekaligus iri kepada putri presdir. Tinggi 165cm badan yang proporsional dan kaki jenjangnya yang cantik banyak menarik perhatian karyawan laki-laki meskipun wajahnya tertutup dengan masker tapi tidak menghilangkan kenyataan bahwa putri presdir sangat cantik dan menawan.
Sesekali Eva berhenti untuk memberi saran bahkan membantu karyawan disana hal itu membuat geger perusahaan.
"Daebak! tadi dia bicara kepadaku." Jerit salah satu karyawati.
"Gue ngga bisa tidur malam ini, nona muda berdiri disampingku. Bau tubuhnya saja masih tercium." Karyawan laki-laki itu mendapat jitakan keras dari temannya.
"Babo ya. Otak mesum mu memang harus dibinasakan."
"Yakk! kau berani memukulku, tapi nona muda sangat keren." Pernyataan karyawan itu diangguki setuju oleh para karyawan yang lain.
Dan masih banyak celotehan-celotehan yang lain. Eva mendatangi setiap bagian memeriksa apakah semua berjalan dengan baik dan mencari mungkin ada tikus yang bersembunyi. Langkahnya berhenti di bagian marketing yang satu ruangan dengan bagian IT.
Kakinya melangkah memasuki ruangan tersebut membuat meeting yang dilakukan berhenti sejenak. Eva menunduk empat puluh lima derajat dan mengambil kursi diantara para karyawan yang mengikuti meeting. Perempatan muncul didahi masing-masing orang diruangan itu melihat orang asing dengan percaya dirinya duduk diantara mereka tanpa mengatakan sepatah kata pun.
"Joesonghaeyo.. (Maaf..)" Salah satu karyawan yang hendak menegur Eva dihentikan oleh laki-laki muda yang berdiri didepan papan putih. Laki-laki itu kembali melanjutkan meetingnya yang terhenti.
Laki-laki berbadan tinggi dengan garis wajah yang tegas hidung mancung dan suara bariton membuat dirinya semakin tampan itu sedang menahan rasa penasarannya terhadap perempuan yang tiba-tiba datang dan seenaknya duduk disana. Bon Hwa adalah manajer marketing karyawan termuda yang menduduki posisi itu 22 tahun umur korea.
"Eun Jung si bagaimana dengan modelnya?." Tanya Bon Hwa.
"Untuk model laki-lakinya saya memilih Dong Min si dan untuk model perempuannya Jin Ae si, saya akan tampilkan foto mereka." Papan putih itu dibalik menampakkan papan hitam, terlihat foto dua orang model laki-laki dan perempuan.
"Dong Min si dan Jin Ae si mempunyai chemistry yang kuat mereka akan menunjukkan kepada konsumen keindahan dan kemewahan produk kita." Jelas Eun Jung mempresentasikan pilihannya. Bon Hwa dan yang lainnya mengangguk menyutujui.
"Daebak uri noona, selalu memilih yang terbaik." Ucap laki-laki disebelah Eva seraya bertepuk tangan.
"Apa kalian merendahkan tim perancang?." Kata Eva datar yang sukses membuatnya jadi pusat perhatian.
"Nuguseyo? (Saiap kamu?)." Tanya laki-laki disebelah Eva. Eva tadinya sangat penasaran dengan tim marketing karena memiliki manajer yang sangat muda tapi dia terlalu banyak berharap dan sekarang Eva kecewa. Suasana perlahan berubah panas.