
Eva duduk dilantai lembab didalam jeruji besi milik Burhan. Didalam penjara yang berderet-deret sangat banyak itu Eva dikurung didalam penjara paling ujung. Sel disebelahnya kosong tidak berpenghuni namun beberapa menit kemudian ada seseorang yang didorong secara paksa masuk kedalam sel.
"Selamat kembali ke istana lo kecoak! hahaha." Seru salah satu orang yang membawa tahanan.
Tahanan itu berdiri diam kedua tangannya mengepal kuat. Perut Eva merasa mual dadanya mulai sesak perasaan itu kembali lagi. Eva mencengkeram lantai lembab dibawahnya menahan perasaan yang campur aduk tiba-tiba menyerang dirinya.
Lama tahanan itu hanya berdiri diam menatap pintu sel lalu tak lama kemudian dia berjalan dan duduk dipojok selnya. Keadaan yang gelap membuat Eva tidak bisa melihat dengan jelas wajah tahanan itu. Ini malam kedua Eva berada didalam sel dan malam ini juga Eva memutuskan untuk pergi meninggalkan tempat itu.
KREK!.
Pintu sel terbuka, lampu senter kecil menerangi sel tahanan disebelah Eva.
"Kamu nggak apa-apa? ini aku bawain makan malam buat kamu." Sarah menyodorkan nampan berisi makanan kepada tahanan yang sedari tadi diam tidak bergerak.
"Hotaru..." Sarah berusaha meraih tangan Hotaru yang cepat ditepisnya.
"Tidak ada orang yang membiarkan, seseorang yang disayanginya menderita." Lirih Hotaru penuh penekanan.
"Maafkan aku Hotaru, aku tidak bisa melakukan apa-apa untuk mengeluarkanmu dari sini dan aku juga tidak mau kamu pergi meninggalkanku." Hotaru tersenyum sinis.
"Sudah aku duga, keluar!." Tegas Hotaru.
"Hotaru..." Rengek Sarah.
"Keluar!." Hotaru menatap tajam mata Sarah membuatnya ketakutan. Sarah perlahan pergi meninggalkan Hotaru sendiri di sel gelap itu.
Keadaan penjara bawah tanah mulai kembali sunyi, perasaan yang melanda Eva kian menghilang.
KREK!
Pintu sel Eva yang kini terbuka, sinar terang dari senter ditangan Burhan membuat Eva menyipitkan mata.
"Gue tanya lagi sama lo. Siapa yang nyuruh lo masuk kesini?!." Eva bergeming ditempatnya.
"Lo bud*g yah! siapa yang nyuruh lo masuk kesini beg*!." Eva tetap bungkam.
"Dasar cewek gila! jangan beri dia makan sampai dia buka mulut!." Burhan memerintahkan anak buahnya.
"Baik bos." Mereka pergi meninggalkan penjara yang kembali gelap dan sunyi.
Idih siapa yang beg*? gue apa lo? kalau nggak buka mulut ya nggak bisa diberi makan lah, rutuk Eva menirukan cara bicara Burhan.
"Makanlah." Hotaru menyodorkan roti berukuran besar kedalam sel Eva.
"Ini tidak beracun, aku bisa jamin." Hotaru menambaih kalimatnya setelah lama tidak ada jawaban dari Eva.
Eva mendekat ke pinggir sel mengikis jarak antara mereka berdua lalu duduk disebelah sel Hotaru. Mereka duduk bersebelahan terhalang sel yang sudah berkarat. Eva menerima roti yang langsung dilahapnya dan Eva baru sadar kalau dirinya kelaparan.
"Bagaimana kamu bisa tertangkap, hanya segitu kemampuanmu?." Kata Hotaru datar. Eva tersenyum kecil.
"Aku tidak sebodoh itu bisa tertangkap oleh mereka." Eva mengunyah rotinya kembali.
"Lalu?." Hotaru menatap kegelapan penjara yang mengurungnya.
"Aku sengaja tidak melawan agar mereka menangkapku lalu membawaku kemari, dugaanku benar disini pasti ada penjara yang menyedihkan." Mata Eva terpejam merasakan kesunyian.
Flashback.
Setelah keluar dari ruangan cowok kusut itu Eva berlari menuju lorong gelap yang menarik perhatiannya, Eva melangkah lebih hati-hati matanya yang tajam bekerja sebagai sensor. Lorong ini sangat sepi Eva melewati dua pintu di kanan dan kirinya langkah Eva terhenti di pertigaan lorong ia merapatkan tubuhnya ke sisi dinding sedikit menjulurkan kepalanya untuk melihat sesuatu di depan sana. Di sebelah kiri ada pintu berwarna hitam dan disebelah kanan ada pintu besi Eva memutuskan memeriksa pintu besi lebih dulu. Bola mata Eva bergerak mencari kamera cctv yang mungkin tersembunyi.
Tidak ada, mereka terlalu percaya diri berpikir tidak mungkin ada penyusup yang masuk kedalam markas mereka sehingga mereka menganggap enteng keamanan, bukankah untuk kejahatan besar seperti ini mereka terlalu gegabah, batin Eva mulai berlari menghampiri pintu besi.
Terkunci, batin Eva melihat pintu dengan gembok yang dilengkapi sandi. Eva kembali memastikan tidak ada orang disekitarnya lalu dengan cepat mengambil sarung tangan dari salah satu sakunya dan memakai sarung tangan itu agar sidik jarinya tidak tertinggal.
Tangan kanan Eva memegang gembok menelitinya lebih dulu Eva sangat fokus dengan gembok didepannya. Mata biru Eva menangkap sesuatu yang mungkin menjadi kunci untuk membuka gembok. Jemari Eva bergerak menekan angka-angka secara acak.
KLIK!.
Gembok terbuka namun didalam gembok itu masih ada gembok lainnya dengan ukuran yang lebih kecil Eva melihat sekilas gembok tersebut lalu mengambil jarum kecil yang tidak diolesi cairan tertentu, memasukkan jarum kedalam lubang gembok dengan dua kali gerakan gembok sudah terbuka. Eva segera membuka pintu besi.
Sandi mereka terlalu simpel, tapi memecahkannya terasa menyenangkan, batin Eva sudut bibirnya sedikit terangkat.
Dibalik pintu besi cahaya lampunya sangat terang butuh waktu beberapa detik untuk pupil mata Eva menyesuaikan cahaya sekitar. Terlihat sebuah meja putih besar dan panjang ditengah-tengah ruangan dengan tiga lampu besar diatas meja itu. Eva kembali mengedarkan pandangan.
Berbagai macam alat medis ada disana dari jarum suntik sampai alat operasi Eva mendekati alat-alat tersebut langkah kakinya mengelilingi ruangan kotak itu.
Mereka mengambil organ-organ itu disini, batin Eva. Langkah Eva berhenti disalah satu dinding dengan banyak pintu kotak berukuran sedang, tercium bau anyir dari dalam lemari-lemari itu. Jantung Eva berdegup kencang mata birunya bergetar menatap deretan lemari itu perutnya terasa diaduk-aduk tenggorokkannya tercekat.
Haruskah aku membukanya?, batin Eva tangannya terulur hendak meraih pegangan lemari, degup jantung Eva semakin berpacu kencang. Meskipun aku sudah tahu apa yang ada dibalik lemari ini, batin Eva berkecambuk. Eva menelan salivanya. Tangan Eva sudah menggenggam pegangan lemari menariknya sedikit.
BRAK!.
DOR!.
Eva membeku seketika mendengar keributan diluar pintu ia segera menjauhkan tangannya dari lemari bergerak cepat memasuki ruangan kaca disebelahnya.
"Temukan DIA!. Kalau tidak, peluru ini akan menembus kepala kalian!." Teriak suara yang Eva kenali.
"B ba baik. Bos!." Jawab salah satu dari mereka.
Tap! tap! tap! terdengar langkah menjauh, Eva menajamkan pendengarannya memastikan mereka sudah pergi. Bau tajam obat-obatan menyeruak didalam ruangan kaca itu.
Apa lagi ini?, batin Eva.
Lagi, ruangan kaca itu berisi beberapa tabung kecil berisi cairan berbagai macam warna Eva menutup hidungnya seraya mendekati tabung-tabung itu. Tangan Eva mengangkat salah satu tabung sedikit menggoyangkannya cairan kental berwarna hijau tua bergerak didalam tabung, mata Eva menyipit.
"Racun." Lirih Eva.
Eva meletakan tabung ke tempatnya semula mengambil tabung yang lain, Eva menikmati waktunya memeriksa setiap tabung disana.
Mereka ingin membuat racun yang tidak bisa dideteksi alat medis dan tidak berbau rupanya, tapi sepertinya mereka gagal terbukti dengan semua fakta ini, lain cerita jika aku yang melakukannya, batin Eva tersenyum.
Bodoh, apa yang kamu lakukan Eva! kamu membuang-buang waktu, batin Eva segera keluar dari ruangan kaca itu. Eva menatap sekilas deretas lemari yang hampir ia buka menarik nafas panjang.
Semoga kalian tenang, ucap Eva dalam hati.
Eva bersiaga membuka sedikit pintu besi memastikan keadaan aman lalu melanjutkan pencariannya. Eva menemukan sebuah brangkas besar dibalik pintu berwana hitam dengan alat pemecah sandi untuk bisa membukanya, Eva segera meninggalkan tempat itu setelah mengetahui isi berangkas yang tidak lain adalah tumpukan uang. Setiap ruangan Eva masuki, kamar-kamar kecil dan pengap yang dipastikan adalah tempat tidur anak-anak yang Eva temui dilantai bawah pun tidak luput dari pengamatan Eva.
Sinar matahari dari luar tidak sedikitpun menembus markas itu, kecuali ruangan yang berisi tumbuhan terlarang. Tadi malam saat Eva memasuki kamar-kamar tempat anak-anak itu tidur Eva juga memeriksa setiap wajah-wajah mereka entah kenapa tidak ada satu pun dari wajah mereka yang meyakinkan Eva dengan orang yang ia cari. Karena itu Eva memutuskan membiarkan mereka menangkapnya berpura-pura menjadi tahanan firasat Eva mengatakan bahwa ada ruangan yang belum ia masuki.
Dan benar, saat Eva menunjukkan dirinya mereka langsung menangkap dan melaporkannya kepada bos cilik mereka, Eva diseret menuruni tangga rahasia menuju penjara bawah tanah lalu memasukkannya kedalam penjara tanpa cahaya itu.
"Pasti kamu mencari sesuatu yang sangat berharga sampai memutuskan mencarinya ke penjara bawah tanah." Sunyi, Eva tidak menjawab Hotaru.
"Kamu tawanan mereka?." Tanya balik Eva. Hotaru mengangguk pelan yang jelas tidak terlihat oleh Eva.
"Berapa lama?." Eva menebak bahwa semua anak-anak disini adalah tawanan Burhan dan Sarah tidak terkecuali Hotaru.
"Sepuluh tahun, mungkin." Jawab Hotaru datar.
"Hm..? lama juga, kamu nggak berusaha untuk kabur?."
"Tentu saja sudah aku lakukan ratusan kali tapi mereka tetap bisa menangkapku kembali." Hotaru mendesah kesal mengingat percobaan-percobaan kaburnya.
"Bagaimana bisa?." Eva tidak percaya bagaimana bisa dari ratusan percobaan tidak ada yang berhasil.
"Karena aku tidak bisa keluar dari hutan diluar sana terlalu luas dan rumit."
Eva bisa mengerti, coba saja kalau ide memanjat pohon tidak terpikirkan olehnya pasti Eva membutuhkan waktu lebih banyak untuk menemukan tempat ini.
"Kamu suka cewek tadi?." Pertanyaan Eva membuat Hotaru kaget.
"Sarah maksudmu? dari pada aku menyukainya lebih baik kamu bunuh saja aku." Eva tertawa mendengar jawaban Hotaru.
"Heh, emang aku terlihat seperti pembunuh?." Tanya Eva sebal sekaligus lucu, ada orang yang memintanya untuk membunuh.
"Mereka hanya menganggapku sebagai alat bisnis dan juga alat mereka untuk melakukan berbagai eksperimen." Lanjut Hotaru serius.
"Eksperimen apa?." Eva tertarik dengan pembahasan ini.
"Membuat racun." Eva menatap sel disebelahnya, jadi kamu ikut andil dalam percobaan didalam ruangan kaca itu, batin Eva. Hotaru berusaha melihat gadis disebelahnya dengan jelas tetapi kegelapan membuat usahanya sia-sia.
"Kamu tidak takut ada disini?." Hotaru heran ada seorang gadis sendirian didalam penjara yang gelap dan pengap tetapi bersikap tenang-tenang saja.
"Takut, dulu. Kamu?." Cewek aneh, batin Hotaru.
"Aku lebih suka terang dari pada gelap. Keinginan terbesarku saat ini bisa melihat sinar matahari lagi." Hotaru mendongakkan kepalanya menatap langit-langit penjara.
"Ikutlah denganku." Lirih Eva.
"Hahaha ikut denganmu lalu dikeroyok oleh mereka dan mati konyol gitu? hahaha." Nih cewek bener-bener aneh, batin Hotaru.
"Kamu nggak perlu mati konyol paling dikeroyok sampai babak belur terus dikurung lagi disini." Ujar Eva.
"Hahaha." Mereka berdua tertawa bersama.
"Oh jangan lupa setelah itu aku mati perlahan dan membusuk disini."
"Kamu melupakan sesuatu."
"Apa?." Tanya Hotaru.
"Mayat kamu bakal dikerumunin tikus-tikus jadi mereka tidak usah repot-repot menguburmu." Gelak tawa mereka berdua menggema diseluruh penjara bawah tanah.
"Hahaha kasihan sekali mayatku." Ucap Hotaru disela tawanya.
"Makan yang banyak kita akan melakukan perjalanan yang melelahkan." Perintah Eva membuat tawa Hotaru hilang.
"Tepat jam dua belas malam nanti kita berikan kejutan buat mereka, kamu bisa bela diri kan?."
"Apa yang mau kamu lakukan?." Tanya Hotaru tidak percaya dengan pendengarannya.
"Aku capek, mau tidur sebentar, bangunkan aku jam dua belas nanti." Apa-apa an nih cewek, batin Hotaru.
Eva menarik logo disepatu sebelah kanannya, terdapat kantung kecil yang tersembunyi. Eva merogoh kantung itu dan mengeluarkan benda tipis bulat mengulurkannya ke sel disampingnya.
"Ini, biar kamu tahu sudah jam berapa." Hotaru meraba sel mencari apa yang dimaksud Eva. Tangannya menabrak tangan Eva dan menemukan benda tipis bulat itu lalu mengambilnya dari tangan Eva.
"Apa ini?." Tanya Hotaru heran, bagaimana bisa benda ini menunjukkan jam dalam keadaan gelap seperti ini.
"Ketuk dua kali nanti juga muncul, sudah dulu aku mau tidur jangan lupa bangunkan aku." Eva menyenderkan punggungnya ke dinding dingin di belakangnya bersiap untuk tidur dengan posisi duduk.
Hotaru mencoba mengetuk benda ditelapak tangannya dua kali. Empat digit angka muncul dilayar dengan warna hijau menunjukkan jam berapa sekarang. Hotaru terkesima dengan benda yang dipegangnya.
"Ternyata ada benda seperti ini diluar sana." Lirih Hotaru mengelus benda setipis kartu nama itu. Jam tangan saja kalah canggih.
"Hanya ada satu didunia." Sahut Eva yang belum tidur.
"Kenapa?." Pandangan Hotaru beralih ke sel disebelahnya.
"Karena aku yang membuatnya." Hotaru melebarkan matanya terkejut. Tiba-tiba Hotaru teringat akan sesuatu.
"Bagaimana dengan barang yang kamu cari?." Tanya Hotaru.
"Sepertinya dia sudah tidak ada disini, aku mencarinya disetiap sudut ruangan digedung ini tapi dia tidak ada." Jawab Eva.
"Kamu mencari seseorang siapa? mungkin aku bisa membantu." Tawar Hotaru.
"Tidak ada yang bisa kamu bantu, aku mau tidur." Tolak Eva datar.
***
Sekarang Eva dan Hotaru sedang mengendap-ngendap disalah satu lorong yang sepi. Ternyata Hotaru benar-benar membangunkan Eva tepat pada jam dua belas. Dengan mudah Eva membuka pintu sel penjara menggunakan jepit rambut yang dia pakai. Lagi-lagi keamanan mereka sangat lemah.
"Kenapa kamu mau ikut denganku?." Lirih Eva ditengah-tengah misi kabur mereka.
"Aku pikir-pikir kenapa nggak dicoba saja, jika nanti aku tertangkap paling juga mati membusuk didalam penjara." Tidak sadar Eva tersenyum mendengar jawaban Hotaru.
Apakah dia benar-benar ingin mati? jawabannya terasa seakan kematian bukan hal yang buruk, batin Eva.
"Kita mau kemana sekarang?." Pertanyaan Hotaru terjawab ketika Eva memasuki ruang pendingin. Eva mengambil barang-barangnya yang sempat dia tinggalkan sebelum menyerahkan diri untuk ditangkap, berjaga-jaga jika nanti dia digeledah.
"Korek api, jarum, buat apa semua ini?." Eva mengulurkan satu korek api dan beberapa puluh jarum.
"Kamu bisa melempar dengan benar kan?." Tanya Eva.
"Perhatian! satu tahanan dan seorang penyusup telah kabur. Harap semua orang berjaga-jaga di blok masing-masing." Pengumuman terdengar dari pengeras suara yang dipasang disetiap sudut ruangan. Alarm tanda bahaya menggema dimana-mana.
"Kita sudah ketahuan." Kata Hotaru menatap Eva, mereka saling tersenyum lebar.